Episode 353 - Besi Luwu


Sebuah lentera berwarna kusam. Bentuknya persegi panjang, dengan bingkai yang terbuat dari logam berkarat yang digerogoti kelembaban udara. Kaca-kaca pada keempat sisinya lentera pun terlihat kotor dan kabur, serta sumbu kecil di sisi dalam sudah sangat pendek. Dari keadaannya itu, tak pelak bahwa benda tersebut sudah usang adanya, bahkan tak bernilai barang sekeping perunggu pun. Banyak lentera dalam keadaan lebih baik yang dijual bebas.

Namun demikian, seberkas cahaya berwarna putih seukuran satu ruas ujung jemari kelingking menyala terang pada sumbu. Tak ada aura yang mencuat dari lentera, karena selain dapat menyimpan unsur kesaktian api, lentera tua itu juga memiliki kemampuan meredam aura. 

Tiga ahli Kasta Emas, yaitu sang Penguasa Kota Tambang Lolak, saudagar senjata tersohor, serta lelaki setengah baya pengawal berpengalaman panjang mengarungi dunia persilatan dan kesaktian, terperangah. Bagi mereka, senjata pusaka yang menebar aura mencekam dan mematikan patut diwaspadai, akan tetapi senjata pusaka yang tak menyibak aura apa pun, malah memunculkan keraguan. 

Apakah benar digdaya, atau sekedar pepesan kosong…? Karena dimiliki oleh seorang anggota Partai Iblis, maka kecurigaan sangatlah beralasan. Ketiga ahli tersebut berpandangan untuk tak bertindak gegabah. 

“Kuperingatkan sekali lagi!” tegas Kum Kecho sembari memisahkan diri sekira sepuluh langkah. “Serahkan kota ini!” 

Lelaki setengah baya yang merupakan pengawal melangkah maju guna membentengi sang Tuan Muda Lolak. Sampai sajauh ini, kecurigaannya terbukti benar. Hanya ada dua alasan bagi seorang ahli Kasta Perak berani tampil di hadapan ahli Kasta Emas. Pertama, ada tokoh perkasa yang memberi dukungan dari belakang layar. Atau kemungkinan kedua, yaitu ahli Kasta Perak tersebut memiliki senjata pusaka nan digdaya. Rupanya, anak remaja tersebut masuk ke dalam kategori kedua. 

Dari sudut pandang Kum Kecho, dirinya memang memiliki dukungan ahli nan digdaya, yaitu sang Iblis Belial yang berdiam di dalam Cincin Penakluk Iblis. Akan tetapi, iblis tersebut tiada dapat diminta bantuan, apalagi diperintah sesuka hati. Sebagai tambahan, pun bila sang iblis berkenan membantu, maka dirinya terpaksa membiarkan iblis tersebut merasuk dan mengambil alih kendali tubuh secara sementara. Sebuah tindakan yang berisiko besar, karena jiwa dan kesadaran Iblis Belial mengkehendaki tubuh Wangsa Syailendra dari Trah Sanjaya. Pertarungan mata hati akan berlangsung sengit saat hendak mengambil kembali kendali tubuh. 

Terkait senjata pusaka, secara tak sengaja kini Kum Kecho memiliki Lentera Asura. Di dalamnya tersimpan unsur kesaktian api putih nan maha digdaya. Akan tetapi, penggunaan Lentera Asura sangat terbatas. Sebagaimana tempat penampungan, semakin sering digunakan maka isinya akan semakin berkurang. Hal ini terbukti saat dirinya memberangus empat ekor binatang siluman serangga belalang sembah di dalam dunia dimensi Goa Awu-BaLang. Demikian adalah kelemahan dari senjata pusaka tersebut. Oleh karena itu, sangat berat bagi anak remaja itu untuk mengerahkan Lentera Asura.

Kendatipun demikian, di hadapan tiga ahli Kasta Emas, Kum Kecho tak memiliki pilihan lain.

Saudagar Senjata Malin Kumbang terlihat kesal. Jauh-jauh ia datang ke Kota Tambang Lolak karena hendak mengambil kembali bahan baku logam untuk memulai produksi senjata pesanan. Belum sempat mendapatkan kembali bahan baku tersebut, malah dirinya yang terseret di dalam sengketa yang tiada sangkut pautnya dengan perkara dagang. Walaupun demikian, sebagaimana layaknya saudagar ulung, saat ini sebuah peluang terlihat jelas di hadapan mata. 

“Diriku merupakan pihak luar, akan tetapi bersedia menjadi penengah dalam sengketa ini…,” ujar Saudagar Senjata Malin Kumbang sembari mengambil selangkah maju.

“Jalan tengah…?” Penguasa Kota Tambang Lolak mengangkat sebelah alis. “Tak ada perundingan bagi sesiapa pun yang hendak mengambil sesuatu yang bukan haknya!” 

“Oh…?” Saudagar Senjata Malin Kumbang menimpali. “Bila tak salah cerna, maka Tuan Muda Lolak melakukan sesuatu yang tak pantas terhadap anak muda ini… Demikian, anak muda ini berhak menuntut penyelesaian.”

“Ibunda… Kejadian tersebut merupakan sebuah kesalahpahaman semata…”

Sang ibu menyadari bahwa putra semata wayang nan manja memang sering melakukan tindakan-tindakan yang jauh dari pantas. Berkali-kali dia berlaku sewenang-wenang demi mengisi kejemuan. Menghela napas, perempuan dewasa itu sedikit mengalah. “Baiklah, kami bersedia membayarkan ganti rugi…”  

“Setelah melakukan penghinaan, ganti rugi seperti apa yang dapat kalian tawarkan…?” Kum Kecho berujar ketus. 

“Sebutkan berapa keping emas yang hendak kau miliki…”

“Tidak! Sudah kukatakan bahwa aku mengkehendaki kota ini!”

“Diberi sejengkal hendak sehasta, diberi sehasta hendak sedepa…” Penguasa Kota Lolak mulai terkikis kesabarannya. Anak remaja itu terlalu lancang sekaligus tamak! 

“Tenang, tenang…” Saudagar Senjata Malin Kumbang mengangkat tangan ke layaknya sedang memisahkan perkelahian. Ia kembali beraksi, “Anak muda, Penguasa Kota Tambang Lolak telah bermurah hati. Bilamana dikau tetap bersikeras, maka tak akan nanti memperolah apa-apa. Jika boleh diri ini menyumbang saran…” 

Segenap perhatian kini tertuju kepada lelaki dewasa berkepala gundul dan bertubuh tambun itu. Betapa besar hatinya. 

“Wahai Puan Penguasa Kota Tambang Lolak, bila berkenan diriku menyarankan, maka dapat kiranya membayar ganti rugi dengan memberi satu daerah tambang. Satu daerah tambang yang tentunya dapat memberikan penghasilan yang setimpal. Di wilayah tambang tersebut, nantinya anak muda dapat mulai pembangunan sebuah desa tambang.”

Bagi Saudagar Senjata malin Kumbang, menyajikan penyelesaian ini berarti membuka jalan masuk kepada salah satu daerah tambang. Nantinya, secara langsung dapat ia melakukan transaksi jual-beli dengan si anak remaja, tanpa harus melalui perantara Balai Kota. Bayangkan berapa besar penghematan dapat dilakukan bila tiada perlu membayar pajak… bayangkan saja! 

Penguasa Kota Tambang Lolak tiada berkata-kata. Tiada ia menyuarakan persetujuan, tiada pula penolakan. Dari raut wajahnya, dapat dibaca bahwa meskipun enggan, ia hendak secepatnya menyelesaikan pertikaian dengan anggota Partai Iblis tersebut. Sebagaimana diketahui umum, walau tanpa perintah dari atasan setiap anggota Partai Iblis bebas bergerak. Memperoleh keuntungan atas inisiatif sendiri, berarti akan meningkatkan derajatnya di dalam kelompok hitam tersebut. 

Di lain sisi, alasan kedatangan Kum Kecho ke Kota Tambang Lolak bukan untuk membuang-buang waktu mengeruk isi bumi. Ia mengkehendaki sesuatu yang jauh lebih berharga. Ia hendak meningkatkan kemampuan tempur!

“Sepertinya, tak mungkin kita mencapai kata sepakat…” tetiba anak remaja itu berujar. Menebar mata hati, Kum Kecho lantas mengangkat Lentera Asura setinggi dada. Berkat perintah melalui jalinan mata hati, seberkas api putih di dalam lentera mulai menyala terang…

“Hei!” Saudagar Senjata Malin Kumbang tak habis pikir. Sumbang saran penyelesaian sengketa yang ia tawarkan sepantasnya sudah sangat besar bagi anggota Partai Iblis mana pun. 

“Menyingkir!” Lelaki setengah baya lebih mengutamakan kewajiban melindungi Tuan Muda Lolak. Meraih lelaki dewasa muda tersebut, ia lantas bergerak mundur. 

Sebaliknya, Penguasa Kota Tambang Lolak merangsek maju! 

“SRASH”

Gelombang hawa panas menyebar dalam bentuk lingkaran, menyapu ke segala penjuru. Seketika itu juga, telah menyala api berwarna putih yang menjulang tinggi dan memberangus tanpa terkecuali. Dalam radius satu kilometer dari tengah Kota Tambang Lolak, api putih berkobar perkasa.

Hanya dalam hitungan detik, wilayah dalam sebuah kota tambang serta merta binasa. Logam dan batu meleleh dengan mudahnya seibarat potongan kecil es di tengah gurun. Tak ada bangunan yang tersisa, sebongkah arang pun tiada tertinggal. Hamparan tanah kosong, lalu baru terlihat bangunan-bangunan yang masih terbakar di dekat tembok kota karena masih berada di luar jangkauan api putih. 

Kum Kecho, berdiri di pusat kebakaran, mengamati isi di dalam Lentera Asura. Sesuai perkiraan, ukuran api putih di dalamnya sedikit mengecil mirip dengan api lilin. Setelah menyimpan kembali lentera, ia pun melangkah pelan ke arah tempat di mana Balai Kota Tambang Lolak tadinya berdiri megah. 

Anehnya, pada permukaan tanah, tergeletak sebongkah logam yang berukuran sekira satu kepal tangan orang dewasa. Warnanya merah karena panas, namun berangsur dingin dan menjadi hitam. Perwujudannya kini tak beda dengan sebongkah batu tak berharga yang biasa tergeletak di pinggir jalan. 

Anak remaja tersebut mengulurkan tangan dan memungut logam mentah tersebut. Meskipun telah dibakar oleh api putih, sangat cepat ia kembali dingin seperti sedia kala. 


Di tempat lain, terlindung oleh bayangan pepohonan besar-besar, empat gadis belia telah berkumpul di tempat yang ditentukan. Tugas mereka untuk memancing dan mengecoh para pengawal yang merupakan ahli Kasta Emas rampung sudah. Para pengejar tersebut, masing-masing memutar langkah tatkala menyaksikan api putih membumbung tinggi di balik tembok megah Kota Tambang Lolak. 

“Tuan Guru!” Melati Dara melompat girang.

Kum Kecho tiba di tempat berkumpul. Tanpa berkata-kata, tak sedikit pun memuji kerja keras para gadis belia, sang Tuan Guru mengeluarkan selembar Kartu Satwa. Seekor kepik raksasa berdiameter lebih dari satu meter mengemuka. Bentuk tubuhnya menyerupai sebuah kubah, yang warnanya hitam dengan bintik-bintik besar berwarna merah muda. Di bagian kepala yang berukuran kira-kira delapan kali lebih kecil dari tubuhnya, tumbuh sepasang tanduk. 

Kum Kecho menyuguhkan bongkahan logam yang tadi ia pungut di tengah kota. Sang kepik yang biasanya pendiam berubah girang, lantas membuka mulut. Suara berderak terdengar nyaring tatkala ia mulai menggerogoti! 

Tak lama setelah menyantap sajian, terlihat perubahan terhadap sang kepik. Sekujur tubuhnya tumbuh lebih lebar dan besar. Bintik-bintik berwarna merah muda berubah sedikit lebih gelap dan seluruh permukaan kubahnya menjadi mulus mengkilap layaknya dilapisi logam yang dipoles hitam. Kini, diketahui pasti bahwa binatang siluman tersebut memiliki unsur kesaktian logam, serta senang pula ia menyantap logam. 

“Srek!” 

Semak belukar bergoyang. Kum Kecho dan keempat gadis belia waspada. Segera setelah itu, dari balik semak, muncul seorang lelaki dewasa berkepala gundul dan bertubuh tambun. Sekujur tubuhnya berpeluh, terdapat bekas terbakar di pakaian dan pada beberapa bagian tubuhnya. 

“Kum Kecho, bukan…?” ungkap Saudagar Senjata Malin Kumbang nan kepayahan. Akhirnya, ia mengingat perihal Lintang Tenggara yang malas mencari bawahan yang menghilang, serta ceritera Bintang Tenggara tentang tokoh jahat di sela perjalanan bersama mengendarai kereta kuda. 

“Besi Luwu itu adalah sasaran dikau sedari awal…,” sambung lelaki dewasa yang senantiasa dapat mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Besi Luwu, merupakan bahan tambang sangat langka khas Pulau Logam Utara. Ia merupakan bijih besi alam tanpa perlu melalui proses pemurnian. Dikenal umum sebagai besi terkeras, titik leburnya sangat tinggi. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa untuk meleburkan Besi Luwu diperlukan seumber panas yang setara dengan matahari. Oleh karena itu, tak banyak pandai besi yang mampu mengolah logam ini. 

“Besi Luwu adalah simbol kebesaran kota tambang. Jumlahnya sangat terbatas dan harganya tak ternilai. Ia mewakili kehormatan dan harga diri kota tambang itu sendiri,” lanjut Saudagar Senjata Malin Kumbang. Ia mengingat bongkahan Besi Luwu di atas meja dengan alas kain belundru di lantai tiga Balai Kota. 

“Kau cari mati…,” gumam Kum Kecho. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang mengabaikan ancaman. “Untuk mendapatkan logam tersebut melalui kegiatan penambangan, diperlukan peruntungan yang sangat besar. Pun tiada mineral itu diperjualbelikan. Cara tercepat dalam memperoleh Besi Luwu adalah dengan mengambil alih kota tambang, atau mencurinya…”


===


Seorang anak remaja melompat keluar dari dalam lorong dimensi ruang. Ia mengamati sekeliling, demi memastikan ketibaan di tempat yang tepat dan tak ada pihak-pihak yang memanipulasi perjalanan. Sampai di tujuan, batinnya berbisik. Suasana sejuk dan segar serta rimbun pepohonan menjadi bukti bahwa ia telah tiba di wilayah Kemaharajaan Pasundan. 

Berbeda dengan perjalanan sebelumnya ke wilayah ini, Bintang Tenggara sempat tinggal sejenak di Kota Baya-Sura dan Kota Ahli, dan menyambangi sejumlah kenalan di dua kota tersebut. Kali ini, ia hanya sempat menjejakkan kaki hanya sejenak di balai gerbang dimensi, lantas meneruskan perjalanan. Sebagai perwakilan resmi Perguruan Gunung Agung, dalam perjalanan kali ini ia tak hendak bertindak gegabah, apalagi tersimpang arah.

Perguruan Budi Daya rupanya tak terletak di dalam wilayah ibukota Kemaharajaan Pasundan, melainkan di sebuah kota lain yang berukuran lebih kecil. Oleh karena itu, Bintang Tenggara terpaksa kembali melompat masuk ke dalam lorong dimensi ruang. Walau telah terbiasa menempuh perjalanan dengan cara yang sedemikian, nyatanya berkali-kali keluar-masuk lorong dimensi ruang tetap dapat membuat kepala pening dan perut mual. 

Hari jelang siang dan hujan turun rintik-rintik ketika Murid Utama dari Perguruan Gunung Agung tiba di Kota Hujan. Sesuai namanya, memang kota ini terkenal memiliki curah hujan yang sangat tinggi di Negeri Dua Samudera. 

Khawatir hujan berubah lebat, Bintang Tenggara bergegas melangkahkan kaki. Tak lama, ia berhadapan dengan sebuah danau nan luas. Di tengah danau, sebentuk lempengan batu bundar yang sangat besar berdiri tegak. Pada permukaannya, terukir wujud sebatang pohon dengan lima helai daun dan sebentuk kitab raksasa yang terbuka pada bagian bawah. Nantinya, anak remaja tersebut akan mengetahui bahwa ukiran tersebut merupakan lambang dari Perguruan Budi Daya. Bentuk bundar melambangkan sifat keilmuan yang tidak ada batasnya, senantiasa bertambah dan berkembang. Lima helai daun mewakili setiap satu kejuruan di dalam Perguruan Budi Daya, dan kitab terbuka mencerminkan sumber ilmu pengetahuan. 

Sejurus setelah itu, Bintang Tenggara menyaksikan tenda-tenda besar di lapangan luas. Sejumlah ahli sepantaran, kesemuanya berada pada Kasta Perak berbagai tingkatan, berlindung dari gerimis hujan. Mereka menanti dengan tenang lagi sabar. Tak pelak lagi, ini adalah tempat berkumpul para peserta ajang pertukaran murid.

Sontak kenangan pada suasana penerimaan murid baru di Perguruan Gunung Agung beberapa tahun silam mengemuka. Kala itu, dirinya hanya seorang anak-anak yang masih awam dengan dunia persilatan dan kesaktian. Sungguh waktu berlalu teramat cepat. Dirinya kini sudah melangkah sangat jauh dari hari itu. Dari segi pemahaman dan kemampuan ia telah tumbuh, walau masih jauh dari memadai…

“Hanya para undangan yang diperkenankan memasuki wilayah ini…” Seorang lelaki dewasa muda, yang kemungkinan besar merupakan salah satu panitia penyambutan, menarik Bintang Tenggara dari lamunan. Ia menyilangkan lengan di depan dada. 

Anak remaja itu pun tergopoh mencari sebentuk lencana di dalam tas panggul. Akan tetapi, belum sempat ia menyodorkan lencana Murid Utama Perguruan Gunung Agung dan memperkenalkan diri, terdengar suara menghardik penuh amarah… 

“Hei, bangsat! Jaga kata-katamu! Tidakkah engkau tahu dengan siapa engkau berhadapan!?”

Bintang Tenggara mengenal betul akan suara tersebut. Akan tetapi, dalam sejumlah kesempatan yang pernah mereka jalani bersama, jarang sekali si pemilik suara melengkingkan nada tinggi, apalagi melontar kata-kata umpatan. Kepribadiannya dikenal lemah, dan cenderung mengandalkan belas kasih dari pihak lain. Oleh sebab itu, sontak sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang menoleh hendak memastikan. 

Tak jauh di sana, melangkah garang dengan wajah berang, seorang anak remaja mendatangi panitia yang tadi menegur Bintang Tenggara. Raut wajahnya tirus dengan paduan hidung mancung sehingga memiliki ketampanan di atas rata-rata. Postur tubuhnya kini cukup berisi, dibalut dengan pakaian mewah dan resmi layaknya para bangsawan ternama.  

Walaupun kepribadian dan penampilannya telah berubah, Bintang Tenggara mengenal betul tokoh tersebut sebagai… Balaputera Prameswara!