Episode 351 - Manja



Bangunan tinggi menjulang. Tegap dan kekar, dengan struktur bahan dasar yang terbuat dari logam nan keras serta tanah liat nan kokoh. Pada beberapa bagian bangunan, bertahtakan ukiran logam yang rinci lagi halus. Sungguh menampilkan keindahan hasil karya tangan-tangan terampil para penempa yang tiada banding. 

Di bagian dalam bangunan berlantai tiga itu, kesibukan terlihat kentara. Puluhan ahli hilir-mudik menyambangi meja-meja yang tertata membujur di sisi kiri dan kanan aula nan megah. Di balik setiap meja duduk seorang pejabat kota. Mereka bertugas menangani perkara pembuatan dan perpanjangan surat izin penambangan. Di sisi yang berseberangan, terlihat tawar-menawar, yang pada umumnya terkait dengan hasil tambang yang merupakan logam dari berbagai jenis. 

Bangunan ini dikenal sebagai Balai Kota, yang merupakan pusat pemerintahan di sebuah kota tambang. Penguasa Kota, merupakan pimpinan tunggal di kota tambang dan diakui kewenangannya oleh pemerintah Negeri Dua Samudera di Ibukota Rajyakarta. Balai Kota bersifat mandiri dan berhak menetapkan kebijakannya sendiri. 

Dengan demikian, Balai Kota memiliki dua fungsi utama, yaitu mengurus izin pertambangan dan jual-beli bahan tambang. Kedua hal tersebut perlu diatur dengan seksama, demi mencegah perselisihan yang kerap tercetus. Surat izin tambang menjadi acuan bagi kelompok penambang dalam mengeruk hasil bumi. Setiap kelompok memiliki wilayah tambang masing-masing, keluar dari wilayah yang telah ditetapkan maka akan menerima sanksi berat. Aturan jual-beli menetapkan harga bahan tambang yang didapatkan agar tak terjadi permainan harga. 

Di satu kota tambang, bisa terdapat ratusan kelompok penambang yang selalu haus akan hasil bumi. Berkat aturan yang ketat, ketertiban tercipta di antara kelompok penambang sehingga pertikaian dapat ditekan serendah mungkin. 

Balai Kota juga menetapkan tarif pajak bahan tambang dan tarif pajak pengelolaan dan jual-beli bahan tambang, yang nantinya digunakan demi kemaslahatan penduduk kota. Pajak juga dimanfaatkan untuk menjaga kelestarian lingkungan pasca penambangan. Walau, pada kenyataannya penggunaan hasil pajak seringkali bergeser jauh dari rencana awal.

Di tengah kesibukan Balai Kota, seorang lelaki dewasa bertubuh tambun dan berkepala gundul melangkah masuk. Ia datang bersama dengan dua pemuda, yang senantiasa setia mendampingi. Setelah mendengus, kepada salah seorang petugas yang kebetulan melintas ia berujar, “Katakan kepada Penguasa Kota Lolak, Saudagar Senjata Malin Kumbang datang hendak mengambil haknya!”

Pejabat itu, seorang perempuan dewasa muda yang membawa tumpukan kertas tebal, hanya menatap lalu menudingkan jemari ke arah salah satu meja. Ia lantas meneruskan langkah, karena sepertinya sedang sangat terburu-buru.

“Keparat!” hardik sang saudagar besar. “Tak tahu adat!” tambahnya sembari melanjutkan langkah, dan menyambangi meja yang ditunjuki. 

Antrian di hadapan meja cukup panjang, sekira sepuluh ahli berdiri teratur dan tertib. Tak sabar menanti, Saudagar Senjata Malin Kumbang menyelak antrian, lalu menggebrak meja! Unsur kesaktian usia aktif pada permukaan telapak tangannya, dan meja tersebut serta-merta luluh menjadi remah-remah ampas kayu. 

Tindakan yang demikian beringasnya, segera menarik perhatian seisi aula. Hampir segenap pandangan menoleh ke arah lelaki dewasa tersebut, namun tak sedikit yang melipir pergi, karena tak hendak terlibat dalam pertikaian, apa pun bentuknya. Bukan kali pertama muncul ketidakpuasan, dan seringkali berujung pada perkelahian. 

Sejumlah pengawal Kasta Perak sontak bertindak. Namun menahan langkah saat menyadari bahwa pelaku kericuhan merupakan ahli Kasta Emas. Oleh karena itu, dua pengawal Kasta Emas pun datang menyambangi.  

“Yang Terhormat Tuan Ahli, apakah gerangan yang menjadi permasalahan…?” sapa seorang ahli Kasta Emas sopan. 

“Katakan kepada Penguasa Kota Lolak, Saudagar Senjata Malin Kumbang datang hendak mengambil haknya!”

Ahli Kasta Emas kedua, yang sebelumnya diketahui sebagai pengawal pribadi Tuan Muda Lolak, segera menyadari jati diri sang tamu. “Tuan Saudagar Senjata Malin Kumbang, kami akan segera menyampaikan kedatangan Tuan.” Ia lantas melambaikan tangan. 

Seorang pengawal Kasta Perak menanggapi lalu bergegas pergi. Di balik sebuah pintu, besar ia menghilang. Atas perhatian yang diterima, Saudagar Senjata Malin Kumbang menyipitkan mata. Ia menyapu pandang, mengamati para penambang dan pejabat kota yang berbisik-bisik dipenuhi rasa penasaran. Dagunya diangkat tinggi, seolah memberi isyarat kepada segenap khlayak agar jangan berlaku sembarang di hadapan saudagar besar seperti dirinya.

Tak lama waktu berselang, utusan kembali. Ia membungkukkan tubuh dan berujar, “Yang Mulia Penguasa Kota bersedia menerima kunjungan Yang Terhormat Saudagar Senjata Malin Kumbang.” 

Setelah melewati pintu, Saudagar Senjata Malin Kumbang beserta kedua pelayannya menaiki anak tangga menuju lantai dua. Di aula lantai dua yang lebih kecil ukurannya, suasana tak terlalu ramai. Pengaturan ruangan pun berbeda, karena lebih mirip dengan rumah makan nan mewah. Beberapa ahli dengan dandanan mentereng terlihat sedang alot melakukan tawar-menawar harga. Hanya ketua kelompok penambang terkemuka, yang telah membuktikan diri dengan hasil tambang bermutu dan dalam jumlah banyak, yang memiliki hak istimewa untuk dilayani di lantai ini. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang dipersilakan menuju ke lantai tiga. Dagunya lebih tinggi lagi diangkat, di saatnya sama, ia memberi aba-aba agar kedua pelayan menunggu.  

Suasana di lantai tiga, sangat jauh berbeda dengan lantai-lantai sebelumnya. Setelah menaiki anak tangga, Saudagar Senjata Malin Kumbang berhadapan dengan tirai-tirai kain tipis nan bergelayutan dimainkan angin lembut. Suasana temaram, hanya disinari oleh lilin-lilin yang bertebaran di berbagai tempat. Semerbak asap dupa menyibak harum, meningkatkan gairah di bawah pusar. 

Seorang perempuan dewasa muda mendatangi. Sekujur tubuhnya hanya berbalut kain tipis setengah transparan tanpa mengenakan pakaian dalam. Sepasang payudara berukuran sedang berguncang ringan, pinggul nan ramping melekuk aduhai. Ia datang hendak menuntu sang tamu. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang melambaikan tangan, sebagai isyarat bahwa penuntun arah tiada diperlukan, dan bahwasanya bukan kali pertama ia tiba berkunjung tempat tersebut. Ia kemudian melangkah, meninggalkan dayang-dayang seorang diri, dan mulai menyibak satu demi satu tirai tipis nan bergelayutan. 

Beberapa saat kemudian, lelaki dewasa itu menghentikan langkah. Di hadapan tersaji sebuah ruangan nan terbuka, serta dihiasi dengan berbagai bentuk dan ukuran karya seni. Terbuat dari logam, benda-benda tersebut tertata rapi mengelilingi ruangan. Tak sulit untuk menyimpulkan bahwa setiap satunya datang dari segenap penjuru negeri, dan sekali pandang saja dapat diketahui bahwasanya bernilai sangat tinggi sekali. Di atas sebuah nampan yang dilapisi kain beludru, sebongkah logam berwarna hitam tergeletak. Ukurannya sebesar satu kepalan tangan orang dewasa, dan bentuknya sama sekali masih mentah mirip batu yang biasa tergeletak di pinggir jalan. Ini adalah satu-satunya barang yang tiada dapat digolongkan sebagai benda seni. Kendatipun demikian, terhadap bongkahan logam tersebut perhatian Saudagar Senjata Malin Kumbang sempat tersita sejenak. 

Tepat di tengah ruangan, terdapat sebuah dipan nan mewah yang bertahtakan emas dan beralas sutra. Di atas dipan, membelakangi Saudagar Senjata Malin Kumbang, adalah punggung dan rambut hitam panjang menjuntai milik seorang perempuan dewasa. Ia tiada mengenakan sehelai benang pun. Posisi tubuhnya sedang berjongkok dengan gerakan naik-turun demikian gemulai. Suara desahan tertahan dan tepukan antara kulit terdengar setiap kali ia menghentakkan pinggul. 

Menatap adegan pelampiasan birahi di hadapan, raut wajah Saudagar Senjata Malin Kumbang tiada berubah. Datar, seolah sedang menunggu antrian nan menjemukan. 

“Ehem…” Saudagar Senjata Malin Kumbang seolah melegakan tenggorokan. 

Sebagai tanggapan atas suara teguran tersebut, perempuan dewasa itu tetiba menggerakkan pinggul semakin deras! 

“Akh…” Desahan tak tertahan terdengar dari seorang lelaki yang berada di bawah kendali. 

Perempuan itu bangkit berdiri. Tubuhnya langsing tinggi semampai. Lekuk pinggulnya akan mengunci pandangan mata setiap lelaki yang menyaksikan. Di saat memutar tubuh, maka tersibak sepasang payudara dengan ukuran di atas rata-rata nan kencang demikian menggoda. Ia turun dari atas dipan, di mana sepasang dayang-dayang sedia menyambut. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang membuang wajah, sebuah tindakan yang segera ia sesali. Matanya kini menyaksikan seorang lelaki dewasa muda tergopoh dan berupaya keras untuk bangkit berdiri dari atas dipan. Di bawah pusarnya, bergelayutan lunglai sebentuk ‘ekor’ berukuran setara dengan lengan orang dewasa! Sial, batin Saudagar Senjata Malin Kundang yang sontak memalingkan wajah. Pemandangan akan ekor nan besar itu akan selamanya menetap di dalam benak!

“Apakah kiranya yang membawa saudagar besar singgah di gubukku…?” sapa perempuan dewasa itu. Ia kini sedang duduk bersandar pada sebuah kursi tepat di sebelah dipan. Sembari membuka lebar kedua kaki, sepasang dayang-dayang yang membawa baki dan kendi air lantas menghampiri. Dengan jemari lentik dan lembut, serta penuh perhatian, kedua dayang mulai memijat dan membasuh wilayah pangkal paha perempuan itu. Seorang dayang-dayang lain menyalakan selinting tembakau, lalu menyelipkan di bibir merah nan ranum. 

“Penguasa Kota Lolak!” sergah Saudagar Senjata Malin Kumbang jengah kepada perempuan dewasa itu. “Jangan berpura-pura tak tahu!”

“Kau masih saja kaku... Mendekatlah…” Suara lembut Sang Penguasa Kota mempersilakan. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang mendekat namun enggan menempati kursi. Bila duduk sesuai arahan, maka posisi tubuhnya akan berhadapan langsung dengan sekujur kaki nan mengangkang. Tidak pula hendak ia bersantai di atas dipan, karena merupakan tempat maksiat nan kotor. Oleh karena itu, lebih baik berdiri saja. 

“Sepekan yang lalu, hasil tambang dari salah satu rekananku engkau sita!” Sang tamu tak hendak berbasa-basi. Demi menegaskan ketidakpuasan di hati, ia pun melipat lengan di depan dada. 

“Ooouuh…” Perempuan dewasa itu mendesah, asap tembakau membumbung tinggi. Agaknya, di kala sedang membasuh, salah satu jemari lentik dayang menyentuh bagian yang membuatnya bergairah. 

“Hei!” 

Menyadari bahwa Saudagar Senjata Malin Kumbang sebentar lagi akan mengamuk, sang Penguasa Kota Lolak mengibaskan lengan. Sepasang dayang-dayang sigap berkemas dan undur diri. 

“Pastilah terjadi kesalahpahaman…,” tanggap perempuan dewasa itu santai. Ia kini duduk tegak, sembari melipat kaki namun masih dalam keadaan telanjang bulat. Dalam kaitan itu, kini terlihat jelas di ujung payudara, sepasang bulir-bulir kecoklatan yang berukuran seujung ruas jari telunjuk. “Kerja sama di antara kita telah berlangsung lama dan saling menguntungkan. Diriku tiada mungkin merusak hubungan tersebut...”

Saudagar Senjata Malin Kumbang menghempaskan bokongnya di atas kursi. Wangi semerbak bunga dari tubuh perempuan itu, bercampur-baur dengan asap tembakau. Tak hendak terbuai, ia melampiaskan ketidakpuasan di hati. “Kesalahpahaman yang menyebabkan aku menderita kerugian!”

Penguasa Kota Lolak lantas menjentikkan jemari. Kepada seorang dayang yang menghampiri ia berujar, “Panggil putraku.” Kepada tamu di hadapan ia lantas merayu, “Diriku akan membayar kerugian dikau…” Jemari nan lentik terlihat membelai lembut sebelah payudaranya sendiri.

“Cih!” Terlepas dari penampilannya nan berkepala gundul dan bertubuh tambun yang sepintas mirip dengan lelaki hidung belang, dalam hal pekerjaan Saudagar Senjata Malin Kumbang sangatlah disiplin. Ia tak pernah mencampuradukkan antara urusan dagang dengan ikhwal syahwat birahi. Sangat profesional.

“Apakah Ibunda merindukan anandaaa…?” Tetiba seorang lelaki dewasa muda bersuara merdu memasuki ruangan yang temaram itu. Senyumannya demikian sumringah, langkah kakinya setengah berjingkat. Tanpa mengindahkan kehadiran sang tamu, ia lantas memeluk manja dan mencium pipi mesra. Sejurus setelah itu, kepalanya bergerak turun, dan bibirnya mulai mengulum!

Mata melolot, Saudagar Senjata Malin Kumbang hampir melompat jatuh dari kursi. Lelaki yang baru datang itu sudah berusia dewasa, mengapa ia bertingkah selayaknya bocah balita!?

“Anandaku…,” Penguasa Kota Lolak membelai rambut putranya yang sedang bermanja-manja di payudara. “Apakah sepekan yang lalu dikau menyita barang bawaan saudagar …?”

Sang anak yang penuh suka cita sedang mengemut bulir di ujung payudara, enggan melepas. Oleh karena itu, sang ibu terpaksa menjempit hidungnya. “Sayang, apakah dikau ada menyita dari saudagar…”

“Ibunda…,” tanggapnya manja dan sengau, sembari mendongakkan kepala. “Sepekan yang lalu, satu rombongan saudagar diserang perompak. Seluruh anggota mereka dibantai. Karena tak mengetahui sanak keluarga mereka, maka ananda menyimpankan sementara…”

“Dusta!” hardik Saudagar Senjata Malin Kumbang. 

Putra Penguasa Kota Lolak yang manjanya keterlaluan hanya melirik, kemudian memancungkan bibir. Dalam kesempatan yang sama, kepalanya kembali bergerak hendak mengemut. Selayaknya menanggapi permainan seorang anak kecil, sang ibunda kembali akan menjepit hidungnya. Si anak sigap mengelak, namun sang ibu sudah dapat menebak dengan jitu ke mana arah gerakan anaknya. 

Pemandangan yang tersaji, sekali lagi, teramat pelik di mata Saudagar Senjata Malin Kumbang. 

“Ananda, segera kembalikan bahan tambang tersebut. Pemiliknya adalah paman Malin Kumbang…” Sang ibu berujar lembut. 

“Baiklah,” tanggapnya cepat. “Tapi…” Ia melirik ke arah bulir kecoklatan di ujung payudara. 

“DUAR!” 

Sebuah ledakan tiba-tiba terdengar membahana. Di saat yang bersamaan, getaran keras terasa di sekujur bagunan Balai Kota nan sedianya kokoh. 


===


Berbekal rekomendasi dari tiga Sesepuh dan tiga Maha Guru, telah diputuskan secara final dan mengikat, bahwasanya Murid Utama Bintang Tenggara berhak mengikuti ajang pertukaran murid mewakili Perguruan Gunung Agung. Dalam waktu satu pekan terhitung dari hari ini, ia akan bertolak ke Perguruan Budi Daya di wilayah Kemaharajaan Pasundan.