Episode 102 - Perfect Party



Kembali ke saat pertama kali Party Nicholas masuk ke dalam pulau. Mereka pertama kali muncul di area barat laut Eleantra, sebuah hutan teduh dimana sinar matahari hanya masuk sedikit saja karena tertutupi daun-daun di pohon. 

“Hoamm... aku ngantuk.” kata Velizar dengan menguap lebar-lebar sambil duduk diatas batu.

“Hoamm.. aku juga, tapi tahan saja,” balas Nicholas dengan jengkel. “Sama sepertimu, aku juga kurang tidur semalam.”

“Nicholas.” kata Velizar sambil kepalanya menoleh ke arah Nicholas.

“Hmm?” Nicholas menanggapi dengan tangan terlipat.

“Baru kali ini kita tidak lengkap bertiga.” balas Velizar.

 “Bicara apa kamu, aku sering tidak bersama kalian berdua.” balas Nicholas. “Sinus brengsek itu terlalu mengambil hati kata-kata kakak.”

“Sinus itu biar aku saja yang gantikan.” kata Ikzen dengan tersenyum lebar.

“Jadi, ini maksudnya random warp?” kata Clow. “Kita tiba-tiba di warp dan masuk ke party yang acak juga. Heh? Nicholas!?”

Lyanna hanya berdiri sambil kepalanya memandang ke sekitarnya.

“Kalian siapa?!” jawab Nicholas dengan kesal.

“Jahatnya,” kata Clow dengan perasaan tertusuk padahal kita sekelas. “Kok kamu tidak mengenal kami.”

“Ahh!? Aku kenal kamu.” sahut Ikzen sambil menunjuknya. “Kamu, kamu, kamu Clow dan dia...” geser tangannya menunjuk wanita berarmor disebelahnya. “Lyanna.”

“Benar...” Clow menaruh kedua tangannya di pinggang, memejamkan matanya dan bersikap angkuh. “Dia saja tahu. Masa kamu...”

“Ahh aku tidak terlalu peduli dengan orang-orang lemah, jelaskan saja kemampuan kalian agar kalian bisa berguna.” jawab Nicholas dengan kasar. 

“Duh kamu ganteng dan kuat, juga berprestasi. Tapi kata-katamu selalu menyakitkan untuk didengar.” kata Clow sambil memegang dadanya yang sesak.

“Jangan banyak ngomong!” Nicholas menyibak tangannya. “Cepat jelaskan kemampuan kalian! Detail hingga ke kelemahan kalian masing-masing.”

“Baik,” balas Clow menyanggupi, ekspresinya percaya diri sambil melangkahkan kakinya ke depan. “Perhatikan mataku.” tunjuk Clow pada matanya. “Kalau mataku menjadi bulat cincin berwarna oranye terang seperti ini. Itu artinya aku mengaktifkan Aura tipe Detector.”

“Aura tipe Detector? Hmm...” Nicholas seketika tersenyum. “Luar biasa... jelas kau akan berguna.”

“Tapi kelemahanku.” Kata Clow sambil matanya perlahan kembali normal.

“Tidak perlu! Tidak ada kelemahan dalam partyku.” balas Nicholas dengan kasar.

“Ugh... yasudah...” Clow memalingkan wajahnya.

“Dan kau gadis armor?” tunjuk Nicholas dengan tatapan merendahkan.

“Sihir yang aku bisa hanya satu,” balas Lyanna sambil menarik pedang di sarungnya.

“Hanya satu? Selama hampir setahun ini kau belajar apa hah?” bentak Nicholas.

“Belajar mengusai sihir ini sepenuhnya.” balas Lyanna dengan tenang dan tiba-tiba mereka semua di bungkus dinding kaca berwarna ungu gelap setelah pedang di tangan kanannya terangkat lebih tinggi dari kepalanya.

“Black Barrier?” balas Nicholas. “Huh! Aku juga bisa, cuma sihir dasar begitu, apa kau akan berguna?”

“Dark Force, Black Barrier, semua pengguna elemen kegelapan pasti bisa melakukannya.” kata Lyanna sambil melihat telapak tangan kirinya. “Tapi kedua sihir ini, sampai penyihir paling kuatpun memiliki kemampuan unik yang berbeda-beda.”

“Dan keunikanmu?” kata Nicholas sambil mengangkat alis dan melipat tangannya.

“Pertahanan sempurna dan fleksibilitas.” balas Lyanna sambil menunjukkannya. “Aku bisa mengubah lapisannya, mengubah ukuran luasnya dan bisa juga menyutikkannya pada senjata dan armor.” kata Lyanna sambil menunjukkannya.

“Hmm... semua yang kau ucapkan aku juga bisa lakukan.” balas Nicholas yang tidak terimpresi.

“Aku tahu,” balas Lyanna sambil berjalan menghadap Nicholas. “Aku juga menontonmu sewaktu di Final,” Lyanna mengeluarkan pedangnya. “Tapi biarkan aku jadi perisaimu,” Lyanna menunduk dan berlutut, ia menancapkan pedangnya ke tanah dan seketika Black Barriernya hilang. “Sementara kau fokus sebagai pedang,” kepala Lyanna melihat ke atas.

Nicholas tersenyum jahat sambil melihat Lyanna yang berada di bawah kepalanya. “Baiklah, kita mulai saja.”

“Eit, tunggu, tunggu, tunggu.” Clow menginterupsi. “Kalau Nicholas, kita semua sudah tahu, tapi kamu?” tunjuk Clow. “Apa kemampuanmu?”

“Aku seorang Healer.” jawab Ikzen dengan tersenyum polos.

“Ahh bukan kamu,” Clow melihatnya dengan ekspresi jengkel. “Kalau kamu sih aku tahu... tapi,”

“Tidak ada yang menarik,” balas Velizar sambil menarik yang selalu di genggamnya. “Kemampuanku cuma...”

***

15.14 Hari pertama.

“Ohog! Ohog! Ohog!” kata Luiz yang berjalan menggendong Fhonia dengan bersusah payah berlari keluar hutan menuju utara Eleantra. “Kita sedang kurang beruntung. Baru muncul sudah harus berhadapan dengan Nicholas.”

Selagi terus berlari Fhonia masih tidak sadarkan diri. 

Mereka semua menjauh dari lokasi tempat Nicholas berada dengan meninggalkan tas dan token mereka. Mereka hanya membawa senjata mereka masing-masing.

“Makanya, sudah dibilang kita kabur saja kenapa malah melawan.” kata Rivaldo, anggota acak yang didapati Luiz. Yang berlari mengikutinya dari belakang. “Bodoh banget sih kalian ini.”

Rivaldo adalah pria sipit berkacamata dari ignis. Ia berambut cukur samping dan menggunakan tongkat sihir sebagai senjata dan sedari tadi terus mengeluhkan hal-hal buruk yang terjadi.

“DIAM!” bentak Luiz. “Dari awal kita juga ingin menghindari mereka. Tapi sejauh apapun kita berlari dan bersembunyi, mereka dengan ajaib bisa tahu dimana kita berada.”

“Hah... hah aku capek... ahh aku capek.” kata Cindy, gadis berambut panjang berwarna pirang pudar yang memegang perananan seorang Healer dari Liquidum.

“Terus berlari! Kami tidak akan menunggumu!” bentak Luiz. “Kau seperti orang itu saja, saat kami butuh penyembuhan orang yang memegang peranan itu tidak dapat melakukannya.” kata Luiz sambil membayangkan wajah Chandra.

“Ba... baik...” Cindy terus berlari dengan membawa tongkat sihirnya meski ia sudah sangat kelelahan.

“Jangan sia-siakan pengorbanan teman kita.” balas Luiz. “Kalau tidak dihempas sihir angin Dioz, kita tidak mungkin bisa melarikan diri.”

“Huh...” kata Rivaldo dengan ketus. “Dan kita dengan teganya meninggalkan dia sendiri. Benar-benar ketua yang baik hati.”

“DIAM! Kita akan menjemputnya kembali jika sudah aman!” balas Luiz dengan emosi. “Kembali sekarang adalah langkah yang sia-sia. Aku tidak tahu kenapa sewaktu beradu pedang dengan Velizar, tiba-tiba listrik di pedangku hilang begitu saja. Tanpa kemampuan Aura mana bisa aku mengalahkan mereka berlima. Satu saja sudah sulit.”

”Incar Healernya dulu lah... dimana-mana juga begitu.”

“DIAM! Kau pikir aku tidak melakukannya? Mereka dilindungi Barrier dan Nicholas akan segera menyerangku begitu aku mendekati Healer mereka.”

“Hah... sialnya aku dapat party idiot!” balas Rivaldo dengan santainya.

Seketika Luiz berhenti, meletakkan Fhonia pelan-pelan di atas rerumputan hutan dan mulai menarik kerah Rivaldo untuk diajak berkelahi saat itu juga.

“Daritadi kau cuma mengoceh-ngoceh saja. Memang apa kontribusimu pada party ini! Kau cuma dibelakang berdiri gemetar tanpa membantu apa-apa. Kalau kau tidak suka dengan party ini silahkan keluar saja!”

“Haaa...” jawab Rivaldo dengan nyolot. “Memangnya siapa yang mau bergabung denganmu. Aku masuk kesini secara acak. Ingat ya... Acak. Bukan aku yang mau bergabung. Kalau tahunya dapat party lemah begini sih aku mending.”

Dahi Luiz langsung berurat dan merah,

BUAGGGHHH !!

Luiz meninju pipi kiri Rivaldo keras-keras hingga ia tersungkur di rerumputan hutan.

“Enyahlah!” kata Luiz dengan murka. “Jangan buat aku menganggapmu musuh!”

“Oke, oke! Kalau berkelahi yang kau inginkan.” Rivaldo bangkit berdiri dengan pipi terluka, ia mengambil kembali tongkatnya yang sempat lepas dari genggamannya dan mulai meng-cast sihir api. 

BRUSSHHHTT !!

“Aku siap meladenimu.” kata Rivaldo dengan kuda-kuda bertarung.

***

15. 24 Hari pertama.

Di kondisi yang serupa dengan Luiz, Gunin yang juga terkena imbas keonaran yang dibuat Nicholas, ikut melarikan diri ke barat daya Eleantra. Mereka pergi cukup jauh sampai bisa bersembunyi di mercusuar dekat kota Eleantra.

“Sabar, sabar sebentar lagi...” kata Lea, Healer berelemen cahaya dari party Gunin. “Aku akan menyembuhkanmu Gunin.” Lea mengarahkan telapak tangannya ke bagian tubuh Gunin yang berdarah.

Lea adalah seorang wanita tinggi berambut putih dengan dua kuncir panjang di depan pundaknya. Ia mengenakan pakaian jubah putih ala seorang penyembuh.

“Hah... hah... luar biasa,” kata Gunin sambil bersandar di tembok melengkung mercusuar dengan tubuh berdarah penuh luka-luka. “Si Nicholas itu punya party yang sangat lengkap. Meskipun acak, entah mengapa mereka semua berasal dari anak Stellar Umbra” 

“Cih...” kata tanker mereka Orlando yang berasal dari Liquidum. “Aku tak mengerti kenapa tiba-tiba kemampuan aura kita hilang begitu di dekat mereka.”

Orlando adalah pria kekar berambut hitam di kuncir panjang di belakang, Tak mengenakan baju dan badannya bertato, ia seperti pria besar yang dengan harpoon sebagai senjatanya bisa menaklukan paus satu lawan satu.

“Sayang aku belum bisa berbuat apa-apa.” kata Vesta, Necromancer dari Stellar Umbra. “Sihirku hanya dapat aktif ketika malam hari saja.”

Vesta memiliki paras wanita berambut hitam dengan dandanan gothic, matanya diberi eyeshadow hitam dan bibirnya juga berwarna hitam, senjatanya ialah tongkat tengkorak.

Sementara di puncak menara mercusuar, Arion dari Fragor mengenakan teropong untuk menembak jitu orang-orang yang berpotensi mengancam.

Arion sebagai sniper mengenakan googles di salah satu matanya. Ia berambut pirang pendek jabrik ke atas terangkat oleh google yang selalu ia kenakan. Namun meski penampilannya menjanjikan, mengenakan jubah bulu dan senapan laras panjang.

“Maaf, darisini aku hanya bisa memastikan posisi musuh ada dimana,” kata Arion dengan wajah cemberut tidak percaya diri. “Karena untuk mengenainya itu merupakan hal yang berbeda.”

***


Rivaldo dengan kuda-kuda tongkatnya kini dikelilingi 6 bola api yang melayang di kedua sisinya. Sejajar 3 di kiri dan 3 di kanan.

“Grr... anggota keparat.” Luiz geram sambil menaruh pedangnya di tanah dan meremas-remas tangannya. “Sayangnya ada aturan yang ditegaskan pak Vlau barusan. Kalau tidak, kau!”

SYUUZZHHH !!

Ke enam bola api itu menerjal langsung ke arah Luiz.

“Berisik! Kau jadi yang banyak bicara sekarang!” kata Rivaldo dengan nada tinggi. “Kalau kau memang ketuanya! Buktikan bahwa kau jauh lebih kuat dariku!”

Luiz bertahan dengan sisi belakangnya, dalam kondisi dua tangan terbuka lebar. 

“Sial, aku tidak bisa sembarang menghindarinya. Aku juga harus melindungi Fhonia.” pikir Luiz. “Orang ini tidak segan-segan menyerang partynya sendiri.”

“Hei kalian, berhenti! Berhentiiii!” teriak Cindy melerai mereka berdua.

Namun leraiannya tidak digubris sama sekali oleh mereka berdua dan Rivaldo masih terus meng-cast bola-bola apinya lagi dan kembali menyerang Luiz.

“Apa kubilang!” Rivaldo bicara dengan nada tinggi sambil terus secara beruntun menyerang Luiz. “Kau tak sepantasnya jadi ketua! Kau kasar! Kau juga tidak kuat-kuat amat! Langkah yang bijak untuk meninggalkan party ini dari awal!

“Si brengsek ini, melawanku yang tidak menggunakan senjata dan tidak dalam kondisi terbaik dengan rasa bangga.” pikir Luiz sambil terus mengaktifkan Barrier Listrik di belakang punggungnya. 

“Jadi begitu!” Rivaldo terus menerus mengoceh sambil terus menyerang. “Kau akan terus bertahan melindungi pacar kecilmu itu!”

Luiz seketika terpelatuk dan matanya terbuka lebar-lebar. Lalu Thunder Barrier berwarna ungu tua itu dihempaskan ke belakang lurus melesat langsung ke arah tempat Rivaldo berdiri.

Lesatan petir menghampiri dirinya dengan waktu singkat dan Rivaldo terkena setrum listrik itu sampai ia tersungkur di atas rumput.

“UAGHHH !! Sakit-sakit!” Rivaldo merintih sambil punggungnya naik dari atas rumput dan terus mengerang-ngerang. “Sakit! Sakit! Sakit!”

Sengatan listriknya berlangsung beberapa detik saja namun rasa sakitnya salah satu yang terburuk yang pernah ia rasakan.

Setelah sengatannya hilang, Rivaldo menarik nafas dengan cepat dan mulai kembali berdiri mengambil kembali tongkatnya dengan susah payah dan mendapati Luiz kini berjalan ke arahnya seperti monster besar yang bersiap menerkamnya.

Ketika Luiz berjarak satu langkah di depannya, Rivaldo langsung menikamnya dengan ujung tongkat dan meng-cast sihir api.

“Explosion !!”

Luiz yang melemah tidak sempat menghindar dan menerima ledakan api itu mengenai perutnya dengan telak hingga membuatnya tumbang hingga memuntahkan darah seketika.

“Aha, ahaa, ahahahaha!” Rivaldo tertawa dari ragu-ragu hingga yakin akan kemenangannya. “Kau pikir ketua lemah sepertimu bisa menang dariku!”

“Ahh... jujur aku tak terlalu peduli dengan aturan konyol dari pak Vlau, mungkin satu dua korban diperbolehkan dan aku bisa merancang banyak alasan nantinya.” Rivaldo mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, ujung tongkatnya diselimuti api yang padat, sambil berteriak keras-keras Rivaldo berkata. “Sekarang... KAU SUDAH KALAH !!”

***