Episode 95 - Petaka Dari Masa Lalu


Pada suatu malam, di desa Bojong Ngampar yang terdapat di perbatasan Banten-Mega Mendung, seluruh pria terutama pemuda penduduk desa itu nampak sedang meronda menemani Ki Demang dan para prajurit Kademangan. Mereka meronda karena ketakutan setelah ada selentingan kabar yang menyebutkan bahwa para Denawa yang menyebarkan malapetaka di Mega Mendung kini mulai membuat onar di wilayah perbatasan-perbatasan Banten.

Saat itu ada dua orang pria memasuki desa itu dengan menunggang kuda, mereka pun langsung bersiaga dan menghentikan kedua penunggang kuda itu. “Ki Dulur berdua mau ke mana?” Tanya Ki Demang yang memimpin para peronda tersebut.

“Nama Saya Kadir dan ini cantrik saya Purbaya, kami berdua adalah Pandai Besi dari Gunung Pangranggo mau ke Surosowan, tapi kemalaman, kami berniat mau bermalam di desa ini” jawab salah satu pria penunggang kuda yang Nampak lebih tua dari kawannya.

“Jangan boleh Ki Demang! Jangan-jangan mereka adalah jelmaan para lelembut dari Mega Mendung yang mulai meneror desa-desa di kawasan perbatasan Banten ini!” sambar salah seorang pemuda.

“Berbahaya Ki!” sambung yang lainnya.

Ki Demang langsung mengangkat tangannya sebagai tanda agar mereka berhenti, lalu ia kembali berujar pada para tamu tersebut. “Begini Ki Dulur, sudah tiga hari desa ini dan beberapa desa yang lain disekitar perbatasan Banten ini sedang terjadi Rajapati yang mengerikan, puluhan penduduk sudah banyak yang menjadi korban, oleh keganasan para lelembut yang kabarnya membuat malapetaka di Mega Mendung sehingga semua penduduknya mengungsi ke Banten. Kami tidak mau untung-untungan, hanya karena kami menerima Ki DUlur bermalam disini.”

“Tapi kami berdua tidak ada sangkut pautnya dengan para lelembut yang Ki dulur sebutkan, kami dari Pangranggo hendak mengantarkan keris pusaka pesanan Senopati Tubagus Langi, ini buktinya!” jawab Kadir yang tak lain adalah Kakak seperguruan Jaya Laksana dan Dharmadipa, mantan murid Kyai Pamenang dari Padepokan Sirna Raga yang kini menjadi seorang empu pandai besi pembuat senjata di kawasan lereng Gunung Pangranggo warisan dari almarhum ayahnya, sambil menunjukan sebuah peti kayu berukir yang berisi keris pusaka buatannya..

“Maaf Ki Dulur, kami tidak mau untung-untungan!” tegas Ki Demang.

“Lalu dimana kami bisa menginap?” tanya Kadir yang akhirnya mengalah karena ia merasa percuma untuk memaksa agar mereka diizinkan bermalam di desa tersebut.

“Agak sulit Ki Dulur, saya yakin didesa-desa tetangga di daerah perbatasan Banten ini akan berlaku sama seperti kami. Ki Dulur pun akan mendapatkan kesulitan, kami terpaksa berbuat seperti ini, padahal sebelumnya desa Bojong Ngampar ini selalu ramah kepada para pendatang… Saya harap Ki Dulur berdua bisa memahami apa yang sedang menimpa kami.”

Kadir menatap cantriknya yang bernama Purbaya, cantrik muda itu pun hanya mengangka bahunya, kembali ia menoleh pada Ki Demang. “Berapa lama desa berikutnya bisa kami tempuh?”

“Sepertinya percuma Ki Dulur, seluruh desa disekitar perbatasan Banten dengan Mega Mendung ini untuk sementara tidak akan bisa menerima tamu menginap…” jelas Ki Demang.

“Kalau begitu setidaknya tolong izinkan kami untuk lewat saja jalan desa ini.” pinta Kadir agar diizinkan untuk lewat jalan desa agar tidak harus melewati jalan yang memutar melewati hutan.

“Maafkan kami Ki Dulur, kami tidak mau ambil resiko!” tolak Ki Demang.

Kadir merasa sepertinya percuma untuk meminta kebijakan dari para penduduk desa yang sedang ketakutan tersebut, maka ia pun memutuskan untuk menginap didalam hutan saja. “Baiklah… Terimakasih Ki” mereka berduapun memutarkan kudanya dan kembali keluar dari desa.

“Terpaksa kita menginap didalam hutan Purbaya.” keluh Kadir setelah menjalankan kudanya sampai beberapa belas tombak memasuki hutan yang cukup ringkih.

“Tidak apa-apa Kakang, yang penting kita bisa selamat sampai ke tujuan.” jawab Purbaya.

“Kamu benar, Kita cari tempat yang sedikit terbuka.” Mereka pun meneruskan perjalanannya hingga menemukan satu tempat yang cukup terbuka, di sana mereka lalu membuat api unggun dan membakar seekor ayam hutan yang berhasil mereka tangkap untuk makan malam mereka.

“Tapi saya jadi kepikiran perkataan orang-orang desa itu Kakang, di padepokan kita yang sepi dan jauh dari keramaian pun, kita bisa mendengar kabarnya bahwa ada sepasukan lelembut yang membuat malapetaka besar di Mega Mendung, bahkan kutaraja Rajamandala sudah hancur oleh mereka! Dan sekarang mungkin tinggal hanya kita penghuni wilayah Mega Mendung karena semuanya sudah mengungsi atau tewas oleh pasukan lelembut itu!” ucap Purbaya setelah selesai makan.

“Kamu benar Purbaya, sayapun sudah berencana untuk memindahkan padepokan pandai besi kita ke wilayah Banten, hanya saja kita masih harus menyelesaikan satu tombak pusaka yang dipesan oleh Ki Gedeng Sumedang dari Sumedanglarang. Kalau kita pindah, kita tidak akan sempat menyelesaikannya tepat waktu. Apalagi hari baik untukku bersemedi di puncak Gunung Panggaranggo guna mengisi kesaktian tombak tersebut pasti akan terlewat.”

“Hmm… Benar juga… Dan kalau sudah pindah ke Banten, tentu kita tidak akan dapat menerima lagi pesanan dari negeri-negeri luar Banten Kakang. Karena sepertinya Banten memiliki kebijakan yang termata ketat untuk para mpu pandai besi seperti kita.”

“Benar… Tapi saya berencana untuk berhenti dari membuat senjata pusaka ataupun senjata biasa. Sepindahnya ke Banten, saya hanya akan membuat alat-alat pertanian dan alat-alat dapur!”

“Lho? Kenapa Kakang mau berhenti membuat senjata dan pusaka? Sangat disayangkan kalau kemampuan dan kepiawaian Kakang dalam membuat senjata dan pusaka tidak digunakan lagi. Siapa yang tidak tahu kemashyuran Mpu Kadir dari Pangranggo yang teramat piawai membuat senjata pusaka?!”

“Purbaya… Pertama aku ingin berhenti membuat senjata pusaka karena itu bertentangan dengan kepercayaanku, bertentangan dengan ajaran Islam, sebab dalam menciptakan satu pusaka, kita harus mengisi kesaktian pusaka tersebut dengan memasukan Banaspati, tanpa Banaspati, senjata pusaka itu tidak akan memiliki kesaktian apa-apa ataupun pamor!

Yang kedua, karena bertentangan dengan hati nuraniku, kegunaan utama dari senjata maupun pusaka adalah untuk melumpuhkan atau bahkan membunuh musuh kita, semakin banyak aku mencipatkan senjata maka akan semakin banyak orang-orang yang terbunuh oleh senjata yang aku buat, bagaimana aku akan mempertanggung jawabkan semuanya kelak dihadapan Sang Pengadil? Aku tidak sanggup untuk membayangkannya! Maka sudah kuputuskan, tombak Pusaka pesanan Ki Gedeng Sumedang adalah senjata terakhir yang aku buat, untuk selanjutnya aku hanya mau membuat alat-alat pertanian dan alat-alat dapur!”

“Kalau itu memang sudah menjadi niat Kakang saya setuju saja…” ucap Purbaya sembari menghela nafas, ia cukup menyesalkan alasan Kadir tersebut, namun ia bisa juga bisa memahaminya.

“Baguslah kalau kau mengerti!” Kadir tersenyum sambil menepuk pundak cantrik mudanya itu.

“Sebenarnya saya ingin sekali cepat-cepat melihat kota Surosowan, kabarnya istana Sang Sultan sangat besar, megah dan indah, kota pelabuhan itu juga sangat ramai didatangi orang-orang dari seluruh pelosok nusantara maupun orang-orang manca, dan kabarnya rakyatnya hidup sangat makmur!” lanjut Kadir seraya membayangkan kemegahan kota dan keraton Surosowan yang perkembangannya amat pesat hingga mengalahkan saudaranya, negeri Cirebon.

“Aku juga ingin ke Surosowan!” sahut suara berat dan parau lain yang bukan keluar dari kedua orang itu.

Kadir dan Purbaya terkejut mendengar suara pria itu, mereka pun langsung menoleh kebelakang mereka, di sana di diabawah sebuah pohon, duduk seorang pria paruh baya, bertubuh tinggi kurus, yang rambutnya jabrik dan sudah memutih semua.

“Oh, ternyata ada orang disini, maaf, dari tadi kami tidak melihat Ki Dulur.” ucap Purbaya.

 “Silakan bergabung dengan kami, disini lebih hangat, dan Ki Dulur pasti bukan penduduk desa itu, makanya tidak diperbolehkan masuk.” tebak Kadir.

Si Kakek tersenyum hambar sambil menatap Kadir dan Purbaya. “Aku bisa masuk kalau aku mau, tetapi malam ini aku sedang malas untuk diganggu, apalagi malam ini kebetulan malam Jumat” ujarnya. Si Kakek lalu menoleh kearah lain, dari mulutnya kembali terdengar suara berat dan serak. “Kalian pendekar?”

Kadir dan Purbaya saling pandang untuk sejenak, kecurigaan mulai mengemuka pada si Kakek ini, maka mereka pun memutuskan untuk menghampiri si Kakek. “Kami bukan pendekar, kami hanya pengembara, sebenarnya kami hendak menginap didesa itu karena kemalaman, tapi tidak boleh, karena baru saja desa itu terkena rajapati yang sama dengan yang melanda negeri Mega Mendung.” jelas Kadir dengan hati-hati. 

“Jangan mudah percaya omongan orang! Mungkin penduduk desa itu yang jahat sehingga tertimpa bilahi, buktinya kalian orang baik-baik tetap diusir, bukankah mencurigai orang yang tidak bersalah merupakan kejahatan?” tanya si Kakek dengan suara datar dan ekspresi wajah dingin.

“Sebenarnya… Mungkin memang begitu…” angguk Purbaya.

“Kalian mau ke Surosowan?”

“Betul!” angguk Kadir.

“Ada keperluan apa? Kalau boleh saya tahu…”

“Hanya sekedar ingin tahu, katanya negeri itu semakin maju… Ki Dulur sendiri?”

“Mencari musuh bebuyutanku yang telah menghancurkan seluruh hidupku! Namanya Jaya Laksana, atau yang dahulu bernama Jaka Lelana, dia seorang manusia jahat pembawa sial!”

Kadir dan Purbaya sangat terkejut, terutama Kadir karena Jaya Laksana atau Jaka Lelana adalah adik seperguruannya sewaktu di Padepokan Sirna Raga! “Ada urusan apakah Ki Dulur kepada orang itu? Dan darimana Ki Dulur tahu kalau orang itu sedang berada di Banten?’”

Si Kakek tertawa menyeringai buruk, suaranya berubah menjadi suara seseorang yang sangat dikenal oleh Kadir. “Hahaha… Tentu saja aku tahu Kakang Kadir, karena dialah yang telah menghancurkan hidupku! Bahkan aku pun tahu kalau kau berbohong mengatakan hanya seorang pengembara, bukankah kau seorang empu pandai besi dan juga seorang pendekar, murid kedua dari Kyai Pamenang, dari Padepokan Sirna Raga? Hahaha… Aku paling suka pada manusia yang berbohong macam kau!”

Kadir terkejut mendengar ucapan si kakek, apalagi suara si kakek berubah menjadi suara seseorang yang sangat ia kenali! “Suara itu?! Tidak! Tidak mungkin!” keterkejutannya bertambah berlipat-lipat ketika hidungnya mencium bau kembang tujuh rupa, tanah kuburan yang masih baru serta bau bangkai yang amat busuk, telinganya pun menangkap suara cuitan burung sirit uncuing!

Kadir dan Purbaya melangkah mundur, jantung mereka berdua berdegup amat kencang, bulu kuduk mereka berdiri, sementara si Kakek berdiri dari duduknya, lalu melangkah mendekati Kadir sambil tertawa terkekeh. “Kakang Kadir, apakah kau tidak mengenaliku? Apakah kau melupakan aku? Kejam! Kau melupakan aku tapi masih mengingat Jaka Lelana atau Jaya Laksana! Padahal aku juga sama-sama adik seperguruanmu!”

“Tidak! Tidak mungkin itu kau!” bentak Kadir.

Si Kakek tertawa terbahak-bahak, dan wushhh! Tiba-tiba wujud si kakek berubah menjadi seorang pria muda bertubuh tinggi besar yang seluruh kulit tubuhnya pucat pasi seputih kapas, kedua bola matanya merah seperti darah, rambutnya jabrik riap-riapan. Ia berpakaian serta berjubah serba putih. Kadir terbelalak melihat pria itu karena pria itu adalah orang yang sangat ia kenal, yang tak lain adalah Dharmadipa! 

Kadir hampir saja jatuh terduduk kalau tidak segera ditangkap oleh Purbaya, dihadapannya berdiri Dharmadipa yang kini jari telunjuk tangan kanannya menunjuk lurus-lurus pada Kadir. “Sudah terlalu banyak nyawa manusia yang kukirim ke akhirat karena mereka melupakan aku!”

“Dharmadipa! Bukankah kau sudah mati?!” tanya Kadir dengan suara bergetar.

“Sudah banyak manusia yang aku bunuh karena berani menaggapku sudah tidak ada di dunia ini! Jadi… Kalian harus melawanku!”

“Kalau kami menolak?!” tantang Purbaya.

“Tidak ada seorang manusia pun yang mampu menolak kata-kataku!”

“Dharmadipa sudah lama mati! Siapa sebenarnya kau?!” bentak Kadir.

“Aku anak haram diciptakan Tuhan! Aku anak haram yang ditakdirkan untuk menghuni alam kegelapan sampai akhir zaman!”

Kadir dan Purbaya segera melompat mundur. “Dia Jin yang menghancurkan seluruh negeri Mega Mendung itu! Hati-hati!” peringat Kadir pada Purbaya.

“Hahahaha!!! Akulah Sang Pendendam yang akan menyesatkan sleuruh umat manusia! Hahaha!!!”

Sekonyong-konyong tubuh tinggi besar Dharmadipa berkelebat menerjang Kadir dan Purbaya dengan kecepatan yang sukar diikuti oleh mata! Kadir dan Purbaya segera melompat kesamping menghindari serangan maut tersebut sambil masing-masing kirimkan satu pukulan, tetapi alangkah terkejutnya mereka ketika pukulan mereka seolah mengenai angin, padahal pukulan mereka jelas-jelas berhasil bersarang dengan telak dikedua sisi rusuk Dharmadipa!

Dharmadipa tidak memberi kesempatan, ia langsung menerjang lagi kepada kedua orang lawannya tersebut. Purbaya segera menghunus goloknya, sementara Kadir langsung membuka jurus-jurus andalannya yang ia warisi dari almarhum Kyai Pamenang. Tetapi hanya dalam tiga jurus mereka berdua kena didesak hebat oleh serangan-serangan mayat hidup Dharmadipa yang arah serangannya tak terduga dan mengandung tenaga dalam tak terukur saking dahsyatnya tersebut! Bahkan Golok Purbaya, hancur menjadi abu ketika diremas oleh tangan kiri sang mayat hidup!

Memasuki jurus keempat, Kadir dan Purbaya semakin kelabakan, hingga satu tendangan maut menyasar leher Kadir! Kadir melompat keatas berjumpalitan dengan mengendalkan ilmu peringan tubuhnya untuk menghindari tendangan dahsyat yang bisa membuat lehernya hancur tersebut, tetapi malang bagi Purbaya, satu pukulan bersarang telak didadanya, pemuda ini jatuh berguling-guling sambil muntah darah, tiga tulang rusuk sebelah kirinya patah!

“Purbaya!” teriak Kadir, ia langsung menotok beberapa titik jalan darah pemuda itu, tetapi saat ia hendak mengalirkan tenaga dalamnya pada Purbaya, Dharmadipa keburu menyerang lagi, terpaksa ia pun mengangkut Purnaya untuk melompat menghindari serangan Dharmadipa!

“Purbaya, Ambilah Keris pesanan Senopati Tubagus Langi dan pergilah ke Banten! Aku akan menahan dedemit ini!”

“Bagaimana dengan Kakang? Kakang tidak akan mampu menghadapi Dedemit ini!” tolak Purbaya karena ia tahu kesaktian Kadir tidak akan sanggup untuk menandingi Dharmadipa.

“Sudah pergilah cepat! Sesampainya di sana langsung berikan keris ini pada Tubagus Langi, setelah itu temui Raden Jaya Laksana, ceritakan pada dia semua yang kau lihat!”

“Tapi…” 

“Sudah cepat pergi sana!” bentak Kadir sambil mendorong tubuh Purbaya, maka terpaksa Purbaya pun menuruti kemauan Kakangnya meskipun dengan berat hati, ia segera mengambil peti kecil yang tadi mereka simpan didekat api unggun, ia langsung menaiki kudanya dan memacu kudanya.

Sementara itu, Kadir yang sudah putus asa karena tidak tahu harus berbuat apa lagi setelah semua serangannya tidak mempan, memutuskan untuk melakukan serangan terakhirnya, ia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi keatas, tangan kanannya yang dikepalkan tersebut memancarkan cahaya merah menggidikan dan mengepulkan asap putih, hawa disekitar situ menjadi panas, rupanya ia bersiap menyerang dengan seluruh tenaga dalamnya dengan pukulan pamungkas Padepokan Sirna Raga yakni pukulan “Sirna Raga”.

Kadir berteriak menggeledek, tangan kanannya dipukulkan ke muka, satu lidah api yang disertai gelombang angin panas menggebu ke arah Dharmadipa! Blaarrr! Satu ledakan dahsyat terjadi! Akan tetapi terjadilah satu pemandangan yang tak dapat Kadir percayai! Sekujur tubuh Dharmadipa dilalap api berwarna merah, namun tubuhnya tidak terluka sedikitpun, bahkan api pukulan Sirna Raga yang sangat menggegerkan dunia persilatan tersebut tidak mampu untuk membakar pakaian Dharmadipa sedikitpun!

Api disekujur tubuh Dharmadipa bagaikan tersedot kedalam tubuhnya, Dharmadipa pun menyeringai buruk. “Kadir, apakah kau lupa jika kami dibuat oleh api? Hahahaha…”

Kadir benar-benar putus asa, namun ia tak punya pilihan lain, maka kembali ia menyalurkan seluruh tenaga dalamnya untuk menembakan pukulan sirna raga sekali lagi! Wusshhh! Lidah Api dan gelombang angin panas kembali menggebu Dharmadipa! Tetapi seperti tadi, Dharmadipa hanya berdiri mematung sambil menyeringai buruk, dan tiba-tiba…

Wushhh! Lidah Api dan gelombang Angin panas pukulan milik Kadir berbalik menyerang Kadir, Kadir terkejut bukan alang kepalang, tetapi pada detik-detik kritis tersebut, ia masih sempat memukulkan lagi ajian pukulan Sirna Raganya untuk memapasi pukulan sirna raga yang dipantulkan oleh Dharmadipa!

Blarrr!!! Aahhhkkk!!! Satu dentuman dahsyat terjadi, langit bagaikan robek, bumi disekitar hutan itu bergoncang dhasyat, bunga-bunga api memercik ke mana-mana membakar dedaunan dan ilalang yang kering! Kadir menjerit hebat, tubuhnya mencelat empat tombak! Seluruh tubuhnya hangus dilalap oleh api akibat dua pukulannya sendiri yang memantul kepada dirinya, tubuh yang dilalap api itu menggeliat-geliat sebentar sambil mengeluarkan jeritan yang menyayat hati, hingga akhirnya tubuhnya tak berkutik lagi, bau hangit pun santar tercium menusuk hidung!

Sementara itu Purbaya terus memacu kudanya dengan sekencang-kencangnya menerobos gelapnya malam di hutan tersebut, tiba-tiba semilir angin dingin dan panas bertiup bergantian, bau kembang tujuh rupa bercampur tanah kuburan yang masih baru serta bau bangkai busuk menusuk hidungnya, suara cuitan burung sirit uncuing pun bergema ke mana-mana!

Kuda yang ia naiki pun menjadi sangat binal, kuda itu mengamuk sampai ia terjatuh dari kudanya, ketika ia mengaduh kesakitan, kudanya langsung “tancap gas” meninggalkan tuannya. Pemuda ini pun celingukan ditengah pekatnya malam di hutan tersebut ketika suara cuitan burung sirit uncuing terus bergema, dengan mengumpulkan seluruh kekuatannya, ia langsung berlari sekuatnya ke arah barat.

Ketika tenaga dan nafasnya mulai habis, ia melihat ada satu gubug yang lampu minyaknya menyala ditengah hutan itu, ia langsung menggedor-gedor pintunya. “Tolong bukakan pintu! Tolong!”

Seorang pria tua dan perempuan tua pun membuka pintu gubug itu. “Ada apa malam-malam begini menggedor-gedor pintu rumah orang?” Tanya si aki.

“Tolong saya Ki! Saya dikejar-kejar siluman Sirit Uncuing!”.

“Sirit uncuing?!” seru si Aki dan si Nini, ia pun menengok keluar dan celingukan.

“Kalau begitu ayo cepat masuk!” ujar si Nini, Purbaya pun langsung masuk, si Aki langsung menutup pintu gubugnya dan memasang palang di pintu rumahnya tersebut, sementara si Nini sibuk memasang palang di jendela gubugnya.

“Terimakasih Aki dan Nini sudah mau menolong saya… Hosh… Hosh…” ucap Purbaya sambil ngos-ngosan.

“Sebenarnya kamu itu kenapa? Kok bisa dikejar-kejar burung sirit uncuing setan?” Tanya si Nini.

“Saya juga tidak tahu Ni, tiba-tiba denawa itu mencegat saya dan teman saya, ia lalu mencelakai kami, saya berhasil melarikan diri.” jawab Purbaya.

“Lalu temanmu bagaimana?” Tanya si Aki.

“Entahlah, tapi ia tidak mungkin dapat menandingi kesaktian Denawa itu!”

“Seperti apa rupa Denawa itu Ki Dulur?” tanya si Aki.

“Tubuhnya tinggi besar, rambutnya jabrik riap-riapan, seluruh kulit tubuhnya pucat pasi seperti kapas tetapi kedua bola matanya merah seperti darah, ia mengenakan pakaian dan jubah serba putih, sekujur tubuhnya dingin seperti mayat… Kalau menurut teman saya, ia mirip sekali dengan mendiang Pangeran Dharmadipa dari Mega Mendung!”

“Oh begitu… Apakah Denawa itu seperti dia?” tunjuk Si Aki pada seseorang disamping mereka yang membuat Purbaya kaget setengah mati!

“Kau?! Kenapa kau bisa ada disini?!” desis Purbaya dengan suara seolah tercekik.

“Karena kami adalah mahluk Ghaib Ki Dulur!” sahut si Nini, mata Purbaya pun terbelalak ketika melihat si Nini dan si Aki berubah menjadi Setan yang sangat menakutkan! Gubug itu pun menghilang, tempat itu berubah menjadi hutan belantara seperti diluar gubug tadi.

Ia pun langsung melompat kemuka, dengan segera ia membuka kotak penyimpanan keris buatan Kadir yang dibuat untuk Senopati Tubagus Langi, ia langsung menghunus keris pusaka itu, namun terlambat! Dengan kecepatan yang sangat fantastis, mayat hidup Dharmadipa menerjang Purbaya! Kelima jari tangan kanannya menancap di batok kepala Purbaya, Purbaya menjerit kesakitan ketika kelima jari tangan kanan Dharmadipa menancap di batok kepalanya, ia pun segera merasakan panas yang teramat sangat! 

Panas yang bagaikan bara api itu menjalar ke seluruh tubuhnya, sekujur tubuhnya pun mengepulkan asap putih berbau sangit, dan Prakkk!!! Kepalanya hancur pecah, otak dan kedua bola matanya mencair karena panas dari kedua tangan Dharmadipa, setelah itu Dharmadipa mengangkat mayatnya dan melemparkannya kedalam jurang!