Episode 76 - Pembagian Grup


Sehari sebelumnya.

Angel bersama Dan sedang duduk berdua selagi melihat para pemuda lainnya sedang berlatih dengan penuh semangat. 

“Carikan aku lawan untuk bertarung, jika tidak aku tidak mau mengikuti turnamen besok.” Ucap Dan dengan santai.

“Jelas tidak ada yang mau melawanmu.” Ucap Angel seraya mengerutkan dahinya.

“Kalau begitu aku tidak akan mengikuti turnamen besok.” Dan berdiri, bersiap untuk pergi.

“Ya ampun, kenapa kau kekanak-kanakan sekali.” Angel menarik tangan Dan, memaksanya untuk duduk kembali.

 “Terserah kau mau bilang apa.” Ucap Dan acuh tak acuh.

“Ya ampun, bisakah kau sadar diri? Setelah kau mengalahkan mereka semua dengan sangat mudah, tentu saja mereka tidak memiliki kepercayaan diri untuk melawanmu lagi.” Ucap Angel tidak senang.

Hari-hari sebelumnya, Dan selalu meminta setiap orang untuk bertarung dengannya, akan tetapi pertarungan itu selalu berlangsung dalam sekejap, karena dalam satu serangan saja musuh yang Dan hadapi akan langsung kalah. 

Saat ini, tidak ada lagi yang berani mencoba untuk bertarung dengannya, sepertinya mereka sedikit mengalami trauma mendalam setelah melawan Dan. Bahkan, ada seseorang yang telah lama berlatih bela diri, dia menghabiskan seluruh waktunya untuk menjadi lebih kuat, tapi setelah dikalahkan dengan mudah, dia tidak pernah datang lagi.

Teman-temannya mencoba untuk membujuk dia kembali, dan akhirnya mereka berhasil, akan tetapi setelah dia melihat Dan, kepercayaan dirinya hancur lagi, akhirnya keesokan harinya dia tidak datang lagi.

Karena itu, teman-temannya mencoba untuk membujuk dia, akan tetapi dia berkata bahwa dia akan mengalahkan siapa saja yang mencoba meembuat dia kembali ke sana, dan benar saja, mereka semua yang mencoba membujuknya dibuat babak belur.

Ketakutannya menjadi kekuatannya, tanpa dia sadari dia bahkan bisa mengalahkan mereka semua.

Ini semua karena dia tidak mau menemui Dan lagi.

Setelah Angel tahu cerita ini, dia terdiam, tidak tahu harus berkata apa.

“Ya ampun, bukannya ini terlalu berlebihan?”

Tapi, Angel mau tidak mau tetap mempercayainya, karena kejadian itu benar-benar terjadi.

“Kalau begitu, kau saja yang menajadi lawanku.” Dan berkata seraya menatap Angel.

“Tidak, tidak akan, itu tidak akan terjadi.” Tolak Angel dengan terburu-buru.

“Kenapa?” tanya Dan.

“Tidak perlu alasan, kalau aku bilang tidak ya tidak.” Ucap Angel dengan tegas.

“Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.” Ucap Dan lalu berdiri.

“Hei, tapi besok kau harus datang.” Angel memegang tangan Dan, tidak membiarkan dia pergi.

Namun, meskipun begitu, Dan dengan mudah melepaskannya dan berjalan pergi, tanpa mengatakan apapun. Angel menggertakan giginya dan berlari mendekati Dan, lalu memeluknya dari belakang.

“Katakan kau akan datang, atau aku tidak akan melepaskanmu.” Ucap Angel dengan tegas.

Dan merasakan sensasi lembut dari belakangnya, meskipun dia lebih tertarik pada bokong daripada dada, tapi tetap saja, sensasi ini cukup nyaman. Jadi, dengan alasan itu, Dan tidak langsung menjawab, dia tetap terdiam sambil menikmati perasaan lembut itu.

Semua orang yang menyaksikan kejadian ini hanya bisa diam sambil menahan rasa ini, dipeluk oleh Angel, pasti sangat mengasikan. Dengan tubuh yang panas itu, tidak akan aneh bahwa seorang pria tiba-tiba menjadi hewan buas. 

“Bagaimana? Kau akan datang, kan?” tanya Angel lagi.

“Hmm, akan kupertimbangkan.” Jawab Dan pelan.

“Tidak, berikan aku jawaban pasti. Percayalah padaku, di turnamen nanti kau akan menemukan banyak orang kuat yang akan melawanmu.” Ucap Angel terburu-buru.

Setelah Angel mengatakan itu, Dan akhirnya sadar. Benar, diturnamen nanti dia pasti akan menemukan orang yang mau tidak mau harus melawannya. Dengan begitu dia bisa menjadikan mereka sebagai ‘batu asah’ untuk membantunya mengendalikan energi di tubuhnya.

“Baiklah, aku akan datang.” Jawab Dan.

“Oke, sudah diputuskan, kau tidak boleh menarik kembali kata-katamu.” Ucap Angel dengan penuh semangat.

Angel melepas pelukannya dan melihat sosok Dan yang semakin memudar. Debaran di jantungnya masih cepat seperti ketika dia memeluk tubuhnya. Tidak banyak otot di tubuh Dan, tapi dia tetap saja seorang pria, mengingat kembali aroma seorang pria dari Dan membuat pipi Angel memerah karena malu.

Sementara itu, Dan terus berjalan ke rumahnya. Setelah sampai, dia segera masuk ke kamarnya dan berbaring dengan santai di atas kasurnya.

Beberapa hari ini Dan terus bertarung menggunakan energinya dan karena itu, dia sedikit demi sedikit mampu mengendalikannya. Meskipun begitu, itu masih sangat jauh untuk bisa mengendalikan semua energi yang mengamuk itu. 

Namun, dengan sedikit bantuan dari energi itu, tidak ada musuh yang bisa membuat Dan bertarung dengan serius lagi. Berpikir tentang menyelamatkan Danny, Dan tidak bisa membiarkan kondisi ini terus berlangsung. Dan ingin menyelamatkan Danny sesegera mungkin.

Di malam hari. Seperti biasa, Dan makan malam berdua dengan ibunya. 

“Apakah ada masalah?” tanya ibunya.

“Tidak, tidak ada masalah sama sekali.” Jawab Dan.

“Baiklah kalau begitu.” Ucap Ibunya dengan sedikit curiga. Namun, dia tidak tahu apa itu. 

Setelah makan, mereka berdua mengobrol santai. Tentang pelajaran di sekolah, tentang pekerjaan ibunya, dan banyak hal lain. Namun, ketika Dan mencoba membahas topik turnamen bela diri, wajah ibunya langsung suram, dia tidak mau membicarakannya.

Setelah itu Dan langsung kembali ke kamarnya. Berpikir kembali tentang ibu Danny yang membenci bela diri, mungkin akan menimbulkan masalah jika dia mengikuti turnamen itu. Akan tetapi, gagasan mendapatkan lawan kuat yang dapat membantunya untuk mengendalikan energi yang mengamuk di dalam tubuhnya sangat menggiurkan.

Jadi, dengan pemikiran seperti itu, Dan menetapkan keputusannya seraya bergumam pelan, “Ini semua untuk menyelamatkan Danny.”

Keesokan harinya, setelah pulang sekolah, Dan langsung bergegas pergi ke perguruan bela diri Iblis Merah. 

“Syukurlah, akhirnya kau datang juga.” Ucap Angel dengan senyum lebar ketika melihat Dan datang.

“Tentu saja.” Ucap Dan santai. “Tapi, aku punya satu syarat?”

“Hah? Syarat apalagi?” tanya Angel sambil mengerutkan dahinya.

“Ibuku tidak suka bela diri, jadi kau harus membuatkan penyamaran untukku agar Ibuku tidak tahu.” Ucap Dan lugas.

“Jadi kau mau aku membuatmu tidak bisa dikenali Ibumu?” tanya Angel memastikan.

“Hmm.” Dan mengangguk ringan.

“Tidak masalah apa yang aku lakukan, yang penting Ibumu tidak tahu, kan?” Angel memastikan sekali lagi.

“Hmm.” Dan mengangguk lagi.

“Baiklah, anggap saja sudah selesai, aku ini sangat ahli dalam bidang ini.” Angel tersenyum cerah.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya Angel selesai merubah Danny, dengan alat-alat make up-nya, Angel merias wajah Danny menajadi lebih feminim, sebuah wig terpasang dan membuat wajah Danny terlihat cukup cantik, dengan kulitnya yang putih dan lembut, tidak akan ada yang menyadari bahwa Danny adalah seorang pria.

“Hmm, bagus sekali, bagus sekali, ini menakjubkan.” Ucap Angel sambil menganggukan kepalanya.

Dan melihat penampilannya di cermin. Bahkan dia tidak bisa mengenali dirinya sendiri. Angel benar-benar merubah Danny.

“Baiklah, ayo kita pergi.” Ucap Dan acuh tak acuh. Meskipun penampilannya telah berubah menjadi perempuan, dia tidak terlau peduli, lagipula tidak ada yang mengenalinya, yang lebih penting adalah dia bisa mengendalikan energi yang mengamuk di tubuhnya untuk menyelamatkan Danny.

“Kau tidak keberatan dengan penampilan seperti itu?” tanya Angel ragu.

“Kenapa? Apakah ada masalah?” Dan bertanya balik pada Angel.

“Yah, kupikir kau akan keberatan. Baguslah jika tidak, ayo kita pergi sekarang.” Ucap Angel dengan antusias.

Mereka berdua berangkat. Di depan perguruan bela diri iblis merah, mereka bertemu dengan ayah angel.

“Kenapa kau belum berangkat? Si bajingan kecil itu juga di mana?” tanya Ayah Angel.

“Ja ja ja ja jang.” Ucap Angel dengan semangat.

“Apa maksudmu?” 

“Dia Danny.” Ucap Angel seraya menujuk ke arah Dan.

“Hah? Bagaimana mungkin?” Ayah Angel tidak percaya.

“Nanti akan aku jelaskan, kami pergi dulu.” Angel menarik tangan Dan sambil berlari pergi.

Angel bersama Dan pergi ke gedung MA, ketika sampai di sana, mereka di arahkan oleh seorang staf menuju ruang tunggu. Mereke berdua berjalan melalui lorong dan membuka pintu, di dalam ruang tunggu sudah banyak orang yang datang. Angel masuk lebih dulu dan kemudian Dan menyusul di belakangnya.

Setelah mereka berdua masuk, hampir semua mata langsung menuju arah mereka, tidak, tapi hanya Angel. Dengan pakaian bela diri berwarna merah yang memeluk erat tubuhnya yang panas, membuat dia benar-benar menggoda.

Angel menarik tangan Dan sambil berjalan ke salah satu sudut ruangan, di mana masih terdapat kursi yang kosong.

Beberapa orang berniat untuk mendekati Angel, akan tetapi Angel tidak memberinya wajah sama sekali dengan mengabaikan orang tersebut dan terus berbicara dengan Dan. Menganggap orang tersebut tidak ada.

Setelah beberapa waktu, akhirnya seorang staf datang dan memberitahukan kepada semua peserta untuk segera menuju ke arena. Dengan langkah santai, mereka semua berjalan menuju arena. Di ujung lorong, mereka semua bisa mendengar riuhnya suara para penonton yang datang.

Setelah masuk, para peserta sangat takjub dengan pemandangan yang mereka lihat. Dibanyak sisi mereka bisa melihat banyak wartawan dengan juru kameranya. Di setiap sisi arena, mereka bisa melihat para penonton berteriak penuh semangat, ada juga dari mereka yang meneriakan nama peserta yang mereka kenal.

Adegan itu sungguh menakjubkan. Meskipun mereka tampak sangat gugup sebelumnya, tapi sekarang semangat mereka telah dipompa kembali. Bahkan Gary yang sebelumnya mengantuk tidak bisa tidak mengantuk kembali. 

Dengan jengkel Gary menggerutu, “Sial, kalian semua sangat berisik.”

Mereka semua berbaris dalam dua barisan. Satu-persatu nama mereka diumumkan akan masuk ke dalam grup apa. Ada empat grup, di setiap grup akan terisi dari 8 orang.

“Lin Fan, grup A.” 

Dengan langkah ringan berjalan ke samping, di mana mereka yang berada dalam grup A berkumpul.

“Gary, grup B.”

“Angel, grup C.”

“Gerral, grup D.”

“Hector, grup A.”

Nama-nama terus disebutkan, hingga akhirnya hanya tersisa Dan (nama samarannya saat ini Dina).

“Dina, grup D.”

Dan berjalan ke barisan orang yang masuk ke grup D.

Setelah pembagian grup, Li Jun maju dan memberikan sedikit pidato. Lalu, tanpa banyak basa basi lagi, pertandingan pertama diumumkan. 

Pertandingan pertama dari grup A, yaitu Hector melawan Lin Fan.