Episode 350 - Paman dan Kemenakan



Sang rembulan purnama mengggantung tinggi seorang diri di langit kelam. Ia kesepian, namun tetap berkeras hati untuk menjalankan kodratnya sebagai pemantul cahaya dari sang mentari. Walau tak memiliki kekuatan memancar cahaya sendiri, ia tiada berkecil hati. Sepanjang hayatnya, tak pernah pula merasa sedih atas kesendirian dan keterasingan. 

Angin laut berhembus kencang, melambaikan daun-daun kelapa yang saling bergesekan antara satu sama lain. Karena panggilan sang rembulan, ombak pasang laut menderu tinggi, lalu meledak menghantam karang. Ledakan tersebut memburaikan air asin yang berubah putih, sebelum hilang disapu angin. 

Di atas sebentuk batu karang nan besar dan tinggi, seorang perempuan dewasa dengan mata terpejam duduk bersila. Hanyut dalam tapa, rambut hitam dan ikalnya panjang mengalun dimainkan angin sehingga terurai menutupi bahu yang bernuansa cokelat muda nan lembut. Roman wajah halus berbentuk oval dengan sepasang bola mata berukuran sedang yang dihiasi sepasang alis tajam mirip sepasang pedang. Hidungnya lentik, dengan sepasang bibir tipis berwarna merah. Melingkar di leher, seutas kalung rantai berwarna perak dengan empat buah liontin berbeda ukuran bergelayutan di sisi bawah rantai kalung. 

Di malam terang bulan seperti ini, perempuan dewasa tersebut perlu mengasingkan diri. Bukan disebabkan oleh hati yang gundah-gulana, namun lebih karena unsur kesaktiannya yang sedang berada pada titik puncak. Kesalahan sedikit saja dalam mengerahkan kekuatan, maka perempuan dewasa tersebut dapat meluluhlantakkan perguruan ternama, memutarbalikkan kerajaan-kerajaan besar. 

Sebentuk cahaya melesat tinggi di angkasa raya, seolah hendak menghibur hati sang rembulan walau hanya sejenak. Apakah bintang jatuh? Perempuan dewasa pelahan membuka kelopak mata. 

Cahaya tersebut tetiba berbelok, lalu kembali melesat cepat. Hanya dalam satu kedipan mata, ia tiba sekira sepuluh langkah di hadapan si perempuan yang sedang bersemedi menenangkan diri. Melayang di atas gempuran ombak terhadap karang, cahaya tersebut lantas meredup dan menyibak seorang lelaki setengah baya. Tubuhnya tegap, mengenakan baju zirah kokoh layaknya bangsawan diraja. Rambutnya hitam mengkilap, dan diikat dalam gelungan di sisi atas. Kumis tipis dan janggut runcing menatap ke bawah. Raut wajahnya kaku, bahkan terkesan dibalut amarah.

Mayang Tenggara bangkit berdiri, menundukkan kepada, lantas menyapa santun, “Amaure, apakah gerangan yang membawa dikau bertandang ke dunia ini?” (1)

“Hmph…” Lelaki setengah baya tersebut mendengus. “Hanya pada malam seperti ini, tatkala kekuatan engkau berada pada titik puncak, dapat aku merasakan.”

Mayang Tenggara membalas dengan senyuman. 

“Sungguh engkau menyedihkan…” sergah lelaki setengah baya itu sembari membuang wajah. “Katakan di mana ibundamu…”

Mayang Tenggara menggelengkan kepala, karena memang ia sama sekali tak mengetahui tentang keberakaan tokoh yang sedang dipertanyakan. 

“Jikalau ibundamu terus-menerus menyembunyikan diri, maka engkau yang akan menggantikan tempatnya!” Lelaki setengah baya itu menudingkan jemari telunjuk. 

Meski hanya berdiam diri, perlahan dan pasti, aura kekuatan Mayang Tenggara terus meningkat. Tindakan ini menandakan bahwa kesabaran dirinya ada batasan, dan ia tak gentar jikalau memang harus bertarung.

“Peranakan seperti engkau hendak menantangku…?” Lelaki setengah baya itu mendengus. 

“Jikalau Amaure menjual, maka diriku akan membeli…”

Lelaki setengah baya menatap tajam kepada Mayang Tenggara, yang dibalas dengan tatapan senada. Secara kekuatan, ia menyadari bahwa perempuan dewasa di hadapannya itu sedang berada pada titik puncak. Akan tetapi, di saat yang sama, ia juga mengetahui bahwa hal tersebut tak mengubah apa-apa. Dari segi kekuatan dan kemampuan tempur, dirinya berada jauh lebih digdaya dari sang kemenakan. 

“Kau sama saja dengan ibundamu!” dengus lelaki setengah baya. “Kau tahu bahwa bila berhadapan dengan aku, maka kau akan mati konyol. Tapi tidak… kau tetap saja bernyali besar.”

Mayang Tenggara masih bersiaga. Sesuai kata-katanya, maka ia tak akan memulai pertarungan. Dari sisi kemampuan tempur, maka ia sadar diri berada jauh di bawah sang paman. Akan tetapi, hal tersebut bukan berarti nyalinya akan ciut. 

Cahaya kembali berpendar terang, lantas melesat cepat menghilang ke langit tinggi. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut, Mayang Tenggara sudah ditinggal pergi. 

Ibunda dari Lintang Tenggara dan Bintang Tenggara itu lantas menoleh ke samping. Jauh di hadapan, sebentuk formasi segel berwujud seejor burung kecil terbang mengalun menembus tiupan angin malam. Ketika tiba di hadapan Mayang Tenggara, formasi segel tersebut berpendar dan mengurai, kemudian merangkai kembali menjadi wujud seorang lelaki dewasa dengan rambut kusut dan kumis serta janggut yang berantakan. 

“Kekasih hatiku…” Formasi segel yang telah berubah wujud menjadi mirip dengan Balaputera Ragrawira menegur penuh perhatian. “Sepertinya diriku terlambat memperingatkan…”

Di hadapan formasi segel nan berwujud sosok sang suami, Mayang Tenggara hanya menebar senyum. “Mengapakah dikau tak bisa mengurus diri…?” ujarnya mengungkap kekecewaan atas penampilan sang suami. Malu rasanya sebagai seorang istri, bila suatu hari harus berjalan berdampingan dengan suami yang sedemikian jorok.

“Yang tadi itu bukanlah raga sejati beliau. Hanya klon semata…,” formasi segel nan berwujud Balaputera Ragrawira mengalihkan pembicaraan. Atau lebih tepatnya, kembali pada pokok permasalahan.

Mayang Tenggara menanggapi dengan anggukan, menunjukkan bahwa ia telah mengetahui akan kenyataan tersebut. Klon tubuh dikendalikan oleh kesadaran yang asli, tapi memiliki kekuatan yang berada di bawah raga sejati. Kendatipun demikan, klon tadi tetap sulit ditaklukkan. 

“Apakah gerangan yang beliau kehendaki kali ini…?”  

“Masih sama… mencari tahu keberadaan ibunda.”

Formasi segel nan berwujud Balaputera Ragrawira, membuka mulut namun tak ada kata-kata yang keluar. Dirinya mengetahui di mana sang ibu mertua berada, akan tetapi menahan diri dalam mengungkap lokasi. Memberi pengetahuan tersebut kepada sang istri, berarti Mayang Tenggara terpaksa berdusta bila kembali dipertanyakan. Kebohongan akan mudah terbongkar di hadapan ahli nan sangat digdaya. Mayang Tenggara pun menyadari akan kemungkinan tersebut, sehingga tak pernah mempertanyakan atau mencari tahu di mana ibundanya berada. 

Bila sang ibunda hendak menyembunyikan diri, maka lebih baik jangan diganggu. 

“Diriku terpaksa pergi…,” ujar formasi segel nan berwujud Balaputera Ragrawira. Raut wajahnya demikian sendu, rindu rasanya merasakan kehangatkan tubuh sang istri. 

Sepasang suami dan istri saling pandang. Perlahan, formasi segel pun mulai memudar. 

Mayang Tenggara membalas dengan anggukan, sungguh ia pun merindu pada sosok sang suami. Lantas, ia berujar ringan diselingi sebentuk senyuman… “Bilamana kita bersua nanti, maka sebaiknya dikau tak perpenampilan sebagaimana demikian.” 


===


Sang rembulan purnama mengggantung tinggi seorang diri di langit kelam. Ia kesepian, namun tetap berkeras hati untuk menjalankan kodratnya sebagai pemantul cahaya dari sang mentari. Walau tak memiliki kekuatan memancar cahaya sendiri, ia tiada berkecil hati. Sepanjang hayatnya, tak pernah pula merasa sedih atas kesendirian dan keterasingan. 

Angin malam berhembus kencang, melambaikan dedaun pepohonan yang saling bergesekan antara satu sama lain. Akibat bias penerangan sang rembulan, suasana malam tak terlalu gelap, memberi kesempatan bagi binatang malam untuk semakin giat mencari makan. Nyayian jangkrik berbaur dengan tembang burung hantu, menambah ramai keadaan di malam hari itu. 

Di dalam pendopo yang tak berdinding, seorang anak remaja lelaki duduk bersila pada permukaan papan lantai nan kokoh. Ia mendongak ke langit tinggi dan mulai berujar, seolah sedang berbicara dengan sang rembulan malam. “Walau hanya sepintas menyaksikan formasi segel yang dirapal oleh ayahanda, aku menyadari bahwa terdapat kesamaan simbol dengan formasi segel yang dikau rapal.”

Yang tak disapa cahaya sang rembulan, merupakan seonggok tubuh yang meringkuk tiada berdaya tepat di sisi si anak remaja. Ia adalah seorang lelaki dewasa muda yang saat ini sedang menahan derita yang menghinggapi sekujur tubuh. Kepalanya pening seolah hendak pecah, dada sesak membuat susah bernapas, jantung berdebar kencang, dan perut terasa mual seperti hendak memuntahkan segenap isinya. 

“Setelah tubuhku terjatuh ke dalam lorong dimensi ruang, engkau pun telah sedia menanti. Selain itu, kecenderungan kalian mengucilkan diri dari keluarga, semakin menegaskan akan jalan keahlian ditempuh sangat berbeda dengan ahli kebanyakan,” lanjut Balaputera Gara sembari mengalihkan pandangan kepada Balaputera Khandra yang terlihat demikian menyedihkan.

Guru Muda Khandra membuka mata perlahan. Tindakan yang sederhana ini merupakan sebuah upaya yang terlihat teramat sangat sulit, namun tetap ia jabani. 

“Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa hubungan dikau dengan ayahandaku lebih dari sekedar hubungan paman dan kemenakan,” lanjut Bintang Tenggara. “Bahkan, kemungkinan besar merupakan hubungan antara guru dan murid…”

Tatapan mata Bintang Tenggara dan Guru Muda Khandra bertemu. 

“Aku tak akan mempertanyakan perihal maksud dan tujuan kalian. Aku tahu tiada gunanya memaksa, karena engkau tak akan memberikan jawaban yang memuaskan.” Bintang Tenggara kembali melongok ke langit tinggi, menikmati indahnya sang rembulan. 

Guru Muda Khandra memejamkan mata. Derita yang ia jalani membuat rahang kaku, sehingga tiada mampu berkata-kata. 

Waktu berselang, malam semakin larut. Esok pagi merupakan tenggat waktu penyerahan sokongan. Bila tiada yang memiliki enam sokongan, maka Perguruan Gunung Agung urung mengirimkan murid dalam ajang pertukaran pelajar. Demikian adalah sikap perguruan. Tiada dapat diganggu-gugat. 

Ketika Bintang Tenggara menoleh, hanya untuk mendapati Guru Muda Khandra terlihat sedang melotot ke arah dirinya. 

“Oh… sungguh aku menyadari hukuman berat bagi seorang murid yang menyerang seorang guru…” tanggap Bintang Tenggara seolah memahami arti dari pandangan mata lawan bicaranya. “Mari kita tak membahas perihal ini lebih lanjut…”

Guru Muda Khandra masih melotot. 

“Engkau saat ini sedang menderita dampak dari Racun Kelabang Darah. Racun tersebut tiada membahayakan jiwa, namun selama tujuh hari dan tujuh malam derita yang dirasa akan semakin menyengat. Kebanyakan ahli menjadi gila pada hari keempat,” lanjut Bintang Tenggara ringan. 

Yang tak anak remaja itu sadari, bahwasanya mata melotot merupakan cerminan dari benak Balaputera Khandra yang saat ini sedang memikirkan hal lain. Dalam pandangan lelaki dewasa muda itu, menekuni jalan keahlian berarti kemampuan memilih. Ibarat kegiatan jual beli, agar dapat meperoleh kekuatan nan digdaya maka seorang ahli wajib menyajikan bayaran. Bayaran bagi seorang ahli pun berbeda-beda bentuknya. Ada yang menyerahkan harta benda, kerja keras, waktu, serta hubungan antar manusia. Bahkan, tak sedikit yang mengorbankan nyawa. 

Dalam kaitan dengan Bintang Tenggara, selama ini Balaputera Khandra berpandangan bahwa si saudara sepupu tersebut masih polos adanya. Menganggap diri sebagai ahli yang senantiasa hendak berada di jalur kebenaran dan kebajikan. Sungguh kebenaran dan kebajikan merupakan sesuatu yang semu dalam mengarungi dunia persilatan dan kesaktian. Kebajikan melawan kejahatan, kebenaran menghadapi kebathilan. Terpaku kepada hitam melawan putih, merupakan pandangan yang keliru…

Segala perbuatan dan tindakan seseorang, dilandasi oleh kebutuhan. Seseorang terpaksa mencuri karena keluarganya belum mengecap makanan yang layak selama berhari-hari. Seseorang membunuh karena sedang membela diri. Seseorang menipu karena malas bekerja. Tak ada garis tegas yang memisahkan antara hitam dan putih. 

Oleh karena itu, sesungguhnya saat ini Balaputera Khandra sedang bersenang hati. Bintang Tenggara merelakan diri menempuh segala cara demi memperoleh sokongan dari seorang maha guru, bahkan meracuni saudara sepupu sendiri. Meski ia tak mengetahui dasar tindakan anak remaja itu, keadaan mental yang sedemikian sangat dibutuhkan bila hendak tumbuh di jalan keahlian. Bersikap keji saat dibutuhkan, bertindak mulia saat diamanahkan. 

“Apakah engkau berpandangan bahwa aku rela menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan…?” Tetiba Bintang Tenggara berujar. “Tidak. Engkau keliru. Aku meracuni tubuhmu karena aku menganggap bahwa engkau merupakan tokoh yang pantas menerima ganjaran tersebut.”

Sebagai Super Murid dari Komodo Nagaradja, tentu Bintang Tenggara sudah mengetahui betul tentang kebenaran dan kebajikan beserta lawan katanya. Ajaran Komodo Nagaradja sangatlah sederhana: ‘Berikan ganjaran atas tindakan yang setimpal’. Artinya, bila seseorang terpaksa mencuri karena keluarganya belum mengecap makanan yang layak selama berhari-hari, maka berikan ganjaran atas kesalahan mencuri. Akan tetapi, jangan sekali-kali menghukum dia karena keluarganya belum mengecap makanan yang layak selama berhari-hari. 

Lantas, apakah ganjaran yang pantas diberikan…? Bintang Tenggara tetiba merenung. Sungguh pelik ajaran sang Super Guru. Apakah gerangan maksudnya…? Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Jalani saja.

“Waspadalah…” Tetiba Ginseng Perkasa memecah lamunan. 

Sigap, Bintang Tenggara melompat cepat dan segera keluar dari dalam pendopo. Anak remaja tersebut memasang kembangan sebagai sikap kesiagaan. Di lain sisi, dalam keadaan yang sepantasnya dipenuhi dengan derita kesakitan, seorang ahli akan kesulitan memusatkan mata hati serta mengalirkan tenaga dalam. Akan tetapi tidak dengan Balaputera Khandra. Tubuhnya sontak bangkit duduk dan terlihat jelas formasi segel berpendar di sekujur tubuhnya. Ia lantas tersenyum, kemudian dan menjulurkan lengan. 

Bintang Tenggara terlihat ragu. Kendatipun demikian, ia raih secarik kertas dan berikan kepada tokoh tersebut. Guru Muda Khandra meraih kertas tersebut, lantas menebar mata hati. Tetiba, terlihat tambahan sokongan. Tertulis pula gelar “Maha Guru Kesebelas”.


Catatan:

(1) Amaure: panggilan ‘paman’ dalam bahasa Bugis.