Episode 349 - Penghinaan



“Menyingkir! Menyingkir!” 

Kerumunan khalayak yang kebetulan melintas atau sedang sibuk melakukan tawar-menawar di gerai-gerai yang berjajar sepanjang jalan, sontak melongok. Tak peduli tua maupun muda, ingin mereka mencari tahu apakah yang sedang berlangsung. Sejumlah khalayak demikian penasaran menyaksikan jalanan yang ramai membuka, tak sedikit yang segera menarik diri ke pinggiran jalan. Siapakah gerangan yang hendak melintas…? 

Dua ahli Kasta Perak tingkat menengah, lelaki dewasa muda yang bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek, memamerkan otot-otot nan kekar. Otot-otot diperlukan bukan hanya untuk menopang kekuatan raga, namun lebih berperan sebagai alat intimidasi. Keduanya bersemangat mendorong kerumunan yang terlambat bereaksi. Ada yang sampai jatuh tersungkur, meski cukup banyak yang sigap menghindar. 

Kedua tukang pukul nan kekar dilatarbelakangi oleh sebuah payung lebar dan bundar nan menjunjung tinggi. Dengan rumbai-rumbai bertahtakan sulaman benang emas, sang payung terlihat demikian angkuh sekaligus perkasa. Seorang perempuan dewasa muda menyangga payung tersebut, dengan sangat berhati-hati ia memastikan agar terik mentari tak menjangkau seseorang yang dinaungi payung. 

“Tuan Muda Lolak…”

“Itu Tuan Muda Lolak!” 

“Menyingkir…. Menyingkir! Tuan Muda Lolak hendak melintas!” 

Seorang lelaki dewasa muda nan tampan melangkah jumawa. Busana yang ia kenakan merupakan kemeja lengan panjang dengan deretan kancing di posisi tengah. Potongan pakaian lurus panjang tanpa saku, mirip dengan jubah yang dijahit ketat. Pada bagian leher, ujung lengan, serta ujung baju bagian depan dihiasi dengan corak bunga padi nan keemasan.

Sorot matanya menatap lurus jauh ke hadapan dengan kelopak mata menggantung, yang menyiratkan rasa jenuh nan tiada terbendung. Kendatipun demikian, dagunya mengangkat tinggi layaknya bangsawan kebanyakan. Dari gerak-geriknya, tak sedikitpun ia mengabaikan segenap khalayak yang dipaksa membuka jalan atau pun yang berupaya mencuri-curi pandang. Meski bukan merupakan seorang bangsawan berdasarkan garis lahir, ia adalah putra semata wayang salah satu penguasa kota tambang terkemuka. Oleh karena itu, di dalam wilayah kota tersebut, sosoknya menyandang predikat yang sangat dihormati. Selayaknya putra diraja yang menguasai wilayah, maka keberadaan dirinya sangatlah disanjung tinggi.

Aksi saling dorong terjadi di antara khalayak ramai. Mereka yang ingin segera menyingkir dan beberapa yang tak hendak kehilangan kesempatan menyaksikan tokoh nan mulia melintas, saling bertabrakan. Saat dorong mendorong berlangsung, seorang perempuan tua kehilangan keseimbangan dan terjatuh di kaki Tuan Muda Lolak.

“Brak!” 

Belum sempat bangkit, tubuh renta perempuan tua terlempar jauh. Ia menghantam meja pada salah satu gerai di sisi jalan. Kepalanya terhantuk dan darah bercucuran deras. Di saat itu pula sang perempuan tua nan malang meregang nyawa! 

Sorot mata khalayak lalu beralih pada seorang lelaki dewasa yang melangkah di belakang sang junjungan. Sebagaimana tokoh terkemuka dan penting, Tuan Muda Lolak memiliki pelindung nan digdaya. Berada pada Kasta Emas Tingkat 7, sosok tersebut berperan sebagai pengawal pribadi sekaligus algojo. Barang siapa yang sedikit saja menyentuh sang tuan muda, maka hukuman mati dijatuhkan di saat itu dan di tempat itu juga. Walau tanpa disengaja, si perempuan tua pantas menjemput ajal ketika ia lalai dan terjatuh menyentuh sang tuan muda. 

Tuan Muda Lolak melanjutkan langkah dengan tenang, seolah tiada kejadian yang berarti. Malangnya, demikian pula dengan tanggapan khalayak yang menyaksikan tindakan keji sang pengawal. Tiada satu khalayak yang peduli terhadap nasib si perempuan tua, bahkan sepertinya beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh si pengawal sudah lumrah adanya. Suruh siapa terjatuh di kaki Tuan Muda Lolak…? Demikian adalah nasib yang pantas diterima nenek tua nan uzur!

“Tuan Muda! Tuan Muda Lolak!” Tetiba, dari arah belakang, seorang pemuda berlari ke arah rombongan Tuan Muda Lolak. Napas terengah, sekujur tubuh bermandi keringat.

Si pengawal Kasta Emas menoleh pelan dan memastikan bahwa pemuda tersebut merupakan salah satu pejabat kota. Sementara itu, Tuan Muda Lolak masih terus melangkah seolah tiada kata-kata panggilan tiada mencapai telinganya.

“Yang Terhormat Tuan Muda...” Pemuda tersebut melewati pengawal lalu bersimpuh sujud. Sepertinya, ia membawa laporan yang teramat darurat. 

“Ya…?” Nada suara Tuan Muda Lolak demikian halus lagi lembut. Sejumlah gadis belia yang sempat mendengar suara tokoh nan mulia tersebut seolah meleleh di tempat. 

“Yang Terhormat Tuan Muda,” si pejabat muda memberi laporan. “Rombongan saudagar yang pagi ini membeli hasil tambang dari kita… diserang orang tak dikenal…”

Tuan Muda Lolak menghentikan langkah, lantas memutar tubuh. Kendatipun demikian, raut wajahnya terlihat datar. 

“Seluruh anggota rombongan saudagar itu meregang nyawa!” lanjut si pembawa pesan.

“Bukankah terdapat satu Ahli Kasta Emas dan Dua Ahli Kasta Perak yang mengawal mereka…?” 

“Ahli Kasta Emas yang bersama mereka meregang nyawa dalam pertarungan. Seluruh anggota rombongan mati dalam keadaan yang mengenaskan. Tanda-tanda penyebab kematian menunjukkan bahwa seluruh darah di tubuh mereka dikuras sampai kering…” 

“Pawang binatang siluman…?” Ahli Kasta Emas di belakang menimpali. “Bagaimana dengan Sepasang Pendekar dari Celah Kledung...?”

Si pembawa pesan seperti baru mengingat akan sesuatu yang teramat penting. “Di antara anggota rombongan yang meregang nyawa, tiada satu pun yang menyerupai ciri-ciri Sepasang Pendekar dari Celah Kledung.”

Pengawal Kasta Emas menyipitkan mata. Benaknya berkelana menelusuri kemungkinan yang ada. 

“Mungkinkah pelakunya merupakan Sepasang Pendekar dari Celah Kledung...?” Pembawa pesan menebak arah berpikir sang pengawal.

“Bagaimana dengan hasil tambang bawaan mereka...?” Terdengar suara nan halus-lembut menyela.

“Yang Terhormat Tuan Muda… tak satu pun hasil tambang maupun lembu yang disentuh… Jumlahnya pun masih sama dengan ketika rombongan tersebut meninggalkan kota di pagi hari tadi.”

“Hm…?” Sungguh janggal, batin si tuan muda. Bagaimana mungkin pengawal dan anggota rombongan meregang nyawa, namun pelakunya tiada membawa pergi hasil tambang. Perampok budiman sekalipun pasti akan menjarah hasil tambang yang tersedia. 

“Segera telusuri keberadaan Sepasang Pendekar dari Celah Kledung,” perintah sang pengawal kepada si pembawa pesan. “Jika bukan pelaku, maka mereka adalah saksi kunci.”

Si pembawa pesan bangkit lantas memutar tubuh. 

“Bawa kembali hasil tambang dan tempatkan di gudang,” sela Tuan Muda Lolak menghentikan langkah si pembawa pesan. 

Raut wajah si pembawa pesan terlihat bingung. Dirinya adalah salah satu pejabat kota tambang yang terlibat langsung dalam kegiatan jual-beli pagi tadi. Hasil tambang telah dibayar lunas oleh para saudagar, sehingga kepemilikannya pun telah berpindah tangan, atau kini menjadi hak milik ahli waris keluarga saudagar yang membeli. Dengan kata lain, perintah Tuan Muda Lolak menempatkan hasil tambang yang telah dijual ke dalam gudang, berarti mengambil kembali hasil tambang tersebut. Jual-beli yang telah berlangsung dianggap tiada pernah terjadi. “Apakah kita akan mengembalikan keping-keping emas kepada para saudagar...?” 

“Maksudmu...?” Dahi Tuan Muda Lolak berkedut. Sungguh ia penasaran pada pertanyaan pejabat di hadapan. 

Di lain sisi, si pejabat cukup terampil menangkap pesan yang tersirat dari kata-kata sang tuan muda. Sudut matanya pun menangkap gerakan tak lazim dari pengawal Kasta Emas. Suara bergetar, lantas ia menjawab gugup... “Mohon maaf atas kelancangan hamba, wahai Tuan Muda Lolak. Hamba akan segera melaksanakan perintah.

Tuan Muda Lolak tersenyum puas, dan memutar tubuh. “Kita kembali ke istana,” ujarnya dengan suara cukup keras agar dapat di dengar oleh dua tukang pukul di hadapan, si pembawa payung, serta pengawal pribadi Kasta Emas. Mereka pun segera meninggalkan wilayah pasar nan ramai. 

Jalan setapak menuju gerbang istana utama di kota tambang jarang dilalui oleh khalayak. Tak ada lagi aksi dorong oleh kedua tukang pukul karena sejumlah orang yang sedang melintas spontan menyingkir ke sisi tanpa harus diberi perintah. Sungguh penampilan otot-otot terbukti sangkul dalam mengintimidasi. 

Tetiba, sang tuan muda itu menghentikan langkah. Dilabarbelakangi sang mentari yang mulai condong ke arah barat, ia mendongak lalu memasang raut wajah nan demikian penasaran. “Siapakah gerangan yang lancang terbang di atas kepalaku…?”

Menyadari kata-kata sang tuan muda, si pengawal pribadi yang merangkap sebagai algojo sigap menebar mata hati jauh tinggi ke atas. Dengan sekali hentak tenaga dalam, seekor binatang siluman yang sedang mengudara, bersamaan dengan penunggangnya ditarik paksa ke permukaan tanah!

“Brak!” Seorang anak remaja yang mengenakan jubah serba hitam mendarat keras di tanah. Raut wajahnya nan pucat terlihat teramat kesal karena dipaksa turun secara tiba-tiba. Bahkan, akibat pendaratan tersebut, cedera yang diderita akibat pertempuran sebelumnya terasa berdenyut nyeri.  

Di lain sisi, beberapa orang khalayak yang kebetulan masih berada di sekitar tempat itu segera menjaga jarak. Walau, tak satu pun dari mereka yang menyingkir terlalu jauh, karena sepenuhnya menyadari bahwa sebuah tontonan menarik akan tersaji secara cuma-cuma. 

 “Apakah dia merupakan warga kota…?” Lelaki dewasa muda berjuluk Tuan Muda berujar kepada dua tukang pukul di hadapan. 

“Bukan, Yang Mulia. Baru kali ini diriku melihat tikus ini.” Salah satu dari mereka yang bertubuh kekar menjawab cepat. 

“Oh…” Tuan Muda Lolak terlihat sedikit kecewa. “Berikan pelajaran yang setimpal, tapi tak perlu sampai mencabut nyawanya.” Ia menyilangkan kedua lengan di depan dada, berharap hari ini ada hiburan yang dapat mengusir kejemuan. 

Kum Kecho menatap tajam ke hadapan. Setelah sebelumnya menjagal pengawal Kasta Emas, ia memuaskan dahaga Seribu Nyamuk Buru Tempur dengan menghabisi seluruh anggota rombongan saudagar. Akan tetapi, dua ahli Kasta Perak yang berjuluk Sepasang Pendekar dari Celah Kledung terlepas dari pengawasan Melati Dara. Oleh sebab itu, dirinya terpaksa bergerak mencari jejak pasangan suami-istri tersebut seorang diri, karena keempat gadis belia perlu beristirahat memulihkan tubuh. 

Di hadapan, lelaki dewasa Kasta Emas pengawal Tuan Muda Lolak menyipitkan mata. Dari tunggangan binatang siluman kecapung, ia dapat menyimpulkan jati diri anak remaja tersebut sebagai seorang pawang binatang siluman. Sungguh sebuah kebetulan, pikirnya mengaitkan dengan kejadian rombongan saudagar hasil tambang yang disergap namun tak dijarah. 

Dua ahli Kasta Perak nan berorot kekar saling pandang. Akhirnya, salah seorang melangkah garang. Sesuai perintah, maka ia akan menghajar setengah mati anak remaja yang lancang terbang di atas kepala Tuan Muda Lolak. Walau, saat ini ia sedang berpikir keras agar jangan sampai berlebihan dan membunuh sasaran, sesuai perintah yang diberikan. 

Kum Kecho, di lain pihak, sepenuhnya menyadari bahwa ia berada dalam situasi yang sulit. Jika hanya berhadapan dengan dua ahli Kasta Perak, maka kesempatan meraih kemenangan masih terbuka lebar. Akan tetapi, saat ini ada satu lagi ahli Kasta Perak yaitu tokoh yang memberi perintah dan sepertinya merupakan pimpinan sekaligus biang kerok. Tambahan lagi, dan ini yang terpenting, seorang ahli Kasta Emas yang dari selintas pandang saja dapat ditebak berada pada tingkatan yang lebih tinggi dari ahli Kasta Emas sebelumnya. 

Kum Kecho dengan sigap melompat mundur, menghindar dari tebasan lengan kekar berotot. Bahkan, lompatan mundurnya terlihat terlampau jauh karena memang anak remaja itu sudah memutuskan untuk menghindar dari pertempuran kali ini. 

“Swush!” 

Tendangan sapuan mengubah arah mundur Kum Kecho. Dari sudut mati, datangnya serangan secara tiba-tiba dari tukang pukul Kasta Perak yang seorang lagi. Jelas sekali bahwa keduanya sudah sangat terbiasa bekerja sama membatasi gerak sasaran. Selanjutnya, Kum Kecho dipaksa menyilangkan lengan di depan dada, menahan tendangan menohok yang mendarat keras. Posisi tubuhnya kembali ke tempat di mana ia mendarat tadi. 

“Oh...” Kedua bola mata Tuan Muda Lolak berbinar. “Lumayan... lumayan...” Ia kini terlihat bersemangat. Demikian pula dengan khalayak, yang mulai berkerumun menonton.

Gempuran demi gempuran datang dari dua sisi. Meskipun demikian, Kum Kecho tiada mengeluarkan seekor pun binatang siluman serangga. Ia menyadari bahwasanya berita tentang kematian rombongan saudagar bahan dasar logam kemungkinan besar telah sampai di kota ini. Pencarian pastinya dilakukan dalam upaya menelusuri keberadaan pelaku ahli Kasta Emas serta pawang binatang siluman. 

“Mengapa kalian menyerang tanpa alasan!?” Kum Kecho berupaya mengulur waktu. Seharusnya ia berkaca, karena baru saja melakukan tindakan serupa. “Tiada permusuhan di antara kita!”

“Oh, tikus kecil itu bisa berkata-kata!” Tuan Muda Lolak seolah terperanjat. “Ayo, serang… Serang lagi!” ujarnya kegirangan sembari bertepuk tangan. 

Gempuran datang bertubi. Walaupun bergerak gesit, Kum Kecho semakin terdesak. Jikalau hendak bertahan hidup maka ia terpaksa menahan diri untuk tak menunjukkan kemampuan sesungguhnya. Ibarat samsak yang tak membalas, sejumlah pukulan pun mendarat di tubuh, menambah rasa nyeri yang didapat dari pertarungan sebelumnya. 

“Yaaahhh… Tak ada perlawanan…” Kekecewaan menghinggapi sang tuan muda. 

“Huuuu...” Khalayak yang berkerumun, lebih dari dua puluh jumlah mereka, pun mengungkapkan ketidakpuasan atas pertarungan yang berlangsung. 

“Sudahlah…” Tuan Muda Lolak kembali merasa bosan, “habisi saja dia!” 

Kum Kecho menoleh lirih ke arah si tuan muda dan warga kota. Kesabarannya mulai terkikis karena merasa direndahkan sampai sedemikian rupa. Di saat yang bersamaan, dua tukang pukul nan berorot kekar merangsek maju. Serangan mereka kini mengincar titik-titik vital. Kum Kecho semakin terdesak, namun masih tetap menahan diri. Dari gelagatnya, anak remaja tersebut terkesan sedang menantikan sebuah kesempatan. 

“Buk!” 

Sebuah pukulan tinju menghantam keras. Namun demikian, Kum Kecho memanfaatkan kekuatan pukulan tersebut untuk melontarkan diri ke balik sebatang pohon besar yang berada cukup jauh dari para penonton...

“Hm... Apakah dia bersembunyi...?” Tuan Muda Lolak berujar karena tubuh anak remaja tersebut tak kunjung muncul dari balik batang pohon. 

Pengawal Kasta Emas segera menyadari akan kejanggalan. Dalam satu kedipan mata, tubuhnya tiba di balik pohon, hanya untuk mendapati bahwa sebuah lorong dimensi ruang telah menutup...

Napas terengah dan tubuh dipenuhi nyeri, Kum Kecho melompat keluar dari lorong dimensi ruang yang dirapal oleh senjata pusaka tiang mbis bertingkat tiga. Walaupun mencari jejak Sepasang Pendekar dari Celah Kledung seorang diri, ia tetap waspada dengan memerintahkan Hongke Riro untuk mengikuti dari kejauhan. Demikian, ia menciptakan sarana melarikan diri kalau-kalau nantinya berada dalam bahaya. Sebuah upaya pencegahan yang terbukti dapat menyelamatkan jiwa. 

“Aku akan membalas penghinaan ini!” gumam Kum Kecho penuh amarah. “Satu pekan dari hari ini, kita akan menghancurkan sebuah kota!”


===


“Brak!” seorang lelaki dewasa berkepala gundul dan bertubuh tambun menghentakkan telapak tangan ke permukaan meja, yang mana segera berubah menjadi remah-remah debu. “Apa kau bilang!?”

“Tuan,” pemuda kurus kerempeng terlihat resah, “tenggat waktu pembuatan senjata pesanan akan mundur sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan...”

“Kau tak becus! Sudah kukatakan bahwa kita memiliki tenggat waktu pengiriman!” 

“Tuan, sungguh bukanlah kelalaian hamba. Terjadi sesuatu yang berada di luar perkiraan...”

“Jangan berkilah! Kau akan membuat aku rugi besar!” Sang Saudagar Senjata semakin berang. 

“Rekanan pemasok bahan baku logam diserang perampok di Pulau Logam Utara... Seluruh anggota rombongan dibantai.”

“Cih! Berapa banyak bahan baku yang hilang!?” 

“Tiada satu pun...” 

“Jadi, masalahnya di mana!? Bila bahan baku telah dibeli dan tak dibawa perampok, maka engkau tinggal mengupah kurir pengiriman!” 

“Khabar berita yang hamba terima masih simpang-siur. Akan tetapi, kemungkinan besar bahan baku logam saat ini disita oleh penguasa Kota Tambang Lolak...”

“Bangsat!” Malin Kumbang melangkah pergi dengan hati geram. Sebagai saudagar besar, bukan kali pertama ia berurusan dengan pihak-pihak yang berlaku culas. Pernah ada kejadian di mana sebuah kota tambang merampok sendiri bahan baku logam yang telah mereka jual. Pernah pula ada rekanan yang mendapat penawaran lebih tinggi di tengah jalan, sehingga berpura-pura dirampok padahal menjual barang dagangannya ke pihak lain. Kini, Kota Tambang Lolak menyita bahan baku yang sudah dibayar lunas! Apakah dunia telah kehilangan orang-orang jujur!? 

“Tuan hendak ke mana...?” Pemuda kurus kerempeng semakin gusar. 

“Ini adalah penghinaan!” sergah Saudagar Senjata Malin Kumbang masih dibalut amarah. “Aku sendiri yang akan menyelesaikan masalah ini. Jangan diam saja, segera lakukan persiapan untuk bertolak ke Pulau Logam Utara!”