Episode 347 - Sasaran Utama


Pada bentangan luas hutan rimba, terdapat lingkaran-lingkaran wilayah nan tandus. Terlihat jelas ibarat bintik-bintik bulat pada permukaan kulit macan tutul. Pada bagian tengah, kepulan-kepulan asap hitam membumbung tinggi ke angkasa raya. Bila dicermati lebih teliti, maka asap berasal dari balik tembok nan tinggi lagi kokoh. Tembok-tembok tersebut sesungguhnya melingkupi sebuah kota, yang sebenarnya lebih pantas disebut sebagai benteng pertahanan. 

Disaksikan dari atas perbukitan, maka kota-kota di balik tembok yang dihiasi kepulan asap, tak hanya terdiri satu. Terpisah jarak oleh lebatnya hutan, ratusan kota nan dikelilingi wilayah tandus terlihat menyebar banyak. Pemandangan yang sedemikian adalah ciri khas dari kota-kota tambang di Pulau Logam Utara. Sebutan salah satu Pulau Utama di Negeri Dua Samudera ini pun merupakan cerminan akan kekayaan mineral. Mineral logam yang terkubur di sekujur pulau tiada terhingga, mulai dari tembaga, emas dan perak, sampai bijih besi. 

Banyak senjata pusaka yang memiliki bahan dasar logam bermutu ditambang dari Pulau Logam Utara. 

Kota-kota tambang tumbuh bak jamur di musim penghujan, yang menghidupi baik para ahli maupun manusia kebanyakan. Berbeda dengan Pulau Jumawa Selatan yang banyak menampung kerajaan-kerajaan kecil, di Pulau Logam Utara adalah kota-kota tambang bersifat mandiri dan memegang kendali pemerintahan. Setiap kota memiliki wewenang tersendiri atas tambang yang mereka kelola, dan secara ekonomi tumbuh makmur karena perdagangan bahan tambang pula. 

Di salah satu jalanan lebar yang memisahkan antar kota-kota tambang, lima ahli menanti dalam hening. Seorang gadis belia yang perperan sebagai pengintai bergelayutan pada ayunan di dahan pohon tinggi. Di sisi bawah pohon, gadis belia lain dengan ukuran tubuh tinggi besar bersiaga dan sangat waspada. Di seberang jalan, bersembunyi di balik bayang-bayang lebat semak belukar, dua lagi gadis belia yang hampir tiada terlihat keberadaan mereka. Terakhir, seorang anak remaja lelaki melayang di atas pundak binatang siluman di langit tinggi. 

Sang mentari menggantung tepat di atas kepala, menyebabkan hawa panas dan kering menyengat kulit. Tak lama waktu berselang, sebuah iring-iringan lembu melintas ramai. Sekira sepuluh ekor jumlah lembu, yang mana setiap satunya menarik pedati besar dengan beban hasil tambang nan langka dan tentunya berharga jual tinggi. Mereka ini merupakan salah satu rombongan para saudagar bahan tambang yang kerap membawa hasil bumi dari Pulau Logam Utara ke pulau-pulau lain melalui jalur darat, sebelum berlayar melintasi lautan. 

“Satu ahli Kasta Emas dan tiga ahli Kasta Perak…,” gadis belia yang sedang berayun di atas pohon tinggi menyampaikan pesan melalui jalinan mata hati. “Sisanya hanya manusia biasa…” 

Melihat jumlah anggota rombongan, yaitu saudagar, pelayan, lembu beserta pedati bahan tambang, dan para pengawalnya, maka dapat dipastikan bahwa rombongan yang melintas kali ini berukuran sedang. Kemampuan mengupah satu ahli Kasta Emas dan tiga ahli Kasta Perak sebagai pengawal, menunjukkan bahwa keseluruhan hasil tambang yang dibawa memiliki nilai cukup tinggi. 

“Tap!” Tetiba seorang anak remaja yang mengenakan jubah serba hitam mendarat tepat di tengah jalan. Lembu-lembu melenguh keras tatkala tali kekang yang menusuk hidung mereka ditarik secara mendadak. 

“Bocah!” Di antara anggota rombongan, seorang lelaki dewasa yang berada pada Kasta Perak berdiri, lalu menyergah dari atas lembu. Ia menyipitkan mata sembari menebar mata hati. Aksi perampokan hasil tambang bukanlah kejadian langka, namun di sekitar jalan sepi itu hanya dapat dirasa keberadaan lima ahli Kasta Perak. Bukanlah sebuah ancaman yang berarti. 

“Menyingkirlah atau mati dilindas!” lanjut lelaki dewasa itu. 

“Serahkan barang-barang kalian!” tanggap dingin anak remaja lelaki yang menghadang.

“Haha…” Lelaki dewasa di atas lembu tiada dapat menahan gelak tawa. Ia lantas hendak mengejek… 

“Swush!” Tetiba, dari salah satu pohon tepat di samping iring-iringan, jalinan rambut berkelebat cepat. Berwarna seputih salju, helai-helai rambut serta-merta melilit dan membungkus tubuh sasaran, lantas menarik paksa lelaki dewasa nan lengah jatuh dari pundak lembu. Tubuh nan terbungkus diseret ke arah pohon rimbun, demikian menunjukkan bahwa jurus Dayang Kuntum, Bentuk Kedua: Bunga Kembang Berbalik sedang dirapal. 

“Godam Gajah!” seru seorang gadis belia bertubuh bongsor. 

Di bawah pohon, terlihat pantulan menyilaukan dari sebentuk logam raksasa yang sangat mengkilap karena dipoles sampai sedemikian rupa. Besarnya mirip anak lembu, berwujud tabung bundar dengan sisi tumpul di depan dan belakang, serta disangga oleh tangkai dari batang tumbuhan siluman Ulin Aswad yang berusia tua dari Pulau Belantara Pusat.

Hanya dalam satu kedipan mata, kemudian terdengar suara berdentam keras. Tubuh lelaki dewasa yang sedang terbungkus jalinan rambut terhenyak di tanah, sedangkan gadis belia bertubuh bongsor kembali mengangkat tinggi senjata pusakanya di atas kepala. Beberapa hantaman menghujam lagi, terdengar membahana sembari diselingi pula dengan suara remuk tulang. 

Menyaksikan aksi yang demikian kejam, kepanikan menjalar cepat di rombongan saudagar bahan tambang. Mereka yang hanya manusia biasa terlihat pasrah, para lembu melenguh resah. 

Dua alis anak remaja lelaki di tengah jalan bertemu. Senjata pusaka milik Seruni Bahadur yang dipersiapkan oleh Rahampu’u, siluman sempurna yang merupakan pandai besi termahsyur, telah selesai ditempa. Akan tetapi, penyebutannya membuat Kum Kecho tiada merasa nyaman, karena mengingatkan kepada nama seorang tokoh nan teramat dibenci. 

“Bangsat!” Seorang lelaki beserta seorang perempuan dewasa, kemungkinan besar sepasang suami dan istri bergerak secara bersamaan. Dari penampilan, keduanya kemungkinan besar merupakan sepasang pendekar Kasta Perak rendahan yang mencari nafkah sebagai pengawal rombongan saudagar.

Akan tetapi, tepat sebelum sepasang pendekar mencapai Melati Dara dan Seruni Bahadur yang baru selesai membungkam lawan nan tiada berdaya, sebuah pilar kayu nan bertingkat tiga mengemuka. Hadir di antara mereka, salah satu ukiran pada permukaan pilar membuka lorong dimensi ruang, menghadirkan dua gadis belia lain. Salah satunya sigap memasang tirai dari unsur kesaktian gelombang suara guna menghentikan langkah maju, sedangkan satunya lagi memerintahkan ukiran lain pada pilar untuk menyemburkan api. Dahlia Tembang dan Hongke Riro tiba!

Tanggap, pasangan pendekar melompat mundur secara bersama-sama. Di hadapan mereka, telah hadir empat gadis belia yang kesemuanya berada pada Kasta Perak tingkat menengah. Keempatnya berpakaian serba hitam dengan model yang berbeda-beda, lantas berpose genit layaknya satu kelompok penyanyi tersohor yang digandrungi kalangan muda-mudi. Sebagai tambahan, terdapat hiasan merah muda sebagai pemanis pada masing-masing pakaian gadis belia. Oleh karena itu, tak salah bila keempatnya dinamai sebagai… kelompok ‘hitam kemerahmudaan’.

Kum Kecho sontak membuang wajah. Rupanya terlampau lama ia berkelana seorang diri dan meninggalkan keempat gadis belia tanpa asuhan dan arahan. Kini, masing-masing dari mereka tak hanya memiliki pakaian serba hitam yang khas, melainkan pula dapat berpose demikian menyilaukan. 

“Ehem…” Suara berdehem disertai dengan tekanan tenaga dalam yang melingkupi segenap wilayah. Seorang lelaki setengah baya yang berada pada Kasta Emas, yang mana sedari tadi hanya diam mengamati, mulai tergelitik. Segenap perhatian kini terpusat pada tokoh tersebut. Anggota rombongan saudagar terkesima, dan merasa bahwa ancaman dari para remaja pencegat seolah main-main belaka. 

“Jikalau kalian bertekuk lutut saat ini juga, maka aku berkenan memberi ganjaran yang ringan,” lanjutnya ahli Kasta Emas dengan wibawa yang sangat memukau. Di saat yang bersamaan, ia terlihat melayang perlahan mendatangi anak remaja lelaki yang mengenakan Jubah Hitam Kelam. 

Sudut bibir Kum Kecho menyunggingkan senyuman. Tanpa aba-aba, dua gadis belia serempak melompat dan mengapit junjungan mereka. Dengan kata lain, sang Tuan Guru berpandangan bahwa Melati Dara dan Hongke Riro tak jauh di sana mampu menghadapi sepasang pendekar suami-istri Kasta Perak. Sedangkan dirinya yang didampingi oleh daya bertahan Dahlia Tembang serta kekuatan menyerang Seruni Bahadur, akan membungkam ahli Kasta Emas di hadapan. 

Dari raut wajahnya, terpampang jelas bahwa sejak awal sasaran utama Kum Kecho dan kelompok hitam kemerahmudaan adalah ahli Kasta Emas tersebut. 


===


Deru angin menerpa wajah dan mengibas rambut tatkala seorang anak remaja melesat terbang menuruni Gunung Istana Dewa dengan menunggangi binatang siluman Elang Laut Dada Merah. Hawa panas tiada lagi terasa meskipun dampak ramuan Tolak Bahang berangsur pudar. 

Sepanjang perjalanan, Bintang Tenggara hanya diam mendengar gerutu Ginseng Perkasa. Menurut rekam jejak sejarah panjang Negeri Dua Samudera, sang Maha Maha Tabib Surgawi termahsyur sebagai peramu agung. Akan tetapi, siapa yang menyangka bahwa tokoh tersebut memiliki pesaing, yang tak lain merupakan Wisanggeni, si Raja Angkara Durjasa. 

“Cih! Belagu!” gerutu Ginseng Perkasa tiada akhir. “Tak sekalipun pernah dia mencapai taraf kemanjuran ramuan di angka 99%!”

Atas kenyataan ini, Bintang Tenggara hanya mampu menghela napas panjang. Tak diragukan bahwa sebagai peramu, Wisanggeni memiliki kemampuan menakar taraf kemanjuran ramuan. Tokoh tersebut tentunya menyadari bahwa ramuan Tolak Bahang yang dibalur di sekujur tubuh dan pakaian memiliki taraf kemanjuran teramat tinggi. Dengan kata lain, Wisanggeni menyadari adalah Ginseng Perkasa yang meramu dengan taraf kemanjuran yang berada di angka 99% itu. Walau, kecil kemungkinan bagi Wisanggeni menyadari bahwa jiwa dan kesadaran Ginseng Perkasa mengikuti anak remaja itu. 

“Hanya karena mampu membaur unsur kesaktian dengan ramuan racun, dia berlagak sebagai yang terbaik! Besar kepala!” 

“Maksud Kakek Gin…? Unsur kesaktian racun api merupakan ciptaan…?”

“Api beracun, bukan racun api!” tegas Ginseng Perkasa. 

Apakah ada perbedaannya? batin Bintang Tenggara. Meski demikian, ia tetap menanggapi Ginseng Perkasa karena ingin mengetahui lebih jauh tentang salah satu Raja Angkara. Pengetahuan yang memadai selalu berguna dalam mengarungi dunia keahlian. “Apakah api beracun itu…? Dari manakah asalnya…?”

“Wisanggeni merupakan siluman sempurna yang memiliki unsur kesaktian api. Di saat yang sama, ia juga merupakan peramu kelas teri. Karena peruntungan nasib, ia dapat membaur unsur kesaktian api dengan ramuan racun.” Ginseng Perkasa berhenti sejenak. “Kelas teri, kataku!”

“Jadi, sebagaimana menggabungkan jurus persilatan dengan jurus kesaktian menjadi bauran jurus, maka menyatukan unsur kesaktian dengan keterampilan khusus adalah memungkinkan…?”

“Ke mana saja dikau selama ini, Nak Bintang!?” Perasaan hati Ginseng Perkasa masih panas adanya. “Di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, bukankah dikau menyaksikan Balaputera Sukma membaur keterampilan khusus sebagai perapal dengan unsur kesaktian…?”

Bintang Tenggara segera mengingat Segel Darah Syailendra: Sangkar Svarnadwipa, yang dikerahkan oleh Nenek Sukma dalam upaya mengurung Balaputera Tarukma. Pemandangan yang tersaji demikian menakjubkan karena susunan formasi segel terdiri dari simbol-simbol yang dilapisi kobaran api. Sungguh dunia keahlian demikian luas ibarat bentangan samudera yang tanpa batas.

“Wisanggeni menentukan jalan keahliannya sendiri. Ia tak puas terlahir sebagai ahli yang memiliki unsur kesaktian api dan sebagai ahli yang memiliki keterampilan khusus sebagai peramu.” Kini, terbersit sebercak kekaguman dari nada suara sang Maha Maha Tabib Surgawi. “Oleh sebab itu, ia membangun jalan keahliannya sendiri…” 

“Membangun jalan keahlian sendiri…,” ulang Bintang Tenggara. Ia lantas mengingat tentang Akar Bahar Laksamana yang melilit dan hidup sebagai benalu di mustika tenaga dalamnya. Berbekal tumbuhan siluman itu, suatu waktu di masa lalu Laksamana Hang Tuah pun membangun jalan keahlian sendiri. 

“Cih! Diriku memiliki dua keterampilan khusus sekaligus! Tak pernah pula sombong…” Nada suara Ginseng Perkasa berubah lagi.

Bintang Tenggara mencapai kesimpulan sederhana. Wisanggeni memiliki unsur kesaktian api sekaligus keterampilan khusus sebagai peramu, sedangkan Ginseng Perkasa memiliki dua keterampilan khusus sebagai peramu dan sebagai tabib secara bersamaan. Wisanggeni membaur unsur kesaktian api dengan ramuan racun, sementara Ginseng Perkasa mampu meramu sampai kepada taraf kemanjuran 99%. Dengan demikian, baik Wisanggeni maupun Ginseng Perkasa memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menilik dari sudut pandang ini, seharusnya Ginseng Perkasa tak perlu merasa tersaingi apalagi sampai terbawa emosi.

“Jadi…,” tetiba Bintang Tenggara tiba pada satu kesimpulan lain. “Yang sedang Wisanggeni lakukan di kawah berapi Gunung Istana Dewa adalah meramu… Bahwa benda persegi di hadapannya tak lain merupakan lesung batu, dan asap pekat yang keluar adalah bagian dari kegiatan meramu…”

Ginseng Perkasa tercekat. Alis, kumis dan janggut serba putih dan lebat dari bayangan tokoh tua bertongkat itu seolah berdiri mirip landak. Sepasang bibir tebalnya terbuka lebar…

“Buahahaha…” Sontak Ginseng Perkasa tertawa terbahak-bahak. Sepertinya ia baru menyadari akan sesuatu… “Sesungguhnya api beracun milik peramu kelas teri itu tiada bersifat tetap. Dari waktu ke waktu, dia perlu membaur ramuan racun dengan unsur kesaktian api!”

Bintang Tenggara menyimak. 

“Di kawah berapi dia memang sedang meramu, sembari membaur. Itulah alasan mengapa tubuhnya hanya mampu duduk bersila di hadapan lesung batu. Pergerakan yang tak perlu akan menggagalkan upayanya! Hahaha… Kalau saja dia dapat meramu sampai ke taraf kemanjuran 99%, maka api beracunnya akan bersifat tetap sehingga tak perlu diperbaharui secara berkala… Sayang sekali, Wisanggeni memang kurang berbakat. Buahaha…”

“Jadi, racun dalam api miliknya memiliki jenis dan sifat yang tak tetap pula….” 

“Benar sekali!” tanggap Ginseng Perkasa penuh semangat. “Diriku merasakan aroma belerang yang kental pada kandungan asap yang keluar dari lesung batu. Oleh sebab itu, besar kemungkinan bahwa jenis api beracun miliknya nanti memiliki sifat racun kulat! (1). 

“Racun kulat…”

“Buahaha… kita dapat meramu penangkal racun kulat dengan sangat mudah! Bersiaplah wahai dikau peramu kelas teri!” teriak Ginseng Perkasa membahana.

Mencermati ocehan dan emosi Ginseng Perkasa yang berubah-ubah, membuat waktu perjalanan berlalu tanpa terasa. Elang Laut Dada Merah sebentar lagi memasuki wilayah Kota Sanggar, salah satu dari empat kota Perguruan Gunung Agung yang mengelilingi Gunung Istana Dewa. 

Setibanya di Kota Sanggar, Bintang Tenggara tak membuang-buang waktu. Ia bergerak gesit karena sasaran utama telah ditetapkan. Anak remaja itu sudah menemukan cara yang paling tepat dalam upaya memperoleh rekomendasi terakhir dari seorang Maha Guru….


 

Catatan:

(1) kulat/ku·lat/ n cendawan; jamur. Racun kulat juga dikenal sebagai fungisida. Fungisida selektif ada yang memiliki bahan dasar yang berasal dari senyawa belerang (sulfur).