Episode 94 - Kyai Surakarna



Kyai Surakarna hanya bisa menghela nafas berat sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, tak henti-hentinya ia membaca istighfar didalam hatinya tatkala mendapati sikap para warga desa yang membiarkan dua jenasah warga desa yang tidak mau mereka urus secara layak. 

“Kyai, apa yang harus kita lakukan?” tanya salah satu muridnya sambil memandangi kedua jenasah yang ada disana dengan tatapan iba. 

“Tentu saja kita harus mengurus jenasah mereka! Apalagi kita tahu, almarhum Mang Dudung sudah resmi memeluk Islam dengan mengucapkan kalimat Syahadat, meskipun belum sempurna ibadahnya.” tegas Kyai Surakarna namun tetap dengan suara lembut. 

“Lalu bagaimana dengan jenasah Kang Diran? Seperti yang kita ketahui, dia belum memeluk Islam Kyai.” tanya muridnya yang lain sambil menunjuk mayat yang tergeletak diatas tanah dengan sekujur tubuh hangus menghitam. 

Kyai Surakarna tersenyum lembut sembari menepuk bahu muridnya yang bertanya. “Ini juga akan menjadi pelajaran bagi kalian. Dalam keadaan seperti ini kita tetap wajib mengurus jenasah siapa saja apabila tidak ada yang mau mengurus mereka, meskipun mereka berbeda keyakinan dengan kita! Kita akan tetap mengurus jenasah Kang Diran secara layak!” jelas Kyai Surakarna. 

“Akan tetapi, bagaimana kalau Ki Dukun dan warga desa marah pada kita karena kita mengurus kedua jenasah ini?” tanya muridnya lain dengan suara yang menyiratkan keraguan. 

Lagi-lagi Kyai Surakarna menjawab dengan tegas namun tetap dengan suara lembut. “Aku yang akan bertanggung jawab! Kita akan jauh lebih berdosa apabila membiarkan keadaan para almarhum seperti ini!” lanjutnya.

“Sekarang, ayo kita angkat jenasah mereka! Kita bersihkan sebelum kita kebumikan!” pinta Sang Kyai sembari ia sendiri pun mulai menurunkan jenasah Mang Dudung yang terpaku di batang pohon. Semua muridnya pun membagi tugas untuk mengurus kedua jenasah tersebut. Sembari mengurus kedua jenasah tersebut, tak henti-hentinya Kyai Surakarna membaca istighfar didalam hatinya sebab ia merasa amat kecewa dengan sikap warga desa yang tak mau mengurus jenasah kedua warga desa mereka tersebut. 

Siang harinya, tepat saat matahari berada diatas ubun-ubun kepala. Para warga desa dengan dipimpin oleh Ki Dukun Tapak Gludug mengadakan upacara penyerahan sesajen di sebuah pohon beringin raksasa yang dianggap keramat didalam hutan larangan dekat desa tersebut.

Tiba-tiba angin yang sangat dingin bertiup kencang dari arah lembah. Menerpa ke hutan rawa dimana pohon beringin tersebut berada, melewati pucuk-pucuk pepohonan disana lalu menghantam pohon beringin raksasa yang menghitam angker dalam kegelapan hutan yang lebat tersebut. Daun-daun pun langsung berguguran menambah seramnya suasanya disana! 

Para penduduk Desa Jati Jajar yang sedang duduk khusyuk sambil membawa berbagai sesajen langsung merasa ketakutan, mereka langsung gelisah namun Ki Dukun Tapak Gluduk langsung menenangkan mereka. “Tenang! Jangan buat Eyang Buta Hejo tambah murka! Kalian tetaplah duduk sambil memuja beliau!”.

Ki Dukun kemudian menoleh lagi kedepan menatap pohon beringin raksasa yang nampak angker itu dengan lekat-lekat, dari dalam saku pakaiannya orang tua itu mengeluarkan sebongkah kemenyan. Benda ini diremasnya hingga menjadi kepingan-kepingan kecil lalu dengan mulut komat kamit membacakan sesuatu, hancuran kemenyan itu ditebarkannya diatas bara yang menyala. Sekejapan saja seantero rimba itu telah tenggelam dalam bau kemenyan hingga suasana ditempat itu menjadi terasa sangat angker.

Ki Dukun lalu bangun dari duduknya, ia mengelilingi pohon raksasa tersebut sambil menyebarkan bubuk kemenyan dan kembang 7 rupa, mulutnya terus berkomat-kamit membaca jampi-jampi. Setelah 3 putaran, ia memerintahkan kepada para warga untuk menaruh kepala kerbau dan menyiramkan darahnya pada pohon raksasa itu kemudian menaruh semua sesajen disekelilingnya.

Setelah selesai, Ki Dukun beserta seluruh penduduk Desa kembali duduk bersila di tempatnya masing-masing, setelah semuanya duduk, Ki Dukun angkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas dan mulutnya menyerukan kalimat demi kalimat. “Eyang Buta Hejo yang Karuhun Alas Kidul, yang mengayomi seluruh mahluk hidup, yang menyuburkan tanah pemberi kehidupan, yang mengucurkan air sumber kehidupan, kami penduduk Desa Jati Jajar, datang membawa salam persahabatan, kami datang untuk menghaturkan sembah serta sesajen untuk Eyang…

Kami memohon agar Eyang sudilah untuk tidak lagi mengganggu rakyat desa kami, jika selama ini ada hal-hal yang tidak berkenaan dan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan, kami mohon maafmu. Kami mohon agar Eyang berkenan kembali memberi dan menjaga kehidupan kami seperti sedia kala…”

Tak jauh dari sana, Kyai Surakarna beserta 3 orang muridnya nampak mengintip perbuatan Ki Dukun beserta para warga desa dari balik pepohonan dengan perasaan sedih. Tak henti-hentinya Sang Kyai mengurut dadanya sambil membaca istighfar melihat perbuatan sesat tersebut. “Astagfirullah Aladzim… Astagfirullah….” desahnya dengan lemas hingga tak terasa air matanya menetes dari sepasang matanya. Ketiga muridnya pun hanya bisa ikut membaca istighfar melihat kejadian itu.

Tiba-tiba angin yang tadinya dingin mencucuk tulang itu berhenti bertiup, berganti dengan angin pengap yang sangat panas serta menebar bau bangkai dan bunga tujuh rupa! Bumi disekitar rimba itu pun bergetar hebat sekali, sehingga membuat semua penduduk yang sedang duduk bertafakur disana menjadi ketakutan, mereka mulai beringsut mundur sambil berdiri dari duduknya. Kyai Surakarna beserta muridnya pun terkejut akan fenomena aneh tersebut, mereka langsung memanjakan doa kepada Tuhannya ntuk memohon keselamatan.

Angin panas berbau bangkai dan kembang 7 rupa itu semakin bertiup kencang sehingga menjadi angin badai, gempa bumi pun semakin keras. Ki Dukun yang tak sanggup meredam fenomena aneh itu pun membuka matanya, dan ia sangat terkejut ketika segala jenis sesajen yang ada di pohon beringin raksasa itu diterbangkan oleh angin, bahkan bangkai kerbau yang beratnya sekitar 600Kg pun dapat diterbangkan oleh angin badai tersebut!

Para penduduk mulai panik dan berlarian meninggalkan tempat itu, Ki Dukun pun mulai panik, ia bersujud-sujur dan berteriak meminta ampun kepada pohon raksasa tersebut. “Ampun Eyang! Ampun! Kami berniat baik! Ampun!”

Tetapi angin ribut tak hentinya bertiup, gempa bumi semakin kencang, malah beberapa sajen itu berterbangan menimpuk kepala Ki Dukun yang sedang bersujud-sujud tersebut. Akhirnya nyali Sang Dukun pun meleleh juga! Ia bangun dan hendak melarikan diri. Namun tiba-tiba terdengarlah satu ledakan dahsyat! Dari pohon raksasa tersebut keluarlah sesosok tubuh berwarna hijau yang tinggi besar, kepalanya bertanduk seperti tanduk banteng, wajahnya sangat buruk dan menyeramkan sekali, matanya merah menyala-nyala bagaikan bola api!

“Kurang ajar! Siapa yang berani mengusik daerah kekuasaanku?!” hardik Mahluk tinggi besar berwarna hijau tersebut.

Ki Dukun beserta seluruh penduduk Desa yang masih berada disana sangat terkejut melihat Yang Karuhun mereka menampakan dirinya sehingga bisa mereka lihat dengan mata telanjang! Begitupula Kyai Surakarna dan ketiga muridnya, mereka sangat terkejut melihat mahluk tersebut menampakan dirinya.

Tiba-tiba suara cuitan burung Sirit Uncuing yang sangat parau menggema di seantero tempat itu, suaranya sangat keras bahkan mengalahkan suara angin ribut yang membadai disana! Aroma bangkai yang disertai aroma tanah kuburan dan kembang 7 rupa pun semakin santar tercium disana!

“Kurang Ajar! Perlihatkan dirimu!” bentak si Buta Hejo yang suaranya menggetarkan seantero tempat itu, kemudian ia melangkah kearah sebuah pohon tua, setiap langkahnya membuat bumi disekitarnya laksana digoyang lindu! Dengan kala psi Buta Hejo memukul pohon tua itu sampai tumbang! Dari atas pucuk pohon tersebut, terbanglah seekor burung Sirit Uncuing yang langsung berubah menjadi Dharmadipa!

“Pangeran Dharmadipa?!” Desis Ki Dukun dengan kaget sekali yang mengenali sosok tersebut.

“Pangeran Dharmadipa?!” seru para penduduk Desa ketika mendengar desisan Ki Dukun melihat sesosok pria berpakaian dan berjubah serba putih, dengan kulit yang pucat pasi bagaikan kapas dan mata merah laksana api membara tersebut.

“Tapi bukankah Pangeran Dharmadipa sudah mati oleh Kanjeng Tumenggung Jaya Laksana?” tanya salah satu penduduk.

“Dungu! Apakah kau dengar kalau negeri Mega Mendung itu hancur lebur oleh Pangeran Dharmadipa yang membalaskan dendamnya kepada seluruh penduduk Mega Mendung?!” sempprot kawannya.

“Bagaspati! Mau apa kau ke wilayah kekuasaanku?!” bentak Buta Hejo.

“Akulah penguasa di Gunung Gede dan Gunung Panggranggo ini! Semua mahluk yang menghalangiku akan kutumpas!” tandas Dharmadipa.

Maka pertarungan antara sesama mahluk ghaib itupun dimulai, langit siang yang tadinya bersinar terik, langsung berubah gelap bagaikan langit malam, angin membadai berseoran menggugurkan dedaunan disana, pohon-pohon bertumbangan, bumi bergetar hebat, lidah api saling menjilat, bola-bola api berterbangan kian kemari, ledakan-ledakan dahsyat terjadi beruntun gegap gempita membuat suasana pertarungan tersebut sangat mengerikan sekali!

Sang Kyai beserta ketiga muridnya menyaksikan pertarungan tersebut dengan takjub bercampur ngeri. “Maaf Guru, mungkin apa yang dikatakan oleh Ki Dukun adalah benar, bahwa merekalah Yang Karuhun di Lereng Gunung Panggranggo ini dan Gunung Gemunung lainnya.” ucap salah 1 muridnya.

“Istighfar muridku! Hatimu mulai goyah… Bukan, mereka itu adalah mahluk biasa seperti kita, sebagaimana ada kerbau dan sapi. Kelihatannya sama, tapi berbeda!” jawab Gurunya

“Tapi Guru, kelihatannya mereka sakti dan lebih hebat dari manusia!” sahut muridnya yang lain.

“Astaghfirullah Aladzim! Istighfar muridku! Eling! Kau keliru muridku, Allah telah menciptakan kita sebagai mahluk yang paling sempurna untuk menjadi Khalifah di muka bumi ini! Penguasa di Bumi! Jadi sangatlah tidak pantas kalau kita harus menyembah mereka, dan memasrahkan nasib kepada mereka, yang tingkatannya jauuhhh lebih rendah daripada kita!” jelas Sang Kyai.

“Tapi buktinya, mereka lebih sakti dari kita!” sahut muridnya yang paling muda.

Sang Kyai tersenyum sambil menggeleng=gelengkan kepalanya dan menepuk bahu muridnya tersebut. “Muridku… Harimau lebih ganas daripada kita, Banteng juga lebih kuat dari kita, apakah kita harus menyembah mereka? Tidak bukan?! Kalian ingatlah, Allah telah meninggikan harkat kita, karena kita diberi akal dan pikiran, sementara itu mereka adalah Jin yang tidak memiliki akal dan pikiran. Sehingga harkatnya jauh lebih rendah daripada kita. Ingatlah itu baik-baik muridku!” pungkas Sang Kyai.

“Bagaspati jahanam! Aku lawanmu!" Satu bentakan menggeledek disusul berkelebatnya satu bayangan hijau, memotong gerakan Dharmadipa. Lalu ada suara menderu laksana badai mengamuk. 

Sinar hijau berselubung cahaya kemerahan disertai hawa panas berkiblat dalam kegelapan. Jin Bagaspati beserta kawan-kawannya yang bersemayam didalam tubuh Dharmadipa tidak melihat jelas benda atau senjata apa yang melabrak ke arahnya. Percaya akan kekuatan dan kesaktian mereka, Dharmadipa belokkan tusukan senjatanya, memburu ke arah benda yang menyambar. "'Duesshh!!!" 

“Blarrr!!!” Ledakan disertai Bunga api memercik hebat! Buta Hejo terpental empat langkah, lututnya goyah. Tangan kanan terasa panas dan perih. Dia tidak mampu menjaga keseimbangan tubuh. Mahluk bertubuh tinggi besar ini akhirnya jatuh bertutut.

Buta Hejo cepat melompat bangun. Setiap Gerakannya yang mengandung tenaga ghaib luar biasa bergerak sebat demikian rupa hingga rimba tersebut laksana dilanda topan. Namun Dharmadipa sungguh luar biasa. Cahaya hitam yang keluar dari setiap gerakannya beberapa kali menembus Lingkaran sinar hijau si Buta Hejo. Selarik sinar hitam besar yang teramat panas bersarang telak didada si Buta Hejo!

Buummmm!!!! Letupan keras terdengar seolah hendak merobek langit, bumi disekitar rimba tersebut bergetar hebat! Si Buta Hejo jatuh terjungkal sejauh beberapa tombak, dadanya yang terkena sinar hitam terluka parah dengan mengucurkan darah berwarna hitam yang banyak sekali juga mengepulkan asap hitam pekat berbau bangkai!

Ki Dukun yng menyaksikan hal tersebut sangat terkejut dibuatnya, ia tak menyangka bahwa Dharmadipa dapat mengalahkan Eyang Buta Hejonya yang ia anggap sebagai Yang Karuhun di sekitar Desa mereka. “Astaga! Ternyata cerita tentang kesaktian Pangeran Dharmadipa bukan isapan jempol semata! Tak heran ia dapat menghacur leburkan negeri Mega Mendung seorang diri karena ia dengan mudah dapat mengalahkan Eyang Buta Hejo!” bathinnya.

Si Buta Hejo berteriak-teriak kesakitan sampai ia menyadari bahwa sekarang Dharmadipa sudah berada dihadapannya. Mahluk ini kemudian memohon apun sambil menyembah dan memegang kaki Dharmadipa “Bagaspati, ampuni aku! Jangan bunuh aku!”

Dharmadipa diam tak bergeming dengan wajah dingin tanpa ekspresi, kemudian dengan bengisnya ia mencekik leher si Buta Hejo kemudian tertawa buruk sekali, “Meskipun kita sama-sama Jin tapi kita dari Bangsa yang berbeda, maka akan kuhabisi nyawamu sekarang juga!”

Dengan mudahnya Dharmadipa melemparkan tubuh Si Buta Hejo ke udara, saat tubuh si Buta Hejo masih melayang di udar, Dharmadipa angkat kedua tangannya keatas, dari sekujur tubuhnya menderulah delapan bola api besar berwarna hitam menerjang si Buta Hejo! Duaaarrrr!!! Untuk kesekian kalinya ledakan dahsyat terdengar setelah menghilangnya suara jeritan si Buta Hejo yang tubuhnya hancur menjadi abu berwarna hitam kemudian sirna tertiup angin! 

Melihat hal tersebut, Ki Dukun dan para warga pun keluar dari tempat persembunyiannya, kemudian beramai-ramai mereka bersujud menyembah Dharmadipa. “Ampun Gusti…. Kami akan mengabdi kepada Gusti Pangeran Dharmadipa! Kami sanggup menyediakan sesaji apapun yang gusti minta… Ampun Gusti… Kami hanya membutuhkan kehidupan yang tentram dan bumi yang subur…” ucap Ki Dukun sambil memegang kaki Dharmadipa.

Setelah itu, Dharmadipa tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba menghilang lenyap bagaikan asap tertiup angin. Gempa bumi pun berhenti, angin ribut yang membadai pun mereda, langit siang kembali terang bersinar terik setelah sebelumnya gelap gulita bagaikan malam, setelah Dharmadipa lenyap darisana. Hanya suara tawanya saja yang masih menggema namun kemudian berubah menjadi suara cuitan parau burung Sirit Uncuing.

Ki Dukun dan semua penduduk Desa pun terheran-heran dengan lenyapnya Dharmadipa yang tiba-tiba itu, mereka semua pun langsung bangun dari sujudnya. “Jangan kuatir! Kita sudah mendapatkan pengayom baru, Eyang Buta Hejo sudah mengalah pada Gusti Pangeran Dharmadipa! Jadi kita tidak perlu takut akan kekeringan air untuk lahan pertanian kita, dan tidak usah cemas akan ada gangguan ghaib lagi!” ucap Ki Dukun kepada para warga.

“Tapi… Kelihatannya Gusti Pangeran Dharmadipa itu lebih kejam Ki Dukun…” sahut Ki Demang dengan masygul.

“Itu artinya urusan sesaji kalian tidak boleh lalai! Kalau perlu, kita akan pesembahkan gadis perawan untuk Gusti Pangeran! Mengerti kalian?! Sudah! Sudah! Bubar! Ayo kita pulang!” Pungkas Ki Dukun sambil memberi komando, mereka pun bubar jalan meninggalkan tempat itu untuk kembali ke Desa. Kyai Surakarna dan para muridnya yang mengintip pun pulang ke Desa, sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Sang Kyai membaca istighfar dan memohon petunjuk kepada Gusti Allah SWT.

     ***

Malam harinya Kyai Surakarna nampak sedang berdzikir di sebuah Tajug* kecil di Desa Jati Jajar, saat sedang khusyuk-khusyuknya ia berdzikir, tiba-tiba ketiga orang muridnya menerobos masuk kedalam Tajug dengan terengah-engah, sekujur tubuh mereka nampak babak belur akibat siksaan-siksaan berupa pukulan-pukulan. Sang Kyai pun kaget dan langsung menghampirinya murid-muridnya. “Astagfirullah! Kenapa kalian?” (*Tajug = Surau atau Musholla)

“Kyai! Cepat Kyai! Mereka mau menyerbu kemari!” ujar si murid tertua tanpa menjawab pertanyaan gurunya.

“Mereka siapa?” tanya Kyai Surakarna.

“Orang Desa dan Ki Dukun!” jawab si murid termuda.

“Astagfirullah Aladzim… Kenapa mereka mau menyerbu kemari? Dan apa salah kalian sampai mereka menyiksa kalian seperti ini?” desah Sang Kyai sambil melihat luka-luka para muridnya, kemudian ia segera mengambil beberapa kendi air minum.

“Mula-mula mereka menanyai kami, kenapa kami tidak ikut upacara memberi sesaji. Kami jawab dengan tegas kalau itu adalah Syirik! Kalau mau minta pengayoman, kenapa tidak minta saja langsung kepada Gusti Allah?”

Kyai Surakarna menghela nafas berat sambil menuangkan air minum untuk ketiga muridnya, “Terus?” tanyanya lagi.

“Ki Dukun marah dan memaki-maki kami! Dia menuduh kalau malapetaka yang terjadi di desa ini adalah salah kita yang tidak mau mengikuti kepercayaan mereka. Akhirnya ia memprovokasi Ki Demang dan para warga agar mengusir kita dari desa ini. Para Warga pun marah dan menghjar kami, kami berhasil meloloskan diri dan berlari kemari…” papar si Murid Tertua.

“Astagfirulah… Astagfirulah…” desah Sang Kyai sambil terus mengurut-urut dadanya yang terasa sesak.

Saat itu sekonyong-konyong terdengarlah suara teriakan para warga Desa yang meminta Sang Kyai untuk keluar disertai dengan suara lemparan-lemparan batu pada Tajug kecil tersebut, “Surakarna! Keluar kau! Surakarna! Keluar!” teriak para Warga Desa yang dipimpin oleh Ki Demang dan Ki Dukun.

“Lahaula walla kuata Ilabilah… Bismillah hirohman nirohim…” Bathin Kyai Surakarna yang memohon perlindungan kepada Allah SWT, ia menarik nafas panjang, kemudian melangkah keluar dengan mantap tanpa segan atau takut sedikitpun.

Ia membuka pintu Tajug dengan tenang, ia menyapu seluruh warga Desa yang ada disana dengan tatapan dingin yang mampu membuat semua orang yang melihatnya menjadi gentar, seketika itu juga para warga berhenti berteriak dan berhenti melempari tajug itu dengan batu, Ki Dukun dan Ki Demang pun langsung merasa gentar mendapati tatapan dari Kyai yang sudah sepuh tersebut. 

“Perbuatan kalian sudah keterlaluan! Kalian melempari rumah Tuhan ini dengan batu kerikil dan meneriakan berbagai cacian dan hinaan disini!” Hardik Sang Kyai dengan tegas, orang tua ini memang sudah tersulut amarahnya akibat perbuatan para warga desa pada Tajug yang merupakan tempat beribadah umat Islam ini, namun ia masih berusaha untuk menahan debaran emosi didalam dadanya.

“Apa salah kami sehingga kami diperlakukan seperti ini?!” tanyanya dengan lantang.

“Kalian tidak pernah mau rukun dengan kami!” hardik Ki Dukun. “Kalian tidak mau mengikuti upacara pemberian sesaji, sehingga Nu Ngagegeh* Desa dan Gunung ini menjadi murka! Sekarang sudah 2 orang yang jadi korban, besok mungkin seluruh warga desa yang menjadi korban Eyang Buta Hejo!” lanjutnya. (Nu Ngagegeh = Yang Mengayomi, Yang Menguasai, Yang Karuhun)

Kyai Surakarna menghela nafasnya, kembali ia membaca istighfar berusaha untuk menahan gelora amarah didadanya, dengan tenang namun tegas ia melangkah menghampiri Ki Dukun dan para warga disana. Ia menjawab dengan ia membuka suaranya, “Bukankah Eyang Buta Hejomu itu sudah dikalahkan oleh Pangeran Dharmadipa?”

“Itu bukan urusanmu! Yang penting sebagai warga desa kamu harus bisa hidup rukun!” hardik Ki Dukun.

“Untuk kebaikan, saya selalu bisa hidup rukun, tetapi untuk perbuatan musyrik, maaf! Kami menolak!” tegas Kyai Surakarna.

“Kurang ajar! Dengar! Selama ini kalau ada musibah atau wabah, siapa yang pontang-panting menhalaunya?! Apanan Aing!* Aku selalu bisa menyelesaikannya dengan baik! Asal kalian mau rukun! Tapi kamu dan ketiga muridmu itu selalu mau nyeleneh, mau lain! Ayo kalian ikut kami untuk mengadakan upacara sesaji sekarang!” semprot Ki Dukun sampai muncrat-muncrat. (Apanan aing = Kan saya)

“Kalau kerja bakti gugur gunung, kami akan siap untuk ikut, tapi untuk melakukan perbuatan syirik, kami mohon maaf, tidak bisa!” tandas Sang Kyai.

Mata Ki Dukun melotot mendengarnya, ia marah bukan main pada Sang Kyai. “Apa katamu?! Kalian selalu nyeleneh! Tidak mau rukun!” 

Tetapi sebelum perdebatan itu semakin memanas dan meruncing, tib-tiba datanglah seorang pria dengan sekujur tubuh hangus,ia berjalan sempoyongan dan jatuh dibawah kaki Ki Dukun. Kontan seluruh warga yang disana pun menjadi ribut. “Lihat! keadaannya sama seperti mang Dudung!” tunjuk salah 1 warga.

“Kenapa Yang Karuhun masih saja marah?” tanya salah satu warganya.

“Iya padahal kita sudah memberi banyak sesaji tadi siang!” timpal yang lainnya.

“Diam semua!” bentak Ki Dukun sambil melihat keadaan mayat yang hangus tersebut. “Bukan karena sesajen kita yang kurang, tapi karena masih ada penduduk desa ini yang tidak ikut memberi sajen!” lanjutnya.

“Surakarna dan murid-muridnya!” tunjuk Ki Demang.

“Ayo bunuh dia! Bunuh!” teriak para warga desa dengan kalap, mereka langsung menyerbu masuk kedalam halaman Tajug, namun Sang Kyai menahan mereka dengan tenangnya. 

“Tahan! Sabar saudara-saudara sekalian… Kalau memang yang Karuhun itu marah kepada kami, kenapa bukan kami yang dibunuh?” tanyanya sambil tersenyum kecil.

Para warga pun seketika itu juga langsung berhenti, mereka pikir apa yang diucapkan oleh Kyai Surakarna adalah benar, mereka pun menjadi ragu. “Iya, benar juga. Kenapa orang lain yng jadi korban?” ucap Ki Demang.

“Jangan-jangan Pak Kyai yang benar?” tanya salah satu warganya.

“Diam semua! Tahu kenapa bukan dia yang dibunuh oleh Gusti Pangeran Dharmadipa?! Itu supaya kita sendiri yang melakukannya! Kalau tidak Gusti pangeran akan terus membunuhi warga kita satu demi satu!” tukas Ki Dukun.

“Bohong!” Potong Kyai Surakarna, “Iblis itu akan terus melakukan pembunuhan, supaya kalian akan terus terpuruk pada perbudakan mereka. Dan akhirnya kalian akan menjadi sangat tergantung kepada dia! Supaya kalian menjadi waswas kepada Iblis itu!”

“Lalu apa yang sebaiknya kami lakukan Kyai?” tanya Ki Demang.

“Hanya orang-orang yang mau pasrah kepada Allah yang akan selamat! Ingat, Iblis itu akan takut kepada ayat-ayat Qur’an, maka dengungkanlah Sabda Allah Subhahu Wataa’lla itu di rumah kalian masing-masing. Saya jamin kalian akan selamat…” Jelas Sang Kyai.

“Tetapi kami banyak yang belum bisa membaca Al Quran Kyai!” sahut salah seorang Warga.

“Maka mulailah dari yang paling sederhana, mulailah membersihkan diri kalian dengan cara berwudhu lalu dirikanlah Shalat, setelahnya bacalah surat Al-Fatihah serta Surat An-nass, Insyallah Iblis itu akan menjauh dari diri kalian!” jawab Kyai Surakarna.

“Dia yang bohong! Jangan mau dibohongi olehnya!” Tukas Ki Dukun.

“Kalau kalian tidak percaya, silakan dicoba saja! Aku akan dengan hati mengajari, jika kalian mau belajar Shalat dan membaca Al-Quran.” Pungkas Sang Kyai.

Akhirnya para warga pun bubar meninggalkan Tajug tersebut. Setelah para warga bubar, Kyai Surakarna kembali masuk kedalam Tajug untuk mengobati luka-luka para muridnya. “Apa yang harus kita lakukan selanjutnya Kyai?” tany si murid kedua.

Kyai Surakarna memejamkan matanya untuk berpikir sejenak, kemudian ia menjawab, “Hmm…. Sebaiknya kita meminta bantuan pada Kanjeng Sultan…”

“Berarti kita harus berangkat ke Surasowan?” tanya murid tertua.

“Benar, kita langsung berangkat setelah Shalat Subuh nanti.” jawab Sang Kyai.