Episode 345 - Maha Guru Kedua



Bintang Tenggara menimbang sampai dua-tiga kali tawaran Balaputera Khandra. Ia menakar keuntungan dan kerugian bilamana memberi izin kepada tokoh tersebut untuk mengurai formasi segel yang berperan menyegel kemampuan merapal formasi segel. 

Boleh saja Balaputera Khandra mengumbar kisah bahwa sebagai perapal segel, dia tertantang untuk mencoba mengurai formasi segel yang dirapal oleh sang penguasa, yang saat ini merupakan perapal segel termahsyur dan terkuat dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Boleh saja ia mengarang ceritera bahwasanya sebagai seorang Guru Muda, adalah juga tanggung jawabnya membantu pertumbuhan keahlian seorang murid. Namun demikian, Bintang Tenggara tak mudah terbuai. Tiada dapat dipastikan niat dan tujuan sesungguhnya tokoh tersebut. 

Terlepas dari itu, satu hal masih mengganjal di dalam benak si anak remaja. Untuk tiba di Perguruan Gunung Agung beberapa waktu lalu, dirinya dikirim menggunakan lorong dimensi ruang yang merupakan hasil rapalan sosok yang diperkirakan sebagai sang ayahanda, Balaputera Ragrawira. Segera setelah itu, Balaputera Khandra merapal formasi Segel Syailendra berwujud kura-kura yang bahkan mampu meredam gelombang kejut Tinju Super Sakti. Kemudian, Balaputera Khandra juga merapal formasi Segel Syailendra lain yang berwujud seekor elang, seekor keledai, dan seekor marmut. Baik pada formasi segel lorong dimensi ruang rapalan Balaputera Ragrawira maupun empat formasi Segel Syailendra milik Balaputera Khandra, terdapat satu kesamaan. Bahwa, pada kesemua formasi segel tersebut terdapat simbol-simbol yang tak lazim dan tiada dikenali. 

Oleh karena itu, sudah barang tentu Balaputera Khandra memiliki kaitan khusus dengan Balaputera Ragrawira. Dalam kaitan itu pula, Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa mengungkapkan bahwa selain beliau, maka yang dapat mengurai formasi segel yang menyegel kemampuan merapal adalah ahli sekelas Balaputera Dharanindra dan Balaputera Ragrawira. Kesimpulan: jikalau Balaputera Khandra merupakan murid Balaputera Ragrawira, maka bukan tak mungkin dia benar-benar dapat mengurai formasi segel dimaksud. Sebuah tawaran yang demikian menggiurkan. 

Kendatipun demikian, pada akhirnya Bintang Tenggara memutuskan untuk memutar langkah. Potensi kerugian yang dapat diderita demikian besar dan tiada terduga. Balaputera Khandra licik, lagi penuh dengan tipu daya. Sama sekali tiada dapat dipercaya.

Di lain sisi, Bintang Tenggara sudah hampir kehabisan akal. Waktu semakin sempit, dan ia kekurangan satu rekomendasi dari tetua perguruan setingkat Maha Guru. Oleh sebab itu, langkah kaki membawa dirinya menemui seseorang, yang tak lain merupakan sesama anggota Pasukan Telik Sandi di Perguruan Gunung Agung. 

“Kakek Tua, apakah ada Maha Guru yang sedang tak berada di Perguruan Gunung Agung…?”

Kakek Tua pelayan rumah tangga di Graha Utama, tempat tinggal para Murid Utama, sedang menyapu pekarangan. Kakek Tua ini pernah menitipkan kepada Bintang Tenggara sebuah gulungan naskah rahasia milik Partai Iblis yang dicuri anggota Pasukan Telik Sandi lain, si Panggalih Rantau. 

“Hanya seorang Maha Guru yang terpikirkan olehku…”

Kedua bola mata Bintang Tenggara membesar dan berbinar. “Siapakah gerangan Maha Guru tersebut, wahai Kakek Tua…?”

“Maha Guru Kedua.”

“Maha Guru Kedua?” Baru kali ini Bintang Tenggara mendengar tentang Maha Guru kedua. “Dimanakah beliau berada?”

“Di kawah berapi Gunung Istana Dewa, beliau menempa diri dalam tapa.”

“Terima kasih, wahai Kakek Tua.” Tak hendak membuang-buang waktu, Bintang Tenggara membungkuk kemudian memutar tubuh. 

“Sebelum itu,” cegat si kakek tua, “ada beberapa barang yang perlu dikau persiapkan sebelum menghadap beliau…”

Tak lama berselang, Bintang Tenggara mendatangi Gerai Ramuan guna dan belanja sejumlah barang. Setelah itu, ia memacu langkah menuju kediaman Canting Emas. Usai melalui rangkaian pertanyaan interogasi nan sulit lagi rinci, dari gadis belia itu ia dipinjami seekor binatang siluman Elang Laut Dada Merah. Sebagaimana bayangan sebelumnya, hembusan angin menerpa wajah dan mengibas rambut tatkala dirinya melesat terbang menuju kawah berapi Gunung Istana Dewa. Waktu bergulir cepat, dan hawa panas membara sudah mulai terasa merambat di udara. 

Semakin dekat ke puncak gunung, terbangnya Elang Laut Dada Merah terasa limbung. Bintang Tenggara tentu menyadari bahwanya binatang siluman tersebut sangat lemah terhadap hawa panas. Jikalau dirinya memaksakan dan sampai mencederai binatang siluman tersebut, tak terbayang ganjaran yang akan diterima dari Canting Emas. Walhasil, anak remaja tersebut memutuskan untuk mendarat, menambat sang elang, lantas melanjutkan perjalanan mendaki seorang diri. 

Peluh bercucuran, reaksi tubuh yang wajar karena hawa panas semakin kental terasa. Walaupun pernah dipaksa berlatih menghadapi panas dengan mencerburkan diri ke dalam Telaga Biru di Telaga Tiga Pesona, masih saja anak remaja tersebut kesulitan mengatasi panas nan membara. Berbekal niat dan semangat, Bintang Tenggara terus memaksakan diri. Kini, dada terasa sesak, dan napas seolah terbatas. Tipisnya udara menyatu dengan hawa panas, demikian mempersulit gerak tubuh. 

“Apakah yang sedang dikau lakukan…?” Ginseng Perkasa yang akhir-akhir ini diam dan tenang karena ‘musuh bebuyutan’ masih tertidur, terdengar demikian penasaran. 

“Mendaki gunung… sedikit lagi… mencapai kawah….” Bintang Tenggara terbata-bata. 

“Dikau akan mati konyol sebelum bertemu dengan siapa pun itu yang berdiam di atas sana…”

“Srek…”

Hari beranjak petang. Tetiba telapak kaki Bintang Tenggara terpeleset di bebatuan kecil-kecil, namun masih cukup waspada untuk menjaga keseimbangan tubuh. Akan tetapi, dirinya tetap melorot sekira sepuluh langkah ke bawah. 

“Kapankah dikau akan mengeluarkan bekal yang dianjurkan oleh kakek tua tadi…?”

“Hm… maksud Kakek Gin…? Apakah sesajen yang dipersiapkan untuk Maha Guru Kedua…?” Bintang Tenggara kembali menapak perlahan. Langkah kakinya pendek-pendek agar tak terpeleset lagi. 

“Coba ingat-ingat lagi… bekal itu bukan untuk siapa-siapa, melainkan untuk dikau…”

Bintang Tenggara mengingat-ingat… “Lembaran kulit Badak Bercula Tiga… batang Kaktus Botak… sejemput Lumut Rambat Hijau…” Anak remaja itu terdiam. “Kesemuanya tahan api…”

“Yak, betul.”

“Diriku dapat membuat ramuan Tangkal Bahang!” Anak remaja tersebut hampir melompat di tempat.

“Yak, betul.”

Tanpa menbuang-buang waktu lagi, Bintang Tenggara segera mengeluarkan sebuah lesung batu dan bahan-bahan yang dibawa dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Lambang ular dan lesung batu pun berpendar pada permukaan punggung tangan, petanda Ginseng Perkasa meminjamkan keterampilan khusus miliknya. 

Si anak remaja mulai meracik bahan-bahan dasar ramuan yang tersedia. Lesung batu merupakan syarat mutlak bagi seseorang dengan keterampilan khusus sebagai peramu dalam meracik segala macam ramuan apa pun itu. Adapun proses selanjutnya dilakukan menggunakan jalinan mata hati demi menjaga ramuan agar steril adanya, karena keringat atau kotoran yang menempel di jemari tangan, bahkan setitik debu, akan mengubah bahkan merusak hasil ramuan. 

Bintang Tenggara melambaikan tangan kanan dengan ringan. Sejemput Lumut Rambat Hijau melayang tepat di atas lesung batu. Jemarinya pun menari. Lumut yang melayang terburai ibarat dicacah menggunakan parang. Ia tempatkan ke dalam lesung batu. 

Langkah kedua, batang Kaktus Botak segar selebar dua jemari tangan dan sepanjang satu jengkal berkeriput dan mengering. Dari dalamnya, setetes sari pati memisahkan diri. Masih menggunakan jalinan mata hati, tetesan tersebut ditambahkan pada cacahan Lumut Rambat Hijau yang terdapat di dalam lesung batu. 

Bintang Tenggara berdiam diri sejenak. Ia memberikan waktu bagi tetesan sari pati Kaktus Botak meresap pada cacahan Lumut Rambat Hijau. Perlahan, ia tempelkan kedua telapak tangan pada sisi-sisi lesung batu. Sembari mengalirkan sedikit tenaga dalam kepada alat peramu, jalinan mata hatinya mengaduk kedua bahan ramuan.

Hawa di sekitar yang mana cukup panas, lambat laun terasa beranjak pergi. Ramuan sudah setengah jadi dan menunjukkan khasiat. 

Jalinan mata hati Bintang Tenggara kemudian meraih lembar kulit Badak Bercula Tiga yang berukuran selebar telapak tangan anak-anak. Tak ada tindakan khusus yang dilakukan terhadap lembar kulit tersebut, selain melayang tepat di atas lesung batu. Sebaliknya, yang Bintang Tenggara lakukan adalah mengeluarkan adonan, atau lebih tepatnya lendir kental campuran sari pati Kaktus Botak dan cacahan Lumut Rambat Hijau. Lendir kental tersebut lantas dibalurkan pada permukaan lembaran kulit Badak Bercula Tiga. 

Proses menyatukan lendir kental dengan lembaran tebal kulit Badak Bercula Tiga tiada mudah dilakukan. Konsentrasi tingkat tinggi melalui jalinan mata hati ditebar guna memaksakan resapan. Reaksi ketika lendir menyatu ke dalam lembar kulit terlihat kasat mata. Bagian yang menyatu, mengembang ibarat spons bertemu dengan air. Perlahan-lahan, seluruh bagian lembar kulit menjadi lembut.

“Taraf kemanjuran 99%,” ujar Ginseng Perkasa melalui jalinan mata hati. Dengan kata lain, ia mengungkapkan bahwasanya setiap bahan dasar diolah dengan sangat baik dan menyatu hampir sempurna. 

Berdasarkan pengetahuan umum para peramu besar di seantero negeri, ramuan yang dihasilkan oleh seorang peramu memiliki taraf kemanjuran yang berbeda-beda. Angka 90% adalah taraf kemanjuran tertinggi. Hanya peramu kelas atas dengan pengalaman ratusan tahun yang dapat meramu sampai ke ambang 90% taraf kemanjuran. Sepanjang sejarah, ramuan yang berada pada taraf kemanjuran 99% hanya dapat dilakukan oleh sang Maha Maha Tabib Surgawi seorang. Dalam hal ini, tokoh tersebut diperkenankan untuk berlaku sombong. 

Bintang Tenggara menoleh ke kiri dan ke kanan. Memastikan bahwa tak ada sesiapa pun di dekatnya. Ia lantas membuka seluruh pakaian, dan membalurkan kulit Badak Bercula Tiga yang berisi campuran Kaktus Botak dan Lumut Rambat Hijau ke seluruh permukaan kulit. Adem. Sisanya, ia balurkan pula ke pakaian secara merata.

“Badak Bercula Tiga secara alami memiliki kulit tubuh yang kebal akan panas dan api,” papar Ginseng Perkasa dengan nada congkak. “Berkat bantuan Kaktus Botak dan Lumut Rambat Hijau, maka sifat tahan panas dan api dapat diperkuat dan dipindahkan ke kulit tubuh atau benda-benda lain. Dampak ramuan Tangkal Bahang dapat bertahan selama lebih kurang sehari semalam.”

Setelah mengenakan pakaian lengkap, Bintang Tenggara kembali menapak. Rasa panas tiada lagi menyengat, bahkan terasa nyaman. Tak lama, ia pun mencapai bibir kawah nan maha besar. Melongok ke bawah sana, cairan kental lahar menggelegak dan terang menyala, merayap pelan ibarat lelehan besi panas pada tungku pembakaran ahli pandai besi terkemuka. Asap belerang membunbung tinggi, mengaburkan pandangan mata. 

“Hm…” Ginseng Perkasa bereaksi, namun menahan diri untuk memberikan pandangan atau pun mencegah. 

Pada dinding sisi dalam kawah, masih terpaut cukup jauh dari permukaan lahar, sebentuk batu besar menempel erat. Sejumlah bebatuan berukuran sedang dan kecil seolah sengaja disusun agar mengarah ke arah sana. Di atasnya batu besar, samar terlihat duduk bersila dalam tapa adalah sesosok lelaki dewasa muda. Di hadapannya sesuatu terlihat mengebul. 

Mungkinkah itu Maha Guru Kedua yang sedang tenggelam dalam tapa, batin Bintang Tenggara. Penuh harap, anak remaja itu lantas melompat masuk. Dari satu batu ke batu berikutnya ia bergerak gesit. Selang sebongkah batu, ia berhenti dan berdiri mengamati. 

Rambut sosok tersebut setengah keriting dan menggantung panjang sampai menyentuh bahu, mengalun ringan dimainkan hawa panas ibarat sulur-sulur yang dibelai lantunan angin. Bentuk wajah oval, dengan dagu kokoh namun tak terlalu panjang, yang mana lekukannya dapat ditangkup dan dibelai dengan menggunakan kedua telapak tangan. Bentuk hidungnya tergolong mancung, dipadupadankan dengan bibir tipis dan sepasang mata terpejam tenang.

Meski sedang duduk bersila, dapat dipastikan bahwa postur tubuhnya tinggi ramping, tak terlalu berisi namun membangun kesan ideal. Ia mengenakan semacam rompi tanpa lengan, serta tanpa kancing di bagian dada. Dengan demikian, penampilan lika-liku otot di bahu terasa ketat, dan celah dadanya terlihat bidang dengan lekukan yang tersembunyi sembari menyimpan misteri. Tak terlihat setetes pun keringat akibat hawa panas kawah gunung berapi.

Selain itu, kepulan di hadapannya kini dapat dipastikan berasal dari sebuah benda yang berbentuk persegi berwarna hitam. Mungkinkah itu semacam benda pusaka yang dapat membantu bertahan menghadapi hawa panas nan menyengat…?

“Waspadalah…” Kali ini Ginseng Perkasa memperingatkan. Meski menggunakan jalinan mata hati, ia berbisik sangat pelan. 

“Apakah Kakek Gin mengenal sosok Maha Guru Kedua ini…?”

“Kupastikan bahwa dia bukan Maha Guru Kedua yang dikau cari…”

“Ada anak anjing rupanya…” Tetiba, suara teguran datang berkumandang memenuhi sisi dalam kawah dan menggetarkan mustika di ulu hati. Di saat yang bersamaan, tekanan teramat berat terasa membebani tubuh. 

Tokoh yang duduk bersila dalam tapa melirik kepada sang tamu yang datang tanpa diundang. Bintang Tenggara sontak bertumpu pada satu lutut.

“Wisanggeni. Raja Angkara Durjasa. Unsur kesaktian api beracun,” papar Ginseng Perkasa singkat dan padat. 

“Racun api…?” Bintang Tenggara semakin waspada. 

“Menurut hematku, adalah dia yang mencederai tubuh Komodo Nagaradja.”