Episode 74 - Seleksi Terakhir


“Bagaimana dengan babak penyisihannya?”  

Seorang pria dengan jas hitam bertanya seraya memainkan kacamata emasnya. 

Pria ini adalah sponsor utama sekaligus orang yang mengadakan turnamen bela diri yang akan datang. Dia adalah orang yang sangat mencintai bela diri, meskipun dia tidak bisa bela diri. Nama pria ini adalah Nuno, seorang pria kaya raya di kota ini. Semua kekayaannya berasal dari statsiun tv swasta yang dimilikinya dan dari tambang batu bara. 

Karena Nuno memiliki stasiun tv swasta, jadi sudah diputuskan ketika rapat, bahwa semua pertarungan akan disiarkan, berbeda dari turnamen sebelumnya yang hanya akan disiarkan melalui internet. Meskipun turnamen ini akan mendapat jam tayang tengah malam karena kontennya yang tidak baik untuk anak-anak, tapi berita ini tetap membuat banyak pecinta bela diri menjadi bahagia. 

“Semuanya berjalan dengan lancar, tidak akan lama lagi dan turnamen bisa dimulai.” 

Seorang pria tua dengan pakaian bela diri yang duduk di seberang pria tersebut menjawab. 

Dia adalah seorang legenda di dunia bela diri, namanya tersohor hingga negara tetangga, karena reputasi yang dia miliki juga lah penyebab semua perguruan bela diri dan sekte bela diri mau mengikuti turnamen ini, karena pada dasarnya turnamen ini hanyalah upaya dari Nuno untuk memuaskan hobinya sekaligus menarik penonton ke stasiun televisinya, bukan diadakan secara resmi oleh pemerintah.

Meski begitu, hadiah yang Nuno berikan pada sang juara juga menjadi faktor lain kenapa banyak yang ingin mengikuti turnamen ini. 

“Haha, seperti yang diharapkan dari sang legenda,tuan Li Jun sang harimau hitam.” Ucap Nuno dengan puas dan penuh pujian.

“Kau terlalu memujiku, itu hanya dimasa lalu.” Ucap Li Jun dengan rendah hati.

“Bagaimana mungkin begitu, jika bukan karena para legenda sepertimu, maka aku pasti tidak akan mencintai bela diri.” Nuno berkata dengan cepat.

“Baiklah, baiklah, terima kasih atas pujianmu.” Jawab Li Jun dengan senyum di wajahnya.

“Aku juga ingin berterimakasih karena kau mau menjadi pelaksana sekaligus wajah dari turnamen ini, aku berhutang banyak padamu.” Ucap Nuno.

“Haha, tidak apa-apa, aku yang sudah tua ini malah senang bisa kembali ke dunia bela diri lagi, meskipun hanya dari balik layar, aku juga ingin melihat para anak muda saat ini, semoga saja semangat bela diri mereka tidak kalah dengan para orang tua sepertiku.” Li Jun berkata dengan antusias.

“Tentu saja, bela diri kini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat, jadi tidak mungkin semangat mereka akan meredup.” Balas Nuno.

“Aku harap begitu,” Li Jun berdiri dan kembali berkata, “baiklah, aku akan menyaksikan seleksi akhirnya dan setelah itu turnamen ini akan bisa segera dimulai.” 

“Tentu saja, senang bekerja sama denganmu.” Ucap Nuno seraya menjabat tangan Li Jun.

“Senang juga bekerja sama denganmu.” Balas Li Jun lalu pergi meninggalkan ruangan Nuno.

Li Jun masuk ke dalam mobil dan pergi ke tempat seleksi diadakan. Setelah 15 menit perjalanan, akhirnya dia sampai ke gedung besar berwarna putih, di depan gedung tersebut ada sebuah tulisan besar “Martial arts” dengan latar belakang dua orang yang sedang beradu tinju, karena itulah gedung ini biasa disebut gedung MA. Tanpa ragu Li Jun langsung masuk ke dalam dan segera di sambut oleh banyak orang.

“Tuan Li Jun, silakan masuk, babak seleksi terakhir akan segera diadakan sebentar lagi.” Ucap seorang pria seraya mempersilakan Li Jun.

Li Jun mengangguk dan mengikuti pria tersebut, berjalan melewati lorong dengan tatapan kagum dari semua orang yang melihatnya, tidak lama kemudian dia sampai di sebuah aula luas yang akan menjadi tempat pertarungan akan diadakan.

Arena mulai dipersiapkan dan semua kru kesehatan bersiaga jika sesuatu yang tidak diingankan terjadi. Di salah satu sudut aula, 24 orang duduk seraya menunggu waktu pertandingan dimulai. Ketika mereka melihat Li Jun, dengan segera semuanya berdiri dari duduknya dan kemudian membungkuk penuh hormat pada Li Jun.

Pada akhirnya orang yang pantas untuk mendapat hormat akan selalu diperlakukan dengan hormat.

“Tuan Li Jun, babak seleksi ini akan diadakan secara bersamaan, untuk mempersingkat waktu.” Ucap seorang pria.

Li Jun mengangguk. Dia sangat sadar bahwa turnamen ini juga adalah pertunjukan, jadi pihak televisi akan memotong banyak bagian dan hanya menampilkan pertarungan yang menarik. Lagipula, babak seleksi ini mendapat waktu tayang yang sedikit dan tidak banyak karakter terkenal yang bisa membuat para pemirsa rela begadang dan duduk dengan sabar menyaksikan pertarungan mereka. 

Benar saja, secinta apapun masyarakat pada bela diri, jika orang yang bertarung adalah amatir tanpa nama, pertarungan tersebut tidak akan menarik. Pada akhirnya, bela diri juga termasuk pertunjukan, jadi tentu saja harus menghibur.

“Semua peserta diharapkan berkumpul.” Teriak pria tadi. Kemudian dia menoleh ke arah Li Jun dan berkata dengan penuh hormat. “Tuan Li Jun, sebelum pertandingan dimulai, kami harap tuan dapat mengatakan sepatah dua patah kata.”

“Baiklah.” Balas Li Jun seraya mengangguk. Li Jun berjalan ke arah podium yang sebelumnya memang sudah dipersiapkan dan memandang 24 orang di depannya. 

Mata Li Jun menyusuri ke semua peserta, dengan anggukan ringan Li Jun berkata dalam hati, “Mereka adalah pemuda yang bersemangat.”

“Aku pernah seperti kalian, tidak ada yang mengenalku, tidak ada yang menganggapku, selalu diremehkan,” Li Jun berkata dengan tegas seraya melihat para peserta. Di mata mereka terlihat kepahitan yang sangat jelas. Memang, tidak pernah mudah pada awalnya. 

“Tapi aku tidak pernah menyerah, aku terus berlatih, aku terus berusaha, aku terus bangkit berapa kalipun aku dijatuhkan.” Teriak Li Jun dengan penuh semangat. 

Semua peserta diam-diam mengepalkan tinju mereka dan terlihat semangat mereka semakin berkobar.

“Hingga akhirnya aku sampai di posisi ini, di mana semua orang mengenalku, semua orang menghargaiku, semua orang menghormatiku.” Lanjut Li Jun dengan penuh kesombongan. Namun, tidak ada yang membenci kesombongannya. Karena mereka tahu seberapa keras dia telah berusaha, jadi dia pantas untuk menyombongkan hasil dari kerja keras dan pengabdiannya untuk bela diri.

“Aku bisa mendapatkan itu dengan kedua tanganku sendiri, jadi aku ingin bertanya kepada kalian, apakah kalian juga bisa melakukan apa yang aku lakukan?” tanya Li Jun sambil menatap tajam mereka.

“Pasti bisa!” teriak semua peserta.

“Apa? Aku tidak bisa mendengarnya.” Tanya Li Jun dengan keras.

“Pasti bisa!” teriak semua peserta dengan lebih keras.

“Bagus, aku percaya kepada kalian, jangan kecewakan aku.” Ucap Li Jun seraya mengangguk ringan. “Jalan kalian untuk sampai ke sini tidak semudah mereka yang bisa langsung masuk ke turnamen ini, tapi kalian harus tahu bahwa ini adalah sesuatu yang harus kalian banggakan, karena untuk mendapat hasil yang baik memang tidak pernah mudah, jalan menuju kesuksesan itu selalu sulit, tapi suatu saat nanti kalian pasti bisa memetik buah manis dari kerja keras kalian, percaya padaku.” 

“Baiklah, sepertinya aku sudah bicara terlalu banyak, tapi aku ingin mengatkan satu hal lagi, bersama kekuatan yang kalian miliki, tumbuh juga tanggung jawab yang harus kalian pikul, gunakan kekuatan kalian untuk melakukan apa yang kalian anggap benar, percaya dengan penilaianmu, dan teguh dengan apa yang kalian anggap benar, meskipun orang lain berpikir bahwa apa yang kalian lakukan salah, jika kalian menganggap itu sesuatu yang benar, teruskan.”

Pernah, di suatu hari di masa lalu, ketika Li Jun masih muda, saat itu Li Jun sedang pulang dari tempat latihannya, langit sudah gelap dan orang-orang sudah hangat dalam selimut, tapi tiba-tiba Li Jun melihat sekelompok orang menghadang seorang wanita. Mereka semua membawa senjata seperti pedang dan balok kayu. Jelas, mereka tidak memiliki niat baik pada wanita tersebut.

Kejadian selanjutnya seperti yang bisa kalian pikirkan, Li Jun langsung maju dan menghajar mereka semua untuk menyelamatkan wanita tersebut, dalam pertarungan itu Li Jun dengan mati-matian bertarung tanpa menahan sedikitpun, karena dia tahu bahwa dengan jumlah dan senjata yang mereka miliki, meskipun mereka tidak memiliki kemampuan bela diri sehebat dia, mereka tetap berbahaya.

Setelah berjuang dengan ganas, Li Jun yang babak belur mampu membuat mereka terkapar di tanah, akan tetapi ada satu kejadian yang tidak Li Jun inginkan terjadi, salah satu dari mereka kehilangan banyak darah dan akhirnya meninggal. Meskipun apa yang Li Jun lakukan adalah untuk menyelamatkan wanita itu, akan tetapi nyawa manusia tidak bisa diambil dengan seenaknya oleh siapapun.

Li Jun muda mengambil tanggung jawab dan menerima hukuman atas perbuatan yang dia lakukan. Namun, tidak seharipun dia meninggalkan latihan bela dirinya. Beberapa tahun kemudian Li Jun akhirnya keluar dari penjara dan masuk kembali ke dunia bela diri. 

Meskipun ada noda dalam sejarahnya, tapi asosiasi bela diri tidak melarangnya untuk mengikuti turnamen bela diri, dan tidak ada seorangpun yang membenci apa yang dia lakukan dimasa lalu.

Li Jun mengikuti turnamen dan mendapatkan posisi puncak lagi dan lagi. Cahaya kemenangan itu terlalu silau hingga tidak ada lagi orang yang mengingat noda masa lalunya. Reputasinya melambung hingga langit dan akhirnya, setahun yang lalu, setelah dia mengumumkan bahwa dia akan rehat dari dunia bela diri, semua orang menganggap Li Jun sebagai seorang legenda.

Li Jun sang harimau hitam. 

Itu adalah julukannya. Ada loreng hitam dalam tubuhnya, sesuatu yang tidak akan bisa dia hilangkan, tapi hanya loreng putih yang dapat orang lain lihat. Julukan itu adalah sesuatu yang Li Jun berikan pada dirinya sendiri, untuk memacu dirinya bahwa ada cahaya yang harus dia dapatkan untuk menghapus loreng hitam di tubuhnya.

Akhirnya babak terakhir seleksi dimulai. 12 pertarungan diadakan dalam waktu yang bersamaan, 24 pemuda bertarung dengan sungguh-sungguh dan akhirnya 12 peserta tempat terakhir untuk turnamen telah ditetapkan.

Dari 12 orang tersebut, 7 dari mereka adalah orang-orang dari perguruan bela diri, akan tetapi tidak mendapatkan keistimewaan untuk bisa langsung masuk ke turnamen. 5 sisanya adalah orang yang bukan dari dunia bela diri.

Akhirnya 32 tempat untuk turnamen telah terisi, tidak lama lagi turnamen bela diri akan dimulai.