Episode 343 - Pertukaran Murid



Langit siang berawan, dan angin berhembus sepoi-sepoi. Suasana nan demikian tenang menyambut kedatangan seorang anak remaja lelaki. Ia terlontar keluar dari dalam lorong dimensi ruang yang dirapal tanpa sepengatahuan. Mendarat sigap, raut wajahnya anak remaja lelaki tersebut terlihat gundah gulana, ibarat ditinggal pergi sang kekasih hati. 

Mengapa sang ayahanda yang telah lama dinanti kehadirannya, sampai demikian menolak untuk bertatap muka…?

Ia menyapu pandang sekenanya, untuk mendapati diri berada di sebuah pekarangan nan luas. Tak terlalu jauh, berjejer beberapa pendopo kosong, yang biasanya berperan sebagai tempat di mana murid-murid mendengar kuliah dari para Maha Guru. Sebentuk lambang yang berupa ukiran gapura dengan latar belakang sebuah gunung, terpampang perkasa di salah satu dinding. Tempat ini sangat tak asing.

“Selamat datang kembali…”

Suara menegur yang entah dari mana asal-muasalnya, mengejutkan si anak remaja. Muncul secara tiba-tiba dan tanpa dapat dirasakan keberadaan pemiliknya suara, bahkan dengan menebar jalinan mata hati. Selain suasana hari, rupanya ada seorang ahli yang telah menanti guna menyambut kedatangannya.

Sontak Bintang Tenggara melompat waspada sembari memutar tubuh, karena arah suara datang dari belakang. Wajah anak remaja itu sontak berubah kesal tatkala mendarat. Walau tak begitu mengingat ciri khas suara tersebut, raut wajah tirus dan tampan seorang lelaki dewasa muda tiada mungkin terlupakan. Dia tersenyum ramah lagi riang.

“Engkau!” 

“Sudah sekian lama tak kusaksikan dikau menyambangi Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel di Kota Sanggar.” Lelaki dewasa muda membuka kedua lengan, seolah hendak menyambut dengan pelukan hangat kepada si anak remaja. 

“Khandra!” hardik Bintang Tenggara berang. Ia menudingkan jemari telunjuk. “Engkau yang menjebak dan mengirimkan aku ke Kemaharajaan Cahaya Gemilang!” 

“Wahai Murid Utama Bintang, apakah yang dikau bicarakan…?” Guru Muda Khandra terlihat kebingungan sangat. “Kunjungan dikau di Kemaharajaan Cahaya Gemilang merupakan tugas resmi dalam menyampaikan pesan perguruan.” 

“Jangan berpura-pura bodoh!” sergah Bintang Tenggara naik darah.

“Hm… Apakah demikian pilihan kata dan nada suara bilamana berhadapan dengan seorang Guru Muda…? Ke mana tata kramamu sebagai salah seorang Murid Utama di Perguruan Gunung Agung…?”

“Balaputera Khandra! Hentikan sandiwaramu saat ini juga!”

“Hm… Sepertinya perilakumu perlu diperbaiki…” Guru Muda Khandra, alias Balaputera Khandra, mengangkat kedua lengan. 

“Ayo!” Suasana hati Bintang Tenggara sedang kurang baik, dan kini amarah memuncak karena berhadapan dengan penipu kelas kakap. Setelah meletakkan kotak kayu yang sedari tadi dipanggul, jalinan petir berderak di kedua belah kaki dan sekujur lengan. Dua bentuk dari jurus unsur kesaktian petir Asana Vajra, salah satu Sapta Nirwana dari Perguruan Gunung Agung, dirapal secara berbarengan. 

Balaputera Khandra membalas persiapan lawan dengan merapal. Adalah kewajibannya sebagai seorang Guru Muda untuk mendisipkan dan memberi pelajaran kepada seorang murid yang baru saja kembali, namun menunjukkan sikap dan perilaku yang bertentangan dengan tata krama di dalam Perguruan Gunung Agung. Tindakan yang akan ia ambil merupakan sesuatu yang memang pantas. 

“Gada Soma!” gumam Guru Muda Khandra pelan. 

Selain jurus unsur kesaktian petir Asana Vajra yang biasa dikerahkan oleh Bintang Tenggara, atau jurus unsur kesaktian api Ksatria Agni milik keluarga Canting Emas, atau jurus persilatan Raga Bima milik mantan Guru Muda Anjana, Gada Soma juga merupakan salah satu dari tujuh jurus utama Perguruan Gunung Agung. 

Alkisah, dikenal Dewa Candra yang merupakan dewa bulan, sekaligus seorang Graha. Candra juga disamakan dengan Soma, yang merujuk kepada minuman manis dari tanaman. Oleh karena itu, Dewa Candra menjadi penguasa tanaman dan tumbuhan. Candra digambarkan sebagai dewa yang berparas muda dan tampan, berlengan dua dan memegang senjata teratai dan gada. 

Sulur-sulur merangkai keluar dari celah longgar jubah lengan panjang yang dikenakan Balaputera Khandra. Dengan sangat cepat, sulur-sulut tersebut kemudian membangun wujud seperti bola besar bertangkai, atau lebih tepatnya sepasang gada yang besar dan berat, yang kemudian jatuh berdentam dan tergeletak di permukaan tanah. Pada tangkai gada, masih menjalar seutas sulur yang berperan sebagai tali yang ujungnya berada di dalam genggaman sang perapal. 

Sebagai bagian dari Jurus Sapta Nirwana, Gada Soma merupakan jurus yang mengendalikan unsur kesaktian kayu.

Guru Muda Khandra lalu memutar dan menyilangkan kedua lengan dengan lincah ibarat dalam tarian. Bersamaan dengan puntiran pergelangan tangan, tindakannya membuat sepasang gada berputar-putar dan melayang-layang gesit ke segala penjuru ibarat sepasang bandul raksasa. Tak ada celah kosong yang tercipta, karena dibandingkan sebuah jurus unsur kesaktian, Gada Soma lebih pantas disebut sebagai senjata pusaka!

Menyaksikan unjuk kebolehan lawan di hadapan sana, Bintang Tenggara menelan ludah. Agaknya ia terlalu terburu emosi sampai lancang menantang seorang Guru Muda di Perguruan Gunung Agung. Akan tetapi, siapa yang akan menyangka bahwa posisi Balaputera Khandra demikian kokoh di dalam perguruan, sampai-sampai ia diwariskan salah satu Jurus Sapta Nirwana. Tokoh yang satu ini memang sangatlah misterius! 

Kendatipun terkejut, Bintang Tenggara dapat menenangkan diri. Peluang kemenangan masih terbuka lebar, karena Balaputera Khandra masih berada pada Kasta Perak Tingkat 8. Geram, ia lantas berujar, “Setelah selesai urusan kita, maka aku akan membawa engkau pulang ke Kadatuan Kesembilan untuk bersembah sujud di hadapan Ibunda Tengah Samara! Dasar anak durhaka!”

“Silakan bilamana mampu…,” tanggap Guru Muda Khandra. 

Nasi telah menjadi bubur. Merangsek dalam lintasan tiada beraturan, Bintang Tenggara lantas membuka serangan!

“Duar!” 

Salah satu gada melesat ibarat meteor yang jatuh dari langit. Karena tak mengenai sasaran, bekas hantamannya menimbulkan ceruk di permukaan tanah padat. Semudah menekuk pergelangan tangan, gada tersebut lalu melesat balik, karena sulur-sulurnya dapat memanjang dan memendek sesuai dengan perintah sang empunya. 

Bintang Tenggara terus merangsek maju memanfaatkan kecepatan. Sebagai jawaban, hantaman demi hantaman kembali menghujam, namun tak satu pun mengenai sasaran. Ngeri rasanya bila sepasang gada tersebut sampai mendarat di tubuh…

“Swush!” Angin berdesir tatkala kedua gada melibas mendatar tepat di hadapan wajah Bintang Tenggara. Anak remaja itu dipaksa berkelit dengan melompat mundur. Sampai pada detik ini, ia belum kunjung dapat melangkah masuk ke dalam radius sepuluh langkah dari Balaputera Khandra. 

Bilamana lawan menggunakan senjata, maka Bintang Tenggara pun tak hendak kalah. Sebentuk bilah panjang mengemuka dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Tempuling Raja Naga kini dalam genggaman! 

Di lain sisi, Balaputera Khandra melangkah maju. Sepasang gada berputar-putar dan melayang-layang semakin gesit. Lawannya terlihat menyibak kembangan silat dan kini bergerak melingkar ke arah sisi. Sigap, sebuah gada menutup ruang, memaksa agar sasaran tak bisa bergerak terlalu leluasa. 

Bintang Tenggara kembali mengambil beberapa langkah mundur. Dalam pengamatannya, sepuluh langkah merupakan jangkauan terjauh sepasang gada. Di saat itu pula, kini ia sadari bahwasanya tak jauh di belakang adalah jajaran tembok tinggi yang membatasi wilayah Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel. Dengan kata lain, lawan berupaya memojokkan dirinya. 

Serangan berlangsung tangkas sekaligus mematikan, yang membuat Bintang Tenggara tak dapat berkutik. Ia hanya bisa menghindar, lalu melangkah mundur. Kemampuan lawan dalam memanfaatkan senjata unsur kesaktian kayu, adalah jauh lebih piawai daripada dirinya mengerahkan tempuling!

Sepasang gada menyapu mendatar dari kedua sisi, hendak menjepit tubuh sasaran. Bintang Tenggara melompat ke arah belakang, menendang tembok pembatas, lalu melontarkan diri ke arah lawan untuk masuk ke dalam wilayah sepuluh langkah. Bahkan, dirinya kini hanya terpaut jarak sekira lima langkah sahaja dari Balaputera Khandra.

Tindakan tersebut tentu ditanggapi oleh Balaputera Khandra dengan menarik sulur yang terhubung pada tangkai gada, sehingga senjata tersebut melesat balik sembari mengincar sisi belakang tubuh Bintang Tenggara. Kini, siapa yang lebih cepat, apakah tempuling terlebih dahulu menyarangkan serangan, ataukah gada yang menghantam punggungnya! 

Akan tetapi, berlawanan dengan perkiraan Balaputera Khandra, tatkala mendarat Bintang Tenggara tiada melesat maju untuk menikamkan tempuling. Ia justru melompat di tempat dalam gerakan salto ke belakang. Saat itu terjadi, sepasang gada melintas di bawah dan di saat itu pula ia menikamkan Tempuling Raja Naga! 

“Brak!” 

Salah satu gada yang terjalin dari sulur-sulur, ditikam tempuling nan tajam. Tempuling terus menancap masuk ke dalam tanah, mematikan gerakan gada tersebut. 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut! 

Setelah itu, dengan teleportasi jarak dekat, Bintang Tenggara tiba tepat di hadapan lawan. Tentu Balaputera Khandra sigap menghadang dengan satu gada yang tersisa. Oleh karena itu pula, tak hendak membuang kesempatan yang mungkin tak akan datang dua kali, Bintang Tenggara mengepalkan tinju erat-erat. Lima pukulan beruntun berkecepatan supersonik ia lepaskan ke arah satu gada yang menghadang di hadapan! 

Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak!

“Dab!” 

Tiada dentuman gelombang kejut yang membahana dan memekakkan telinga. Yang ada hanya suara sembab seolah menghantam busa nan basah. Sementara yang terlihat di hadapan, adalah jalinan formasi segel setengah transparan yang membangun wujud batok tempurung kura-kura besar setinggi tubuh manusia. Di baliknya, seorang lelaki dewasa muda sedang tersenyum, sembari mengangkat tinggi lengan kanan… yang menggenggam sebilah gada. 

“Duak!”

Bintang Tenggara berguling-guling di tanah. Pada detik-detik akhir, ia sempat melakukan teleportasi jarak dekat untuk melepaskan diri dari serangan. Akan tetapi, bahu kirinya terasa nyeri, karena sempat tergores hantaman gada. Segera ia bangkit berdiri, hanya untuk menyaksikan bahwa lawan sudah kembali memutar sepasang gada, serta ditemani oleh Segel Syailendra yang berwujud kura-kura. 

Bintang Tenggara hendak berteriak ‘curang’ ke arah lawan. Dirinya tiada dapat mengerahkan formasi segel, sedangkan Balaputera Khandra dengan mudahnya membangun pertahanan diri. Dengan kehadiran formasi Segel Syailendra: Kura-Kura, rasanya sulit untuk memenangkan pertarungan menghadapi lawan kali ini. Dia memiliki jangkauan serangan jarak menengah sekaligus pertahanan jarak dekat. Hampir mustahil!

Sebagai tambahan, kini bola mata Bintang Tenggara melotot seperti hendak melompat keluar. Di saat mencermati jalinan formasi Segel Syailendra yang membangun wujud kura-kura itu, betapa ia menyaksikan sejumlah simbol yang tak dikenal. Bahkan, beberapa di antaranya baru saja ia saksikan saat terjatuh ke dalam formasi segel lorong dimensi ruang yang membawa kembali ke Perguruan Gunung Agung. 

Benak Bintang berputar keras. Mungkinkah ada simbol di dalam susunan formasi segel yang dapat meredam gelombang kejut, sehingga dampak dari Tinju Super Sakti dinistakan…? Jawaban dari pertanyaan ini demikian sulit dicerna. Tak ada yang tak mungkin di dalam dunia persilatan dan kesaktian. 

Mengenyampingkan kemungkinan tersebut, Murid Utama di Perguruan Gunung Agung lantas menghubungkan satu hal dengan hal lainnya. Bahwasanya, pertemuan dengan Balaputera Khandra kali ini pastilah bukan kebetulan belaka. Ralat: pertemuan dengan tokoh misterius itu tiada pernah sebuah kebetulan, bahkan tiap kali seolah sudah sangat terencana. Tak pelak lagi, hari ini si Guru Muda itu memang sudah menanti, bahkan kemungkinan mengetahui persis waktu ketibaan dirinya. Bagaimana mungkin!?

Telaah Bintang Tenggara sampai kepada satu kesimpulan. Ia kembali menudingkan jemari. “Apa hubunganmu dengan ayahandaku!?”

Balaputera Khandra acuh tak acuh. “Perbaiki tata kramamu, mungkin nanti diriku bersedia menjawab…” 

“Aku adalah junjunganmu! Aku adalah Yuvaraja, Putera Mahkota di Kemaharajaan Cahaya Gemilang!” geram Bintang Tenggara. 

“Lantas…? Apakah kita berada di Ibukota Minangga Tamwan…? Apakah sang Yuvaraja Putera Mahkota di Kemaharajaan Cahaya Gemilang tiada mengerti aturan tentang kedudukan kebangsawanan di dalam perguruan…?” cibir Balaputera Khandra. 

Bintang Tenggara baru hendak membuka mulut dan berkilah, namun kata-katanya dipotong… 

“Di Perguruan Gunung Agung, diriku adalah guru muda sedangkan dikau merupakan seorang murid. Titik.” Di saat berujar, tiga lagi formasi Segel Syailendra mengemuka. Masing-masing mengambil wujud seekor elang, seekor keledai, dan seekor marmut. 

Raut wajah Bintang Tenggara berubah kusut. Bukan disebabkan ia khawatir atau gentar atau pun kehabisan kata-kata, melainkan karena menyadari bahwa tindakan Balaputera Khandra sengaja untuk memamerkan kemampuan. Pada setiap binatang-binatang tersebut, terdapat berbagai bentuk simbol segel yang tiada dikenali. Terang-benderang, bahwasanya Balaputera Khandra memiliki kaitan dengan Balaputera Ragrawira. 

Tokoh yang semakin menjengkelkan!

“Apa yang terjadi di sini…?” Tetiba suara lelaki dewasa bergema, memecah ketegangan di antara kedua saudara sepupu.

Raut wajah Bintang Tenggara berubah sumringah karena cukup mengenali suara tersebut. Ia melontar pandang ke langit tinggi, dan mendapati dua sosok sedang melayang perkasa. Sosok yang baru saja melontar pertanyaan, dapat membantu dirinya membuka kedok dan siasat busuk Balaputera Khandra! 

“Salam hormat Maha Guru Keempat serta Sesepuh Ketujuh,” ujar Bintang Tenggara tatkala seorang lelaki dewasa dan seorang perempuan setengah baya mendarat. Ia membungkukkan tubuh, dan kedua bola matanya melirik ke arah Balaputera Khandra yang telah membatalkan keempat formasi Segel Syailendra. Bahkan jurus unsur kesaktian kayu Gada Soma telah terurai kembali menjadi sulur-sulur.

“Diriku baru saja tiba di Perguruan Gunung Agung… Akan tetapi, Guru Muda Khandra menghalang-halangi. Ia bahkan mencederai diriku…” Bintang Tenggara memegang bahu kiri, perihnya memang belum menghilang.

Maha Guru Keempat dan Sesepuh Ketujuh menoleh kepada Guru Muda Khandra. 

“Terlebih lagi…,” lanjut Bintang Tenggara. “Guru Muda Khandra tak lain adalah seorang pelarian dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang.”

Maha Guru Keempat tersenyum. “Maksudmu Balaputera Khandra…? Kuyakin tindakan Guru Muda Khandra menguji kemampuanmu sangat beralasan. Sebagai seorang murid, sepantasnya dikau berbesar hati disambut dan memperoleh tunjuk ajar langsung dari seorang guru muda yang cemerlang, yang tak lama lagi kemungkinan besar akan naik jabatan sebagai seorang maha guru.”

“Apa… tapi… dia… maha guru…” Bintang Tenggara terbata-bata. Ia tak percaya bahwa jati diri Balaputera Khandra sudah diketahui umum, namun tak ada yang berbuat apa-apa. Bahkan, perguruan akan menaikkan jabatannya!? 

“Murid Bintang,” sela Sesepuh Ketujuh. “Apakah itu di dalam kotak hitam…?”

Bintang Tenggara menenangkan diri. Ia tentu menyadari bahwa pertanyaan Sesepuh Ketujuh merupakan pertanyaan retorik. Perempuan setengah baya itu pastilah sudah mengetahui isi kotak. 

“Bintang siluman kancil di dalamnya merupakan teman seperjalanan. Alasan diriku bergegas kembali, tak lain demi menyelamatkan dia.”

“Oh… Bilamana demikian, mari segera kita tangani,” undang Sesepuh Ketujuh. 

Hati dongkol, Bintang Tenggara meninggalkan Kejuruan Keterampilan Khusus, Bidang Segel di Kota Sanggar bersama-sama Maha Guru Keempat dan Sesepuh Ketujuh.

“Apakah gerangan yang terjadi, sampai tubuhnya menderita luka bakar nan demikian mengenaskan….?”

“Diriku tiada mengetahui pasti…,” sahut Bintang Tenggara. Walau, sesungguhnya ia dapat menebak kemungkinan kejadian yang mendera Si Kancil. Bermain-main di dekat meriam, mungkin. Namun, sulit menjelaskan perkara tersebut.   

Sesepuh Ketujuh menghela napas panjang. Bahkan peramu sekelas tokoh tersebut menghadapi tak dapat berbuat banyak. “Pertolongan pertama terhadap binatang siluman ini sangat baik, sehingga nyawanya dapat tertolong. Akan tetapi, sulit baginya untuk pulih seperti sedia kala…”

“Diriku mendapat informasi bahwa tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang dapat menyembuhkan luka bakar…”

“Lidah Buaya Bercabang…? Tumbuhan siluman itu teramat langka… Perguruan Gunung Agung tak memilikinya…”

“Hah!” Bintang Tenggara tiada menyangka bahwa perkara yang kelihatannya mudah, tetapi sebenarnya susah menyelesaikan.

“Hm… Perguruan Budi Daya di barat Pulau Jumawa Selatan kemungkinan besar memiliki persediaan Lidah Buaya Bercabang.”

“Apakah kita dapat membelinya…?”

“Tentu tidak. Perguruan Budi Daya bukanlah gerai jual beli.”

“Lalu, bagaimanakah caranya memperoleh tumbuhan siluman tersebut dari mereka.”

“Perguruan Budi Daya terdepan dalam mendidik murid dengan keterampilan khusus sebagai peramu dan murid dengan kesaktian unsur tanah. Karena tradisi hubungan baik, setiap tahun kita melakukan kegiatan pertukaran murid dengan mereka.” 

“Pertukaran murid…?” Sorot mata Bintang Tenggara berbinar. 

“Saling mengirimkan murid untuk menjalani pendidikan singkat. Selain bertujuan menjaga hubungan baik, kegiatan ini juga demi menyetarakan pengetahuan di antara murid-murid di kedua perguruan.” 

“Lantas, apa hubungan kegiatan pertukaran murid dengan tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang…?”

“Setiap tahunnya, Perguruan Budi Daya menyelenggarakan kejuaraan meramu di kalangan murid-muridnya. Pemenang pada kejuaraan tersebut, berhak mengambil satu barang dari Balai Ramuan mereka.” 

“Satu barang apa saja tanpa terkecuali…?”

Sesepuh Ketujuh mengangguk.

“Jadi, bila mengikuti kegiatan pertukaran murid, maka murid dari Perguruan Gunung Agung pun berhak mengikuti kejuaraan meramu…?”

“Benar.” 

Semangat menggebu, Bintang Tenggara bangkit penuh percaya diri. “Apakah syarat untuk menjadi peserta kegiatan pertukaran murid…?” 



Cuap-cuap:

Selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri 1440 H. Mohon maaf lahir dan batin.

Ahli Karang beserta keluarga akan berangkat mudik. Oleh karena itu, Legenda Lamafa akan kembali pada Senin, 10 Juni 2019.