Episode 342 - Mudra Bhumiparsa


Seorang ahli melompat dari satu lorong dimensi ruang, ke lorong dimensi berikutnya. Menghilang lalu muncul di tempat yang berbeda, kemudian menghilang lagi. Jarak seolah tiada berarti, ratusan kilometer ia tempuh dalam waktu yang sangatlah singkat. Di belakang, seorang ahli lain menempel ketat. 

Pada akhirnya, kedua ahli tiba di sebuah dimensi ruang yang terik dan hanya berisi hamparan pasir seluas mata memandang. Sebuah gurun. Pertarungan pun tak terelakkan, di mana keduanya segera teribat dalam tukar-menukar serangan.

Dada sesak, tubuh bersimbah peluh. Kendatipun demikian, selama pertukaran berlangsung tak satu pun serangan yang berhasil mendarat di tubuh lawan. Sebaliknya, sejumlah luka-luka terlihat mengalirkan cairan kental dan merah di bahu, rusuk dan paha. Walaupun luka-luka tersebut tiada menggores dalam, namun rasa perih mengiris-iris harga diri nan demikian tinggi. 

Berada pada Kasta Bumi: Tamtama, rupanya belum cukup bagi Balaputera Tarukma untuk menghadapi lawan kali ini. Secara usia, ia jauh lebih matang dan telah menghabiskan waktu yang panjang dalam menempa diri di Perguruan Svarnadwipa. Tiada hari dilalui tanpa upaya membangun pemahaman, merumuskan penafsiran, lalu meraih pencerahan. Akan tetapi, mengapa ia tertinggal demikian jauh dari Balaputera Ragrawira yang pergi berkelana entah ke mana dan tiada jelas juntrungannya…?

Menatap dalam ke arah lawan, benak sang Datu Tua Kadatuan Kesatu meninjau kembali pertarungan yang ia jalani kali ini, di mana kegetiran perlahan merasuk ke relung hati sanubari. Sebagai seorang ahli yang telah puas memakan asam dan garam dunia persilatan dan kesaktian, ia mendapati bahwasanya kata-kata meremehkan Balaputera Ragrawira di awal pertarungan bukanlah isapan jempol belaka. Bahkan dalam keadaan puncak sekalipun, dirinya bukanlah lawan yang setimpal untuk menghadapi sang kemenakan. 

“Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa! Segel Syailendra: Perisai Svarnadwipa!” 

Kendatipun demikian, tiada kata menyerah. Kemenan tak mutlak didasarkan pada besaran wadah penampunan tenaga dalam maupun jurus-jurus. Kemenangan seringkali ditentukan oleh kegigihan tekad, serta keberuntungan nasib. Berbekal pedang raksasa di lengan kanan dan perisai raksasa di lengan kiri, gagah berani Balaputera Tarukma merangsek maju ibarat prajurit yang siap mempertaruhkan jiwa dan raga di medan peperangan. Di saat yang bersamaan pula, ia menebar belasan formasi segel bundar dan besar. Letaknya terlihat acak dan berserakan di udara, namun sedemikian rupa sehingga mengelilingi Balaputera Ragrawira. 

Di lain sisi, tubuh Balaputera Ragrawira pun bersimbah peluh dan napasnya terengah. Stamina merupakan sesuatu yang tak ia miliki dalam jumlah berlimpah. Tokoh yang satu ini senantiasa kelelahan akibat terus berkegiatan dan sehingga kurang istirahat. Tugas yang ia pikul seorang diri demikian membebani, bahkan merawat penampilan saja ia lalai. Kendatipun demikian, pakaian lusuh mirip jubah seadanya yang compang-camping tiada menampilkan noda darah. Suami Mayang Tenggara itu menghela napas panjang, lantas mempersiapkan diri. 

“Segel Syailendra: Belati Svarnadwipa!”

Ratusan, bahkan mungkin ribuan, formasi segel yang berwujud belati-belati kecil beterbangan mengelilingi dirinya ibarat pusaran angin puting beliung. Terdapat beberapa simbol pembentuk belati yang tiada dikenali, namun peran simbol-simbol tersebut dalam menambah kecepatan segenap belati terpampang jelas. 

Bila ditelisik lebih mendalam, maka selama pertarungan Balaputera Ragrawira memanfaatkan ciri khas merapal formasi segel ala Kadatuan Kesatu. Pedang Svarnadwipa biasa dikerahkan oleh Balaputera Tarukma yang menjadi lawan, sedangkan Belati Svarnadwipa merupakan andalan Balaputera Sukma, sang ibunda. Dengan kata lain, belum sekalipun Balaputera Ragrawira memanfaatkan ciri khas merapal formasi Segel Syailendra bergaya Kadatuan Kesembilan, yaitu formasi segel nan berwujud binatang. 

Balaputera Tarukma menusukkan pedang raksasa ke salah satu formasi segel di hadapan. Sebagaimana diketahui, masing-masing formasi segel yang berserakan merupakan lorong dimensi ruang untuk membawa ujungnya pedang mencuat keluar pada salah satu formasi segel yang mengelilingi lawan. Sebuah tindakan mengelabui yang membuat lawan kesulitan menebak arah kedatangan serangan. Teknik ini merupakan gaya bertarung yang lazim diterapkan oleh para ahli perapal segel dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang dan cukup mematikan. 

Akan tetapi, menghadapi Balaputera Ragrawira yang merupakan sesama ahli dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang dengan cara yang sedemikian, apakah merupakan tindakan yang bijak…?  

Rangkaian kejadian berikutnya membutuhkan waktu untuk dilukiskan menggunakan kata-kata, namun pada kejadian sesungguhnya berlangsung sangat cepat. Hanya dalam beberapa kedipan mata sahaja! 

Balaputera Ragrawira menanggapi siasat lawan dengan menyebar sejumlah belati ke hadapan belasan formasi segel dimensi ruang yang mengelilingi dirinya. Dengan cara ini, ia dapat mendeteksi kemunculan pedang raksasa dengan mudah. Akan tetapi, tak satu pun formasi segel yang mengeluarkan ujung pedang, sementara di hadapan sana Balaputera Tarukma sendiri telah masuk ke dalam lorong dimensi ruang. Dengan kata lain, pada detik-detik akhir ia membatalkan Pedang Swarnadwipa demi membuat antisipasi lawan menjadi sia-sia. Kemudian, dari salah lorong dimensi ruang di dekat Balaputera Ragrawira ia muncul dengan memajang Perisai Swarnadwipa. Pedang tersebut dengan mudahnya mendorong belati-belati yang ada di antara dirinya dengan sasaran. 

Meski terhadang, ratusan belati mengubah arah dengan berputar mengelilingi perisai agar supaya dapat menyayat lawan di baliknya. Tiada dinyana, tubuh Balaputera Tarukma telah melesat masuk ke dalam lorong dimensi lain. Ia lantas muncul di sisi Balaputera Ragrawira yang kini tanpa perlindungan belati, dan dengan gagahnya menebaskan Pedang Svarnadwipa! 

Satu lagi Perisai Svarnadwipa mengemuka, dan merupakan langkah Balaputera Ragrawira untuk menahan siasat berlapis Balaputera Tarukma dalam melancarkan serangan. Gelegar suara berdentang di tengah gurun, ketika formasi segel berwujud pedang menebas perisai. Ayahanda dari Balaputera Lintara dan Balaputera Gara terdorong mundur, namun alur serangan lawan dapat dipatahkan dengan mudahnya.

Balaputera Tarukma melesat mundur, menjaga jarak, karena ketika serangan yang dilancarkan tak membuahkan hasil, maka puluhan belati sigap mengincar dirinya kini tanpa perlindungan. Pada tahap ini, lelaki setengah baya itu menyadari bahwa kecerdasan Balaputera Ragrawira di dalam pertarungan setidaknya setara dengan Raja Angkara Durjana, Kweiya Siangga! Sebuah kenyataan pahit yang harus ditelan mentah-mentah. 

Oleh sebab itu, kali ini Balaputera Tarukma terpaksa menahan diri. Serangan biasa tak menemui sasaran, sedangkan serangan beruntun diatasi dengan mudahnya. Ia memperlebar jarak, mencari kesempatan untuk merumuskan serangan sembari mempersiapkan diri. 

Terpisah jarak, Balaputera Ragrawira menghela napas panjang. Awalnya ia berupaya menghindar, namun memang pertarungan di antara mereka tiada terhindarkan. Putra bungsu dari Balaputera Dharanindra dan Balaputera Sukma itu lantas berujar pelan, “Ayahanda Sulung, maafkanlah tindakan yang akan diriku ambil berikut ini…” 

Usai berujar, Balaputera Ragrawira memejamkan kedua mata. Ia lalu menekuk lengan kiri sejajar pusar dan membuka telapak tangan ke arah atas. Di saat yang bersaman, tangan kanannya, menelungkup di depan paha kanan. 

“Kamulan Bhumisambhara: Mudra Bhumiparsa!” 

Seketika itu terjadi, formasi segel dengan simbol dan pola yang tak lazim merangkai dan melatarbelakangi tubuh Balaputera Ragrawira. Formasi segel tersebut kemudian merangkai dan mengambil wujud arca tokoh mulia yang ukuran besarnya sekira lima kali lipat tubuh manusia biasa. Demikian megah serta berwibawa dan bercahaya keemasan, arca tersebut dalam posisi duduk bersila teratai sempurna. Ia menerapkan mudra (sikap tangan) Bhumiparsa sebagaimana yang diperagakan oleh Balaputera Ragrawira. 

Jikalau para ahli baca nan budiman menelisik kembali pada struktur bangunan suci Kamulan Bhumisambara, dan mencermati secara seksama, maka sesuai Pradakshina (gerakan mengelilingi searah jarum jam dimulai dari sisi timur) terdapat enam jenis arca dalam posisi mudra. Mudra pertama, Bhumiparsa memperlambangkan pemanggilan bumi sebagai saksi yang bertujuan untuk menghancurkan kemarahan dan kebencian. 

Oleh karena itu, langkah yang kini diambil oleh Balaputera Ragrawira mencerminkan betapa ia telah mencapai pencerahan nan lebih mendalam dari puing-puing bangunan suci Kamulan Bhumisambara yang melayang tinggi di atas lapisan langit ibukota Minangga Tamwan. Pada tahap ini, Kamulan Bhumisambhara tak hanya merupakan perwujudan dari pertahanan Segel Darah Syailendra. Pada tahap lanjutan, Kamulan Bhumisambara mengandung makna yang lebih mendalam terkait jalan keahlian, dan dengan sendirinya dapat melahirkan berbagai teknik. 

Balaputera Tarukma terperangah. Ia mengenal Mudra Bhumiparsa sebagai salah satu dari enam mudra melalui kitab-kitab kuno di Perguruan Svarnadwipa. Tiada pernah terbayangkan selama hidupnya akan berdiri di hadapan arca tokoh nan mulia. Tubuh serasa menciut dan menjadi kerdil, semangat bertarung sirna, dan segenap tenaga seolah menguap. Betapa ia sadari kini, bahwasanya dalam hal membangun pemahaman, merumuskan penafsiran dan meraih pencerahan, sungguh dirinya tertinggal jauh. Teramat jauh. 

Menggeretakkan gigi, Balaputera Tarukma kemudian menghentakkan tenaga dalam, yang diiringi dengan ledakan menggelegar. Butiran pasir beterbangan tinggi seolah badai gurun sedang berlangsung. Tak sampai di situ saja, ia lantas menghantamkan telapak tangan berkali-kali tepat di ulu hatinya sendiri. Sebagai akibatnya tindakan-tindakan tersebut, mustika tenaga dalam Kasta Bumi terkuras habis, membuat tubuh tanpa tenaga dalam limbung dan jatuh bersamaan dengan pasir-pasir kembali ke permukaan gurun. Bertumpu pada satu lulut, beberapa kali pula ia memuntahkan darah! 

“Jikalau engkau hendak menyegel paksa kasta keahlianku sebagaimana yang engkau lakukan terhadap putra pertamamu, maka lebih baik aku mati di sini, hari ini juga!” Harga diri Balaputera Tarukma masih terlalu tinggi. Harga dirinya menolak untuk tubuh diperlakukan dengan semena-mena!

Balaputera Ragrawira membuka mata dan membatalkan sikap tangan. Arca tokoh mulia yang besar, megah serta berwibawa yang tersusun dari formasi segel di balik tubuhnya terurai lalu sirna perlahan. Bukan karena ia tak hendak mengerahkan kemampuan, namun sesungguhnya ia tak dapat menyegel kasta keahlian di mana keadaan mustika tenaga dalam yang sedang kosong. 

Terlepas dari perbedaan kemampuan di antara mereka, naluri Balaputra Tarukma mengisyaratkan bahwa tindakan melemahkan diri sendiri merupakan langkah paling tepat dalam menghadapi kemampuan yang akan dikerahkan lawan. Meskipun demikian, Balaputra Tarukma menyadari bahwa risiko yang dihadapi saat ini teramat besar. Hanya dengan pukulan sekenanya saja, maka Balaputera Ragrawira dapat mencabut nyawanya semudah membalikkan telapak tangan. 

Mengamati lawan dengan penuh perhatian, Balaputera Ragrawira lalu berujar, “Aku tidak percaya pada sebuah takdir yang didapatkan manusia bagaimanapun mereka berlaku, tapi aku percaya pada sebuah takdir yang didapatkan manusia dengan bertindak.”* Lelaki dewasa yang mengenakan pakaian lusuh, kotor dan compang-camping, serta dengan jambang dan kumis lebat tiada tertata, memuji tindakan yang diambil pamannya itu. Kemudian, ia memutar tubuh dan melangkah pergi. 

“Wira! Hendak ke mana engkau!? Selesaikan apa yang telah engkau mulai!” Napas terengah, api kebencian bergelora pada sorot matanya. Balaputera Tarukma berteriak dengan sepenuh hati dan jiwa, “Bunuh aku!”

“Dari keinginan timbul kesedihan, dari keinginan timbul ketakutan; bagi orang yang telah bebas dari keinginan, tiada lagi kesedihan maupun ketakutan.”* Lagi-lagi Balaputera Tarukma mengutip kata-kata bijak saat berujar. 

“Bunuh aku! Atau aku bersumpah akan membalas penghinaan ini suatu hari nanti! Ke mana pun engkau pergi akan kucari! Akan kucabut nyawamu, nyawa seluruh keturunanmu, karibmu, semuanya!” 

“Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di manapun juga, dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya.”*


Catatan:

(*) Kutipan kata-kata bijak Sidharta Gautama. 

Mudra Bhumiparsa (Dhyani Buddha Aksobhya), terletak di relung pagar langkan (serambi) empat baris pertama Rupadhatu sisi timur candi Borobudur.