Episode 92 - Perpisahan Yang Terpaksa


Pagi baru saja tiba, matahari yang baru terbangun dari lelapnya tersenyum manis saat menyapa bumi untuk pertama kalinya hari itu. Warna merah berbaur jingga di langit timur tampak indah, ayam-ayam jago masih berkokok-kokok laksana bersaing dalam kelantangan suaranya, anak-anak ayam terdengar berciap-ciap untuk selanjutnya berlindung dibalik sayap induknya demi mendapatkan kehangatan, burung-burung pun masih asyik bercengkrama di dahan-dahan menunggu kian hangatnya pagi sebelum mereka terbang mencari makan.

Surosowan terlihat tenang seperti hari-hari biasanya, pasar-pasar mulai menunjukan geliatnya setelah para pedagang mulai menggelar dagangannya dan para pembeli mulai berdatangan untuk mencari apa yang mereka butuhkan. Jalan-jalan mulai dipenuhi warga yang hilir mudik, begitupun di pelabuhan Banten yang tak pernah sepi pengunjung, para buruh kapal seolah selalu sibuk untuk bongkar muat atau sebaliknya mengisi perbekalan kapal-kapal yang berlabuh di sana.

Di pasar Surosowan, tampak Sekar yang sedang berbelanja untuk kebutuhan memasak di Katumenggungan Jaya Laksana. Gadis bertubuh tinggi semampai, berambut hitam lurus panjang sepunggung, berkulit putih, dan berwajah manis khas wanita Pasundan yang sedang sibuk tawar-menawar dengan pedagang di sana. Sedang ia asyik berbelanja seperti itu, tiba-tiba terdengar pekikan-pekikan, “Hidup Banten! Allahuakbar!” pekikan puja dan puji terhadap Banten juga Sultan serta takbir tiba-tiba menggema di seantero kota Surosowan, tak lama kemudian ia melihat prajurit-prajurit Banten yang terluka pulang berdatangan ke Surosowan.

Dengan penuh penasaran ia segera menghampiri seorang prajurit yang baru pulang tersebut. “Maaf Ki Dulur, apakah kita memenangkan peperangan?”

“Betul Neng, kita menang besar! Kita berhasil menundukan Pajaran, dan wilayah Kotaraja Pakuan kini menjadi wilayah kekuasaan Banten!” jawab Sang Prajurit.

“Apakah Kanjeng Tumenggung Jaya Laksana serta Perwiranya Raden Indrapaksi selamat?”

“Kami tidak tahu keadaan terakhir mereka, tapi sewaktu kami tinggalkan, Kanjeng Tumenggung dan Raden Indrapaksi masih selamat, mereka masih ikut bersama Gusti Sultan menggempur Keraton Pakuan… Mari…” si prajurit itupun meninggalkan Sekar, adik seperguruan Jaya ini pun segera pulang ke rumah Jaya Laksana.

Di rumah Jaya, Sekar pun menceritakan kabar yang ia dengar di pasar barusan pada Galuh, “Ada apa Sekar?”

“Banyak prajurit kita yang terluka pulang terlebih dulu.”

“Ada berita dari Pajajaran?”

“Sebagian dari mereka sudah pulang, saya melihat mereka didekat pasar, katanya Banten berhasil memenagkan peperangan dengan telak, riwayat kerajaan Pajajaran sudah berakhir…”

“Kamu tidak Tanya bagaimana nasib Kakang Tumenggung dan Indrapaksi?”

“Sudah Teh, tapi katanya mereka tidak tahu…” jawab Sekar dengan wajah yang menyiratkan kekahwatiran yang teramat sangat.

Galuh menatap sahabatnya itu, ia lalu duduk disebelah Sekar sambil tersenyum kecil. “Tidak tahu itu, bukan berarti Kakang Tumenggung dan Indrapaksi kenapa-kenapa, bisa jadi mereka memang tidak tahu… Mungkin prajurit yang bertemu denganmu bukan dari kesatuan Katumenggungan Jaya Laksana ini, kan banyak kesatuan-kesatuan prajurit yang lain.”

“Mereka bilang medan tempurnya sangat luas karena Kota Pakuan juga sangat luas, jauh lebih luas daripada Rajamandala, mungkin Kakang Tumenggung dan Indrapaksi berada di tempat lain.” lanjut Galuh.

“Mudah-mudahan… Karena saya khawatir sekali… Terus terang Teh, saya bingung kalau ternyata Kakang Indrapaksi mau melamar saya.” desah Sekar.

Galuh tertawa kecil sambil menaikan alisnya. “Bingung? Bingung kenapa? Apalagi yang dibingungkan? Kalau memang kamu benar-benar mencintai dia, apa salahnya langsung menerima?”

“Saya takut Teh…”

“Takut kenapa?”

“Saya takut karena nasib seolah selalu memusuhi saya, dulu kedua orang tuaku tewas oleh tentara Mega Mendung pada jaman Prabu Kertapati karena mereka tidak mampu membayar pajak, beruntung saya ditemukan oleh Kyai Guru dan Nyai Guru sehingga diajak menjadi murid di padepokan Sirna Raga. Lalu pada masa remaja, pria yang saya cintai, Kakang Dharmadipa tidak pernah menyambut perasaan saya, ia malah terus mengejar-ngejar Putri Mega Sari sampai ia menikah dan akhirnya terbunuh oleh ayah mertuanya sendiri. Dan terakhir, Kyai Guru yang sudah saya anggap sebagai ayah kandung sendiri, tewas oleh mayat hidup Kakang Dharmadipa… Sementara sekarang, Kakang Indrapaksi seorang prajurit, artinya selalu dekat dengan maut, nyanyian maut seolah akrab dengannya, saya tidak mau kejadian yang lalu terulang lagi…”

Galuh menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil, kemudian menunjuk seorang pembantu tua yang sedang menumbuk padi. “Suami Emak Endang adalah seorang petani tulen, lha kok bisa mati ya? Si Emak ditinggal mati waktu itu muda.”

“Dibunuh orang?”

 “Ya bukan, kan Teteh sudah bilang kalau suami Si Emak itu seorang petani, matinya yak arena meriang biasa, muntah-muntah dan mencret, terus mati… Sekar, yang namanya mati itu kehendaknya Gusti Allah, sebagai mahluknya kita bisa apa? Apakah seorang pelaut pasti akan mati karena tenggelam diterjang gelombang? Belum tentu toh? Bisa saja ia mati karena jatuh dari pohon kelapa didaratan. 

Biar jadi prajurit, kalau memang belum waktunya dipanggil Gusti Allah ya tidak akan ada anak panah ataupu ujung senjata lainnya yang akan menembus tubuhnya, tapi biar dia seorang pengangguran, kalau memang sudah waktunya habis, ya pasti akan berpulang ke sisiNYA dengan berbagai cara, bisa karena sakit, atau bisa kesamber petir saat dia berada di tengah sawah.”

“Lalu bagaimana mulanya Teteh bertemu dengan Kang Jaya sampai akhirnya bisa menikah?” tanya Sekar dengan amat penasaran bagaimana Galuh bisa mendapatkan cinta pria idaman para wanita di padepokan Sirna Raga, karena iatahu betul dulu Jaya juga amat tergila-gila pada Mega Sari.

Galuh tertawa kecil, kemudian wanita hitam manis yang sedang hamil tua ini mendekap gadis berkulit putih yang duduk disisinya. “Ceritanya sangat aneh Sekar, dulu saat pertama kali bertemu kami berada dalam paham yang bersebrangan, dan sebagai seorang pendekar kami sangat teguh mempertahankan paham kami sehingga saya beberapa kali bentrok dengan Kang Jaya, dan entah bagaimana ceritanya tiba-tiba guru memaksa saya untuk berjodoh dengan Jaya yang mulanya saya anggap sebagai musuh, sungguh aneh ketika saya merasakan benih-benih cinta perlahan-lahan tumbuh subur di hati saya, dan ajaibnya seiring waktu berlalu tiba-tiba kami menikah dan sekarang mejadi sepasang suami istri!”

***

 Pada waktu yang sama disebuah gubug di tengah hutan kaki gunung Masigit, suara cuitan burung sirit Uncuing yang parau terus bergema ke seantero hutan tersebut, Ki Silah yang sedang membelah kayu bakar langsung menghampiri Emak Inah yang sedang memasak nasi didalam gubug begitu mendengar suara cuitan urung pembawa maut tersebut, mereka berdua langsung diserang rasa gelisah yang teramat sangat!

Mereka berdua langsung berlari menghampiri Dharma Laksana, bayi putera kedua Mega Sari yang sedang tertidur lelap. Sambil terus melihat keatas, Emak Inah langsung menggendong bayi tersebut sementara Ki Silah segera mengambil sapu lidi sanggah sukma. “Aku tidak rela kalau Dedemit itu mencelakai Dharma!” tegas Emak Inah.

“Betul Emak, kita harus pergi dari sini, rupanya Jin jahanam itu sudah tahu persembunyian kita.” sahut Ki Silah sambil memasang sikap waspada.

Emak Inah mengangguk lemas, seketika itu air matanya langsung lolos dari kedua matanya tatkala ia teringat pada Mega Sari. “Betul Abah… Maaf Gusti, kami terpaksa harus meninggalkan Gusti sendirian, Dharma harus diselamatkan!”

Ki Silah pun segera mengambil barang-barang yang sekiranya diperlukan dan mengemasinya kedalam satu buntelan, setelah selesai, pasangan tua ini segera melangkah keluar gubug, beberapa langkah kemudia, mereka berbalik dan menatap gubug yang baru saja mereka tinggalkan, air mata sepasang suami istri ini mengalir deras menatap gubug tersebut. “Selamat tinggal Gusti…” lirih Emak Inah.

Ki SIlah pun mendekap istrinya. “Mudah-mudahan kita masih bisa bertemu Gusti, mudah-mudahan kamu bisa bertemu lagi dengan permata hatimu ini suatu saat nanti… Kami berjanji akan membesarkannya dengan baik…”

“Mau ke mana kita Abah?” Tanya Emak Inah sambil terus sesegukan menahan tangisnya.

“Kita ke arah timur saja, kita akan menuju ke Sumedanglarang, aku khawatir kalau ke Banten akan banyak orang-orang Mega Mendung yang mengenali kita!” jawab Ki Silah, mereka pun melangkahkan kakinya menuju ke arah timur dengan terus berurai air mata.

***

Di perjalanan pulang menuju ke Suroswan, Jaya Laksana nampak sedang mengobrol dengan Indrapaksi sambil menunggangi kudanya masing-masing. “Indra bagaimana dengan lukamu?”

“Saya masih merasakan sakit dan sesak didada saya kalau saya banyak bergerak Raden, tapi saya sudah merasa baikan berkat pertolongan Raden dan obat dari Tabib Wong.”

“Sayapun masih merasakan sesak didada, belum pernah saya menghadapi musuh yang sesakti Si Iblis Jubah Hitam itu selain Topeng Setan dulu.”

“Benar Raden, saya tidak menyangka bahwa Pajajaran dapat menyewa seorang pendekar dari golongan hitam yang amat sakti seperti itu, dan kita terpaksa harus menghadapinya di tengah peperangan.”

“Ya, saya tidak mengira akan berhadapan dengan musuh seperti dia yang justru mempunyai urusan dendam kepada saya di tengah peperangan… Sebaiknya nanti ketika pulang, kamu langsung berobat ke Tabib Wong.”

“Baik Raden.”

“Oya, bagaimana rencanamu selanjutnya dengan Sekar?”

“Saya masih memikirkannya Raden… Saya masih merasa seolah Sekar terpaksa menerima cinta saya karena kagok pada Raden dan sebegai penawar sepi hatinya, bukankah kata orang kalau pernikahan itu harus didasari oleh perasaan cinta yang tulus?”

“Indra, banyak sekali rumah tangga yang dibangun pada mulanya saling mengenalpun tidak, tapi jadi pasangan yang rukun sampai kakek-kakek dan nenek-nenek, sampai maut memisahkan mereka. Saya sendiri pun mengalaminya, pertemuan saya dengan Galuh bisa dibilang sangat aneh, kami bertemu sebagai pihak yang saling bersebrangan paham dan bahkan sempat beberapa kali bentrok, dan tidak tahu bagaimana tiba-tiba rasa cinta di antara kami terus berkembang bersemi sampai kami bisa menikah menjadi sepasang suami-istri.”

“Ya… Mudah-mudahan apa yang Raden katakan itu benar, karena saya sangat mencintai dia.” Angguk Indrapaksi mengamini pendapat Jaya, karena ia tahu betul bagaimana kisah perkawinan Jaya dengan Galuh, selain sudah menjadi rahasia umum bahwa dulu Jaya pernah jatuh cinta pada adik kandungnya sendiri, Putri ega Sari.

“Dan Satu hal lagi, kalau kamu benar-benar mencintai Sekar, cintailah dia apa adanya, jangan terlalu banyak menuntut dari dirinya, karena itulah awal dari pertengkaran rumah tangga… Kalau memang Sekar mau menerimamu, saya akan senang sekali.”

“Maaf Raden, bukankah saat ini Sekar adalah yatim piatu dan tidak memiliki saudara laki-laki? Dan di antara semua saudara seperguruannya Radenlah Kakak seperguruan laki-lakinya yang paling tua, artinya meskipun masih ada Nyai Mantili sebagai gurunya namun Radenlah yang menjadi wali dari Sekar… Jadi kemungkinan saya akan melamar Sekar kepada Raden.”

Jaya seolah baru tersadarkan akan hal tersebut, setelah beberapa saat ia pun mengangguk. “Selagi Sekar mau menerima cintamu, saya setuju saja… Sekar memang sudah kuanggap sebagai adik saya sendiri, maka apapun untuk kebahagiaan Sekar saya setuju.”

***

Ki Silah dan Emak Inah yang membawa Dharma Laksana telah menginjakan kakinya Disebuah desa di perbatasan Sumedanglarang, desa itu cukup ramai tidak seperti desa-desa di wilayah Mega Mendung yang telah kosong ditinggalkan penduduknya. “Abah, persediaan pisang untuk Dharma sudah sedikit, sebaiknya kita beli di pasar ini dulu.” usul Emak Inah ketika mereka melewati pasar di desa tersebut.

“Baik Emak, tapi jangan sampai menarik perhatian, banyak orang yang melihat kita, saya khawatir ada orang-orang dari Mega Mendung yang mengungsi kemari.” jawab Ki Silah yang memang banyak orang di pasar itu yang menatap sepasang suami-istri tua yang menggendong seorang bayi tersebut, tentu saja apabila dilihat dari segi usia, Ki Silah dan Emak Inah sudah tidak mungkin untuk mempunyai seorang bayi lagi.

 Mereka lalu menghampiri satu kios yang menjual buah-buahan, “Pisangnya satu sisir Ceu.” ujar Emak Inah pada si ibu penjual buah-buahan tersebut.

“Har Biangna kamana Ni? Kok beli pisangnya sama Kakek Neneknya?” Tanya si penjual penasaran. (Har = Lho. Biang Na Kamana = Ibunya Ke mana).

“Biangnya sedang sakit Ceu, Bapanya sedang pergi berdagang ke kota.” jawab Emak Inah.

“Oh… Kelihatannya Aki dan Nini bukan orang sini ya?”

“Iya, kami baru pindah Ceu, tadinya tinggal di Sindang Kasih.” jawab Ki Silah sambil membayarkan sejumlah uang pada si Ibu penjual buah. (Sindang Kasih = Majalengka).

“Hatur nuhun.” ucap si Ibu.

“Sami-sami, oya apakah Eceu tahu tempat yang menjual susu sapi matang? Anu… susu Biang anak ini tidak keluar.” sahut Ki Silah. 

“Oh karunya teuing si Asep teh, itu ada di ujung pasar ini.” tunjuk si ibu penjual. (Karunya Teuing = Kasihan Sekali).

Kemudian mereka pun menuju ke tempat penjual susu sapi yang ditunjukan oleh si Ibu penjual buah-buahan, setelah membeli susu satu bumbung bambu kecil, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka terus ke arah timur, menuju ke Sumedanglarang.

***

Sementara itu, Mega Sari dan gurunya telah sampai di gubugnya yang telah ditinggalkan oleh Ki Silah dan Emak Inah yang membawa putranya yang masih bayi, Mega Sari pun memanggil-manggil Ki Silah dan Emak Inah.

“Abah?! Emak?! Anah?! Emak?” panggilnya, namun tidak ada yang menyahut, ia pun mencari-cari kedalam gubug dan kesekitar gubugnya. Ia pun menjadi panic karena mendapati Dharma tidak ada berada di sana.

Saat sedang gelisah mencari, tiba-tiba terdengar suara cuitan seekor burung sirit uncuing, ia pun menjadi panik dan menghampiri Nyai Lakbok yang sedang duduk didalam gubugnya. “Kenapa Mega?”

“Burung Sirit Uncuing guru!”

“Kenapa dengan burung sirit uncuing itu?”

“Jangan-jangan… Dharma… Burung itu jelmaan Kakang Dharmadipa guru! Dan Emak Abah… Dan…” ucap Mega Sari dengan panik.

Mega Sari lalu berlari keluar dari gubugnya lagi, ia lalu celingukan melihat-lihat keatas cabang-cabang pohon disekitar gubugnya, lalu matanya menangkap seekor burung sirit uncuing hitam terbang melintas diatas gubugnya, ia pun berteriak. “Kakang Dharmadipa! Jangan ganggu Dharma Kang! Dia anak kita! Anak kita!”

Tapi burung sirit uncuing hitam itu tetap terbang berputar-putar diatas gubugnya lalu meninggalkan tempat itu sambil terus bercuit-cuit parau yang sangat mengerikan kedengarannya, Mega Sari pun tertunduk lesu, saat itulah Nyai Lakbok keluar dan menepuk bahunya.

“Dia bukan Dharmadipa Mega! Dia jelmaan Jin Bagaspati! Ingat, suamimu sudah lama mati, ia tewas satu tahun yang lalu oleh ayahmu sendiri di padang rumput dekat Rajamandala!” tegas Nyai Lakbok memperingatkan muridnya.

“Iya… Dia bisa mencelakakan Dharma Guru!”

“Dia bisa membunuh siapa saja! Aku melihat sendiri, dia sudah kembali liar! Seperti sebelum kujinakan!”

“Apa yang harus aku lakukan guru? Saya tidak mau kehilangan satu-satunya anak saya! Dia satu-satunya permata hatiku setelah semua yang aku miliki lenyap!”

“Kita cari sampai ketemu! Kalau jasad suamimu kita bisa hancurkan dan kita kembalikan Jin Bagaspati ke alam gaib di padang kegelapan, saya yakin Jin Bagaspati tidak akan bisa membuat onar lagi!” tandas Nyai Lakbok.

***



Wening galih nu dipamrih, jembar manah rasa nu diseja, hapunten samudaya kalepatan lahir-bathin, wilujeng Boboran 1439 Hijiriyah. Penulis mohon maaf lahir dan bathin atas segala kesalahan yg disengaja ataupun yg tidak disengaja, yang membuat para pembaca merasa kurang nyaman. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijiriyah bagi anda yang merayakannya. 

Salam hangat dan terimakasih banyak untuk sahabat pembaca semua yg sudah bersedia meluangkan waktunya untuk mengikuti Kisah Wasiat Iblis ini… Semoga dapat menghibur dan bermanfaat bagi sahabat semua... Btw minggu depan Wasiat Iblis akan libur lagi karena penulisnya mau mudik, salam :)