Episode 91 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (4)



Kejut Iblis Jubah Hitam bukan alang kepalang. Sabetan angin panas keris tak sanggup diterobos oleh pukulan-pukulan yang dilancarkannya. Sebaliknya angin keris itu memerihkan mata serta kulitnya. Dan ditambah pula oleh suara angin deras mengaung macam jeritan ribuan setan yang memekanan telinga membuat gerakan-gerakannya kacau balau!

Dengan penasaran dan kalap, dalam jarak sedekat itu Iblis Jubah Hitam lepaskan pukulan “Dewa Topan Mengamuk”. Tapi cepat-cepat dia tarik pulang tangan kanannya karena jurus sabetan keris bernama “Kilat Membelah Mega” yang dilancarkan oleh Pendekar Dari Lembah Akhirat hampir saja membuat tangan kanannya terbabat putus!

Telah dua kali Iblis Jubah Hitam tukar ilmu silatnya namun tetap saja dia kena didesak! Tubuhnya telah mandi keringat dingin. Tiba-tiba dengan licik manusia muka setan ini menyelundup ke belakang tubuh Pendekar Dari Lembah Akhirat dan dari belakang ini lancarkan satu serangan maut yang ganas! Tapi Jaya sudah lebih dahulu rasakan datangnya angin serangan yang dingin di punggungnya. Dengan lancarkan pukulan “Pusaran Ombak Menghentak Samudera” Jaya balikkan badan dan menerjang lawannya, angin topan prahara dari pukulan Jaya pun menerjang dahsyat seolah deburan ombak di Samudera yang ganas!

Iblis Jubah Hitam tak mengira lawannya akan mengetahui posisinya dan bisa menyerang secepat itu. Dengan gugup dia mengelak, pukulan jaya lewat ke sampingnya, sebuah rumah penduduk yang telah kosong hancur luluh lantak terkena pukulan dahsyat tersebut!

Jaya susul dengan jurus “Kilat Membelah Samudera” yang tak asing lagi. Kaki kirinya membabat ke pinggang lawan. Iblis Jubah hitam masih bisa berkelit tapi serangan yang lebih ganas tak dapat dihindarkannya yaitu serangan keris yang laksana anak panah melesat menyambar ke arah batang lehernya!

Craas! Darah memancur. Tubuh Iblis Jubah Hitam roboh ke bumi. Kepalanya yang wajahnya kembali menjadi wajah manusia aslinya dari yang tadinya berwajah setan menggelinding mengerikan! Semua prajurit Pajajaran menjadi gempar! Pendekar Sakti dari golongan hitam sewaan mereka yang menjadi tumpuan harapan mereka untuk melumpuhkan Tumenggung Jaya Laksana telah tewas dengan mengenaskan! Teriakan akan kematiannya pun menggema ke mana-mana, mereka yang tadinya sudah bisa mulai maju merangsek kekuatan Banten di sayap kiri, sekarang semakin terdesak dan terus mundur kebelakang ke arah keraton.

Jaya Laksana langsung duduk bersila untuk mengatur nafasnya, cepat ia telan dua butir pil pemberian Tabib Wong, ia lalu menyalurkan tenaga dalamnya dan hawa sakti dari keris dan cincin pusakanya ke seluruh bagian tubuhnya yang terasa sakit. Sekitar lima menit kemudian, ketika sakit di tubuhnya dirasa sudah berkurang, ia bangkit dan menyarungkan keris pusaka Kyai Segara Geni ke warangkanya yang ia selipkan di pinggangnya, kemudian ia langsung menolong Indrapaksi dengan menotok beberapa bagian tubuhnya dan memberinya tiga butir pil buatan Tabib Wong, setelah itu ia menyalurkan tenaga dalamnya ke punggung perwira kepercayaannnya itu.

“Kamu tidak apa-apa Indra?” tanya Jaya sambil menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Indrapaksi untuk mengalirkan tenaga dalam serta hawa murninya.

“Saya tidak apa-apa Raden…” jawab Indra Paksi sembari mengatur pernapasannya, beberapa saat kemudian ia berhasil memuntahkan darah beku yang didorong keluar oleh Jaya.

“Tapi saya merasa sangat heran, mengapa pihak Pajajaran sampai menyewa tokoh golongan hitam seperti si Iblis Jubah Hitam? Saya dengar Prabu Surya Kancana adalah raja yang arif dan berpegang teguh pada agamanya.” tanya Jaya sambil menatap mayat si Iblis yang tewas dengan amat mengenaskan.

“Menurut saya, kalau melihat keadaan Pajajaran saat ini tidaklah mengherankan Raden, mereka sudah nyaris runtuh. Kalau diibaratkan orang yang hampir tenggelam, mereka akan meraih apa saja untuk berpegangan agar mereka tidak tenggelam…” tanggap Indrapaksi.

“Ya… Kamu mungkin benar Indra…” sahut Jaya.

Setelah Indrapaksi mulai pulih, ia pun bangkit dan mencabut keris pusakanya, sementara Jaya memungut sebilah pedang dan mereka berdua kembali memimpin pasukannya menyerbu pasukan Pajajaran yang terus bergerak mundur ke arah keraton Pakuan.

Di sayap kanan, sisi timur Kota Pakuan, Pasukan di bawah pimpinan Tumenggung Braja Paksi berhasil menghancurkan pertahanan pasukan Pajajaran di timur Kota, bersama dengan Pasukan di sayap Barat yang dipimpin oleh Jaya Laksana, mereka bagaikan dua capit kepiting raksasa menggempur pasukan Pajajaran di alun-alun Kota yang sudah mengepung pasukan utama Banten di bawah pimpinan Sultan, pasukan Pajajaran sangat terkejut mendapati bokongan dari kedua sisi sayap tersebut, maka kocar-kacirlah mereka.

Ki Patih Waja Kersa pun berteriak memberi Komando. “Mundur! Mundur!” Sontak seluruh pasukan Pajajaran pun berlarian memasuki Keraton Pakuan, bahkan karena takut Pasukan Banten dapat menyusul masuk kedalam Keraton, dengan panik mereka langsung menutup pintu Keraton meskipun masih banyak pasukan Pajajaran yang tertinggal diluar Keraton yang menjadi santapan empuk ujung senjata pasukan Banten.

Pasukan Pajajaran pun melakukan serangan putus asa, dari atas benteng tembok istana, mereka menghujani panah dan melemparkan tombaknya ke bawah, hanya sedikit pasukan Banten yang menjadi korban serangan putus asa tersebut, sebaliknya banyak Pasukan Pajajaran yang tewas terbunuh oleh tembakan-tembakan bedil dan meriam dari Pasukan Banten!

Prabu Suryakencanda yang mendengar keributan serta laporan kekalahan prajuritnya melangkah keluar dari Balai Pengahdapan Agung, dengan nanar ia menatap ke arah pintu gerbang utama dimana para prajurit Pajajaran berusaha mati-matian untuk menahan pintu Gerbang dan memadamkan api agar pintu gerbang utama istana itu tidak jebol. Ki Patih Waja Kersa dan para pejabat lainnya segera berlari menghampiri Sang Prabu.

“Itu yang saya takutkan dari orang-orang Banten, akal mereka panjang dan cerdik! Selain menang jumlah pasukan dan unggul persenjataan, taktik mereka juga sangat jitu bisa memukul mundur inti pasukan kita hanya dalam waktu kurang dari semalam!” ujar Sang Prabu.

Baru saja Sang Prabu menutup mulutnya, mendadak terjadilah peristiwa alam yang sangat mengejutkan, tak hanya bagi segenap kekuatan Pajajaran, tapi segenap kekuatan Banten pula. Tanah yang mereka pijak bergoyang-goyang, pepohonan berguncang hebat, bangunan keraton Pakuan berderak dan runtuh di beberapa bagian, kepanikan pun melanda dua kubu yang sedang berperang tersebut, seluruh prajurit dari kedua kubu berlarian ke tempat yang lapang karena takut tertimpa oleh bangunan-bangunan maupun pohon-pohon yang roboh.

Kegemparan kian hebat saat badai keras bertiup, pepohonan bergoyang hebat dan banyak yang roboh tertempa badai dahsyat yang aneh tersebut, suasana di kedua kubu kian mencekam, kian tertekan ketakutan. Alam seperti kian menumpahkan kemarahannya, Langit malam yang tadinya cerah berbintang dengan bulan purnama berubah muram menjadi sangat hitam, gumpalan awan-awan kelabu memenuhi langit. Mengiriskan hati bagi siapapun yang melihatnya.

Tiba-tiba… Beledarrrr!!!!!!! Gunung Galunggung dan Gunung Salak Meletus berbarengan! Di Kutaraja Pakuan yang dekat dengan Gunung Salak, terlihat leleran berwarna merah menyala, lahar panas! Amatlah mengerikan lahar yang terus menuruni lereng dan bergerak cepat ke arah selatan, ke desa-desa disekitar Pakuan, beruntunglah Kota Pakuan yang berada di dataran tinggi sehingga terhindar dari lahar maut tersebut!

Sultan Banten sejenak mengendapkan rasa terkejutnya. Segera didapatnya siasat untuk menggetarkan nyali pasukan Pajajaran. Dikerahkannya seluruh tenaga dalamnya dan berteriaklah ia kuat-kuat. “Wahai Prajurit Banten, ayo segera maju! Maju! Letusan Gunung Salak adalah pertanda bahwa kekuasaan Pajajaran akan segera berakhir! Eyang Sri Baduga Maharaja sudah merestui Banten sebagai penerus Pajajaran! Ayo serbu! Amuk!”

Didalam Keraton, begitu Gunung Salak bersamaan kedua gunung lainnya meletus, Prabu Suryakencana jatuh terlentang, mahkota diatas kepalanya terlepas! Ki Patih serta pejabat lainnya segera membantu Sang Prabu untuk bangun. “Ini pertanda bahwa masa Pajajaran telah berakhir, dan masa yang baru akan hadir di Bumi Pasundan ini…”

“Akan tetapi hamba dan mungkin para sesepuh tidak setuju kalau masa baru itu akan dipimpin oleh kerajaan Banten! Mereka dengan pongahnya menyerbu dan menginjak-nginjak tanah leluhurnya di Pakuan ini!” sahut Ki Patih Waja Kersa.

“Kita tidak bisa mengelak dari ketentuan yang telah digariskan Sang Murbeng Alam, Pajajaran akan hilang namun suatu saat akan muncul kembali… Kini matahari baru akan bersinar di tanah Pasundan, namun begitu aku pun tidak ikhlas apabila Matahari baru itu adalah Banten, yang diisi dan dipimpin oleh orang-orang pendosa yang berani menyerbu tanah leluhur mereka sendiri!” jawab Sang Prabu.

“Bukankah matahari baru itu akan bersinar di Sumedanglarang karena Mahkota Binokasih dan seluruh pusaka kita sudah kita berikan pada mereka?” tanya Ki Patih.

Prabu Suryakencana menggelengkan kepalanya perlahan. “Sumedanglarang memang akan menjadi Matahari namun hanya sebentar saja, Matahari itu baru saja terbit tetapi akan langsung tenggelam lagi, mereka akan mengalami masa kejayaan namun itu hanya sebentar saja, kejayaan mereka akan berakhir oleh sebab seorang perempuan yang berasal dari Wetan… Tak lama kemudian mereka akan dikalahkan oleh orang-orang Wetan keturunan Majapahit… 

Orang-orang Wetan keturunan Majapahit itu akan menguasai sebagian tanah Pasundan sebelah timur, sedangkan sebagian lagi di sebelah barat akan dikuasai oleh Banten sampai pada saat datangnya orang-orang bertubuh tinggi besar seperti kerbau dan berambut merah seperti jagung yang akan menguasai seluruh tanah Pasundan dan Nusantara ini… Maka dari itu aku yang tua ini akan mengalah, aku akan mundur ke Kabuyutan Pandeglang dan menyepi serta menutup diri di sana, namun aku akan tetap menjalankan ajaran Eyang Prabu Sri Baduga Maharaja… Kalian yang bertekad untuk tetap mempertahankan ajaran Sri Baduga Maharaja silakan ikut aku ke Kabuyutan Pandeglang…” (Orang-Orang Wetan Keturunan Majapahit yang dimaksud adalah Kesultanan Mataram)

Sontak semua orang yang ada di sana pun menangis karena terharu mendengar ucapan Sang Prabu, dan sejenak melupakan apa yang sedang mereka alami. “Namun aku mempunyai dua pesan untuk kalian yang mengaku sebagai keturunan Sri Baduga Maharaja, keturunan Sang Niskala Wastu Kencana, keturunan Pajajaran… Apapun kepercayaan yang kalian pilih, tegakanlah aturan-aturan yang terdapat didalam kitab Siksakanda Ng Karesian* yang berisi ajaran-ajaran hidup urang Sunda yang ditulis oleh Eyang Sri Baduga Maharaja! 

Dan satu lagi, jangan pernah kalian menundukan kepala kalian pada orang-orang Banten maupun orang-orang Sumedanglarang dan Cirebon, jangan tundukan kepala kalian kepada para menak dan pangreh karena mereka tidak ada yang pantas menjadi penerus Pajajaran! Bagi siapa saja yang melanggar niscaya akan terkena Bilahi seumur hidupnya juga anak keturunannya!” (Kitab Petunjuk Hidup Orang Sunda yang ditulis oleh Sri Baduga Maharaja)

Maka Sang Prabu beserta istri-istrinya dan anak-anaknya, lalu seluruh penduduk Pakuan dan pejabat memutuskan untuk mundur dan melarikan diri untuk mendirikan pedukuhan baru di Kabuyutan Pandeglang, “Kakang Patih kau tidak mau ikut denganku?” Tanya Sang Prabu.

“Maafkan hamba Gusti, hamba dan seluruh sisa prajurit Pajajaran berkewajiban untuk menjaga keraton ini sampai titik darah penghabisan, Silakan Gusti Prabu beserta yang lainnnya mengungsi dan mendirikan pedukuhan baru di Kabuyutan Pandeglang, hamba akan memerintahkan lima ratus prajurit Balamati Raja untuk mengawal rombongan!”

Sang Prabu beserta rombongan yang dikawal oleh lima ratus pasukan Balamati itu menggunakan pakaian rakyat biasa meninggalkan keraton Pakuan melalui jalan rahasia yang terdapat di penjara Bawah tanah, jalan itu langsung tembus kesebuah hutan larangan di luar Kota Pakuan untuk selanjutnya terus berjalan tanpa henti menuju Kabuyutan Pandeglang. 

Kelak mereka akan hidup tertutup, menutup diri dari dunia luar, demi menjaga kemurnian ajaran Sri Baduga Maharaja dalam Kitab Siksakanda Ng Karesian yang berisi ajaran-ajaran hidup serta aturan-aturan hukum Urang Sunda Buhun. 

Berakhirlah riwayat kerajaan Pajajaran dengan sempalan. ”Pajajaran sirna ing ekadasa suklapaksa wesakamasa sewu limang atus punjul siki ikang sakakala” (Pajajaran lenyap pada tanggal 11 bagian terang bulan wesaka tahun 1501 saka). Tanggal tersebut bertepatan dengan 8 Mei 1579 M, Prabu Ragamulya Suryakencana pun tidak pernah menggunakan gelar “Prabu” lagi, selanjutnya gelar yang ia gunakan adalah “Pucuk Umum” yang artinya pemimpin umat.

***

Di dalam sebuah hutan lebat di antara Gunung Manglayang dan Gunung Masigit, Mega Sari dan Nyai Lakbok menghentikan perjalanan mereka ketika mendegar suara letusan dahsyat dan bumi yang mereka pijak bergetar hebat! Hujan abu pun turun seiring dengan hawa yang terasa sangat panas menggarang hampir seantero tanah Pasundan.

“Suara apa itu Guru? Dan mengapa udaranya panas sekali?” Tanya Mega Sari dengan ketakutan.

Nyai Lakbok memejamkan matanya sebentar untuk melihat lewat mata bathinnya. “Ada tiga gunung yang meletus berbarengan! Gunung Krakatau, Gunung Galunggung, dan Gunung Salak! Kalau ketiga gunung itu meletus berarti akan ada apa-apa!”

“Pertanda apakah itu Guru?”

“Peralihan kekuasaan… Perubahan Jaman… Kelihatannya Negeri Pajajaran sudah berakhir riwayatnya! Cahaya Wahyu kedatonnnya terbang terbelah menjadi dua, yang satu ke barat, yang satu ke timur…”

“Ke barat? Yah… Bumi Banten yang sekarang kian mencorong Guru…”

“Saya tidak suka pada keturunan Sunan Gunung Jati itu! Mereka selalu memusuhi orang-orang seperti saya! Jangan-jangan kalau negrinya maju, mereka akan menghancurkan golongan kita! Yang jelas mereka berbeda dengan orang-orang Pajajaran yang menghormati orang-orang dari golongan kita!” (Golongan Dukun-dukun dan orang-orang yang Ngiwa atau Penganut Ilmu Hitam, yg tidak sesuai dengan agama arus utama kebanyakan)

Nyai Lakbok lalu menatap ke arah utara dengan mata melotot tajam seolah menembus sampai ke Pakuan, “Sudahlah, sampai zaman bagaimanapun, orang-orang dari golongan kita akan selalu ada hingga kiamat nanti, meskipun akan selalu dimusuhi oleh orang-orang kebanyakan! Ayo kita teruskan perjalanan kita! Masih jauh tempatmu?”

“Kita akan mendaki satu bukit lagi di sana Guru.” jawab Mega Sari, mereka pun meneruskan perjalanan mereka menembus gelapnya malam di hutan belantara yang lebat serta masih perawan tersebut.

*** 

Pasukan Banten berhasil mendobrak pintu gerbang Keraton Pakuan, dengan mudah mereka menguasai setiap jengkal keraton Pakuan, Ki Patih Waja Kersa yang mempertahankan Balai Penghadapan Agung sendirian pun tewas setelah duel satu lawan satu dengan Sultan Banten. Bertepatan dengan waktunya berkumandang adzan Shubuh, seluruh keraton Pakuan resmi dikuasai oleh pasukan Banten.

Seluruh hasil jarahan pun dikumpulkan di tengah Balai Penghadapan Agung, Sultan pun duduk diatas singgasana Pajajaran yang berupa batu hitam yang lebar dan licin (Watu Gilang) yang bernama Palangka Sriman Sriwacana, yakni kursi Singgasana tempat penobatan raja baru, namun Sultan harus kecewa karena hampir semua benda pusaka Pajajaran termasuk Mahkota Binokasih, Kujang Emas, dan Keris Kyai Macan Putih tidak ditemukan.

“Mohon maaf Gusti Sultan, kami tidak berhasil menemukan Mahkota Binokasih, Kujang Emas, dan Keris Macan Putih!” lapor Senopati Tubasu Gempong.

Sultan terperangah mendengar laporan tersebut.“Kenapa kalian tidak bisa menemukannya?” tanya Sultan dengan penuh penekanan.

“Menurut pengakuan seorang prajurit Pajajaran yang menyerah, hampir seluruh pusaka itu dilarikan oleh para Kandaga Lante di bawah pimpinan Embah Jaya Perkosa ke Sumedanglarang…” lapor Ki Jungju.

“Kurang Ajar!” maki Sultan, tangan kanannya memukul sebuah tiang hingga tiang itu roboh. “Ragamulya Suryakencana benar-benar seorang raja yang tidak tahu adat! Sudah kabur melarikan diri, ia juga mengabaikan adat bahwa negeri yang kalah harus menyerahkan harta benda pusakanya pada pemenang! Kalian semua saksikanlah, bahwa kelak anak cucu Pajajaran dari Ragamulya Suryakencana tidak akan bisa menjadi ningrat ataupun pangreh Negara! Itu semua karena mereka tidak tahu peradatan dan tata krama!” serunya menggema ke seluruh keraton Pakuan.

Ada dua simbol kekuasaan raja pajajaran sehingga diakui sebagai penguasa pajajaran sesungguhnya, yaitu tempat duduk ketika pengangkatan seorang raja, berbentuk batu, yang dinamakan Palangka Sriman dan yang kedua adalah mahkota raja. Sultan Maulana Yusuf karena masih merupakan cicit dari Maharaja Sri Jayadewata alias Sri Baduga Maharaja merasa berhak atas lambang tahta tersebut, sehingga ia kemudian memboyong atau membawa Palangka Sriman Sri Wacana ke Banten Surasowan, tetapi ia tidak berhasil merebut mahkota sebagai lambang sah kerajaan pajajaran.

Dengan berhasilnya menduduki ibukota pakuan, Sultan Maulanan Yusuf kemudian memboyong benda-benda yang menjadi simbol kemaharajaan Sunda ke Banten, termasuk singgasana penobatan maharaja Sunda, Palangka Sriman Sriwacana. Dengan diboyongnya Palangka Sriman ini menandai berakhirnya kemaharajaan Sunda dan berakhirnya zaman Pajajaran (1482-1579 M).

Palangka Sriman, yang merupakan simbol tempat duduk kala seorang raja dinobatkan, kemudian di boyong dari Pakuan ke Surasowan Banten oleh Sultan Maulana Yusuf. Batu berukuran 200 x 160 x 20 cm diboyong ke Banten karena tradisi politik Sunda waktu itu mengharuskan demikian. Karena, pertama, dengan dirampasnya Palangka tersebut, di Pakuan tidak mungkin lagi dinobatkan raja baru. Kedua, dengan memiliki palangka itu, Maulana Yusuf merupakan penerus kekuasaan Pajajaran yang sah, karena buyut perempuannya adalah putri Sri baduga Maharaja.

Tetapi Sultan Maulana Yusuf tidak bisa memboyong mahkota raja yang bernama “Mahkota Binokasih”, karena telah diselamatkan oleh 4 kesatria sunda yang disebut Kandaga Lante dan menyerahkannya kepada raja Sumedang larang. Mahkota ini diselamatkan oleh Embah Jaya Perkosa, Dipati Wiradijaya, Embah Nangenan, dan Senopati Pancar Buana, kemudian di serahkan ke penguasa Sumedang larang.

Sehingga dalam sejarah sesudahnya, Banten tidak pernah bisa menguasa seluruh tataran sunda, karena lambang kerajaan yang berupa mahkota, tidak mereka dapatkan. Dan justru setengah bekas wilayah Kerjaan Pajajaran disebelah timur dan tenggara, yang tidak dikuasai oleh Banten dan Cirebon jatuh ke kekuasaan kerajaan Sumedanglarang, meskipun kelak Sumedanglarang serta Cirebon dikuasai oleh Kesultanan Mataram dibawah pimpinan Sultan Agung Hanyakrakusuma.