Episode 72 - Tomas



“Sudah siap?” tanya Tomas dengan suara lantang.

“Siap!” balas Gerral dengan keras.

“Oke, silakan serang aku.” Tomas berkata dengan yakin.

Tanpa menunggu lama lagi, tubuh Gerral langsung bergerak dan dengan gerakan kaki yang cepat, jarak antara mereka berdua langsung dipangkas. Tomas tersenyum tipis seraya mengangguk kecil melihat kecepatan Gerral. Dia sangat bangga dengan adiknya tersebut.

Lalu sedetik kemudian sebuah kepalan tangan kanan Gerral langsung melayang menuju dada Tomas. Serangan itu tak membuat Tomas gentar, dia dengan santai maju selangkah dan menarik tangan Gerral, membuat serangan itu berlalu tanpa mengenai apapun.

Suara tepuk tangan terdengar dari arah kanan Gerral, dia segera menoleh ke arah suara itu. Namun, tidak menemukan apapun di sana. Lalu sedetik kemudian dari arah sebaliknya, terdengar suara Tomas.

“Kau ceroboh.” 

Dengan ringan, Tomas mendorong Gerral dengan kedua telapak tangannya. Dorongan itu terlihat biasa saja, seperti tidak banyak kekuatan yang Tomas gunakan, akan tetapi itu cukup untuk membuat Gerral terjatuh.

Dengan sigap Gerral langsung bangkit kembali dan memasang posisi menyerang.

Tanpa menunda sedetik pun, Gerral langsung maju dan mengirim pukulan beruntun. Namun, Tomas dapat dengan mudah menghindarinya seraya tersenyum kecil. Seperti serangan itu bukan sebauh masalah dan hanyalah permainan anak-anak.

Gerral merasa tertekan setelah semua serangannya belum menyentuh Tomas. Namun, di sisi lain dia juga merasa kagum dengan kakaknya tersebut, seperti yang dia harapkan dari orang yang paling dia banggakan, Tomas memang sangat hebat.

Gerral terengah-engah setelah melakukan serangan tinju beruntun, kemudian dia mundur beberapa langkah untuk mengatur napasnya. Namun, matanya tetap terfokus dan siap untuk bertarung. 

“Baiklah, sekarang giliran aku untuk menyerang.” Ucap Tomas seraya tersenyum tipis. 

Setelah mendengar apa yang Tomas katakan, Gerral langsung mengencangkan kepalan tangannya dan memusatkan fokusnya pada Tomas. Dia akan berusaha semaksimal mungkin meminimalkan serangan Tomas. 

Dengan langkah ringan, Tomas mulai berjalan menuju arah Gerral, akan tetapi tiba-tiba dia langsung berakselerasi cepat yang membuat Gerral segera panik dan mencoba mundur dan membuat jarak antara mereka berdua. 

Tapi, sayangnya Tomas sangat cepat, ketika mereka sudah berjarak dua meter, Tomas menendang tanah dan mengakibatkan debu-debu berterbangan dan memaksa Gerral untuk menutup matanya. Sedetik kemudian sebuah hembusan angin lembut menyapa wajah Gerral. Ketika dia membuka mata, sebuah kepalan tangan kini hanya berjarak 5 cm dari wajahnya.

“Kau kalah.” Ucap Tomas.

Gerral tersenyum dengan wajah yang pahit, “Kau benar, aku kalah.”

“Bagaimana, mau ronde lain?” 

“Tentu saja.” Jawab Gerral dengan pasti.

“Bagus.” Ucap Tomas seraya tersenyum.

Benar, begitulah seharusnya, tidak ada yang namanya pecundang, yang ada hanyalah orang yang terlalu takut untuk terluka. Karena tidak ada yang namanya pemenang sejati, yang ada hanyalah orang yang berusaha untuk menang. Karena kalah selalu menjadi pilihan lain ketika kau mulai bersaing dengan orang lain.

Kemudian Gerral dan Tomas terus berlatih bersama, yang selalu menjadi kemenangan pada pihak Tomas. Meskipun begitu, Gerral sama sekali tidak putus asa, dia sadar bahwa dia lebih lemah dari Tomas, jadi dia tahu bahwa sulit baginya untuk menang, akan tetapi selama kemungkinan itu masih ada, Gerral enggan untuk menyerah.

Langit mulai memudar, birunya telah berubah menjadi gelap. Sosok perkasa di langit telah berganti menjadi jutaan harapan yang menemani lembutnya cahaya purnama. Dua sosok pria tetap di sebuah halaman belakang rumah. Satu sosok masih berdiri dengan gagah, dia adalah Tomas, sedangkan itu di sisi lain satu sosok telah terkapar kehabisan napas, dia tentu saja Gerral.

“Baiklah, kita sudahi saja untuk hari ini, besok kita akan lanjutkan lagi, oke?” tanya Tomas.

“Oke, tentu saja.” Teriak Gerral dengan sisa tenaganya.

“Waktumu tidak lama lagi, turnamen akan segera dimulai, jadi kau harus menelan pil pahit ini agar mendapatkan hasil yang manis di hari nanti.” 

“Ya.” Gerral berkata dengan lemah, tapi tak ada rasa putus asa pada matanya.

“Yah, nikmati saja purnama ini, mungkin kau bisa mendapatkan semangat baru, seperti bintang yang tak pernah pudar meski tak seterang dia.” Ucap Tomas lalu berlalu pergi.

Dalam pikirannya, Gerral begumam, “Nah, sepertinya kau memang lebih berbakat pada sastra, Kak.”

Setelah mandi dan berpakaian, Tomas langsung menuju dapur dan makan dua buah apel, setelah itu dia kembali ke kamar dan bersiap untuk tidur. Tomas memandangi foto lama di dinding kamarnya. Foto itu diambil beberapa tahun yang lalu, di dalam foto itu ada empat orang, Tomas yang memegang piala juara, Gerral kecil yang mencoba merebut piala yang Tomas bawa, Ibunya yang mencoba menahan Gerral, dan yang terakhir adalah mendiang Ayahnya yang tertawa melihat tingkah keluarga kecilnya tersebut.

Momen yang membahagiakan untuk Tomas, sekaligus membawa kesedihan, karena tidak lama setelah hari itu, Ayahnya pergi untuk selamanya. Bagi Tomas, beliau bukan hanya sosok pemimpin dalam keluarga, tapi juga sosok sahabat yang tak pernah bosan mendengarkan keluh kesah Tomas, juga sosok guru yang mengajarkan segala hal untuk Tomas.

Pikiran Tomas mengenalan menuju hari itu, hari di mana mereka selalu berlatih bersama Ayahnya, meskipun latihannya sangat berat dan keras, bahkan sempat beberapa kali Tomas ingin berhenti. Namun, setiap kali itu juga Ayahnya memberikan motivasi kepada Tomas dan berhasil membangkitkan semangatnya kembali.

Setelah nostalgia sejenak, Tomas segera menarik selimut dan memejamkan matanya. Tidak lama kemudian, karena akumulasi rasa lelahnya selama latihan, Tomas berhasil tidur.

Namun, tiba-tiba saja Tomas tersadar, tapi dia tidak di kamarnya lagi, tapi di tengah sebuah arena berbentuk segiempat. Di sekelilingnya ada ribuan penonton yang berteriak dengan riuh. Tomas melihat ke seluruh sudut tempat dan sebuah nama muncul dalam benaknya, “Ini Kolosium?”

Tempat ini sama persis seperti yang biasa Tomas saksikan dalam film, tempat di mana para petarung terkuat akan saling bertarung dan hanya satu yang akan keluar dengan selamat, di mana yang lainnya akan menjadi batu loncatan bagi pemenang untuk menjadi lebih kuat lagi.

Kemudian, timbul satu pertanyaan dalam benak Tomas, kenapa dia bisa berada di sini? Apakah ini mimpi? Lalu, untuk membuktikan pikirannya tersebut Tomas dengan perlahan mencoba untuk mencubit tangannya, akan tetapi dia tidak merasakan sakit.

Ternyata ini hanya mimpi, itulah kesimpulan yang Tomas ambil.

Lalu Tomas kembali memperhatikan ke sekitar, kali ini dia tidak sendiri lagi di arena. Di hadapannya terdapat seorang pemuda dengan rambut pirang, dia bertelanjang dada seolah ingin memamerkannya. Di belakang tubuhnya Tomas bisa melihat sebuah sayap.

Apakah dia sedang cosplay?

Tomas memperhatikan pria di depannya, tapi tiba-tiba saja pria tersebut tersenyum dan sedetik kemudian sayap yang berada di punggungnya melebar, kali ini Tomas bisa melihat dengan jelas, itu benar-benar seperti sayap kelelawar. 

Dengan sayap di punggungnya, pria itu terbang cepat menuju arah Tomas seraya menarik kedua ujung bibirnya. Baru kali ini, Tomas merasakan perasaan menggigil karena sebuah seringai itu.

Tomas segera siaga, dia merasakan perasaan mengacam dari pria tersebut, seolah dia berniat untuk membunuhnya. Dan benar saja, tiba-tiba semua kuku di tangannya memanjang dan tampak seperti sebuah pedang tipis.

Pada awalnya pria itu terbang dengan lambat, akan tetapi tiba-tiba dia menambah kecepatannya dan membuat Tomas tidak siap. Pria itu menyerang Tomas dan membuat Tubuh bagian kanan hingga bahu atasnya tercabik-cabik dan daerah cabikan itu berubah menjadi bayangan hitam.

Semua penonton yang berada di sana berterika, gemuruh yang bersemangat setelah melihat Tomas di serang.

Tomas tidak merasakan sakit, tidak juga ada darah yang keluar setelah serangan itu mengenainya. Namun, melihat bagian tubuhnya menghilang dan berubah menjadi bayangan hitam membuatnya sangat takut.

Pria itu berbalik dan mencoba menyerang Tomas kembali. Namun, kali ini Tomas tidak akan membiarkan dirinya diserang begitu saja. Tomas memfokusnya matanya pada pria itu dan bersiaga penuh apabila pria itu mencoba tiba-tiba menambah kecepatan terbangnya.

Seperti sebelumnya, pria itu tiba-tiba saja menambah kecepatannya. Namun, kali ini Tomas telah siap. Tanpa ragu Tomas melemparkan kepalan tangannya ke arah pria tersebut, itu adalah tinju petir.

Namun, pria itu dengan cepat merubah momentum terbangnya dan menghindari pukulan tersebut seraya mencabik tubuh Tomas, membuat bayangan hitam kembali terlahir dari daerah yang terkena bayangan.

Sial! Sebenarnya apa yang terjadi.

Pria itu memutar tubuhnya dan kembali terbang menuju arah Tomas. Setelah jarak mereka cukup dekat, pria itu mencoba untuk menusuk perut Tomas dengan jari-jarinya yang panjang dan tajam. Kali ini Tomas tidak menghindar, dia membiarkan perutnya tertusuk. 

Namun, dia tidak akan sebodoh itu membiarkan dirinya diserang tanpa alasan, dia sengaja melakukan ini karena dia tahu bahwa meskipun dia diserang, akan tetapi dia tidak akan merasakan rasa sakit. 

Kemudian dengan cepat Tomas memegang bahu pria tersebut dengan tangan kirinya, tidak akan membiarkan dia segera pergi, di saat yang bersamaan kepalan tangannya sudah melayang menuju wajah pria tersebut.

Tinju Tomas mengenai wajah pria itu dan membuat dia mundur. 

Berhasil.

Namun, karena serangan itu, emosi pria tersebut tersulut, dengan cepat dia terbang menuju Tomas seraya menyerang dengan ganas. Kali ini Tomas bahkan tak bisa melihat pria tersebut, karean kecepatan terbangnya yang terlalu cepat.

Tapi, ada satu hal yang pasti, tubuhnya perlahan mulai menjadi bayangan hitam. Bahunya, kakinya, perutnya, bahkan saat ini hanya separuh wajahnya yang masih belum menjadi bayangan hitam.

Tomas merasa ngeri, akan tetapi dia tidak tahu harus melakukan apa. Jangankan melawan balik atau menghindar, Tomas bahkan tak bisa melihat pergerakan pria itu.

Di saat ini, Tomas kembali mengingat pada masa kecilnya, pada saat itu apapun yang terjadi, ketika Tomas merasa putus asa, akan selalu ada Ayahnya yang selalu ada untuk Tomas.

Tanpa sadar Tomas berterik, “AYAH!”

Setelah teriakan itu, tiba-tiba muncul sesosok pria gagah di depan Tomas, dengan lembut pria itu memeluk Tomas, setelah itu muncul sebuah cahaya yang melingkari mereka berdua dan melindungi mereka dari serangan.

Pria tadi berhenti, dia dengan pandangan tak acuh melihat lingkaran cahaya itu dan mengurungkan niat untuk menyerang lagi, karena itu tidak ada gunanya. Juga, pria itu telah berhasil mengambil alih kuasa tubuh Tomas.

Kini, meskipun wujudnya masih sama, dia bukanlah Tomas, melainkan Gop.