Episode 340 - Berpapasan



Terlepas dari pengaruh Supremasi Ilusi, Bintang Tenggara segera bangkit berdiri. Di saat yang hampir bersamaan pula, jalinan petir berderak di kedua belah kaki. Sorot matanya terpusat pada arah di mana kelebat bayangan menghilang di balik semak belukar, lantas secepat kilat ia mengejar!

“Sret!” 

Rumput tercabik dan gumpalan tanah berserakan ke arah depan tatkala anak remaja tersebut mengerem mendadak. Sekujur tubuhnya kaku. Bukan… bukan kaku dikarenakan pengaruh dari Supremasi Ilusi, melainkan ia terpaksa terdiam di tempat karena tekanan tenaga dalam nan demikian berat datang dari berbagai penjuru. Bukan hanya Bintang Tenggara yang dibuat tak berkutik, Kuau Kakimerah dan Puyuh Kakimerah pun sontak membungkuk. 

Adalah enam sosok ahli yang mengemuka dan dengan mudahnya menghentikan laju langkah Bintang Tenggara. Keenamnya merupakan tokoh-tokoh terkemuka nan digdaya dari rumpun-rumpun besar suku dayak. Setiap satu dari mereka adalah yang biasa disanjung dengan gelar Balian, serta merupakan anggota Dewan Dayak. 

“Kalian membuka lorong dimensi dunia Goa Awu-BaLang tanpa izin!” bentak Balian Bapuyu Huludaya, lelaki dewasa yang sebelumnya berperan sebagai ketua panitia upacara adat, yang mana pada detik-detik akhir kegiatan berlangsung malah berubah pikiran tentang tindakan mengorbankan banyak remaja suku. 

“Tindakan yang demikian tak bertanggung jawab dapat menimpakan bencana di seluruh pelosok negeri!” Suara lain berkumandang, namun tak terlihat sosok mana yang berkata-kata. 

Kuau Kakimerah dan Puyuh Kakimerah tercekat dan sontak bertumpu pada sebelah lutut. Bagi dua remaja suku dayak, berhadapan langsung dengan mereka para Balian anggota Dewan Dayak merupakan sesuatu yang mengerikan. Apalagi, secara terang-terangan, keduanya terbukti melakukan pelanggaran yang sangat berat!

“Mohon maaf, wahai para Balian nan terhormat…” Akan tetapi, tidak dengan Bintang Tenggara. Bagi anak remaja itu, tindakan Kuau Kakimerah dan Puyuh Kakimerah merupakan upaya menyelamatkan dirinya. Keduanya melakukan sebuah tindakan terpuji. 

“Simpan kata-katamu, anak muda!” bentak Balian Bapuyu Huludaya. “Pelanggaran, apa pun alasannya, tetap merupakan pelanggaran!”

Bintang Tenggara tersentak. Dari raut wajah dan kata-kata Balian Bapuyu Huludaya, dirinya menyadari bahwa sesungguhnya para anggota Dewan Dayak mengetahui akan niat baik kedua saudara sepupu Kakimerah itu. Akan tetapi, dalam pandangan mereka nyawa seorang anak remaja merupakan taruhan yang terlampau besar dibandingkan dengan bala bencana yang dapat mengemuka. Melakukan kesalahan sedikit saja tatkala membuka lorong dimensi antar dunia, maka ratusan bahkan ribuan binatang siluman serangga liar akan berhamburan keluar. Sekali lagi, risiko yang dipertarukan terlalu besar bila hanya hendak menyelamatkan seorang anak remaja! 

“Anak muda…,” Seorang lelaki setengah baya melayang ringan dan mendekat. “Bagaimana caranya dikau dapat bertahan hidup tak kurang dari tiga purnama di dalam dunia Goa Awu-BaLang…?” 

“Diriku ditampung oleh kaum siluman sempurna di Kerajaan Siluman Lebah Ledang.”

“Oh…?” Nada suara tak percaya diikuti suasana hening. Sudah barang tentu, keenam anggota Dewan Dayak nan terhormat sedang membahas kejadian pelik di antara mereka dengan menggunakan jalinan mata hati. Dalam pandangan mereka, cara berpakaian Bintang Tenggara, atasan lengan panjang disertai celana panjang serba hitam merupakan bukti nyata akan kebenaran kata-katanya. 

“Atas alasan apakah salah satu kekuatan siluman sempurna di dalam dunia Goa Awu-BaLang bersedia menerima kehadiranmu?”

Nah, atas pertanyaan ini, sulit bagi Bintang Tenggara bertutur jujur. Tak mungkin diutarakan bahwa dirinya merupakan calon mempelai lelaki dari Ibunda Ratu Lebah. Tapi, setidaknya ia memperoleh kesempatan di mana perhatian sedang tertuju kepada dirinya. Hukuman terhadap Kuau Kakimerah dan Puyuh Kakimerah dapat diulur-ulur barang sejenak. 

“Para siluman sempurna serangga tertarik pada unsur kesaktian,” ujarnya cepat. Di hadapan para ahli nan demikian digdaya, kebohongan dapat terbongkar dengan mudahnya. Oleh karena itu ia tak berani mengumbar cerita dusta, meski disadari bahwa ia menahan sedikit informasi. 

“Apakah hanya atas alasan tersebut…?” timpal lelaki setengah baya. 

“Adalah alasan tersebut yang diriku ketahui…”

“Ia menyembunyikan sesuatu…” Suara lain mengemuka, kali ini datangnya dari seorang perempuan setengah baya. “Sebelum dihentikan oleh Balian Bapuan Huludaya, ia hendak bergegas pergi…”

“Diriku hendak segera menyelamatkan jiwa binatang siluman yang sedang sekarat di dalam kotak…,” tanggap Bintang Tenggara dengan nada tergesa-gesa. 

Keenam Balian sedari awal mencermati gerak-gerik Bintang Tenggara dengan seksama. Tentu mereka tak melewatkan sesuatu yang demikian kentara dalam bentuk kotak hitam yang dipanggul di pundak anak remaja tersebut. Setiap satu dari mereka telah menebar mata hati ke arah kotak tersebut, dan dengan tingkat keahlian masing-masing dapat mencerna dengan jelas isi di dalamnya. 

Balian Bapuyu Huludaya, sebagaimana yang lainnya, menyadari benar bahwasanya binatang siluman kancil tak pernah masuk ke dalam dimensi dunia Goa Awu-BaLang. Bahkan, binatang siluman tersebut telah dihadiahkan kepada suku Dayak Kaki Merah atas pencapaian dua wakil mereka pada upacara adat. Lantas, pertanyaan yang tentunya mengemuka, adalah sejak kapan dan bagaimana binatang siluman tersebut masuk ke dalam dimensi dunia Goa Awu-BaLang…?

Sekian banyak misteri yang melingkupi anak remaja yang satu ini. Dimulai dari Rajah Roh Antang Bajela Bulau, kepiawaiannya dalam pertarungan, sampai dengan kejadian di hari ini… Siapakah sesungguhnya jati dirinya…?

“Binatang… Binatang siluman itu menyelinap masuk ke dalam dimensi dunia Goa Awu-BaLang satu purnama yang lalu…” Tetiba Kuau Kakimerah berujar cepat. “Saat diriku kembali…”

“Apakah benar…?” Kali ini pertanyaan Balian Bapuan Huludaya ditujukan kepada Puyuh Kakimerah. Diketahui bahwa anak remaja lelaki bertubuh mungil itu merupakan pemilik sah dari binatang siluman dimaksud. 

“Si Kancil melarikan diri dari pemukiman kami sekira satu purnama yang lalu… Tepat sebelum Kuau kembali…”

“Terlalu banyak kebohongan!” Seorang lelaki dewasa bertubuh kekar tanpa atasan, dengan berbagai jenis rajah yang tersemat pada permukaan kulitnya, mendarat berat. Tanah bergetar, menyiratkan kesan bahwa anggota Dewan Dayak yang satu ini hendak menyelidiki tidak melalui tanya jawab, melainkan dengan cara yang sedikit berbeda. 

“Sebaliknya… urutan kejadian sesuai dengan apa yang mereka paparkan.” Lelaki setengah baya mendarat tepat di hadapan lelaki dewasa bertubuh kekar. Dengan sendirinya, ia menghentikan langkah maju rekannya.

“Hmph!” Lelaki dewasa bertubuh kekar mendengus, menampilkan ketidakpuasan di hati. Ia meneruskan langkah, “Apapun kilah mereka, tak menutup kenyataan bahwa kedua bocah Kaki Merah itu membahayakan segenap penduduk Pulau Belantara Pusat. Membuka dimensi dunia Goa Awu-BaLang tanpa izin Dewan Dayak, merupakan pelanggaran berat. Atas pelanggaran tersebut, keduanya layak diganjar dengan hukuman mati!” 

Sesungguhnya apa yang dikatakan tokoh tersebut sangat sulit disanggah. Kuau Kakimerah beserta Puyuh Kakimerah tak memiliki pembelaan. Di saat yang sama pula, anggota Dewan Dayak yang lain pun tak dapat membantah kenyataan akan pelanggaran berat. Bahkan Balian Bapuyu Huludaya tiada memiliki dasar yang memadai untuk melakukan pembelaan atas nama kedua anak remaja tersebut. 

“Anak perempuan itu adalah satu-satunya keturunan Dayak Kaki Merah yang dapat membuka dimensi dunia Goa Awu-BaLang. Kita patut mempertimbangkan matang-matang ganjaran yang pantas atas kesalahan ini.” Kendatipun demikian, Balian Bapuan Huludaya tetap berupaya melontar pembelaan. Ia tak menyangkal akan hukuman, namun meminta agar anggota Dewan Dayak lain mengingat fakta bahwa keberadaan Kuau Kakimerah sangat penting bagi kelangsungan pertumbuhan generasi suku dayak secara keseluruhan. 

“Mereka masih muda belia,” lelaki setengah baya menimpali. “Hukuman kurungan seumur hidup bagi keduanya sudah cukup pantas.”

Lelaki bertubuh kekar melontar pandang kepada anggota Dewan Dayak yang lain. Sepertinya keputusan telah diambil. Lagi-lagi ia terpaksa menahan diri.

“Tidak!” terdengar suara menyanggah. “Mereka telah menyelamatkan jiwaku. Mereka tak pantas diganjar hukuman kurungan atau hukuman dalam bentuk apa pun!” 

“Lancang!” Lelaki bertubuh kekar menemukan tumbal untuk melampiaskan kekesalan. “Siapakah engkau yang merasa pantas diselamatkan!? Engkau bahkan bukan dari suku dayak! Engkau bukan siapa-siapa!” 

“Aku adalah Balaputera Gara, sang Yuvaraja dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang! Mereka telah menyelamatkan seorang Putra Mahkota! Kalian tahu apa yang akan dilakukan oleh segenap ahli di Kemaharajaan Cahaya Gemilang bilamana mendapati diriku celaka di Pulau Belantara Pusat!?”

“Omong kosong!” 

“Perang!” gertak Bintang Tenggara tiada gentar. Usai mengumbar jati diri, kini ia menebar ancaman. 

“Hm…” Lelaki setengah baya, yang mana terlihat paling tua lagi bijak di antara mereka, mencermati Bintang Tenggara dengan sangat, sangat seksama. Kedua matanya menyipit. “Diriku mengenal baik Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa… Sangat samar, namun bagaimana mungkin diriku tak menyadari sedari awal bahwa terdapat segel khas beliau yang melekat di ulu hati anak ini…?” 

Bintang Tenggara berdiri tegak. Memang pada kenyataannya terdapat berkas formasi segel milik Sri Paduka Maharaja Dapunta Hyang Balaputera Dewa yang melekat pada dirinya. Tiada patut dibanggakan, karena formasi segel tersebut merupakan formasi segel yang menyegel kemampuan merapal formasi segel. Akan tetapi, siapa menyangka bahwasanya petaka bisa berubah menjadi berkah.

“Jikalau demikian, diriku memohon undur diri untuk kembali ke Pulau Barisan Barat. Nanti akan datang utusan resmi dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang untuk memberikan imbalan yang pantas kepada Kuau Kakimerah dan Puyuh Kakimerah. Bilamana keduanya menerima hukuman kurungan, maka utusan resmi tersebut dipastikan tak akan senang.” 

“Kau tak berhak campur tangan dalam urusan suku dayak!” 

“Yang Mulia Yuvaraja,” lelaki setengah baya menyela. “Rekanku berkata benar. Hubungan antara Kemaharajaan Cahaya Gemilang dengan suku dayak selalu berlangsung baik. Oleh karena itu pula, sebaiknya kita tak mencampuri urusan dalam negeri satu sama lain.” 

“Wahai Balian yang terhormat,” Bintang Tenggara membungkukkan tubuh. “Atas hubungan baik itu pula, diriku meminta dengan amat sangat untuk mempertimbangkan hukuman yang pantas bagi Kuau Kakimerah dan Puyuh Kakimerah.”

Permintaan Bintang Tenggara ditanggapi dengan anggukan sang Balian. Anak remaja itu membungkukkan tubuh sekali lagi sebelum memutar langkah. Ia lantas mendatangi Kuau Kakimerah dan Puyuh Kakimerah yang kini sepenuhnya berlutut di hadapan Dewan Dayak. “Terima kasih. Sampaikan salamku kepada Mama’ Tiong dan Kepala Suku Enggang,” ujarnya sembari membantu mereka bangkit berdiri. 

Di tengah kejadian tersebut, rasa penasaran masih menghantui Bintang Tenggara. Oleh sebab itu, ia melangkah ke arah menghilangnya sosok bayangan yang menyelinap keluar dari dalam dimensi dunia Goa Awu-BaLang. Siapakah dia yang berhasil berkelit dari enam tokoh digdaya sekelas para anggota Dewan Dayak…?

“Tunggu…” Balian Bapuan Huludaya menghentikan langkah Bintang Tenggara. Ia melambaikan jemari tangan, dan menyingkap tutup kotak hitam di mana Si Kancil berada. Di saat yang bersamaan, jalinan akar menyeruak dari permukaan tanah. Kulit pada akar tersebut mengelupas dengan sendirinya, lantas membalut sekujur tubuh Si Kancil. “Cedera yang ia alami terlampau berat. Setidaknya akar-akar ini akan meredakan gejala sebelum dikau menemukan tabib.”


===


Bintang Tenggara tiba di Kota Seribu Sungai, satu dari beberapa kota di Pulau Belantara Pusat yang memiliki balai gerbang dimensi. Setelah menelusuri selama beberapa waktu, ia sama sekali tak menemukan jejak siapa pun itu penyusup yang melompat keluar dari celah lorong dimensi antar dunia. Mungkin hanya seekor binatang siluman serangga biasa, sehingga tak menarik perhatian Dewan Dayak. Kemungkinan kekhawatiran dirinya berlebihan sahaja. 

Sementara itu, keselamatan jiwa Si Kancil saat ini merupakan prioritas utama. Oleh sebab itu pula, tujuan berikutnya adalah Kota Taman Selatan di Pulau Dewa. Anak remaja itu hendak secepatnya mencapai Perguruan Gunung Agung, yang mana Balai Ramuan di sana terbilang lengkap. Pastilah tersedia tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang untuk diolah menjadi ramuan. 

Usai melakukan pembayaran gerbang dimensi, Bintang Tenggara melompat masuk menuju Pulau Dewa…

Mentari siang bersinar terik, angin menderu kencang, serta ombak laut menghempas karang sampai menimbulkan gelegar suara nan membahana. Bulir-bulir pasir berdesir tatkala Bintang Tenggara melompat keluar dan dalam lorong dimensi ruang dan mendarat. Sejauh mata memandang, hamparan pasir putih terbentang luas. Di sisi yang berlawanan, tebing tinggi tersusun dari bebatuan keras sebagai hasil karya ukiran alami nan ditempa oleh angin dan air laut. 

Anak remaja itu menghirup segarnya udara berkadar garam, suatu sensasi yang sangat dekat namun sudah cukup lama tak ia rasakan. Nikmat sungguh. Kendatipun demikian, kegelisahan sontak merasuk ke lubuk hati terdalam. Selintas pandang, anak remaja nan memanggul kotak hitam segera mengetahui bahwa dirinya telah tiba di wilayah Pulau Dewa, namun bukan di Kota Taman Selatan!

“Oh… tengok, tengok…,” terdengar suara memanggil. “Sudah sampainya dia Yang Mulia Yuvaraja…”

Dari balik batu karang nan besar, sejumlah ahli berpenampilan dewasa muda melompat ke bagian atas. Beberapa ahli lain merangsek di kedua sisi. Tak kurang dari sepuluh jumlah mereka, para ahli yang berada pada Kasta Perak tingkat menengah dan atas. Terlebih, mereka mengenal jati diri Bintang Tenggara sebagai Yuvaraja di Kemaharajaan Cahaya Gemilang.

“Bangga betul aku dapat bertemu muka dengan tokoh nan terhormat…”

Dari gaya bicara dan penampilan, tak sulit bagi Bintang Tenggara menebak jati diri mereka, yang tak lain adalah para serdadu bayaran dari Pulau Satu Garang di Partai Iblis. Kendatipun demikian, anak remaja itu tak mengenali satu pun dari mereka. Dengan kata lain, mereka bukanlah bawahan Kapten Sisinga dari Kompi 362!

“Cepat, kasih kabar kepada Yang Terhormat Jenderal Keempat!” Seorang di antara mereka lantas mengeluarkan sebentuk lencana dan menebar mata hati kepada lencana tersebut. 

Di saat yang bersamaan, raut wajah Bintang Tenggara berubah sedikit kecut. Ia mengingat betul bahwa adalah Jenderal Keempat yang sempat mengincar dirinya. Niat jenderal tersebut dihadang oleh Maha Guru Kesatu Sangara Santang, yang datang karena mendapat permintaan bantuan dari lencana Pasukan Telik Sandi. Akan tetapi, Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang yang ia ingat sebagai ayahanda angkat Kapten Sisinga, telah mangkat beberapa waktu lalu. 

Kemungkinan besar telah ada pengganti… Dengan kata lain, Jenderal Keempat yang baru, batin anak remaja itu. Akan tetapi, apakah gerangan tujuan mereka kali ini…?

“Kalian menyogok pengelola balai gerbang dimensi…,” cibir Bintang Tenggara. 

Bukan pengalaman pertama bagi anak remaja itu mendapati dirinya sengaja diarahkan oleh pengelola balai gerbang dimensi yang menerima suap. Ia pernah mengalami kejadian serupa, dan tentunya didalangi pula oleh Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang saat itu. 

“Kami hanya menjalankan perintah. Sebentar lagi Yang Terhormat Jenderal Keempat akan tiba. Sampai dengan saat itu, kami mohon agar Yang Mulia Yuvaraja jangan kemana-mana dulu. Janganlah bertindak gegabah.”

Apakah Jenderal Keempat yang baru memiliki tujuan sama dengan pendahulunya…? Apakah mereka masih hendak memancing Kemaharajaan Cahaya Gemilang memulai perang…? Kemanakah perginya Kapten Sisinga…? Segenap pertanyaan berkecamuk di dalam benak Bintang Tenggara. 

“Siapakah gerangan beliau yang bergelar Jenderal Keempat dari Kerajaan Garang?” Anak remaja itu akhirnya berujar. Di saat yang sama, benaknya berputar keras mencari cara melepaskan diri. Akibat kotak di pundak yang sedikit banyak membatasi ruang gerak, maka melarikan diri merupakan pilihan terakhir. 

“Hm… Dikau tak mengetahui nama beliau…?”

Bintang Tenggara mengangkat bahu dan menggelengkan kepala. 

“Beliau tak lain adalah Jenderal Ogan Lemanta!”

Bintang Tenggara tercekat, mantan Senopati Ogan Lemanta merupakan buronan di Kerajaan Garang karena melanggar perintah langsung dari Jenderal Keempat yang lama. Tokoh tersebut telah tobat, dan sepantasnya kini berada dan di bawah perlindungan Pulau Dua Pongah. 

“Brrrtt…”

Jalinan petir berderak dan membungkus di kedua kaki, secepat kilat pula Bintang Tenggara segera melepaskan diri dari kepungan. Tanpa pikir panjang, ia telah memutuskan untuk melarikan diri. Siapa pun dia Ogan Lemanta yang menjabat sebagai Jenderal Keempat di Kerajaan Garang, maka adalah tokoh palsu. Yang palsu seringkali tak akan membawa berita baik. 

Tak lama berselang, langkah kaki membawa Bintang Tenggara memasuki wilayah pemukiman nelayan. Suasana di tempat tersebut tak terlalu jauh berbeda dengan suasana di Dusun Peledang Paus, dengan segala ketebatasannya. Sungguh mengingatkan pada kenangan-kenangan indah di masa kecil, jauh dari hiruk-pikuk dunia keahlian. 

Di kala Bintang Tenggara terlena, sepuluh serdadu bayaran tiba dan langsung mengepung! Kecepatan mereka mengejar sungguh di atas rata-rata, padahal Bintang Tenggara merasa yakin bahwa dirinya berhasil mengecoh dan menjaga jarak aman. Yang tak Bintang Tenggara ketahui, bahwasanya setiap satu dari serdadu bayaran tersebut sangat terlatih dan merupakan yang terbaik dalam hal berburu yang mengandalkan kecepatan. 

Kini, Bintang Tenggara sedang terjepit dalam kepungan. Ia harus segera menyelamatkan diri sebelum sosok Jenderal Keempat tiba. 

“Permisi…” Secara tiba-tiba dan datang entah dari mana, terdengar suara menyapa. Asalnya dari seorang lelaki dewasa dengan rambut awut-awutan, kumis dan jambang tebal tiada terurus, serta mengenakan pakaian yang kotor dan compang-camping. “Kemanakah arah menuju Kota Taman Selatan…?” lanjutnya.

Sepuluh serdadu bayaran, ditambah dengan Bintang Tenggara, kontan terkesima. Bagaimana mungkin seorang pengemis mendatangi mereka yang sedang sibuk hanya untuk bertanya arah. Apakah ia tak bisa membaca suasana? Ataukah memang dia adalah seorang yang tak waras…? 

Di lain sisi, Bintang Tenggara merasakan sesuatu yang berbeda dari gelandangan itu… Entah apa, sulit sekali untuk dijelaskan. 

“Enyah!”

“Jangan dekat-dekat! Hei!” 

“Pengemis gila!”

Mendapat perlakuan yang tak menyenangkan dari para serdadu bayaran, pengemis gila memutar langkah. Geraknya pelan dan gontai, seperti belum menyantap makanan selama enam belas hari berturut-turut. Selang beberapa detik kemudian, sosok tersebut berhenti dan berdiam di tempat seolah baru teringat akan sesuatu. 

Kemudian, tanpa sepatah kata pun dan dengan menirukan gerak tubuh kebanyakan ahli, pengemis gila itu mengangkat sebelah lengan. Perlahan, ia lantas melambaikan jemari tangan…