Episode 337 - Meriam



Sekelompok ahli melangkah di antara pepohonan besar-besar. Dua mengawal di hadapan dan dua lagi menjaga di bagian belakang. Pada posisi tengah, dua ahli bergerak berdampingan. Salah satu dari yang dua di tengah itu, terlihat sedang menyangga di pundak sebuah kotak persegi yang cukup besar ukurannya. Dari penampilannya, kotak tersebut terbuat dari kayu berwarna hitam yang sangat keras dan kokoh, yang mana pada bagian sisi-sisinya terdapat sejumlah lubang kecil sebagai sirkulasi udara. 

“Tuan Muda, silakan menyerahkan kotak kayu itu kepada pengawal di belakang…” 

Bintang Tenggara menanggapi dengan senyuman. Meskipun pada kenyataan berat adanya, kotak kayu hitam tersebut dipanggul oleh dirinya yang merupakan seorang ahli dengan Kasta Perak Tingkat 2. Berkat otot-otot yang terlatih pula, kotak tersebut terasa seringan tumpukan ranting-ranting kering. Memanglah ukurannya sedikit menghambat ruang gerak, namun tak cukup untuk mengganggu kelincahan tubuh. Seperti mengenakan tas ransel biasa saja. 

Di dalamnya kotak, terikat dengan sedemikian rupa seekor binatang siluman kancil. Menggunakan kotak ini untuk membawa serta binatang siluman yang masih tak sadarkan diri, diperlukan karena Bintang Tenggara sementara ini tak dapat mengerahkan formasi segel untuk menggunakan Kartu Satwa. Selain itu, memang ia tak pula memiliki persediaan kartu yang kosong. 

“Tiada mengapa, Tuan Elirio. Diriku merasa lebih nyaman bila tak terpisah dengan kotak ini…,” ucapnya sebagai upaya penolakan sopan. 

“Terkait kotak itu…,” lanjut Elirio. “Binatang siluman di dalamnya tiba di dunia kami setelah upacara adat berakhir, bukankah demikian…?”

Bintang Tenggara menangkap maksud yang tersirat di balik kata-kata sang punggawa Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Bahwasanya, Elirio sedang mempertanyakan apakah ada ahli selain Kuau Kakimerah yang dapat membuka lorong dimensi antar dunia. Hal ini pastilah sangat penting untuk dipastikan oleh pejabat yang bertanggung jawab atas hal-ikhwal luar negeri, atau dalam kaitan ini luar dunia. Malangnya, Bintang Tenggara pun memiliki pertanyaan yang sama, yang jawabannya kemungkinan hanya dapat dipastikan bilamana Si Kancil sudah siuman.

“Sungguh diriku tiada mengetahui bagaimana binatang siluman ini dapat hadir di dunia ini. Mungkin ada cara lain dalam membuka lorong dimensi antar dunia, atau mungkin saja sebuah kebetulan di mana ia menyelinap masuk tatkala segenap remaja suku dayak datang melangsungkan upacara adat.”

Elirio mengangguk, namun gerakan tubuh tersebut tak menyurutkan niatnya menyelidiki lebih jauh. “Dikau sepertinya mengenal baik binatang siluman tersebut…?”

“Si Kancil,” tandas Bintang Tenggara cepat. “Diriku datang ke Pulau Belantara Pusat karena hendak bersua dengan Kuau Kakimerah. Dalam perjalanan, diriku bertemu dengannya, dan atas sesuatu alasan, diriku memerlukan bantuannya di kemudian hari.”

“Apakah ia memiliki kemampuan yang unik…?”

“Ia dapat membantu penyembuhan cedera tetap yang disebabkan oleh unsur kesaktian. Sungguh sebuah ironi,” Bintang Tenggara menghela napas, “kini adalah dirinya yang mengalami cedera berat yang disebabkan oleh unsur kesaktian.”

“Bila tak salah mendengar, maka sekujur tubuhnya menderita luka bakar …”

“Benar.”

“Sungguh mengherankan, dimanakah kiranya ia mendapat luka bakar yang sampai sedemikian parah…?”

“DUAR!”

Tetiba sebuah ledakan maha dahsyat terdengar membahana! Getarannya merambat di permukaan tanah dan membuat tubuh linglung. Spontan Bintang Tenggara merunduk sembari menutup telinga, sebuah reaksi yang wajar bagi mereka yang sangat terkejut. Akan tetapi, adalah pantas bila reaksi seperti itu terjadi pada manusia biasa, namun berbeda halnya bagi seorang ahli yang berada pada Kasta Perak Tingkat 2 dengan bekal kemampuan mata hati yang dapat mengimbangi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ledakan yang terjadi merupakan sesuatu yang berada di luar ambang batas ketahanan ahli Kasta Perak Tingkat 2. 

Suasana di rimba belantara yang tadinya tenang, seketika berubah hiruk-pikuk. Panik bukan kepalang, ratusan binatang siluman serangga liar berhamburan ke semerata penjuru. Ada yang beterbang, menyerusup masuk ke sela batang atau akar pohon, banyak pula yang menggali ke dalam tanah. Rombongan ahli yang dikepalai oleh Eliro terpaksa berkelit gesit menghindar dari puluhan binatang siluman serangga liar yang tak memiliki arah pasti. Naluri setiap satu dari mereka mengatakan bahwa ancaman maha dahsyat telah mengemuka.

“Duar!” 

Ledakan kedua terjadi, namun kali ini terasa jauh, sangat jauh sekali…

Bintang Tenggara menatap Elirio, hendak ia mempertanyakan apakah kiranya yang sedang berlangsung. Apakah sebuah pertempuran…? Ataukah telah tercetus perang di antara ketiga kerajaan siluman…? Raut wajah Elirio yang biasa tampil tenang, kini terlihat sangat bimbang. Terlalu bimbang menjurus panik, sehingga membuat Bintang Tenggara menahan diri. 

“Apakah sudah saatnya…? Kita harus kembali secepatnya!” Elirio berujar kepada diri sendiri dan kepada rombongannya. Ia lantas berlari cepat, dan Bintang Tenggara mengekor tanpa banyak tanya. 

Tak berselang lama, tinggi di langit sana, gumpalan hitam terlihat dari tiga penjuru arah. Ibarat kepulan awan hitam, Bintang Tenggara mengingat bahwa itu sesungguhnya yang mengemuka adalah kerumunan siluman sempurna dari ketiga kerajaan sebagaimana tatkala mereka mengamati upacara adat anak-anak manusia. Mungkin sebuah perang benar-benar sedang berkecamuk di antara mereka. Semoga saja perang tersebut bukan dikarenakan kepergian dirinya dari Kerajaan Siluman Lebah Ledang…

“DUAR!”

Ledakan membahana kembali menggetar langit dan menggegar bumi. Elirio tak lagi dapat menahan diri. Tanpa sepatah kata pun, ia langsung melesat terbang tinggi ke udara. Di lain sisi, Bintang Tenggara tak hendak ditinggal. Meski sebagai ahli Kasta Perak Tingkat 2, dirinya memang belum mempelajari teknik melayang di udara. Oleh karena itu, ia memanfaatkan pepohonan raksasa. Melenting-lenting dari satu dahan ke dahan berikutnya, tak lama anak remaja itu sudah tiba di pucuk tertinggi salah satu pohon pohon raksasa. 

Pemandangan yang tersaji demikian mencengangkan. Tiga pasukan dari tiap-tiap kerajaaan siluman telah bersiaga jauh di sana. Dengan berpakaian lengkap dan bersenjatakan tombak, pedang dan panah, mereka melayang dalam keadaan siap tempur. Tak hanya sampai di situ, karena para penguasa dari ketiga kerajaan pun terlihat memimpin langsung di masing-masing kubu. 

Kendatipun demikian, ketiga kekuatan tak terlihat bergerak. Mereka sedang mengelilingi sesuatu dan diam mengamati. Tepat di tengah-tengah ketiga kubu yang terpisah jarak itu, merupakan wilayah tandus yang beberapa waktu sebelumnya Bintang Tenggara kunjungi bersama dengan Paduka Yang Mulia Raja Rayap. Sebagai titik pusat wilayah tandus, adalah sebatang pohon raksasa yang sudah lama mati. Aura panas membakar menyibak perkasa dari pohon tersebut.

“Krak!” 

Tetiba suara meretak terdengar tinggi di angkasa, disusul dengan keadaan langit yang sedang merekah ibarat kaca yang hendak pecah. Posisinya jauh lebih tinggi dari tempat di mana ketiga kekuatan kerajaan siluman melayang dan bersiaga. Segenap ahli sontak melontar pandang ke atas. 

Tubuh Bintang Tenggara bergidik. Ia merasakan sesuatu yang sebelumnya pernah ia alami. Hawa membunuh yang demikian mencekam menyibak dari langit yang meretak. Saking kentalnya hawa membunuh, tubuh dibuat kaku dan gemetaran secara bersamaan!

Ingatan Bintang Tenggara kembali pada suatu ketika belum lama lalu pada lapisan langit tinggi di atas Ibukota Minangga Tamwan. Ia mengingat akan sosok makhluk yang demikian aneh wujudnya. Dengan kepala mirip seekor buaya, beserta sepasang tanduk besar mencuat dari sisi-sisi kepala tersebut. Dua mata berwarna hitam dan gelap. Tubuhnya kekar menjulang mencapai setinggi tiga meter. Pada kedua belah lengan besarnya, masing-masing memiliki empat cakar seperti elang, sedangkan kedua kakinya mirip harimau. Menjuntai pula ekor nan panjang seperti ular!

“Mungkinkah…?” Bayangan di dalam benak membuat bibir anak remaja itu bergemetar tanpa kendali. Ia berupaya untuk terus tegar mengamati keadaan di langit. Ia menanti kehadiran makhluk apa pun itu dari celah yang merekah…

“DUAR!”

Ledakan ketiga membahana sama kerasnya, dibarengi dengan gelombang hawa panas yang menyebar dalam bentuk lingkaran dan menyapu ke segala penjuru. Seketika itu juga, sebuah bola api raksasa melesat deras dan menghantam langit yang sedang merekah!

Lagi-lagi Bintang Tenggara terpana. Sumber ledakan dan bola api kini telah diketahui dari mana asalnya, yang tak lain datang dari pohon mati di tengah wilayah tandus. Terlihat ibarat sebuah meriam raksasa berwarna hitam, pohon tersebut menembakkan peluru bola api seukuran bak istana nan berwarna putih perkasa!

“DUAR!” 

Langit bergegar dan bumi bergetar. Tembakan bola api putih keempat melesat dan menghantam retakan tinggi di atas langit sana. Api berwarna putih berkobar perkasa melahap udara seolah sang mentari yang sedang turun mendekat. Di balik kobaran api putih tersebut, kali ini terdengar pula teriakan yang dipenuhi amarah yang berbarengan dengan hawa membunuh nan semakin mencekam. Benak Bintang tenggara berkecamuk, dan tubuhnya menjadi lunglai. Segera ia berjongkok dan berpegangan erat pada ranting terdekat, karena beban kotak kayu yang dipanggul sejenak membuat ia kehilangan keseimbangan.

Suasana semakin mencekam, namun hening. Ratusan ahli perkasa dari tiap tiga penjuru mendongak mengamati. Senjata di tangan, setiap satu dari mereka bersiap menghadapi pertempuran yang akan menentukan hajat hidup dunia tersebut.

Rekahan pada langit berderak, namun merapat perlahan. Tak ada satu ahli pun yang bersuara. Mereka semakin waspada. 

Waktu berlalu, dan aura mencekam di atas langit sana perlahan memudar…. Suasana suram seketika berubah menjadi ramai dengan pekik dan tawa kemenangan dari para petarung di ketiga kubu kerajaan siluman. Perasaan senang sekaligus lega membuat mereka bersorak-sorai. 

Bintang Tenggara kini menyadari bahwa ketiga kerajaan bersiaga bukan karena hendak berperang antara satu sama lain. Bahwasanya, terdapat sebuah ancaman besar yang mengicar kelangsungan hidup mereka bersama. 

“Hmph…” Ginseng Perkasa mendengus lega. “Dunia ini terancam…” 

“Terancam oleh penaklukan bangsa iblis…,” sambung Bintang Tenggara merampungkan kalimat sang Maha Maha Tabib Surgawi. 

Telah diketahui, bahwasanya bangsa iblis merupakan pelahap segala. Hubungan antara bangsa iblis, kaum siluman, dan umat manusia merupakan hubungan mangsa dan pemangsa. Bilamana umat manusia berburu kaum siluman demi anggota tubuh atau pun mustika tenaga dalam, maka bangsa iblis dahaga akan mustika tenaga dalam manusia. Bagi bangsa iblis, mustika tenaga dalam manusia memiliki tenaga murni yang paling bermanfaat dalam pertumbuhan kekuatan. Dengan kata lain, bangsa iblis selayaknya berada pada puncak tertinggi rantai makanan!

Selain itu, kini diperoleh pula pengetahuan baru. Bahwasanya, bangsa iblis kemungkinan besar juga mengincar mustika tenaga dalam siluman sempurna!

“Setidaknya, kini kita mengetahui asal-muasal penyebab cedera Si Kancil…,” gumam Ginseng Perkasa.

“Si Kancil kemungkinan besar bermain-main di dekat pohon itu. Tanpa sengaja ia dilahap api yang berperan sebagai mekanisme pertahanan diri pohon. Peran utama pohon dan api putih sesungguhnya untuk melindungi dunia ini dari ancaman bangsa iblis yang hendak menerobos celah dimensi ruang antar dunia.” 

Kesimpulan Bintang Tenggara setengah benar, dan Ginseng Perkasa menyadari hal tersebut. “Sepertinya demikian…,” tukasnya cepat. Padahal, ia mengetahui bahwa sumber api putih bukanlah merupakan bagian dari pohon. Di saat yang bersamaan pula, dari nada suaranya jelas terbaca bahwa ia tak hendak membahas lebih lanjut tentang keberadaan pohon beserta api putih. 

“Kakek Gin mengenal sumber api putih itu…?” Tetiba Bintang Tenggara menebak telak. “Waktu pertama kita datang ke wilayah ini, Kakek Gin mencegah diriku mendekati pohon tersebut…”

Ginseng Perkasa gelagapan, namun masih dapat mengendalikan diri untuk dapat menanggapi. “Jangan berpikir yang bukan-bukan. Ini adalah saat yang tepat. Sebuah kesempatan telah terbuka!” 

Bintang Tenggara tersentak. Meski menyadari bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh jiwa Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara yang tanpa tubuh itu, ia tak hendak membuang-buang kesempatan yang sedang tersaji. Tanpa berpanjang lebar lagi, anak remaja itu pun mengencang tali kotak kayu besar yang disangga pada pundak, kemudian segera menuruni batang pohon raksasa. 

“Tuan Muda…” Salah satu dari pengawal yang masih bersiaga di bawah pohon menegur. “Tuan Muda hendak ke mana…?”

“Kalian tunggu di sini,” ujar anak remaja yang memanggul kotak kayu besar tanpa menghentikan langkah. “Tuan Elirio akan segera kembali!” 

“Tapi…” Keempat pengawal saling berpandangan melepas kepergian tokoh tersebut. 

Bintang Tenggara tak membuang waktu. Petir berderak kala ia melangkah gesit di antara binatang-binatang siluman serangga liar yang berhamburan keluar dari tempat persembunyian masing-masing. Mereka masih dibalut rasa takut atas ancaman besar yang baru saja berlangsung, sehingga tak terlalu mengindahkan kehadiran si anak remaja yang bergerak lincah di antara mereka. Sedangkan Bintang Tenggara, yang ia lakukan kini adalah melarikan diri. 

Jikalau memperoleh Madu Imperium, maka Bintang Tenggara dapat meramu obat untuk meredakan gejala cedera Si Kancil. Akan tetapi, tindakan tersebut hanya untuk mengulur-ulur waktu sahaja. Langkah terbaik demi kesembuhan Si Kancil adalah bergegas kembali ke Negeri Dua Samudera dan meramu menggunakan bahan-bahan yang lebih tepat. Oleh karena itu, di saat masih berada di Kerajaan Siluman Rayap Radak, anak remaja itu meluangkan waktu membuka-buka peta dan menghapal wilayah. 

Dengan demikian, Bintang Tenggara telah mengetahui persis di mana letak tempat berlangsungnya upacara adat suku dayak, serta arah menuju ke sana. Berdasarkan perhitungan hari, maka esok hari Kuau Kakimerah akan datang menjemput.