Episode 70 - Urusan Mereka


Di dalam dunia jiwa. 

Di satu sisi, adalah sebuah kekosongan. Putih bersih, tanpa ada sedikitpun noda. Di sisi lain adalah wilayah yang terbakar dengan api hitam yang membara-bara.

Alsiel selalu kagum dengan kekuatan Tuannya, dia juga tidak pernah meragukan bahwa Tuannya memiliki kekuatan yang tak terkira. Namun, dia tidak pernah berpikir bahwa kekuatannya akan sekuat ini, Alsiel bahkan tak berani untuk mendekati api hitam tersebut.

“Tuan ... ini?” ucap Alsiel.

“Aku tidak terlalu yakin, mungkin saja tanpa sadar aku menyerap energi ini sejak aku datang kemari, dan api hitam itu adalah akumulasi dari semua energi yang aku serap hingga akhirnya aku tidak bisa mengendalikannya lagi. Saat itu aku pikir aku akan mati, tapi aku tidak pernah menyangka bahwa ternyata api hitam itu bisa diredam oleh pemilik tubuh ini sebelumnya dengan menggunakan jiwanya.” Ucap Dan seraya mengingat kembali pada hari itu.

“Jadi, Tuan telah diselamatkan oleh jiwa pemiliki tubuh ini?” tanya Alsiel dengan wajah yang terkejut.

Alsiel tidak pernah menyangka, bahwa ternyata jiwa dari manusia rendahan bisa meredam kekuatan api hitam, dan yang lebih mengejutkan lagi adalah dia melakukannya dengan sepenuh hati, tanpa adanya paksaan dari pihak lain. Itu adalah tindakan yang sangat tulus sekaligus sangat naif dan bodoh.

“Benar, karena itu, aku ingin bisa mengendalikan kekuatan ini lagi dan menyelamatkannya.” Dan berkata dengan suara yang dalam.

Alsiel terperangah melihat sikap dari Tuannya, dia sangat berbeda dari yang sebelumnya, tampaknya tahun-tahun berada di sini telah merubahnya. Namun, apapun yang terjadi, kesetiaannya akan tetap teguh dan tak akan goyah, pikir Alsiel.

Berpikir sejenak, Alsial akhirnya sadar, bukan hanya Tuannya, bahkan dirinya sendiri sudah jauh berubah dari yang sebelumnya. Dia yang dulunya sangat jijik pada manusia, bertahap perasaan jijik itu menghilang berkat perjalanan kulinernya selama bertahun-tahun ini, dan tanpa dia sadari tumbuh rasa hormat kepada manusia yang berhasil mengolah bahan makanan menjadi hidangan yang lezat.

“Tapi, bagaimana caranya?” tanya Alsiel seraya menoleh ke Dan.

“Untuk saat ini, aku juga tidak tahu. Tapi, untuk sekarang aku punya ide tentang bagaimana aku bisa menaklukan api hitam itu.” Dan menerawang ke api hitam yang terus bergejolak.

“Bagaimana?” tanya Alsiel dengan cepat. Ini adalah hal yang sangat penting, karena setelah Tuanya berhasil mendapatkan kekuatan penuhnya lagi, maka mereka akan bisa membalas mereka.

“Mungkin, aku tidak bisa mengendalikan api hitam itu karena aku tidak terbiasa, karena itu aku akan sedikit demi sedikit mencoba membiasakan diri dengan kekuatan api hitam tersebut, semoga saja itu akan berhasil.” Ucap Dan.

Alsiel mengangguk setelah mendengar itu, memang apa yang Tuannya katakan sangat logis. Setelah terbiasa, semua orang pasti bisa melakukannya. 

Sama seperti seorang penulis yang setiap harinya selalu berada di depan layar komputer dan bermain dengan keyboard, pada awalnya dia akan menulis sangat lambat, seperti kura-kura ... bukan, tapi siput. 

Namun, lama-kelamaan, penulis tersebut akan bisa menulis dengan cepat bahkan bisa dengan mudah menulis tanpa perlu melihat keyboard lagi, karena mereka sudah hafal dan terbiasa dengan huruf yang berada di keyboard.

“Jadi, itukah alasan Tuan memasuki perguruan bela diri Iblis Merah?” tanya Alsiel.

“Benar, mereka akan menjadi batu asahan untuk mengembalikan kekuatanku seperti sedia kala lagi.” 

“Hebat.” Ucap Alsiel dengan kagum.

Setelah tinggal selama bertahun-tahun, Alsiel sangat menyadari aturan yang ada, jadi tidak mungkin Tuannya akan pergi ke jalanan dan bertarung dengan orang-orang di sana, jadi dengan masuk ke perguruan bela diri, Tuannya bisa bertarung semaunya tanpa adanya konflik setelahnya.

Setelah keluar dari dalam dunia jiwa, Alsiel bersama Dan langsung bergegas ke perguruan bela diri Iblis Merah.

***

“Pesanan untuk meja tujuh sudah siap?” tanya seorang dengan pakaian pelayan.

“Sebentar lagi!” teriak sosok berkepala botak yang tidak lain adalah Sony.

Dengan sangat lihai, Sony mengisi piring yang sebelumnya kosong dengan hidangan yang telah dipesan. Gerakannya sangat cepat dan efisien, tidak ada satu pun gerakan yang sia-sia. 

“Selesai.” Ucap Sony lalu menyerahkan piring tersebut kepada seorang pelayang yang tidak lain adalah Rudi.

Dengan sigap Rudi berjalan ke meja nomor tujuh lalu dengan sopan meletakan piring ke atas meja dan berkata pada pelanggan yang duduk di sana. “Silakan dinikmati.”

Suasana di restoran sangat hidup, para pelayan mondar mandir untuk mengambil pesanan dan membersihkan piring kotor dari para pelanggan. Sedangkan itu di dapur bahkan lebih hidup lagi, semua koki yang ada di sana dengan cekatan memotong bahan-bahan masakan, memasak daging, dan membuat saus untuk teman hidangan.

Sementara itu, antrean pelanggan tidak terlihat menipis, bahkan terus berdatangan tanpa jeda sedikitpun, meninggalkan semua pekerja di restoran dengan kesibukan yang amat sangat. Namun, lelah yang mereka alami tidak menyurutkan semangat, mereka terus bekerja dengan bersungguh-sungguh.

Waktu terus berlalu, matahari telah tenggelam, malam mulai menyelimuti kota, membinasakan cahaya. Setelah masuk pukul sembilan malam, akhirnya restoran resmi menutup layanan. Dengan begitu, akhirnya para pekerja bisa bernapas dengan lega. Hari kerja yang melelahkan akhirnya usai juga. 

Sony dan Rudi berjalan menuju halte, tidak lama kemudian datang angkutan umum, dengan segera mereka masuk ke dalamnya. Tidak lama, mereka turun dari angkutan umum tersebut dan langsung berjalan pulang. Tidak butuh waktu lama, mereka tiba di rumah yang sangat mencolok karena cat warna kuning yang menyelimuti dindingnya.

Mereka berdua masuk ke dalam dan segera menuju kamar, ingin lekas berjumpa dengan kasur. Di kamar, Sony merebahkan badan ke atas kasur dan ingin menutup matanya. Namun, tiba-tiba Rudi berkata, “Menurutmu, apakah si Iblis Hitam adalah orang itu?”

Sony membuka kelopak matanya lalu berkata dengan tenang, “Entahlah, siapa yang tahu.” Lalu kembali menutup matanya.

Melihat Sony tidak tertarik pada topik pembicaraan itu, Rudi tidak ingin membahasnya lagi. Dia langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan manarik selimut untuk menghangatkan tubuhnya. Tidak lama kemudian terdengar suara dengkuran. 

Sony membuka kelopak matanya lagi dan melihat ke Rudi yang berada di sampingnya dengan kesal. Sementara dia berusaha keras untuk bisa tidur, tapi akhirnya tidak bisa. Di sisi lain, Rudi hanya membaringkan tubuhnya di kasur selama beberapa saat, akan tetapi beberapa saat setelah itu dia langsung bisa tertidur, bahkan itu adalah tidur yang sangat pulas, terbukti dengan suara dengkurannya yang sangat keras.

Sony mengela napas dan kembali menutup matanya, lalu kejadian hari itu kembali teringat dalam ingatannya. Sosok itu, wajah itu, tidak salah lagi, Sony sangat yakin, pria itu adalah dia.

***

Di aula luas.

Sekumpulan muda-mudi berkumpul di sana, bergerak dengan gerakan yang sama, memakai pakaian dengan warna seragam. Di mata mereka berkumpul semangat membara. Kemudian, setelah satu orang di urutan paling depan mengganti gerakannya, secara serempak yang di belakangnya mengikuti gerakan tersebut seraya berteriak penuh semangat.

Mereka adalah para anggota perguruan bela diri Tinju Petir. 

Sesuai namanya, mereka mengkhususkan diri untuk bertarung menggunakan tangan,tanpa satu pun gerakan menyerang dengan kaki. Namun, kondisi ini bukan menjadi hambatan bagi mereka dalam bertarung, dengan menggunakan kedua tangan, mereka mampu untuk menyerang dan bertahan dalam segala kondisi.

Meskipun begitu, itu pasti belum cukup untuk membuat mereka menjadi perguruan bela diri paling kuat saat ini, mereka juga menguasai gerakang langkah kaki, yang membuat mereka bisa bergerak dengan cepat dan efisien, tanpa perlu menghabiskan tenaga yang tidak diperlukan.

Bukan hanya itu, mereka juga tidak pernah bermalas-malasan dalam latihan mereka, jadi wajar saja layak menyandang gelar sebagai yang paling diunggulkan. Namun, ada satu pengecualian, salah seorang pria bernama Gary.

Gary adalah seorang pemuda yang malas, bukan hanya sering telat datang, tapi juga sering bolos latihan. Namun, dengan bakat yang dia miliki, Gary mampu mengalahkan orang-orang yang berada di umur yang sama denganya. Di turnamen selanjutnya, dia adalah salah satu orang yang akan mewakili perguruan bela diri Tinju Petir.

Untuk turnamen ini, setiap perguruan bela diri akan memiliki dua slot untuk anggotanya, sedangkan itu, untuk mereka yang ingin masuk ke turnamen tanpa slot istimewa perguruan bela diri atau sekte bela diri, maka mereka harus mengikuti seleksi yang akan diadakan dan diikuti oleh ratusan orang. Jadi, akan sangat sulit untuk bisa masuk ke turnamen. Karena hal itu lebih banyak orang yang lebih memilih untuk masuk perguruan bela diri atau sekte bela diri dan memperebutkan slot tersebut.

Selain Gary, orang lainnya yang akan mendapatkan slot tersebut adalah seorang pria bernama Gerral. Berlawanan dari sifat Gary yang selalu malas dan sering bolos latihan, Gerral adalah sosok yang memegang disiplin dan kerja keras, seperti kebanyakan dari mereka yang berada di perguruan bela diri Tinju Petir.

Gerral selalu bekerja keras dan tekun dalam latihannya, karena dia ingin mengejar sosok yang paling dia kagumi, yaitu kakaknya, Tomas. 

Tomas adalah salah satu orang paling kuat di perguruan bela diri Tinju Petir. Dia adalah sosok yang tekun dan pekerja keras, juga menjadi panutan bagi semua orang. Tidak terkecuali untuk Gary dan Gerral. 

Benar, Gary, meskipun sangat tidak disiplin, tapi dia sangat mengagumi Tomas karena kekuatan yang dia miliki. 

Begitulah, Tomas adalah sosok yang hebat.

Setelah sesi berlatih, akhirnya mereka akan masuk ke sesi sparring. Karena selain latihan rutin, pengalaman bertarung yang sebenarnya adalah hal yang sangat penting.

Di salah satu area di aula, dua sosok berdiri saling berhadapan. Di satu sisi adalah Gary, dia berdiri sambil menguap dan mengerjapkan matanya yang memiliki kantung mata. Di sisi lain adalah Gerral, dia berdiri tegap di hadapan Gary, sosoknya seperti pedang yang sangat tajam. Matanya memandang lurus pada Gary tanpa sedikitpun lalai.

Meskipun Gary seperti orang bodoh yang pemalas, tapi Gerral tidak pernah menyepelekan lawannya, apalagi Gary. Karena mereka sering menjadi lawan tanding ketika sparring, jadi Gerral tahu betul bagaimana kekuatan yang Gary miliki.

“Mulai.” 

Pertandingan dimulai, sosok Gerral langsung melesat menuju Gary dengan kekuatan penuhnya.