Episode 336 - Bekal Pengetahuan



Kota Baya-Sura merupakan sebuah kota pelabuhan besar yang semarak dengan lalu-lalang para saudagar besar dan kecil. Berasal dari seantero Negeri Dua Samudera, mereka berkumpul dan bertukar berbagai hasil alam, benda pusaka nan langka, serta binatang siluman dan tumbuhan siluman. Kesibukan yang terlihat sampai ke jalan-jalan kota mencermintan betapa besar dan pentingnya kota ini sebagai salah satu pusat perdagangan. Selain itu, berdasarkan wilayahnya yang luas dan sebaran penduduknya yang padat, sangat mudah menyimpulkan bahwa kota ini merupakan kota terbesar kedua di Negeri Dua Samudera.

Matahari sudah condong ke ufuk barat, sebentar lagi malam tiba. Di salah satu dermaga, seorang pemuda tampan bertubuh ramping berdiri lemah. Kedua matanya memerah selayaknya seseorang yang kurang beristirahat dan dari raut wajahnya terpancar seberkas kecemasan. Ia sedang menatap sebuah perahu besar yang siap mengangkat sauh, yang mana di dalam perahu tersebut telah dipenuhi oleh sepasukan prajurit elit. 

“Anak muda, mengapa wajahmu demikian sendu…?” tegur seorang lelaki dewasa pelan. 

Pemuda itu mendongak dan mencermati seorang lelaki dewasa yang tak mengenakan atasan. Perbedaan ukuran tubuh di antara mereka berbanding terbalik. Sekujur tubuh tubuh lelaki dewasa itu berwarna gelap, semakin menampilkan otot-otot besar dan kekar yang telah ditempa lama. Sekali pandang saja, maka dapat disimpulkan bahwa lelaki dewasa itu bukan merupakan sembarang ahli. Kendatipun demikian, yang paling menarik dari penampilannya bukanlah pada ukuran tubuh yang besar tinggi, melainkan pada mata kirinya yang ditutupi oleh penutup mata berwarna semerah darah. 

“Paman… Apakah Paman benar-benar akan bertolak ke Pulau Belantara Pusat…?” Pemuda itu berujar setengah berbisik.

“Tentu saja!” Terdengar tanggapan yang tegas, mencerminkan kepribadian yang tak pernah gentar akan apapun yang nantinya dihadapi. “Jenderal Kesatu Pangkalima Rajawali membutuhkan bantuan kami.” 

“Bagaimana bila kukatakan bahwa kesempatan ini merupakan pertemuan terakhir kita…?” Pemuda itu sama sekali tak menyembunyikan kegundahan di hati. 

Lelaki dewasa meletakkan tangan kanannya yang besar di pundak si pemuda, ia lalu menyibak senyum ramah. “Bila demikian, maka kutitipkan putriku padamu,” ujarnya sembari melirik ke balik tubuh si pemuda. 

Seorang gadis belia sedang melangkah gegas dan garang. Meski raut wajahnya terbilang imut, sorot matanya mencerminkan ketidakpuasan. “Ayahanda!” panggilnya lantang. 

“Ma…”

“Aku ikut ke Pulau Belantara Pusat!” pangkas gadis belia itu, menyela kata-kata yang baru hendak keluar dari sosok lelaki dewasa. 

“Tidak!” Si lelaki dewasa tak kalah tegas. 

“Tak ada yang akan menghentikanku!” 

Lelaki dewasa menghela napas panjang, lalu melirik sembari menepuk-nepuk pundak si pemuda. Lantas ia berujar, “Anak muda ini yang akan menghentikanmu…” 

“Dia…?” dengus si gadis belia “Si lembek dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang…? Apa yang bisa dia lakukan…?” Ia pun melanjutkan langkah, bersiap melompat ke atas perahu. 

Pemuda itu memejamkan mata, betapa berat lengan lelaki dewasa yang bersandar pada pundaknya. Kendatipun demikian, ia memahami makna yang tersirat dari kata-kata si lelaki dewasa. Ia lantas mengangkat sebelah tangan, di mana formasi segel segera berpendar. Sungguh unik simbol-simbol pada formasi segel tersebut, yang dalam sekejap mata membangun pola dan susunan yang teramat rumit, yang kemudian serta-merta membungkus tubuh si gadis belia. 

“Apa yang engkau lakukan!? Lepaskan aku!” hardik gadis belia itu. Ia pun meronta berupaya melepaskan diri. 

Akan tetapi, betapapun keras upaya si gadis belia, sesungguhnya ia menyadari bahwa sangat sulit menerobos formasi segel yang dirapal terhadap dirinya. Pemuda itu bukanlah sembarang perapal segel, karena ia merupakan seorang bangsawan penyandang nama Balaputera dari salah satu kadatuan besar di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Bahkan, ia merupakan sosok yang digadang-gadang sebagai anak jenius dalam hal merapal formasi segel.

“Wira! Lepaskan aku! Kau tak dapat selamanya merapal formasi segel ini! Kau hendak berhadapan dengan pembalasanku!?” Kini, gadis belia itu mengancam dengan sepenuh hati.

Pemuda bernama Wira tak bergeming. Meski tubuh rampingnya terlihat lelah dan lemah, formasi segel yang ia rapal demikian perkasa. Terlebih lagi, saat ini kedua matanya sedang terpaku pada lelaki dewasa yang sedang melontar senyum ke arah dirinya. Kedua mata yang sama lalu mengantar lelaki dewasa itu melompat ke atas perahu, dan berlayar menjauh memimpin Pasukan Lamafa Langit. 


“Paman… Paman Wira!” 

“Hm…?”

Suara Lamalera untuk kesekian kalinya menarik Balaputera Ragrawira dari kenangan di masa lampau. “Sebentar lagi kita akan tiba di Perguruan Anantawikramottunggadewa…”

“Benar…” Lelaki dewasa itu menghela napas panjang, lalu meneruskan langkah. Keduanya saat ini sedang melintas di wilayah pesisir Kota Baya-Sura, melawati hiruk-pikuk keramaian di dermaga. 

“Balaputera Wira…” Baru saja tiba di gerbang masuk Perguruan Anantawikramottunggadewa, seorang lelaki dewasa dengan penampilan layaknya pemuka agama sudah datang menyambut dari ketinggian di udara. “Tak pernah terbayang sekalipun dalam hidupku akan memperoleh anugerah bertemu muka dengan sosok misterius kelas kakap…”

“Airlangga Ananta,” tanggap Balaputera Ragrawira. “Raja Bangkong IV menitipkan salam.”

Airlangga Ananta, atau yang biasa disanjung sebagai Resi Gentayu, Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa, melayang turun perlahan. “Raja Bangkong IV, Elang Wuruk, istrimu, aku, dan satu perempuan gila lain… Kami adalah teman masa kecil. Tapi engkau, engkau…” Resi Gentayu menggelengkan kepala sembari menghela napas panjang. Entah apa yang ia pikirkan… Kurang jelas. 

“Paman balaputera, mengapakah kita membuang-buang waktu menyambangi orang tua ini…?” Lamalera mencibir. “Bukankah tujuan kita adalah ke Pulau Dewa…?”

“Wahai anak angkatku… Putri Perguruan Anantawikramottunggadewa, Lamalera, apakah dikau tak rindu kepadaku…?” Resi Gentayu masih melayang turun. Kecepatannya dibuat ibarat gerak lambat, berupaya keras membangun kesan sebagai tokoh yang luhur budi pekertinya.

“Cih!” Lamalera membuang wajah.

“Lamalera,” tegur Balaputera Ragrawira pelan. “Diriku akan menyambangi Pulau Dewa seorang diri. Dikau kini sudah kembali ke perguruan dan dapat melanjukan pembelajaran.”

“Tapi… tapi…”

“Diriku telah membekali dengan kemampuan merapal formasi segel. Berbeda dengan jurus-jurus persilatan dan kesaktian yang lebih mapan bila diasah melalui petualangan, penguasaan merapal formasi segel memerlukan lingkungan dan hati yang tenang. Giatlah berlatih…”

Lamalera bersungut. Jelas ia hendak melanjutkan perjalanan bersama dengan Balaputera Ragrawira. Akan tetapi, tak kuasa dirinya menentang kata-kata tokoh tersebut. 

“Bilamana telah memadai penguasaanmu akan jurus-jurus merapal segel itu, maka nanti kita akan bersua kembali…”

“Hai…” Resi Gentayu akhirnya mendarat.

“Airlangga Ananta, diriku tak dapat berlama-lama. Mohon undur diri.”


===


“Sungguh aku menyanjung kerja kerasmu…” Seorang anak kecil melangkah santai memasuki balai rawat. “Binatang siluman yang sepantasnya telah menghembuskan napas terakhir beberapa pekan lalu, kini keadaannya terlihat sedikit lebih baik…” 

“Paduka Yang Mulia Raja Rayap…,” Bintang Tenggara bangkit berdiri, lantas membungkukkan tubuh. 

“Kemampuanmu membuat tabib istana dengan pengalaman ratusan tahun demikian takjub…” 

“Hamba hanya dapat berupaya…,” tanggap Bintang Tenggara yang sesungguhnya sedang gundah. Ia menyadari bahwa keadaan tubuh Si Kancil belum sepenuhnya menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang berarti. Upaya yang ia kerahkan sampai dengan saat ini hanya memperpanjang waktu sahaja.

“Penyebab dari luka bakar di sekujur tubuh binatang siluman itu disebabkan oleh api nan berwarna putih,” Paduka Yang Mulia Raja Rayap berujar ringan.

“Api putih…?”

“Ikutlah denganku…”

Segera setelah itu, seorang anak remaja dan anak kecil melangkah cepat di antara pepohonan raksasa. Tak berselang lama, mereka tiba di wilayah nan tandus. Tepat di bagian tengah, terlihat sebuah pohon raksasa yang telah lama mati. Aura panas menyibak ke semerata penjuru, namun Bintang Tenggara merasakan bahwa aura panas tersebut sangatlah tak asing. 

“Di dalam sana terdapat sumber api putih…” Paduka Yang Mulia Raja Rayap menudingkan jemari telunjuk.

Bintang Tenggara sontak melangkah maju. Ia memasuki wilayah nan tandus…

“Hentikan langkahmu!” Tetiba Ginseng Perkasa berseru melalui jalinan mata hati. 

“Kakek Gin…?”

“Apakah dikau merasa bahwa ada sesuatu yang mengundang kehadiranmu…? Sesuatu yang tak asing…?”

“Benar,” sahut Bintang Tenggara cepat. 

“Maka nasibmu akan berakhir sama seperti Si Kancil…”

“Terbakar…? Mengapakah demikian…?” Dari nada suara sang Maha Maha Tabib Surgawi, Bintang Tenggara menangkap akan keseriusan yang sangat jarang diperankan oleh tokoh tersebut. 

“Ini adalah salah satu keadaan di mana dikau sebaiknya menahan rasa ingin tahu. Upayakan penyembuhan tubuh Si Kancil terlebih dahulu.”

… 

Beraneka aroma ramuan menyibak di udara ketika seorang anak remaja menelusuri terowongan remang di dalam sebatang pohon maha raksasa. Terowongan yang dilalui panjang dan berkelok-kelok seolah hampir tiada batasnya. Tanpa pemandu, maka anak remaja tersebut kemungkinan besar akan tersesat dengan mudahnya. Meskipun demikian, lambat sekali gerak langkah lelaki tua renta siluman sempurna rayap yang berperan sebagai tabib istana sekaligus pemandu arah.

Aroma bahan ramuan semakin menyibak kental, bahkan seolah dapat ditangkap oleh pandangan mata layaknya lembaran selendang-selendang tipis yang dimainkan angin, berwarna-warni. Kedua mata Bintang Tenggara menyapu pandang rak-rak bertingkat tingi-tinggi dan di dalam benaknya sudah dapat mengenal bahan-bahan dasar sembari menyusun sejumlah resep ramuan. 

“Aku memerlukan bahan ini… ini… dan itu…,” ujar Bintang Tenggara sembari mengendus sejumlah akar, tulang dan buah. Ia tak mengetahui nama setiap satunya, karena bahkan pengetahuan yang diperoleh dari ingatan Ginseng Perkasa tiada mengetahui akan hal tersebut. Akan tetapi, anak remaja tersebut berkemampuan memperkirakan manfaat bahan-bahan ramuan dengan akurat hanya dengan mengendus aromanya.

“Bahan ini sudah kadaluarsa,” lanjut anak remaja itu, membuat si tabib tua renta terlihat bingung. 

“Bahan yang ini tak baik disimpan di dalam ruang lembab, ia membutuhkan penyinaran langsung dari matahari. Lebih baik dibuang saja, karena tak lagi ada manfaatnya,” gerutunya sembari mengais-ngais beragam bahan.

Tak terasa tiga pekan sudah waktu berlalu. Bertolak belakang dengan rencana awal mempelajari Supremasi Ilusi, waktu Bintang Tenggara banyak terbuang meramu obat demi kesembuhan tubuh Si Kancil. Berkat petunjuk Paduka Yang Mulia Raja Rayap tentang api putih dan kesempatan merasakan aura api tersebut, Bintang Tenggara kini sudah semakin dapat meramu obat yang lebih tepat. 

Kendatipun demikian, sampai dengan saat ini, karena keterbatasan bahan dasar ramuan, si anak remaja hanya dapat menghentikan dampak buruk dari luka bakar agar tak menyebar dan semakin parah. Kesembuhan tubuh binatang siluman itu masih jauh dari memungkinkan, serta kesadarannya pun belum kunjung kembali. 

“Andai saja aku memiliki ‘itu’, mungkin dapat mencoba sesuatu yang baru…,” gumam si anak remaja penuh harap. 


Di ruangan lain, suasana terasa mencekam. Dua punggawa yang bertanggung jawab atas hal ikhwal luar negeri dari dua kerajaan sedang berdiri hadap-hadapan. 

“Selamat datang, wahai Elirio…”

“Marius, dikau sepenuhnya mengetahui alasan kedatanganku.”

“Hm…?”

“Jangan berpura-pura… Mempelai lelaki Ibunda Ratu Lebah… Aku hendak menjemput kepulangannya...?” Elirio sedang tak hendak berbasa-basi. 

“Tuan Muda Bintang Tenggara merupakan tamu kehormatan bagi Ayahanda Raja Rayap. Sebagaimana halnya dengan tamu, beliau dapat meninggalkan wilayah Kerajaan Siluman Rayap Radak kapan saja…”

 …

“Bagaimana perkembangan hari ini …?” Tokoh yang berperawakan layaknya anak lelaki melangkah masuk ke dalam balai ramuan. 

“Paduka Yang Mulia Raja Rayap…,” Bintang Tenggara membungkukkan tubuh. “Berkat panduan Paduka Yang Mulia Raja Rayap, maka kesembuhannya sudah di depan mata.”

“Apakah ada hal lain yang dapat kubantu…?”

“Paduka Yang Mulia Raja Rayap, mengapakah sama sekali tak tersedia Madu Imperium di dalam balai ini…?” 

“Madu Imperium merupakan sesuatu yang langka…”

“Langka…?” Benak Bintang Tenggara segera mengingat kepada Ibunda Ratu Lebah yang gemar menyantap madu dengan lahap, serta bagaimana beliau senang menghambur-hamburkan madu tersebut… dengan menuangkan ke tubuh, misalnya…

“Hanya Kerajaan Siluman Lebah Ledang yang dapat menghasilkan Madu Imperium, dan mereka tak terlalu murah hati.”

Bintang Tenggara sedang menyiapkan ramuan baru, dan perhatiannya sangat terpusat. Ketiadaan Madu Imperium merupkan sebuah hambatan yang nyata dalam penyembuhan tubuh Si Kancil. 

“Bila Madu Imperium yang dikau kehendaki, maka sungguh waktu yang tepat. Sepertinya kehadiranmu di Kerajaan Siluman Rayap Radak segera berakhir…”

“Hm…?”

“Perwakilan dari Kerajaan Siluman Lebah Ledang sudah datang menjemput…”

Bintang Tenggara tak dapat menyembunyikan kekecewaan di hati. Ia kini dihadapkan kepada sebuah keputusan sulit. Ia masih belum sedikitpun mempelajari tentang Supremasi Ilusi ala siluman sempurna rayap, karena waktu sangat banyak telah tersita demi Si Kancil yang berada dalam keadaan sekarat. Di lain sisi, bilamana tak memiliki Madu Imperium, maka keadaan Si Kancil sama sekali tak akan berubah. Antara mempelajari Supremasi Ilusi dan kesembuhan Si Kancil, maka pada akhirnya keputusan sulit terpaksa diambil…

“Paduka Yang Mulia Raja Rayap…,” Bintang Tenggara berujar pelan. “Terima kasih atas keramahtamahan selama ini. Diriku akan segera kembali ke Kerajaan Siluman Lebah Ledang…”

Paduka Yang Mulia Raja Rayap menangkap akan kegundahan hati tamunya itu. Di saat yang bersamaan, ia benar-benar takjub atas kemampuan dan keteguhan hati Bintang Tenggara dalam upaya menyelamatkan binatang siluman kancil. Hatinya pun sedikit luluh. Tokoh yang berpenampilan seperti anak kecil itu kemudian menebar mata hati dan dalam sekejap mata membangun jalinan dengan mata hati Bintang Tenggara. 

“Supremasi Ilusi bukanlah kemampuan yang mudah dikuasai bahkan oleh kami para siluman sempurna,” ujar Paduka Yang Mulia Raja Rayap sembari melangkah pergi.

Bintang Tenggara terkesima, dan sontak membungkukkan tubuh. “Terima kasih, wahai Paduka Yang Mulia Raja Rayap!” 

“Aku hanya membekalimu dengan sedikit pengetahuan. Memungkinkan atau tidaknya engkau menguasai Supremasi Ilusi, adalah bergantung kepada upayamu sendiri.”