Episode 335 - Pertemuan (2)



“Dikau adalah teman Bintang Tenggara…?” aju seorang lelaki dewasa bertubuh tambun dan berkepalan gundul. Ketika melontar pertanyaan, ia pun turun dari kereta kuda nan mewah. 

“Lebih dari teman…” Tanpa melirik, tanpa menoleh, tanpa perubahan raut wajah, serta nada datar menyertai jawaban yang keluar dari bibirnya. Ia pun tiada menghentikan langkah.

“Tak baik bagi seorang gadis belia melangkah seorang diri…,” ujar Saudagar Senjata Malin Kumbang sambil menyibak senyum. Berbekal tubuh tambun dan kepala gundul, senyumannya terlihat mirip lelaki hidung belang pada umumnya. 

“Aku baik-baik saja…” 

“Ayo… Ayo… naiklah ke kereta kuda. Diriku akan mengantarkan dikau ke tempat tujuan.” 

“Ke balai gerbang dimensi…?” Kini terlihat sedikit ketertarikan pada paras ayu gadis belia itu. 

“Bisa. Kebetulan balai gerbang dimensi terletak di dekat kediamanku. Mari… mari naik ke atas kereta…” Saudagar Senjata Malin Kumbang mengundang naik sembari melambai-lambaikan tangan. Siapa pun yang menyaksikan kejadian ini pastinya akan menaruh curiga atas gelagatnya itu, kemudian menolak dan secepatnya beranjak pergi. Mencurigakan sangat.

Akan tetapi, tidak dengan Embun Kahyangan. Gadis belia itu tanpa syak wasangka barang setitik pun lantas menaiki anak tangga kereta kuda. Di dalam, ia duduk berhadap-hadapan dengan Saudagar Senjata Malin Kumbang. Sang kusir pun menyentak tali kekang, memerintahkan sepasang kuda untuk melanjutkan perjalanan. 

“Siapakah nama dikau…?”

“Embun.”

“Hendak kemanakah dikau…?”

“Pulau Dewa.” 

“Apakah tujuan di Pulau Dewa?”

Kedua mata sayu Embun Kahyangan, menatap kosong ke wajah lawan bicaranya. Bukan karena tak hendak menjawab, tapi sejak beberapa waktu belakangan ini ia terus-menerus merasa kurang nyaman. Penyebab kekurangnyamanan tersebut tak lain adalah karena jubah ungu yang sedang ia kenakan lembab adanya. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang sontak tersandar kaget, mata terbelalak! Tepat di hadapannya, gadis belia tersebut maju menyondongkan tubuh tatkala hendak menanggalkan jubah. Dua gumpalan kenyal yang kencang berhimpitan antara satu sama lain, demikian erat sampai seolah dapat membekap pingsan sesiapa saja yang lengah. Bergoyang ringan ke kiri dan ke kanan sesuai irama kereta kuda, sisi atas sepasang gembulan padat itu demikian perkasa. 

Tak hanya sampai di situ, karena kini lelaki dewasa itu spontan melotot dan menenggak ludah. Tersingsing oleh jubah, sisi bagian bawah menyibak sepasang paha mulus yang hampir tanpa perlindungan sama sekali. Karena berada dalam posisi duduk, maka Selendang Batik Kahyangan yang disalahkenakan sebagai kemben semakin memendek adanya. Kedua mata Saudagar Senjata Malin Kumbang terpaku pada bagian yang membentuk segitiga terbalik di antara paha, namun tak dapat menyaksikan apa pun karena terlindung oleh bayangan atap kereta. 

“Bertemu Bintang Tenggara…” Tetiba Embun Kahyangan menjawab pertanyaan yang diajukan sebelum peristiwa membuka jubah. 

Jawaban gadis belia itu menarik kesadaran Saudagar Senjata Malin Kumbang yang terpusat pada celah di antara kedua paha. Kepala gundul lelaki dewasa itu sudah dibasahi dengan keringat, dan dengan setengah mati ia berupaya mengalihkan pandangan mata. Jikalau gadis belia itu bukan kenalan sahabatnya, mungkin ia sudah menerkam tanpa ampun. 

“Me… mengapa hen… hendak bersua dengan Bi… Bintang Tenggara…?” Terbata-bata, lelaki dewasa itu kini kesulitan menyusun kata-kata.

“Menanyakan keberadaan Paman Balaputera…” 

“Balaputera Ragrawira…?” Si Saudagar Senjata tersentak sadar. “Percuma saja… mencari tokoh itu ibarat mencari hantu,” cibir saudagar besar dengan jaringan luas namun pernah gagal dalam upaya menelusuri tokoh yang disebutkan. 

“Dan menyerahkan keperawananku.”

“Hah!” Tak lagi dapat menahan diri, Saudagar Senjata Malin Kumbang sontak melompat. Karena belum sepenuhnya terbiasa dengan kekuatan sebagai ahli Kasta Emas, tokoh tersebut sampai menjebol atap kereta kuda!  

“Tuan!” Pemuda kurus kerempeng dan kusir kereta kuda terkejut bukan kepalang. Raut wajah keduanya demikian khawatir, apakah gerangan yang terjadi sampai membuat junjungan mereka terlempar menembus atap kereta!? 

“Ehem…” Usai mendarat, Saudagar Senjata Malin Kumbang berupaya untuk tampil setenang mungkin. “Aku belum terbiasa mengendalikan tenaga…,” ujarnya kepada kedua bawahan yang bergegas menghampiri. 

Mendengar jawaban yang sulit dicerna nalar, pemuda kurus kerempeng dan si kusir kereta kuda hanya diam. Sungguh alasan yang terkesan dibuat-buat. 

“Aku pun hendak memberi tahu,” dengus Saudagar Senjata Malin Kumbang, “bahwa kita tak akan kembali ke rumah terlebih dahulu. Tujuan kita adalah ke balai dagang.”

“Mengapa…?” Si kusir penasaran. 

“Jangan banyak tanya!” Tokoh itu melangkah garang kembali menuju kereta kuda. Di dalam benak, Saudagar Senjata Malin Kumbang menyadari bahwa sebaiknya tak membawa gadis belia tersebut kembali ke rumah. Penampilannya terlalu mencolok, sehingga kemungkinan besar akan mengundang kesalahpahaman yang tak dirasa perlu. 

Perjalanan berlanjut, dan tak ada lagi pertukaran kata-kata di antara dua sosok di dalam kereta kuda. 

Setengah hari menempuh perjalanan, kereta kuda tiba di hadapan gedung yang unik. Berbeda dengan kebanyakan bagunan yang terbuat dari kayu dengan atap mirip tanduk kerbau, gedung tersebut terbuat dari batu putih yang megah dan tinggi. Ukurannya pun sangatlah kokoh serta besar sekali. 

“Gedung tua ini bernama Padangsche Spaarbank. Tak diketahui dari mana nama itu berasal atau siapa yang membangunnya. Gedung ini telah berdiri lebih dari seribu tahun. Puluhan tahun silam, diriku menyita gedung dari seseorang yang tak mampu membayar utang. Setelah melakukan perbaikan yang tak murah, gedung ini difungsikan sebagai kantor dagang, penginapan, sekaligus pustaka.” 

Tanpa dimintai penjelasan, Saudagar Senjata memperkenalkan gedung. Pintu besar di depannya pun telah dibuka oleh si kerempeng. Ia kemudian mempersilakan Embun Kahyangan masuk. 

“Malam telah tiba dan balai gerbang dimensi sudah tutup. Beristirahatlah di sini. Esok diriku akan mengantarkan dikau.”

Melewati wilayah serambi, ruangan yang berikutnya dimasuki berfungsi sebagai pustaka. Kitab dan buku yang tak terbilang jumlahnya tertata rapi pada rak-rak bertingkat nan menjulang tinggi sampai hendak menyentuh langit-langit. Selintas pandang, tak sulit untuk menyimpulkan bahwa sebagian kitab dan buku yang tertata merupakan barang-barang langka serta mahal harganya. Tak ada yang akan menyangka bahwa Saudagar Senjata Malin Kumbang memiliki pustaka pribadi yang demikian megah, karena ia tak terlihat sebagai tokoh yang gemar membaca. Memanglah tidak.

Di tengah ruangan yang terbentang luas dan terang itu, terlihat sebentuk meja meja bundar dan besar, dengan berbagai kitab dan buku bertumpuk tinggi. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang mendekat dan melongok ke balik tumpukan kitab dan buku di atas meja, di mana seorang lelaki tua duduk ibarat sedang tertimbun kitab dan buku tersebut. Sepasang bola matanya belok seperti akan melompat keluar, warna kulitnya demikian pucat karena tak pernah disapa mentari, dan pundaknya berpunuk karena bongkok. Demikian menyedihkan keadaan tokoh tersebut. 

Kendatipun demikian, terlepas dari penampilannya, lelaki tua tersebut sedang khusyuk membaca sambil menulis. Sorot matanya tajam dan jemarinya bergerak lincah. Atas kehadiran sang pemilik gedung, ia tiada mempedulikan. Perhatian sosok tersebut terpusat sepenuhnya pada bacaan dan tulisan. 

“Hei!” sergah Saudagar Senjata Malin Kumbang ke arah lelaki tua di balik tumpukan buku dan kitab. 

Tak ada tanggapan. Tokoh yang disapa masih larut di dalam dunianya sendiri.

“Buk!” 

Kesal diacuhkan, Saudagar Malin Kumbang menendang meja bundar. “Dia tuli…,” ujarnya kepada gadis belia yang mengikuti. 

“Brak!” 

Lagi-lagi Saudagar Senjata Malin Kumbang menendang meja. Kali ini sedikit lebih keras, sampai membuat kaki meja bergeser sedikit. Tumpukan kitab dan buku bergoyang, namun masih cukup kokoh untuk tak terjatuh berhamburan. 

“Ooh… Tuan…” Suara yang demikian serak terdengar keluar dari tenggorokan nan kering. Tubuh yang renta terlihat menggigil ketika berupaya bangkit berdiri. Napas terengah, ia menatap si pemilik gedung, lalu beralih kepada Embun Kahyangan. Tanpa kata-kata lebih lanjut, ia kembali duduk. Sepertinya jika berlama-lama berdiri, maka tubuh nan renta akan roboh ke lantai. Ia pun melanjutkan kegiatannya. 

Di lain sisi, Embun Kahyangan yang biasanya tak terlalu peduli dengan lingkungan sekitar, terlihat penasaran terhadap gelagat tokoh yang demikian menyedihkan. Sungguh aneh, tak ada aura yang terpancar serta tak dapat dicerna pula kasta keahlian lelaki tua di balik meja itu. Kemungkinan besar hanya manusia biasa yang tak menekuni jalan keahlian, bukanlah sesuatu yang tak biasa. Akan tetapi, mengapa ada perasaan yang tak asing tatkala tadi bertatapan mata dengan sosok tersebut…?

“Kerempeng, antarkan Embun ke kamar tamu.”

Pemuda kurus kerempeng mempersilakan Embun Kahyangan, dan keduanya menghilang di balik selasar.

“Kah… ya… ngan…” Tetiba terdengar suara serak dan sayup dari balik tumpukan buku dan kitab. 

“Apo!?” hardik Saudagar Senjata Malin Kumbang kepada lelaki tua renta menggunakan bahasa setempat. “Suko ang maliek gadih montok!? Masiah dapek tagak ang punyo buyuang!?” 

Sebagaimana sebelumnya, tak ada jawaban dari lelaki tua yang sibuk membaca sembari menulis. Mengatai dengan menggunakan bahasa setempat jelas bukan cara untuk berbincang-bincang dengan tokoh tersebut.  

“Ah kau selalu berlagak tuli!” Saudagar Senjata Malin Kumbang menyapu pandang isi pustaka. “Aku menyita gedung ini dan mendapatkan engkau di dalamnya. Tanpa mengetahui jati dirimu, aku senantiasa memenuhi permintaanmu pula! Setiap kitab dan buku yang ada di tempat ini tidaklah didapat dengan mudah, juga tidak murah! Kau tahu itu!?”

Suasana hening.  

“Cih! Andai saja kau tak selalu jitu dalam menelaah dan menaksir peluang usaha, maka sudah sejak lama kau kutendang keluar dari gedung milikku ini!” Saudagar Senjata Malin Kumbang lantas menudingkan jemari, “Dasar kutu buku!”


===


Dadanya naik-turun dengan jeda yang cukup panjang. Detak jantung demikian lemah, sehingga hampir sulit dirasakan denyutnya. Sekujur tubuh yang hangus akibat luka bakar telah dibalur dengan salep dan dibalut perban, namun kesadarannya belum kunjung kembali. Tiada pula dapat dirasa aura yang mencuat dari seenggok tubuh yang tergolek demikian lemah. 

“Keadaannya sungguh mengenaskan…,” gumam lelaki tua renta yang menjabat sebagai tabib di istana Kerajaan Siluman Rayap Radak. “Bila tak ada perkembangan ke arah yang lebih baik, mungkin ia hanya akan bertahan sekira satu pekan lagi…”

Sungguh pandangan sang tabib tiada dirasa perlu, karena Bintang Tenggara sepenuhnya mampu melakukan pemeriksaan sendiri terhadap tubuh Si Kancil. Malangnya, betapa pandangan sang tabib sejalan dengan pengamatan anak remaja itu. 

“Apakah dikau tak menemukan tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang…?” aju Bintang Tenggara. 

“Selama ratusan tahun hidupku mengabdi sebagai tabib di Kerajaan Siluman Rayap Radak, tiada pernah kudengar tentang tumbuhan siluman Lidah Buaya Bercabang beserta ciri-cirinya…”

Bintang Tenggara sudah jauh-jauh hari menyadari bahwasanya terdapat perbedaan jenis tumbuhan di antara dunia asalnya dengan dunia yang didiami oleh para siluman sempurna serangga ini. Dengan ketiadaan bahan dasar ramuan, bahkan dengan bantuan pinjaman keterampilan khusus dari si Maha Maha Tabib Surgawi, dirinya kesulitan meramu obat bagi Si Kancil. 

“Kita perlu membawanya kembali ke Negeri Dua Samudera,” sela Ginseng Perkasa. 

Si anak remaja terdiam. Ia sepenuhnya menyadari bahwa masih diperlukan waktu sekira lebih dari tiga pekan sebelum Kuau Kakimerah datang menjemput. Dengan kata lain, masih cukup lama waktu sebelum dapat kembali ke Negeri Dua Samudera, sedangkan dirinya tak yakin bahwa Si Kancil akan dapat bertahan sampai selama itu. 

“Kakek, Gin…,” Bintang Tenggara membalas dengan jalinan mata hati. “Jenis tumbuhan siluman yang kita butuhkan untuk meramu memanglah tiada ditemukan, akan tetapi bukan berarti kandungan di dalamnya tiada tersedia. Bukankah kita dapat menggunakan bahan-bahan yang memiliki kandungan yang mirip, atau setidaknya lebih kurang serupa?” Bintang Tenggara mencoba menelusuri kemungkinan yang ada. 

“Tidak sesederhana itu,” tanggap Ginseng Perkasa. “Sebuah ramuan yang melibatkan berbagai jenis bahan dasar, sangat bergantung kepada kadar dan interaksi antara zat-zat yang berbeda. Katakanlah kita menemukan tumbuhan siluman yang memiliki kandungan zat dasar yang setara dengan Lidah Buaya Bercabang, namun pastinya tumbuhan siluman tersebut memiliki zat lain yang tidak terkandung di dalam Lidah Buaya Bercabang. Zat ‘lain’ tersebut dapat mengubah manfaat ramuan yang dihasilkan, bahkan dapat menghasilkan ramuan yang justru mencelakai.” 

Bintang Tenggara mengangguk. Memang tak sesederhana itu, pikirnya. Akan tetapi, dalam keadaan seperti ini, sesuatu perlu diupayakan bila hendak menyelamatkan nyawa binatang siluman yang dipenuhi dengan luka bakar itu. 

“Ingatlah bahwasanya…,” lanjut Ginseng Perkasa. “Obat dapat bersifat sebagai obat dan juga dapat bersifat sebagai racun. Obat akan bersifat sebagai obat apabila benar digunakan dalam pengobatan suatu keadaan dengan kadar, pengolahan, dan waktu yang tepat. Apabila obat yang salah digunakan dalam pengobatan atau dengan kadar, pengolahan dan waktu yang tidak sesuai maka tidak akan mencapai penyembuhan, bahkan akan menimbulkan dampak keracunan.”

“Apakah tak ada yang dapat kita upayakan…?”

“Dengan siapakah dikau berbicara…?” 

“Tentunya dengan Ginseng Perkasa, sang Maha Maha Tabib Surgawi, Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara,” tanggap Bintang Tenggara setengah jengah.

“Lantas…?”

“Kita dapat menciptakan ramuan yang benar-benar baru menggunakan bahan-bahan yang tersedia,” Bintang Tenggara menyimpulkan penuh harap. Sebuah sikap yang bukan hanya isapan jempol belaka bila mengingat akan nama besar tokoh tabib dan peramu yang digadang-gadang sebagai yang terbaik di Negeri Dua Samudera. 

“Tapi…” Bintang Tenggara sedikit sangsi karena merasa ada sesuatu yang terlewatkan.

“Waktu adalah musuh utama kita…”

“Tuan tabib,” Bintang Tenggara segera menoleh ke arah tabib tua renta. “Tolong antarkan diriku ke tempat penyimpanan bahan-bahan ramuan!” 


Cuap-cuap:

Pelik sungguh, episode sebelumnya sepatutnya berjudul ‘Pertemuan (1)’. Entah mengapa berubah menjadi ‘Pertemuan Dua Pria Kuat’… Ya, sudahlah.