Episode 69 - Hadiah Untuk yang Teristimewa


Di sebuah pusat perbelanjaan. 

Dengan raut wajah yang bahagia, Raku sedang mencari-cari barang yang ingin dia beli, bukan untuk dirinya, apalagi untuk Alice yang sedang menemaninya, melainkan untuk Ibunya. 

Raku menunjukan sebuah sepatu pada Alice dan bertanya, “Bagaimana menurutmu?”

Alice berpikir sejenak lalu berkata, “Setiap orang punya kesukaan mereka masing-masing, dan aku tidak terlalu mengenal bagaimana Ibumu, tapi menurutku sepatu itu cukup bagus.”

“Hmm, baiklah kalau begitu, masih banyak toko yang belum kita jelajahi, jadi kita cari sesuatu yang lain dulu saja.” Raku berkata setelah meletakan sepatu itu kembali pada tempatnya.

“Baiklah kalau begitu, tidak masalah.” Ucap Alice dengan senyum kecil di wajahnya.

“Oke, maaf merepotkanmu.” Raku berkata dengan senyum malu.

“Tentu, tidak masalah, kebetulan aku juga sedang mencari sesuatu.” Alice menjawab sambil melambaikan tangannya.

“Oh, benarkah? Lalu kenapa kita tidak mencari barang yang kau mau terlebih dahulu.” Usul Raku.

“Tidak perlu, kita cari hadiah ulang tahun Ibumu dulu.” Balas Alice.

“Baiklah kalau begitu.” Raku berkata dengan anggukan.

Seperti yang Raku harapkan dari seorang dewi sekolah, dia tidak hanya sosok yang sangat cantik, tapi juga sangat baik. Kemarin, dia pergi menemui Alice dan meminta tolong padanya untuk menemani mencari hadiah ulang tahun Ibunya, meskipun sebenarnya dia pun tidak tahu kapan ulang tahun Ibunya, itu hanya alibi yang Raku gunakan untuk bisa mengajak Alice pergi sekaligus untuk menjadi lebih dekat dengan Alice.

Setelah mengetahui alasannya, Alice tidak menolak ajakan dari Raku. Jika ada orang lain yang tahu tentang ini, pasti mereka berpikir bahwa Alice juga tertarik pada pria tampan bernama lengkap Rangga Kuncoro tersebut. Namun, alasan sebenarnya Alice tidak menolak ajakan tersebut karena Raku tetap berteman dengan Danny meskipun banyak rumor yang mengatakan bahwa Danny adalah anak yang aneh. 

Namun, Alice melupakan sesuatu yang sangat penting, meskipun Danny selalu dikatakan aneh karena sering berbicara sendiri dan terlalu maniak pada senjata dan segala hal yang berhubungan dengan militer, akan tetapi kondisi Raku tidak jauh berbeda juga, bahkan sejak sebelum dia masuk ke sekolah, Raku sudah memiliki rumor yang mangatakan bahwa dia adalah anak dari yakuza yang memiliki pacar anak seorang gangster dan polisi.

Jadi, tentu saja kondisi ini tidak terlalu mustahil, karena bagaimana pun ini sama seperti yang orang-orang katakan, orang pintar akan menarik orang pintar ke sisinya dan orang bodoh akan menarik orang bodoh ke sisinya, situasi ini juga berlaku pada orang aneh seperti Danny.

Meskipun kesalahpahaman Raku telah selesai antara mereka, tapi tidak mungkin untuki menjelaskan siatuasi yang sebenarnya pada semua orang di sekolah. Jadi, sampai saat ini Raku masih belum memiliki banyak teman, kecuali beberapa orang yang berpikiran terbuka dan tidak peduli pada rumor yang beredar.

Raku dan Alice mengunjungi beberapa toko lagi dan akhirnya diputuskan bahwa hadiah yang akan Raku berikan pada Ibunya adalah sebuah celemek, selain karena harganya yang tidak terlalu mahal, barang tersebut juga pasti akan banyak bermanfaat, mengingat Ibu Raku selalu masak di dapur setiap harinya.

“Terima kasih sudah mau menemaniku, maaf merepotkanmu.” Ucap Raku.

Alice tersenyum lalu berkata, “Tidak masalah, kita, kan, teman, jangan terlalu sungkan begitu.”

“Ah, benar, kita, teman.” Raku berkata dengan senyum kecut.

“Benar, kita itu teman.” Alice mengulanginya lagi dengan senyum polos.

Melihat ekspresi Alice membuat Raku seperti ditusuk ribuang jarum, sangat menyakitkan.

Ekspresi wajah Raku terpelintir untuk sesaat, kemudian dia mengubah wajahnya seperti biasa lalu dan berkata, “Sebagai tanda terima kasih, bagaimana kalau aku traktir nonton, ada film baru yang sangat populer belakangan ini, aku yakin kau pasti suka.”

“Benarkah? Film apa?” tanya Alice.

“Avenger: Endgame, sekarang sangat popeler sekali, sayang sekali jika dilewatkan.” Ucap Raku.

“Oh, itu, aku tahu, aku selalu ingin menontonnya, tapi tidak pernah sempat.” Alice berkata dengan ekspresi sedih.

Sebenarnya Alice sudah berencana untuk mengajak Danny untuk menonton film itu, akan tetapi entah kenapa akhir-akhir ini Danny berubah menjadi sedikit dingin dan sering mengacuhkannya, jadi dia tidak punya kesempatan untuk menonton film tersebut.

“Jadi, bagaimana? Kau mau, kan, nonton film itu denganku?” tanya Raku bersemangat.

“Aku ... maaf, sepertinya tidak bisa.” Ucap Alice, dia bermaksud untuk menontonnya bersama Danny, jadi dia menolak ajakan Raku. “Bagaimana jika kau traktir aku es krim saja, sekalian kita istirahat sebentar.”

“Baiklah kalau begitu.” Ucap Raku seraya menyembunyikan kekecewaannyaa, alasan lain kenapa Raku mengajak Alice untuk menonton film tersebut adalah karena durasi film tersebut yang lama, dengan begitu dia bisa lebih lama bersama Alice.

Kemudian Alice dan Raku pergi ke salah satu gerai dan memesan es krim. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya es krim pesanan mereka telah tiba, es krim cokelat untuk Alice, dan es krim vanila untuk Raku. Setelah itu mereka mencari tempat untuk menikmati es krim sambil beristirahat.

Raku memandang Alice, kali ini yang terakhir sedang menatap es krim dengan pandangan kosong, lalu tiba-tiba saja bibir Alice melengkung dan sebuah senyum indah terlukis di wajahnya. Untuk beberapa saat Raku merasakan perasaan mabuk karena senyuman itu.

“Hei, sepertinya kau sedang asik sekali ya.”

Sebuah suara menyadarkan Alice yang sedang termenung menatap es krim dan Raku yang terpesona karena senyuman Alice, suara itu sangat lembut dan menggoda. Raku dan Alice melihat ke arah suara tersebut dan menemukan bahwa suara itu berasal dari gadis dengan pakaian berwarna merah, dengan jaket cokelat dan celana jeans biru, dia adalah Angel.

Raku menatap Angel, meskipun dia sangat cantik juga, akan tetapi dia tidak bisa tidak begidik setelah melihat ekspresinya yang manis tapi terasa beracun. Untuk beberapa saat Raku bertanya-tanya, siapa gadis itu? kenapa dia tiba-tiba menyapa mereka? Raku tidak mengenalnya, karena meskipun dia sudah cukup lama masuk sekolah, tapi lingkaran pertemanannya sangat kecil.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Alice bertanya dengan wajah yang muram.

“Haha, aku hanya berjalan-jalan, tapi tidak aku sangka ternyata aku menemukan sesuatu yang sangat mengejutkan, berarti sekarang sudah jelas, kan? Danny adalah milikku, jangan ganggu kami lagi.” Ucap Angel dengan senyum tipis di wajahnya.

“A-apa maksudmu?” tanya Angel.

“Bukankah kau sudah punya pria tampan di sana.” Ucap Angel seraya menatap Raku. “Jadi, tidak mungkin kau mau mengambil semuanya, kan? Aku tahu kau juga cantik, tapi kau tidak boleh terlalu serakah, atau kau akan mendapat karma nantinya.”

“Sepertinya kau salah paham, kami hanya teman.” Alice berkata dengan cepat.

“Haha, tidak perlu malu-malu, aku bisa mengerti hanya dengan melihat bagaimana mesra kalian berdua.” Ucap Angel dengan senyum tidak bersalah. “Baiklah, aku tidak mau mengganggu kalian, aku akan pamit undur diri terlebih dahulu, sampai jumpa.”

Angel berjalan mendekati Alice lalu berbisik di telinganya, “Oh, benar, aku lupa bilang, aku mendapatkan foto yang bagus, aku yakin Danny akan sangat menyukai foto ini.”

Setelah itu Angel langsung berjalan pergi meninggalkan Alice dan Raku.

“Maaf, aku harus pergi dulu.” Dengan terburu-buru Alice mengejar Angel.

Dari awal sampai akhir Raku tidak bisa berkata-kata, dengan tampilan muram dia memandang es krim yang sedikit meleleh di atas meja lalu mengela nafas.

“Bolehkah aku duduk di sini?” tiba-tiba sebuah suara menyadarkan Raku dari kesedihannya. Dia mendongak dan melihat suara siapa itu. Ternyata itu adalah ketua kelas, Chacha, si gadis tanpa ekspresi. Begitulah julukannya, karena wajahnya yang selalu datar tanpa ekspresi.

“Kenapa?” tanya Raku.

“Kursi lainnya sudah penuh.” Jawab Chacha dengan datar.

“Baiklah, silakan saja.” Ucap Raku.

“Terima kasih.” Chacha berkata seraya mengangguk.

Kemudian Chacha menyantap es krim yang sebelumnya telah dia pesan dengan tenang. Sedangkan itu Raku menatap Chacha dengan bingung, dia awalnya berpikir bahwa Chacha datang untuk menghiburnya karena tiba-tiba datang, tapi rupanya dia hanya ingin duduk dan menyantap es krimnya.

“Kau suka es krim?” tanya Raku memecahkan keheningan di meja tersebut.

“Hmm, lumayan.” Jawab Chacha dengan anggukan kecil.

“Begitu, ya.” Ucap Raku dengan canggung.

“Ya.” Jawab Chacha singkat.

Keheningan kembali tercipta, sementara itu Chacha masih terus menikmati es krimnya dengan tenang dan tanpa terasa es krimnya sudah habis. Sedangkan itu, es krim milik Raku kini telah mencair.

“Baiklah, aku pergi dulu.” Ucap Chacha tiba-tiba.

“Hmm, iya.” Jawab Raku seraya tersenyum.

Chacha menatap Raku dengan senyum tipis, ekspresi yang baru pertama kali Raku lihat di wajah ketua kelas berwajah datar tersebut, “Kau tahu, meskipun sudah mencair dan bentuknya tak lagi indah seperti sebelumnya, es krim itu tetap manis.”

Setelah mengatakan kalimat tersebut Chacha langsung pergi meninggalkan Raku sendirian.

Raku merasa lingling untuk sejenak, kemudian dia mengambil gelas yang berisi es krim yang telah mencair tersebut lalu meminumnya. “Kau benar, ini manis.”

Setalah meminum habis es krim yang telah mencari, Raku langsung pulang ke rumah. sesampainya di rumah, dia langsung pergi ke dapur untuk menemukan Ibunya, tapi ternyata Ibu Raku tidak ada di sana, kemudian dia pergi ke kamar Ibunya, akan tetati ternyata beliau juga tidak ada di sana.

Mungkin dia sedang keluar, pikir Raku. Kemudian Raku pergi ke kamarnya dan mengambil handuk lalu pergi untuk mandi. Setelah mandi, dia bergegas berganti pakaian karena dia mendengar suara pintu terbuka, dia yakin itu adalah Ibunya.

Dengan langkah yang cepat Raku langsung pergi menemui Ibunya.

“Ada apa? Kenapa terburu-buru?” tanya Ibunya.

“Ini, tadi aku membelikan ibu hadiah.” Ucap Raku dengan senyum lebar.

Ibunya terkejut untuk sejenak, kemudian tersenyum lembut pada putra tercintanya. Dengan lembut dia mengelus kepala Raku lalu memeluknya dengan hangat.

“Terima kasih.” Ucap Ibu Raku.

Benar, Raku terlalu terobsesi untuk mendapatkan cinta yang tidak sulit didapatkan, padahal dia sudah memiliki cinta tanpa syarat dari orang paling dekat dengannya. 

Sama seperti es krim yang telah mencair, mungkin cintanya tak seindah rupanya, akan tetapi rasanya tetap manis.