Episode 334 - Pertemuan Dua Pria Kuat


“Selamat, Tuan!” 

“Hmph!” tanggap seorang lelaki dewasa, yang mana dengusnya terdengar sungguh sangat perkasa. Setelah itu, ia berdiam diri sembari memeriksa keadaan tubuh, memastikan tak ada luka terbuka atau yang membahayakan jiwa. 

Lelaki dewasa itu berbalut dengan pakaian yang serba compang-camping dan kumuh bak dimakan waktu, serta sekujur tubuhnya terlihat kotor. Penampilan ini seolah menegaskan bahwa ia baru saja kembali dari perjalanan yang jauh lagi berat, serta membahayakan jiwa. Terlepas dari penampilan tersebut, sorot matanya mencerminkan semangat kehidupan, serta dapat dirasa pula perbedaan yang sangat kentara pada aura yang ia pancarkan. 

Menanti di hadapannya, yang tadi membuka dengan ucapan selamat, merupakan dua orang lelaki. Keduanya serempak membungkukkan tubuh. Sebagai orang suruhan, betapa mereka senantiasa setia lagi sabar. 

“Bagaimana dengan nasib sahabat karibku…?” 

Kedua ahli terperangah. Mereka sangat mengenal sang junjungan, sehingga tak habis pikir bahwa kata-kata yang pertama keluar dari mulut tokoh tersebut adalah pertanyaan perihal kabar keselamatan ahli lain. Betapa mereka takjub, bahwa seorang tokoh yang selama ini senantiasa mementingkan diri sendiri dapat menunjukkan sikap perhatian kepada sesama ahli. 

“Tuan Bintang Tenggara berhasil mencapai Pulau Belantara Pusat tanpa kekurangan barang satu apa pun. Saat ini beliau berada di dalam dimensi ruang Goa Awu-BaLang.” Tanggapan datang dari salah satu ahli, yaitu yang dewasa muda. 

Lelaki dewasa itu menganggukkan kepala, sembari mencerna kemungkinan yang ada. “Berapa lamakah kepergianku…?”

“Sekira empat… hampir lima purnama, Tuan.” Jawaban setengah ragu keluar dari mulut tokoh yang satunya, yang mana merupakan si pemuda bertubuh kurus kerempeng.

“Mungkin Tuan berhasil memecahkan rekor untuk jangka waktu terlama…,” sela si lelaki dewasa muda sembari menarik tali kekang yang mengikat sepasang kuda. Bersamaan dengan itu pula, ia menyerongkan tubuh. Membuka jalan. Ia mempersilakan sang junjungan memasuki kereta yang terhubung dengan kedua ekor kuda. Tak pelak lagi, lelaki dewasa muda ini menjabat sebagai kusir yang mengendarai kereta kuda supaya baik jalannya. 

“Cih! Siapa yang menyangka tantangan di dalam dimensi ruang Murka Alam adalah demikian berat. Seharusnya dahulu aku meluangkan waktu berlatih jurus-jurus persilatan dan kesaktian. Sungguh sangat mahal harga yang harus kutebus untuk menjangkau Kasta Emas…”

Baik si kurus kerempeng maupun si kusir mengetahui bahwa satu hal yang paling dibenci oleh Saudagar Senjata Malin Kumbang adalah pemborosan harta benda. Akan tetapi, tampaknya demi bertahan hidup menghadapi Murka Alam tokoh tersebut terpaksa menghamburkan banyak benda-benda pusaka. Benda-benda langka yang selama hidupnya dicari dan dikumpulkan dengan berbagai cara, termasuk melalui upaya jual-beli dan tukar-menukar. Walau pada banyak kesempatan, benda-benda pusaka langka ia dapatkan dengan melakukan tindakan pemerasan serta perampasan.

“Penyesalan selalu datang terlambat,” celetuk si kusir. 

Saudagar Senjata Malin Kumbang hanya melirik ringan, namun siapa pun dapat mengartikan pandangan mata tersebut. Bahwasanya, ia tak sedang diceletuki oleh si kusir. 

“Harta yang paling berharga adalah nyawa…” Si kusir menambahkan cepat, juga sebagai upaya untuk menghibur tuannya yang telah banyak mengorbankan harta benda demi melalui tantangan Murka Alam. 

Di lain pihak, pemuda bertubuh kurus kerempeng tak banyak bicara. Ia kemudian menyodorkan satu stel pakaian yang demikian mewah. Berbahan dasar beludru serta berwarna biru tua, dengan jalinan benang-benang keemasan bercampur manik-manik yang membangun pola sedemikian rupa. Sungguh pakaian yang layak dikenakan oleh seorang tokoh yang menyandang predikat sebagai saudagar besar. 

Lelaki dewasa berkepala gundul itu lantas menanggalkan pakaian compang-camping yang ia kenakan. Telanjang bulat, pada sekujur tubuh tambunnya masih membekas beraneka memar dan lebam. Ia merentangkan tangan, lantas dibantu oleh si kurus kerempeng untuk mengenakan pakaian baru, yang terlihat sedikit longgar. 

“Tampaknya aku kehilangan berat badan…,” gerutunya pelan demi menghibur diri sendiri. Setelah itu, ia melompat naik ke dalam kereta kuda. 

“Ke manakah tujuan kita, Tuan…?” Si Kusir yang telah duduk di bangku kemudi, menoleh ke dalam kereta. 

“Kita kembali ke kampung halamanku…”

“Tuan, apakah kita tak akan menuyusul Tuan Muda Bintang Tenggara….?” sela si kurus kerempeng dari belakang kereta kuda, tempat di mana sepanjang perjalanan ia akan berdiri.

“Tidak. Bintang Tenggara berada di wilayah aman, terkecuali ia berpapasan dengan Wisanggeni. Namun tiada yang perlu dikhawatirkan, si Raja Angkara Durjasa itu tak akan bisa keluar dari formasi segel yang mengurungnya.” Usai memutuskan, Saudagar Senjata Malin Kumbang lantas menyandarkan tubuh, lalu memejamkan mata. Rasanya sudah hampir seumur hidup ia tak mengenyam keempukan tempat duduk dan sandaran. 

“Baiklah bila demikian…” Si kusir lantas menyentak tali kekang kuda. 

“Apakah alasannya bagi kita Kota Bengkuang…?”

“Hmph…” Saudagar Senjata Malin Kumbang tak memberikan jawaban. 


===


Seorang gadis belia melangkah santai menuruni jalan setapak lereng pegunungan. Walau disebut sebagai jalan setapak, pada kenyataannya adalah lintasan terjal dan licin yang kerap ditemukan di dataran tinggi. Oleh sebab itu, pada setiap satu langkah yang ia ambil, maka jubah tebal berwarna ungu menjadi saksi bisu. Andai saja jubah tersebut dapat berbagi cerita tentang wilayah di bagian dada yang senang bergoyang membal, maka akan terdapat banyak ahli di luar sana yang hendak berubah menjadi jubah. 

Walau berada di wilayah asing, Embun Kahyangan dapat memperkirakan di mana dirinya berada kini. Jajaran pegunungan tinggi dan terbentang panjang sejauh mata memandang merupakan petunjuk yang utama. Benar, itu adalah gugusan Pegunungan Barisan Barat, yang menjadi dasar atas penamaan Pulau Barisan Barat. 

Setelah melangkah gontai tanpa arah dan tujuan, keberuntungan rupanya masih berpihak kepada Embun Kahyangan. Kedua matanya tetiba menangkap kepulan asap yang membumbung. Menyusuri asal muasal asap, gadis belia itu menemukan sebuah pemukiman kecil tak jauh di hadapan. Masih melangkah seperti seseorang yang kehilangan semangat hidup, ia lantas mendatangi pemukiman tersebut. 

Singkat kata dan singkat cerita, Embun Kahyangan mendapat makanan cuma-cuma sebagai pengganjal perut serta petunjuh arah. Bila terus melakukan perjalanan ke arah barat, maka ia akan tiba di sebuah kota. Di kota kecil tersebut, nantinya terdapat banyak gerbang dimensi ruang yang dappat digunakan untuk kembali ke Pulau Jumawa Selatan. 

Setelah menempuh beberapa hari perjalanan, gadis belia tersebut tiba hadapan pintu gerbang sebuah kota kecil….

“Tap!” 

Baru hendak melangkah masuk ke dalam gerbang kota, tetiba Embun Kahyangan melompat ke sisi kiri, yang disusul dengan derap kaki kuda yang merangsek laju. Jikalau terlambat sepersekian detik sahaja, maka tubuhnya akan menjadi bulan-bulanan dua ekor kuda beserta kereta di belakangnya. 

“Hentikan! Hentikan!” Seorang pemuda di belakang kereta kuda berteriak ke arah kusir di hadapan sana. 

“Ada apakah gerangan, wahai Kurus Kerempeng…?” Suara kesal terdengar dari dalam kereta.

“Gadis belia itu…”

“Yang mana…?”

“Yang mengenakan jubah serba ungu. Aku mengenalnya. Ia merupakan salah satu teman Tuan Muda Bintang Tenggara…