Episode 333 - Jenderal Keempat

 


“Memanglah ada...”

Di luar dugaan Bintang Tenggara, tanggapan Kuau Kakimerah dibarengi dengan anggukan dagu yang cepat serta penuh keyakinan. Anak remaja itu melirik sekali lagi ke arah pintu keluar gelanggang berlatih, memastikan bahwa Elirio telah benar-benar meninggalkan mereka tanpa pengawalan. Lantas, si anak remaja lelaki kembali menatap rekan satu perguruannya tersebut. “Apakah maksudmu manusia memiliki cara untuk menciptakan pengalihan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum siluman sempurna...?”

“Tidak oleh semua manusia,” tanggap Kuau Kakimerah dengan nada datar. “Tapi memungkinkan bagi kebanyakan ahli di Pulau Belantara Pusat....”

“Ahli dari Pulau Belantara Pusat....? Mengapakah demikian...? Apakah aku tak bisa...?” Pertanyaan beruntun keluar dari mulut Bintang Tenggara, yang diikuti oleh air liur yang merangsek tanpa ampun. Sulit baginya membendung rasa ingin tahu yang kini mendera. 

“Dikau bisa.” Jawaban singkat yang keluar dari mulut Kuau Kakimerah masih disampaikan dengan nada datar. 

“Seriuslah sedikit bila hendak memberi penjelasan!” tetiba Bintang Tenggara menengking, nada suaranya meninggi. Ia sebal dengan sikap Kuau Kakimerah yang acuh tak acuh. 

“Kau ‘kan pintar. Selalu haus akan ilmu pengetahuan. Pikirkan saja sendiri!” Kuau Kakimerah yang biasanya rendah diri terlihat sebal. Gadis belia itu melipat lengan di depan dada, lalu memalingkan tubuh. Raut wajahnya terlihat kesal. 

“Ini adalah perkara penting! Bila kita hendak meninggalkan dunia ini, maka kita harus mengetahui cara mengatasi Supremasi Ilusi!” tanggap Bintang Tenggara yang mulai naik darah. 

Kuau Kakimerah diam tak bergeming.

“Hei! Apakah kau tak mendengarkan kata-kataku!?” Sebelah tangan Bintang Tenggara meraih pundak Kuau Kakimerah, lalu menarik dan memaksa gadis belia tersebut memutar tubuh. “Jangan mementingkan diri sendiri!” 

“Kau yang gemar berbuat sesuka hati!” hardik Kuau Kakimerah. “Kita dapat meninggalkan tempat ini sekarang, di kala tak ada pengawalan. Tapi, tidak! Engkau hendak memanfaatkan kesempatan belajar terlebih dahulu!” 

Bintang Tenggara tercekat, lalu menghela napas panjang. Baru ia menyadari bahwa dirinya mementingkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaan Kuau Kakimerah. Menenangkan diri, anak remaja tersebut kemudian berujar pelan, “Tidak semudah itu. Bilamana kita melarikan diri sekarang, maka pasti akan diburu oleh segenap ahli di Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Dengan mudahnya pula nanti mereka menjebak diri kita dalam Supremasi Ilusi.”

Kuau Kakimerah bersungut. 

“Kesempatan kita melarikan diri hanyalah satu kali. Pada kesempatan itu, maka kita harus dapat menjaga diri dari pengaruh Supremasi Ilusi. Oleh karena itu pula, maka kita perlu memahami lebih jauh tentang kemampuan tersebut. Dengan kata lain, kita perlu mempelajari Supremasi Ilusi agar dapat menangkalnya... Apakah dikau mengerti maksudku...?”

Kuau Kakimerah menyilangkan lengan di depan dada. Raut wajahnya masih mencerminkan ketidakpuasan. 

“Maafkanlah aku bila tak memperhatikan perasaanmu....,” ungkap Bintang Tenggara sepenuh hati. 

Raut wajah Kuau Kakimerah melunak. “Sebelum dapat menggunakan Rajah Roh, maka kita terlebih dahulu melihat dan memanggil roh-roh yang ada. Dalam hal melihat roh, kita mengubah kemampuan pandangan mata. Kala itu terjadi, pandangan mata terhadap wilayah sekeliling berubah menjadi keunguan.

Bintang Tenggara tertegun. Kedua matanya melotot dan kini mulai dapat menebak ke mana arah penjelasan Kuau Kakimerah.

“Yang jarang disadari oleh kebanyakan ahli, bahkan oleh suku dayak sekalipun,“ lanjut Kuau Kakimerah, “bahwasanya tirai tipis berwarna keunguan benar-benar melapisi wilayah permukaan pupil pada kedua bola mata…”

“Dengan kata lain…,” sambut Bintang Tenggara. “Warna ungu yang melapisi kedua bola mata adalah nyata, namun seringkali tak disadari keberadaannya karena demikian tipis dan sangat samar!”

“Aku mengetahui hal ini karena tak dapat mengerahkan Rajah Roh… sehingga sangat memperhatikan tatkala anggota suku dayak lain memanggil roh,” gumam Kuau Kakimerah. 

“Cerdas sekali!” Super Murid Komodo Nagaradja hampir melompat di tempat. “Tunggu… aku hendak memastikan sesuatu di pustaka. Kalau tak salah baca, maka yang memanfaatkan indera penghilatan untuk melancarkan Supremasi Ilusi adalah para siluman sempurna dari Kerajaan Siluman Rayap Radak!”

Semangat menggebu, Bintang Tenggara bergegas melangkah pergi. Ia tak hendak membuang-buang waktu barang sedikit pun. Benaknya melayang pada berbagai kemungkinan, namun sebelum itu perlu segera memastikan. Di kala itu, si gadis belia hanya dapat menyaksikan betapa rekannnya yang kurang peka menghilang di balik lorong-lorong panjang. Suatu saat tak jauh di masa depan nanti, ketidakpekaan Bintang Tenggara ini menjadi salah satu penyebab mengapa Kuau Kakimerah lebih memilih untuk pergi bersama dengan Kum Kecho. 


===


“Mata Roh...,” ujar seorang anak remaja lelaki kepada Paduka Yang Mulia Raja Rayap. Karena kemampuan melihat roh tiada memiliki sebutan khusus di kalangan suku dayak, oleh sebab itu ‘Mata Roh’ merupakan penamaan yang ia ciptakan sendiri demi mempermudah penyebutan. 

“Hm...?” Paduka Yang Mulia Raja Rayap tak dapat menyembunyikan kekaguman di hati. Kaki menggantung pada kursi singasana yang terukir pada sebatang pohon mati, ia mencondongkan tubuh ke hadapan. Hanya mereka berdua yang saat ini berada di ruang singasana. 

“Dengan demikian, hamba dapat mengubah warna pada pupil di kedua bola mata. Lapisan berwarna keunguan yang tercipta pada kedua pupil ini senantiasa lepas dari kesadaran banyak ahli, namun kuyakin indera penglihatan dapat menangkap keberadaannya.”

Paduka Yang Mulia Raja Rayap menyibak senyum. Perubahan raut wajah ini tak ayal membuat hati Bintang Tenggara berbunga-bunga. Tujuannya sebentar lagi akan segera tercapai. 

“Ciri Mata Roh mirip dengan kemampuan mengubah warna kulit sebagaimana yang dimiliki oleh segenap ahli ke Kerajaan Siluman Rayap Radak,” lanjut Bintang Tenggara penuh semangat. “Inilah alasan utama kedatangan hamba di Kerajaan Siluman Rayap Radak.”

“Dan semudah itu engkau merasa dapat mengerahkan Supremasi Ilusi...?” tanggap san penguasa tenang. 

“Tentu saja tidak, wahai Paduka Yang Mulia Raja Rayap. Sebagaimana jalan keahlian, hamba sepenuhnya menyadari bahwa latihan yang berat dan panjang patut dijalani.”

“Bukankah engkau melupakan satu hal penting...?”

Bintang Tenggara terdiam sejenak. Benaknya menelusuri segala kemungkinan yang ada. Secara kemampuan, ia yakin dan percaya dapat mengecap ajaran dengan cepat. 

“Atas alasan apakah bagiku mengajarkan kemampuan Supremasi Ilusi kepada anak manusia...? Apa yang akan kuperoleh sebagai imbalan...?”

Bintang Tenggara tersentak. Akan tetapi, secepat kilat pula mengendalikan diri dan menanggapi dengan melancarkan jurus andalan. “Paduka Yang Mulia Raja Rayap, tentu hamba telah mempersiapkan tukar-menukar yang pantas. Sebagai imbalan mengajarkan Supremasi Ilusi, maka hamba akan menyampaikan unsur kesaktian yang dimiliki oleh segenap ahli di Kerajaan Siluman Rayap Radak.”

“Hanya menyampaikan unsur kesaktian kami...?”

“Benar.” 

“Unsur kesaktian kayu, yang kau maksudkan...?” Nada suara Paduka Yang Mulia Raja Rayap terdengar datar. Sama sekali tak ada ketertarikan yang terbersit dari gerak-geriknya. 

Bintang Tenggara, di lain sisi, tercekat. Mulutnya membuka, namun tak ada sepatah kata pun yang mampu melompat keluar. Betapa mengejutkan, Paduka Yang Mulia Raja Rayap telah mengetahui bahwa segenap kaumnya memiliki unsur kesaktian kayu. Dengan kata lain, Bintang Tenggara kini tak memiliki bekal tawar-menawar yang sepadan sebagai upaya untuk memenuhi kehendaknya mempelajari kemampuan yang ia idam-idamkan. 

“Pergilah...” Paduka Yang Mulia Raja Rayap mengibaskan lengan. “Lebih baik engkau berada di sisi teman seperjalananmu. Tabib istana mengatakan bahwa usianya sudah tak akan lama lagi.”


=== 


“Duar!” 

Binatang siluman kumbang yang berkubah bulat, besar dan tebal terpental jauh sekali. Di baliknya, seorang anak remaja lelaki menggeretakkan gigi karena getaran ledakan dapat dirasakan demikian keras. Kendatipun demikian, sejurus kemudian, dengan memanfaatkan tenaga dorongan ia malah melesat semakin menjauh. Tentu sebelumnya, Kum Kecho tak lupa mengembalikan Kepik Cegah Tahan ke dalam Kartu Satwa.

“Hei! Hentikan langkahmu!” Seorang lelaki dewasa dengan balutan perban di sekujur tubuh terlihat cemas. Ia lantas mengejar dengan kecepatan yang luar biasa tinggi.

“Hei, apanya yang hei...? Kau yang hendak ke mana...?” Tokoh lelaki dewasa muda lain, dengan raut wajah setenang aliran air sungai di musim kemarau mengangkat sebelah lengan dan membuka telapak tangan...

Sangara Santang tetiba terhenti di tempat, sekujur tubuhnya mejadi puluhan kali lipat lebih berat. Hukum daya tarik bumi dimanipulasi sedemikian rupa, sehingga hanya dirinya yang mendapat hukuman terkunci di tempat. 

“Hya!” Sang Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti menghentakkan tenaga dalam. Kekuatan ahli Kasta Emas memang sangat digdaya, sehingga dengan mudahnya ia melepaskan diri dari belenggu daya tarik bumi. 

“Kakak Lintang, jangan paksa diriku bertindak kasar!” 

“Siapa yang memaksa...?” Lintang Tenggara berujar santai. “Aku hanya mencegah engkau melakukan tindakan yang sia-sia belaka.”

“Kum Kecho membawa Lentera Asura milikku,” hardik Sangara Santang. 

“Lentera yang tak berguna bagimu...” Lintang Tenggara lantas mengeluarkan sesuatu dari dalam cicin Batu Biduri Dimensi. Sebuah kitab tebal dan lusuh, yang kemudian ia lempar ke arah lawan bicaranya. 

Sangara Santang menyambut sigap. Kitab yang kini berada di tangannya berbalut sampul tebal dari kulit, yang pada permukaan sampul halaman judul tersebut tercetak tulisan ‘Kitab Benda Pusaka’. “Apa maksudnya ini...?”

“Bukalah halaman 1.471. Di sana tertulis keterangan tentang apa dan bagaimana cara menggunakan Lentera Asura,” tandas Lintang Tenggara. 

Sangara Santang segera membolak-balik halaman. Sesampainya pada halaman yang dimaksud, raut wajah lelaki dewasa muda itu sontak berubah kusut. 

“Wahai Sangara Santang, kuyakin kau memiliki kemampuan membaca,” cibir Lintang Tenggara. “Namun, seandainya engkau terlewatkan, mari kuutarakan bagian penting di halaman tersebut... ‘bahwasanya Lentera Asura secara khusus berfungsi untuk menampung unsur kesaktian api.’”

Sangara Santang menggeretakkan gigi. Sontak ia mengatup kitab, dan menyodorkannya ke depan sembari menyergah ke arah Lintang Tenggara... “Akh! Kitab ini tak jelas pengarangnya!” 

“Hahaha...” Lintang Tenggara terkekeh. “Kitab itu adalah benda pusaka dengan sendirinya... Bacalah halaman pertama dan lihat siapa dia pengarangnya.”

Sangara Santang membuka halaman sampul dari kulit tebal. Tetiba matanya terbelalak, dan jemari tangan bergetar keras. Entah apa penyebabnya, padahal pada halaman tersebut hanya berisi sebait kutipan...

Demikianlah akhir gubahan kisah Boddhacarita yang istimewa ini. Diuntai menjadi kakawin yang indah oleh kawi yang ber-parab Mpu Tantular. Dan termashur dengan judul Purusadasanta yang akan selalu diingat orang. Dirgahayulah yang sudi mendengarkannya, membaca dan menyalinnya.*

“Kitab ini... kitab ini... milik...” Bibir Sangara Santang kini bergetar tanpa kendali. Bahkan dengan status sebagai salah seorang maha guru di salah satu perguruan terkemuka, sulit bagi dirinya dapat menemukan, apalagi memegang, benda pusaka sekelas kitab tersebut!

Lintang Tenggara tiba tepat di hadapan Sangara Santang. Tanpa berbasa-basi, tangan kanannya bergerak tangkas merampas kitab dari tangan Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti itu. “Sebaiknya kita tak meragu akan kandungannya. Sekedar mengingatkan, ini adalah salah satu kitab karangan Jenderal Keempat Pasukan Bhayangkara...”  


Catatan:

*) Kutipkan dari terjemahan bait 147.1 di dalam kakawin Sutasoma.