Episode 332 - Bola Mata



Sebuah aula nan sangat luas, lonjong dan membujur panjang. Samar terlihat, sisi-sisi ruang aula tersebut dihiasi dengan motif alami kayu yang berwarna kecokelatan. Kendatipun aula tersebut besar, kelembapan memenuhi udara dan rasa pengap menyesak di dada. Memang di dalam aula tersebut tiada memiliki sumber pencahayaan yang memadai, tidak pula lubang angin yang mengatur hilir mutik aliran angin.

Apakah tempat ini merupakan ruang tahanan…? batin seorang anak remaja lelaki. Ia sedang berdiri diam di salah satu sisi aula. Sekujur tubuhnya tiada dapat digerakkan, menoleh tak bisa, bahkan membuka mulut tiada memungkinkan. Sebagai tambahan lagi, jalinan mata hati tiada pula dapat dikerahkan. Yang dapat ia lakukan, adalah melirik, bernapas serta mendengar. 

Keadaan tiada berdaya ini bukanlah pengalaman pertama bagi Bintang Tenggara. Sebaliknya, sudah berkali-kali anak remaja itu terjebak di dalam pengaruh Supremasi Ilusi. Bahkan, dirinya mulai khawatir apakah terlalu banyak sinyal tak dikehendaki yang mempengaruhi otak dapat menyebabkan cedera berkepanjangan… Kemungkinan tersebut memang sangat mengganggu, akan tetapi saat ini ada hal lain yang lebih penting, yaitu perihal keselamatan. 

Berbeda dengan situasi-situasi sebelumnya, kali ini jantung Bintang Tenggara berpacu deras dan semangatnya pun menggebu. Mengingat bahwa sebelum terjebak di dalam Supremasi Ilusi, ia telah menyiagakan mata hati untuk peka terhadap keberadaan gelombang getaran suara serta semerbak aroma, namun tetap saja terperangkap. Oleh karena itu, dirinya dapat memperkirakan bahwa saat ini sedang berada di dalam wilayah yang menjadi tujuan.

Tak berselang lama, sepasang daun pintu tepat di hadapan Bintang Tenggara bergeser berat. Ukurannya besar yang mana terbuat dari kayu berwarna cokelat gelap. Demikian tinggi lagi lebar, dengan ketebalan hampir dua jengkal. Untuk membuka pintu tersebut, terpaksa dilakukan oleh sepasang ahli di setiap sisi. Mereka lelaki berperawakan besar dan kekar yang hanya mengenakan cawat. Otot-otot mengencang keras tatkala menggeser pintu, sebuah pemandangan tang tak perlu disaksikan, namun apa daya karena leher tiada bisa dipalingkan. 

“Sungguh kemampuan yang unik…” Ginseng Perkasa takjub kepada Supremasi Ilusi yang mendera Bintang Tenggara. “Andai saja diriku dapat menguasai kemampuan ini, maka…”

Bintang Tenggara membaca niat busuk yang ada di dalam benak sang Maha Maha Tabib Surgawi. Baru hendak menyela, tetiba tubuh anak remaja itu bergerak dengan sendirinya. Seberapa pun ia hendak memberontak, kendali tubuh sudah diambil alih oleh sang perapal Supremasi Ilusi. Kedua kakinya lantas melintasi bingkai pintu raksasa, untuk selanjutnya tiba di dalam aula lain. Karena berukuran lebih kecil, maka lembap dan pengap semakin kental dirasa. 

Di dalam keremangan pijar batu kuarsa, terlihat sebuah panggung yang mencuat dari permukaan tanah. Bentuknya tiada beraturan, sehingga lebih cocok disebut sebagai gundukan tanah. Di atasnya, kemudian berdiri sebatang pohon mati yang mana ukurannya terbilang normal, berwarna hitam, dengan akar yang mencuat dan menyebar pada permukaan panggung tanah. Diperhatikan lagi, maka pada permukaan batang pohon sedikit di atas akar, terukir dengan sedemikian rupa semacam kursi. Mengamati dengan seksama, Bintang Tenggara yakin dan percaya bahwasanya kursi yang merupakan bagian dari batang pohon tersebut, tak lain merupakan kursi singasana!

Dugaan Bintang Tenggara kemudian dipertegas dengan kedatangan delapan ahli yang muncul dari balik gundukan tanah panggung. Empat di sisi kiri dan empat lagi di sisi kanan. Hanya dengan pencahayaan seadanya, Bintang Tenggara berupaya mencermati setiap satu dari mereka. Yang paling muda adalah lelaki dewasa, sedangkan yang paling tua merupakan perempuan setengah baya. Akan tetapi, yang menarik perhatian adalah kulit tubuh mereka yang kesemuanya terlihat seputih susu. Tak salah lagi, dirinya berada di tempat tujuan. 

Setiap satu dari mereka yang tiba kemudian mengamati Bintang Tenggara. Dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, mereka mencermati. Ada yang mengangkat sebelah alis, ada yang mengedutkan dahi, mendengus kesal, tersenyum, ada pula yang hanya melotot. Berbagai emosi terpancar dari raut wajah mereka, namun belum ada sepatah kata pun yang terucap. 

“Dia adalah anak manusia yang dipungut oleh Ibunda Ratu Lebah...” Perempuan dewasa yang berada pada posisi terdekat dengan Bintang Tenggara membuka percakapan. 

“Sebaiknya kita mencabut nyawanya saat ini juga!” tanggap lelaki dewasa di seberang. Kecemasan menghias raut wajahnya. 

“Marius,” sosok paling tua di antara mereka berujar pelan, suaranya demikian serak sampai sulit dicerna. “Dikau telah menjalin hubungang dengan Kerajaan Siluman Lebah Ledang dan Kerajaan Siluman Semut Suluh... Kalian telah membahas tentang anak manusia ini, bagaimana pandanganmu...?”

“Mencabut nyawanya adalah keniscayaan,” tanggap Marius cepat. “Baik Elirio maupun Josalin tentu mengetahui keberadaan anak manusia ini di wilayah kerajaan kita. Ia telah ditetapkan sebagai mempelai lelaki Ibunda Ratu Lebah. Mencabut nyawanya berarti menyulut api peperangan terhadap Kerajaan Siluman Lebah Ledang.”

Bintang Tenggara sebagai pendengar setia, menghembus napas lega. Meski tak mengenal Marius sebagai punggawa kerajaan yang bertugas mengurus hal ikhwal luar negeri Kerajaan Siluman Rayak Radak, sebagaimana Elirio di Kerajaan Siluman Lebah Ledang, si anak remaja tersebut beranggapan bahwa tokoh tersebut cukup bijak. Setidaknya akan ada sosok yang memiliki nalar untuk diajak bertukar pikiran.

“Lantas, apa yang akan kita perbuat terhadap anak manusia ini...?”

“Tindakan Paduka Raja Rayap adalah tepat adanya,” sela perempuan dewasa. “Dengan menangkap anak manusia ini, kita dapat memanfaatkannya sebagai sandera. Kita berkesempatan dan berhak menuntut tebusan dari Kerajaan Siluman Lebah Ledang.”

“Kurang bijak bilamana kita menuntut tebusan, karena hal itu berarti kita yang bertindak sebagai penculik,” timpal Marius. “Lebih baik meminta imbalan yang setimpal atas jerih payah menyelamatkan anak manusia ini. Demi nama besar dan nama baik mereka, Kerajaan Siluman Lebah Ledang tentu akan mengabulkan kehendak kita.”  

“Pemikiran yang cemerlang, wahai Marius!” 

“Kerajaan siluman...? Lebah, semut, rayap...? Apakah yang sedang mereka perbincangkan...?” Ginseng Perkasa penasaran. 

Tidak, batin Bintang Tenggara berubah cemas. Ia tak hendak dipulangkan ke Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Ia hendak mempelajari sesuatu di tempat ini. Andai saja memiliki kesempatan, ia yakin bahwasanya dapat menawarkan pengetahuan yang berguna bagi khalayak di Kerajaan Siluman Rayak Radak ini. 

Tetiba suasana berubah hening. Tanpa aba-aba kedelapan punggawa kerajaan yang sedang berbincang-bincang serempak terdiam. Ke arah kursi singasana, mereka lantas membungkukkan tubuh. Begitu pula dengan Bintang Tenggara, tetiba tubuhnya bertekuk dan bertumpu pada satu lutut dengan sendirinya. 

Sejurus setelah itu, betapa terkejutnya Bintang Tenggara menyaksikan sosok yang telah duduk tegap dengan kaki bergelayutan di atas kursi singasana yang merupakan bagian dari sebatang pohon mati. Meski pakaian yang dikenakan kini terlihat mewah penuh warna, sosok tersebut tak lain merupakan si anak kecil yang memancing dirinya ke dalam celah pohon! 

“Sembah hormat Paduka Yang Mulia Raja Rayap!” serempak kedelapan punggawa menyambut kedatangan junjungan mereka. 

Anak kecil yang kini diketahui sebagai Raja Rayap, menatap Bintang Tenggara. Kemudian, ia beralih menyapu pandang kepada para punggawa kerajaan. “Apakah yang sedang kalian perbincangkan...?” 

“Mohon maaf atas kelancangan kami, wahai Paduka Yang Mulia Raja Rayap...,” tokoh tertua di antara para punggawa mengambil selangkah maju. “Adapun kami sedang membahas tindakan apa yang patut diambil terhadap anak manusia ini...”

“Lantas...?”

“Wahai Paduka Yang Mulia Raja Rayap,” tanggap perempuan dewasa yang pada awalnya menyarankan agar mencabut nyawa Bintang Tenggara. “Kami berpandangan bahwasanya anak manusia ini, yang merupakan mempelai lelaki bagi Ibunda Ratu Lebah, dapat berperan sebagai alat tawar-menawar kepada Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Kita dapat menuntut sejumlah Madu Imperium, wilayah kekuasaan, apa saja...”

Raja Rayap menyipitkan mata. “jadi, kalian berpandangan bahwa kita dari Kerajaan Siluman Rayap Radak demikian rendahnya, sampai hendak menjadikan anak manusia sebagai tebusan...?” Nada suara sang raja datar, seolah ia benar-benar penasaran atas pandangan segenap punggawa kerajaan. 

“Mohon ampun beribu ampun, wahai Paduka Yang Mulia Raja Rayap, bukanlah demikian pandangan kami terhadap kerajaan...” 

Tak satu pun punggawa kerajaan menyangka bahwa saran mereka akan ditanggapi secara dingin oleh sang penguasa. Mereka gelagapan, bahkan terlihat cemas, sangat cemas. Hanya satu di antara delapan punggawa yang masih dapat menjaga ketenangan dalam bersikap. 

“Bagaimana dengan pandanganmu, Marius…?” Paduka Yang Mulia Raja Rayap menatap tajam.

“Paduka Yang Mulia Raja Rayap,” Marius membungkukkan tubuh. “Adalah Yang Mulia seorang yang menyelamatkan dan kemudian membawa anak manusia ini kembali ke Kerajaan Siluman Rayap Radak. Namun demikian, hamba berpandangan bahwa kehadiran anak manusia ini di kerajaan hanya akan memperburuk hubungan dengan Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Kerajaan Siluman Semut Suluh menyadari akan hal ini, dan oleh sebab itu mereka membiarkan anak manusia ini masuk ke wilayah kerajaan kita. Bilamana perang tercetus di antara Kerajaan Siluman Rayap Radak dengan Kerajaan Siluman Lebah Ledang, maka yang paling diuntungkan nantinya adalah Kerajaan Siluman Semut Suluh.”

“Menurutmu, apa alasan anak manusia itu mendatangi Kerajaan Siluman Rayap Radak...?”

“Paduka Yang Mulia Raja Rayap, hamba memiliki beberapa sangkaan. Pertama, ia menolak perjodohan dan melarikan diri dari Kerajaan Siluman Lebah Ledang, kemudian tersasar. Kedua, ada sesuatu yang ia kehendaki dari Kerajaan Siluman Rayap Radak. Mata-mata kita yang bertugas di Kerajaan Siluman Lebah Ledang mengatakan bahwasanya anak manusia ini gemar membaca di pustaka, dan sangat tertarik pada... Supremasi Ilusi.”

“Apakah Kerajaan Siluman Lebah Ledang telah mengetahui bahwa anak manusia itu berada di kerajaan kita?”

“Paduka Yang Mulia Raja Rayap, lebih baik kita beranggapan yang terburuk. Sudah barang tentu Kerajaan Siluman Lebah Ledang turut memiliki mata-mata di Kerajaan Siluman Rayap Radak. Pastinya mereka telah mengabari Kerajaan Siluman Lebah Ledang tentang keberadaan anak manusia ini.”

“Bila demikian adanya, segera sampaikan kepada sejawatmu di Kerajaan Siluman Lebah Ledang, bahwasanya Kerajaan Siluman Rayap Radak menerima kedatangan anak remaja ini sebagai tamu kehormatan. Ia akan dipelakukan dengan baik, serta aku sendiri yang menjamin keselematannya. Tegaskan bahwa kita akan mengirmkannya kembali bilamana ia sendiri yang mengkehendaki.” 

“Mohon ampun beribu ampun, wahai Paduka Yang Mulia Raja Rayap.” Kini raut wajah Marius mulai terlihat cemas. “Tindakan ini kemungkinan besar akan disalahartikan oleh Kerajaan Siluman Lebah Ledang.”

“Telah aku putuskan.” Demikian, anak kecil yang menjabat sebagai Paduka Yang Mulia Raja Rayap menghilang dari kursi singasana. 

...


“Kau bernama Bintang Tenggara...?”

“Benar, Paduka Yang Mulia Raja Rayap...” Anak remaja itu menjawab sembari membungkukkan tubuh kepada anak kecil yang baru berusia tujuh atau delapan tahun. Aneh sekali rasanya, namun perlu diakui bahwa beliau bukanlah anak kecil, melainkan ahli yang demikian digdaya dan dapat mengubah penampilan sekehendak hati.  

Hari jelang malam, dan Bintang Tenggara diterima di Istana Utama Kerajaan Siluman Rayak Radap. Menyebutnya sebagai istana, mungkin kurang tepat. Anak remaja tersebut sesungguhnya berada di dalam liang pada pohon maha raksasa, yang merupakan tempat tinggal alami bagi warga kerajaan siluman sempurna rayap.

“Apa tujuan kedatanganmu di Kerajaan Siluman Rayap Radak?”

“Kedatangan hamba hendak mempelajari lebih mendalam tentang Supremasi Ilusi.” Bintang Tenggara sudah mengetahui melalui perbincangan dengan para punggawa bahwa lawan bicaranya kali ini bukanlah tokoh yang senang berbasa-basi. Oleh sebab itu, ia menjawab cepat serta dengan sejujur-jujurnya. 

“Apa yang engkau ketahui tentang Supremasi Ilusi...?”

“Tidak banyak.”

“Apa saja?”

Bintang Tenggara menghela napas panjang. Ia mulai menjabarkan sekelumit pengetahuan yang dimiliki. Dimulai dengan perbedaan dengan jurus persilatan ataupun unsur kesaktian yang menyerang secara fisik, di mana Supremasi Ilusi menyerang kesadaran. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan mempengaruhi syaraf otak, guna memaksa panca indera untuk tenggelam di dalam kenyataan palsu. Mata melihat, telinga mendengar, hidung membaui, lidah mengecap, kulit merasa; namun sensasi yang diterima adalah tak nyata. Sampai pada batasan tertentu, kesemua panca indera menjadi sasaran untuk dipengaruhi.

“Para ahli dari ketiga kerajaan siluman sempurna di dunia ini, memiliki cara masing-masing dalam mengerahkan Supremasi Iluasi. Kemampuan mata hati adalah yang utama. Langkah berikutnya, adalah merasuk ke alam bawah sadar tanpa disadari. Atau dengan kata lain, menyerang kesadaran dengan melakukan pengalihan...,” papar Bintang Tenggara. 

“Apakah kau mengetahui bagaimana kiranya mengalihkan kesadaran, sampai membuat lawan tiada menyadari bahwasanya kesadaran mereka sedang dirasuk?”

“Para siluman sempurna di Kerajaan Siluman Lebah Ledang merapal Supremasi Ilusi melalui gelombang getaran suara, sedangkan Kerajaan Siluman Semut Suluh memanfaatkan kelenjar penghasil aroma.”

“Bagaimana Kerajaan Siluman Rayap Radak...?’

Bintang Tenggara mengangguk. Raut wajahnya seolah bersinar. “Para ahli di Kerajaan Siluman Rayap Radak menyerang pandangan mata.”

“Apakah kau mengetahui cara penerapannya...?” 

Bintang Tenggara terdiam sejenak, lantas melanjutkan, “Di dalam keremangan cahaya, masih terdapat berbagai warna yang dapat ditangkap oleh mata sebagai panca indera, namun tak disadari oleh otak. Kulit seputih susu pada permukaan tubuh para ahli di Kerajaan Siluman Rayap Radak dapat berubah warna seketika, dari seputih susu menjadi putih sahaja. Perubahan warna yang sangat halus tersebut ditangkap oleh indera penglihatan dan tanpa disadari mencapai otak sasaran.”

“Apakah engkau memiliki sayap-sayap yang dapat membisikkan suara halus, atau kelenjar yang mengunggah aroma, atau kulit yang dapat menebar warna...?” Pertanyaan sang penguasa tersusun rapi dan terarah, sehingga membuat Bintang Tenggara seperti kehilangan pegangan.

“Tidak...” Jawaban yang keluar dari mulut anak remaja itu terdengar sayup, petanda bahwa sesungguhnya ia sedikit ragu.

“Lantas, bagaimana mungkin anak manusia dapat berpikir bahwa dirinya mampu mendalami Supremasi Ilusi?”

“Paduka Yang Mulia Raja Rayap,” Bintang Tenggara menghela napas panjang. “Sesungguhnya hamba memiliki kemampuan lain yang mirip dengan kemampuan perubahan warna kulit segenap ahli di Kerajaan Siluman Rayap Radak.”

“Apa yang membuat engkau demikian percaya diri sampai mendatangi Kerajaan Siluman Rayap Radak?”

Meski kali ini tak sepenuhnya memiliki rasa percaya diri tinggi, setidaknya ia patut mencoba. Pelan, Bintang Tenggara berujar... “Hamba dapat mengubah warna bola mata.”