Episode 68 - Misi untuk Mereka


“Jadi, apa yang harus kita lakukan?” dengan suara yang melengking seperti lonceng, sosok dengan pakaian bulu berwarna hitam itu bertanya. Dia adalah Dalpos, salah satu pemimpin pasukan iblis yang baru.

Di samping Dalpos, seorang pemimpin pasukan iblis lainnya, Biloth, yang seluruh tubuh kecuali matanya tertutup pakaian hitamnya, tetap mempertahankan kebisuan. Tidak, sebenarnya saat ini dia dengan serius mencari kalimat yang tepat untuk dikatakan.

Di hadapan mereka duduk seorang pemimpin pasukan iblis yang baru juga, Egor. Dengan wujud seorang kesatria, dia terlihat sangat menawan. Selain itu, di bahunya berbaring seekor ular berwarna pelangi yang saat ini sedang tertidur.

“Bagaimana kalau kita langsung saja pergi, tidak akan sulit bagi kita mencari langsung pecahan pedang itu, lagipula kita tidak punya banyak waktu.” Ucap Egor.

“Kau benar, tapi tanpa informasi yang cukup, akan berbahaya bagi kita untuk langsung pergi.” Sanggah Dalpos. “Harus kau ingat, meremehkan musuh bisa menjadi bumerang untukmu.”

Meskipun apa yang Dalpos katakan terkesan pintar dan bijaksana, akan tetapi karena suaranya yang melengking membuatnya terlihat lucu. Pemandangan yang sangat kontras tersebut bahkan membuat ujung bibir Biloth naik, beruntung seluruh wajahnya kecuali mata tertutup pakaian hitam, jadi tidak ada yang melihatnya.

“Kau benar.” Egor mengangguk setuju.

“Selain itu, dalam bentuk jiwa kekuatan kita akan berkurang setengahnya.” Ucap Dalpos, kemudian dia melanjutkan, “jadi mengirim mata-mata terlebih dahulu akan menjadi pilihan terbaik.”

“Aku setuju dengan yang kau katakan, tapi harus kau ingat, secepatnya kita harus mengumpulkan semua pecahan pedang gram, karena jika tidak naga sialan itu akan mengamuk lagi.” Egor mencoba kembali mengingatkan.

“Aku tahu, kita akan beri waktu pada mata-mata yang kita kirim, jika mereka tidak kembali dalam waktu yang telah kita tetapkan, maka kita sendiri yang harus pergi ke sana.” Ucap Dalpos.

“Lalu, siapa yang akan kita kirim untuk menjadi mata-mata?” tanya Egor.

“Aku punya ide bagus.” Jawab Dalpos dengan senyum yangmerekah.

“Apa itu? Cepat katakan.” Ucap Egor tidak sabaran.

“Bagaimana dengan dua pecundang itu?” 

“Maksudmu, mereka berdua? Apakah mereka bersedia untuk menjadi mata-mata?” tanya Egor dengan ragu. Bagaimanapun, mereka bukan iblis tingkat rendah.

“Haha, apakah kau lupa? Kita adalah pemimpin pasukan iblis, mereka tidak dalam posisi untuk menolak perintah kita.” Ucap Dalpos dengan penuh kebanggaan.

“Benar, aku lupa, tentu saja mereka tidak akan bisa menolak.” Ucap Egor dengan seringai yang lebar.

“Lalu, kau setuju dengan rencana ini?” tanya Dalpos.

“Setuju.” Jawab Egor segera.

Tiba-tiba terdengar suara lagi, “Setuju.” 

Langsung saja Dalpos dan Egor menoleh ke sumber suara tersebut yang tidak lain berasal dari samping Dalpos. Benar, itu adalah suara dari Biloth. Dari awal hingga akhir diskusi ini, dia sama sekali tidak mengatakan apapun hingga akhirnya Egor dan Dalpos tidak ingat bahwa Biloth juga ada di sana, jadi ketika tiba-tiba Bilot mengatakan kata itu, mereka berdua terkejut.

“Ah ... baik, baguslah kalau kau setuju.” Ucap Egor dengan tampilan aneh.

Sementara itu Dalpos hanya tersenyum lalu begumam pelan, “Sial, aku sampai lupa dia ada di sini.” Namun, meskipun pelan, dengan suaranya yang melengking, Egor masih bisa mendengarnya.

Egor membuang muka ke samping, berpura-pura tidak mendengar apa yang Dalpos katakan . Sementara itu Biloth langsung menoleh ke arah Dalpos, matanya menatap pada Dalpos yang tepat berada di sampingnya. 

Dalpos berpura-pura tidak menyadari tatapan dari Biloth, setelah terbatuk dua kali dia langsung berkata, “Kalau begitu, langsung kita panggil saja mereka berdua kemari.”

Setelah mengatakan itu, Dalpos langsung menyuruh anak buahnya untuk membawa dua orang yang mereka maksudkan. 

Menyadari bahwa Biloth masih menatapnya, Dalpos terbatuk dua kali lalu menoleh ke arah Biloth lalu bertanya, “Ke-kenapa?”

Biloth tidak menjawab pertanyaan dari Dalpos, dia berkedip satu kali lalu mengalihkan perhatiannya dari Dalpos. Yang sebenarnya terjadi adalah Biloth ingin bertanya apa yang tadi Dalpos gumamkan, karena dia tidak mendengarnya dengan jelas, akan tetapi setelah lama dia memilih kalimat untuk dikatakan. Namun, setelah datang pertanyaan dari Dalpos, Biloth langsung mengurungakan niatnya tersebut.

Suasana di ruangan menjadi sedikit aneh, Dalpos terus melirik ke arah Biloth, Biloth tetap mempertahankan kebisuannya, sedangkan itu Egor terus melihat ke sekeliling ruangan, seperti orang yang sangat mengagumi arsitektur bangunan. Meskipun, dia adalah tipe yang tidak tahu di mana indahnya ukiran-ukiran seni, menurutnya hal –hal seperti itu tidak ada gunanya, karena pada akhirnya semua keindahan itu pasti akan hancur.

Jadi, intinya adalah, semua yang tidak abadi itu tidak indah.

Tidak butuh waktu lama, seeorang iblis bawahan Dalpos datang dan melaporkan bahwa orang yang mereka cari telah tiba, tanpa basa-basi Dalpos memerintahkan bawahannya untuk membawa mereka masuk.

Suara langkah terdengar, lalu masuk dua orang iblis yang tidak asing lagi bagi mereka berdua. Yang di sebelah kiri adalah Raon, seorang iblis dengan wujud seorang pemuda yang berpakaian serba hitam dan terdapat sepasang sayap gagak di punggungnya.

 Yang di sebelah kanan adalah Gop, seorang iblis dengan wujud pemuda tampan berambut pirang, selain itu dia juga bertelanjang dada, seolah ingin memamerkan tubuhnya. Di punggungnya terdapat sepasang sayap kelelawar yang membuat dia tampak menakutkan.

Di wajah tampan Gop terukis senyuman tipis, dengan suara yang santai dia berkata, “Jadi, ada urusan apa para pemimpin iblis yang baru ingin kami datang kemari?” 

Sedangkan itu, Raon menaikan dagunya dan menatap rendah Dalpos yang sedang duduk dengan santai di depannya, Raon masih tidak terima dengan kenyataan bahwa dia kalah dari Dalpos.

“Kami punya misi untuk kalian berdua.” Jawab Dalpos atas pertanyaan Gop.

Dengan suara yang menggeram Raon berkata, “Lalu bagaimana kalau kita menolak?”

Dalpos memandang Raon sejenak lalu tersenyum angkuh, kemudian dengan suaranya yang seperti lonceng Dalpos berkata, “Kau tahu posisimu, kan? Kau tidak dalam posisi untuk menolak, lagipula ini bukan permintaan, tapi perintah.” Dalpos menekankan kata terakhirnya dengan wajah yang bangga, sementara itu Raon hanya bisa menggertakan giginya setelah mendengar apa yang Dalpos katakan.

Memang, di dunia ini yang kuatlah yang berkuasa, sedangkan yang lemah hanyalah pion dan batu pijakan agar si kuat dapat melompat lebih tinggi. Tidak ada yang aneh dari hal ini, karena memang beginilah norma yang berlaku. Ini adalah suatu kewajaran.

“Jadi, apa yang harus kami berdua lakukan?” tanya Gop dengan santai.

“Tidak banyak, kalian hanya harus mencari informasi untuk kami.” Ucap Egor.

Gop berpikir sejenak lalu kembali bertanya, “Lebih tepatnya, apa yang harus kami cari tahu?”

“Kalian harus mencari tahu bagaimana keadaan di dunia manusia, juga bila memungkinkan cari lokasi pecahan pedang gram, ini adalah misi dari para pemimpin pasukan iblis, jadi kalian tidak bisa menolaknya.” Jelas Egor.

“Haha, ini bukanlah misi yang mudah,” Gop memicingkan matanya pada Egor, “aku juga tidak yakin apakah misi ini memang diperintahkan kepada kami?”

“Kalian tidak perlu tahu bagaimana detailnya, yang harus kalian lakukan hanyalah jalankan misi ini,” Egor berkata dengan cepat.

“Haha, baiklah, baiklah, akan aku lakukan.” Gop berkata dengan wajah yang santai kembali.

“Bagaimana denganmu?” tanya Dalpos pada Raon, “ah, aku tidak bertanya tentang kau mau atau tidak, tapi apakah kau bahagia atau tidak? Kau tahu, kami memberikan kesempatan ini untukmu berlatih, jadi mungkin suatu hari nanti kau bisa berada di posisi kami,” lanjut Dalpos dengan senyum mengejek.

Melihat bagaimana sikap Dalpos membuat Raon sangat marah, dia mengepalkan tinjunya dengan keras dan memandang Dalpos dengan penuh kebencian.

“Baiklah, kalau begitu lebih baik kita langsung saja ke lokasi.” Ucap Egor dengan tenang.

“Ayo.” Ucap Biloth tiba-tiba.

Sontak Egor, Gop, Dalpos, dan Raon menoleh ke arah suara itu berasal. Egor terkejut, dia kembali melupakan bahwa ternyata Biloth juga berada di sini. Begitu pula Dalpos, setelah puas melihat bagaimana ekspresi kesal dari Raon, membuat dia lupa bahwa Biloth berada di sini. Tidak kalah terkejut adalah Gop dan Raon, sejak mereka berdua masuk, mereka tidak sadar bahwa Biloth ada di sana. 

Namun, ini bukan kesalahan mereka karena melupakan Biloth, lagipula dia sama sekali tidak berbicara sedari awal, jadi wajar saja mereka melupakannya. Juga, dengan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuh kecuali kedua matanya sangat kontras dengan ruangan yang gelap, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka tidak sadar bahwa dia selalu ada di sana.

Sebenarnya Biloth ingin masuk dalam percakapan, akan tetapi ketika dia selesai menyusun kalimat apa yang harus dia ucapkan, topik dari pembicaraan telah beralih. Jadi, dia mengurungkan niatnya untuk mengatakan kalimat yang telah dia susun tersebut. 

“Y-ya, ayo kita pergi.” Ucap Egor dengan canggung.

Di depan gerbang Helx.

Entah berapa kali mereka melihatnya gerbang itu, mereka tidak bisa menyembunyikan kekaguman dan kekesalan. Kagum karena gerbang itu benar-benar sesuatu yang tidak bisa diukur oleh akal sehat, entah besarnya hingga kuatnya gerbang tersebut. 

Namun, karena alasan ini pula mereka merasa kesal, karena gerbang inilah yang membuat mereka tidak bisa pergi dari dunia yang busuk ini, yang membuat mereka tidak bisa hidup dengan damai, karena jika mereka sedikit saja mengendur, maka seseorang yang telah berlatih dan menjadi lebih kuat akan mengincar mereka. Di sini, kekuatan dan kekuasaan adalah sesuatu yang sangat dijunjung tinggi.

“Kami akan beri kalian waktu 3 hari, setelah itu kalian harus kembali dengan informasi tentang dunia manusia.” Ucap Egor dengan bijaksana.

“Lalu, bagaimana kalau kita tidak kembali?” tanya Gop dengan senyum misterius.

“Jika begitu, kalian bisa lupakan saja untuk kembali ke tubuh kalian lagi.” Ucap Dalpos dengan pandangan tajam.

Alasan kenapa mereka memilih Gop dan Raon untuk melakukan misi ini bukan karena mereka ingin mempermainkannya, tapi karena mereka percaya bahwa Gop dan Raon mampu melakukanya. Meskipun mereka kalah dalam duel, akan tetapi kekuatan mereka tidak bisa diremehkan. 

“Baiklah, kami pergi dulu.” Ucap Gop santai.

Raon tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mendengus pada mereka bertiga. Kemudian mereka berdua menggunakan teknik rahasia. Seketika saja tubuh mereka kini hanyalah cangkang yang kosong, sedangkan itu jiwa mereka pergi melalui celah kecil yang tercipta karena pedang gram, menuju dunia manusia.