Episode 330 - Tokoh nan tak diharapkan



“Siapakah di sana…?” 

Tak mungkin manusia, batin Bintang Tenggara. Tak ada manusia yang menetap di dunia yang dipenuhi oleh berbagai jenis binatang siluman serangga raksasa serta para ahli dari tiga kerajaan siluman sempurna. Di saat yang bersamaan, Bintang Tenggara merasakan bahwa sosok anak kecil berusia tujuh atau delapan tahun itu menyibak aura yang membuat resah. 

“Waspadalah…,” bisik Ginseng Perkasa tanpa diminta. 

Terkait tokoh yang kesadarannya telah kembali ini, Bintang Tenggara merasa sempat dibodohi. Menurut Ginseng Perkasa, kemampuan penyembuhan yang dia pinjamkan hanya dapat dikerahkan dengan menjilat ketiak. Akan tetapi, nyatanya merupakan tipuan belaka, atau lebih tepatnya merupakan siasat keji demi memenuhi hasrat menyimpang! 

Kendatipun demikian, Bintang Tenggara menyadari bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk melampiaskan amarah. Kemampuan kakek tua cabul itu memiliki peran penting untuk menyelamatkan Si Kancil, yang pada akhirnya nanti bermanfaat dalam mengobati tubuh Komodo Nagaradja.

Sorot mata Bintang Tenggara masih mengamati gerak-gerik anak kecil di hadapan. Mengenakan kemeja putih yang longgar bahkan memberi kesan kebesaran, celana yang ia kenakan pun demikian keadaannya. Kulit tubuhnya putih bersih dengan rambut lurus panjang setengah menutupi wajah. Sulit menebak dengan pasti apakah ia anak lelaki atau perempuan. Sementara yang paling utama, adalah tak dapat ditakarnya kasta dan tingkat keahlian anak kecil tersebut. Menghadapi keadaan sepertu ini, biasanya hanya akan menjurus kepada dua kemungkinan: manusia biasa, atau siluman sempurna yang terlampau digdaya! 

Pertanyaan yang dilontarkan tak kunjung mendapat jawaban. Si anak kecil dan si anak remaja hanya saling tatap. Tetiba, anak kecil itu memutar tubuh dan berlari menjauh. Selang beberapa langkah, ia berhenti, lantas menoleh kepada Bintang Tenggara sebelum kembali berlari menjauh. 

Walau tiada berlangsung pertukaran kata-kata, Bintang Tenggara menangkap bahwa tindakan tersebut merupakan sebuah ajakan. Dalam keadaan normal, maka ia akan mengikuti anak kecil itu. Namun saat ini bukanlah keadaan yang biasa. Ginseng Perkasa telah memberi peringatan dan dirinya sendiri merasa sangat tak nyaman. Oleh karena itu, adalah lebih bijak bila tak menanggapi ajakan si anak kecil. 

Bintang Tenggara lalu mengamati sekujur tubuh lemah Si Kancil yang melepuh akibat luka bakar. Pertanyaan seputar apa yang telah menimpa binatang siluman itu dan binatang siluman belalang sembah kembali mencuat di dalam benak. Terjadi pertentangan tatkala ia memperhitungkan kemungkinan, karena bila Si Kancil memiliki unsur kesaktian putih yang dapat menetralisir unsur kesaktian lain, mengapa api dapat membakar sekujur tubuhnya…? Mungkinkah ada ahli yang demikian digdaya, sampai-sampai Si Kancil tiada dapat membendung unsur kesaktian api…? Bila benar ada ahli yang memiliki unsur kesaktian api, kemanakah perginya setelah memberangus binatang siluman belalang sembah…?

Hari beranjak petang, dan petang pun beranjak malam. Perlahan dan dengan sangat hati-hati, Bintang Tenggara membopong tubuh Si Kancil yang masih tak sadarkan diri. Oleh karena tindakan tersebut, gerakannya menjadi sangat lambat. Tanpa tempat berlindung di malam hari, Bintang Tenggara menyadari bahwa mereka akan menjadi sasaran empuk bagi binatang siluman serangga yang dapat muncul kapan saja. 

Kegelisan merayap di benak Bintang Tenggara. Akan tetapi, ada hal lain yang lebih membuat dirinya gelisah. Bahwasanya, di sepanjang perjalanan ia menyadari akan keberadaan sepasang mata yang terus mengawasi. Si anak kecil itu membuntuti dalam diam… 

“Keluarlah…,” ucap Bintang Tenggara ke arah semak belukar tak jauh dari tempat di mana ia berdiri. 

Kata-kata Bintang Tenggara dijawab oleh semak belukar yang berguncang pelan, seolah terkejut lalu menggigil ketakutan. Segera setelah itu, semak belukar menyibak dan terlihat anak kecil yang selama ini mengekori melangkah keluar. Dari gerak-geriknya, tak ada rasa gentar sama sekali, seolah menunjukkan bahwa wilayah hutan dengan pohon besar-besar merupakan daerah kekuasaannya. 

“Apakah dikau mengetahui tempat berlindung…?” lanjut Bintang Tenggara. 

Anak kecil mengangguk cepat tanpa seberkas pun keraguan. Jikalau ia meragu, maka Bintang Tenggara akan sangat curiga kalau-kalau lawan bicaranya itu sedang bersandiwara. Meskipun masih menaruh curiga, Bintang Tenggara memutuskan untuk mengikuti langkah si anak kecil. Tak ada pilihan lain. 

Tak lama waktu berselang, Bintang Tenggara tiba di depan sebuah pohon raksasa. Selama perjalanan, anak remaja itu menebar mata hati sebagai upaya pertahanan kalau-kalau ada suara atau aroma yang tanpa disadari merasuk dan mempengaruhi kesadarannya. Sebagaimana diketahui, suara merupakan cara bagi ahli dari Kerajaan Siluman Lebah Ledang untuk menerapkan kemampuan nan unik, dan aroma bagi ahli dari Kerajaan Siluman Semut Suluh. Dengan menyiagakan mata hati, maka Bintang Tenggara berharap dapat merasakan kehadiran suara dan/atau aroma yang biasanya tak disadari. 

Bintang Tenggara merangkak masuk ke dalam celah pada batang pohon raksasa. Setelah menarik masuk tubuh Si Kancil yang masih lemah dan tak sadarkan diri, ia berupaya mengamati keadaan sekeliling. Gelap gulita, tak ada satu pun sumber pencahayaan. Anak remaja itu pun menebar mata hati, dan merasa lega karena tak menemukan kehadiran bahaya dalam bentuk apa pun. 

Perlahan cahaya temaram berpendar dari sebongkah batu kuarsa. Kedua matanya mendapati si anak kecil berdiri tak terlalu jauh… Akan tetapi, seketika setelah itu, jantung Bintang Tenggara seolah berhenti berdetak. Semangatnya untuk menelusuri dunia yang diisi oleh binatang siluman serangga dan siluman sempurna, seolah menguap dibawa udara. Perasaan setengah putus asa ini bukan karena apa yang ia saksikan, melainkan karena sepenuhnya ia menyadari bahwa sekujur tubuh tak lagi dapat dikendalikan. 

Meski telah bersiaga dengan senantiasa menebar mata hati, Bintang Tenggara kini telah jatuh ke dalam pengaruh… Supremasi Ilusi. 


===


Sepekan sudah waktu berlalu. Pemandangan menampilkan seorang lelaki dewasa muda sedang duduk termenung di atas sebongkah batu, dengan latar belakang hutan rimba. Tatap matanya kosong, entah apa yang ia lamunkan. Dari raut wajahnya yang penuh kedut, terlihat jelas bahwa ia sedang gundah gulana. Biasanya, keadaan merana seperti ini diakibatkan karena ditinggal pergi oleh anggota keluarga tersayang atau ditinggal lari kekasih hati. Yang mana pun itu, perasaan seperti ini adalah jamak bagi manusia kebanyakan.

Tetiba lelaki dewasa muda itu tersentak. Ia bangkit berdiri. Kedua matanya yang tadinya demikian sedih, kini dipenuhi dengan semangat kehidupan. Kedua mata tersebut menatap lurus ke arah sebuah goa yang tak terlalu jauh jaraknya. 

Udara di hadapan goa terlihat ibarat lembaran kain tipis yang tak kasat mata. Lembar kain tersebut terkoyak, dan jalinan rotan menyeruak. Lantas, seorang anak remaja yang mengenakan Jubah Hitam Kelam melompat keluar. 

“Bangsaaaaaatttt….!” pekik nyaring sang Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti. Ia lantas merangsek cepat tatkala menyaksikan kehadiran tokoh yang teramat dibenci, sekaligus dinanti.

Setelah Kum Kecho, dari dalam celah lorong dimensi ruang antar dunia, Kuau Kakimerah melesat keluar dengan menunggangi seekor binatang siluman. Wajahnya pucat dan tubuh gadis belia itu belum sembuh benar, sehingga memaksakan diri membuka celah lorong dimensi ruang antar dunia sangatlah melelahkan.

Kecapung Terbang Layang melesat cepat ke arah Kum kecho. Anak remaja itu segera melompat naik ke pundaknya. Akan tetapi, sang binatang siluman kesulitan mengepakkan sayapnya sehingga tak dapat terbang menjauh. Sangara Santang telah melakukan sesuatu terhadap binatang siluman tersebut! 

Beberapa langkah lagi Sangara Santang menangkap tubuhnya, Kum Kecho sontak meraih tubuh Kuau Kakimerah yang lemah. Ia memasang tubuh gadis belia tersebut ibarat sebentuk tameng. 

“Selangkah lagi gadis ini mati…,” ujar Kum Kecho sembari mencengkeram batang leher si gadis belia. Kata-katanya terdengar dingin, tak ada terbersit seberkas pun keraguan.

“Cih!” Sangara Santang tambah meradang. Akan tetapi, ia tetap berhenti di tempat. Mengenal Kum Kecho, terpaksa ia mengakui bahwa kata-kata yang keluar dari mulut tokoh laknat itu bukanlah ancaman kosong belaka. 

“Mundur… dan biarkan aku pergi.” Kum Kecho menyentak tubuh Kuau Kakimerah, sebagai isyarat bahwa nyawa gadis belia tersebut berada di dalam genggamannya. 

“Keparat! Kau apakan lenteraku!?” 

“Aku tak pernah mencuri lenteramu. Lentera itu dibawa oleh binatang siluman kancil…,” ucap Kum Kecho acuh tak acuh. “Tunggu saja di sini, cepat atau lambat binatang siluman itu akan kembali.”

“Dusta!” Meski lawan memiliki sandera, Sangara Santang tetap mencegah kemampuan Kecapung Terbang Layang untuk melesat terbang, sehingga binatang siluman tersebut terlihat limbung mundur beberapa langkah 

“Apakah kau benar-benar hendak menguji kesabaranku…?” ancam Kum Kecho lagi.

“Biasanya kau mengenakan sebentuk cincin Batu Biduri Dimensi… Keluarkan dan serahkan padaku cincin tersebut. Jikalau Lentera Asura tak ada di dalamnya, maka aku akan melepaskanmu!”

Kum Kecho menyipitkan mata. Memang ia menyimpan Lentera Asura di dalam sebentuk cincin Batu Biduri Dimensi, dan menyembunyikan cincin tersebut. Ia lengah akan kemampuan pengamatan Sangara Santang. Akan tetapi, seandainya pun mengenakan cincin tersebut, maka Sangara Santang tetap akan menuntut untuk melakukan pemeriksaan.

Sepertinya tak ada pilihan lain. Kum Kecho lantas memberikan sedikit tenaga pada cengkeraman pada leher Kuau Kakimerah, sehingga wajah gadis belia itu menjadi merah. “Gadis ini berasal dari suku Dayak Kaki Merah. Jikalau ia mati karena tindakanmu, maka kau akan berurusan dengan Dewan Dayak.”

Suasana semakin memanas. Terpisah jarak sekira sepuluh langkah, kedua belah pihak yang bersengketa tak hendak mengalah. 

Akan tetapi, di luar perkiraan kedua belah pihak, tetiba sebuah lorong dimensi berpendar di antara mereka. Dari dalamnya, kemudian melompat keluar seorang lagi lelaki dewasa muda. Pakaian yang ia kenakan demikian tertata rapi lagi bersih. Sungguh aura yang mencuat dari dirinya menyibak kesan nan sangat terpelajar. 

Raut wajah tokoh yang baru saja tiba kemudian dibuat sangat terkejut tatkala menoleh ke kiri, lantas ke kanan. Di saat yang bersamaan pula, atas kehadiran tokoh nan tak diharapkan itu, baik Kum Kecho maupun Sangara Santang terlihat teramat sangat muram....