Episode 97 - Connecting the Dots


“Pak Volric!?” tanya Nicholas dengan terkejut.

“...!?” Velizar yang selalu terlihat datar sampai terkejut.

“Pak Volric!?” kata Sinus yang terheran-heran. “Kenapa kau bisa ada disini!”

“Ka... kalian...” Volric langsung pucat, juga malu, juga sedih tapi juga senang. Perasaannya tidak menentu melihat mereka bertiga. 

“Kau... terlihat berbeda sekarang?!” Nicholas melihatnya dengan rasa kecewa.

“...” Velizar melihat Volric dengan kecewa dan menggigit giginya sendiri.

“Lama kami tak melihatmu, tapi begitu akhirnya kami bertemu...”

“KALIAN TIDAK MENGERTI!” Volric berteriak keras sekali, sehabis itu dia menangis. “KALIAN TIDAK MENGERTI! HUHUHU...” 

“...” mereka bertiga terdiam dalam raut wajah kecewa melihat Volric sujud menangis dan nampak begitu menyedihkan.

“6 bulan ini banyak hal buruk yang sudah kulalui!” sahut Volric sambil menangis. “Aku mencoba meraih kembali hidupku yang dulu... tapi... tapi... aku malah semakin terpuruk. Dan... dan... hwaaaaa !!”

***

Malam hari di perjalanan dari Fel hingga Letshera yang hanya jeda beberapa saat, Nicholas segera menyambung pulang ke Vheins saat tengah malam, melewati hutan gelap yang hanya disinari obor api.

“Setelah kejadian itu... hasil akhirnya sudah jelas.” Nicholas merenungkan hari itu dari tempat duduk kereta kuda pribadinya. Dua teman di sampingnya sudah tertidur pulas. 

“Kami berhasil menangkap ketua guild kriminal Sandstorm. Voz. Ia dikalahkan dengan mudah, bukan karena dia lemah, tapi mungkin saja karena Kak Nathan yang terlampau terlalu kuat.”

“Namun kedua Elite Officer mereka, Raul dan Volkan berhasil melarikan diri. Karena waktu yang terbatas, tugas memburu mereka dialihkan pada Hunter yang lain.”

“Voz menolak menjadi anak buah kakak dan segera sifatnya yang kubenci itu hampir terjadi kembali. Ia nyaris dipenggal kepalanya seperti kejadian waktu itu, namun berhasil dihentikan Velizar. Tebasannya menghilangkan pedang pemenggal kakak dan kita jadi dapat berkompromi dengannya.”

“Pak Volric ikut dipenjara bersama kelompok mereka di penjara Fel. Aku benar-benar masih sulit mempercayainya bahwa mantan guruku, kini berada di jalan seorang penjahat.”

“Kami sempat bicara dengannya sebentar dari balik sel penjara. Ia sangat malu kami melihat dirinya, ia memunggui kami saat bicara. Dari kata-katanya, ia masih saja menyalahkan Hael. Anak yang sudah hilang entah kemana itu, atas semua hal yang terjadi padanya saat ini.”

“Sebelum pulang kak Nathan bicara kalimat yang agak menggangguku. Dia bilang...”

“Nicholas, tidak ada yang kebetulan... segala sesuatunya itu terhubung.” pesan Nathan pada adiknya.

“Baru setelah ia bicara hal yang membingungkan begitu. Kak Nathan menjelaskan bahwa Sandstorm ini terhubung dengan target yang pernah kak Nouva buru setengah tahun lalu. Guild dagang yang menyokong aktifitas kriminal mereka dengan menyuplai senjata.”

“Dan mungkin saja... titik-titik yang terhubung ini, belum sampai pada ujungnya.”

***

Pagi hari di hari pertama bulan ke-11 tahun 1901.

Tap! Tap! Tap! Tap!

Alzen berlari melewati gerbang dan melangkah menuju tempat teleportasi.

“Teman-temanku sekarang sudah banyak yang bertumbuh,” kata Alzen dalam hati sembari berlari dengan antusias menggunakan sihir elemen apinya untuk bergerak cepat. “Senang rasanya melihat mereka yang pertama kali kukenal, sudah menjadi sangat kuat pada elemen dan fokus belajar mereka masing-masing.”

Selagi Alzen meledak-ledakan apinya untuk melesat cepat, orang-orang yang tak bisa sihir di Area 1 Vheins menjadi terfokus padanya.

“Hahh... hah... sampai juga,” Alzen melangkah menuju portal teleportasi. “Jujur saja, aku merasa tidak bertumbuh secepat mereka.” 

SWUSSSHHH !!

Alzen teleportasi keluar dari kota Vheins.

“Selatan, selatan, selatan.” Alzen fokus memperhatikan jarum kompas. “Oke, disebelah sana.”

“Biar sampai lebih cepat tanpa kendaraan bagaimana ya?” Alzen melihat-lihat sekelilingnya. “Ahh pakai itu saja!”

Alzen menggerakan aliran air sungai di dekatnya, lalu memadatkannya hingga ia bisa berpijak di gelombang air yang dikendalikan oleh sihirnya. Kemudian ia melesat cepat menuju ujung pulau. “YIPPPWEEE !!”

***

Dalam beberapa puluh menit Alzen tiba di ujung selatan Greenhill dan berkumpul bersama ribuan murid yang sudah datang lebih dulu. Karena di ujian ini, seluruh pelajar tingkat 1 yang jumlahnya mencapai lebih 1880 murid, melakukan ujian akhirnya.

Tempatnya adalah sebuah lapangan rumput luas dengan pantai dan laut di ujung selatannya, dari kejauhan terlihat pulau yang tertutup kabut, juga area dataran rumput ini seluruhnya dikelilingi pohon-pohon hutan.

“Woahh... padahal masih pagi begini,” Alzen terkagum-kagum. “Tapi sudah banyak yang datang duluan.”

Alzen melihat sekelilingnya mencari teman-teman yang ia kenal dan mendapati Chandra, Fia, Cefhi juga Lio dan Ranni sedang berkumpul bersama.

“Teman-teman!” Alzen melambaikan tangan ke arah mereka sambil berlari menuju tempat mereka berkumpul. “Kalian sudah duluan ternyata. Pagi sekali ya...”

“Kami juga baru sampai kok.” Lio membalas dengan bersandar pada kedua telapak tangannya. “Ujiannya dimulai jam 12 siang katanya.”

“Hoamm...” Ranni menguap. “Tapi kita disuruh datang pagi-pagi begini.”

“Hei!” Chandra menepuk pundak Alzen dengan akrab. “Gimana kencanmu dengan Leena kemarin.” bisik Chandra.

“Ahh... itu,” Alzen menjawab dengan malu-malu. “Baik-baik saja kok.”

“Hee...” Chandra menggodanya. “Kenapa kau tidak datang bareng Leena saja.” Chandra melihat sekelilingnya. “Mana dia... tidak kelihatan.”

“Nanti juga datang,” balas Alzen di rangkulan Chandra. “Kita baru pulang dari Quistra kemarin sore.”

“Kami juga baru selesai menyembuhkan orang-orang di guild, saat matahari hampir terbenam.” Fia membalas.

“Kita juga baru selesai latihan saat malam.” sambung Ranni.

“Hee? Semuanya masih berlatih keras di saat libur ya...” Alzen menunduk. “Sedang aku...”

“Hehehe... jangan merasa kecil begitu dong.” Chandra merangkul Alzen lebih erat.

***

Seiring berjalannya waktu, murid-murid yang lain mulai berdatangan.

“Hoamm... Brengsek, aku kurang tidur.” Kata Nicholas yang duduk diatas batu dengan tampang kusut.

“Kita baru sampai jam 5 pagi.” Velizar menatap dengan hanya separuh mata terbuka.

“Duh... masih mau tidur.” kata Sinus sambil duduk loyo.

Dari kejauhan Luxis yang mukanya memiliki luka tebas menatap tajam Velizar dengan kertakan gigi dan tangan terkepal saat baru tiba di tempat berkumpul ini.

Gunin baru datang dan langsung di sapa kelompok Alzen.“Hoy! Gunin! Sini-sini!”

Gunin seketika tersenyum dan balas menyapa mereka, “Tunggu aku!” kemudian berjalan bergabung bersama mereka.

Sever yang baru datang langsung dikerumuni teman-teman perempuan seangkatannya untuk dimintai tanda tangan. 

“Kya Sever! Sever! Tanda tangannya dong.” 

Karena ia seorang selebriti pendatang baru yang cukup signifikan di ibukota.

“Sabar-sabar... semua kebagian.” Sever melayani fansnya dengan senyum.

Fhonia, Luiz dan Iris datang bersamaan,

“Sudah ramai sekali ya...” kata Luiz yang merasa tak nyaman.

“Wuih, wuih! Luiz-Luiz! Lihat...” tunjuk Fhonia. “Orangnya sudah banyak banget. Wohoo!” kata Fhonia sampai melompat-lompat.

“Fhonia, Fhonia... seperti anak kecil. Tidak ada capeknya.” kata Iris sambil meregangkan badannya. “Padahal kita sudah kerja keras bagai kuda kemarin tuh.”

Lalu tanah tiba-tiba mulai bergetar, murid-murid disana mulai heran sampai akhirnya Joran dan Bartell menampakan diri mereka yang mudah kelihatan itu. 

Saat mereka sampai, orang-orang menghindari dekat-dekat dengan Joran, dengan alasan takut terinjak.

Sintra berkumpul bersama teman-teman satu partynya di ujian dungeon kemarin. Relasi mereka masih terjalin seusai ujian dungeon itu.

“Duh Leena malah belum datang-datang.” Sintra menghentak-hentakkan kaki sambil sibuk melihat jam tangan.

Leena datang sebagai 100 orang yang paling terakhir datang. Hingga akhirnya total ada 1880 murid menjelang jam 8 pagi. 

Tepat di jam 8 pagi... Satu buah pesawat Zeppelin super besar mendarat disana. 

“Woaaa....”

Seluruh pelajar yang telah lama menunggu disana, melihat sebuah kendaraan massal yang baru pertama kali mereka lihat dengan terkagum-kagum.

***

Setelah kesekapakatan dengan Marchesast Empire terjalin. Hak mengembangkan Crystal Communicator diberikan Vlaudenxius dan Neil Winter menjadi perwakilannya.

Selama penelitian berlangsung Pemerintah Marchestast jadi sering memberikan banyak peralatan teknologi miliknya pada Greenhill. Pesawat Zeppelin ini adalah salah satu pemberian mereka.

Sedang penelitian CC masih baru berlangsung hampir 6 bulan lamanya, namun belum ada hasil yang signifikan untuk menemukan cara agar benda ini bisa digunakan tanpa suplai Aura.

Sesaat setelah pesawat itu mendarat, Vlaudenxius keluar dan memberikan sambutan di damping dengan Alexia Flamel di samping kanannya. “Semuanya! Maaf sudah membuat kalian menunggu, silahkan satu persatu dari kalian naik dengan tertib. Di dalam pesawat, kami akan jelaskan soal ujiannya diatas pesawat.”

Vlaudenxius kini menutupi tangan kanannya dengan sehelai kain lebar yang disangkutkan pada pundaknya dan menutupi seluruh tangan kanannya sampai bawah. Setiap ada yang menanyakan soal tangannya, Vlaudenxius selalu tertawa dan mengalihkan pembicaraan.

Namun, alasan ia menutupi tangan kanannya...

***

Di menara salah satu masjid terbesar ibukota Fel Kingdom, Sinesta. Pada ujung menara itu terdapat 5 orang sedang duduk di ujung atap menara sambil mengamat-amati keselurahan kota.

Disana terdapat Yana dan 4 orang-orang misterius yang menolongnya dulu. Mereka duduk saling membelakangi satu sama lain dan melihat masing-masing dari keempat sisi penjuru mata angin, sedang ketua mereka berdiri ditengah-tengah ujung menara itu dengan tenang dan seimbang menghadap ke selatan.

“Hah... sudah 6 bulan sejak kita merekrut anggota kelima,” kata The Magician dengan wajah bosan, ia duduk menghadap arah barat. “Tapi belum ada anggota baru setelah itu.”

“Kita hanya mencari orang yang benar-benar kuat saja,” kata ketuanya sambil mengamati keseluruhan kota. 

“...” Dark Elf yang menghadap ke utara diam saja tak bicara apa-apa.

“Hehehe... seharusnya kita rekrut Glaskov saja,” balas The Priest dengan tawa kakek-kakek tua yang mengerikan, ia menghadap ke timur. “Sayangnya dia sudah pergi dari benua ini segera setelah tahu kita ada disini.”

“Dia tidak begitu kuat, tapi kemampuan Auranya sangat berguna.” kata ketua mereka.

“Apa kalian bisa merasakannya?”

“Huh!?” The Magician menoleh.

“...” Dark Elf itu diam saja.

Sedang The Priest memalingkan wajahnya sedikit dan melirik ke samping kanannya.

Kemudian sang ketua menunduk dan bertanya, “Apa yang ingin kau sampaikan? King.”

“Orang-orang disini menderita,” kata Yana yang menghadap ke selatan, searah dengan yang dilihat ketua mereka. “Aku bisa merasakan jeritan di hati mereka. Namun mereka terus membungkam diri, karena yang berkuasa di istana,” tunjuk Yana pada istana besar kota ini. “Punya otoritas mutlak di singgasananya.”

“Hah... kau bicara dari sudut pandangmu sebagai raja dulu ya?” sindir The Magician.

“...” Dark Elf itu terdiam.

“Hehehe...” kata The Priest. “Dimana-mana sama saja,”

“Aku tahu sedikit banyak tentang Fel,” kata ketuanya. “Negara ini hidup dari perdagangan, katanya... raja sebelumnya yang membuat tanah tandus ini jadi tanah yang begitu makmur dan membuatnya, sangat dicintai rakyat. Namun kekuasaan diturunkan ke putranya yang tidak bisa apa-apa, pemerintahannya korup, rakyatnya menderita, kriminalitas merajalela. Aku percaya, sekitar setahun, dua tahun atau tiga tahun lagi. Cepat atau lambat, negara ini akan mengalami revolusi.”

***