Episode 328 - Lentera Asura (3)


Siluet hitam sesosok tubuh yang dilatarbelakangi bias mentari siang, dengan aura keagungan layaknya mereka yang duduk di atas takhta diraja, melayang turun secara perlahan. Pada tangan kanan, ia menenteng sebuah lentera usang berbentuk persegi empat. Akan tetapi, kali ini lentera itu terlihat berbeda adanya, karena di dalam kaca-kaca kusam pada keempat sisi, terlihat jelas cahaya nan terang. Kini, sumbu pendek di tengahnya sedang menyala api berwarna putih!

Dengan demikian, sudah diketahui secara pasti akan kegunaan Lentera Asura. Benda pusaka itu bukanlah untuk menelusuri masa silam seorang ahli, bukan pula untuk menampung unsur kesaktian secara umum. Lentera Asura pada kenyataannya merupakan wadah yang secara khusus berfungsi untuk menyimpan dan membawa unsur kesaktian api. Terlebih lagi, meski terlihat rongsok, benda pusaka itu sepenuhnya mampu menahan rambatan panas api yang hendak menyeruak keluar. 

Kum Kecho mendarat ringan di dekat empat ekor binatang siluman serangga belalang sembah yang sudah menjadi abu. Ia tak dapat menyembunyikan kegelisanan, namun sorot matanya tak lepas dari seorang anak remaja lelaki lain yang sedang duduk bersila. Meski berpenampilan berbeda, dengan atasan kemeja lengan panjang serba hitam yang ketat serta berkerah lebar hampir menutup leher, ia masih mengenal anak dusun itu. Perlahan, setinggi dada Kum Kecho mengangkat Lentera Asura dan mengarahkannya kepada Bintang Tenggara yang sedang duduk bersila. Hanya dengan perintah sederhana menggunakan jalinan mata hati kepada Lentera Asura, maka api putih akan serta-merta melahap siapa pun yang mejadi sasaran. 

Bagi Kum Kecho, Bintang Tenggara adalah tokoh yang tak dapat dipandang sebelah mata. Memiliki kemampuan menyusun kunci pembuka formasi Segel Sutera Abadi, cepat atau lambat anak remaja tersebut nantinya juga dapat merapal formasi segel tersebut. Kum Kecho tak hendak kembali terkurung di dalam formasi segel yang memiliki kemampuan menjebak dalam dimensi waktu. Dengan demikian, Bintang Tenggara merupakan sebuah ancaman yang nyata adanya.

“Jangan…” Kuau Kakimerah menatap tajam. Cedera di bahu, punggung dan paha masih terasa teramat perih. Akan tetapi, gadis belia itu memaksakan tubuh untuk bangkit berdiri.

Raut wajah Kum Kecho yang dingin, tetiba berubah menjadi terpana. Bukan dikarenakan kata-kata atau penampilan Kuau Kakimerah, akan tetapi karena ia menangkap perbedaan terhadap api putih yang menyala di dalam lentera. Hendak benar-benar memastikan, ia pun mendekatkan lentera tersebut ke wajah, kedua matanya terpaku mencermati nyala api. 

Dari sudut pandang Kum Kecho, sesungguhnya memberangus keempat ekor binatang siluman belalang sembah merupakan sebuah uji coba. Anak remaja itu hendak memastikan keampuhan Lentera Asura beserta api berwarna putih yang baru saja ia peroleh. Atas uji coba tersebut, dua hal kini diketahui pasti. Pertama, bahwa kemampuan memberangus api tersebut sungguh di luar dugaan. Sedangkan yang kedua, keadaan api pada sumbu terlihat sedikit mengecil. Dengan kata lain, api putih di dalam lentera tidak tanpa batas, sehingga penggunaannya perlu dilakukan dengan sangat cermat. 

Perihal mencabut nyawa Bintang Tenggara, adalah perkara gampang. Jika perkiraan dirinya tiada keliru, maka Kum Kecho sepenuhnya menyadari bahwa putra Mayang Tenggara sedang menerobos tingkat keahlian. Oleh karenanya, seekor nyamuk sahaja sudah lebih dari cukup untuk mencabut nyawanya. Tiada perlu mengerahkan Lentera Asura. 

Di saat yang sama, denging nyamuk terdengar pelan merambat di udara. Kelebat berwarna hitam melesat cepat ke arah tubuh Bintang Tenggara…

“Crash!”

Jalinan rotan berduri melibas nyamuk-nyamuk yang menderu. Dengan segenap tenaga dalam yang tersisa, Kuau Kakimerah gigih melindungi rekannya. Akan tetapi, hanya sedemikianlah tenaga dalam yang masih tersisa. Gadis belia itu kemudian jatuh terjerembab. Walau, kedua matanya tak lepas dari Kum Kecho.

Kum Kecho membalas tatapan Kuau Kakimerah dengan dingin. Ia mendengus, karena entah mengapa terdapat perasaan yang sangat dekat dengan gadis tersebut. Kendatipun demikian, kerumunan Nyamuk Buru Tempur yang berdengung nyaring kembali menderu ke arah mangsanya. Walaupun Kuau Kakimerah berada dalam kondisi prima, maka gadis belia itu akan tetap menghadapi kesulitan melindungi Bintang Tenggara! 

Deru kerumunan nyamuk tak lagi menghadapi halang rintang. 

“Jangan…” Kuau Kakimerah hanya dapat berseru lemah. Ia merangkak tertatih ke arah sang rekan. 

Sungguh kesia-siaan belaka upaya gadis belia itu. Dalam sekejam mata, ratusan nyamuk telah mengerubungi tubuh Bintang Tenggara. Akan tetapi, kejadian selanjutnya membuat Kum Kecho bertanya-tanya, karena tak seekor nyamuk pun yang dapat menyengat tubuh anak remaja yang hanya duduk bersila. Mereka hanya mengerubungi, tiada dapat menjangkau kulit tubuh mangsa. 

Di saat-saat genting seperti ini, tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana terjaga dari tidurnya. Naluri dalam melindungi sang induk semang terbangkitkan. Aura bernuansa kehijauan membungkus sekujur tubuh Bintang Tenggara, dan oleh karenanya tiada barang seekor pun nyamuk yang dapat menjangkau kulit. 

Bukan kali pertama bagi para ahli memasang suatu cara untuk melindungi tubuh tatkala menerobos kasta atau tingkatannya, batin Kum Kecho ketika menyadari keadaan yang demikian pelik. Namun demikian, sang Putra Mahkota Negeri Dua Samudera tak kehabisan akal. Tiga ekor Kutu Gegana Ledak melompat-lompat girang dan tangkas di kala kerumunan nyamuk berpencar ke segala penjuru. Kum Kecho berniat menerobos lapisan aura bernuansa hijau, sebelum kemudian mengirimkan kembali nyamuk-nyamuk penghisap darah. 

“Duak!” 

Hentakan tenaga dalam tetiba menyeruak perkasa. Sedikit lagi ketiga kutu mendekat, hentakan tenaga dalam tersebut kontan meledakkan mereka!

Raut wajah Kum Kecho berubah kesal. Sasaran yang tadinya diperkirakan mudah dimangsa kini sudah sadarkan diri! Disadari pula, bila hendak membungkamnya, maka segenap daya upaya perlu dikerahkan. 

“Hohoho… Selamat! Selamat! Kasta Perak Tingkat 2!” terdengar gelak tawa dan rasa bangga yang terhubung melalui jalinan mata hati. 

Bintang Tenggara bangkit berdiri. Sorot matanya tajam mengamati sekeliling. Ia menyaksikan Kuau Kakimerah tergolek lemah. Sejumlah binatang siluman serangga belalang sembah telah meregang nyawa tak terlalu jauh dari mereka. Lalu, terdapat sisa abu pembakaran di dekat Kuau Kakimerah. Terakhir, ia mencermati Kum Kecho dengan sebuah lentera berada dalam tentengan tangan. Benaknya berpikir cepat, menyusun akan setiap kemungkinan yang sempat terjadi di tempat tersebut. 

“Eh…? Siapakah gerangan dia…?” sang Maha Maha Tabih Surgawi kembali bersuara, kini mengacu kepada si anak remaja dengan garis hitam di bawah kantung mata. “Bukankah itu Jubah Hitam Kelam yang ia kenakan…? Apakah itu Lentera Asura yang ditenteng…?”

Bintang Tenggara telah mencapai kesimpulan. Ke arah Kum Kecho, ia membungkukkan tubuh lantas berujar santun, “Terima kasih atas bantuan Tuan Ahli yang telah menyelamatkan kami. Kum Kecho adalah nama dikau, bila ingatanku tiada mengelabui…” 

Kum kecho hanya diam di tempat. Mulutnya mencibir, namun tak ada suara yang keluar. Ia menyaksikan Bintang Tenggara kemudian bergegas memeriksa tubuh Kuau Kakimerah. Gadis belia tersebut memang sudah lemah, namun kesadarannya masih terjaga. 

“Aku memerlukan gadis itu…,” ucap Kum Kecho cepat. Sepertinya ia tak hendak bertarung menghadapi Bintang Tenggara. Tidak saat ini.

“Apakah dikau hendak keluar dari dunia ini…?” ujar Bintang Tenggara setelah menyaksikan bahwasanya cedera yang diderita Kuau Kakimerah tak membahayakan jiwa. 

Kum Kecho tetiba tersentak seperti baru teringat akan sesuatu. Raut wajahnya gelisah bukan kepalang. Segera ia mengeluarkan selembar Kartu Satwa dan meletakkan pada permukaan tanah. Membuka lorong dimensi yang melekat pada kartu tersebut, ia lantas mengeluarkan seonggok daging yang hangus terbakar. Bentuknya mirip seperti seekor kambing yang gosong karena dilahap api. Terlepas dari keadaan tersebut, terlihat bahwa makhluk tersebut masih bernapas, walau hanya satu-satu. 

Sang Kancil dalam keadaan sekarat dan kegelisahan Kum Kecho terbukti benar. Sepantasnya, formasi segel pada dalam Kartu Satwa merupakan dimensi ruang dan waktu, di mana tercipta tempat tersendiri dengan aliran waktu yang tak bergerak. Kendatipun demikian, kondisi tubuh binatang siluman tersebut tetap saja memburuk. Sengatan api putih demikian mematikan! 

Kum Kecho mengingat betapa dengan gagah berani Sang Kancil melompat demi melindungi dirinya. Dengan mengerahkan segenap kemampuan, binatang siluman tersebut berupaya menetralisir gelombang api putih yang hendak melahap. Sampai pada batasan tertentu, upaya Si Kancil yang berada pada Kasta Perak Tingkat 9 membuahkan hasil. Akan tetapi, upaya tiada bertahan lama karena api putih yang melahap kiranya dahulu kala dirapal oleh ahli yang berkali-kali lipat jauh lebih tinggi kemampuannya dibandingkan binatang siluman tersebut.

Kendatipun demikian, upaya Si Kancil menyajikan detik-detik berharga dimanfaatkan dengan baik oleh Kum kecho. Dengan pengorbanan binatang siluman tersebut, ia berhasil mengambil dan menempatkan api putih di dalam Lentera Asura. Kini, ia memperoleh senjata pusaka yang demikian digdaya! 

 “Aku memerlukan gadis itu untuk kembali ke Negeri Dua Samudera secepatnya,” tegas Kum Kecho yang hendak segera memberikan rawatan kepada Si Kancil. 

“Binatang siluman itu tak akan bertahan lama…” gerutu Ginseng Perkasa. “Eh… Binatang siluman itu adalah kancil yang memiliki unsur kesaktian putih…” 

Bintang Tenggara, di lain sisi, menyadari bahwa kesadaran Ginseng Perkasa telah kembali. Malangnya, hanya kakek tua cabul itu yang tersadar, sedangkan sang Super Guru belum dapat dirasa kehadirannya. Namun kini, atas celoteh itu pula ia menjadi tersadar. Jika benar yang hangus terbakar itu adalah Si Kancil, maka sudah barang tentu patut ditangani segera!

“Aku akan memeriksa keadaannya…” Sontak Bintang Tenggara melangkah maju. 

Gerakan Bintang Tenggara disambut dengan denging nyamuk yang membuat bulu kuduk merinding. “Aku memerlukan gadis itu untuk membuka lorong dimensi ruang. Aku tak membutuhkan bantuan engkau!” 

“Eh… Sepertinya aku mengingat bocah itu…,” Ginseng Perkasa kembali berceloteh. “Jubah Hitam Kelam memang menyamarkan aura dan penampilannya, tapi aku tak pernah lupa kepada ahli yang pernah kusembuhkan…”

“Keduanya memerlukan perawatan,” ujar Bintang Tenggara. Menyimak kata-kata Ginseng Perkasa, ia lantas menjulurkan lidah.

Kum Kecho yang senantiasa berupaya tampil tenang, terperangah sampai mundur selangkah. Guratan sebilah tongkat yang dililit ular pada permukaan lidah, membuat benaknya berkelana kepada kenangan-kenangan di masa lampau…