Episode 326 - Lentera Asura (1)



Dua bayangan melesat di baliknya kegelapan tabir malam. Di antara pepohonan dan semak belukar, keduanya bergerak tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Yang berlari di hadapan, terlihat sedang menenteng sesuatu yang berderik-derik ibarat seekor tikus terjepit. Yang satunya lagi, berjingkat lincah menjaga jarak. Bukan karena ia tak hendak menyusul, namun karena ia tak mengetahui ke mana arah dan tujuan. 

“Mengapa kau harus membawa benda itu…?” Suara menegur, yang bunyinya merupakan perpaduan antara bisikan dan pekik melengking, menyapa dari arah belakang. 

Di hadapan, si teman seperjalanan, atau lebih tepatnya teman seperlarian, tiada menjawab. Hanya punggung bisu yang menanggapi. Oleh sebab itu, ia pun melompat tangkas, mendahului, lalu berjingkat mundur sambil bertanya lagi, “Hendak kemanakah kita…? Apakah engkau mengenal wilayah ini…?” 

“Sssttt…” Hanya tanggapan yang dibumbui kekesalan nan terdengar.

“Apa maksudmu dengan ‘Sssttt…’? Sudah tiga hari dan tiga malam kita berlari tanpa henti! Jangan diam saja! Katakan sesuatu!” Meski sedang berlari berjingkat mundur, kecepatannya tiada berkurang barang sedikit pun.

“Teruslah berlari kalau kau hendak selamat!” 

“Hendak selamat!? Kau yang membahayakan nyawaku!” 

Tak terdengar tanggapan, hanya dengus ketakpedulian.

“Hei, Kumkum! Jawab pertanyaanku!”

Kum Kecho sontak menghentikan langkah. Jubah Hitam Kelam berkibar dan raut wajah nan pucat pasi terlihat demikian berang. “Kalau kau hendak ditangkap lagi, terkurung di dalam kandang layaknya binatang ternak, silakan saja! Aku tak peduli!” 

“Aku memang minta diselamatkan, tapi bukan untuk melarikan diri tanpa arah dan tujuan pasti!” hardik Si Kancil. Sungguh binatang siluman itu tak senang diperlakukan semena-mena. 

“Tidakkah kau sadar bahwa ada seorang ahli Kasta Emas yang mengejar!? Semakin lama engkau bertingkah seperti anak kecil, maka semakin cepat ia akan menyusul!” 

Tiga malam yang lalu, Kum Kecho sudah sampai pada titik jenuh. Di pemukiman sederhana suku Dayak Kaki Merah, tak banyak yang dapat dilakukan. Menyesal rasanya mengekori Sangara Santang, karena tak jelas juntrungan tokoh tersebut. Oleh karena itu, Kum Kecho memutuskan untuk pergi meninggalkan pemukiman. Di saat itulah ia kembali berpapasan dengan Si Kancil di dalam kandang, dan entah mengapa ia memutuskan untuk melepaskan dan membawa serta binatang siluman tersebut. Mungkin karena Si Kancil yang memelas dan memohon-mohon agar dilepaskan, mungkin karena ia mengenal pemilik binatang siluman itu sebagai tokoh yang pernah menyelamatkan jiwanya. Yang dapat dipastikan, kini kedua makhluk tersebut bersama-sama melarikan diri. 

“Jangan kau salahkan aku bila kita dikejar oleh ahli Kasta Emas! Engkau yang mencuri benda tak berguna itu!” hardik Si Kancil Kesal. 

Kum Kecho mengangkat sebuah lentera berwarna kusam. Bentuknya persegi panjang, dengan bingkai yang terbuat dari logam berkarat layaknya dimakan kelembaban udara. Kaca-kaca pada keempat sisinya lentera pun terlihat kusam menghitam, serta sumbu kecil di sisi dalam sudah sangat pendek dan kemungkinan tak akan lagi sanggup memberikan penerangan. Dari keadaannya itu, tak pelak bahwa benda tersebut sudah usang adanya, bahkan tak bernilai barang sekeping perunggu pun. Banyak lentera dalam keadaan lebih baik yang dijual bebas.

Kendatipun demikian, di kala pemiliknya lengah, Kum Kecho mengambil benda tersebut. Adapun alasannya, tak lain sekedar untuk membuat Sangara Santang kesal. Sebagaimana diketahui, sang Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti, telah datang dari jauh dan bersusah-payah berhadapan dengan Raja Angkara Durjasa, alias Wisanggeni, lalu pemburu harta karun, demi memperoleh lentera tersebut. Sejak awal Kum Kecho memperkirakan bahwa benda rongsok tersebut tiada berguna, namun membayangkan gelisah dan amarah Sangara Santang kehilangan lentera itu, kiranya dapat membuat senang hati. 

“Ini bukan benda tak berguna!” kilah Kum Kecho. “Ini adalah Lentera Asura!” Ia mengangkat benda rongsok itu setinggi pandangan mata. 

“Cih! Lentera Asura dengkulmu!” maki Si Kancil. “Lentera Asura yang asli tak akan jatuh ke tangan kotormu!” 

“Hm…?” Kum Kecho menatap tajam ke arah Si Kancil.

“Ada apa…?”

“Sangara Santang semakin mendekat…” Kum Kecho sesungguhnya bukan menatap kepada Si Kancil, melainkan wilayah jauh di belakang sana. Raut wajahnya seketika berubah cemas, karena beberapa ekor nyamuk yang ia tinggalkan di kejauhan telah dilibas habis.

“Lari!” sergah Si Kancil. Tanpa pikir panjang lagi, binatang siluman itu pun melesat cepat. “Jangan bengong!” 

Kum Kecho mendecakkan lidah. Tadi ia berhenti berlari karena terpaksa meladeni perbincangan dengan binatang siluman tersebut, namun kini binatang siluman itu pula yang meninggalkan dirinya. 

Keduanya kembali melesat cepat. Walau masih terpaut jarak, disadari bahwa kecepatan menyusul ahli Kasta Emas tak dapat dipandang sebelah mata. Beberapa jam saja lagi, maka Sangara Santang pastinya akan menyusul dan menumpahkan amarah karena Kum Kecho yang membawa pergi Lentera Asura. Di kala itu terjadi, Kum Kecho sesungguhnya telah memiliki rencana yang matang. Ia akan melempar lentera tersebut sejauh-jauhnya demi mengalihkan perhatian si pengejar dan kesempatan yang terbuka akan kembali dimanfaatkan untuk menjaga jarak. 

Toh, sejak awal Kum Kecho membawa pergi lentera tersebut dikarenakan hendak membuat kesal Sangara Santang sahaja. Tiada kegunaan lain. 

“Hei!” Tetiba Si Kancil yang berlari tangkas dan berjingkat-jingkat di hadapan memutar tubuh. Ia kembali berlari mundur dan sepertinya baru teringat akan sesuatu hal penting. “Kau belum menjawab pertanyaanku! Hendak kemanakah tujuan kita melarikan diri!?” 

“Jangan banyak tanya! Sedikit lagi kita tiba!” tanggap Kum Kecho sembari menambah kecepatan. Ia membalap Si Kancil dan melecut langkah seolah tiada lagi hari esok.

Tak lama berselang, keduanya tiba di depan sebuah goa. Suasana demikian sepi lagi sunyi, karena matahari baru hendak terbit. Kendatipun demikian, awan-awan yang bergelayutan tenang menyibak berbagai gradasi warna jinggga. Sungguh memukau. 

Kum Kecho meletakkan lentera usang yang senantiasa berada dalam tentengan ke permukaan tanah. “Jaga lentera ini…,” perintah anak remaja itu. “Jikalau ahli Kasta Emas itu muncul, lempar sejauh-jauhnya ke arah yang berlawanan!” 

“Lentera… apa tadi namanya…?” Si Kancil terlihat kebingungan. 

“Lentera Asura!” hardik Kum Kecho. “Setidaknya engkau dapat melempar lentera itu ‘kan…?”

Si Kancil terpaku terdiam menyaksikan keadaan lentera. 

“Katakan padaku bahwa engkau bisa menendang lentera ini jauh-jauh!” sergah Kum Kecho. 

“Bisa… bisa…,” jawab Si Kancil sekenanya. 

Tak hendak lagi membuang-buang waktu, Kum Kecho mendatangi wilayah pintu goa. Terdapat tirai tak kasat mata yang melindungi sisi dalam goa tersebut. Ia kemudian mengangkat dan membuka telapak tangan, lalu berbisik pelan “Wahai Roh Antang Bajela Bulau nan mulia, kumohon inayat semerbak… Sibak!” 

Si Kancil mengamati tindakan anak remaja di hadapannya. Bukanlah kali pertama bagi matanya menyaksikan rangkaian formasi segel dengan simbol-simbol dan susunan tak lazim sebagaimana yang berpendar dari telapak tangan Kum Kecho. Selama berpetualang bersama dengan Balaputera Ragrawira, sudah seringkali binatang siluman itu mengamati berbagai jenis simbol dan susunan yang rangkaiannya jauh lebih rumit lagi, bahkan sampai ada yang berwarna-warni demikian indahnya. Dari sisi merapal formasi segel, Balaputera Ragrawira jauh lebih piawai, simpul binatang siluman itu. 

Kendatipun telah banyak menyaksikan rapalan formasi segel, sungguh Si Kancil tiada mengetahui bahwa saat ini mereka berada di depan salah satu tempat keramat bagi suku dayak. Goa di hadapannya itu, dikenal dengan nama Goa Awu-BaLang, yang mana merupakan pintu keluar-masuk menuju sebuah dimensi ruang dunia paralel.

Di lain sisi, Kum Kecho sepenuhnya menyadari bahwa hanya Goa Awu-BaLang yang dapat membantu dirinya melepaskan diri dari pengejaran ahli sekelas Sangara Santang. Oleh karena itu, sedari awal melarikan diri, telah ia putuskan untuk kembali ke tempat ini. 

Perihal bahwa dunia Goa Awu-BaLang hanya dapat dibuka oleh keturunan Dayak Kaki Merah, Kum Kecho berpandangan lain. Sebagaimana diketahui, dunia di balik goa tersebut merupakan sebuah dunia paralel yang kerap dirinya sambangi bersama dengan sang guru di masa lalu. Pada masa itu, untuk membuka celah dan masuk berlatih ke dalam dunia paralel tersebut, Pangkalima Rajawali menggunakan kemampuan yang tak lain berasal dari Rajah Roh Antang Bajela Bulau!

Kemampuan Rajah Roh yang datang kepada Kum Kecho, dengan demikian adalah merapal formasi segel. Menembus pertahanan formasi segel adalah salah satu dari kelebihaannya. Saat ini, Kum Kecho sedang memusatkan segenap perhatian untuk membuka ruang dimensi antar dunia!

Waktu berlalu cepat…

“Srash!” 

Tetiba, menyeruak tinggi ke atas, dari balik rimbunnya pepohonan, adalah siluet tubuh dengan latar belakang matahari yang baru sedang terbit. Bila diperhatikan dari dekat, maka sorot matanya memerah, bibir menggeram, dan lilitan perban mengencang akibat kontraksi otot. Postur tubuh lelaki dewasa muda yang sehari-hari terlihat biasa-biasa saja, kini tampil ibarat jawara tangguh yang baru saja kembali dari neraka! 

“Kum… KECHOOOOO!” pekik Sangara Santang membahana, membuat burung-burung yang mendiami wilayah tersebut terbang berserakan ke semerata penjuru. “Kembalikan lentera milikku!” Segera setelah itu, ia pun melesat cepat. 

“Kumkum…” Si Kancil tergagap. Kedua matanya memandang kosong ke hadapan, lalu ke arah Kum Kecho. 

Sekujur tubuh Kum Kecho sudah bermandikan keringat. Raut wajahnya kusut karena upaya yang ia kerahkan belum kunjung membuahkan hasil. Yang terlihat di hadapannya, hanya simbol-simbol yang merangkai namun tiada dapat membuka celah lorong antar dunia. Meski, anak remaja itu menolak untuk menyerah. 

“Apa pun yang engkau lakukan, lakukan cepat!”

Kum Kecho kini menyadari bahwasanya ia belum memiliki pemahaman dan pengalaman yang memadai dalam menggerahkan kemampuan Rajah Roh Antang Bajela Bulau. Sebuah kenyataan pahit yang terpaksa ia telan mentah-mentah. Masih berupaya merapal formasi segel, ia kemudian menoleh kepada Si Kancil dan lantas berseru, “Tendang lentera itu jauh-jauh!” 

“Hah!” Binatang siluman itu melompat di tempat. 

“Tendang!” perintah Kum Kecho menyadari bahwa Sangara Santang sudah semakin mendekat. Bila nanti Sangara Santang mengejar ke arah lentera ditendang, maka mereka pun akan kembali melarikan diri. Rencana yang sangat sederhana, namun memanfaatkan kebutuhan lawan akan benda tak berguna itu. 

“Tirai Putih!” Tetiba Si Kancil berujar sembari menatap formasi segel di hadapannya. Kemudian, diawali dengan pupil di kedua bola mata, warna putih menjalar cepat ke sekujur tubuh binatang siluman Kasta Perak itu. Bukan cahaya, tapi warna putih. Seputih kapas. (1)

Seketika itu juga, perlahan formasi segel yang sedang dirapal oleh Kum Kecho berubah menjadi warna putih. Dengan kata lain, Si Kancil merampungkan formasi segel dengan caranya sendiri. Kini, sudah mulai membuka sebuah terowongan selayaknya gerbang dimensi. Walaupun demikian, gerbang dimensi ini sangat berbeda dengan yang biasanya dirapal oleh kebanyakan ahli. Sebagaimana diketahui umum, lorong dimensi berpenampilan bak terowongan gelap berwarna hitam dengan sedikit kilatan listrik di beberapa bagian. Akan tetapi, lorong dimensi yang sedang dibuka oleh Si Kancil tersebut berwarna… putih!

“Trak!” Kaki depan Si Kancil menendang lentera usang yang tergeletak di tanah. Arahnya terpentalnya lurus ke dalam lorong dimensi yang telah terbuka sebesar lingkaran roda pedati! 

Betapa Kum Kecho terperangah, namun masih sempat menoleh ke arah Sangara Santang yang kini hanya terpaut sekira dua puluh langkah dari dirinya. Sang pengejar itu mengulurkan lengan dan membuka telapak tangan. Di saat itu pula, Kum Kecho merasakan tubuhnya ditarik ke arah lawan. 

Si Kancil yang masih berwarna serba putih, menumbrukkan tubuhnya sendiri ke arah perut Kum Kecho. Kekuatannya cukup keras, sehingga memutuskan kekuatan tarikan Sangara Santang dan membawa tubuh keduanya masuk ke dalam celah yang terbuka! 

“Brak!” 

Kum Kecho dan Si Kancil terjatuh berjumpalitan di atas selembar daun maha raksasa. Menahan senak di perut, anak remaja itu segera mendongak, guna memastikan bahwa lorong dimensi ruang antar dunia yang mengantarkan mereka telah menutup, dan Sangara Santang tak sempat ikut masuk. 

“Apa yang engkau lakukan tadi!?” sergah Kum Kecho setelah memperoleh kepastian bahwa mereka berhasil menyelamatkan diri. 

Si Kancil hanya melirik sebal. “Aku menyelesaikan apa yang tak mampu engkau capai! Mana rasa terima kasihmu!?”

“Mengapa kau tendang lentera rongsok itu ke dalam!?” Kum Kecho mengalihkan pembicaraan. 

“Aku baru teringat akan kegunaan Lentera Asura!” 

“Apa kegunaannya!?”

“Hmph!” Si Kancil mendengus dan membuang wajah. Ia terlihat enggan memberi tahu, atau lebih tepatnya minta dibujuk agar bersedia membuka mulut. 


Catatan:

(1) Episode 79