Episode 325 - Api Penyelamat



Kuau Kakimerah bergerak ke arah sisi dengan kecepatan yang biasa-biasa saja. Bukan karena gerakan dirinya lambat, melainkan karena ia sengaja mengimbangi gerakan pengejaran binatang siluman belalang sembah. Tujuannya adalah memancing keempat ekor binatang siluman tersebut agar terus menempel ketat. Tindakan ini diambil karena rekannya sedang duduk bersila dan tanpa kemampuan melindungi diri di arah yang berlawanan. 

Kendatipun demikian, langkah Kuau Kakimerah ini sangatlah berisiko tinggi. Ukuran mereka mencapai satu setengah kali tinggi tubuh manusia dewasa. Bila hanya seekor-dua binatang siluman belalang sembah sahaja, maka mengelak dan berkelit masih dalam taraf yang memungkinkan. Terlebih, jangkauan tebasan kaki-kaki panjang nan setajam pedang, semakin membatasi ruang gerak. Dengan demikian, disadari bahwa empat ekor merupakan jumlah yang terlampau banyak. Artinya, terdapat empat pasang pula bahaya yang tangkas mengincar. 

Dua ekor binatang siluman belalang sembah melompat lincah. Keduanya bergerak dari kedua sisi, sehingga gadis belia tersebut hampir masuk ke dalam kepungan. Kini disadari pula, bahwasanya bintang siluman tersebut memiliki kecepatan gerak yang lebih tinggi dari perkiraan. 

Dahan dan ranting ditebas rata tatkala Kuau Kakimerah berupaya memanfaatkan lingkungan sekitar untuk terus berkelit dan menghindar. Ilalang nan tinggi-tinggi pun dibabat habis, sehingga kini menjadi wilayah panggung terbuka bagi keempat ekor binatang siluman belalang sembah memburu mangsa. 

Akan tetapi, Kuau Kakimerah tak kehabisan akal. Gadis belia tersebut segera menumbuhkan jalinan rotan berduri, yang tak hanya berperan untuk membelit para pemburu, namun juga untuk melindungi dirinya dari sergapan. Walaupun jalinan rotan tersebut dibabat semudah mengiris bawang, Kuau Kakimerah memperoleh kesempatan untuk bersiaga sejenak sebelum aliran serangan kembali mengincar. 

Kuau Kakimerah sepenuhnya menyadari bahwa ia tak bisa menghadapi keempat binatang siluman belalang sembah secara bersamaan. Langkah yang perlu ditempuh adalah menumbangkan lawan satu per satu. Pertama, jegal dan pisahkan mereka. Kemudian, hadapi dalam pertarungan satu lawan satu.

Di tengah-tengah keempat binatang siluman belalang sembah, tetiba menyeruak sesuatu dari dalam tanah. Besarnya tiga sampai empat kali lingkar pelukan orang dewasa, tinggi mencuat ke atas dengan kelenturan khas akar. Atas kemunculan bilah rotan raksasa tersebut, serta merta keempat binatang siluman terpisah arah. 

“Duak!” 

Bilah rotan raksasa menghujam ke salah seekor sasaran. Bentuknya terlihat melengkung ibarat sebuah cambut raksasa merajam mangsa. Dua kali ia merajam, lalu menindih binatang siluman belalang sembah nan malang. Pekik suara kesakitan terdengar nyeri dan merambat di udara. 

Dua binatang siluman belalang sembah lain berupaya mencaik bilah rotan yang menimpa teman mereka. Akan tetapi, karena ketebalan bilah rotan tersebut, serta gerakannya yang kini menyapu deras, memaksa kedua binatang siluman tersebut mundur.

Seekor bintang siluman belalang sembah telah dilumpuhkan. Dengan demikian, bilah rotan raksasa kembali masuk ke dalam tanah, untuk kemudian muncul di dekat dua binatang siluman lain. Akan tetapi, kehadiran ancaman tersebut membuat kedua binatang siluman melesat ke luar wilayah jangkauan rotan. Naluri mengisyaratkan akan bahaya yang datang mengincar. 

Di kala itu terjadi, sudut mata Kuau Kakimerah menangkap keberadaan binatang siluman belalang sembah ketiga. Wajah gadis belia itu seketika berubah kusut, karena di kala ia sedang sibuk, binatang siluman tersebut telah mendekat ke tempat di mana Bintang Tenggara berada!

Jarak di antara Kuau Kakimerah dan Bintang Tenggara kini terpaut sekira lima puluh meter. Gadis belia tersebut sontak merunduk dan menyentuh permukaan tanah. Atas upaya tersebut, jalinan rotan berduri segera membangun dan merangkai menjadi kubah yang melindungi Bintang Tenggara. Akan tetapi, dengan cepat pula binatang siluman belalang sembah itu menghunus sepasang kaki depan nan panjang dan tajam. Tindakan menebas tersebut dengan cepat mengikis kubah rotan. 

Kuau Kakimerah segera melesat ke arah Bintang Tenggara. Ia perlu menumbuhkan sebilah rotan raksasa, yang pada kenyataannya tak bisa ditumbuhkan terlalu jauh dari posisi dirinya berada. 

“Sret!” 

Kaki depan seekor binatang siluman belalang sembah menggores bahu Kuau Kakimerah. Gadis belia itu segera merunduk, lalu melompat ke samping tatkala pedang-pedang panjang itu melibas dari arah lain. Dua binatang siluman belalang sembah tiba dan mencegat langkahnya. 


Bintang Tenggara masih berkonsentrasi merangkai mustika tenaga dalam yang baru. Di saat yang sama, ia pun perlu menjaga agar tenaga dalam yang ada tak meledakkan tubuh. Bulir-bulir keringat kini membasahi sekujur tubuh. Dalam keadaan ini, tentu ia tak bisa mempertahankan diri. 

Rasanya seolah terjatuh di tengah lautan yang mana airnya berwarna keperakan. Riak gelombang bergulung deras dan hembusan angin kencang menekan, untuk terus berupaya menenggelamkan. Agar terus dapat mengapung di tengah lautan ini, adalah demikian sulit dan memerlukan pengerahan segala daya upaya. Pada kenyataannya, keadaan ini mencerminkan bagaimana tenaga dalam bergejolak dan wajib ditenangkan. 

Di saat yang bersamaan pula, Bintang Tenggara seolah melangkah di dalam ruang kaca yang sangat tipis lagi rentan. Ia perlu menjaga agar setiap gerakan tubuh demikian hati-hati agar dapat mencapai wilayah di mana kaca tersebut semakin tebal dan kuat adanya. Keadaan ini sesungguhnya merupakan upaya menyusun mustika tenaga dalam yang baru. 

Dengan demikian, upaya menjaga gejolak tenaga dalam dan merangkai mustika bukanlah perkara mudah. Diperlukan kemampuan mata hati untuk menjalani dua kegiatan secara bersamaan. Tingkat kesulitan yang sangat tinggi merupakan penyebab mengapa banyak ahli kandas di tengah jalan. Sesungguhnya dunia keahlian bukan sebagaimana yang terlihat, dengan jurus-jurus persilatan dan kesaktian nan memukau. Memupuk keahlian berarti menjalani satu tantangan ke tantangan yang berikutnya. 


Jalinan kubah rotan berduri yang dibangun Kuau Kakimerah untuk melindungi tubuh Bintang Tenggara, menipis sudah. Tebasaan demi tebasan datang tanpa henti. Tak jauh di sana, si gadis sedang bertempur dan sangat kesulitan untuk melepaskan diri. Bintang Tenggara saat ini bak telur di ujung tanduk.

Mengabaikan perih di bahu, Kuau Kakimerah memaksakan diri untuk melesat cepat. Meski siaga terhadap serangan yang datang, beberapa tebasan kembali menggores tubuhnya, di punggung dan di paha kiri. Demi mencapai Bintang Tenggara, gadis belia itu bahkan sengaja membiarkan tebasan-tebasan yang tak mengarah ke titik vital. Meski tak terlalu dalam, luka-luka yang tercipta sedikit memperlambat gerak tubuh. Kaki kirinya yang secara alami berwarna merah, kini semakin memerah kelihatannya. 

“Duak!” 

Hantaman bilah rotan raksasa yang tumbuh besar meleset dari sasaran, karena Kuau Kakimerah tak sempat membidik dengan tepat. Kemudian, bilah rotan tersebut melecut mendatar, mendarat di tubuh binatang siluman yang sedikit lagi menjangkau tubuh Bintang Tenggara. Namun demikian, cambukan yang kurang bertenaga tersebut hanya berhasil mendorong mundur sasarannya. 

Napas terengah dan darah bercucuran, Kuau Kakimerah akhirnya tiba di sisi Bintang Tenggara. Bersama dengannya, sebilah rotan raksasa ibarat cambuk besar kini siap melecut dengan lebih jitu. 

Walhasil, ketiga binatang siluman belalang sembah yang tersisa, terpaksa menjaga jarak. Salah satu dari mereka megambil selangkah maju, namun cambuk rotan pun menanggapi dengan ayunan penuh ancaman. Keadaan saat ini terlihat imbang karena lawan tiada dapat melangkah maju. Akan tetapi, Kuau Kakimerah sepenuhnya menyadari bahwa tenaga dalamnya terus terkuras akibat menghadirkan bilah rotan raksasa itu. Sudah barang tentu, terdapat perbedaan pemakaian tenaga dalam yang sangat signifikan antara menumbuhkan jalinan rotan berduri yang menjadi pelindung, dibandingkan dengan rotan yang raksasa yang dapat bergerak sesuai perintah setangkas cambuk. 

Kuau Kakimerah menatap rekannya yang sedang bersimbah peluh. Tak dapat diperkirakan berapa lama waktu yang diperlukan Bintang Tenggara untuk menyelesaikan proses kenaikan tingkat. Bisa berlangsung dalam hitungan jam, dapat pula memakan hari. Kuau Kakimerah mengingat bahwa di kala dirinya sendiri naik ke Kasta Perak Tingkat 2, memerlukan waktu selama setengah hari. Sementara saat ini, setengah hari adalah waktu yang tak mereka miliki. 

Hari beranjak malam. Kuau Kakimerah sudah tak lagi merapal bilah rotan raksasa. Demi menghemat tenaga dalam, gadis belia itu menumbuhkan jalinan rotan berduri yang lebat, yang menjadi kubah perlindungan bagi dirinya dan Bintang Tenggara. 

Akan tetapi, bukan berarti tindakan tersebut tiada memakan tenaga dalam. Setiap kali jalinan rotan ditebas, ia terpaksa menambal wilayah yang terbuka tersebut. Dengan kata lain, walau dalam jumlah tak banyak, tenaga dalam tetap terpakai adanya. 

Malam beranjak pagi. Kantung mata terlihat jelas di bawah mata Kuau Kakimerah dan raut wajahnya terlihat pucat. Ia terjaga semalam suntuk dan tentunya sangat kelelahan. Bila hanya seorang sendiri, maka sudah barang tentu gadis belia itu dapat meninggalkan ancaman yang datang dari binatang siluman belalang sembah di luar sana. Akan tetapi, kondisi Bintang Tenggara saat ini tiada memungkinkan. Memindahkan tubuh anak remaja tersebut secara serampangan, maka akan sangat berisiko mengganggu konsentrasi, sehingga membahayakan jiwa. Oleh karena itu pula, kebanyakan ahli memilih untuk menjalani proses naik kasta atau peringkat di lingkungan yang aman seperti perguruan, pun dipantau langsung oleh setidaknya seorang maha guru.

Tetiba wajah lelah Kuau Kakimerah berubah semakin kusut. Ia bahkan terduduk tepat di sebelah Bintang Tenggara. Bagaimana tidak, karena saat ini, di luar jalinan lebat rotan-rotan berduri, telah hadir belasan ekor binatang siluman belalang sembah!

Menggeretakkan gigi, Kuau Kakimerah memaksakan diri untuk bangkit. Sisa tenaga dalam yang ia miliki masih dapat memperbaiki jalinan rotan dan menumbuhkan bilah rotan raksasa. Namun demikian, tak akan mampu ia bertahan terlalu lama. Terlebih lagi, yang berada di luar dugaan dan tak masuk di akal, bahwasanya gadis keturunan dayak tersebut justru tiada memiliki kemampuan mengerahkan Rajah Roh. Padahal, bila memanfaatkan Rajah Roh, maka ia tak perlu membuang banyak tenaga dalam. Tiada diketahui atas alasan apa, namun demikianlah keadaannya. 

Kini, Kuau Kakimerah dipaksa mengambil keputusan sulit. Apakah terus bertahan, menunggu Bintang Tenggara kembali dari tapa dan bersama-sama membungkam lawan. Ataukah mengambil inisiatif menyerang, untuk membabat habis binatang-binatang siluman yang mengancam. Risiko yang dihadapi adalah lebih besar, karena belum tentu dirinya dapat membungkam semua. 

Kerumunan binatang siluman belalang sembah yang mengepung mulai bergerak. Secara serempak dan dari berbagai arah, mereka membabat jalinan rotan. Atas perkembangan tersebut, Kuau Kakimerah telah mengambil keputusan…

“Wahai Mambang Segala Mambang…,” gumam gadis belia itu. “Kumohon inayat akan kekuasaan… Rotan Bunian: Kepak!”

Jalinan rotan merangkai cepat membelit dada dan punggung, dan terus merangkai. Panjang bentangan jalinan rotan di satu sisi mencapai lebih dari lima meter. Angin menderu deras ke segala penjuru tatkala wujud kepak sayap burung rajawali terkembang. Demikian megah dan perkasa, Kuau Kakimerah telah memutuskan untuk membabat.

Meninggalkan rekannya di dalam jalinan rotan berduri, gadis belia tersebut melayang dan melesat maju. Tubuh mungilnya berputar dan sepasang kepak lebar meliuk-liuk bermain dengan angin, lalu melibas deras! 

Dua ekor binatang siluman belalang sembah sontak menghunuskan kaki depan dengan harapan mencencang jalinan rotan yang mengincar. Akan tetapi, sayap rotan yang mereka hadapi kini memiliki kekuatan sekaligus kelenturan ibarat jalinan kawat-kawat baja. Dalam satu kedipan mata, dua kepala besar binatang siluman belalang sembah terlepas dari leher mereka!

Lima ekor binatang siluman belalang sembah kemudian merangsek secara bersamaan. Sepasang sayap rotan mengatup, membungkus demi melindungi tubuh Kuau Kakimerah yang melayang di udara. Sedetik setelah serangan mendarat dan tertahan, tetiba jalinan sayap terkembang lebar, melibas setiap satu binatang siluman yang mengerubungi. Ibarat tanpa jeda, lima binatang siluman belalang sembah tercencang di tempat!  

Kuau Kakimerah mendarat di permukaan tanah. Ia bertumpu pada satu lutut, dan sepasang sayap lebarnya ambruk ke tanah. Sekujur tubuh bermandi keringat, napas gadis belia terengah-engah. 

Naluri binatang siluman yang tersisa mengisyaratkan agar segera mundur. Akan tetapi, menyaksikan kondisi mangsa yang kelelahan, mereka tak hendak melepas kesempatan. Seekor binatang siluman belalang sembah bergerak menyerang, yang lantas diikuti oleh tujuh ekor secara bersamaan! 

Kuau Kakimerah mendongak cepat. Menghela napas panjang, ia mengepak sayap sembari melompat mundur. Pengejaran tiada terhenti dan berlangsung kian cepat. Di kala sudah mendekat tubuh Bintang Tenggara, Kuau Kaimerah berputar tangkas, di mana sepasang sayap kembali melibas. Empat ekor binatang siluman belalang sembah yang paling depan, kembali tercencang!

Kendatipun demikian, tindakan tersebut merupakan titik nadir dari upaya si gadis belia bertubuh mungil. Jalinan rotan yang membelit punggung dan dada terlepas, dan kepak sayap pun terurai. Kuau Kakimerah lalu jatuh tersungkur di sisi Bintang Tenggara yang masih duduk bersila. Kehabisan tenaga dalam, ia hampir kehilangan kesadaran.

Tak berselang lama, empat ekor binatang siluman belalang sembah yang tersisa pun tiba di dekat kedua anak remaja. Setiap satu dari mereka menghunus sepasang kaki depan nan tajam dan panjang, ibarat pedang-pedang mencabik deras! 

“Srash!”

Tanpa peringatan atau petanda dalam apa pun, tubuh keempat binatang siluman belalang sembah yang hendak mengayau mangsa, menyala api! Mereka menggelepar selama beberapa saat, sebelum akhirnya meregang nyawa. Aroma hangus kental merasuk di udara, dan empat ekor binatang siluman belalang sembah berubah menjadi abu putih yang hilang dibawa hembusan angin. 

Dengan segenap tenaga yang tersisa, Kuau Kakimerah menggolekkan tubuh di tanah. Tinggi di atas sana, betapa takjub ia menyaksikan siluet hitam sesosok tubuh. Dengan aura keangungan layaknya para penguasa, sosok tersebut turun melayang secara perlahan.