Episode 95 - Everybody Changes



Beberapa hari setelah Alzen dan Leena tiba di ibukota Quistra, Northern Kingdom. Dan pada hari terakhir liburan mereka.

Di sebuah pub besar, salah satu bar yang dijadikan cabang Guild negara Greenhill sebagai tempat para petualang dan penyihir mengambil dan menerima hadiah Quest untuk berbagai macam Rank. Selagi menunggu, mereka banyak memesan makanan dan bercengkrama di tempat ini.

“Ayo-ayo kesini semua, 50 Rez saja, kami sembuhkan kalian sampai betul-betul sembuh!” sahut Chandra mempromosikan jasanya.

Chandra kini bergaya rambut rapih dan mengenakan kacamata, ia lebih terlihat seperti dokter sekarang.

Di sampingnya ada Fia dan Cefhi yang sibuk menyembuhkan para petualang yang terluka. Dan sudah ada antrian banyak sampai-sampai mereka kewalahan dan mangkok mereka penuh dengan koin 50 Rez, beberapa ada yang memberikan uang kertas sebagai tip.

Fia kini rambutnya diikat kepang ke belakang, meskipun rambutnya masih tergerai panjang melewati punggungnya.

Sedang Cefhi rambutnya yang hitam kecoklatan, yang tadinya berponi kini agak sedikit terurai menyamping, ia tidak lagi mengenakan kuncir dan rambutnya agak dipotong sedikit meskipun panjang rambutnya masih menyentuh pundaknya sedikit. Frame kacamatanya yang tadinya berwarna merah, kini ia mengenakan kacamata berframe hitam.

“Hei nak, kau bisa menyembuhkan semua luka?” tanya salah seorang petualang.

“Tentu saja, semua bisa! Kami masih kuat.” Jawab Chandra dengan semangat sambil sibuk menyembuhkan.

“Kalau luka di hatiku yang terluka karena cinta, apa juga bisa kau sembuhkan?”

“Hah jokes sampah!” sahut Chandra dalam hati tapi tetap menahan diri untuk tidak marah. “Bisa, selain air yang menyembuhkan luka di luar, aku juga punya bara api cinta yang tak pernah padam.” Kata Chandra sambil meng-cast sihir api di tangan kanannya.

“Hahaha...” Petualang itu tertawa mendengar jawaban Chandra. “Bagus-bagus nak. Selerah humormu lumayan. Ini uang buatmu, kalau pasang harga terlalu murah, kau bisa merusak harga pasar nanti.” Katanya sambil memberi selembar uang 500 Rez.

“Te-terima kasih banyak paman.”

“Aku bayarin buat 10 orang ke depan, Hyahahahhaha...” katanya sambil berjalan meninggalkan Chandra.

“...” Chandra tertawa kecil meskipun dalam hati ia geram.

“Biasakan saja Chandra, orang seperti dia banyak di tempat ini hehe.” kata Rosita dengan tertawa kecil, kini ia sudah menjadi Questmaster. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, rompi hitam dan rok merah. Rosita bertugas menyediakan Quest pada petualang yang datang seperti sebuah menu restoran dan menerima permintaan dari penduduk yang memberikan Quest beserta uang hadiahnya.

“Puah...semakin hari semakin banyak saja orang yang datang.” keluh Fia sambil menghela nafas saking lelahnya. “Apa kita naikkan harganya saja ya?”

“Ahh aku sudah capek, aku mau istirahat, tapi antrian terus bertambah.” Kata Cefhi. “Besok kita sudah ujian lagi.”

“Selesai pulang kerja, kalian kutraktir makan ya.” Rosita tersenyum. “Jadi ayo semangat!” Rosita menyemangati dengan kepalan tangannya.

***

Di lapangan depan kelas, tempat yang sering digunakan Lasius saat mengajar. Tidak ada siapa-siapa hari ini selain Lasius, Lio dan Ranni.

Brushhh....

Brushhh !!

Lio dan Ranni menyerang Lasius berbarengan dari kedua sisi. Lio menyerang dengan tinju apinya dan Ranni dengan hentakan serta kibasan tongkatnya.

“Belum cukup! Masih belum cukup! Lawan yang kalian cari itu jauh melebihi kekuatanku. Kalian harus lebih kuat lagi!”

“Mengerti Guru!”

“Mengerti Guru!”

Jawab mereka berdua berbarengan sambil dengan sungguh-sungguh menyerang Lasius.

Lasius kini lebih sering mengenakan pakaian hitam yang menutupi perutnya yang sixpack itu. Semata untuk menutupi luka tebas yang sangat besar berbentuk vertikal di badannya. Rambutnya sedikit lebih panjang, disisir lurus ke belakang dan panjangnya melebihi pundaknya.

6 bulan belakangan ini, Lio banyak menceritakan soal orang yang dicarinya itu bukan hanya pada Nicholas saja, tapi Ranni yang kebetulan punya tujuan yang serupa meskipun mereka mencari orang yang berbeda.

Dan untuk menjadi lebih kuat, mereka sering meminta berlatih secara khusus pada Lasius hingga hari ini. Sejak Alzen tidak lagi kembali ke kelas Ignis dan menetap di Fragor. Mereka berdua adalah bintang kelas Ignis untuk angkatan tahun ini, dimana perkembangan mereka sangat pesat dibanding yang lain.

Ranni dengan ambisi untuk mengalahkan Heimdall Lodier jika suatu hari ia menemukannya dan Lio berambisi mengalahkan orang misterius yang memanipulasi pikirannya di masa kanak-kanak dulu. Seorang pria dengan senjata kris hitam, meskipun tak tahu seberapa kuat orang yang dicarinya ini, tapi Lio yakin dia orang bukan orang yang sembarangan.

Lio kini bergaya rambut cepak dan tubuhnya semakin kekar karena selalu berlatih dan pakaian bela diri berwarna hitam yang menopang kecepatannya di tambah sarung tangan khusus yang didesain untuk meningkatkan kemampuan apinya.

Ranni kini mengenakan pakaian beladiri berwarna hitam yang mirip seperti Lasius dan Lio, serta jaket putih dan resleting berwarna kuning keemasan, belakang jaketnya seolah memiliki bentuk buntut seekor burung phoenix.

Dan saat latihan mereka usai

Lio dan Ranni duduk berdua sambil bernafas tersengal-sengal.

Lasius membawakan mereka minuman dan beristirahat di tengah-tengah mereka. “Aku salut pada kalian, hari liburpun kalian tetap mau datang berlatih. Bahkan tanpa bolong satu haripun.”

“Aku harus menjadi lebih kuat. Hah... hah...”

“Kita yang sekarang masih belum cukup. Hah... hah...”

Lasius hanya tersenyum, lalu meneguk minumannya.

Dari jauh ada Nirn yang mengintip mereka, khususnya untuk melihat Ranni. 

“Dia benar-benar wanita pekerja keras ya.” Kata Nirn yang bersembunyi di balik pillar. “Aku malu pada diriku yang tidak ada bagus-bagusnya ini. Diet pun aku terus menerus gagal, aku benar-benar cuma pecundang di hadapannya.”

***

Di Griffinia Port, Gunin sedang berjalan-jalan di dermaga tempat banyak kapal besar berlabuh.

“Kapal ini berapa harganya,” tanya Gunin.

“Jangan nanya yang tidak-tidak dek, kau tidak akan mampu beli. Sana-sana aku hanya melayani pembeli yang serius.”

“Aku hanya ingin tahu saja.”

“Ahh yasudah-yasudah yang besar ini harganya 5,24 milyar Rez. Gimana tidak sanggup kan? Makanya jangan macam-macam deh dek, kalau mau naik kapal besar, gabung saja sana sama pelaut atau kalau mau di jalur yang salah, jadi kru bajak laut. Tapi aku tak menyarankan loh ya... kau bisa jadi buron nanti. Sudah sana-sana ganggu aku kerja saja.”

Gunin tak ambil pusing dengan sikap kasar penjual kapal itu. Tapi di ia ke Griffinia untuk membayangkan apa yang akan dilakukan sesudah lulus nanti.

“Sepertinya memang tidak mungkin aku membeli kapal sendiri,” kata Gunin sambil berjalan mengelilingi dermaga, melihat ada banyak sekali kapal berlabuh dan orang lalu lalang dari para pelaut, bajak laut, pedangan dan penduduk sipil. “Apa ada baiknya aku menjarah kapal bajak laut bersama kru yang kubentuk nanti, dan kami... akan mengarungi samudra menuju benua di tengah-tengah dunia itu? Entahlah, aku tiba di benua inipun sudah merupakan perjalanan yang sangat panjang. Aku tidak berniat pulang secepat ini. Aku mau mengarungi samudra lebih dulu.”

***

Di Letshera, ibukota Greenhill.

Luxis yang wajahnya kini punya bekas luka tebas dari Velizar, berjalan dengan mengenakan hoodie di area komersial Letshera.

“Velizar brengsek, wajah tampanku ini kau rusak dengan pedang keparatmu. Meski sudah setengah tahun, aku tidak akan pernah lupa darimana asalnya luka ini.” kata Luxis dalam hati sambil berjalan dan mengkertakan giginya. 

“Jika saja tak ada luka ini, harusnya wajahku sudah di pajang di baliho-baliho kota besar dan sudah menjadi selebriti terkenal. Bukan malah wajah bencong itu yang terpajang dimana-mana.” kata Luxis sambil melihat baliho besar dengan foto wajah tampan Sever yang kini sudah berkarir sebagai selebriti terkenal di ibukota.

***

Di kota Kastor, ibukota Valencia

Sever saat ini sedang berada di rumahnya, sebuah istana besar bangsawan Vrandez. Sedang duduk di kursi mewah rumahnya.

“Foto apa ini Sever! Menjijikan!” bentak ayahnya pada Sever sambil menunjukkan poster foto wajah Sever. “Kami mendidikmu untuk meneruskan dinasti keluarga Vrandez dan kau malah jadi foto model tidak penting begini. Segera tinggalkan pekerjaan ini dan kembali bersekolah dengan serius. Kau satu-satunya penerus dinasti keluarga ini. Kakak perempuanmu tidak akan bisa meneruskan, selain kamu siapa lagi. ”

“Nilaiku tidak turun ayah...aku tetap akan lulus dan menjadi penyihir yang kuat. Tapi...”

“Segera tinggalkan pekerjaanmu ini! Ayah tidak peduli, kita ini bangsawan, kita terhormat, kenapa malah melakukan pekerjaan bodoh begini.”

“...” Sever tertunduk di hadapan ayahnya. Lalu dengan suara kecil ia berkata. “Kau tidak pernah peduli padaku ayah. Kau selalu seperti ini.”

***

Padang pasir terluas di Fel, Sajora Desert. Sebuah kapal pasir besar dijarah oleh kelompok yang menyebut diri mereka Sandstorm Raider. Sekitar hampir 50 bandit yang menutupi dirinya dengan kain mengelilingi dan menyerbu kapal pasir besar itu dari kedua sisi.

Tapi bukannya jarahan besar yang mereka dapat, malah kekalahan telak harus ditanggung pihak penyerang.

Crashhhtttt !!

“Ini yang ke enam.” Velizar menebas kawanan bandit yang menyerang kapal besar mereka dan setiap menebas ia selalu menyarungkan kembali pedang katananya.  

“Aku yang ke tiga belas.” Kata Nicholas yang mengalahkan di sayap kanan kapal bersama Velizar.

“Hiiiyy...” Sinus menunduk ketakutan sambil melindungi kepalanya.

Sementara di sayap kiri, 25 bandit yang menyerang dihabisi seorang diri tanpa cela oleh Nathan Obsidus.

Seusai bertarung melawan para bandit ini, Nathan memberikan perintah. “Ikat mereka, salah satu dari mereka pasti ada yang akan buka mulut.”

Belum selesai menyelesaikan kalimatnya, ke sepuluh anak buah terpilih Nathan langsung menjalankan perintahnya.

‘Yang menyerah segera borgol dan penjarakan di dek bawah.” Kata Nathan sambil berjalan ke sayap kanan kapal menuju tempat adiknya. “Yang melawan, lukai kakinya segera dan buang ke bawah kapal biar kita lindas. Orang pertama yang mau memberikan jawaban yang benar, beri dia 100.000 Rez, kasih makan-makanan enak dan bebaskan. Aku orang yang berintegritas, kalian bisa pegang kata-kataku.” 

Segera setelah bandit-bandit amatir itu mendengar kalimat terakhir Nathan, hatinya tergerak dan banyak yang bersedia dengan penuh semangat, meski belum tahu akan ditanya apa.

Nathan berjalan menemui Nicholas. “Temanmu ini hebat juga, siapa namamu?”

“Aku Velizar.” jawabnya dengan datar.

“Menarik,” balas Nathan sambil tersenyum mengelus dagunya. “Setelah lulus kau kurekrut ya,

Nicholas menatap kakaknya dengan geram. 

“Ahh tidak, tidak, biar dia jadi partnermu saja.” Balas Nathan dan kemudian ia berbisik di telinga Nicholas. “Dia luar biasa.”

“Lalu yang bersembunyi di situ?” tunjuk Nathan pada Sinus. “Dia temanmu juga kan?”

“Bukan urusanmu.”

“Heran,” balas Nathan. “Tinggalkan saja, dia cuma beban.” Ucap Nathan dengan suara keras pada penekanan kata beban. “Tolong dipertimbangkan.” Nathan menepuk pundak Nicholas dua kali lalu mulai mengintrogasi tahanannya.

“...” Nicholas tak berani menjawab, namun tangannya terkepal geram.

Velizar mengetuk kepala Nicholas dari samping kanannya dengna ujung gagang pedangnya. 

“Hei,” katanya dengan wajah datar. “Abaikan saja, kakakmu memang menyebalkan.” Lalu Velizar menoleh ke arah Sinus. “Sinus, jangan diambil hati ya, kau memang beban, tapi kami tetap temanmu.” Lalu berjalan meninggalkan mereka berdua.

“Cih,” Sinus meludah dan terlihat kesal. “Kau mau menghibur atau mencelaku sih.”

“Terserah dari sisi mana kau memandangnya.” jawab Velizar sambil berjalan memunggunginya..

***

“Ahh tidak seru,” Nathan geleng-geleng kepala.

“Aku sudah memberitahumu lokasinya! Mana-mana! Mana 100.000 Rez ku.”

“2, 4, 6, 10. Nih.” Nathan menyerahkan sepuluh lembar uang cash 10.000 Rez. 

“Woah... woah... aku tak pernah pegang uang sebanyak ini.” kata anggota yang membocorkan informasi itu. 

“Brengsek! Kau tidak loyal pada guild kita!” sahut anggota lainnya yang cemburu.

“Persetan dengan loyalitas. Seharusnya aku yang dapat! Bagi-bagi pada kami.”  

“Ini makanan enakmu.” Nathan memberikan sepiring besar makanan mahal. “Makanlah sepuasnya.”

“Kau ingin aku makan seperti kucing hah?”

“Ahh iya, tolong lepaskan ikatannya, dia bebas.” kata Nathan dengan santainya.

Selagi bandit amatir itu makan di tengah-tengah kelompoknya yang cemburu, sebagian besar menyoraki informasi yang sama.

“Mereka sungguh-sungguh amatir.” kata Nathan dalam hati. “Aku tak melihat ada tahanan yang potensial untuk di rekrut. Informasi tentang markas mereka juga valid. Hmm... mungkin ini akan jadi tugas yang mudah, tapi kami belum tahu kekuatan Guild Officer mereka.”

Kemudian Nathan berjalan turun ke dek. Seusai turun Velizar menunggunya sambil memeluk pedang.

“Kakaknya Nicholas,” katanya dengan wajah datar. “Kau sepertinya sudah tahu kita akan dirampok. Apa yang sebenarnya kau lakukan? Kau punya kemampuan memprediksi masa depan atau...”

“Tidak-tidak, ini semua adalah tentang,” kata Nathan sambil mengetuk-ngetuk kepalanya. “Beberapa hari lalu aku meminta pedagang besar bernama Ahmad untuk dengan sengaja di tangkap kelompok Guild ini, lalu membocorkan jadwal keberangkatan kita hari ini dengan sengaja pada mereka. Tapi jangan sampai mereka curiga, dia harus benar-benar melawan balik dan membocorkan informasi dengan terpaksa. Semua berjalan sesuai rencanaku. Selanjutnya tinggal bagian bersenang-senangnya. Aku mengandalkanmu.” Nathan melewati Velizar sambil menepuknya.

“Ahh satu lagi,”

“Mmm?” Nathan berhenti sejenak.

“Kau benar-benar memberikan uangnya pada mereka?” tanya Velizar.

“Iya dong, kita ini bukan penjahat, kita bisa pegang omongan kita. Kita manusia berintegritas.” Seusai bicara Nathan berjalan kembali dan meneriakkan. “Arahkan kapal ke goa di koordinat 79, 181 Sajora Desert. Kita menuju markas mereka!” 

Hwooyyy Hwoyyyy Hahahaha!! Ini milikku! Uang ini milikku!

Teredengar riuh keributan di luar.

“...?” Velizar penasaran dan naik ke atas. 

Dan mendapati, orang yang menerima hadiah itu dijarah habis-habisan oleh rekannya sendiri yang sibuk memunguti uangnya. Anggota yang tidak setia itu mati di hajar habis-habisan sampai bonyok dan berdarah oleh rekannya sendiri dengan makanan masih tersisa di mulutnya.

“Iri hati manusia,” komentar Velizar sambil matanya menoleh ke samping. “Apa itu juga bagian dari rencananya?”

***