Episode 324 - Kasta Perak Tingkat 2



Sang mentari condong di ufuk barat. Sinarnya terang, namun sebagian besar terhalang pepohonan nan maha besar-besar. Di balik bayangan teduh, dua orang anak manusia sigap menuruni sebatang pohon. Sesampainya di permukaan tanah, mereka pun melesat cepat. Walau tiada banyak terjadi pertukaran kata-kata, gerakan keduanya seirama seolah sudah sangat terbiasa bergerak bersama-sama. 

Sepanjang perjalanan, berbagai jenis binatang siluman serangga mereka temui. Namun demikian. tiada satu yang dihiraukan. 

Bintang Tenggara bukan tak merasa manfaat menetap di Kerajaan Lebah Ledang. Akan tetapi, jemu sudah rasanya membolak-balik buku di dalam pustaka, karena kandungannya tak lagi banyak menarik hati. Berlatih tarung pun tiada akan berdampak banyak, terlebih lagi Tiga Jahanam telah dipastikan bertolak ke sarang lain demi menjalankan tugas membantu pasukan pengawal Ibunda Ratu Lebah. 

Terkait tokoh yang sempat datang di tengah malam itu, untuk sementara ini Bintang Tenggara merasa bahwa dirinya belum siap. Ia tak memiliki kemampuan yang memadai untuk menghadapi perempuan dewasa berpenampilan gadis belia itu. Mungkin ada baiknya menunggu kesadaran Komodo Nagaradja atau Ginseng Perkasa kembali, yang mana kedua ahli tersebut tentu memiliki pengalaman bertarung di atas panggung kasur pada malam hari. Tentu disadari bahwa apa pun jurus yang mereka ajarkan nanti, harus dipilih dan dipilah dengan sangatlah seksama.

Dengan demikian, keputusan meninggalkan Kerajaan Lebah Ledang telah diambil secara mendadak. Alasan yang pertama, adalah karena sulitnya memperoleh kesempatan bertemu muka dengan Kuau Kakimerah yang menetap di sarang lain. Sedangkan alasan kedua, ketiadaan pengawal pribadi saat ini membuka kesempatan untuk menyelinap keluar menjadi terbuka lebar. Kendatipun demikian, alasan utama meninggalkan Kerajaan Siluman Lebah Ledang, sesungguhnya didasarkan pada pengakuan Kuau Kakimerah. Bahwasanya, menurut gadis belia tersebut, terdapat kemungkinan bagi mereka untuk bisa mempelajari jurus yang merasuk ke dalam pikiran. 

“Supremasi Ilusi dapat dikerahkan oleh manusia.” Kata-kata Kuau Kakimerah menjadi kunci. Akan tetapi, pembelajaran terkait kemampuan tersebut hanya dapat dilakukan di kerajaan lain. Kesimpulan yang terakhir ini, diambil oleh Bintang Tenggara sendiri. 

Hari jelang malam…

“Bruk!” 

Tetiba tubuh Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah jatuh tersengkur, ibarat dua batang ranting kering yang dihempas angin. Tiada berdaya, tubuh lemas adanya. Belakangan ini, pengalaman kehilangan kendali tubuh sudah menjadi sebuah keniscayaan. Walhasil, kedua anak remaja kemudian merasakan kesadaran mereka memudar.

Pada detik-detik akhir sebelum kehilangan kesadaran, Bintang Tenggara sayup mendengar pertukaran kata-kata. “Bawa mereka…” 

Suasana temaram dan jauh dari sinar mentari. Bintang Tenggara sulit menerka berapa lama dirinya dan Kuau Kakimerah tak sadarkan diri. Akan tetapi, dari suara dan perih yang terasa di wilayah perut, paling tidak satu hari dan satu malam sudah waktu berlalu sejak mereka meninggalkan Kerajaan Siluman Lebah Ledang. 

Bunyi kunci bergemerincing, yang disusul dengan derik gembok membuka. Suara-suara yang sepantasnya hanya sayup terdengar, kali ini bergema memenuhi seantero ruangan berukuran sedang. Dari balik pintu, sejumlah ahli berkulit tubuh gelap melangkah masuk, empat jumlah mereka berbaris teratur. Terakhir, adalah seorang perempun dewasa dengan perawakan tubuh semampai melangkah masuk. 

Di hadapan kedua anak remaja yang tergolek lemas, perempuan dewasa itu membungkukkan tubuh dan mengamati dalam diam. Ketika tatapan matanya bertemu dengan Bintang Tenggara, ia lantas berujar datar, “Apa alasan kalian meninggalkan Kerajaan Siluman Lebah Ledang…?” 

Bintang Tenggara menatap perempuan dewasa itu. Dari pertanyaannya, perempuan itu mengenal jati diri mereka. Mungkinkah mereka ini yang ditakuti oleh Elirio… “Siapakah gerangan Puan Ahli…?” aju anak remaja itu penuh perasaan curiga. 

Si perempuan dewasa semampai berkulit gelap bangkit berdiri. Ia mengamati lagi, jelas sekali enggan memberi jawaban. 

“Apakah Puan Ahli berasal dari Kerajaan Siluman Semut Suluh…?” lanjut Bintang Tenggara setelah mencermati ciri-ciri tubuh.

Tak ada perubahan dari raut wajah perempuan dewasa itu. Ia terus mengamati. 

“Kami hendak kembali ke dunia kami…” Akhirnya anak remaja itu memberi jawaban atas pertanyaan yang sebelumnya diajukan. Dari pembawaan lawan bicara yang demikian tenang, Bintang Tenggara tiada dapat berkilah sama sekali. 

“Namaku Josalin…” Akhirnya tanggapan diberikan. “Kalian saat ini berada di dalam wilayah Kerajaan Siluman Semut Suluh.”

Usai kata-kata tersebut, Bintang Tenggara merasakan bahwa tubuhnya dapat kembali berfungsi normal. Ketakberdayaan yang disebabkan oleh Supremasi Ilusi telah memudar. Ia dan Kuau Kakimerah bangkit berdiri. 

“Aku mengetahui jati dirimu sebagai calon mempelai lelaki Ibunda Ratu Lebah…” Josalin mempersilakan Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah menuju pintu keluar ruangan penyekapan. Menyaksikan terowongan berkelok-kelok di depan mata, kedua anak remaja menyadari bahwa mereka kini berada di bawah tanah. Di bawah pengawalan nan ketat pula, mereka kemudian menelusuri terowongan dengan pencahayaan temaram. 

“Kalian memasuki wilayah Kerajaan Siluman Semut Suluh… Jikalau sesuatu terjadi kepada diri kalian di wilayah kami, maka Kerajaan Siluman Lebah Ledang kemungkinan besar akan bertindak. Demi mencegah kesalahpahaman, dan perang, maka dari itu kami terpaksa menangkap kalian,” papar Josalin. “Kuharap kalian memahami perlakuan yang kurang mengenakkan.”

Bintang Tenggara mengangguk cepat. Ia tak menyadari akan dampak besar dari tindakan melarikan diri. Ketegangan yang bersemi di antara ketiga kerajaan siluman adalah nyata adanya. “Apakah Puan Josalin akan mengembalikan kami ke Kerajaan Siluman Lebah Ledang…?”

“Benar.”

“Tapi… kami hendak meninggalkan dunia ini…”

“Dan Kerajaan Siluman Semut Suluh akan dianggap membantu pelarian kalian,” sela perempuan dewasa itu. “Ibunda Ratu Lebah dikenal sebagai pribadi yang gegabah. Ia tak akan berpikir dua kali untuk mengerahkan pasukan. Bahkan, saat ini kemungkinan besar mereka sudah bergerak…”

“Lepaskan kami… Tutup mata dan telinga tentang keberadaan kami…” Bintang Tenggara berujar penuh harap. 

“Mata dan telinga ada dimana-mana…” Josalin menanggapi dingin. “Aku akan menghubungi Elirio dan meminta Kerajaan Siluman Lebah Ledang menjemput kalian.”

“Kami akan mengungkapkan unsur kesaktian yang dimiliki oleh Puan Josalin…” Bintang Tenggara memulai tawar-menawar. Tiada ia menyangka akan menggunakan senjata andalan secepat ini. Ia melirik sepintas kepada Kuau Kakimerah sebagai pendengar setia, yang hanya mengikuti saja rencana sang teman tanpa setitik pun rasa curiga.  

Josalin sontak menghentikan langkah. Sorot matanya menatap tajam. Atas gelagat tersebut, Bintang Tenggara merasa bahwa kemenangan sudah berada di dalam genggaman, bahwasanya senjata andalan yang ia miliki demikian perkasa lagi digdaya. Akan tetapi, kata-kata yang berikutnya meluncur dari mulut perempuan dewasa itu membuat si anak remaja tergagap…

“Katakan, mengapa kalian hendak menuju Kerajaan Siluman Rayap Radak…?”

“Ka… kami…”

“Kalian bergerak ke arah yang berlawanan dengan tempat di mana upacara adat berlangsung. Hanya di sana gerbang dimensi ruang antar dunia dapat dibuka. Sepantasnya, sebelum melarikan diri dari Kerajaan Siluman Semut Suluh, kalian sudah memastikan arah tujuan…”

Bintang Tenggara kehabisan kata-kata. Benaknya berputar deras. Tak diragukan lagi, sebelumnya siluman sempurna semut telah memanfaatkan Supremasi Ilusi untuk melakukan interogasi tanpa disadari. Oleh karena itu, kata-kata Josalin bukan untuk mencari tahu, melainkan demi menguji. 

“Mengapa kalian menuju Kerajaan Siluman Rayap Radak…?” ulang Josalin. 

“Diriku hendak mempelajari Supremasi Ilusi…” Murid kebanggaan Komodo Nagaradja terpaksa mengungkapkan rencana yang sempat tersusun. Tak mudah rupanya mencapai tujuan. 

“Hahaha…” Josalin terkekeh. Walau telah mengetahui akan rencana tersebut dari bawahan yang menangkap kedua anak manusia, namun mendengarnya secara langsung dari mulut si anak remaja membuat dirinya tak dapat menahan tawa. Ia seolah baru mendengar sebuah guyonan polos dari anak kecil nan lucu. “Manusia tak akan dapat mengerahkan Supremasi Ilusi…,” lanjutnya setelah dapat mengendalikan diri. 

“Ahli yang berada pada Kasta Perak dapat mulai mempelajari kemampuan tersebut…,” tanggap Bintang Tenggara penuh keyakinan. 

“Sebagaimana kami tak dapat mengerahkan unsur kesaktian, maka manusia tak memiliki anggota tubuh yang diperlukan untuk menerapkan Supremasi Ilusi…”

Bintang Tenggara hanya menatap tanpa berujar sepatah kata pun. Ia lebih percaya pada pengakuan Kuau Kakimerah. 

Mereka kemudian meneruskan langkah. Tak lama, ujung terowongan mulai terlihat. Cahaya mentari berpendar dari sela-sela dedaunan maha besar. Di luar, suasana pagi masih terasa sejuk. 

“Jadi, apakah unsur kesaktianku…?” Tetiba Joselin berujar, walau hanya sebatas berbasa-basi. 

Bintang Tenggara menoleh ke arah Kuau Kakimerah. Gadis belia itu menarik napas panjang, pasrah akan kehendak sang teman. Ia lantas menjawab, “Tanah…”

Tak mengherankan, batin Bintang Tenggara. Kelompok siluman sempurna lebah memiliki unsur kesaktian angin, sementara kelompok siluman sempurna semut dengan unsur kesaktian tanah. Malahan, kemungkinan besar, masing-masing kelompok siluman sempurna tersebut hanya memiliki satu unsur kesaktian sahaja. 

“Apakah engkau mengetahui cara kami menerapkan Supremasi Ilusi…?” lanjut Joselin. Padahal, tadinya ia sendiri yang mengeyampingkan perihal kemampuan tersebut.

“Siluman sempurna lebah memanfaatkan suara kepak sayap, sehingga menerapkan Supremasi Ilusi dengan menyerang indera pendengaran. Sedangkan siluman sempurna semut memiliki kelenjar yang mengeluarkan aroma khas, dengan demikian menerapkan Supremasi Ilusi dengan menyerang indera penciuman.” Jawaban Bintang Tenggara demikian lugas dan tegas. 

“Mengetahui kenyataan tersebut, lantas mengapa engkau berpandangan dapat mempelajari Supremasi ilusi…?”

“Karena siluman sempurna rayap berbeda,” tegas Bintang Tenggara, di mana tak ada keraguan dari sorot kedua bola matanya.

Kali ini, raut wajah Joselin berubah menjadi lebih serius. Entah apa yang ada di dalam pikirannya ketika menyunggingkan sebentuk senyuman... “Kau membuat aku penasaran, dan aku ingin sekali menyaksikan sorot matamu berubah putus asa tatkala mengalami kegagalan….”

“Hm…?”

“Oleh karena itu, aku akan membiarkan kalian pergi menuju Kerajaan Siluman Rayap Radak.”

Bintang Tenggara mengangguk cepat, yang ditanggapi Joselin dengan lambaian tangan. Salah satu pengawal yang bersiaga kemudian menyerahkan makanan dan minuman kepada kedua anak remaja.

“Makan dan minumlah terlebih dahulu,” ujar Joselin sembari memutar tubuh. “Setelah itu, para pengawal akan mengantarkan kalian sampai ke wilayah perbatasan. Walau, perlu kuperingatkan bahwa sambutan dari ‘mereka’ tak akan berlangsung hangat…” Demikian, perempuan dewasa itu pun melangkah pergi.

Sehari semalam waktu berlalu. Bintang Tenggara tiada menyangka bahwa perjalanan menuju wilayah perbatasan antara Kerajaan Siluman Semut Suluh dengan Kerajaan Siluman Rayap Radak adalah demikian jauh. Beruntung terdapat empat pengawal yang memandu perjalanan. Para siluman sempurna tersebut sangat memahami seluk-beluk wilayah yang dilewati dan mengetahui pasti cara menghindar dari binatang-binatang siluman yang berkeliaran. Oleh karena itu, perjalanan menjadi terbilang singkat. 

Matahari kini tepat berada di atas kepala. Rombongan tiba di wilayah perbukitan. Salah satu prajurit pengawal, yaitu pemuda tegap berkulit tubuh gelap layaknya kebanyakan siluman sempurna di Kerajaan Siluman Semut Suluh, mengacungkan jemari telunjuk lurus ke depan. Jauh di hadapan sana, di balik sebuah bukit, Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah menyaksikan pohon-pohon maha raksasa menjulang tinggi ibarat menopang langit. 

“Mereka berdiam di sana…” Seorang prajurit pengawal berujar. 

Tentu saja, batin Bintang Tenggara. Kerajaan Siluman Rayap Radak berada di dalam batang pohon. 

“Kami hanya akan mengantarkan sampai di sini.” Prajurit pengawal lain menegaskan. Jelas sekali mereka tak hendak menyeberang ke wilayah kerajaan siluman rayap. Tanpa berbasa-basi lebih lanjut, mereka pun pergi meninggalkan kedua anak remaja. 

“Masih sekira setengah hari perjalanan,” ujar Kuau Kakimerah yang biasanya hanya berdiam diri.

Bintang Tenggara masih menatap kepada pepohonan maha raksasa. “Kemungkinan besar kita akan bermalam di perjalanan.”

“Lebih cepat kita tiba, maka akan lebih baik,” tanggap Kuau Kakimerah yang terbiasa tinggal di rimba raya. Ia menyadari betul betapa riskan berada di wilayah hutan yang dipenuhi serangga pada malam hari. 

Bintang Tenggara mengangguk. Walau, benaknya masih memikirkan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Joselin. Bahwasanya, kemungkinan besar kehadiran mereka tak diterima oleh para ahli di Kerajaan Siluman Rayap Radak. 

“Sebaiknya kita bergegas…” Kuau Kakimerah menarik teman seperjalanannya dari dunia lamunan.

Hari jelang petang. Tanpa pemandu, berkali-kali Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah terpaksa memutar arah, menempuh perjalanan yang lebih jauh sehingga memakan waktu yang lebih panjang pula. Berbagai jenis binatang siluman serangga berhasil mereka hindari, namun kini empat ekor binatang siluman serangga berwujud belalang sembah raksasa menghadang. Dengan kaki-kaki depan yang panjang ibarat pedang tajam, tatapan mata besar mereka telah mengunci pada santapan makan siang. 

“Tak ada jalan lain…,” bisik Bintang Tenggara. Ia melirik sisi kiri yaitu tebing batu nan tinggi, sedangkan di sini kanan terdapat jurang dalam dan terjal… 

Kuau Kakimerah bersiaga. 

“Kita terobos…,” ujar Bintang Tenggara cepat. Kali ini mereka akan memanfaatkan kecepatan untuk melewati lawan. Setelah itu, melarikan diri adalah pilihan yang akan ditempuh. 

Tanpa aba-aba lebih lanjut, Kuau Kakimerah segera menumbuhkan jalinan rotan. Tak sulit untuk ditebak, bahwasanya gadis belia itu akan membelit gerakan para pengejar nantinya. Walaupun nanti dapat memangkas jalinan rotan, binatang siluman belalang sembah akan terhambat gerak langkahnya. 

Akan tetapi, baru hendak bergerak melarikan diri, Bintang Tenggara merasakan keanehan di wilayah ulu hati. Mustika tenaga dalam seolah memanas, tenaga dalam yang berkilau perak mulai menggelegak…

“Kenaikan peringkat…,” gumam Kuau Kakimerah sembari menoleh. 

“Tidak… Jangan sekarang!” Bintang Tenggara menyergah kepada diri sendiri.

Tanpa kehadiran Komodo Nagaradja, Bintang Tenggara tiada akan dapat menghentikan proses yang menjadi bagian dari pertumbuhan keahlian tersebut. Biasanya, memerlukan waktu beberapa tahun bagi ahli Kasta Perak untuk naik tingkat. Bahkan, bagi ahli dengan bakat biasa-biasa saja, tanpa bantuan ramuan atau tempat dan keadaan khusus, maka memerlukan setidaknya waktu selama 25 tahun untuk naik satu tingkatan. Toh, dengan usia sepanjang 250 tahun, waktu yang tersedia masih sangat memadai sebelum naik ke Kasta Emas. 

Bintang Tenggara tak habis pikir akan keadaan mustika tenaga dalamnya. Ia tak menyadari bahwa kegemaran menenggak Madu Imperium saban hari selama tiga purnama terakhir, nyatanya membantu mempercepat proses kenaikan tingkat. Setiap kali mengkonsumsi minuman tersebut, kadar tenaga dalam menjadi sedikit lebih kental. 

Anak remaja lelaki itu segera duduk bersila. Ia menebar mata hati kepada tumbuhan siluman Akar Bahar Laksamana yang menempel pada sisi mustika, berharap agar sang benalu tersebut akan menyantap tenaga dalam yang hendak memecahkan dinding mustika dari sisi dalam. Akan tetapi, pun karena pengaruh Madu Imperium, Akar Bahar Laksamana mabuk dan tertidur sangat pulas! 

“Swush!” 

Kaki depan nan panjang dan tajam mengayau ke arah batang leher Kuau Kakimerah. Gadis belia itu sigap menarik tubuh nan lentur ke dalam posisi kayang, kemudian bersalto mundur. Namun demikian, ia sepenuhnya menyadari bahwa tiada memungkinkan menghadapi empat ekor binatang siluman belalang sembah secara bersamaan, seorang diri pula. Setiap satu dari mereka adalah setara dengan ahli Kasta Perak!

Tak ada jalan lain bagi Bintang Tenggara bila tak hendak mati konyol karena ledakan tenaga dalam. Ia terpaksa merangkai mustika wadah penampungan tenaga dalam yang baru. Artinya, ia akan membiarkan mustika saat ini pecah, menahan kecamuk tenaga dalam menggunakan jalinan mata hati, dan di saat yang bersamaan memecah konsentrasi mata hati demi merangkai mustika yang baru. Sebuah proses yang alamiah, namun kali ini di dalam keadaan yang sangat tak lumrah. 

Bintang Tenggara hanya bisa berharap bahwa Kuau Kakimerah dapat bertahan selama dirinya melalui proses memperoleh Kasta Perak Tingkat 2!