Episode 86 - Perjalanan Menuju Banten



Nyai Mantili terus berjalan meninggalkan rombongan pengungsi, meskipun kelihatannya hanya berjalan kaki, tapi satu langkah kakinya sama dengan tujuh langkah lari kuda, maka dengan cepat ia meninggalkan rombongan itu hingga sampailah ia diujung batas desa. “Sobatku rayi Dewa Pengemis Dari Bukit Tunggul, lama tak jumpa!”

Dihadapan istri almarhum Kyai Pamenang itu, duduk seorang pria tua yang sedang bermain kecapi, bermata buta, berambut gondrong awut-awutan yang telah memutih semuanya, pakaiannya gombrong robek-robek dan sangat kotor, dari tubuhnya keluar bau yang amat tidak sedap, dibelakangnya nampak puluhan pria dan wanita yang semuanya berpakaian robek-robek dan kotor, tampang mereka semua seperti pengemis, dari badan mereka pun menghampar bau yang tidak sedap menusuk hidung!

Si pria tua yang dipanggil dengan sebuatn Dewa Pengemis Dari Bukit Tunggul itupun tersenyum dan balas menyapa Nyai Mantili yang pada masa lalu sangat terkenal kecantikannya di seantero Pasundan ini, sambil tetap memainkan kecapinya. “Ah Eceu Mantili, yang di masa lalu terkenal dengan julukan si Mawar Putih Dari Gunung Halimun, istri sahabatku Kyai Pamenang, senang berjumpa lagi denganmu meskipun dalam keadaan yang serba tidak mengenakan ini… Saya turut berduka cita atas meninggalnya Kyai Pamenang, sahabatku yang sangat saya hormati.” (Eceu = Sebutan untuk perempuan yang lebih tua atau yang di tuakan).

Nyai Mantili yang di masa tuanya ini masih terlihat jelas binar kecantikannya di masa mudanya dulu terdiam sebentar berusaha menahan deburan perasaan di hatinya, namun tak urung dua butiran bening mengalir juga dari kedua matanya. “Ah jadi rayi pun sudah mendengar kabarnya?”

“Iya Eceu, saya sudah mendengarnya, menyesal saya tidak sempat membantunya untuk menghadapi mayat hidup itu…” ucap si Dewa Pengemis dengan suara berat dan wajah penuh semburat kekecewaan.

Saat itu datanglah Ki Pranajaya serta Sekar dan beberapa anak murid Nyai Mantili yang menyusul gurunya, “Ah sungguh jodoh saya bisa bertemu dengan tokoh golongan putih yang sangat disegani di dunia persilatan ini, rupanya saya sedang beruntung bisa bertemu dengan Dewa Pengemis Dari Bukit Tunggul beserta murid-muridnya yang dikenal dengan Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul.” ucap Ki Pranajaya.

 “Ah anda terlalu melebih-lebihkan Ki, salam jumpa dari saya dan para anak murid saya yang tidak sedap dipandang ini hehehe…”

“Benar rayi, ini Sungguh pertemuan yang langka… Saya lihat rayi membawa seluruh murid Adi dari Bukit Tunggul, apakah Adi juga hendak mengungsi ke Banten?” Tanya Nyai Mantili.

“Benar Eceu, wilayah Mega Mendung sudah kosong melompong, beberapa Kadipaten dan Negara-negara bawahannya sudah melepaskan diri dan justru bergabung dengan Banten ataupun Sumedanglarang juga Cirebon, selain itu saya dan murid-murid juga ingin bertemu dengan saudara seperguruan mereka, Galuh Parwati, selain Raden Jaya Laksana murid Eceu dan almarhum Kyai… Maka kalau diizinkan bolehkah kami bergabung dengan rombongan ini?”

Nyai Mantili tidak langsung menjawab, ia menoleh pada Ki Pranajaya. “Maafkan saya rayi, tapi Ki Pranajaya lah pemimpin rombongan ini, maka beliaulah yang berhak memberi keputusan.”

“Kenapa tidak Nyai? Saya setuju saja, bukankah lebih banyak lebih baik? Kita bisa saling menjaga dan menolong kalau ada apa-apa yang akan menghadang perjalanan kita.” jawab Ki Pranajaya.

“Terimakasih Ki, kami sangat berterima kasih karena telah diizinkan untuk ikut dengan rombongan ini.” ucap si Dewa Pengemis sambil tersenyum.

Kini anggota rombongan pengungsi dari Mega Mendung pun bertambah banyak dengan bergabungnya Gerombolah Pengemis Dari Bukit Tunggul. Ki Pranajaya pun meminta si Dewa Pengemis untuk ikut memimpin rombongan besar yang jumlahnya mencapai ribuan ini, mereka terus bergerak menuju ke wilayah Banten karena tidak ingin kemalaman di wilayah perbatasan Mega Mendung-Banten yang selain banyak begalnya, juga untuk menghindari kemungkinan kejaran mayat hidup Dharmadipa.

***

Malam itu di gubug Mega Sari, bayi laki-laki yang baru saja dilahirkan oleh Mega Sari terus menangis tanpa henti sehingga ibunya sibuk membujuknya agar tidak menangis, Emak Inah dan Ki Silah pun menghampiri majikannya.

“Anak ini pasti lapar sekali, tapi air susu saya tidak keluar!”

“Apa perlu saya carikan susu sapi Gusti?” tawar Ki Silah.

“Dimana Abah bisa mendapatkannya? Saya dengar seluruh Mega Mendung ini sudah kosong melompong, semua penduduknya sudah mengungsi semua!”

Ki Silah berpikir sebentar. “Saya akan mencari ke desa-desa sekitar sini, mungkin ada sapi atau kambing ternak yang tertinggal, tapi kalau tidak, terpaksa saya akan mencari ke desa-desa di perbatasan Banten.”

“Tapi itu jauh sekali Abah…”

Ki Silah terdiam sebentar, ia lalu mengambilkan sebuah pisang pada Mega Sari “Terpaksa… Tapi sementara kasih pisang saja dulu Gusti, saya akan segera mencari susu Gusti, kemungkinan saya akan pergi selama beberapa hari jadi hati-hatilah Gusti.”

“Baik Abah.”

“Emak, jaga Gusti baik-baik, saya pergi mungkin untuk beberapa hari.”

“Baik Abah, kau juga berhati-hatilah Abah…” jawab Emak Inah sambil memberikan satu tusuk bawang merah, bawang putih, dan cabai merah.

***

Pagi hari itu di Kutaraja Surasowan Banten, Indrapaksi menghadap Jaya Laksana yang sedang sarapan bersama Istrinya Galuh Parwati yang sedang hamil tua. “Raden Tumenggung dan Raden Ayu, rombongan terakhir pengungsi dari Mega Mendung sudah tiba dan sekarang mereka semua berkumpul di alun-alun, disana juga ada Nyai Mantili beserta seluruh anak murid Padepokan Sirna Raga dan Dewa Pengemis Dari Bukit Tunggul beserta para muridnya Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul.”

Jaya dan Galuh terkejut mendengarnya. “Nyai Guru juga mengungsi? Apakah ia bersama Kyai Pamenang?”

“Tidak Raden, hamba juga tidak mendengar kabar tentang Kyai Pamenang dan Ki Balangnipa, terakhir ketika hamba membawa pengungsi, mereka masih bertahan di Keraton Rajamandala, hamba juga belum mendengar penjelasan dari rombongan pengungsi terakhir.”

“Kakang, izinkan saya untuk ikut kesana, saya sudah kangen sekali kepada Guru dan saudara-saudaraku.” pinta Galuh.

“Baiklah, tapi hati-hati karena perutmu sudah besar Nyai, kita sebaiknya naik kereta saja.” jawab Jaya, mereka pun langsung berangkat ke alun-alun Surasowan.

Ketika sampai, Jaya melihat Alun-alun Surasowan penuh sesak oleh ribuan orang pengungsi dari Mega Mendung. Ia dan Galuh lalu turun dari keretanya. Bagaikan seorang raja dan permaisurinya yang dihampiri oleh rakyatnya, mereka langsung diserbu oleh para pengungsi yang menceritakan keluh kesah mereka pada Jaya, sampai Jaya melihat Nyai Mantili, ia pun segera sungkem kepada istri gurunya itu yang sudah ia anggap ibunya sendiri, sementara Galuh langsung sungkem pada si Dewa Pengemis.

“Kyai Guru tidak ikut bersamamu Nyai Guru?” Tanya Jaya pada Nyai Mantili.

Perempuan setengah baya itu menggelengkan kepalanya, wajahnya Nampak sangat sedih. “Gurumu sudah berpulang Jaya…”

Alangkah terkejutnya Jaya, seribu Guntur meletus berbarengan diatas kepalanya pun rasanya tidak semengejutkan apa yang ia dengar barusan. “Inalillahi wainalillahi rojiun… Bagaimana bisa?” tanyanya dengan masih setengah tidak percaya karena ternyata mayat hidup sungguh luar biasa sehingga bisa membunuh Kyai Pamenang yang amat terkenal dan disegani kesaktiannya.

“Kyai terbunuh oleh para denawa yang merasuki raga Dharmadipa, begitupula Ki Balangnipa, Prabu Bogaseta, serta semua orang-orang penting di Mega Mendung, bahkan kini keraton Rajamandala dan Kutaraja Rajamandala sudah hancur diterjang oleh air bah akibat ulah para denawa yang merasuki tubuh Dharmadipa! Mega Mendung sudah kiamat, Sirna Ilang Kertaning Bhumi!”

Jaya tercengang, seluruh tubuhnya lemas bagaikan tak bertulang, sukmanya bagaikan lepas mendengar kematian gurunya serta bencana yang mengakibatkan hancurnya negeri tanah airnya itu. “Bagaimana ceritanya Guru?” tanyanya lemas dengan suara bergetar.

Sambil menahan isak tangisnya, Nyai Mantili pun menceritakan semua kejadian malapetaka yang sangat mengerikan yang menimpa Mega Mendung, Jaya mendengarnya dengan dada yang berdegup kencang, berbagai perasaan berkecamuk didalam dadanya.

Setelah selesai mendengar kisah yang amat sangat memilukan tersebut, seorang ponggawa datang menghampiri Jaya dan memberi tahu bahwa ia diperintah untuk menghadap Sultan di Balai Penghadapan Agung, maka setelah berpamitan pada Nyai Mantili dan perwakilan para pengungsi, ia langsung pergi ke Balai Penghadapan Agung untuk menghadap Sultan Banten.

Di balai penghadapan Agung Keraton, Semua pejabat penting Banten telah berkumpul disana untuk mendengarkan titah dari Sang Sultan, Sultan pun mulai membuka penghadapan agung ini. “Sudah saatnya kita bertindak untuk meraih kejayaan yang kita idam-idamkan selama ini, sudah waktunya untuk menegaskan bahwa Banten adalah Negara termaju dan termakmur! Sebagai Kesultanan terbesar di Bhumi Pasundan ini! Sebagai Negeri yang akan melanjutkan kejayaan Pajajaran! Banten jauh lebih berhak mengakui semua itu daripada Pajajaran Sendiri!”

Sultan lalu menatap semua pejabat yang hadir di ruangan itu dengan tatapan tajam penuh makna. “Sekarang segala persiapan kita sudah matang, taktik yang tepat untuk menguasai kota pakuan telah kita matangkan, semua senjata dan perbekalan sudah siap, seluruh pasukan kita sudah sangat terlatih, perhitungan waktu yang baik untuk memulai dan melakukan penyerangan sudah kita tetapkan. Maka, saya serahkan sepenuhnya kepada kalian, apa yang pantas kalian lakukan untuk kejayaan Banten!”

Mahapatih Amangkubumi Tubagus Kasatama segera menjura hormat. “Kami dan seluruh pasukan kami akan mempertaruhkan seluruh jiwa raga kami sampai titik darah terakhir untuk kejayaan Banten!”

“Seluruh angkatan perang serta rakyat Banten sudah siap untuk melaksanakan kewajibannya, sebagai urang Banten untuk meraih kejayaan!” sahut Tubagus Gempong sang Senopati Panglima Perang Banten.

Sultan Banten mengangguk-ngangguk sambil tersenyum senang, ia lalu berdiri dari kursi singgasananya. “Bagus! Sekarang kita akan mulai melancarkan taktik penyerangan kita ke Pajajaran. Siang ini juga empat puluh lurah tantama pilihan yang akan dipimpin oleh Senapati Ki Jungju akan berangkat dengan membawa Tombak Pusaka Kyai Guludug untuk menyusup kedalam kota Pakuan. Mereka bertugas untuk mendobrak pintu gerbang Kutaraja dari dalam menggunakan Tombak Kyai Guludug pada saat yang sesuai dengan aba-aba dari induk pasukan utama yang akan dipimpin langsung oleh saya yang berupa satu panah api di malam hari!”

Senopati Ki Jungju langsung menjura hormat. “Daulat Gusti Sultan!”

Sultan lalu melanjutkan penjelasannya. “Sedangkan untuk induk pasukan kita, kita akan bagi tiga kekuatan untuk menyerbu Pajajaran dari Tiga Jurusan, Senopati Tubagus Gempong akan dibantu oleh Pangeran Wijayakrama dan pasukan Jayakarta sebanyak Tiga Ribu orang yang membawa seluruh meriam besar dan pasukan bedil kita akan menyerbu lewat perbatasan utara.

Patih Amangkubumi Tubagus Kasatama akan memimpin pasukan utama yang membawa semua meriam kecil kita sebanyak lima ribu orang melakukan penyerbuan lewat perbatasan Timur, dan Pasukan sebanyak dua ribu orang pilihan termasuk pasukan Balamati akan saya pimpin sendiri bersama dengan Tumenggung Jaya Laksana menyerbu dari arah selatan lewat wilayah utara Mega Mendung!

Hal ini sengaja kita lakukan sebagai kejutan untuk Pajaran, mereka pasti akan mengira bahwa kekuatan utama kita menyerbu dari sebelah barat mereka yang berbatasan langsung dengan banten. Begitu mereka mengetahui bahwa prajurit kita tidak menyerbu dari sebelah barat, mereka akan mengira bahwa pasukan utama kita akan menyerbu dari sebelah selatan yang saya pimpin, maka dari itu untuk pasukan Patih Tubagus Kasatama dan Senopati Tubagus Gempong agar dapat dengan cepat menghancurkan pasukan mereka di regol utara dan regol timur agar perhatian mereka terpecah.

Setelah itu tunggu pasukan saya, segera setelah pasukan saya berhasil menjebol regol selatan, kita akan berkumpul di hutan perbatasan Kutaraja Pakuan, kita akan kepung mereka selama lima hari untuk membuat mereka lelah, pada malam kelima kami akan memberi aba-aba pada pasukan Senopati Tubagus Cakranegara untuk menjebol gerbang utama mereka di sebelah selatan Kutaraja!

Pada saat pasukan mereka kaget dan terkonsentrasi di Pintu Gerbang Utama sebelah selatan, kita akan menjebol tembok sebelah barat daya dan tenggara Pakuan dengan meriam Ki Amuk dan Guntur Geni, setelah berhasil, masing-masing lima ratus prajurit yang akan dipimpin oleh Tumenggung Jaya Laksana di sebelah barat daya dan Tumenggung Braja Paksi sebelah Tenggara menggunakan jembatan darurat buatan untuk menyebrangkan pasukan “Panumbak Anyar” kita melalui tembok yang sudah dijebol tersebut. Sedangkan pasukan utama akan menyerbu lewat gerbang kota dengan dipimpin langsung oleh saya sendiri!

Nah sekarang bubar, kalian cukup tahu apa yang seharusnya dipersiapkan untuk sebuah perang! Sekarang saya hanya menghendaki agar Kakang Patih Tubagus Kasatama dan Tumenggung Jaya Laksana menemaniku disini!”

Setelah semua hadirin bubar, hanya Jaya dan Mahapatih Tubagus Kasatama yang berada disana. Sultan menoleh kepada Jaya. “Saya ingin mendengar laporanmu mengenai pengungsi dari daerah Mega Mendung.”

Jaya menjura hormat terlebih dahulu baru kemudian menjawab. “Mohon ampun Gusti, hamba takut ini akan memecah perhatian kita terhadap penyerangan kita ke Pajajaran.”

“Bagaimanapun kita harus tetap memperdulikan kepada nasib para rakyat kecil sekalipun mereka bukan berasal dari wilayah kita. Mereka sampai datang ke Banten ini meskipun dulu bersitegang dengan Negara asal mereka, pasti karena rasa ketakutan yang sudah tidak bisa mereka tahankan! Nah sekarang masalahnya itu apa?”

“Mereka ketakutan pada denawa serta Jin marakahyangan yang menganggu dan membunuhi para penduduk yang tidak berdosa, bahkan menurut cerita dari guru saya Nyai Mantili, Mega Mendung sudah tutup buku, hampir seluruh wilayah mereka hancur diterjang oleh air bah berwarna merah seperti darah, bahkan Kutaraja dan Keraton Rajamandala hancur akibat air bah aneh itu, guru hamba Kyai Pamenang dan Ki Balangnipa tewas terbunuh dalam peristiwa tersebut.”

“Hmm… Baru kali ini aku mendengar para denawa berani mengganggu dan membunuh manusia… Kalau sekedar menakut-nakuti, itu memang sering terjadi.” komentar Sultan dengan wajah keheranan.

“Itulah mengapa hampir seluruh penduduk di Negeri Mega Mendung mengungsi kemari selain ada juga yang mengungsi ke Sumedanglarang atau Cirebon, kalau bukan karena ada pembunuhan mungkin mereka masih akan tetap berani bertahan, tapi masalahnya bagi Banten, kedatangan mereka yang berjumlah ribuan itu pasti merupakan beban yang cukup berat!” sahut Tubagus Kasatama.

“Ya ya… Saya jadi ingat pada Denawa yang menwujud menjadi Pangeran Dharmadipa yang menyerang saya beberapa bulan yang lalu itu… Jangan-jangan Denawa itu adalah teluh yang dikirimkan oleh Pajajaran dan semua ini memang sudah direncanakan oleh mereka untuk memberatkan dan memecah perhatian kita, sehingga akan dengan mudah mereka bisa memenangkan peperangan, dan setelah berhasil menghalau kita, mereka bisa dengan mudahnya mencaplok wilayah Mega Mendung yang kini telah kosong… Huh Suryakancana, kau benar-benar licik!” geram Sultan sambil mengepalkan tangannya.

“Maaf Gusti, apakah mungkin Pajajaran yang melakukan ini semua?” tanya Jaya Laksana.

“Semua hal dalam peperangan adalah mungkin, karena pada dasarnya dalam peperangan kita tidak beradu ilmu kesaktian, melainkan kita beradu taktik! Tetapi itu tugasmu untuk menyelidinya… Jaya Laksana, aku percayakan padamu untuk mengurus semua pengungsi itu, aku berikan alas Waru dan Alas Kedaton untuk mereka tempati sementara!”

“Daulat Gusti!” setelah menjura, Jaya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.

Setelah Jaya pergi, Ki Patih Tubagus Kasatama mengahturkan sembahnya. “Mohon maaf Gusti, apakah tidak berbahaya mempercayakan para pengungsi itu untuk diurus dan dipimpin oleh Jaya Laksana? Karena bagaimanapun mereka adalah orang-orang Mega Mendung dan Jaya Laksana adalah putra sulung dari mendiang Prabu Kertapati!”

“Kamu tidak perlu terlalu khawatir Kakang Patih, bukankah kau sudah dengar sendiri tadi bahwa para pengungsi itu dalam keadaan yang ketakutan? Moril mereka juga sedang jatuh akibat kehancuran negerinya. Selain itu kita akan lebih mudah untuk menekan Jaya Laksana apabila terjadi apa-apa dengan para penduduk itu.”

“Kalau begitu hamba ssangat setuju dengan pendapat Gusti tersebut…” Angguk Tubagus Kasatama yang memuji kecerdikan rajanya tersebut.

“Bagus! Kalau begitu kita kembali memikirkan rencana penyerbuan kita ke Pajajaran, pergilah, awasi semua persiapan terutama pada pasukan Ki Jungju yang akan segera pergi!” pungkas Sultan.