Episode 66 - Hari yang Baik



Sore yang cerah. Ditemani dengan secangkir teh, Jessica dengan santai menikmati alunan musik dari piano yang dimainkan oleh orang kepercayaan Jessica, kali ini dia tidak memakai gaun berwarna kuning, tapi berwarna ungu.

Jari lentiknya dengan lincah memainkan piano tersebut, alunan musik yang merdu membuat Jessica merasa sangat nyaman. Namun, tiba-tiba saja alunan musik menjadi lebih cepat. Jessica menolehkan kepalanya.

“Lina, kau memang tahu apa yang paling aku butuhkan saat ini.” Ucap Jessica lalu berdiri.

“Jangan ragu, bebaskanlah dirimu.” Ucap Lina dengan pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari piano.

Kemudian dengan sanggat anggun Jessica mulai menggerakan tubuhnya sesuai irama, gerakannya sangat mempesona, gaun berwarna merah yang dia kenakan merekah seperti kelopak mawar. Bersama dengan sinar matahari sore yang masuk lewat jendela, membuat pemandangan yang dihasilkan menjadi sangat menakjubkan.

Setelah menari selama 10 menit, akhirnya Jessica menyudahinya. Dia sudah terlalu lelah, begitu pula Lina yang harus berkonsentrasi untuk memainkan piano dengan irama yang cepat, butuh tenaga yang banyak untuk melakukan semua itu.

Peluh keringat menghiasi tubuh Jessica dan Lina. Dengan santai Jessica berjalan mendekati Lina, kemudian dia duduk di atas pangkuan Lina. 

“Bos...”

Ucapan Lina dipotong oleh Jessica dengan menaruh telunjuknya pada bibir Lina. Kemudian Lina mendekatkan wajahnya pada telinga Lina dan berbisik pelan. “Tubuhku sekarang berkeringat, jadi kau harus bertanggung jawab.”

“Ma-maksudnya Bos?” tanya Lina dengan gugup.

“Ayo kita mandi bersama.” Balas Jessica dengan tenang.

“Tapi...”

“Tidak ada tapi-tapian, kau harus mau.” Ucap Jessica dengan tegas seraya menatap mata Lina.

Lina tidak mampu untuk melihat mata Jessica dan akhirnya menundukkan kepalanya.

“Ba-baiklah.” Jawab Lina dengan lirih.

Sedetik kemudian Jessica turun dari pangkuan Lina dan menarik tangan Lina untuk segera pergi ke kamar mandi, Jessica masih belum puas melihat wajah malu Lina, dia memang begitu, senang sekali membuat Lina jadi salah tingkah.

Setelah puas menggoda Lina di kamar mandi, Jessica langsung pergi ke kamarnya dan mengganti pakaian. Waktunya telah tiba, rencana yang telah dipersiapkan akan segera dia eksekusi.

Melihat cermin, Jessica menatap pantulan dirinya di dalam cermin, dengan celana jeans berwarna biru, sebuah kaus berwarna putih dan di balut oleh jaket berwarna hitam. Juga ada sebuah kacamata berwarna hitam menghiasi wajahnya. Bibirnya berwarna merah terang dan untuk malam ini, dia mengikat rambut panjangnya. Sosok Jessica sangat berbeda dari biasanya, sangat berbeda. Namun, tetap saja, dia masih terlihat cantik.

Jessica segera pergi ke garasi dan memanaskan mobil kesayangannya, setelah itu dia langsung tancap gas dan pergi ke tempat tujuan. Tanpa Jessica sadari, ada seorang pengendara motor yang mengikuti di belakangnya, dan orang tersebut adalah Lina.

***

Lima mobil berwarna putih beriringan melaju di jalanan. Di dalam salah satu mobil tersebut, Dragon sedang dengan nyaman menikmati anggur merahnya. Seraya menyilangkan kakinya, Dragon meneguk tegukan terakhir di gelasnya.

“Malam ini akan jadi malam yang indah.” Gumam Dragon dengan pelan lalu kemudian dia tertawa terbahak-bahak.

Iringan mobil terus berjalan dan setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai di tempat yang telah di janjikan, sebuah gudang tua yang tidak digunakan lagi.

Telah menunggu mereka seorang gadis di depan pintu gerbang gudang tersebut, yang tidak lain adalah Jessica. Pintu mobil terbuka dan keluar dari dalamnya lima belas orang termasuk Dragon dengan pakaian jas berwarna putih dan sebuah kacamata hitam.

Dragon berjalan mendekati Jessica lalu setelah sampai di depannya, Dragon langsung mengambil tangan Jessica dengan menciumnya seraya berkata, “Maafkan atas keterlambatan kami.”

“Tenang saja, aku juga baru datang.” Ucap Jessica dengan tenang. “Baiklah, kalau begitu mari kita masuk saja.”

Tanpa berlama-lama lagi, Jessica, Dragon dan anak buahnya langsung masuk ke dalam gudang tersebut. Kemudian mereka langsung menghampiri sebuah kotak yang ditutupi oleh sebuah kain. Jessica membuka kain tersebut dan sebuah kotak kayu terlihat di depan mereka.

Jessica meminta seseorang anak buah Dragon membuka kotak kayu tersebut dan sebuah pistol terlihat di dalamnya.

“Ini adalah Night Hawk Custom, senjata ini adalah yang terbaik diantara handgun lainnya. Meskipun akurasinya agak sedikit buruk, tapi si hitam kecil ini memiliki kecepatan peluru seperti Sniper.” Jelas Jessica.

“Pistol yang keren.” Gumam Dragon seraya membelai pistol tersebut.

Jessica hanya tersenyum mendengar gumaman Dragon, “Mari kita pindah ke senjata berikutnya.”

Kemudian mereka berpindah ke kotak yang berada di sebelahnya, Jessica meminta salah seorang anak buah Dragon untuk memindahkan kain yang berada di atasnya dan membuka kotak tersebut.

“Kalau ini, kalian pasti sudah tak asing, kan?” tanya Jessica.

“Haha, tentu saja, aku sangat mengenalnya.” Ucap Dragon dengan bangga.

Senjata yang berada di dalam kotak tersebut adalah AK-47, sebuah senjata api yang dirancang oleh Mikhail Kalashnikov, seorang jenderal besar Rusia.

Tanpa berlama-lama, mereka langsung berpindah ke kotak sebelumnya. Setelah kain yang menyelimuti kotak disingkirkan dan kotak tersebut dibuka, senjata api yang berada di dalam kotak tersebut pun terlihat.

“Ini adalaH M-16, senjata ini memiliki kecepatan peluru yang luar biasa dan membuatnya menjadi senjata utama Amerika.” Jelas Jessica.

“Bagus, bagus, kau memang tidak pernah mengecewakan.” Ucap Dragon.

“Terima kasih.” Balas Jessica dengan senyum simpul. “Baiklah, kita langsung saja ke senjata terakhir.”

Sebuah kotak terbuka lagi dan senjata yang berada di dalamnya langsung terlihat.

“Ini adalah Accuracy Internasional Artic Warfare 50 atau yang sering disebut sebagai AW.50 AI. Senjata ini adalah satu-satunya senjata yang bahkan dapat menembak tank dari jarak lebih dari 2000 meter.” Jelas Jessica seraya memegang sebuah sniperberwarna hijau tua.

“Hebat, semuanya sangat hebat.” Ucap Dragon dengan semangat.

“Tentu saja, semua ini demi menghancurkan Si Iblis Hitam.” Ucap Jessica.

“Benar, dengan semua senjata ini, kita pasti bisa menghancurkannya.” Ucap Dragon.

Kemudian sebuah dering terdengar, itu adalah ponsel Jessica. “Maaf, biarkan aku menjawabnya dulu.”

“Silakan.” Balas Dragon.

Kemudian Jessica langsung pergi meninggalkan mereka, ke sebuah pojok ruangan. Sebenarnya itu bukanlah sebuah dering dari panggilan masuk, melainkan sebuah alaram yang sebelumnya memang telah Jessica persiapkan. Semua waktunya telah dia perhitungkan, kemudian setelah ini maka geng Serigala Hitam yang telah bersembunyi sebelumnya akan langsung menyerang Dragon dan anak buahnya, begitulah rencana yang telah Jessica dan Nino rencakan.

Namun, setelah lima menit pergi, tidak ada suara bentrokan yang telah Jessica perkirakan. Semuanya tetap tenang seperti sebelumnya. Jessica pun pergi ke tempat Dragon dan yang lainnya lagi.

“Maaf membuatmu menunggu.” Ucap Jessica.

“Tidak apa-apa.” Jawab Dragon dengan senyum simpul.

Jessica melirik ke sekitar gudang, tapi tidak ada tanda-tanda dari Nino dan anak buahnya. 

“Apa yang sedang kau cari?” tanya Dragon pada Jessica.

“Tidak, tidak apa-apa.” Jawab Jessica dengan tenang.

“Kau sedang mencari sesuatu?” tanya Dragon, “ataukah menunggu mereka?” lanjut Dragon seraya bertepuk tangan.

Kemudian dari arah luar gudang masuk anak buah Dragon yang lainnya, mereka tidak datang dengan tangan kosong, tapi seraya menyerat orang-orang geng Serigala Hitam, termasuk Nino yang kini sudah babak belur.

Jessica sangat terkejut melihat pemandangan ini, dia tidak pernah menyangka Nino dan anak buahnya akan dikalahkan terlebih dulu bahkan sebelum rencana mereka dimulai.

“Kenapa mereka ada di sini?” tanya Jessica. 

Meskipun rencananya telah hancur, dia akan berusaha untuk tetap aman dengan berpura-pura tidak kenal dengan mereka.

“Kau pasti bercanda, tidak mungkin kau tidak mengenal mereka.” Ucap Dragon.

“Apa mungkin itu adalah Nino dan anak buahnya? Kenapa mereka ada di sini?” Ucap Jessica. Dia masih mencoba untuk terlihat tidak ada kaitannya dengan Nino dan anak buahnya.

“Entahlah, aku pun tidak tahu.” Ucap Dragon dengan senyum kecil. “Oh, ya, aku juga menemukan seorang yang sangat tidak terduga.”

“Siapa?” tanya Jessica.

“Bawa masuk.” Ucap Dragon dengan lantang.

Kemudian masuk dua orang pria seraya membawa seorang gadis. Setelah melihat siapa yang dibawa masuk, ekspresi Jessica langsung berubah dingin.

“Kenapa dia ada di sini?” tanya Jessica pada Dragon dengan suara yang dingin.

“Haha, bukankah ini hadiah yang telah kau siapkan untukku?” tanya Dragon seraya tertawa terbahak-bahak.

“Lepaskan dia.” Teriak Jessica.

“Kau tahu, baru saja kemarin aku membuang dua wanita favoritku, lalu di sini ada dua gadis cantik, bukankah ini waktu yang sangat tepat untuk menggantikan mereka berdua dengan yang baru?” ucap Dragon.

“Apa maksudmu?” tanya Jessica dengan dingin.

“Ah, kau tidak paham? Baiklah, ini maksudku.” Ucap Dragon lalu maju menerjang Jessica.

Jessica yang tidak siap langsung terjatuh ke lantai. Sedangkan itu Dragon yang berada di atas tubuh Jessica langsung dengan buas menyentuh tubuh Jessica. Layaknya binatang buas, dengan sangat cepat pakaian Jessica tak lagi lengkap, Jessica mencoba melawan, tapi dia tak sanggup untuk bisa lepas dari cengkeraman Dragon.

Lina yang melihat mencoba untuk melepaskan diri dan menyelamatkan Jessica, tapi dia tak sanggup untuk melakukan itu, dia juga tidak bisa berteriak, karena mulutnya telah diikat dengan kain. Jadi, yang bisa Lina lakukan hanya menangis.

Saat sedang asik bermain di atas tubuh Jessica, tiba-tiba saja ada seorang anak buah Dragon yang berlari menghampirinya.

“Bos, gawat Bos, dia datang.”

Dragon berhenti dan menoleh ke arah anak buahnya, “Siapa?”

“Dia datang!” 

“Iya, siapa?” tanya Dragon lagi.

“Si Iblis Hitam!” teriak anak buah Dragon.

Dragon langsung berdiri meninggalkan Jessica yang masih terkulai lemah di tanah, meskipun hanya diraba-raba saja, tapi tetap saja, itu membuatnya sangat takut. Karena meskipun dia tinggal di dunia yang kotor, tetap saja dia adalah wanita.

“Mari kita sambut mereka.” Ucap Dragon pada anak buahnya.

“Baik!” jawab mereka semua.

Dragon berjalan dengan percaya diri bersama semua anak buahnya yang dengan setia berjalan mengikutinya. Di luar gudang, terdapat rombongan orang yang menggunakan pakaian serba hitam. 

“Haha, ini benar-benar hari yang baik, aku jadi tidak perlu mencarimu, malam ini juga aku akan menghancurkanmu.” Ucap Dragon dengan angkuh.

Salah seorang di antara rombongan orang yang menggunakan pakaian itu menatap tajam pada Dragon, seakan ingin membunuhnya.