Episode 323 - Supremasi Ilusi



Lorong-lorong lebar, sekira empat meter, berkelok-kelok panjang dan menghubungkan satu ruang dengan ruangan lainnya. Tak terbilang jumlah ruang yang terdapat di dalam tempat tersebut. Seorang anak remaja lelaki melangkah gontai, tapi sepertinya ia sudah cukup mengenal tempat di mana dirinya berada, sehingga dapat menemukan arah dengan cukup mudah.

Cahaya mentari pagi merambat hangat dari pola-pola persegi enam yang menghiasi seluruh wilayah dinding. Ragam hias ini sudah demikian akrab terasa. Si anak remaja lelaki, mengucek mata sejenak sebelum meneruskan langkah. Raut wajahnya terlihat sendu, mata memerah seperti kurang tidur. Kendatipun demikian, terasa sedikit perbedaan terhadap aura yang mencuat dari tubuhnya. Sedikit lebih dewasa rasa-rasanya.

Di hadapan pintu masuk sebuah ruangan nan luas, anak remaja lelaki tersebut menghentikan langkah. Ia hendak melangkah masuk, namun mengurungkan niat ketika menyaksikan di dalam sana telah terdapat empat ahli sedang berbincang-bincang. Bukanlah berbincang-bincang, karena seorang lelaki dewasa terlihat sedang menceramahi bawahannya. Komunikasi hanya berjalan searah. Sementara itu, ketiga bawahan yang tertunduk lesu, namun raut wajah mereka seperti tiada menyadari kesalahan apa yang telah mereka perbuat. Kendatipun demikian, di antara para bawahan tersebut, tiada satu yang berani angkat suara.

Menyadari bahwasanya waktu kedatangan yang kurang tepat, spontan si anak remaja lelaki mundur selangkah lalu memutar arah. Satu jam kemudian, ia kembali hanya untuk menyaksikan bahwa keempat ahli masih berdiri di tengah ruangan tersebut. Lama sekali mereka berbincang-bincang. Rasa penasaran membuatnya mencuri dengar. 

“Kalian kupindahtugaskan!” Si lelaki dewasa menghardik garang. “Pergi sekarang!” 

Ketiga ahli sontak membungkuk petanda hormat. Lalu mundur perlahan sebelum memutar tubuh. Tepat di pintu masuk, mereka berpapasan dengan si anak remaja. Ketiganya kembali membungkuk tatkala berpapasan, raut wajah setiap satu dari mereka terlihat semakin kusut. 

“Tuan Elirio...” Bintang Tenggara menyapa lelaki dewasa yang masih tinggal di dalam ruangan. 

“Oh, Tuan Muda Bintang. Mohon maaf karena temu janji kita tertunda.” 

“Ada apakah gerangan yang terjadi...?” Bintang Tenggara tiada dapat menahan diri. “Kemanakah Tiga Jahanam itu hendak pergi...?”

“Mereka...? Semalam terjadi sesuatu terhadap Ibunda Ratu Lebah...”

“Ibunda Ratu Lebah!?” terperangah Bintang Tenggara. 

“Benar. Semalam, Ibunda Ratu Lebah sempat menghilang dari peraduannya...”

“Hah! Menghilang!?” 

“Walau hanya sejenak, tak lama, sebentar saja...”

“Apa!? Hanya sejenak!? Tak lama!? Sebentar saja!? Apa maksud Tuan Elirio!? Ha!?” bentak Bintang Tenggara. Kata-kata Elirio membuat naik darah. 

Elirio, sang punggawa Kerajaan Lebah Ledang yang bertanggung jawab atas hal ihwal luar negeri, dibuat terkesima. Tiada ia menyangka bahwa reaksi lawan bicaranya yang biasa tampil tenang, akan sampai sedemikian histeris ketika mendengar sang Ibunda Ratu Lebah sempat menghilang.

“Maksudku, Ibunda Ratu Lebah semalam meninggalkan peraduannya. Akan tetapi, beliau kembali hanya selang beberapa saat kemudian.” 

“Oooo...” Bintang Tenggara menghela napas panjang. Dari semalam sebelumnya, ia tetap terjaga sampai saat ini karena hendak memastikan bahwa apa yang dirinya alami bukanlah ilusi belaka. Karena kurang tidur itu pula, calon mempelai lelaki tersebut menjadi sangat sensitif. Kata-kata seperti ‘sejenak’ atau ‘tak lama’ atau ‘sebentar’ dianggapnya sebagai sebuah sindiran keji atas peristiwa semalam. 

Sepertinya Elirio tak mengetahui kenyataan bahwa Ibunda Ratu Lebah semalam menyambangi dirinya. Oleh sebab itu, peristiwa gesek-menggesek sepasang alat kelamin kemungkinan besar tiada pula diketahui oleh Elirio. Sebaiknya tidak, karena malu betul rasanya. 

“Walau hanya sejenak, tak lama, sebentar saja... diriku sangatlah khawatir.”

“APA!?” Bintang Tenggara naik darah lagi. Sungguh lancang Elirio mengulangi kata-kata yang sama. Pengalaman semalam sebelumnya masih terngiang di dalam benak Bintang Tenggara. Perlu disadari bahwa bersama Ibunda Ratu Lebah, keduanya belum melakukan hubungan intim. Yang terjadi hanyalah berhimpitan saja, namun anak remaja lelaki tersebut tak dapat menahan diri. Menyedihkan.

“Tuan Muda Bintang, apakah dikau baik-baik saja...?” Elirio terlihat cemas atas perubahan perilaku yang sangat kentara. 

“Hm... Oh... Ti... tidak...” Bintang Tenggara tergagap. “Diriku belakangan ini kurang beristirahat karena sering membaca dan berlatih tarung...”

Elirio mengamati tindak-tanduk si anak remaja semakin seksama. 

“Lalu apa kaitan Tiga Jahanam dengan menghilangnya Ibunda Ratu Lebah...?” Menjaga ketenangan diri, Bintang Tenggara berupaya mengalihkan pembicaraan. 

“Tidak ada.”

“Hm...?”

“Diriku kecewa terhadap kinerja Pasukan Pengawal Ratu. Maka dari itu, mulai saat ini Amadio, Regis dan Delfina akan diperbantukan untuk mengawal Ibunda Ratu Lebah.”

Betapa anak remaja itu merasa lega bahwa tak akan lagi dibuntuti oleh para pengawal pribadi. Akan tetapi, sungguh Bintang Tenggara tak habis pikir. Bila Elirio kecewa kepada pasukan pengawal Ibunda Ratu, mengapa Tiga Jahanam yang dimaki...? 

“Sepertinya masih ada hal lain yang membuat Tuan Elirio kurang nyaman dengan keadaan Ibunda Ratu Lebah...” Bintang Tenggara berupaya menggali informasi. Ia ingin mengetahui mengapa Elirio masih kesal, padahal Ibunda Ratu Lebah dalam keadaan baik-baik saja. 

Elirio terdiam sejenak. Lelaki dewasa itu hendak angkat suara, namun terlihat ragu. Pada akhirnya, ia menjawab cepat. “Semalam Ibunda Ratu Lebah kembali dalam wujud sejatinya.” 

“Wujud sejati...?” Apakah wujud gadis belia kecil mungil, batin Bintang Tenggara menerka-nerka. 

“Terlepas dari itu...” Elirio tak hendak berpanjang lebar tentang keadaan Ibunda Ratu Lebah. Raut wajahnya berubah serius. “Sesuai kesepakatan kita, temu janji hari ini adalah demi pertukaran pengetahuan.” Lelaki dewasa itu kemudian melambaikan lengan. Tak lama, masuk ke dalam ruangan, dua orang pengawal yang berjalan mengapit Kuau Kakimerah. 

“Sesuai permintaan, maka telah kudatangkan rekan Tuan Muda Bintang.”

Gadis belia tersebut terlihat sehat. Betapa senang hatinya bertemu lagi dengan sang teman seperguruan. Keduanya saling melontar senyum.

Raut wajah Bintang Tenggara kemudian berubah serius. “Dikarenakan tumbuhan siluman Sirih Kemuning tak dikenal, maka temanku Kuau akan memberitahukan unsur kesaktian yang dimiliki Tuan Elirio.” (1)

Kuau Kakimerah tak tahu apa yang sedang terjadi, atau apa pun itu yang direncanakan Bintang Tenggara. Ia menoleh kepada Elirio penuh kecurigaan. Ketika tatapan mata keduanya bertemu, gadis belia itu membuang muka. 

“Kuau, diriku telah menjalin kesepakatan dengan Tuan Elirio. Mohon mengungkapkan unsur kesaktian yang beliau miliki”

Kuau Kakimerah sepertinya enggan mengutarakan. Akan tetapi, setelah mendapat tambahan penjelasan tentang peluang untuk meninggalkan dunia paralel di mana mereka berada, gadis belia itu pun melunak. “Angin,” ujarnya pelan. 

“Angin...?” Elirio setengah tak percaya. Dalam pemikiraannya, sulit membayangkan bahwa mereka para siluman sempurna nyatanya memiliki unsur kesaktian. “Jikalau benar, bagaimanakah cara mengerahkan unsur kesaktian ini...?” ujar Elirio berupaya mencuri kesempatan. 

“Tunggu...,” sela Bintang Tenggara. “Sesuai kesepakatan, tahap pertama kerja sama adalah pertukaran pengetahuan di antara kita.”

Elirio menyunggingkan senyum yang kecut bentukannya. Anak remaja lelaki itu cukup waspada, di dalam benak ia mengagumi. “Kemampuan kami bukanlah mengendalikan tubuh,” tanggap lelaki dewasa itu sebagai langkah menaati kesepakatan kerja sama. 

Kedua remaja menyimak dalam diam. Meski mengantuk, sorot mata Bintang Tenggara menatap tajam, haus akan ilmu pengetahuan. 

“Berbeda dengan jurus persilatan ataupun unsur kesaktian yang menyerang secara fisik, yang kami lakukan adalah menyerang kesadaran. Tindakan ini dilakukan dengan tujuan mempengaruhi syaraf otak, guna memaksa panca indera untuk tenggelamdi dalam kenyataan palsu. Mata melihat, telinga mendengar, hidung membaui, lidah mengecap, kulit merasa; namun sensasi yang diterima adalah tak nyata. Sampai pada batasan tertentu, kesemua panca indera menjadi sasaran untuk dipengaruhi.”

Bintang Tenggara mengingat keadaan ketika Amadio, Regis dan Delfina mengerjai dirinya. Tiga Jahanam itu membuat kenyataan palsu bahwa Kuau Kaki Merah memotong anggota tubuh tertentu. Apa yang dilihat, didengar, dibaui, dikecap dan dirasa... seolah betul-betul terjadi. Hal ini rupanya dikarenakan otak menganggap hal tersebut sebagai nyata. 

Bagi Bintang Tenggara, keterangan yang disampaikan secara langsung, jauh lebih mencerahkan daripada lembar-lembar halaman yang ia baca. “Jadi, bagaimanakah cara mempengaruhi syaraf otak...?” Anak remaja itu mencondongkan tubuh ke depan. 

“Para ahli dari ketiga Kerajaan Siluman di dunia ini, memiliki cara mereka masing-masing. Kemampuan mata hati adalah yang utama. Langkah berikutnya, adalah merasuk ke alam bawah sadar tanpa disadari.” 

“Menyerang kesadaran dengan melakukan pengalihan...,” gumam Bintang Tenggara. 

“Benar, mengalihkan perhatian. Membuat lawan tiada menyadari bahwasanya kesadaran mereka sedang dirasuk. Kami di Kerajaan Siluman Lebah Ledang memanfaatkan suara kepak sayap.”

Bintang Tenggara melirik ke balik tubuh lawan bicaranya. Memang secara berkala, sepasang sayap tipis setengah kasat mata itu bergetar. Dalam setiap getaran, terdengar suara nan sangat halus pula. 

“Tuan Muda dapat mendengar suara sayup kepak sayap, namun Tuan Muda tiada mempedulikan. Kesadaran Tuan Muda menganggap bahwa suara tersebut merupakan sesuatu keniscayaan yang tak berarti, tak bernilai, tak penting. Oleh sebab itu, muncul kecenderungan untuk mengabaikan sahaja.”

Bintang Tenggara mengangguk. Raut wajahnya seolah bersinar. 

“Namun demikian, suara tersebut tetap ada dan nyata adanya. Walaupun halus, suara itu tetap dapat ditangkap oleh telinga, yang merupakan salah satu panca indera. Karena suara tersebut ada, telinga tetap menjalankan fungsinya untuk mengantarkan gelombang suara ke otak. Di saat itu, yang tiada Tuan Muda sadari, bahwa berbarengan dengan gelombang suara sayup kepak sayap, kami menumpangkan jalinan mata hati.” Elirio berhenti sejenak, mengamati reaksi lawan bicaranya.  

Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah masih mencermati. 

“Dengan demikian, jalinan mata hati yang telah diimbuhkan kepada gelombang suara berhasil mencapai otak lawan tanpa disadari,” lanjut Elirio. 

Penjelasan semakin rumit. Namun demikian, Bintang Tenggara semakin bersemangat. “Kesadaran tak menyadari ketika terdapat jalinan mata hati yang merasuk perlahan ke syaraf otak. Dalam hal ini melalui indera pendengaran,” simpul Bintang Tenggara. 

“Para Ahli di Kerajaan Siluman Rayap Radak dan Kerajaan Semut Suluh juga memiliki anggota tubuh yang memungkinkan mereka merasuk ke dalam syaraf otak tanpa disadari. Mereka menyerang indera penglihatan dan indera penciuman,” Elirio tersenyum lalu melambaikan tangan perlahan. 

“Brtt... !” 

Bintang Tenggara tetiba merasakan sekujur tubuhnya kaku. Anak remaja tersebut kemudian melangkah maju, serta mengangkat kedua belah tangan tinggi ke atas. 

“Ini... ini... Bagaimana mungkin!?” Bintang Tenggara terbata-bata karena ia kehilangan kemampuan mengendalikan anggota tubuh. Sekujur tubuhnya bergerak dengan sendirinya. Atau lebih tepatnya, syaraf otak mengirimkan perintah kepada anggota tubuh sesuai kehendak kesadaran pihak lain!

“Yang sedang Tuan Muda alami, merupakan tahap lanjutan dari mengimbuhkan kenyataan palsu ke dalam otak. Sampai pada batasan tertentu, setelah menyerang kesadaran kami dapat memberi perintah kepada otak sasaran untuk melakukan sesuatu yang kami kehendaki. Inilah yang disalahartikan sebagai kemampuan mengendalikan tubuh.”


Bintang Tenggara tetiba terlepas dari pengaruh tubuh kaku. 

“Kemampuan ini memberikan kekuasaan tertinggi terhadap kendali kesadaran lawan. Ia mengirimkan situasi palsu yang dianggap nyata ke dalam otak. Oleh karena itu, kami menyebutnya sebagai... ‘Supremasi Ilusi’.”

“Jadi, terdapat dua tahap dalam Supremasi Ilusi,” ulang Bintang Tenggara. “Pertama, membuat lawan melihat, mendengar, mencium, mengecap dan merasa sesuatu yang kita kehendaki. Berikutnya, memberi perintah kepada otak untuk melakukan apa yang dikehendaki sang perapal.”

“Benar!” tanggap Elirio. “Akan tetapi, Supremasi Ilusi tak mungkin dapat dilakukan oleh manusia. Manusia tak memiliki cara untuk menciptakan pengalihan sebagaimana yang kami lakukan.”

Bintang Tenggara tercekat. Meskipun demikian, benaknya berputar keras. “Bagaimana bila diriku memainkan alat musik. Bukankah tindakan tersebut mengirimkan gelombang suara yang dapat diimbuh dengan jalinan mata hati...?”

“Apakah kesadaran lawan dari Tuan Muda akan mengabaikan suara alat musik tersebut...?”

“Kemungkinan besar tidak...,” gerutu Bintang Tenggara. Ia membayangkan bermain seruling di hadapan lawan. Begitu mendengarkan alat musik dilantunkan, maka lawan akan sangat waspada terhadap serangan unsur kesaktian gelombang getaran suara. Haruslah sesuatu yang dapat ditangkap panca indera, namun di saat yang bersamaan tak membuat lawan merasa terancam sehingga nantinya mengabaikan saja.  

“Sampai di sini dulu untuk hari ini,” ujar Elirio. Tanpa menunggu jawaban, lelaki dewasa itu meninggalkan kedua anak remaja. Belum terlalu jauh melangkah, ia tetiba memutarkan tubuh dan berujar, “Kuau Kakimerah, para pengawal akan menjemput dikau pada petang hari nanti. Sementara itu, kalian dapat menghabiskan waktu bersama.”

Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah saling pandang. Pengertian terbangun di antara mereka tanpa perlu mengucapkan kata-kata. Bahwasanya tanpa pengawalan, bukankah ini merupakan kesempatan yang tepat bagi mereka melarikan diri dari Kerajaan Siluman Semut Suluh...?

“Tidak...” Bintang Tenggara menegaskan hati. “Ibunda Ratu... Ehem... Maksudku, Supremasi Ilusi... Pastilah ada cara menguasai kemampuan tersebut. Tak ada yang tak mungkin di dalam dunia keahlian. Caranya saja yang belum diketemukan...”

Di luar dugaan Bintang Tenggara, Kuau Kakimerah menanggapi dengan anggukan cepat penuh keyakinan. “Memanglah ada...”


Catatan:

(1) Episode 63

Nantikan episode paling seru sepanjang sejarah di awal pekan depan!