Episode 322 - Madu Putih



“Tiong Kakimerah, sahabatku!” sergah seorang lelaki dewasa muda tatkala memasuki wilayah pemukiman suku dayak yang tampil sederhana. ‘Sederhana’ merupakan sebuah kata untuk memperhalus makna, karena selintas pandang saja dapat dipastikan bahwa taraf hidup penghuni di pemukiman suku dayak tersebut adalah sangat rendah adanya. 

Pagar yang mengelilingi wilayah pemukiman ditambal sulam seadanya, dan dalam kondisi yang buruk. Gubuk-gubuk terlihat reyot. Hampir tiada terlihat binatang ternak dan tanaman pertanian. Hanya ada beberapa ahli yang berlalu-lalang dengan wajah lesu. 

Tokoh yang disapa sejenak terpana. Ia seperti tiada mengenali penampilan sang tamu. Setelah beberapa waktu mengamati, barulah ia menyadari. “Sangara Santang! Apakah benar mataku tiada mengelabui!? Apa yang terjadi!? Apakah ikau menderita cedera!?” 

Tiong Kakimerah terkejut sekaligus khawatir. Bergegas ia mendatangi. 

“Oh...? Perban ini adalah bagian dari pakaianku. Sedang menjadi tren di kalangan ahli di Pulau Jumawa Selatan... Hahaha...” 

Lelaki dewasa, yang memiliki peran sebagai pencari jejak di dalam suku, ikut tergelak. Betapa hati Tiong Kakimerah dipenuhi dengan perasaan suka cita menyambut kehadiran sang tamu. “Angin apa yang membawa ikau datang bertandang!?”

“Diriku kebetulan melintas di wilayah ini!” sambut Sangara Santang sembari berjabat erat. 

“Mengapa ikau tiada memberi khabar terlebih dahulu...?” Tiong Kakimerah berupaya memejamkan sebelah mata. Malangnya, upaya tersebut tak membuahkan hasil, sehingga bukanlah sebuah kode yang tersampaikan melainkan raut wajah yang terlihat aneh bin lucu. 

Sebagaimana kita ketahui, bahwasanya Sangara Santang merupakan salah seorang perwakilan Pasukan Telik Sandi di wilayah barat Pulau Jumawa Selatan. Akan tetapi, yang tiada diketahui sebelum ini, kenyataan pelik tentang Tiong Kakimerah yang juga merupakan salah satu anggota Pasukan Telik Sandi! Tentunya ia mengemban tugas di wilayah Pulau Belantara Pusat. Demikian alasan mengapa kedua tokoh ini mengenal akrab satu sama lain.

Andai saja Bintang Tenggara mengetahui perihal sebagai sesama anggota Pasukan Telik Sandi, maka hubungan dengan Tiong Kakimerah dipastikan menjadi lebih dekat lagi.

“Siapakah gerangan yang kali ini berpetualang bersama ikau...?” Tiong Kakimerah melirik kepada seorang anak remaja lelaki di balik tubuh Sangara Santang.

“Bukanlah siapa-siapa...,” keluh Sangara Santang sedikit kesal karena diikuti tokoh tersebut. “Kum Kecho, namanya...”

“Mari... Mari kukenalkan kepada kakakku!” Tiong Kakimerah memutar tubuh dan menuntun arah. 

“Hei,” bisik Sangara Santang sambil menyikut teman seperjalanan yang tak dikehendaki keberadaanya. “Jangan engkau berbuat yang tidak-tidak di tempat ini. Awas, ya...”

Kum Kecho hanya melengos. Sungguh ia tak terlalu peduli.

Tak lama, ketiga ahli tiba di depan sebuah gubuk. Dibandingkan dengan gubuk-gubuk lain, bentuknya sedikit lebih besar dengan penampilan yang sedikit lebih baik. Seorang lelaki dewasa berwajah sendu melangkah keluar.

“Kakak,” seru Tiong Kakimerah. “Ini adalah sahabatku... Sangara Santang, Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti di Pulau Jumawa Selatan!” 

“Selamat datang... Aku adalah kepala suku Dayak Kaki Merah, Enggang Kakimerah...” Lelaki dewasa itu berupaya tampil ramah, namun raut wajahnya sulit menyembunyikan kegundahan di hati.

“Kumkum!” tetiba terdengar suara nan melengking yang memanggil. “Hei! Kumkum!”

Kum Kecho menoleh pelan. Sepertinya ia pernah sempat mengenal suara yang tak nyaman ditangkap telinga. Pandangan matanya kemudian tertuju ke arah datangnya suara. Adalah sebuah kandang yang terbuat dari kayu berukuran sedang dan terletak tepat di sisi pondok kepala suku. Anak remaja itu pun menghampiri.

“Kambing...?” Kum Kecho tak percaya akan apa yang ia saksikan terkurung di dalam kandang. Warna rambutnya cokelat muda. Pada bagian bawah leher, terdapat garis-garis rambut keperakan. Motif yang sama juga terlihat di kedua sisi luar kaki belakangnya. “Apa yang engkau lakukan di dalam sana...?” (1)

“Kumkum, lepaskan aku! Cepat!” 

Kum Kecho melongok, hendak memastikan lebih lanjut. “Kemanakah Paman...”

“Hei!” tetiba terdengar suara yang datang menghardik garang. “Apa yang ikau lakukan!?” Seorang anak remaja lelaki berusia sepantaran melangkah bergegas, kemudian berlari menyambangi. Raut wajahnya menyibak amarah. “Menyingkirlah dari kandang itu!” 

“Puyuh, putraku!” panggil Tiong Kakimerah sang ayah. “Perkenalkan, ini adalah sahabat ayah dari Pulau Jumawa Selatan!”

Puyuh Kakimerah membungkukkan tubuh kepada Sangara Santang. Tentu ia hendak berlaku santun kepada sang tamu. Kendatipun demikian, sorot matanya tiada lepas dari Kum Kecho. Kecurigaan dan rasa tak senang terpampang jelas dari raut wajahnya. Secara teknis, kedua anak remaja ini tiada sempat berpapasan di saat upacara adat berlangsung, apalagi Kum Kecho tak tampil menonjol dan pergi meninggalkan kegiatan terlebih dahulu. Entah mengapa, saat ini Puyuh Kakimerah dapat merasakan sesuatu yang tak wajar dari tokoh tersebut. 

“Ini adalah binatang siluman kancil,” papar Tiong Kakimerah dengan perasaan teramat bangga. “Di dalam upacara adat tiga purnama yang lalu, perwakilan dari suku Dayak Kaki Merah, salah satunya anandaku Puyuh, mengemban peran sangat penting. Oleh karena itu pula, Dewan Dayak menghadiahi kami dengan harta benda, termasuk pula binatang siluman ini!” 

“Oh...?” Sangara Santang tiada menyembunyikan keterkejutan. Dirinya mengetahui bahwa suku Dayak Kaki Merah merupakan suku nan dinista karena tuduhan kesalahan di masa lampau. Oleh karena itu, tiada ia mengira bahwa suku tersebut kini menjadi sorotan. Terlebih, alasan Sangara Santang menyambangi suku Dayak Kaki Merah sesungguhnya karena tak hendak keberadaannya diketahui banyak pihak, apalagi para anggota Dewan Dayak. Namun kini, niat untuk tak menarik perhatian justru dapat berbalik arah. 

“Aku mengenal pemilik binatang siluman ini...” Tetiba Kum Kecho menyela. 

“Pemilik binatang siluman ini adalah sahabatku!” bentak Puyuh Kakimerah. “Ia menginginkan binatang siluman ini, dan aku akan menjaganya sampai ia kembali nanti!” 

“Kumkum... lepaskan aku...” Si Kancil merengek. 

Kum Kecho menjulurkan tangan ke pintu kandang. Tindakan ini sontak dibalas Puyuh Kakimerah dengan menahan pintu pintu yang sama. Suasana tetiba memanas. Ketegangan serta merta tercipta di antara kedua anak remaja. Kum Kecho menyipitkan mata. Sedikit saja lagi, maka ia akan menyebar seribu nyamuk di pemukiman suku dayak tersebut. 

“Tiong...,” sang Kepala Suku nan berwajah sendu menegur pelan. “Siapkan tempat beristirahat bagi kedua tamu kita.”

Sangara Santang segera merangkul bahu si anak remaja yang mengenakan jubah gelap. Kum Kecho hendak berontak, namun rangkulan sang Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti mengandung kekuatan yang lebih dari memadai. Posisi tubuh keduanya kini terlihat kikuk. Dari sudut pandang yang menyaksikan, terlihat akrab sekali kedua tokoh tersebut berangkulan bahu. 

“Baru saja kuperingatkan...” Sangara Santang menggeretakkan gigi sembari menyeret tubuh Kum Kecho. “Haruskah engkau membangkang sebuah permintaan sederhana...? Harus...?”


===


Sebilah sabit berwarna putih melayang tinggi di angkasa raya, seolah siap mengayau sesiapa yang bertindak gegabah. Semilir angin berhembus sejuk, membawa alunan suara serangga-serangga malam yang bernyanyi saling bersahutan. 

Seorang anak remaja duduk menatap ke arah luar jendela. Gelap. Ia menebar mata hati ke mustika retak dan mustika binatang siluman Kasta Emas. Akan tetapi, masih belum ada tanda-tanda akan kesadaran Komodo Nagararadja maupun Ginseng Perkasa. Mereka ada di tempat, namun sedang tak sadarkan diri. 

Hikmah yang dapat dipetik, adalah hari-harinya yang dijalani kini terasa jauh lebih tenteram. 

Ia merebahkan tubuh ke atas kasur. Dengan ditemani cahaya temaram, sorot matanya masih segar terbuka. Malam ini, bertambah sulit baginya memejamkan mata. Tiga purnama sudah waktu berlalu, di mana mengisi waktu dengan membaca di pustaka serta rutin berlatih tarung tiada lagi mencukupi. Kejemuan telah merasuk ke hati sanubari si anak remaja yang terbiasa berpetualang. 

“Brak!” 

Tetiba daun jendela kamar yang berukuran besar terbuka lebar. Bintang Tenggara bangkit dan bersandar di kepala tempar tidur nan mewah, yang merupakan kayu keras dengan ukiran-ukiran halus berbentuk sulur dan dedaunan. Ia kemudian menyaksikan betapa gumpalan bulat besar yang berbalut kain penuh warna-warni, bersalto dan mendarat di ujung tempat tidur! 

Dalam keremangan kamar, kedua bola mata si anak remaja melotot tatkala menyadari bahwa gumpalan itu merupakan perempuan dewasa bertubuh gemuk. Mengenakan pakaian ketat dengan belahan dada rendah, payudaranya menyembul megah. Pinggulnya besar dan lebar, yang mungkin membutuhkan dua atau tiga rentangan lengan lelaki dewasa untuk dapat memeluk pinggul tersebut. Raut wajahnya bulat tembam dengan rambut pendek seleher, yang juga berbentuk bulat. Ditenteng di tangan kanan, adalah sebuah gentong berukuran sedang. 

Bintang Tenggara hendak melompat turun dari atas tempat tidur, namun sekujur tubuhnya telah kaku. Benar-benar tiada dapat bergerak dan bersuara, hanya bernapas dan berkedip yang dapat ia lakukan. Anak remaja itu membatin, dan sepenuhnya menyadari bahwa dirinya sudah kembali terjebak dalam kemampuan nan aneh yang mengunci tubuh. 

“Mempelai lelakiku...” Ibunda Ratu Lebah menyapa mesra. “Sudah tiga pernama kita tiada bersua, tidakkah kau rindu...?”

Bintang Tenggara melotot sampai seolah berupaya melepaskan bola mata dari dalam cangkangnya. Hanya ini satu-satunya cara berkomunikasi yang dapat ia lakukan...

“Oh...? Apakah dikau tak menyukai penampilanku...” Perempuan dewasa itu melangkah maju. Jemari tangan nan gempal kemudian meraba kaki si anak remaja. Ukuran ibu jari kaki Bintang Tenggara, terlihat kalah bersaing dengan ukuran jemari tangan sang Ibunda Ratu Lebah.

Sepasang sayap ringan di punggung mengepak pelan. Ujung tempat tidur berderak ketika tubuh berbobot besar dan gempal merangkak naik. Di lain sisi, Bintang Tenggara masih tersandar tiada berdaya, sementara pikirannya melayang jauh membayangkan hal-hal mengerikan yang dapat saja terjadi.

“Mungkin dikau lebih menyukai penampilanku yang lain...” Perempuan dewasa itu menggigit ujung jemari telunjuk. Genit sekali pembawaannya di malam hari ini. 

Bintang Tenggara menatap kosong. 

“Baiklah... Baiklah...,” ujar sang Ibunda Ratu Lebah sembari melenggok, yang membuat tempat tidur berderik semakin kencang, bahkan seolah hendak roboh. Akan tetapi, sesaat kemudian, kepulan uap nan hangat tetiba menyeruak ke semerata penjuru kamar. Asalnya uap, tak lain datang dari tubuh gempal perempuan dewasa itu. 

Kepulan uap hangat kemudian membaur dengan deru angin dingin yang menerobos masuk dari jendela besar yang masih terbuka lebar. Di balik kepulan uap nan memudar, tetiba Bintang Tenggara menyaksikan siluet sesosok tubuh nan ramping. 

Debar jantung Bintang Tenggara berdentum. Tubuh besar dan gempal Ibunda Ratu Lebah menghilang! 

Kini, hadir di hadapan Bintang Tenggara adalah seorang gadis belia. Raut wajahnya mirip sekali dengan perempuan dewasa tadi, namun tirus adanya sehingga tampil demikian cantik mempesona. Postur tubuhnya ibarat kombinasi tak sempurna antara Canting Emas dan Kuau Kakimerah. Dengan kata lain, bentuk tubuh nan kecil mungil, belum memiliki lekuk pinggul, serta dengan permukaan dada hampir rata!

Di saat yang sama, akibat perubahan bentuk tubuh yang sangat signifikan, pakaian berukuran besar yang dikenakan melorot dengan sendirinya!

Lagi-lagi Bintang Tenggara hanya dapat melotot, lantas segera memejamkan mata. Kendatipun demikian, sulit sekali bagi anak remaja lelaki tersebut membuang gambaran yang telah merasuk ke dalam benaknya. Postur tubuh mungil yang tampil polos, payudara berukuran mini, serta wilayah kemaluan yang hanya ditumbuhi rambut-rambut nan halus.

Tetiba, Bintang Tenggara merasakan tangan-tangan mungil mulai melucuti pakaian yang ia kenakan... Anak remaja itu melotot, hendak menunjukkan penolakan. Akan tetapi, karena berhadapan dengan gadis belia tanpa sehelai benang pun, kembali ia memejamkan mata. 

“Creeesh...”

Sensasi lain lagi mendera tubuh si anak remaja. Sang Ratu Lebah yang telah berubah penampilan, menuangkan cairan kuning keemasan ke tubuh Bintang Tenggara. Dari bahu, dada, mengalir ke pusar. Berhenti. Lalu, berlanjut lagi, dari pergelangan kaki, betis, lutut, paha, pangkal paha, dan...

Bintang Tenggara yang tersandar tiada berdaya, mendapati bahwa sekujur tubuhnya kini telah diselimuti madu! Mata terpejam, ingin rasanya ia mengumpat, menendang, mengamuk. Akan tetapi, sensasi yang kemudian ia rasakan, demikian nikmatnya... 

“Slurp...”

Sang Ibunda Ratu Lebah mulai menjilati madu di pergelangan kaki... Naik perlahan ke atas... 

“Kekasihku...” Tak lama kemudian, kegiatan menjilat madu di permukaan tubuh berhenti sejenak. “Janganlah malu... buka matamu...,” bisik sang Ibunda Ratu mesra.

Bintang Tenggara membuka mata perlahan, dan mendapati wajah mungil dan tirus sudah berada tepat di hadapannya. Ia lalu merasakan jilatan di bibir. Manis madu masih kental terasa. Lalu jilatan beralih ke leher, turun ke dada, perut... 

Di saat yang sama, anak remaja lelaki nan malang sudah mulai dapat menggerakkan tubuh. Pengaruh tubuh kaku perlahan memudar. Kendatipun demikian, sekujur tubuh Bintang Tenggara tetiba terasa kejang, ketika tempuling kecil di pangkal paha mendapat belaian nan demikian lembut.

Ibunda Ratu Lebah yang bertubuh mungil kemudian memanjat tubuh si anak remaja yang sepertinya sudah pasrah menerima keadaan. Ia duduk persis di atas tempuling kecil, menempelkan sepasang pipi lembut yang terletak di sisi bawah sana... 

Kini terlentang di atas kasur, sontak Bintang Tenggara merasakan kehangatan, yang menjalar perlahan ke seluruh tubuh. Tangannya pun reflek mulai meraba paha ramping nan ringan. Masih duduk di atas tempuling kecil, Ibunda Ratu Lebah kemudian memberikan tambahan sensasi, ketika pinggul rampingnya, bergerak mengalun perlahan... ke depan dan ke belakang. 

Sisa madu nan kental dan lengket, berbaur dengan keringat nikmat. Sesekali Ibunda Ratu merendahkan tubuh, guna mempertemukan napas dan sepasang bibir. Keduanya terus saling bergesekan dalam kelembapan nan penuh gelora. Samar, terdengar pula desahan tertahan. 

Waktu seolah berjalan lambat, padahal hanya berselang beberapa menit sahaja. Saat ini, Bintang Tenggara kesulitan untuk terus bertahan. Ia memejamkan mata, namun tindakan ini malah meningkatkan sensasi yang dirasa. Ia membuka mata, dan mendapati wajah mungil Ibunda Ratu Lebah nan penuh gairah membara...

“Aakh!”

“Eh...?” Tetiba Ibunda Ratu Lebah berhenti meliuk pinggul, dan menoleh ke bawah. Raut wajahnya sontak berubah cemas, dan seketika melompat ke sisi tempat tidur. Kemudian, sambil menatap wilayah perut Bintang Tenggara, ia berujar ragu... “Bukankah belum dimasukkan, mengapa ‘madu putih’ sudah keluar...?”


Catatan:

(1) Episode 58 dan Episode 65