Episode 93 - Volstein



Jam 7, pagi hari di gerbang perbatasan antara Valencia dan Quistra.

“Brr... siap-siap ya dek, Quistra sangat dingin loh.” kata si pengemudi yang sudah mengenakan pakaian musim dingin yang tebal dan terbuat dari bulu. 

“Baik pak!” jawab Alzen dan Leena bersamaan, yang juga sudah mengenakan pakaian musim dingin mereka.

“Brr...” pengemudi menggigil dengan hembusan nafas yang terlihat karena saking dinginnya tempat ini. “Padahal sudah pakai pakaian begini, tapi masih juga dingin. Brr...”

“Akhirnya kita sampai juga Alzen! Wohoooo!” sahut Leena yang begitu bersemangat sampai mengangkat kedua tangannya. “Ngomong-ngomong, kau baru pertama kali kesini kan?”

Alzen menggigil kedinginan. “Brr... ti-tidak, dulu sekali sepertinya aku pernah kesini. Tapi aku sudah lupa-lupa.”

“Hehe... aku sudah beberapa kali kesini. Tapi hanya untuk ke White Portnya sih, karena kau tahu... Quistra adalah negara yang paling dekat dengan North Azuria. Maka dari itu...”

“Brr... sepertinya kita masih jauh ya.” balas Alzen dengan mengusap-usap badannya sambil gigi terhentak-hentak menggigil. “Northern Kingdom masih di ujung utara.”

“Hehe... tidak apa, kita nikmati saja.” Leena tersenyum.

Setelah melewati gerbang perbatasan, transisinya mulai terlihat jelas, dari padang rumput luas khas Valencia, pelan-pelan tanahnya mulai tertimbun salju dan lebih maju lagi, mereka sudah tiba di dataran salju yang luas berwarna putih dengan sedikit pohon-pohon yang di ditimbun salju pada daun-daunnya. 

“Nah kita sudah sampai Quistra. Ha-ha-hachiww...” kata si pengemudi. “Brr.... aku benar-benar tak tahan udaranya. Bisa-bisa aku sakit nih.” 

“Woahh... dari tadinya serba hijau, di Quistra... semua terlihat serba putih.” Leena menikmati pemandangan hutan bersalju yang dilewatinya. “Julukan Quistra Land of Eternal Winter itu bukan omong kosong ya.”

BWUSSHHH !!

Alzen meng-cast sihir api di kedua telapak tangan yang saling berhadapan .

“Brr... benar-benar deh, tempat ini dingin banget.” kata Alzen sambil menggigil gemetar meski sudah dihangati sihir apinya.

Mereka terus berjalan melewati dataran salju ini, dari langit salju tak henti-hentinya turun.

***

Setelah beberapa waktu menyusuri dataran salju. Jam 8, mereka tiba di Vale Snow Village.

“Brr... aku tak tahan lagi,” kata si pengemudi yang buru-buru turun memarkir kudanya dan segera berlari ke inn terdekat. “Aku mau duduk dan minum-minuman hangat, siang nanti kita berangkat lagi, kalau sudah agak panasan. Oke, bye...”

“Loh? Kita berhenti lagi?” tanya Leena sambil melompat turun. “Kalau begini kita kapan sampainya.” Leena kemudian menatap langit dimana matahari agak sulit terlihat dan salju terus turun. “Aku tak yakin, sepertinya siang sekalipun, masih tetap dingin deh.”

“Dari sini, kita akan ke rumah almarhum pak Kazzel dulu.” kata Alzen sambil melompat turun dan melihat catatan agendanya. “Kata Bu Elena istrinya sih rumahnya ada di sebrang desa ini.”

“Hee? Sebrang desa? Kita jalan kaki kesana?” tanya Leena.

“Jalan kaki? Hehe... kau lupa, kita ini kan penyihir.” Alzen tersenyum menantang.

“Benar juga.” Leena menangkap pesan Alzen.

Alzen memasukkan catatannya ke saku dan melebarkan kedua tangannya, lalu menghempaskan api untuk meluncur dengan daya tekan seperti roket..

“Dari sini lurus saja ke arah timur,” kata Alzen. “Sampai kita melihat pemukiman disekitar sana, disitulah tempatnya.” 

Leena menarik pedangnya. “Oke... yang kalah traktir makan ya.”

“Oke...” Alzen menyanggupi.

Brushhh !!

Alzen melesat dengan daya dorong apinya. “Aku duluan.”

Syushhh...

Leena segera menyusul di dekatnya menggunakan elemen cahaya. “Kamu masih terlalu lambat Alzen.”

Alzen kemudian melesat secara bergantian menggunakan api dan listriknya untuk bergerak lebih cepat.

“Tersusul... hehe...”

Mereka berdua secara bergantian saling unggul selangkah di depan, hingga mereka melihat pemukiman.

“Alzen itu dia!” tunjuk Leena sembari melesat.

“Diman-“

BRUGGHH !!

Drushh...

Alzen yang hilang fokus tertabrak pohon di dekat situ dan tertimbun salju yang turun dari pohon.

“Adudududuh...”

Leena berbalik kembali pada Alzen. “Alzen kau baik-baik saja?” 

“Ahahaha... maaf-maaf.” Alzen menggeleng-gelengkan kepala untuk menghempas salju di kepalanya. “Aduh tanpa kacamata aku tidak bisa lihat apa-apa. Pandanganku kabur semua.”

Leena mengambil kacamata Alzen dan memberikan padanya. “Ini kacamatamu.”

“Te-terima kasih.” Alzen mengenakan kacamatanya kembali. “Hah... setidaknya aku masih tetap bisa melihat.”

Leena mengulurkan tangan untuk membantu Alzen naik.

Alzen menggapainya dan berdiri kembali sambil mengkepak-kepakkan salju di pakaiannya. “Karena sudah dekat. selanjutnya kita jalan saja ya.”

“Hehe... berarti aku yang menang ya.” kata Leena tersenyum sambil menunjuk dirinya. Lalu tangannya berbalik menunjuk Alzen. “Traktir makan.”

“Hehe Iya-iya... siapa yang bisa menandingi kecepatan cahaya.” balas Alzen. “Elemen petir memang cepat tapi lintasannya harus lurus. Sulit sekali mengontrolnya.”

Selanjutnya mereka berjalan ketika sudah berada dekat dengan Villera Town. Yang terletak tak jauh dari Vale.

“Alzen,” kata Leena sambil berjalan di samping Alzen. 

“Iya?” Alzen menjawab tanpa menoleh, pandangannya terfokus pada buku catatannya.

“Kemarin aku tak sengaja melihatmu dari balik jendela sedang bicara dengan Lumina, kau bicara apa saja dengannya, aku juga melihat raut wajahnya sedih.”

“Dia bilang dia menyesal dan tidak ada cara apapun untuk memperbaiki kesalahannya. Dia juga menangisi perpisahan denganmu loh.”

“Aish, kalau memang mutusin kenapa harus nangis juga. Bikin bingung saja tuh orang.” kata Leena dengan kesal.

“Kau tahu, aku menggunakan nasihat yang sama darimu. Aku bilang...”

***

Kembali ke saat kemarin malam,

“Orang berubah karena suatu hal. Lumina,” kata Alzen sambil menepuk pundak Lumina. “Kau harus belajar menerimanya.”

“A-Alzen...” Lumina tertegun mendengar jawaban Alzen dan terhenti sejenak, lalu menundukkan kepala. “Tapi...”

“Sekarang kau sudah menjadi orang yang gagah dan hebat. Kau ksatria sekarang, belajar dari masa lalumu lalu bangkitlah. Kamu mungkin tidak akan bisa sampai sini tanpa kesalahan yang pernah kamu buat.”

 “...” Lumina terdiam dan mukanya terlihat bingung dan khawatir. “Entahlah Alzen,” Lumina melepas tepukan tangan Alzen di pundaknya lalu berbalik arah. “Aku bergabung dalam militer untuk melupakan mimpi menjadi penyihir hebat di Vheins. Aku sangat jauh dari gagah dan hebat seperti katamu.”

Kemudian Lumina berjalan menuruni tangga dan mengatakan, “Selamat malam Alzen.”

***

“Begitu,” Alzen menceritakannya ke Leena. “Meskipun ganteng, tapi dia pesimitis sekali ya.”

“Hih... memang seperti itu orangnya, menyerah sebelum bertanding. Menyebalkan.” Leena cemberut mendengar Lumina lebih jauh.

Lalu kata Leena dalam hati, sambil membuang muka dari Alzen. “Tapi setidaknya, dia menyesal.”

***

“Nah ini dia rumahnya, Kazzel, Volstein, Mansion?” kata Alzen sambil membaca tulisan ukiran batu di gerbang rumah Kazzel. “Heh? Volstein, aku baru tahu nama belakangnya pak Kazzel.”

“Rumahnya besar ya,” kata Leena sambil melihat ke atas atap rumah Kazzel lalu melihat sekelilingnya. “Meski kota ini, kota kecil.”

“Permisi!” sahut Alzen.

Lalu seorang wanita cantik berambut panjang berwarna pink keluar dari rumah itu. Berbarengan dengan anak perempuannya yang berambut pink dan berkacamata bulat seperti Kazzel, berparas imut, terus menggenggam erat baju ibunya.

“Alzen, Leena? Wahh... ayo-ayo silahkan masuk.”

“Ahh terima kasih bu Elena... maaf tapi kita cuma mampir sebentar kok bu.” kata Alzen yang masuk dengan canggung.

“Mama, mereka siapa?” tanya anak perempuan Kazzel dengan suara kecil.

“Mereka pelajar Vheins, kakak yang rambut biru itu, dulu muridnya papa.”

***

Alzen dan Leena menaburkan bunga di kuburan besar Kazzel.

“Dia berkorban demi keselamatan kami.” kata Alzen dengan dukacita.

“Dia yang paling pertama hadir untuk menolong kami,” kata Leena dengan raut wajah yang sedih.

“Terima kasih sudah mau repot-repot datang.” kata Elena Volstein istri Kazzel. “Meski sudah 6 bulan berlalu, tapi ibu masih terus mengenang almarhum.” 

“Pada saat itu,” Elena bercerita. “Ibu langsung tersungkur lemas ketika membaca surat yang memberitahukan bahwa almarhum suami ibu terbunuh saat bertugas.”

Setelah pertarungan habis-habisan melawan Yana di dungeon itu, tubuh Kazzel dibawa kembali ke Vheins dan segera berita kematiannya diberitahukan pada keluarganya yang ada di Quistra, melalui burung pengantar surat.

Segera setelah surat itu dibalas, saat itu juga Kazzel langsung dibawa secara hormat menuju tempat pemakaman yang ditunjukan Istrinya, yaitu di halaman rumahnya sendiri yang ada Quistra.

Semua instruktur Vheins dan sebagian besar murid, khususnya anak didik Kazzel di Fragor turut berduka cita di pemakaman Kazzel, namun pada saat itu Alzen tidak bisa hadir karena kondisi penglihatannya. Glaskov juga sudah mengundurkan diri saat itu.

Elena dan putrinya berduka di depan makam Kazzel. Kematian Kazzel sangat berpengaruh besar padanya. Vlaudenxius yang terluka parah tetap menghadiri pemakaman itu dan memberikan penguatan pada Elena.

Biaya hidup Elena akan ditanggung Vheins sampai putrinya dewasa, tanpa syarat apapun. Semua itu ditawarkan Vlaudenxius secara cuma-cuma. Namun Elena menolak untuk mendapatkan itu secara cuma-cuma. Ia meminta penawaran lain untuk berkesempatan menggantikan almarhum suaminya, mengajar di Vheins.

Kini Elena adalah instruktur Fragor. Menggantikan Kazzel.

***

Seusai ziarah, Alzen dan Leena kembali ke Vale. Menemui pengemudinya di penginapan.

“Pak kami sudah selesai, ayo kita berangkat.” kata Alzen.

“Huh? Baru jam berapa?” Si pengemudi yang mabuk itu melihat ke arah jam. “Jam 10? Masih dingin tahu.”

“Ya ampun pak,” Leena geleng-geleng kepala. “Sampai siangpun Quistra masih tetap dingin.”

“Hahahaha... Oke-oke...” Si pengemudi itu meneguk minuman di botol kacanya. 

BRUGHHH!!

Si pengemudi menghentakan botol kacanya dan segera naik dengan kondisi mabuk. “Ayo... ikuti aku.”

Bukannya menuju ke arah di mana kudanya di parkir, Si pengemudi malah berjalan ke arah yang lain.

“Heh pak? Kudanya kan disebelah sana.” tunjuk Alzen.

“Aduh, dia masih mabuk.”

“Kita tidak pakai kuda lah, mau kapan sampainya.” balas si pengemudi sambil memasuki sebuah mobil. “Kita pakai ini.”

“Huh? Apa itu?”

“Ini mobil, kendaraan yang hanya di Quistra. Negara lain mana ada yang begini.” Jawab si pengemudi. “Ayo, cepat naik.”

Bruummm... Brummm... 

“Kita berangkat!” sahut si pengemudi sebelum menginjakan untuk menjalankan mobil.

***

Di perjalanan mereka menuju ibukota Quistra, Northern Kingdom. Mereka menyusuri dataran salju yang luas menggunakan mobil.

“Woah cepat sekali ya... aku baru tahu ada yang seperti ini.” Kata Alzen sambil melihat keluar jendela. “Tapi kenapa benda sehebat ini hanya ada di Quistra?”

“Karena menjalin kerjasama dengan Marchestast Empire, Quistra ikut terbawa kemajuan teknologi negara itu. Makanya kendaraan ini hanya ada di Quistra saja.”

“Marchestast Empire?” Alzen mengingat-ingat. “Ohh iya, ilmuwan-ilmuwan yang pernah datang ke Vheins juga menggunakan mobil ya.”

“Hehe begitulah,” jawab Leena. “Kau akan kaget sekali kalau baru pertama kali ke Marchestast Empire. Rasanya seperti 100 tahun di masa depan.”

“Woah begitukah? Hebat!” Alzen antusias mendengarnya. Namun ia dalam hati merenungkannya kembali. “Marchestast Empire itukan negara yang dibenci Chandra.”

***

Jam 12 siang, mereka tiba di Holdrya Town. Kota yang berada di Pinggir luar tembok es Northern Kingdom.

“Oke kita sudah sampai!” kata si pengemudi. 

“Apa!? Cepet banget!?” Alzen tidak menyangka.

“Kita perlu seharian penuh dan harus banyak berhenti jika pakai kuda. Tapi dengan kendaraan besi ini.” kata si pengemudi sambil menepuk-nepuk mobilnya dan keluar dari tempat duduknya. “Tidak perlu berlama-lama.”

Alzen dan Leena juga keluar mobil setelahnya,

“Heran ya, seringkali kalau di Quistra perjalanannya tidak pernah aman. Tapi sekarang.”

“Itu semua karena Guild Kriminal White Bear telah dikalahkan, dan penjahat-penjahat kecil bisa diatasi dengan baik oleh para Bounty Hunter lokal.” balas si pengemudi. “Sudah ya, kita sudah sampai. Northern Kingdom tinggal berjalan menuju tembok es raksasa disitu.” tunjuk si pengemudi. “Jika sudah saatnya pulang kita bertemu lagi di sini.” 

“Baik paman,” angguk Alzen.

“Sampai jumpa.” Si pengemudi itu meninggalkan mereka. “Hahaha... aku mau minum-minum lagi.”

Leena menatap ke langit. “Tuh kan, sudah siang bolong begini masih juga dingin banget.”

Krruuu...

“Hee? Kau lapar Alzen?” Leena menggodanya.

“Hehehe... iya,” jawab Alzen canggung. “Ayo kita cari makan dulu.”

***

Alzen dan Leena makan di salah satu bar di Holdrya. Barnya sebagian besar menggunakan perabotan kayu dan selalu ada Papan Wanted Poster di setiap bar yang ramai. Ruangan ini menggunakan penghangat dari Firestone atau supplai sihir api dari para Bounty Hunter berlemen api.

“Makan apaan nih?” keluh Alzen sambil tetap makan. “Sudah harganya mahal-mahal makanannya dingin lagi.”

“Apa boleh buat Alzen,” balas Leena. “Karena semua makanan harus diimpor dari negara lain, makanya makanan disini jadi mahal.”

“Dan yang tak membuatku nyaman, selain kita, semua yang makan disini sepertinya hanya ada petualang dan Bounty Hunter ya.” Kata Alzen sambil pelan-pelan meminta Leena melihat sekelilingnya.

“Kau benar, mereka terlihat kuat-kuat.”

Brukkk!

Seseorang masuk ke Bar secara tergesa-gesa, ia membawa setumpukan koran di tangannya.

“Headline penting! Headline penting! Aloysius Vayne. Di eksekusi!

***