Episode 320 - Gabungan Unsur Kesaktian



“Wahai Roh Antang Bajela Bulau nan mulia, kumohon inayat semerbak… Sibak!” 

Pemanggilan roh berhasil, di mana sepasang Rajah Roh dengan bentuk kepak sayap burung elang mengemuka di pundak kiri dan pundak kanan. Tentu tiada siapa yang dapat melihat langsung Rajah Roh dimaksud, karena letaknya berada di balik jubah nan berwarna hitam. Roh yang memiliki tujuan melindungi dan berarti ‘elang berlidah emas’ sedia meminjamkan kemampuannya. 

Tanpa diminta maupun diperintah, Kum Kecho sudah menempelkan telapak tangan pada permukaan kubah formasi segel setengah transparan yang melingkupi wilayah pohon mati. Seketika itu terjadi, semacam formasi segel dengan simbol dan pola tak lazim, berpendar dari telapak tangan yang besentuhan dengan kubah. Sebagaimana kita ketahui bersama, kemampuan Roh Antang Bajela Bulau yang datang memenuhi panggilan Kum Kecho, adalah menembus pertahanan formasi segel.

Tak berselang lama, kubah formasi segel yang berperan membentengi pohon dari wilayah luar, terlihat mengalami perubahan. Susunan simbol dan pola awal perlahan-lahan berubah menjadi simbol dan pola yang lain lagi. Pemandangan yang tersaji ibarat keadaan di mana sesuatu terjangkiti semacam virus yang menyebar sangat cepat. Seketika virus tersebut berhasil merambat keseluruhan kubah, makan formasi segel perlindungan yang tadinya tampil tak bergeming, luluh secara perlahan. 

Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti melompat cepat. Kedua tangannya meraih perlahan sebuah lentera usang yang tergantung pada satu-satunya dahan pohon. Gerakan pelan, sangat berhati-hati. 

“Dari siapakah Kakak Sangara mengetahui bahwa Lentera Asura berfungsi untuk menelusuri masa lampau…?” 

“Dari sebuah kitab kuno…,” jawab Sangara Santang cepat. Kedongkolan hatinya sejenak mereda. Bagaimanapun juga, Kum Kecho membantu dirinya dalam mengurai formasi segel nan teramat rumit rangkaiannya itu. Karena bila tidak, maka dipastikan membutuhkan waktu yang teramat lama atau imbalan yang terlalu mahal untuk membujuk Lintang Tenggara memberikan uluran tangan. 

“Kitab itu salah,” ujar si anak remaja. 

Lelaki dewasa muda melirik sejenak. Dahi mengeryit, bibir mengerucut. 

Dengan seksama, Kum Kecho mengamati dari dekat lentera yang kini berada dalam tentengan Sangara Santang. Bentuknya biasa saja, persegi panjang di mana pada sisi atas terdapat kawat melengkung untuk digantungkan dan terhubung dengan bingkai logam yang sudah berkarat dan keropos. Kondisinya lentera pun sudah dapat dikatakan tak layak sebagai alat penerangan. Keempat jendela kaca pada setiap sisi sudah sangat buram karena dikotori debu dan berkas-berkas asap. Samar, pada bagian dalam lentera, mencuat seutas sumbu nan pendek. 

“Atau mungkin Kakak Sangara yang malah menyalahartikan kandungan kitab…,” lanjut Kum Kecho setengah mengejek.

“Jadi sekarang, selain berperan sebagai pembunuh keji dan anggota Partai Iblis, dikau juga merupakan ahli maha tahu…?” cemooh sang Maha Guru kesal. Seorang anak remaja sok tahu mempertanyakan kandungan kitab dan kemampuan dirinya membaca. Bila bukan tindakan lancang, entah apa lagi kata yang dapat mewakili perbuatan yang sedemikian buruk. 

“Terserahlah…” Kum Kecho mengangkat kedua bahu. Sungguh ia tak terlalu peduli.

Sangara Santang lalu menebar mata hati dengan mengalirkan tenaga dalam kepada lentera tersebut. Raut wajahnya penuh harap. Kum Kecho memperhatikan. 

Waktu berselang, namun tak ada sesuatu pun yang terjadi. Sesuai keterangan yang Sangara Santang baca, maka Lentera Asura seharusnya memancarkan gambaran-gambaran tentang masa silam ahli yang menebar mata hati dan memberikan sedikit tenaga dalam. Raut wajah lelaki dewasa muda itu meragu.

“Tuh kan…” Kum Kecho hampir terkekeh. 

“Lentera ini telah sekian lama tak digunakan. Ia membutuhkan waktu untuk membiasakan diri agar dapat berfungsi seperti sedia kala. Mungkin juga perlu dibersihkan terlebih dahulu…” Sangara Santang berkilah, sembari mulai melangkah. 

“Hendak ke mana kita?” 

“Aku hendak menuju pemukiman salah satu suku dayak yang kukenal. Engkau… terserah engkau sajalah hendak pergi ke mana!” 

Si anak remaja mengekor lelaki dewasa muda. 

“Mengapa engkau masih mengikutiku…?” Sangara Santang mulai jengah. Sebelum Kum Kecho menanggapi, ia melanjutkan, “Urusan di antara kita telah selesai. Ungkapan terima kasihku adalah dengan tidak melaporkan kejahatan yang engkau perbuat kepada Dewan Dayak.”

Kum Kecho mengangguk sebelum menanggapi. “Bukankah Kakak Sangara tadi mengatakan bahwa diriku diperkenankan pergi ke mana saja…?”


===


Hari jelang petang. Langit bergemuruh dan bumi bergegar. Pertarungan di tengah Pulau Pusat Durjana berlangsung semakin sengit. Keadaan hutan yang tadinya tumbuh hijau dan subur, luluh lantak sudah. Bahkan sebuah bukit berukuran kecil, terpenggal sisi atasnya. 

Seorang lelaki setengah baya menebaskan formasi Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa, namun lagi-lagi senjata raksasa yang bersinar cemerlang itu meleset. Sebagai gantinya, terpaksa ia memasang formasi Segel Syalendra: Perisai Svarnadwipa sebagai pertahanan di hadapan tubuh. Serangan balik datang cepat dan bertubi-tubi, Balaputera Tarukma dipukul mundur! 

Pertarungan di antara kedua ahli Kasta Bumi berubah drastis. Berbeda dengan sebelumnya, di kala kelima binatang siluman burung cenderawasih dikerahkan, Kweiya Siangga hanya diam mengendalikan dari kejauhan. Akan tetapi, kini dia merangsek mengandalkan jurus-jurus persilatan. Semakin menyulitkan, karena Ketua Partai Iblis itu mengerahkan empat unsur kesaktian secara bersamaan!

Pukulan keras datang menghantam di permukaan Perisai Svarnadwipa menggunakan sekujur lengan yang dilapisi logam. Suara berdentam memabahana ketika perisai bergegar dan Balaputera Tarukma terdorong mundur. Belum sempat lelaki dewasa itu memasang kuda-kuda, Kweiya Siangga berbekal unsur kesaktian angin di sekujur tubuh, sudah terbang melesat ke sisi yang tak dilindungi perisai. Mulut membuka bak meraung, kobaran api semerah darah menyembur dan melahap. 

Balaputera Tarukma memabatalkan formasi segel di kedua lengan. Sontak ia menjatuhkan tubuh, karena tepat di bawah telapak kakinya telah terjalin formasi segel lorong dimensi ruang. Ia pun menghilang dari kobaran api, untuk kemudian muncul di balik tubuh Kweiya Siangga dengan memegang Pedang Svarnadwipa di kedua belah tangan. 

Namun demikian, tirai air mengemuka untuk menepis, sehingga mengubah arah sabetan pedang. Serangan dari sudut mati belum jua membuahkan hasil.

Pertukaran serangan berlangsung semarak. Kendatipun demikian, di antara kedua ahli, belum ada di antara mereka yang mengalami cedera berat. Kenyataan ini adalah yang membuat pertarungan di antara ahli Kasta Bumi dapat berjalan panjang. Para ahli Kasta Bumi adalah tokoh-tokoh yang sangat berpengalaman di medan pertempuran, sehingga hampir tak mungkin melakukan kesalahan. 

Sebaliknya, yang terus-menerus menderita kehancuran, adalah lingkungan di mana kedua ahli saling mengadu kekuatan. Oleh karena itu, di antara ahli Kasta Bumi jarang yang bersengketa. Menyadari risiko memporak-porandakan lingkungan sekitar, masing-masing dari mereka sadar untuk menjaga diri agar tak bersinggungan antara satu sama lain. 


Di salah satu pesisir pantai, seorang lelaki dewasa mendongak ke langit tinggi. Raut wajahnya mencerminkan harapan akan sebuah perubahan. Baginya, Ketua Partai Iblis yang sekarang menjabat bersikap terlalu acuh tak acuh, bahkan terkesan lalai. Ketegangan di antara pulau-pulau dibiarkan saja, sengketa di antara anggota tiada pernah ditengahi. 

Bagi Gubernur Pulau Dua Pongah, tindakan Kerajaan Garang dari Pulau Satu Garang sepantasnya tiada boleh terjadi. Memaksakan kehendak menikahi putrinya, bahkan bergerak untuk menyerang dan menaklukkan wilayah kekuasaannya, merupakan sebuah pelanggaran berat terhadap aturan Partai Iblis. Apa yang dilakukan oleh Ketua Partai bahkan setelah memperoleh laporan…? Tak ada. Jangankan memberi ganjaran, mengangkat satu jemari pun tiada hendak dilakukan. 

Entah siapa sosok yang hendak mengambil alih tampuk kekuasaan di Partai Iblis, tidaklah penting adanya. Yang utama bagi sang Gubernur, adalah persatuan di antara pulau-pulau serta menjaga kelangsungan warga Partai Iblis. Hal ini merupakan tanggung jawab yang patut diemban oleh ahli yang dipercaya sebagai Ketua. Dengan demikian, dirinya berpandangan bahwa pergantian rezim sudah sepantasnya terjadi. 

Kendatipun demikian, Gubernur Pulau Dua Pongah sepenuhnya menyadari bahwa harapan pergantian rezim dapat pula berubah bencana. Siapa yang dapat menjamin bahwa penguasa yang baru tak akan lebih buruk…? Sungguh sebuah dilema. 


Di sisi lain pulau, bebatuan besar ditabrak ombak. Suaranya demikian kasar, namun jauh dari keras untuk menyaingi suara-suara yang mengemuka di tengah Pulau Pusat Durjana. Seorang perempuan dewasa melangkah dalam diam ke arah pesisir. Dia atas sebongkah batu nan besar, kemudian ia berdiri menatap lautan luas. 

Tetiba, sesosok bayangan berkelebat dan mengemuka di belakang perempuan dewasa itu. Wujudnya setengah transparan, membangun perawakan seorang lelaki tua lagi renta. Posisi tubuh duduk bersila, ia terlihat melayang ringan di atas bebatuan.

“Gubernur Pulau Tiga Bengis…” Perempuan dewasa bergumam pelan. 

“Gubernur Pulau Empat Jalang,” tanggap suara yang serak dan bernada rendah. Ia hanya mengirimkan bayangan sosok tubuhnya, serta berkomunikasi menggunakan jalinan mata hati. 

“Angin apakah yang membawa Tuan datang bertandang…?” 

“Puan, diriku tak hendak berbasa-basi…” Sosok bayangan si lelaki tua mendekat. “Siapakah kiranya ahli yang saat ini menantang Ketua Partai…”

“Menurut, Tuan…?”

“Sudah kukatakan, janganlah berbasa-basi…” 

“Kita masih akan menghabiskan waktu di tempat ini. Tak ada salahnya berbicang-bincah sejenak…” 

Sosok bayangan lelaki tua lagi renta, terlihat menghela napas panjang. “Kita semua mengetahui bahwasanya hanya ada beberapa ahli Kasta Bumi di Negeri Dua Samudera. Sebagian dari mereka telah mengundurkan diri dari dunia persilatan dan kesaktian. Karena satu dan lain hal, sebagian lagi tak hendak bersinggungan dengan Partai Iblis…”

“Jikalau demikian, kita tentu dapat mengerucutkan lawan Ketua Partai menjadi beberapa tokoh sahaja…” Gubernur Pulau Empat Jalang yang merupakan seorang perempuan dewasa, memutar tubuh. 

“Andai saja semudah itu…,” sela sosok bayangan Gubernur Pulau Tiga Bengis. “Kita tak mengetahui siapa-siapa ahli yang menerobos ke Kasta Bumi dalam seratus tahun terakhir…”

“Oh… benarkah kita tiada mengetahui…? Diriku mengetahui seorang si antara kita…” Perempuan dewasa itu menyibak senyum. Ahli yang berpengalaman tentu dapat membaca alasan mengapa sang Gubernur Pulau Tiga Bengis hanya mengirim bayangan sosok tubuhnya. 

“Walaupun memungkinkan ada ahli di suatu tempat yang diam-diam menerobos ke Kasta Bumi, kurasa mereka tak akan bertindak gegabah…” Lelaki tua renta itu sedikit mengalihkan pembicaraan. 

Gubernur Pulau Empat Jalang berdiam diri sejenak. Ia tak hendak mengusut terlalu jauh. “Apakah dikau mengetahui perkembangan akhir-akhir ini di Kemaharajaan Cahaya Gemilang…?” ujarnya. 

Karena para anggota Partai Iblis terus memantau situasi ke Negeri Dua Samudera, maka sudah barang tentu peristiwa yang melibatkan kemelut di Kemaharajaan Cahaya Gemilang tiada terlepas dari pantauan. “Sang Yuvaraja telah terpilih. Akan tetapi, sesaat sebelum itu, Datu Tua Kadatuan Kesatu, Balaputera Tarukma, berkhianat dan melarikan diri…,” sahut sosok bayangan Gubernur Pulau Tiga Bengis. “Seorang ahli yang dipenuhi dengan hasrat kekuasaan…”

Kedua tokoh berdiam, saling bertatapan. Lalu keduanya menatap jauh ke arah pertarungan yang sedang berlangsung di Pulau Pusat Durjana. Walau merupakan sebuah dugaan, sungguhlah sangat beralasan dugaan yang telah disimpulkan. 


Waktu berselang dan mentari pagi bersinar hangat. Tetiba, sebuah ledakkan membahana menggetarkan langit dan bumi. Sesosok tubuh dengan perawakan besar dan kekar terpental kemudian menghantam tebing. Sebagian permukaan tebing pun serta-merta runtuh. Kepulan debu mereda, lalu menampilkan sebuah lubang mirip goa nan sangat dalam. 

Di lain sisi, keringat membasahi dahi dan sekujur tubuh Balaputera Tarukma yang melayang tinggi di udara. Napas terengah, ia memegang formasi Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa di kedua belah lengan. Ia menyeka keringat sembari menarik napas lega, karena mengetahui betul bahwa tebasan pedang raksasa mendarat telak di tubuh lawan! 

Sudut mata lelaki setengah baya itu melirik kepada formasi Segel Darah Syailendra: Sangkar Api Svarnadwipa. Di dalamnya, masih terkurung lima ekor binatang siluman burung cenderawasih yang mengepak dan meronta hendak melepaskan diri. Bahkan ahli pawang kelas atas sekalipun tiada dapat mengembalikan binatang-binatang siluman tersebut, karena formasi segel dimensi ruang Kartu Satwa tiada dapat mengemuka di dalam sana. Bahkan, sesungguhnya formasi Segel Darah Syailendra: Sangkar Api Svarnadwipa bukan hanya berfungsi mengurung, namun juga merupakan senjata yang membatasi kemampuan merapal formasi segel. Sampai pada batasan tertentu, ia diperuntukkan khusus demi mengurung para ahli yang berasal dari garis darah Wangsa Syailendra trah Balaputera. Dengan kata lain, bilamana terkurung di dalamnya, maka seorang Balaputera akan sangat kesulitan merapal formasi segel! 

Oleh sebab itu, kemampuan penyembuhan cepat dari salah satu binatang siluman burung cenderawasih tiada akan dapat keluar mencapai Kweiya Siangga. Menyadari bahwa lawannya pastilah mengalami cedera berat, Balaputera Tarukma merasakan bahwa kemenangan sudah berada di depan mata. Tampuk pimpinan Partai Iblis sudah terasa di dalam genggaman tangan. 

“Keluarlah!” teriak Balaputera Tarukma ke arah lubang di sisi tebing, kebengisan menghias wajahnya. “Aku tahu engkau belum mati!” Kata-kata yang keluar dari mulutnya ini, adalah yang pertama diutarakan sejak pertarungan dimulai. 

“Srash!” 

Dari arah tebing, gumpalan air bergulung ibarat ombak pasang yang datang melibas. Balaputera Tarukma berkelit ke samping jauh. Ledakan-ledakan api beruntun kemudian mengincar tubuhnya, namun dapat dihindari dengan sangat piawai. Sebuah bola api tak terelakkan, namun ditepis dengan mudahnya menggunakan punggung tangan. 

Agaknya serangan-serangan membabi-buta ini merupakan upaya terakhir lawan… 

Namun demikian, yang melejit dari balik kobaran api adalah sesuatu yang membelalakkan mata… Sekujur tubuh Kweiya Siangga gelap mengkilap. Posturnya membujur lurus dengan kedua telapak tangan mengatup di atas kepala, sehingga terlihat ibarat mata anak panah raksasa yang terbuat dari logam dan terasah halus. Menambah kecepatan dan ketajaman, adalah unsur kesaktian angin yang berpilin dan membungkus tubuh! 

Segel Syalendra: Perisai Svarnadwipa

Menyadari bahwa tak sempat mengelak, spontan Balaputera Tarukma memasang pertahanan. Ia menyangga tameng raksasa tersebut dengan kedua belah lengan...

“Crack!” 

Formasi segel pertahanan yang sedianya perkasa, meretak dan merekah! Kecepatan dan ketajaman tubuh sang Ketua Partai Iblis tiada dapat terbendung. Layaknya mata anak panah, ia menebus pertahanan dan menusuk tepat di dada! 

Balaputera Tarukma terpental tinggi dan jauh, lalu jatuh lunglai di antara batang-batang pepohon yang berserakan di permukaan tanah. Ia mencoba bangkit berdiri, namun tubuhnya enggan menerima perintah. Berlutut dengan lengan kiri menyangga ke tanah, lengan kanannya memegang dada yang mana sejumlah tulangnya retak. Ia kemudian memuntahkan darah. Sekali… dua kali… tiga kali darah segar berhamburan keluar. 

“Binasalah engkau…” Tinggi di udara, Kweiya Siangga nan digdaya membuka telapak tangan yang mengarah kepada lawan nan sudah tiada berdaya. Hukuman mati akan dijatuhkan!

Balaputera Tarukma, dengan darah segar yang belum kering di mulut dan leher, mendongak ke arah lawan yang melayang tinggi. Walau pandangan mata kabur, masih dapat ia menyaksikan sebentuk logam nan runcing serta merah membara, yang lantas dibalut dengan unsur kesaktian angin. Serangan gabungan dari tiga unsur kesaktian sekaligus, melejit ke arah dirinya! 

Kalah telak. 

Samar, di saat menjemput ajal, Balaputera Tarukma kemudian mendengar suara nan tak asing merangkai kata…

“Segel Darah Syailendra: Kamulan Bhumisambhara!”