Episode 319 - Satu Lawan Satu




Tokoh yang sempat mengaku sebagai Oman Lemanta dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang ini, sudah barang tentu tak hendak berlama-lama menyamar. Jabatan sebagai salah satu Jenderal Besar di Kerajaan Satu Garang adalah jauh daripada memuaskan. Harga dirinya terlalu tinggi, dan ambisinya terlalu besar untuk dapat dikekang. Oleh karena itu, setelah kegagalan di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, ia akan mengambil alih paksa kekuasaan di Partai Iblis. Berdiri di puncak rantai makanan adalah takdir yang hendak ia capai. 

Siluman sempurna yang merupakan pawang binatang siluman… batin Balaputera Tarukma di kala mencoba menakar kemampuan sang lawan di hadapan. Lima ekor binatang siluman burung nan berbeda ukuran, bentuk tubuh serta warna, mengepakkan sayap di balik tubuh Kweiya Siangga. Kesan kelam dari tokoh tersebut berubah, karena kelima binatang siluman burung cenderawasih menampilkan warna-warni yang membuat suasana menjadi semarak. 

Balaputera Tarukma mulai memperhitungkan kemungkinan. Selama rentang hidupnya menapak jalan keahlian, lelaki setengah baya tersebut tak pernah turun di dalam pertarungan yang tak mungkin ia menangkan. Bahkan di kala menyingkirkan Balaputera Dharanindra sekalipun, dilakukan secara diam-diam dari belakang. Dalam kaitan dengan pertarungan, ia berpandangan bahwa keunggulan bukan ditentukan oleh perkara kekuatan semata, namun melibatkan perhitungan yang matang guna meraih kemenangan. 

Berhadapan dengan lima binatang siluman burung cenderawasih yang setiap satunya memiliki kemampuan setara Kasta Emas tingkat akhir bukanlah perkara mudah, telaah lelaki setengah baya itu. Akan tetapi, bukanlah kelima binatang siluman itu yang membuat Balaputera Tarukma terpaksa menghitung ulang. Adalah Kweiya Siangga yang secara nyata mendobrak norma dunia keahlian. 

Pada umumnya, seorang ahli dengan keterampilan khusus sebagai pawang bertarung dengan sepenuhnya mengandalkan binatang siluman. Dalam hal peningkatan kemampuan tempur, dengan demikian ahli pawang lebih mengutamakan pertumbuhan bagi binatang-binatang siluman. Tak jarang, seorang pawang tampil lebih lemah daripada binatang siluman miliknya. Pertumbuhan sang pawang sendiri biasanya hanya terbatas pada Kasta Emas. Maka dari itu, keberadaan Kweiya Siangga sebagai pawang yang berada pada Kasta Bumi menunjukkan bahwa tokoh tersebut juga menempa diri di dalam persilatan dan kesaktian. 

“Swush!” 

Melayang di udara, formasi segel Pedang Svarnadwipa nan demikian perkasa, menebas dari arah atas ke bawah. Balaputera Tarukma memutuskan untuk tak mundur. Di dalam hitung cepat yang ia lakukan, peluang meraih kemenangan pada pagi hari ini masih terbuka sangat lebar. 

Pepohonan tercabik dan guratan besar tercipta pada permukaan tanah ketika formasi segel berwujud pedang raksasa itu melibas. Suara ledakan bergemuruh, namun demikian Kweiya Siangga telah menghilang dari tempat di mana tebasan datang melibas. Di saat yang sama, kelima binatang siluman burung cenderawasih pun berpencar arah! 

“Flap!”

Bentangan sayapnya Surga Merah terbuka lebar demi berhenti di udara. Ia telah sampai di sisi kanan Balaputera Tarukma. Paruh membuka lebar, semburan api berwarna semerah darah kemudian berkobar perkasa! 

Balaputera Tarukma menghindar dengan melesat maju, mengabaikan kobaran api yang sampai membakar pepohonan di bawah. Bergerak zig-zag, kemudian ia menghindar dari tebasan-tebasan angin yang melesat deras ibarat paruh tajam burung pemangsa. Surga Biru tak dapat mencegah kecepatan maju. Sementara itu, formasi Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa di tangan kanan hanya memiliki satu tujuan, yaitu Kweiya Siangga di kejauhan. Lelaki setengah baya itu menekuk siku, lalu menusuk deras. Padahal, posisi lawan sedang berada di luar jangkauan pedang raksasa…

Di kala gerakan menusuk berlangsung, tetiba dua formasi segel berbentuk bundar dan besar, berpendar secara cepat dan bersamaan. Yang pertama tepat di hadapan ujung pedang, sedangkan yang kedua hadir persis di depan dada Kweiya Siangga. 

Tatkala Pedang Svarnadwipa menusuk formasi segel pertama, ujung tajamnya menghilang, lalu serta-merta mencuat keluar dari formasi segel kedua! Sepasang formasi segel yang berfungsi sebagai lorong dimensi ruang, dengan mudahnya dirapal dan menjadi cara memperpendek jarak. Rangkaian kejadian ini membutuhkan waktu untuk dilukiskan menggunakan kata-kata, namun pada kejadian sesungguhnya, berlangsung lebih cepat dari satu kedipan mata!

“Trang!” 

Bunyi berdenting keras membahana terdengar selayaknya dua bilah logam saling beradu, disusul dengan suara berderit. Hal ini terjadi ketika cakar-cakar Surga Hitam yang adalah logam adanya, mencengkeram erat pada bilah pedang raksasa yang masih tersisa di depan formasi segel pertama. Tindakan ini menahan laju pedang raksasa yang mencuat menikam dari formasi segel kedua! 

Kendatipun kecepatan pedang raksasa terhambat, Kweiya Siangga sedikit terlambat berkelit. Permukaan bahu kanannya teriris dalam dan darah segar meleleh keluar. Bila binatang siluman burung cenderawasih Surga Hitam tak bertindak mencegah, alamat dada sang Ketua Partai Iblis yang ditembus oleh senjata lawan. 

“Kau tak diragukan berasal dari Kemaharajaan Cahaya Gemilang…,” Kweiya Siangga tak mempedulikan cedera, tidak pula ia menyembunyikan kekaguman. Sedari awal menerima tantangan, raut wajahnya datar tanpa mencerminkan emosi apa pun. Akan tetapi, kini mulai terlihat sedikit perubahan. Sebentuk senyum menghias di ujung bibir lelaki setengah baya bertubuh kekar itu. 

Balaputera Tarukma tiada menanggapi. Empat ekor binatang siluman burung cenderawasih sedang terbang mengepung dirinya. Namun demikian, telah diketahui kini bahwasanya Surga Merah memuntahkan api, Surga Biru membelah angin, serta Surga Hitam mencabik logam. Bila demikian, kemungkinan besar Surga Putih memiliki unsur kesaktian petir dan Surga Kuning… Surga Kuning…?

Kedua mata Balaputera Tarukma tetiba membelalak. Binatang siluman burung cenderawasih Surga Kuning, terlihat sedang meniupkan hawa yang bernuansa kuning ke permukaan bahu kanan Kweiya Siangga. Luka yang diderita dari serangan nan tersusun rapi dan terencana, berangsur pulih. Surga Kuning memiliki kemampuan penyembuhan cepat! 

Balaputera Tarukma menanti sabar di kejauhan. Bukan karena ia hendak memberi kesempatan bagi lawan menyembuhkan diri, namun ia sedang berpikir, menyusun taktik. Ingatan di dalam benaknya berkelebat pada kunjungan di kediaman Balaputera Lintara alias Lintang Tenggara beberapa waktu lalu. 

Kala itu, Balaputera Tarukma selain menyampaikan niat mengambil alih Partai Iblis, ia pun hendak menyelidiki lebih jauh tentang jati diri dan kemampuan sang Ketua. Sebuah langkah logis yang diambil sebelum datang menantang dan terjun ke dalam pertarungan. Kala itu, Lintang Tenggara mengungkapkan bahwasanya Ketua Partai Iblis adalah sosok misterius yang tak diketahui asal-usulnya. Bahwa meskipun berada pada Kasta Bumi, Ketua Partai Iblis adalah sudah terlalu uzur. Lintang Tengara bahkan menyemangati agar dirinya mengambil alih tampuk kepemimpinan di Partai Iblis sesegera mungkin!

Kini, Balaputera Tarukma menyadari bahwa Lintang Tenggara yang terkenal maha mengetahui di dalam wilayah Partai Iblis, justru tak tahu-menahu tentang kemampuan Ketua Partai Iblis, atau… tokoh laknat itu berdusta! Menyesal rasanya pernah mendatangi Lintang Tenggara. Tiada berguna. Oleh karena itu, andai memenangkan pertarungan hari ini, maka Balaputera Tarukma bersumpah kepada diri sendiri untuk secepatnya mencabut nyawa tokoh keparat itu! 

Saat ini bukan waktunya memikirkan Balaputera Lintara, batin Balaputera Tarukma mengingatkan diri sendiri. Luka di bahu lawan telah pulih seperti sedia kala, dan pertarungan segera berlanjut. 

Kweiya Siangga mengibaskan lengan sembari menebar mata hati. Tindakannya itu ditanggapi dengan pergerakan binatang siluman burung cenderawasih. Keempatnya melesat serempak!

Balaputera Tarukma menebaskan formasi Segel Syailendra: Pedang Svarnadwipa, namun pergerakan terbang burung-burung adalah terlalu tangkas. Ia malah terlihat seperti seseorang yang sedang berupaya menebas lalat dengan sebatang lidi. Di saat yang sama, ia pun harus sigap menghindar dari tebasan angin, berkelit dari gumpalan air, serta bersiaga dari cakar-cakar logam nan tajam mengincar. 

“Srash!” 

Dari arah sudut mati, Surga Putih menyemburkan air yang menggumpal. Lelaki setengah baya tersebut segera melesat mundur. Bila terperangkap di dalam gumpalan air, maka gerak tubuhnya akan terhambat. Di dalam pertarungan pada skala Kasta Bumi, kesalahan atau keterlambatan sedikit saja nyawa bisa berada di ujung tanduk. 

Surga Merah memuntahkan api nan merah membara. Balaputera Tarukma yang sedang terjepit di antara tebasan angin, gumpalan air serta cakar logam tak memiliki ruang menghindar. Seorang ahli sekelas dirinya dibuat tak berkutik! 

Akan tetapi, tepat pada detik-detik akhir, sepasang formasi segel kembali mengemuka. Yang pertama terletak di hadapan kobaran api, sedangkan formasi segel yang kedua merangkai tepat di belakang salah satu binatang siluman burung cenderawasih. Dengan kata lain, lorong dimensi ruang kembali menjadi penghubung. Kali ini, sang Datu Tua dari Kadatuan Kesatu di Kemaharajaan Cahaya Gemilang, memanfaatkan serangan api yang ditujukan untuk dirinya, kepada Surga Kuning!

Membelokkan, atau lebih tepatnya memindahkan serangan lawan, demi membungkam ancaman nan nyata. Bagi banyak ahli, kemampuan penyembuhan cepat merupakan batu sandungan di dalam pertarungan. Bagi Balaputera Tarukma, lawan yang ia hadapi sudah sangat tangguh, jangan dibuat menjadi mustahil karena memiliki dukungan dalam penyembuhan diri. 

Api serta-merta melahap perkasa, namun terlihat berpencar tepat sebelum melahap Surga Kuning. Di balik api, terlihat bayangan Kweiya Siangga yang memasang tubuhnya sendiri demi membentengi sang binatang siluman dari ancaman. Sekujur tubuh besar lelaki tersebut terlihat mengepul asap. Atasan lengan pendek yang ia kenakan, habis sudah disantap api.

Balaputera Tarukma segera merangsek maju. Kali ini ia tak hendak memberi kesempatan pemulihan tubuh kepada Kweiya Siangga. Namun demikian, Surga Merah, Surga Hitam, Surga Biru, serta Surga Putih, tangkas menghadang langkah majunya. Serangan serempak datang dari empat penjuru! 

“Segel Syailendra: Perisai Svarnadwipa!” 

Pada lengan kiri Balaputera Tarukma, kini berpendar formasi segel yang lain lagi. Bercahaya, bentuknya persegi lima, dengan ukuran tinggi hampir mencapai 50 meter dan lebar lebih kurang 20 meter. Perisai raksasa tersebut menghadang serangan lawan, dan di saat yang sama memungkinkan Balaputera Tarukma merangsek tanpa hambatan.


Sang mentari beranjak semakin tinggi. Langit biru cerah berpendar dan gelombang laut menghempas di pantai. Sejumlah kemah yang dibangun sementara terlihat berdiri di pesisir pantai. Kelima Gubernur bersama pasukan yang masih setia mengelilingi Pulau Pusat Durjana, menanti antara sabar dan resah. Setiap satu dari mereka tak mampu menahan kegundahan di lubuk hati. 

Bagi para ahli Kasta Emas, mereka dapat menyaksikan secara samar akan kelebat-kelebat cahaya di kejauhan. Suara menggelegar, yang senantiasa disusul oleh tanah bergegar, membuat kesadaran terjaga. Ingin rasanya bergerak mendekat, akan tetapi pertarungan antara dua ahli Kasta Bumi bukanlah sesuatu yang pantas menjadi tontonan. Kesalahan sedikit saja, atau ketakberuntungan, maka penonton berisiko terkena serangan nyasar, menderita cedera, bahkan mati sia-sia. 

“Huaaahhh…” Seorang lelaki dewasa muda di bawah kemah nan mewah menguap lebar sekali. “Sampai berapa lama lagi pertarungan ini akan berlangsung…?” keluhnya kesal. 

“Yang Mulia Putra Mahkota, pertarungan di antara ahli Kasta Bumi dapat berlangsung selama berhari-hari, bahkan beberapa pekan…,” jawab salah seorang Jenderal Besar yang menemani. 

“Hah!? Lalu aku harus tinggal di tempat ini!?”

“Benar, Yang Mulia.” 

“Gila!” Sang Putra Mahkota Kerajaan Garang semakin uring-uringan. “Apakah tak bisa aku digantikan dengan Kapten Sisinga!? Di abangku…”

“Yang Mulia, bila sang penantang memenangkan pertarungan, maka sebagai seorang Gubernur, Yang Mulia patut menyambut kedatangan Ketua Partai Iblis yang baru. Bilamana itu terjadi, maka dengan sendirinya akan mengubah arah kebijakan Partai Iblis ke depan nantinya.”

“Macam mana kalau Ketua lama yang menang…?”

“Maka Yang Mulia akan memberikan ucapan selamat. Apa pun itu, kita wajib menunggu.”

“Omong-omong, ke mana pula perginya Jenderal Keempat!? Mengapa dia tak bersama kalian…?”

“Yang Mulia, secara teknis, Jenderal Keempat adalah anggota baru di Partai Iblis.” 

“Lantas…?”

“Yang Mulia, kurasa beliau Jenderal Keempat sangat ingin berada bersama kita di tempat ini,” tambah Jenderal yang lain. “Akan tetapi, kemungkinan ia merasa bertanggungjawab untuk tinggal dan menjaga wilayah Pulau Satu Garang dari ancaman pulau-pulau lain.” 

“Bah! Enak kali dia tinggal di istana… menenggak tuak, bermain bersama dayang-dayang. Ingatkan aku supaya menjatuhkan hukuman kepadanya sepulang dari urusan ini!” 


Pedang Svarnadwipa di lengan kanan dan Perisai Svarnadwipa di lengan kiri, gagah berani Balaputera Tarukma merangsek maju ibarat prajurit yang siap mati di medan peperangan. Di saat yang sama pula, ia menebar puluhan formasi segel bundar dan besar. Letaknya terlihat acak dan berserakan di udara, berdekatan dengan Kweiya Siangga serta kelima binatang siluman miliknya. Lalu, terhadap sebuah formasi segel di hadapan, Balaputera Tarukma menusukkan pedang raksasa! 

Kweiya Siangga melompat menjauh, dan di saat yang sama ia memberi perintah menggunakan jalinan mata hati kepada binantang-binatang siluman burung cenderawasih. Tindakan Balaputera Tarukma untuk memanfaatkan lorong dimensi ruang dapat terbaca, akan tetapi banyaknya jumlah formasi segel sulit menebak dari arah mana lelaki setengah baya itu akan memunculkan ujung pedang raksasa!

Walhasil, kelima binatang siluman burung cenderawasil berkumpul di kejauhan. Di wilayah di mana formasi segel lorong dimensi ruang tiada tersedia, mereka terbang melayang. 

“Swush!”

Formasi Segel Syailendera: Pedang Svarnadwipa dan Perisai Svarnadwipa, terurai dan menghilang cepat. Sebuah formasi segel yang lain lagi, dengan susunan teramat rumit, telah mengemuka di hadapan Balaputera Tarukma. Sebulir darah dari ujung jemari lalu menetes pada formasi segel nan baru, kemudian mengubah warnanya menjadi semerah darah pula... 

“Segel Darah Syailendra…” gumam Balaputera Tarukma cepat. “Sangkar Api Svarnadwipa!”

Rangkaian formasi segel yang susunan simbol-simbolnya sangat rumit mengemuka. Wujudnya ibarat sebuah sangkar burung raksasa. Tidak hanya sampai di situ, karena di saat yang sama kobaran api bernuansa biru nan jernih turut menyala membara dan ikut mengambil wujud ibarat sangkar burung. Jurus kombinasi keterampilan khusus sebagai perapal segel, yang digabungkan dengan unsur kesaktian api. Keduanya membangun wujud sebagai satu kesatuan. Selain itu, kelebihannya adalah menghalangi terciptanya lorong dimensi ruang, sehingga apa pun yang terkurung, tiada dapat melepaskan diri! 

Bila para ahli baca sekalian mengingat, maka formasi segel ini pernah dirapal oleh Balaputera Sukma untuk mengurung tubuh Balaputera Tarukma. Kala itu, Balaputera Tarukma terlalu meremehkan lawannya, namun kali ini ia bertarung sepenuh hati. Formasi Segel Darah Syailendra: Sangkar Api Svarnadwipa memakan tenaga dalam dimuka. Setelah dirapal, ia akan bertahan sampai dengan batas waktu tertentu. Dirapal oleh ahli berpengalaman sekelas Balaputera Tarukma, maka setidaknya formasi segel tersebut akan bertahan selama sehari semalam. 

Kelima binatang siluman burung cenderawasih yang terbang berkumpul di kejauhan, terkurung sudah! Langkah Balaputera Tarukma memancing binatang-binatang siluman tersebut dengan menebar formasi segel lorong dimensi ruang membuahkan hasil. 

Balaputera Tarukma kemudian tersenyum ringan. Mengacungkan lengan kanan lurus ke hadapan, ia menunjuk lurus ke arah Kweiya Siangga. Dagunya mengangkat tinggi dan aura nan perkasa mengemuka. Di saat itu pula, rangkaian formasi segel berpendar kembali. Pedang Svarnadwipa merangkai, disusul dengan Perisai Svarnadwipa. 

Pertarungan perebutan tampuk kekuasaan Partai Iblis, memasuki babak berikutnya. Satu lawan satu!