Episode 84 - Kiamat di Mega Mendung (4)



Bada Ashar setelah semua proses pemakaman selesai, di keraton Rajamandala, semua sisa-sisa pejabat, prajurit, tokoh masyarakat perwakilan penduduk, dan Indrapaksi beserta seluruh pasukannya diajak untuk berkumpul di balai penghadapan agung keraton oleh Ki Balangnipa dan Kyai Pamenang.

“Saya tidak bisa lagi menahan kalian untuk tetap bertahan di negeri Mega Mendung ini, yang esok lusa akan genap berusia seratus tahun, yang selama ini menjadi tumpah darah kita, menjadi tempat membesarkan anak cucu kita.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sebelumnya negeri-negeri bawahan kita sudah melepaskan diri dari kita, kadipaten-kadipaten pun sudah banyak yang melepaskan diri dari kita dan bergabung dengan negeri lain, sudah lebih dari separuh rakyat kita mengungsi ke negeri-negeri tetangga.

Semuanya karena semua usaha yang kami lakukan untuk menentramkan rakyat dari gangguan ghaib yang mengerikan, ternyata… Gagal… Saya selaku Mahapatih Amangkubumi Mega Mendung, bertindak menggantikan Almarhum Prabu Arya Bogaseta yang tidak mempunyai keturunan, merestui kalian untuk segera mengungsi, dari tanah air kalian.

Boleh ke Cirebon, atau ke Sumedanglarang, boleh juga ke Banten, terserah keinginan kalian masing-masing… Hanya saja aku berpesan agar kalian jangan mengungsi ke Pajajaran karena sebentar lagi negeri itu akan bedah.

Nah pada kesempatan ini, kebetulan di tengah-tengah kita hadir Raden Indrapaksi, Lurah Tantama Kesultanan Banten dari kesatuan Katumenggungan Jaya Laksana, melalui dia, Raden Tumenggung Jaya Laksana berpesan bahwa kepada seluruh rakyat Mega Mendung yang hendak mengungsi ke Banten, Sultan Banten dan seluruh rakyat Banten akan menerima kalian dengan tangan yang terbuka lebar.”

Semua yang hadir pun tak dapat lagi menahan haru yang mengharu biru didada mereka, pidato perpisahan dari Ki Balangnipa benar-benar membuat hati mereka bergetar hebat, teringatlah mereka pada bagaimana kehidupan mereka selama di negeri ini, bagaimana setiap hari mereka menggantungkan harapannya di negeri ini, bagaimana dengan darah, keringat, dan air mata mereka bahu-membahu membangun Negeri Mega Mendung yang hampir punah dari muka bumi ini. Air mata pun mengalir di mata mereka, sebagian dari mereka memutuskan untuk ikut Indrapaksi mengungsi ke Banten, tapi ada juga sebagian yang masih memilih untuk bertahan di Mega Mendung.

***

Keesokan paginya terjadilah bedol negeri, hampir seluruh penduduk yang tersisa di Mega Mendung dan khususnya di Rajamandala pergi mengungsi ke Banten dengan dipimpin oleh Indrapaksi, tetapi masih ada sebagian kecil yang memutuskan untuk bertahan di Mega Mendung. Mereka yang memutuskan bertahan di Mega Mendung umumnya adalah para orang tua yang merasa hidup matinya mereka sama dengan hidup matinya Mega Mendung karena mereka sudah lama hidup di Mega Mendung, maka mau tak mau istri-istri mereka pun ikut tinggal.

Malam harinya, Ki Balangnipa, Kyai Pamenang, dan seluruh sisa prajurit serta sisa penduduk berkumpul di balai penghadapan agung membicarakan langkah mereka selanjutnya.

“Apakah kalian yakin tidak akan mengungsi?” Tanya Ki Balangnipa.

“Kami yakin Gusti Patih!”

“Tapi kami sampai sekarang kami masih belum mengerti mengapa semua ini terjadi pada negeri kita… Ini nyaris seperti kelanjutan pemerintahan Prabu Kertapati yang bertangan besi dan bengis, serta sepak terjang Pangeran Dharmadipa beserta istrinya Gusti Putri Mega Sari yang kejam dan banyak membunuh nyawa-nyawa yang tak berdosa!” jawab Ki Pranajaya sesepuh dan tokoh masyarakat Mega Mendung dari Kutaraja Rajamandala.

“Memang semua kejadian yang menumpahkan darah, hawanya hanya berputar-putar di tempat, dalam suasana seperti itu para marakhayangan bisa dengan mudah membaca, untuk kemudian meniru atau bahkan melanjutkan bentuk-bentuk kejadiannya!” jawab Kyai Pamenang.

“Lalu apa untungnya untuk para lelembut itu Kyai?” Tanya seorang sesepuh tokoh masyarakat yang masih memutuskan untuk tetap tinggal di Mega Mendung.

“Kita semua harus ingat, bahwa Iblis, Setan, dan Jin yang kafir itu sangat memendam dendam kepada umat manusia yang ditunjuk menjadi khalifah di bumi ini, Iblis selalu berusaha agar manusia lebih berpihak kepada mereka daripada kepada Gusti Allah, mereka berusaha dengan segala daya untuk merusak iman manusia.

Seperti cerita kalian, tentang kedua mantan muridku Putri Mega Sari dan Pangeran Dharmadipa, mereka adalah contoh manusia yang diperalat oleh Iblis, dan mengabdi kepada dendam, dendam itu sifat asli Iblis dan anak cucunya, sifat itu sangat abadi sejak Nabi Adam masih di Swargaloka, sampai hari kiamat kelak! Ingat, dendam paling mudah timbul dari harga diri, sedangkan tipu daya Iblis paling mudah masuk melalui harga diri, apabila kita tidak pandai menyikapi soal harga diri kita, maka harga diri tersebut bisa menjadi sumber asal muasalnya dendam!”

“Kami setuju dengan apa yang Kyai katakan, Kalau begitu, meskipun kita sudah kehilangan Gusti Prabu dan para tokoh penting lainnya, kami masih optimis bahwa dengan bantuan Kyai, kita bisa mengalahkan para lelembut itu dan membangun kembali negeri ini, kami serahkan nasib kami pada Kyai.” sahut Ki Pranajaya.

“Hehehe… Tidak bisa begitu Ki, saya tidak mempunyai daya dan kuasa apa-apa, serahkanlah hidup dan mati kita hanya kepada Gusti Allah, Insyaallah kita akan selalu menjadi manusia yang khusnul khotimah.

Dan soal mengalahkan para lelembut itu, saya bisa saja mengajak kalian untuk melupakan Tuhan lalu membuat sesaji dan memuja para lelembut itu. Akan tetapi sebagai seorang muslim, saya mengajak kalian untuk berani melawan para lelembut yang mengganggu kita, karena kita hanya diperbolehkan untuk mengimani dan memuja Gusti Allah, bukan yang lainnya, dan sekali lagi kita harus camkan bahwa kitalah umat manusia yang ditunjuk oleh Gusti Allah untuk menjadi khalifah di Bumi ini, bukan mereka para lelembut!”

“Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya Kyai? Meskipun senja sudah jatuh di Mega Mendung ini, saya masih ingin menyelamatkan negeri ini! Atau setidaknya saya bertekad tidak akan menyerahkan negeri ini dengan begitu mudah tanpa perlawanan yang berarti kepada para lelembut itu!” Tanya Ki Balangnipa dengan tegas.

Kyai Pamenang bertafakur sejenak, namun bukannya jawaban atas pertanyaan Ki Balangnipa, malah hal yang sangat mengerikan. “Celaka! Besok tepat pada saat pergantian hari, malam ketiga belas yang bertepatan dengan hari kelahiran negeri ini yang keseratus… Akan ada satu bencana besar! Para lelembut itu akan mengalirkan Sungai Citarum kemari untuk menenggelamkan Kutaraja ini!”

Sontak seluruh hadirin pun kaget mendengar peringatan dari Kyai Pamenang tersebut. “Lalu apa yang harus kita lakukan?”

Kyai Pamenang nampak berpikir keras sebelum menjawab. “Sekali lagi bagi anda yang mau mengungsi dipersilahkan, dan bagi yang memutuskan untuk tetap tinggal, saya mohon bantuannya untuk mengumpulkan seluruh benda pusaka kerajaan dan memandikannya, besok malam kita akan menggunakan seluruh pusaka kerajaan untuk menolak bala dan melawan para lelembut itu!”

Keesokan harinya terjadilah kesibukan di keraton Mega Mendung yang sudah sepi tersebut, orang-orang yang tersisa disana dengan komando Kyai Pamenang mengumpulkan semua benda pusaka keraton di halaman keraton, mereka semua membersihkan benda-benda pusaka itu dengan air doa dan kembang tujuh rupa.

Saat matahari nyaris menghilang di ufuk barat, Kereta Pusaka Kencana Jatayu Bodas dikeluarkan dari tempat penyimpanannya di halaman samping kiri istana. Kereta putih tanpa kuda ini dibawa ke bagian depan istana, dikelilingi oleh tiga lurah tantama pilihan yang ilmu kanuragannya tinggi dan Ki Balangnipa, Keempat orang itu berdiri sambil tangan kanan masing­masing memegang roda Kereta Kencana.


Gong Kyai Bentar segera ditabuh, suaranya menggema keseluruh penjuru kota Rajamandala yang sudah kosong melompong itu. Setelah tujuh kali berbunyi, Kyai Pamenang segera memimpin doa bersama, memohon keselamatan kepada Gusti Allah. Begitu selesai Kyai Pamenang mengucapkan doa permohonan, empat orang yang memegang roda kereta berteriak keras lalu tubuh mereka melesat ke udara.

Semua mata yang ada di tempat itu menyaksikan bagaimana Kereta Pusaka Kencana Jatayu Bodas ikut naik ke udara lalu perlahanlahan diturunkan di atas wuwungan istana tepat diatas Balai Penghadapan Agung tempat kursi singgasana berada. Setelah itu Kyai Pamenang mengambil tombak panjang pusaka Kyai Jagatru, ia melesat keatas dan memasangkan tombak pusaka itu diatas atap kereta kencana pusaka tersebut. Setelah Gong Kyai Bentar ditabuh satu kali, kelima orang tersebut segera melayang turun kembali.

Semua yang hadir disana kembali memanjatkan doa untuk menolak bala. Gong Kyai Bentar kembali ditabuh, dan alat-alat gamelan pusaka lainnya mulai ditabuh, seluruh senjata pusaka disimpan di tengah-tengah halaman keraton beserta bunga tujuh rupa, bawang putih bawang merah dan cabai merah yang ditusuk sebanyak ratusan tusuk, dan sesikep sesajen penolak bala lainnya. 

Jauh dari kotaraja terjadi keanehan dashyat di hulu sungai Citarum yang mengalir ke utara melewati Bhumi Mega Mendung. Hulu sungai yang bermula di puncak gunung Wayang tenggelam dalam hujan lebat tiada tara. Arus sungai membuntai tinggi dan deras, mengalir dengan cepat ke arah hilir. Lapat-lapat di kejauhan terdengar suara cuitan parau burung Sirit Uncuing yang diikuti oleh cuitan burung gagak, ringkikan kuda seperti yang sedang marah, dan raungan srigala, lalu terdengar juga suara gamelan yang iramanya sangat menakutkan dan membuat bulu roma berdiri!

Belasan bola api berwarna api yang cahayanya amat menggidikan terbang berputar-putar diatas mata air Gunung Wayang dan berubah menjadi lingkaran awan kelabu besar. Lalu lingkaran awan kelabu besar yang sejak tadi menggantung di langit bergerak memecah menjadi lima belas lingkaran lebih kecil. Perlahan-lahan lima belas lingkaran awan kelabu ini bergerak turun mendekati hulu sungai Citarum. Semua awan kelabu yang melayang ke bawah berubah menjadi merah semerah darah.

Petir menyabung, guntur menggelegar. Lima belas lingkaran merah tiba-tiba memancarkan sinar merah terang. Lalu ribuan percikan aneh bersama curahan hujan melayang ke bawah, masuk ke hulu sungai di gunung wayang. Dalam waktu singkat air sungai yang tadinya jernih tanpa buntalan lumpur kini berubah menjadi merah seperti darah! Air sungai yang berubah menjadi kental dan merah seperti darah segera menguap dan membanjir terus menuju ke hulu dan hilir mengarah ke Kutaraja Rajamandala! Tak terhitung ruma-rumah penduduk dan kandang-kandang ternak yang kini tengah kosong melompong serta pepohonan dan berbagai tumbuhan diterabas hanyut tanpa ampun, menyapu semua yang menghalang!

Semua itu tak lepas dari pengawasan mata bathin Kyai Pamenang yang sangat awas tersebut. “Lewat tengah malam banjir akan sampai di kotaraja. Ki Balangnipa dan semua orang yang ada di sini sebaiknya lekas pergi ke Bukit Tagok Apu. Rasanya itu satu-satunya tempat paling tinggi dekat kotaraja yang bisa dijadikan tempat penyelamatan…” bisiknya pada Ki Balangnipa.

“Bagaimana dengan semua pusaka ini? Apakah akan mampu menahan banjir yang akan menerjang Keraton ini?” 

“Kemungkinannya sangat kecil Ki, jadi sebaiknya cari tempat yang lebih aman untuk berlindung, sambil kita lihat apakah kesaktian dari semua Pusaka ini akan mampu menangkal bencana yang disebabkan oleh para lelembut itu… Namun saya sangat menyangsikannya.” jelas Kyai Pamenang.

“Lalu apa yang akan Kyai lakukan?” 

“Saya akan mencoba untuk menghentikan bencana yang mengerikan ini, saya akan berusaha untuk memenuhi tugas saya, menyelamatkan Mega Mendung!” tegas Kyai Pamenang.

“Bagaimana caranya?” tanya Ki Balangnipa dengan nada sangsi.

“Satu-satunya cara adalah melenyapkan penyebab bencana ini! Saya harus mengirim para lelembut itu kembali ke alamnya, alam ghaib di padang kegelapan!”

“Baiklah kalau begitu, semoga berhasil Kyai, doa kami selalu menyertaimu!” ucap Ki Balangnipa.

Sang Kyai pun pergi, tubuhnya melayang melesat terbang ke arah selatan. Setelah Kyai Pamenang pergi, Ki Balangnipa mengumpulkan semua orang yang ada disana. “Ki Pranajaya pimpinlah rombongan ini, Kalian semua pergilah ke Bukit Tagok Apu, laluilah jalan dataran tinggi, jangan pilih dataran rendah untuk menghindari banjir ini, dan setelah hari terang, segeralah pergi ke Banten!” perintahnya pada Ki Pranaja, sesepuh sekaligus tokoh masyarakat Mega Mendung dari Rajamandala.

“Lha? Bukannya kita semua sedang berusaha untuk menyelamatkan negeri ini? Bukankah Kyai pamenang akan melenyapkan para dedemit itu? Untuk apa kita semua mengumpulkan pusaka-pusaka ini?” tanya Ki Pranajaya dengan agak sewot.

Ki Balangnipa menggelengkan kepalanya dengan lemas. “Negeri ini sudah kiamat! Entah dosa apa yang diperbuat leluhurku?! Ketahuilah, bahkan seluruh pusaka ini tidak akan sanggup untuk menolak takdir dari Sang Maha Kuasa!”

Ki Pranajaya menghela nafas berat, dengan lemas ia menatap seluruh pusaka Keraton yang ada di halaman keraton tersebut. “Bagaimana denganmu Ki Patih? Kau tidak ikut?”

“Semua orang yang kusayangi, semua orang yang kuhormati, dan semua tokoh dari negeri ini, tewas di disini. Aku ingin melengkapinya sebagai tumbal terakhir! Mungkin semua ini sudah menjadi suratan… Pergilah kalian, bawalah semua emas permata, dan kekayaan yang tersisa dari keraton ini!”

Ki Pranajaya dan semua orang yang ada disana pun akhirnya menuruti apa yang dikatakan oleh Ki Balanngnipa, mereka pun berpamitan, hanya Nyai Sokawati, istri Ki Balangnipa yang nampak enggan untuk pergi.

“Nyai kenapa kamu tidak ikut pergi? Pergilah!” perintah Ki Balangnipa.

“Tidak Kakang, saya ingin mendampingi Kakang sampai akhir! Itulah kewajiban saya sebagai seorang istri. Lagipula saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi di kampung saya.” jawab perempuan tua tersebut dengan lirih.

“Jangan ikut-ikutan mati konyol Nyai…” balas Ki Balangnipa dengan sendu. “Aku juga akan segera melepaskan sisa kuda-kuda di istal keraton ini, agar mereka bisa bergaul dengan alam bebas, habitat mereka yang sesungguhnya…”

“Saya sudah tua Kakang, kedua putra kita Panji Andara dan Laksadi sudah tewas oleh Iblis jahanam itu. Saya menikah dan mengarungi bahtera hidup dengan Kakang, bahkan ketika Prabu Wangsareja masih bertahta dan Gusti Dewi Nawang Kasih masih perawan, masih belum menikah dengan Gusti Prabu Kertapati… Jadi kalaupun saya harus mati terbunuh oleh iblis-iblis jahanam itu tidak apa-apa, saya ikhlas telah mengabdi di negeri ini sampai tuntas, setelah hidup bersama puluhan tahun bersama Kakang selama ini…” tegas Nyai Sokawati.

Ki Balangnipa termenung mendengar ucapan istrinya yang tulus itu, air matanya mengalir. Ia terharu pada kesetian istrinya sekaligus sedih karena teringat pada nasib putranya yang tewas oleh Dharmadipa. “Melihat kematian orang tua kita memang sangat menyakitkan, namun melihat kematian anak kita sendiri jauh lebih menyakitkan... Aku sudah tua, namun tiada pernah kusangka aku harus melihat kematian anakku yg mendahuluiku..." ucapnya dengan lirih. 

Istrinya hanya terdiam, sembari mengusap air matanya, sedangnkan Ki Balangnipa terus duduk bertafakur seraya mengingat semua peristiwa yang telah ia lalui semejak kecil di Negeri Mega Mendung ini.

***

Di Kademangan Saguling yang kini yang gelap gulita karena telah kosong melompong ditinggal para penduduknya mengungsi, Kyai Pamenang mendaratkan tubuhnya. Ia lalu duduk bersila bertafakur di tengah alun-alun desa, ia lalu menyalakan sebatang lilin hingga cahayanya yang redup bersinar di tengah kegelapan, bayangan Kyai Pamenang pun memanjang disepanjang tempat yang terjangkau oleh cahaya lilin tersebut, ia pun mulai membaca wirid dengan tasbihnya.

Tiba-tiba ia berteriak lantang dengan mata masih tertutup. “Hai Iblis busuk! Kalian telah merenggut banyak nyawa manusia yang tidak berdosa! Kalian juga telah merebut jasad anak muridku yang sangat kucintai! Ayo! Sekarang giliranku! Aku sudah menunggu saat ini!”

Kyai Pamenang lalu membuka matanya, ia melihat celingukan ke berbagai arah, angin panas yang deras mulai bertiup berseoran membawa aroma bunga tujuh rupa, tanah kuburan, dan bangkai busuk yang menusuk hidung, ranting-ranting pohon bergoyang-goyang hebat, pohon-pohon mulai berderak patah, bumi bergetar dahsyat! Suara cuitan parau burung sirit uncuing bergema hebat! Belasan bola api berwarna-warni terbang berputar-putar diatas alun-alun kademangan tersebut.

Kyai Pamenang lalu kembali bersidekap sambil memejamkan matanya. “Dharmadipa! Keluar kau!” bentaknya. Bayangan dirinya yang ditimbulkan oleh cahaya lilin semakin memanjang, dari ujung bayangan kepalanya, munculah mayat hidup Dharmadipa seolah keluar dari dalam bumi, pertama kepalanya yang timbul terus sampai ia berdiri tegak dihadapan Kyai Pamenang, para lelembut anak buahnya yang berwujud bola-bola api segera turun menampakan wujud asli mereka!