Episode 83 - Kiamat di Mega Mendung (3)


Pada waktu yang sama, karena seluruh prajurit dikerahkan keluar menuju ke pintu gerbang keraton yang kemudian berpatroli untuk mencari Burung Sirit Uncuing Setan itu, keadaan didalam keraton pun hampir tidak terjaga oleh para prajurit, kamar Sang Prabu pun hanya tinggal dijaga oleh enam orang prajurit.

Tiba-tiba hujan lebat disertai badai es dan petir mengguyur Rajamandala, angin topan bertiup amat kencang merubuhkan pohon-pohon disekitar maupun didalam Keraton, petir saling meledak susul menyusul menggetarkan bumi Rajamandala, namun satu hal yang sangat aneh, ditengah hujan badai disertai es yang melanda Rajamandala tersebut, bertiup angin panas nan lembab yang membawa aroma bunga tujuh rupa, tanah kuburan, dan bangkai busuk yang sangat menusuk!

Dewi Larasati yang sedang tidur lelap bersama suaminya tiba-tiba terbangun oleh suara cuitan parau burung gagak, dia langsung menjerit-jerit bagaikan orang gila sambil memegangi perutnya, Sang Prabu pun langsung terbangun karena terkejut oleh jeritan istrinya. “Nyai ada apa?! Kau kenapa?!”

Dewi Larasati tidak menjawab, dia hanya terus-terusan menjerit sampai bola matanya hendak meloncat keluar sambil terus memegangi perutnya yang nampak semakin menggembung membesar, dan tiba-tiba… “Ngeekkk!!!” Sang Dewi keluarkan seruan tertahan, matanya melotot dan lidahnya terjulur keluar lalu… Breessss!!! Perutnya yang sedang hamil besar itu meledak memuncratkan darah! Sobek dari dalam! Dari dalam perutnya keluar sebuah tangan berwarna biru, berisisik, dan berkuku panjang berwarna hitam, diiringi dengan keluarnya belasan ular-ular kecil serta ribuan ulat juga belatung!

Dewi Larasati menggeliat-geliat sebentar dan akhirnya tidak berkutik lagi dengan mata melotot yang hampir meloncat keluar! Prabu Arya Bogaseta seolah terkesima dengan kematian istrinya tersebut, setelah beberapa saat barulah ia tersadar dan menjerit meraung hebat. “Nyai?! Nyai!!!” Ia kemudian memperhatikan tangan berwarna biru yang bersisik, dan berkuku panjang berwarna hitam yang keluar dari perut istrinya, ia pun segera mengenali pemilik tangan tersebut yang tak lain adalah tangan dari Jin Balewa, Jin sahabat Jin Bagaspati yang ikut menyerang Negeri Mega Mendung. “Balewa?! Jin Balewa?!” desisnya.

Ia lalu meloncat bangun dan mengambil keris pusakanya yakni keris Kyai Widuri. “Setan! Jin Balewa! Aku hendak mengadu jiwa dengan kau!” teriaknya, sambil meraung dahsyat ia menerjang hendak membabat tangan setan yang menjebol perut istrinya, namun tangan itu keburu terbang keatas dan berubah menjadi bola api berwarna biru dan terus melesat keatas langit-langit kamar menjebol atap kemudian terbang keluar!

Dengan penuh nafsu, Prabu Arya Bogaseta segera berlari keluar dari kamarnya, diluar kamar didapatinya keenam prajurit penjaga kamarnya sudah tergeletak, tewas semua dengan sekujur tubuh hangus menghitam! Saat masih terkesima dengan kematian para prajuritnya tersebut, terdengar teriakan ghaib Dharmadipa menggema kemana-mana yang menantangnya. “Arya Bogaseta! Keluar kamu! Kita adu kesaktian!”

“Dharmadipa! Dimana kamu?! Rupanya benar kau yang menjadi dalang malapetaka ini! Dharmadipa! Aku tantang kamu!“ SangPrabu pun terus berlari menuju ke balai penghadapan agung Keraton. 

“Bogaseta ayo kita tentukan siapa yang lebih berhak menguasai tanah Mega Mendung ini! Hahaha…” balas Dharmadipa yang suaranya bergema dimana-mana mengalahkan suara derasnya hujan badai dan halilintar.

“Ayo keluar kamu! Akan kubalas kematian istriku! Akan kutagih semua hutang darah penduduk Mega Mendung yang sudah kamu tumpahkan! Ayo keluar!”

“Hahaha… Camkan ini baik-baik! Bahwa aku akan mengusir semua manusia yang ada di Mega Mendung! Bahkan penduduk disekitar tanah Pasundan ini! Hahaha…”

Sungguh aneh, apabila Prabu Arya Bogaseta yang sedang berada didalam keraton mendengar dan merasa keadaan diluar sedang hujan badai disertai es, angin topan, dan petir, tapi tidak demikian dengan keadaan sebenarnya diluar, keadaan diluar tidak hujan tidak badai, cuacanya cukup cerah hanya sedikit berawan, yang ganjil mungkin adalah angin panas lembab yang terus bertiup disertai bau bunga tujuh rupa, tanah kuburan, dan bangkai busuk yang menusuk.

Sementara itu dibagian lain keraton, ratusan prajurit yang dipimpin oleh Ki Balangnipa dan Kyai Pamenang Nampak hanya berputar-putar saja tanpa bisa mencapai bagian utama Keraton yaitu balai penghadapan agung dan balai keprabon, tempat kamar Sang Prabu.

“Kakang Patih, kenapa kita hanya berputar-putar disekitar sini saja?” Tanya Kyai Pamenang.

“Saya juga heran, tidak mungkin saya akan nyasar, saya hapal betul seluk beluk keraton ini sampai ke jalan-jalan rahasia untuk melarikan diri!”

“Celaka! Kalau begitu ada yang memutarkan mata kita!” keluh Kyai Pamenang.

Sang Kyai lalu bersidekap dan menutup matanya beberapa saat. “Kita memang sedang dipermainkan Kakang Patih!” ucapnya, ia lalu duduk bersila bersemedi, mulutnya berkomat-kamit, kemudian ia mengibaskan selendang putihnya, bertiuplah satu angin kencang yang amat dingin, Wushhh!!! Pemandangan disekitarnya berubah, dari yang asalnya mereka sedang berada di pendopo taman keraton, kini mereka berada di hutan perbatasan Kutaraja Rajamandala.

“Astagfirullah! Kenapa kita bisa sampai di tempat ini?” kejut Ki Balangnipa yang diamini oleh para prajuritnya yang juga terkejut.

“Maafkan aku kakang Patih, aku tidak menyadari kalau kita sedang dipermainkan oleh para lelembut itu! Sekarang sebaiknya kita segera kembali ke keraton!” maka rombongan besar itupun segera berlari kembali menuju ke keraton.

***

Ketika sampai di balai penghadapan agung, Prabu Bogaseta melihat ada sepuluh lelembut yang sedang bermain-main disana, dan mayat hidup Dharmadipa sedang duduk diatas kursi singgasana raja. Sang Prabu langsung menghunus kerisnya sambil memejamkan matanya, mulutrnya berkomat-kamit. “Sekarang saatnya, aku akan menuntaskan dendam kesumat ini, akan kuhancurkan biang bencana ini!” tekadnya.

Sepuluh lelembut anak buah Jin Bagaspati pun segera mengepung Arya Bogaseta, Sang Prabu pun segera mengacungkan keris pusakanya yang memancarkan cahaya kelabu menggidikan yang menghamparkan hawa dingin, para lelembut itu segera melangkah mundur dengan wajah ketakutan menatap keris Sang Prabu. Dengan geram, Prabu Bogaseta langsung menerjang Dharmadipa yang sedang duduk diatas singgasananya, tapi mayat hidup langsung lenyap!

Prabu Bogaseta celingukan mencari Dharmadipa namun kemudian terdengarlah suara gelak tawa Dharmadipa, “Aku disini Bogaseta! Hahaha!”

Sang Prabu segera melihat keluar, ternyata Dharmadipa beserta pasukan dedemitnya berada disudut halaman balai penghadapan agung dibawah sebuah pohon, dengan penuh nafsu dan tanpa perhitungan ia menerjang Dharmadipa, maka terjadilah pertarungan dahsyat di tengah hujan badai dahsyat yang mengguyur Rajamandala tersebut! 

Tidak seperti sebelumnya, kali ini Dharmadipa terus menghindari serangan-serangan keris dari Bogaseta, Bogaseta pun menyadarinya, ia teringat pada cerita para saksi mata bahwa mayat hidup Dharmadipa tidak pernah menghindar dari serangan-serangan lawannya karena serangan-serangan lawannya tidak ada yang mempan dan dapat melukai tubuh Dharmadipa, maka ia pun menjadi yakin dengan kesaktian keris pusakanya dapat mengalahkan mayat hidup Dharmadipa.

Dengan kepercayaan diri yang amat tinggi, Prabu Bogaseta terus mencecar mayat hidup Dharmadipa yang nampak kelabakan dan belum sempat balas menyerang, hal ini membuatnya sedikit jumawa. Ia jadi lupa bahwa dendam kesumat yang berkobar didalam hatinya, rasa marah, sedih, jumawa serta perasaan-perasaan negatif lainnya malah membuat Jin Bagaspati dan kawanan demit marakhyangan yang dihadapainya tersebut menjadi semakin kuat, Bogaseta pun terus terperosok dalam emosi-emosi negatif tersebut.

Hingga pada suatu ketika, kesepuluh dedemit anak buah Jin Bagaspati yang sedari tadi tidak ikut campur, bergerak kembali merasuki jasad Dharmadipa hingga mayat hidup itu belasan kali lipat menjadi lebih kuat! “Huh ayo berkumpulah kalian! Biar aku habisi kalian semua sekalian!” hardik Bogaseta.

Bogaseta kembali menerjang mengirimkan sebuah tusukan maut mengarah tepat ke jantung mayat hidup Dharmadipa, namun kini tusukan kerisnya bagaikan menusuk bayang-bayang saja, tusukan keris Bogaseta tepat mengenai jantung Dharmadipa namun tembus terus kebelakang laksana menusuk angin!

Mayat hidup Dharmadipa pun tertawa terbahak-bahak melihat kekagetan Bogaseta, Bogaseta sempat heran karena serangannya seolah hanya menembus angin saja, maka dengan nekad ia terus mencecar Dharmadipa, namun semua serangannya bagaikan hanya menyabet angin saja! 

“Cukup! Lihat kebelakangmu!” tunjuk Dharmadipa, dibelakang Bogaseta kini muncul Bogaseta yang lainnya, ia berpakaian sama dengan Bogaseta, bahkan tangan kanannya sama-sama menggenggam keris pusaka Kyai Widuri yang memancarkan sinar kelabu menggidikan dan menghamparkan hawa dingin.

“Aku tidak takut dengan permainan sihirmu Iblis!” bentak Bogaseta sambil menerjang Bogaseta yang satunya lagi tersebut, terjadilah satu pertempuran hebat, namun anehnya semua jurus dan semua gerakan mereka sama, sehingga Bogaseta bagaikan bertarung dengan bayangan cermin dirinya sendiri!

Saat Prabu Bogaseta mulali kehabisan akal, terngiang satu bisikan ditelingannya “Tusukan kerismu ke tanah anakku, baru kemudian kau tusuk leher mayat hidup itu!” Prabu Bogaseta mengenali betul suara itu, suara bisikan itu adalah suara mendiang Prabu Wangsareja ayahnya sendiri, maka ia segera menancapkan kerisnya ketanah dan kemudian menusukan kerisnya ke leher Dharmadipa!

“Aaaaaa!!!!” Jerit Dharmadipa ketika keris Bogaseta berhasil menancap tepat di tenggorokannya, dan Wushhh! Ia berubah menjadi burung sirit uncuing lalu terbang meninggalkan Bogaseta.

“Mau lari kemana kau?! Kedasar Neraka pun akan aku kejar!” gertak Bogaseta, ia segera melompat mengejar kearah lenyapnya Dharmadipa sampai ke hutan larangan di tepi sungai Citarum!

Di tepi sungai Citarum Dharmadipa mendarat, tak lama kemudian Bogaseta pun berhasil menyusulnya kesana. Dharmadipa memanggil para lelembut penunggu tempat itu, segera empat demit penunggu tepi sungai yang angker itu datang menghampiri dan merasuki tubuh Dharmadipa, dan ajaibnya luka besar di lehernya yang berlobang akibat tusukan Keris Pusaka Kyai Bentar langsung sembuh kembali!

Mayat hidup Dharmadipa melompat menerjang Bogaseta, Tangan kanannya dihantamkan. Satu gelombang angin panas yang bukan olah-olah dahsyatnya menderu. Beberapa pohon besar disana bergetar dan langsung berderik tumbang dan hangus akibat hebatnya tenaga dalam sang mayat hidup. Melihat dirinya diserang Bogaseta tak tinggal diam. Raja Mega Mendung ini kerahkan seluruh tenaga dalamnya lalu balas menghantamkan keris pusakanya dengan tenaga dalam penuh, Sinar kelabu menggidikan menebar hawa dingin berkiblat.

Bogaseta berseru kaget ketika merasakan seolah ada satu gunung besar melabrak tubuhnya hingga terpental! Keris Pusaka Kyai Widuri miliknya hancur menjadi abu! Sebelum dia sempat berbuat sesuatu tangan kanan Dharmadipa tahu-tahu sudah menempel di lengan kanannya. Sang Prabu menjerit keras, seluruh tenaga dalamnya terasa seolah disedot oleh mayat hidup Dharmadipa.

Tubuhnya terkapar lunglai di tanah tanpa daya karena seluruh tenaga dalamnya telah tersedot dan masuk ke dalam tubuh si mayat hidup! Jin Bagaspati yang merasuki tubuh Dharmadipa lalu mengangkat tubuh Bogaseta dan melemparkannya keatas, Gubrakkk!!! Prabu Bogaseta jatuh ke bumi lalu menggeliat-geliat kesakitan karena tulang punggung dan seluruh tulang rusuknya hancur, lalu wusshhh! Si mayat hidup mengeluarkan satu pukulan, satu lidah api berwarna hitam yang amat panas dan mengahmparkan bau bangkai busuk berkiblat menghantam tubuh Bogaseta! Langsung sosok Bogaseta tenggelam dalam kobaran api berwarna hitam. Begitu api padam yang tinggal hanyalah tebaran debu berwarna hitam, tamatlah riwayat raja Mega Mendung yang ke tiga dengan seluruh tubuh hancur terbakar hingga hanya menjadi abu hitam!

***

Di Keraton Rajamandala, rombongan pasukan Mega Mendung yang dipimpin oleh Ki Balangnipa dan Kyai Pamenang telah sampai disana, alangkah terkejutnya sang Kyai mendapati pemandangan yang mengerikan disana, mayat-mayat prajurit maupun para penduduk bergeletakan, dan yang paling membuat mereka kaget adalah kematian Dewi Larasati Sang Permaisuri yang begitu mengenaskan!

“Celaka! Kita terlambat! Para demit itu berhasil memanfaatkan kelengahan kita sampai-sampai Gusti Dewi tewas dengan mengenaskan seperti ini!” keluh Ki Patih Balangnipa.

“Beliau tewas terbunuh oleh Jin Balewa pengikut Jin Bagaspati yang paling jahat dan saki!” sahut Kyai Pamenang sambil menutupkan mata jasad Dewi Larasati yang melotot.

“Oya kemana Gusti Prabu?” Tanya Ki Balangnipa.

“Sebentar…” Kyai Pamenang bersidekap sambil menutup matanya, “Celaka! Gusti Prabu dalam bahaya besar! Ia berada di hutan larangan tepi sungai Citarum sedang bertarung melawan Jin Bagaspati! Kita harus segera kesana!” maka kembali rombongan besar itu menyusul keluar dari keraton menuju ke hutan larangan, kali ini seluruh penduduk yang mengungsi pun ikut karena mereka merasa takut ditinggal di keraton sendiri, sehingga rombongan itu menjadi sangat banyak jumlahnya.

Sesampainya di hutan larangan tepi sungai Citarum, Kyai Pamenang dan Ki Balangnipa segera menyebarkan prajurit-prajuritnya untuk mencari Prabu Bogaseta, namun yang mereka temui hanyalah tumpukan abu hitam yang masih ada sisa-sia kobaran api dan berbau hangus membentuk jasad seorang manusia.

“Kita tidak berhasil menemukan Gusti Prabu, Kyai” keluh Ki Balangnipa.

“Sebentar…” Kyai Pamenang lalu menatap tumpukan abu hitam yang masih ada sisa-sia kobaran api dan berbau hangus membentuk jasad seorang manusia dihadapannya, ia lalu menutup matanya sebentar.

“Kakang Patih kita terlambat, inilah dia jasad Gusti Prabu, beliau meninggal dengan seluruh tubuh hangus terbakar menjadi abu!” tunjuk Kyai Pamenang pada tumpukan abu hitam tersebut, Ki Balangnipa dan seluruh anggota rombongan pun terkejut bukan main.

***

Pagi menjelang siang keesokan harinya, Indra Paksi bersama tiga puluh orang pasukan Banten dari Katumenggungan Jaya Laksana yang mengenakan pakaian biasa tanpa atribut ketentaraan Banten tiba di Rajamandala, disepanjang perjalannnya, ia terus menjumpai rombongan-rombongan para pengungsi yang hendak mengungsi ke wilayah Banten. Begitupun di Rajamandala, banyak sekali orang bersama sanak keluarganya yang membawa berbagai harta benda mereka sedang bersiap-siap mengungsi ke Banten.

Di keraton Rajamandala, nampak sedang diadakan pengajian surat Yasin yang diadakan untuk mendoakan tiga jenasah orang penting sekaligus, yakni Prabu Bogaseta, istrinya Dewi Larasati, serta pejabat senior Ki Senopati Sentanu. Para prajurit maupun para penduduk yang belum mengungsi mengikuti acara pengajian itu, sementara para pria mengaji, para wanita sibuk menyajikan hidangan ala kadarnya untuk menyuguhi para pelayat.

Indra Paksi dan para prajuritnya yang telah sampai di keraton segera turun dari kudanya masing-masing, “Maaf Ki Dulur, siapa yang meninggal?” tanyanya pada seorang warga yang berada disana.

“Gusti Prabu Arya Bogaseta, Dewi Larasati, serta Ki Senopati Sentanu.” jawab Warga tersebut.

Indra Paksi terkejut mendengarnya. “Sakit?”

“Tidak pasti, tapi banyak yang mengatakan akibat serangan para lelembut, tubuh Gusti Prabu hangus terbakar hingga hancur menjadi abu hitam, Gusti Dewi tewas dengan bagian perut yang sobek besar, sedangkan Ki Senopati tewas dengan seluruh tualng-tulang di ubuhnya hancur!”

“Inaillahi wainalillahi roji’un…” ucap Indrapaksi.

Saat itu, tiga keranda dari ketiga jenasah itu mulai ditandu keluar dari balai riung keraton untuk dikuburkan, Indra Paksi melihat ada Kyai Pamenang dan Ki Balangnipa diantara rombongan pengangkut tandu tersebut, ia pun menyuruh agar para prajuritnya menunggu sementara ia menghampiri dua pria sepuh tersebut dan menyalami mereka.

“Kyai dan Gusti Patih, saya Indrapaksi Lurah Tantama Kesultanan Banten dari Katumenggungan Jaya Laksana, saya ikut berduka cita.”

“Ah Indrapaksi, apa kabar? Apakah muridku Tumenggung Jaya Laksana ikut denganmu?” balas Kyai Pamenang.

“Beliau tidak bisa ikut Kyai, maklum untuk dapat bepergian kemana-mana, Raden Tumenggung harus lapor terlebih dahulu pada Gusti Sultan, maka beliau mengutus saya kemari.”

“Ya… Ya… Saya mengerti Indra…” angguk Kyai Pamenang, kemudian ia pun menceritakan kejadian malapetaka mengerikan yang baru saja menimpa mereka.

“Saya tidak mengerti, kenapa kejadiannya seperti kutukan, meskipun saya tidak sepenuhnya setuju dengan pemerintahan Prabu Bogaseta, namun tetap beliau adalah pemimpin negeri ini, yang menjadi lambing sekaligus pelaksana roda pemerintahan negeri ini, akan tetapi kini satu persatu orang-orang yang penting di negeri ini tewas dengan cara yang mengerikan!” sahut Ki Balangnipa menyambungi cerita Kyai Pamenang.

“Saya sudah mendengar semuanya Gusti Patih, bahkan telah banyak penduduk Mega Mendung yang mengungsi ke Banten!”

“Iya, sebagian penduduk Kutaraja inipun sudah mengungsi, hhh… Sungguh memalukan, wilayah Kutaraja apalagi keratonnnya yang merupakan pusat negeri ini yang seharusnya menjadi tempat paling aman di negeri ini bisa dilanda rajapati yang begitu dahsyat dan kami para pangreh negara ini tidak bisa berbuat apa-apa… Oya apa maksud kedatangan seorang perwira tinggi Banten kemari?”.

“Saya diutus oleh Raden Tumenggung Jaya Laksana atas perintah langsung Sultan Banten, supaya Prabu Bogaseta menyuruh seluruh penduduk Mega Mendung yang bersedia, dan seluruh desa-desa di perbatasan Pajajaran di lereng Gunung Gede, yang diganggu mahluk ghaib itu untuk pindah ke Banten.”

“Saya merasa senang mendengar berita yang kau bawa itu Indrapaksi, rupanya Gusti Sultan menaruh perhatian yang besar kepada rakyat kecil dan negeri tetangganya, padahal Mega Mendung pernah mempunyai masalah yang cukup runcing dengan Banten.”

“Gusti Sultan hanya memikirkan nasib rakyat kecil, apalagi sebagai sesama muslim, ditambah Gusti Prabu Bogaseta pernah menjadi pejabat di Banten dan merupakan sahabat Gusti Sultan.”

Pembicaraan mereka pun berakhir karena telah sampai di pemakaman, mereka segera memakamkan para jenasah tersebut dengan layak, termasuk Prabu Bogaseta yang jasadnya hancur menjadi abu, Kyai Pamenang tetap menyarankan agar abu Prabu Bogaseta tetap dimakamkan secara Islam karena beliau seorang muslim.