Episode 40 - Menghirup Kebebasan


Yang tawanya paling keras diantara kita, biasanya malah menyimpan duka yang terbesar.

—Pujangga Li-Sing


Bandit Emas menusukkan pisaunya, tapi alangkah kagetnya ia ketika pisaunya tak menemukan sasaran. 

Belati itu bukan menusuk daging, tulang pinggang, atau ginjal, melainkan malah menghantam sesuatu yang keras, dengan suara besi beradu besi. Memang belatinya melesak, tapi tidak menemui kulit sama sekali menilik betapa air muka Hikram tak berubah saat Bandit Emas menghujamkan senjata yang diyakininya adidaya.

Mengingat bahwa belati ini mampu memotong perisai bahkan zirah para legiun, Bandit Emas jelas heran. Hikram tak menangkisnya dengan mustika tongkat, tidak. Bandit Emas bisa lihat benda itu jatuh terlupakan di tanah. Ia menekankan belati yang digenggamnya, sekuat tenaga, tetapi Hikram keburu mendorong perisainya menjauh dengan sebuah tendangan, membuat belatinya tercerabut pula. Ia terlempar, mundur jauh, sangat jauh, meski ia masih mampu berdiri sementara langkah mundurnya yang keempat belas akhirnya berhenti, meninggalkan bekas guratan sepatu di tanah yang dipijaknya.

Ia mendongakkan kepala dengan wajah sangat pucat, dan bersegera menyembunyikan sisi depan badannya di balik tameng. Beradu dengan tongkat mustika Hikram pun, ia tak pernah terlempar mundur sejauh ini. Kali ini hanya tendangannya, jadi kiranya apa yang membuat Hikram bisa mendapat tenaga setan seperti itu?

“Mengapa kau susah sekali dijatuhkan?!” jeritnya, tak tahan lagi untuk tidak mengutarakan rasa kalut. Ia tak terima dengan Hikram yang masih mampu berdiri, masih mampu hidup, masih mampu bertahan sampai matahari benar-benar terlihat sepenuhnya. Tuannya mengatakan bahwa mustika Jendral Perkutut merupakan benda yang susah dicari tandingannya, tapi masak melawan orang kumal lagi kusam ini harus makan waktu lama, bahkan sampai rekannya mengorbankan bahunya sampai terluka?

Hikram menangkupkan kedua tangannya dengan suara tepukan. Ia dalam posisi itu cukup lama, mata terpejam. Alih-alih mengambil kembali sikap serang, badannya malah membungkuk dengan kesopanan yang mengagumkan, seolah menghormat kepada sang kaisar sendiri, bukan pada seorang perusuh yang mengobrak-abrik banyak desa di negerinya.

Lantas ia berucap dengan suara lembut, dengan mata masih terpejam. “Haringsun Orma. Sairatan pang laran lampah angara.”(1)

Hampir semuanya termasuk para bandit, bahkan para legiun yang datang dari penjuru negara jajahan, yang harusnya paham bahasa-bahasa yang tak diketahui oleh para pribumi mengangkat alis. Tak ada satupun diantara mereka yang tahu bahasa apa yang diucapkannya, omongannya terdengar sama asingnya seperti racau seekor burung atau deburan air sungai. Wajar, sebab kata-kata dalam bahasa tersebut terakhir diutarakan di bukit Sin Gong ini ratusan tahun lalu, itupun oleh tua-tua kampung sekitar. Hanya Sidya yang sedikit mengerti, sebab rangkaian pelajarannya di istana perlu pula membongkar kitab-kitab kuno nan berdebu.

“Itu bahasa Arcapada,” bisiknya bukan pada siapa-siapa, terkesima. Ia tak tahu arti penuhnya, tapi bahasa lama seperti itu … sudah jarang orang hapal, apalagi menggunakannya untuk berbincang-bincang seperti Hikram sekarang ini.

Dahi Sidya berkerut. Dari mana guru belajar bahasa Arcapada? Kalau dia seorang pujangga atau sastrawan, Sidya masih bisa maklum.

Tapi seorang peminum berat yang doyan keluyuran?

“Bicara apa kau?” tanya Bandit Emas keheranan.

Hikram tak menjawab, matanya masih terpejam. Dia segera memungut tongkat, membawanya dengan kehati-hatian berlebih, berbeda dengan sikap biasanya yang memperlakukan tongkat itu seperti alat yang tak perlu penghormatan atau hal semacamnya dalam penggunaan. Kalau sebelumnya Hikram menggunakan tongkat itu seperti seorang tukang menggunakan palunya, ringkas dan tanpa kehati-hatian, kini dia memperlakukan benda yang dianugerahkan Dewa Arak Atas Langit itu seolah ahli tembikar sedang membawa barang pecah belah yang bernilai tinggi, sembari berkata-kata setengah bernyanyi, “Iri tarongkat sambu Kahyangan, diraga Awatara Naraca ngasaribu-saribu. Orma kan saulur pang jampalah tirgu puruh tigu pang rasati Awatara Naraca.” Ia mengangguk pada diri sendiri. “Orma rasati Awatara Hikram, jura.” Kemudian menyematkan benda itu untuk menyimpannya di punggung, sementara jari menuding. “Bada harasip, abdi patrap Ngatra.”(2)

Tanpa tedeng aling-aling Hikram bergerak, matanya masih terpejam, dengan gerak sigap yang luar biasa cepat. Bukan hanya itu saja, mendadak tumpuannya sangat kukuh, seolah tak ada luka sama sekali di pahanya.

Bandit Emas terperanjat mempersaksikan sendiri bagaimana lawannya bergerak dua kali lebih cepat daripada sebelumnya, bahkan lebih kilat daripada saat ia menggunakan Puncak Hujan Tombak sekalipun. Ia mempersiapkan diri, tapi belakangan, saat tongkat itu mengancam akan menggebuk lehernya, yang pada detak jantung terakhir mampu dihalau dengan perisai, ia tahu ia tak akan pernah siap.

Hantam kepalan itu sekeras tendangan kuda dikali lipat belasan kali, padahal Hikram hanya melakukan itu dengan satu tangan, matanya pun masih menutup, seolah ia punya indra lain yang dapat diandalkannya, atau memang benar demikian. Tangan Bandit Emas yang menopang perisainya hampir terkilir, beberapa sendi yang terhubung pada lengan dan tangan juga tertaut mengeluhkan hantaman. Beruntung, Bandit Emas mampu mengalihkan hantaman itu menyamping, tapi kelegaannya tak berlangsung lama karena tonjokan Hikram lagi-lagi datang mengancam wajahnya. Tinjunya pun memukul bukan dalam kepalan penuh, melainkan dengan jari telunjuk dan tengah dilipat setengah sehingga agak menonjol dari kepalan.

Ia tak menduga serangan ini. Teknik gerak Hikram yang semula berpusat pada gerakan-gerakan pengalih perhatian dan tipu daya serta mengincar bagian-bagian lemah manusia sekarang berubah. Ringkas, tak bertele-tele, sangat terang-terangan dalam menunjukkan niat akan ke arah mana pukulan diayun.

Walau sudah agak lama bermain dalam adu kepandaian, jurus ini amat asing baginya, tak pernah ia lihat gerakan seterus terang namun tetap sulit ditepisnya ini. 

Kepalanya mendadak kosong saat pukulan itu telak menghantam pelipisnya, yang kini terdorong menyamping. Waktu seolah melambat, perputaran masa bahkan seperti mau membeku, pikirannya jadi hampa.

Kehilangan kesadaran sebenarnya bukan hanya karena pukulan. Sebagian besar karena … pertikaian lain yang jauh lebih penting di dalam dirinya.

--

Bayang gelap telah menemukan, dan tanpa buang-buang waktu segera menekan Robert. Menekannya dengan tenaga penuh, sepertinya benar-benar ingin menghapuskan keberadaan cercah kesadaran ini selamanya dari dalam diri. Hanya tinggal setitik cahaya, yang bahkan dengan mata paling tajam pun tak dapat diindrai. Robert akan tamat, bahkan kegelapan tak perlu bersusah-payah mengerahkan seluruh tenaga untuk menghabisinya ….

Sebuah kelebatan asing datang, mengganggu tekanan si kegelapan, mengijinkan Robert untuk memberikan sedikit perlawanan dengan tenaga yang sudah mau habis. Walau si bayangan tak tahu, kehadiran baru ini datang bersamaan dengan kontak kulit Bandit Emas dengan Hikram waktu tinjunya mengenai pelipis.

Kegelapan itu mengendus udara, melacak siapakah kiranya yang datang. Lantas, ia menggeram, “Iblis dengan hawa surgawi? Mungkinkah cecunguk Hakim Barzah?”

“Hampir benar,” kata si kedatangan baru, lalu mewujudkan diri di sudut inti jiwa Robert. Dengan begitu, si bayangan kini benar-benar mampu mengamatinya dengan baik.

Memang benar seorang iblis, kulit mulus dengan warna merah cerah itu tak bisa salah lagi ditafsir. Tapi, iblis ini agak berbeda dari pernah ditemuinya. Iblis ini tua, wajahnya termakan usia, jenggotnya pun panjangnya hampir sepinggang. Kalau iblis biasanya merawat tanduknya agar jangan sampai patah atau bahkan tercoreng sedikitpun, yang satu ini tanduknya telah dipotong sampai hanya menyisakan gundukan tumpul di kepala yang sepenuhnya botak. Kalau biasanya mereka bertelanjang dada atau hanya menggunakan cawat, tubuh ceking yang satu ini dibalut pakaian ala biksu atau pertapa, sederhana dan tanpa gaya, sementara kedua kaki dan tangannya dibelenggu oleh rantai. Si iblis nampak tak terganggu oleh rantai itu, ia malah menaruh kedua tangannya di punggung seperti tua-tua bijak mau memberikan wejangan, bukannya iblis yang menjanjikan kejahatan atau kejahilan.

Dan anehnya lagi, dia tersenyum, suatu hal yang sangat terlarang dilakukan oleh iblis.

“Aku tidak mengenal siapa kau,” geram kegelapan, yang meluaskan diri agar kelihatan lebih mengancam.

“Wajar. Saya bukan ibils yang penting.”

“Memang! Hawa tenagamu lemah, iblis! Lalu, siapa yang mengutusmu?”

“Sang Naraca.”

Si kegelapan membalas senyum yang diberikan iblis itu. Tak ada keramahan yang ditunjukkan oleh melebarnya mulut, hanya ada seringai bengis untuknya. Jadi Kahyangan kali ini benar-benar menurunkan tangan untuk membantu dalam pergumulan. Hal tersebut membuat kegelapan senang, karena ini berarti ia diperhitungkan sebagai musuh yang cukup berat bagi Dewa-Dewi Nagart.

“Aku bisa menghancurkanmu dengan sekali ayun jika aku hadir sepenuhnya di sini, Iblis.”

Si iblis mengangguk, mengakui keunggulan si kegelapan dengan rendah hati. “Bahkan tanpa mengayun pun aku yakin kau bisa menghapuskanku dari langit dan bumi. Sayangnya, kau tak bisa menghadirkan diri seutuhnya di sini. Kau sedang sibuk, bukan? Jiwamu tengah terkatung dalam api abadi, menjalani kenangan untuk mengukir jalan menjadi seorang Khan. ”

Kegelapan itu mengecil sedikit, “Kau tahu—!”

“Siapa kau sebenarnya? Tentu saja,” iblis itu mengacungkan jarinya, “kami Iblis Bertobat dari Kahyangan selalu berbagi rahasia sebelum menjalankan perintah. Kau sebenarnya hanya mustika Gelar, kegelapan. Walau kuakui kau mustika yang cukup unik dan mengerikan.” Mata iblis itu memancarkan daya, sebagian api neraka yang memang sudah wajar dimiliki oleh sesosok iblis, tapi terang yang muncul adalah terangnya matahari. Hangat, menenangkan, dan membuat kegelapan muak karena benderangnya adalah karunia Kahyangan sendiri. “Menghadapi seorang Pemegang Gelar … itu beda cerita. Tapi hanya mustika, apalagi yang bersemayam di banyak badan hingga kekuatannya terbagi-bagi? Itu lebih mudah. Beratus-ratus karya tulis telah menunjukkan bahwa mustika dapat dihancurkan.”

Kegelapan itu hanya tertawa, gemuruhnya seperti mau meruntuhkan inti jiwa Robert yang tengah dikuasainya ini. Ia melebar, terus melebar, hampir sepenuhnya menghimpit si iblis yang anehnya, masih saja tersenyum, membuat kegelapan makin risih dibuatnya.

“Kau berpikir untuk meremukkanku, Iblis?! Aku?! Jangan mimpi! Aku yang menguasai aliran gelap, aku yang berdiam di jiwa-jiwa penjahat dan mengendalikan mereka!”

Si iblis menghela napas, lantas mengorek kuping dengan santainya. “Oleh sebab inilah aku jadi Iblis Bertobat seperti sekarang. Kalian yang tepuk dada sebagai “pihak jahat” kebiasaannya selalu sama, hingga membuatku bosan.”

“Apa maksudmu, pesuruh Kahyangan?!”

Iblis itu menangkupkan tangan yang bercakar, senyumnya tambah lebar, kemudian berkata dengan nada menasehati seperti membagikan kebijaksanaan pada seorang bocah yang terlalu badung, “Aku ke sini bukan untuk meremukkanmu. Kalian selalu menanggapi tantangan dengan tinju teracung dan bukan dengan kecurigaan. Kuakui, bahkan akupun ragu, apa aku bisa menghabisimu walau kau tak sepenuhnya hadir?” ia berpaling pada sosok Robert, yang hampir-hampir dilupakan oleh kegelapan karena perhatiannya tercurah penuh pada si iblis. “Aku pilih jalan aman, aku yakin ia bisa mengusirmu dari sini.”

Kegelapan tak akan membiarkannya menghasut Robert yang sudah mau mati ini, tidak! Ia melesatkan bagian-bagian diri, bayang-bayang gelap berwujud cemeti yang berniat untuk merobek kulit si iblis yang mulus.

Akan tetapi, bahkan tanpa memedulikan lecutan-lecutan bayangan gelap yang menghantam serta mengikis badannya, si iblis mendekati Robert yang terengah-engah melawan desak bayangan dalam dirinya ini, kemudian berbisik padanya, singkat saja.

“Hei, ingat petani yang tak mau diperbudak siapapun?”

Robert yang semula meredup tergetar. Nyalanya meningkat, terus naik, membara seperti panasnya matahari di gurun Protektorat. Kemurkaan yang dipendam sekian lama membuncah lagi.

Ia ingat.

Mata jiwa Robert mengawasi kegelapan yang memenuhi dirinya dengan amarah. Dulu, dulu sekali, ia hanya orang kecil, tapi ia bebas. Tidak seperti sekarang, yang bahkan dalam diri sendiri pun musti berbagi kesadaran dengan mustika milik orang yang memaksa Robert untuk memanggilnya ‘tuan’. Si rambut putih, si mata merah, si kulit pucat terkutuk!

Amarah Robert seperti api yang disiram minyak sekarang. Ia membesar, terus membesar, menjadi seukuran raksasa, bahkan mendesak si kegelapan yang kali ini ukurannya tak ada apa-apanya. Kegelapan meraung, Robert mengaum. Kegelapan melawan dengan pecutan, Robert tak mengindahkan. Betapapun keras kegelapan berusaha, Robert yang kini terang seperti gemintang berada di atas angin, sebab sudah hukumnya kalau kegelapan harus mengalah pada cahaya.

“Aku memberimu Gelar, Robert! Ingat, Gelar ini akan tercerabut kalau kau mengusirku!” kegelapan memperingatkannya, mungkin putus asa karena si pemilik jiwa yang sebenarnya tengah terbangkitkan amarahnya. Sialnya lagi, si pemilik hendak mengambil alih hak yang telah dirampas darinya sekian lama. “Kuberikan apapun yang kau mau! Kalau perlu kuberikan jabatan, perempuan manapun yang kauinginkan, Gelar lain—”

Kalau saja dalam inti jiwanya ini Robert bisa meludah, ia akan meludah sekarang. “Gelar?” kemudian Robert mengangkat tangan, lalu menekan dengan sepenuh hati, untuk menghapus kendali atas jiwanya ini. “aku orang Brytisia, kegelapan. Aku tak paham Gelar itu apa.”

Hal terakhir yang dilihatnya adalah si kegelapan meredup tak percaya, sebelum terhempas sepenuhnya ditekan oleh Robert si mantan petani yang kini sadar, sepenuh-penuhnya sadar.

Menjadi manusia, dan merdeka.

--

Ia terlempar mundur, waktu berjalan normal seperti semula. Bahkan entah bagaimana Robert sampai memutar lalu roboh menelungkup, mencium rumput yang kini tak sampai sejengkal dari wajahnya. Bercampur dengan aroma tanah, hal ini sebenarnya biasa saja. Namun, Robert sendiri merasa bahwa tak ada bau yang lebih harum daripada apa yang dihirupnya saat ini. Ia menghirup napas dalam-dalam, lalu bangkit. Ia terengah-engah, tapi bukan karena rasa lelah, melainkan mengagumi ternyata beginilah cara orang bebas menggerakkan diri. Ternyata begini orang bebas menghirup napas. Hal-hal sederhana yang dulu tak pernah Robert nikmati, kini malah terasa jadi yang paling berarti.

Ia bersitatap dengan Hikram, yang kini telah membuka matanya. Si pemabuk tua nampak bingung, untuk kemudian meringis dan mengibas-ngibaskan tangan dengan konyol. Hikram menghentikan itu saat tahu Robert mengawasinya, dan balas melotot dengan posisi garang, siap berkelahi lagi.

Beberapa detak jantung yang menegangkan kemudian, Robert melepaskan kontak mata. Ia membungkuk. “Aku Robert dari Brytisia mengakui keunggulanmu, Hikram.”

Seolah menegaskan pernyataan, Robert menjatuhkan perisainya.

Saat bertemu dengan tanah diiringi suara dentang, perisai itu retak, untuk kemudian terbelah jadi dua. Para bandit berteriak-teriak, mengeluhkan mengapa pemimpin mereka menyerah sebegini mudah padahal masih mampu melawan, sementara emas yang jadi unsur utama pembentuk perisai melebur, menelusup kembali ke tanah.

Hiasan batu merahnya, yang menjadi mata bagi gambaran sosok yang ada di perisai tersebut pun tak luput dari kehancuran. Kini jadi debu, yang melayang terbawa semilir angin pagi.

Belati jadi benda kedua yang dijatuhkannya, dan berdenting saat menimpa perisai yang setengah jalan melebur kembali pada ketiadaan.

Tawa Gempa menggeleng tak percaya, “Robert, mengapa?”

“Karena aku adalah aku. Sudah terlalu lama diperdaya oleh bayangan, kini aku bebas.”

Si perempuan terdiam. Tak lama, sebelum ia mengangguk yakin pada diri sendiri, kemudian memposisikan batu hitamnya di tangan. Ia menggenggam kuat-kuat, dan mengingat bahwa ia seseorang yang lemah dalam tenaga, seharusnya tak terjadi apa-apa. Sungguh mengejutkan, batu itu hancur menjadi pasir dalam satu pengerahan tenaga. Butir-butirnya pergi dari jemari, dibawa oleh angin pagi yang masih sejuk menerpa. Ia menunggu butir-butir itu pergi selamanya dari tangan, sebelum akhirnya bangkit dengan tertatih-tatih, untuk kemudian memeluk leher Robert dari belakang dengan lengannya yang sehat. “Akhirnya. Aku bertanya-tanya kapan kamu bisa melepaskan diri.”

“Tapi … tunggu sebentar, jadi kamu telah mengusir bayangan itu dari dalam dirimu sejak lama?”

“Sudah lama,” Tara memeluknya lebih erat, sampai-sampai leher Robert serasa tercekik dibuatnya. “Terlalu lama.”

“Lalu kenapa tidak pergi, menempuh jalan hidup yang lain—”

“Dan meninggalkanmu terpasung kegelapan, sendirian?”

Robert memegang tangan yang memeluknya, untuk saat ini mengabaikan lengan yang menghimpit jalan napasnya. “Jadi kamu bersandiwara. Berkeras untuk menjalani semua walau kamu tahu bahwa aku melakukan hal tercela. Pembakaran desa Butin, memancung tentara perbatasan, merampok emas—”

Tara menekap mulut Robert, menghentikannya merinci semua perbuatan nista yang telah diperbuat bersama. “Aku akan lakukan semua itu lagi dan lagi,” jawabnya, “kalau perlu, kubakar dunia ini selama aku bersamamu meski aku tak suka. Aku masih perempuan bodoh yang kamu temui di Protektorat, Robert.”

Robert ingat. Pikirannya yang merabun mirip orang pikun telah kembali. Seorang gadis stepa, menyasar sepertinya untuk mencari peruntungan di protektorat, tanpa saudara, tanpa sanak kadang untuk membelanya … pikiran Tara memang agak lamban, ia suka melempar candaan-candaan tak lucu, tapi Robert mengakui tak ada perempuan lain yang menariknya seperti ini sebelumnya. bagaimana Robert bisa lupa? Ingatannya sebagai Bandit Emas hanya menganggapnya sebagai Si Tawa Gempa, hanya salah satu diantara sekian anak buahnya, tak lebih.

Dan Tara menanggung kesedihan mendalam atas kelakuan-kelakuan bengis, semata hanya agar Robert tak melakoni semua sendirian?

Robert menarik napas dalam-dalam. “Kamu orang yang tangguh, Tara.”

“Tara jauh lebih kuat daripada Tawa Gempa,” katanya tertawa, setengah menangis, matanya terkatup, dan untuk kali ini bumi tak bergerak bersamanya. “Kita mulai semua dari awal, Robert. Kembali menjadi … manusia.”

Robert menggenggam tangannya. “Manusia bebas.”

“Apa maksudnya ini?” Hikram bertanya sangsi. Ingatannya kabur, yang diketahuinya benar-benar hanyalah saat-saat Bandit Emas mau menusuk pinggangnya, selanjutnya kosong. Yang dirasakannya sekarang adalah tubuhnya pegal semua seperti baru kerja seharian penuh jadi kuli panggul di pasar, dan buku-buku tangan kanannya terasa sangat sakit, seperti baru saja menghantam sesuatu yang tidak seharusnya dihadapi dengan pukulan, sementara pengaruh minuman dari Ambal yang seharusnya bisa menumpulkan indra-indranya kini hilang secepat datangnya.

Sembari meringis mengelus salah satu kulit jemarinya yang robek, ia memandang keduanya, yang masih berpelukan satu sama lain dan berbisik membicarakan sesuatu yang tak terdengar. Ini mengherankan, Keduanya beradegan sendu padahal belum beberapa saat lalu kedua orang ini sangat bernafsu untuk mencabut nyawanya. Hikram agak teralihkan perhatiannya kala semilir angin pagi makin kencang, diiringi sebuah dingin menggigit yang tak wajar, tapi dia mengembalikan pandangan pada keduanya.

Robert menjawab, “Aku sadar, Hikram. Kau mungkin tak melihat, tapi Tara dan aku telah dikuasai bayang-bayang sekian lama. Kami menyebutnya …” ia menguatkan diri seolah akan menyebutkan nama terlarang, sementara Tara masih tergugu, “… kami menyebutnya Bayang Digdaya Alir–”

Ia tak mampu meneruskan perkataannya. Beberapa legiun dan bandit berteriak memperingatkan saat mendadak badannya agak limbung, terdorong ke depan seperti ditumbuk sesuatu. Mulut Robert bergerak, tapi tak ada kata yang keluar. Malahan, aliran darah mulai muncul dari sisi bibirnya, sementara Hikram tersentak kaget. Dalam sedetakan jantung yang gila ia merasa bahwa ialah yang membunuh mereka berdua, tapi gagasan itu menyingkir sepenuhnya saat sesuatu yang mirip sekali dengan ujung alat tulis milik para cendekia mencuat dari dada lelaki itu perlahan-lahan, sementara darah merembes tak terhentikan. Menembus dirinya, serta menembus Tara yang matanya masih terpejam seolah dipeluk kedamaian buai ibu.

Saat benda yang menusuk itu ditarik, keduanya ambruk, menampilkan sepenuhnya sosok Diogenesus si Kembara Pencatat, pena ditangannya masih berlumuran darah, sementara dingin yang akut menguasai dunia, membekukan segala.

Lelaki tua berambut keperakan itu menyingkirkan noda dari pena sambil lalu, kemudian bersedekap, mengawasi Pisun yang tercengang dengan mata birunya yang tajam.

“Aku penasaran mengapa muridku pergi lama, ternyata dia malah bermain-main di sini.” Kakinya bergerak untuk menyepak Robert pelan, dan Robert sama sekali tak bergerak. Ia melirik Hikram dengan raut sedingin es. “Dan lihat, kubereskan masalah untukmu, Dewa Arak.”

Hikram tak menjawab. Ia berdiri mematung, sementara dari langit, salju mulai turun.


Catatan:

(1) . “Saya Orma. Iblis yang berhenti menjalani angkara(murka).”

(2). “Ini tongkat bambu Kahyangan, dibawa Awatara Naraca beribu-ribu (jumlahnya). Orma dan saudara-saudara yang berjumlah tiga puluh tiga puluh tiga yang melindungi Awatara Naraca.”

“Orma melindungi Awatara Hikram, juga.”

“Maka bersiap, abdi putra Ngatra.”