Episode 315 - Kelemahan (1)



Melangkah di hadapan dan berperan sebagai penunjuk jalan, merupakan Amadio. Di belakang, adalah Regis dan Delfina yang senantiasa bersiaga. Ke-Tiga Jahanam ini sedang mengawal seorang anak remaja yang terlihat bosan. Bintang Tenggara hari ini meluangkan waktu untuk berjalan-jalan di dalam sangkar lebah nan maha luas. 

“Aku hendak melihat-lihat keluar sarang,” ujar Bintang Tenggara. 

“Tuan Muda,” Amadio memutar tubuh. “Cuaca di luar teramat dingin. Hari ini hujan mengguyur sedari matahari terbit. Lagipula, kita tak tahu apakah ada penyusup yang sedang menanti kesempatan…” 

“Penyusup apa?”

“Penyusup… pihak-pihak yang menyimpan niat buruk terhadap Tuan Muda,” tanggap Amadio cepat. “Tuan Muda adalah calon mempelai lelaki kepada Ibunda Ratu, sehingga tak tertutup kemungkinan akan ada pihak-pihak yang hendak menyingkirkan Tuan Muda, baik dari dalam maupun luar kerajaan. 

Kalian yang buruk! Buruk rupa dan buruk kelakukan! batin Bintang Tenggara menghardik kepada Tiga Jahanam. “Katakan dimana letak pustaka?” gerutunya tak punya pilihan lain.  

“Pustaka kecil terletak di ujung selasar ini. Pustaka Utama terletak di sarang Ibunda Ratu.” 

Bintang Tenggara telah mengetahui bahwa dirinya selama ini tiada menetap di sarang yang sama dengan Ibunda Ratu Lebah. Perempuan gemuk tersebut bermukim di sarang yang paling besar. Letaknya di dahan pada pohon lain di wilayah tengah kerajaan. Atas alasan itu pula, dirinya belum bertemu muka lagi dengan sang mempelai perempuan itu. 


===


“PRANG!” 

Sebuah kendi kosong hancur berantakan ketika menghantam permukaan lantai. Pembantingnya, adalah seorang perempuan dewasa berwajah bulat. Dari aura yang mengemuka, terlihat bahwa ia sedang berang. 

“Yang Mulia Ibunda Ratu…,” seorang lelaki dewasa terlihat cemas. Ia adalah salah satu ahli yang mengelola hal ihwal dalam kerajaan. “Mohon sedikit bersabar…”

“Enam purnama katamu!? ENAM PURNAMA!?”

“Benar, Yang Mulia Ibunda Ratu. Memerlukan waktu enam purnama demi melakukan persiapan pernikahan. Serangkaian upacara pun perlu dijalani baik oleh mempelai lelaki maupun mempelai perempuan sebagai bagian dari kegiatan sebelum upacara pernikahan dapat dilangsungkan.”

“Dan selama itu pula aku tak diperkenankan bertemu muka dengan mempelai lelaki!?” Perempuan dewasa dengan perawakan gemuk itu menggerutu geram.

“Benar, Yang Mulia Ibunda Ratu.”

“Siapa yang membuat aturan ini!? Aku adalah Ratu, aku berhak mengganti aturan pernikahan.”

“Yang Mulia Ibunda Ratu, ini adalah pernikahan akbar. Sebuah perayaan yang bukan sekadar mempersatukan kedua mempelai, melainkan juga sebuah sarana berkumpul bagi segenap rakyat. Dengan kata lain, perayaan pesta rakyat. Pesta ini memberikan pengalaman sekaligus pengalihan dari kegiatan keseharian yang bersifat rutin serta monoton…”

“Akh!” 

“Mohon Yang Mulia Ibunda Ratu mempertimbangkan perasaan rakyat. Mereka juga ingin larut di dalam suasana penuh suka cita,” lanjut lelaki dewasa tersebut. 

“Apakah Elirio yang mengatur ini semua…?”

“Yang Mulia Ibunda Ratu, Tuan Elirio, sebagaimana kita ketahui, bertanggung jawab atas hal ihwal di luar kerajaan. Tata aturan pernikahan sudah ditetapkan sejak dahulu kala, dan adalah tanggung jawab hamba untuk menaati dan menjalankannya.”


===


Di balik sebuah meja kerja, seorang lelaki dewasa sedang menulis surat. Lebih tepatnya, membalas beberapa pucuk surat yang dialamatkan kepadanya. Di sisi meja terlihat beberapa lembar kertas tergeletak. Pada permukaanya tertulis pertanyaan serta pernyataan. 

“Berdasarkan informasi yang kami terima, bahwasanya Ibunda Ratu Kerajaan Lebah Ledang hendak menikahi manusia. Kau sebaiknya memiliki penjelasan atas rencana ini! – Josalin”

“Ayahanda Raja Kerajaan Rayap Radak meradang! – Marius”

Dua pucuk surat tersebut jelas meminta penjelasan lebih lanjut tentang kejadian yang saat ini berlangsung di Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Elirio, tokoh yang memiliki fungsi setara dengan menteri luar negeri, menghela napas panjang. Upaya dirinya mengulur waktu saat menerima kunjungan para utusan dari Kerajaan Siluman Semut Suluh dan Kerajaan Siluman Rayap Radak berakhir sudah. Tak sulit untuk memperkirakan bahwa akan sampai pada keadaan ini, keadaan di mana keputusan Ibunda Ratu membuat kepala semakin pening. 

Tak berselang lama, ia kembali menggores tinta. Penjelasan perlu disampaikan. Lagi-lagi ia harus membuat alasan serta mengulur waktu. 

“Tok! Tok! Tok!” Ketukan pintu terdengar rendah, namun cukup untuk menarik perhatian. 

Elirio menoleh ke arah pintu. Berpikir sejenak, ia lalu meletakkan pena. “Masuk,” ujarnya sembari membenarkan posisi tubuh. 

“Tuan Elirio, hamba datang hendak melapor,” ujar Amadio usai membungkukkan tubuh. 

“Bagaimana dengan Tuan Mudamu?” Elirio tak mau berlama-lama dengan basa-basi. 

“Selama satu pekan terakhir, beliau rutin mengunjungi pustaka.”

“Benarkah…? Aku tak pernah menyangka manusia senang membaca. Apakah hanya itu isi laporanmu?”

“Selama dua pekan ini, ia tak menunjukkan tanda-tanda hendak melarikan diri. Memisahkan sarang tempat tinggal dengan temannya adalah tindakan yang tepat. Sampai sejauh ini, tak ada yang mencurigakan dari tindak-tanduknya,” papar Amadio. Tak ada yang lepas dari pantauannya. 

“Tak ada yang mencurigakan dari tindak-tanduknya… justru membuat aku curiga.” Raut wajah Erilio menunjukkan kekhawatiran. “Bila ia menyusun sesuatu, maka kita dapat menyiapkan rencana balasan. Entah mengapa, ada sesuatu yang berbeda dari anak manusia itu, tapi aku tak dapat menjelaskan apa…” 

“Tuan Elirio, kami akan terus memantau gerak-geriknya,” Dengan demikian, Amadio pun melangkah meninggalkan ruang kerja atasannya. 


===


“Apakah ada semacam gelanggang latih tarung di sini…?” Seorang anak remaja berujar santai. 

“Ada Tuan Muda,” tanggap seorang lelaki dewasa muda cepat.

“Tunjukkan jalannya…”

Bintang Tenggara dan Tiga Jahanam lalu tiba di sisi luar sarang. Sebuah panggung terbuka nan luas ukurannya. Pada satu sisi, terdapat diding sarang, sedangkan pada sisi lainnya adalah pemandangan alam nan terbentang. 

Angin betiup kencang, meski cuaca hari cerah adanya. Daun-daun raksasa terombang-ambing dengan deras, menimbulkan suara bak gemuruh halilintar menjelang badai. Posisi mereka berada kini, jauh tinggi di atas permukaan tanah. 

“Mari kita berlatih tarung,” ujar Super Murid Komodo Nagaradja santai. 

“Tuan Muda…?” Amadio kurang percaya atas pendengarannya, sehingga hendak memastikan. Bagaimana tidak, anak remaja itu berada pada tahapan awal Kasta Perak, sedangkan mereka bertiga pada tahapan akhir Kasta Perak. Jurang pemisah di antara mereka terpaut cukup jauh. 

“Tubuhku perlu bergerak,” ujar Bintang Tenggara. “Menghabiskan terlalu banyak waktu di dalam pustaka membuat otot-otot di sekujur tubuh menjadi kaku.”

“Regis…” Amadio melirik ke arah rekannya, lalu mengangguk. 

Bintang Tenggara melangkah ke tengah panggung. Tiada pernah terbersit di dalam benaknya akan tinggal di tengah-tengah binatang siluman serangga. Akan tetapi, mungkin karena telah terbiasa, perasaan kurang nyaman sudah tak lagi membebani. 


=== 

 

Sinar terang api merompak kegelapan goa. Datangnya berasal dari dua tangkai obor, yang bergerak beriringan. Pembawanya, adalah seorang lelaki dewasa muda bersama seorang anak remaja. 

“Kita sudah melangkah selama lebih dari dua jam…,” gerutu Maha Guru Kesatu dari Sanggar Sarana Sakti. 

“Ada apakah di ujung goa ini…?” Kum Kecho berujar kepada diri sendiri. 

“Hm… Pertanyaan yang menarik. Mungkin dikau dapat mencari tahu dengan mengirimkan nyamuk-nyamuk menelusuri goa.”

Baru hendak Kum Kecho mengeluarkan Kartu Satwa, sebuah cahaya temaram terlihat tak jauh di depan. Kedua ahli segera mempercepat langkah. 


===


“Tok! Tok! Tok!” Ketukan pintu terdengar rendah, tentunya masih dapat menarik perhatian. 

“Masuk,” ujar seorang lelaki dewasa sembari meletakkan pena.

“Tuan Muda Bintang datang bertandang…,” terdengar suara Amadio dari balik pintu.

“Persilakan beliau masuk,” jawab Elirio sambil mengemas meja, menyembunyikan lembar-lembar surat serta jawabannya ke dalam laci.

“Tuan Muda… Apa kabar? Apakah ada yang bisa diriku bantu…?”

“Sudah satu purnama sejak diriku berada di bawah pengawasan Tuan Erilio…,” ujar Bintang Tenggara tak hendak berbasa-basi. “Katakan mengapa siluman sempurna di dunia ini tiada dapat mengerahkan unsur kesaktian…?”