Episode 314 - Teman Baru



“HUAAAHHH!!!” 

Sekujur tubuh berkeringat dan napas menggebu, seorang anak remaja lelaki tersontak bangun dari tidur. Reflek tangannya merogoh ke wilayah selangkangan, dan merasakan keberadaan seonggok daging nan mungil. Belum sepenuhnya percaya kepada indera raba, ia lalu duduk sembari menyingsing sela atas celana untuk melongok ke arah dalam. Segera ia mendapati sesuatu yang memang sepantasnya selalu berada di sana. 

“Masih ada!” teriaknya anak remaja lelaki itu penuh suka cita. 

Di saat kepanikan itu berlangsung, seorang gadis belia bertubuh mungil sedang duduk mengerjakan sesuatu di sisi tempat tidur. Tak ayal ia menyaksikan rangkaian tindakan tiada pantas, serta sepintas menangkap apa yang berada di dalam celana si anak remaja lelaki. Wajahnya memerah padam. 

“Kuau! Apa yang engkau lakukan di sini!?” Bintang Tenggara menyergah tatkala menyadari ada tokoh lain di dalam ruangan kamar. Berada di antara perasaan malu dan marah, ia terlihat salah tingkah. Terdapat saksi hidup atas kepanikan di saat tersadar dari mimpi buruk! 

“Aku… aku…” Kuau Kakimerah membuang wajah nan memerah padam. Jelas sekali bahwa ia sempat melihat apa yang seharusnya tak terlihat. Di saat yang bersamaan, gadis belia tersebut mengangkat tangan. 

“HAH!” Bintang Tenggara melompat ke sisi lain tempat tidur. Ia menjauh dari Kuau Kakimerah. Telunjuknya mengacung kepada sesuatu di tangan gadis belia itu. “Apa yang hendak engkau lakukan dengan gunting itu!?” sergah Bintang Tenggara tak dapat menahan diri. 

“Ini…?” Kuau Kakimerah melirik kepada gunting di tangan kanannya. “Aku bertugas sebagai dayang-dayang kepada Ibunda Ratu Lebah. Kain ini perlu digunting sesuai dengan pola untuk nantinya dijahit menjadi pakaian beliau…”

“Dusta!” Bintang Tenggara kembali menyergah. Padahal, terlihat jelas potongan-potongan kain di atas paha si gadis belia. Kuau Kakimerah tiada berbohong.

Daun pintu kamar berderit, lalu membuka. Karena mendengar keributan di dalam kamar, tiga ahli dewasa muda yang sedianya bersiaga di luar berbaris masuk. Dua lelaki dan seorang perempuan dewasa muda, yang kesemuanya memiliki sepasang sayap setengah kasat mata di balik punggung. Mereka melontar senyuman. 

“Selamat pagi, wahai Tuan Muda.” Lelaki dewasa muda terdepan menundukkan kepala. “Menurut Kuau, nama dikau adalah Bintang Tenggara. Kami bertugas sebagai pengawal pribadi Tuan Muda. Namaku Amadio. Salam kenal.” 

“Aku Delfina… Selamat pagi, Tuan Muda Bintang…” Gadis dewasa muda tersenyum riang dan ramah. 

Tokoh ketiga terlihat gugup. Menundukkan kepala, ia pun memperkenalkan diri. “Regis, namaku…”

Bintang Tenggara menyipitkan mata, dahinya berkerut dan mulutnya mencibir. Raut wajahnya mencerminkan kecurigaan pada tingkat yang sangat teramat tinggi. Ia sudah mengenal ketiga ahli dewasa muda itu sebagai Tiga Jahanam yang hendak memangkas sesuatu yang sangat penting dari dirinya. Meski saat ini anak remaja tersebut telah menyadari bahwa kejadian pemangkasan itu adalah mimpi buruk belaka, ia tetap waspada. Mimpi bukan hanya bunga tidur, melainkan sebuah petanda, batinnya menegaskan. 

Menyadari reaksi kurang bersahabat dari Bintang Tenggara, Amadio lalu menundukkan kepala. “Izinkan kami undur diri. Kami senantiasa bersiaga di luar. Silakan Tuan Muda memanggil kami bilamana memerlukan apa pun.” Ia lalu memutar tubuh, diikuti oleh Regis mengekor ke arah pintu.

“Oh…” Sesaat sebelum berpaling, Delfina teringat akan sesuatu. “Tengah hari nanti, Tuan Elirio, salah satu punggawa kerajaan, mengundang Tuan Muda Bintang untuk makan siang bersama.”

“Elirio…?” gumam Bintang Tenggara. Masih jelas di dalam benak si anak remaja akan mimpi nan buruk, di mana nama Elirio berperan sebagai biang kerok permasalahan. Mimpi yang masih jelas di dalam ingatan, merupakan petanda, batin Bintang Tenggara. 

“Silakan Tuan Muda Bintang mengenakan pakaian yang telah tersedia di dalam almari. Diriku memilihkan langsung, semoga ukurannya sesuai.” Perempuan dewasa muda itu mengedipkan mata, lalu melangkah keluar pintu.

Sepeninggalan ketiga pengawal pribadi, Kuau Kakimerah yang masih memegang gunting dan bahan kain, bangkit berdiri. Tanpa sepatah kata pun, ia meninggalkan ruangan. Mungkin gadis belia tersebut pun baru tersadar dari sebuah mimpi buruk, yang mana di dalam mimpi buruk tersebut ia melihat seekor ‘burung’. 



Hari beranjak siang. Bintang Tenggara sedang berdiri di sisi jendela besar di dalam kamarnya. Penampilan anak remaja tersebut sudah berubah total. Ia mengenakan atasan kemeja lengan panjang serba hitam yang pas membungkus. Sepasang kerahnya kemeja mencuat lebar hampir menutup leher. Pada bagian depan kemeja, dihiasi dengan jalinan anak kancing emas bulat besar, yang tersusun enam dari atas ke bawah, di mana kepala lebah mengenakan mahkota terukir halus pada permukaannya. Sebagai bawahan, adalah celana panjang hitam dan ketat, yang ditutup dengan sepatu hitam nan mengkilap. 

Selintas pandang, anak remaja tersebut sudah pantas menyandang gelar sebagai mempelai lelaki bagi seorang ratu. 

Akan tetapi, bukan hanya penampilan anak remaja itu yang mengesankan. Di sisi luar jendela, sungguh pemandangan yang mencengangkan. Puluhan sarang lebah berukuran raksasa ibarat istana-istana diraja, bergelayutan pada dahan-dahan pohon raksasa pula. Puluhan jumlahnya, seluas mata memandang, yang mana setiap satu sarang kemungkinan dapat menampung puluhan ribu penghuni. 

Para ahli, siluman sempurna lebah beterbangan rapi dalam jumlah ribuan. Ada yang berperan sebagai pengumpul, dengan tugas mencari nektar dan serbuk sari untuk menghasilkan madu bagi seluruh anggota kelompok. Ada pemburu, pengrajin, perawat, serta penjaga. Masing-masing taat kepada peran mereka, sehingga segala sesuatu berjalan dengan teratur dan dalam kesatuan.  

Pintu kamar kembali berderit. Degup jantung Bintang Tenggara selalu melompat sedetak lebih cepat setiap kali mendengar suara menyebalkan tersebut. Seseorang harus memberi pelumas kepada engsel pada daun pintu itu… Kemana perginya lebah pekerja? Sungguh lalai, pikirnya kesal. 

“Tuan Muda Bintang…” Regis menyapa sembari menundukkan kepala. “Kami akan menemani Tuan Muda menuju kediaman Tuan Elirio.”

Bintang Tenggara berupaya menyembunyikan perasaan tak senang di kala berhadapan dengan setiap satu dari Tiga Jahanam, nama panggilan yang akan selamanya melekat kepada trio pengawal pribadi itu. Kendatipun demikian, ia telah memutuskan untuk memenuhi undangan Tuan Elirio, demi mengenal seperti apa wajah dan pembawaan si biang kerok itu.

Akan tetapi, langkahnya terhenti di kala Delfita mencegat di depan pintu. Perempuan dewasa muda itu lalu mengambil sebuah botol dari meja rias di dalam kamar, meneteskan isinya, menggosok-gosok kedua telapak tangan, lalu mengusap rambut Bintang Tenggara. Setelah disisir ke belakang, serta merta rambut ikal tak beraturan berubah klimis, hitam rapi mengkilap. 

Andai saja Lintang Tenggara yang senantiasa berlagak necis saat ini menyaksikan penampilan Bintang Tenggara, maka kemungkinan besar hawa membunuh sang kakak akan melambung tinggi. Mana mungkin Lintang Tenggara rela membiarkan si bodoh dan ceroboh menyaingi penampilannya! 


===


“Hm…?” Seorang lelaki dewasa muda yang sedang duduk dan tenggelam dalam bacaan, tetiba merasa kurang nyaman. 

“Kakak… Ada apakah gerangan…? Apakah menemukan sesuatu yang baru…? Apakah perihal Balaputera Tarukma…?”

“Bukan… Bukan perihal Balaputera Tarukma.” Lintang Tenggara bangkit berdiri, mengamati penampilan dirinya sendiri namun tak menemukan ada yang salah. Sejenak ia tertegun, lalu melangkah pelan ke arah jendela. 

“Bagaimana pandangan Kakak terhadap rencana Balaputera Tarukma?” Anjana terlihat penasaran. “Paparan yang beliau sampaikan ada benarnya…” 

“Balaputera Tarukma berpikir terlalu muluk...,” tanggap Lintang Tenggara sambil memandang ke sisi luar jendela. “Kakek tua itu tak paham situasi. Ia masih berpandangan sebagai seorang tokoh besar di Kemaharajaan Cahaya Gemilang. Kita berada di Partai Iblis, dan Partai Iblis memiliki tata nilai dan aturannya sendiri.” 

“Mengapa Kakak tiada memperingatkan beliau…?”

“Biarkan ia tersandung. Biarkan ia temukan sendiri bahwa di sana, di tengah gugusan Kepulauan Jembalang, di Pulau Pusat Durjana, berdiam ahli yang sangat mengerikan.”

“Apakah Kakak mengacu kepada Ketua Partai Iblis…? Sudah ratusan tahun beliau tak pernah mengemuka. Sebagian anggota bahkan berpandangan bahwa tokoh tersebut telah lama tiada.” 

“Oooh, beliau ada… dan beliau senantiasa mengawasi dalam diam.” Nada suara Lintang Tenggara terdengar sedikit cemas. Kecemasan seharusnya merupakan perasaan yang sudah lama hilang dari tokoh ini. 

“Jika benar Balaputera Tarukma sudah berada pada Kasta Bumi, maka ia merupakan tokoh yang sangat digdaya,” ungkap Anjana hendak memastikan. 

“Kasta Bumi Tamtama adalah peringkat keahlian Balaputera Tarukma. Ia masih berada pada tahap awal. Sedangkan lawannya… lawannya adalah tokoh yang memiliki pengalaman dan keahlian yang tak pernah surut sejak Perang Jagat berkecamuk…” 

“Sejak Perang Jagat…?” Anjana tak dapat menyembunyikan keterkejutan. 

“Lintang Tenggara…” tetiba terdengar suara menyapa, diikuti dengan seorang lelaki tua yang melangkah masuk. Tokoh yang dikenal senang menyusun siasat ini, sudah cukup lama tiada terdengar kabar beritanya. 

“Yang Terhormat Gubernur Pulau Lima Dendam.” Anjana sontak membungkukkan tubuh. 

Sumantorono mengibaskan tangan, sebagai perintah agar Anjana meninggalkan ruangan. Di hadapan Lintang Tenggara, ia lalu berujar santai, “Balaputera Ragrawira terlihat di wilayah Barat Pulau Jumawa Selatan.”


===


“Dikau tak diterima di tempat ini…” Seorang lelaki dewasa menyambut dari posisinya yang melayang tinggi di angkasa. Udara pegunungan nan sejuk mengibaskan pakaian yang ia kenakan. Bentuk tubuhnya sedang, tidaklah besar dan tinggi, serta kulit tubuhnya terlihat demikian mulus. Wajahnya sangat tampan, ramah lagi sabar. Namun, saat ini ia sedang terlihat resah.

“Cecep, diriku hanya kebetulan melintas…,” tanggap seorang lelaki dewasa di bawah. Dari penampilan yang lusuh, terlihat bahwa ia merupakan pengembara, atau mungkin pengemis, atau bahkan gelandangan. Di sampingnya, seorang gadis belia berkulit tubuh cokelat terlihat cemas.

Raja Bangkong IV melesat turun. Kini ia berdiri hadap-hadapan dengan Balaputera Ragrawira dan Lamalera. Suasana berubah hening. 

“Bukan diriku tak hendak menerima kedatanganmu…” Raja Bangkong IV menetas keheningan. “Akan tetapi, kehadiranmu akan mengundang pihak-pihak yang tak dikehendaki berhamburan datang ke wilayah Gunung Perahu.”

“Sungguh diriku memahami posisimu, wahai Cecep,” tanggap Balaputera Ragrawira. “Dikau memiliki kerajaan untuk dilindungi. Keberlangsungan rakyatmu adalah yang utama.” 

Raja Bangkong IV menanggapi dalam diam. Raut wajahnya kusut, mencerminkan bahwa sesungguhnya ia hendak mengundang tokoh di hadapannya itu ke istana utama, di mana mereka dapat bernostalgia dan bertukar ceritera. Akan tetapi, keberadaan Balaputera Ragrawira memang merupakan sebuah ancaman, baik dari dalam maupun luar Kerajaan Siluman Gunung Perahu.

Balaputera Ragrawira tiada berbasa-basi lebih lanjut. Segera ia memutar tubuh, lalu melangkah pergi. 

“Tunggu,” cegat Raja Bangkong IV. “Walau hanya beralas bumi dan beratap langit, setidaknya kita bisa berbagi sekendi arak sebelum dikau melanjutkan perjalanan.” 

“Itu sudah lebih dari cukup,” Balaputera Ragrawira menyibak senyum hangat. 


===


“Silakan…” Di dalam ruangan nan luas dan terang, terdengar suara seorang lelaki dewasa berujar pelan, diikuti oleh seorang gadis belia menuangkan cairan kental keemasan ke dalam sebuah gelas. 

Bintang Tenggara sedang duduk di ujung sebuah meja nan ramping. Sungguh aneh rupa meja tersebut, panjang ukurannya sampai beberapa meter. Jauh di hadapan sana, seorang lelaki dewasa yang mengenakan kemeja longgar duduk tegak. Sambil tersenyum, lelaki dewasa itu mengangkat gelas sampai sejajar dengan mata. 

“Adalah tindakan yang kurang menghormati tuan rumah apabila menolak ajakan bersulang,” ungkap tokoh di seberang sana, karena Bintang Tengara hanya memasang wajah datar. 

Anak remaja itu kemudian meniru. Ia mengangkat gelas, mengikuti adat istiadat setempat. Setelah itu, lawan bicaranya menenggak minuman, begitu pula dengan Bintang Tenggara mencicipi isi gelas. Rasa manis serta merta menyentuh lidah. Nikmat sekali, tekstur kental yang seolah bercampur dengan hasrat kehidupan mengalir sejuk di tenggorokan, menghangatkan perut. Tak hanya sampai di situ, inti sari tumbuhan merambat, mengisi mustika tenaga dalam di ulu hati. 

Tetita wajah Bintang Tenggara berubah tegang. Bukan, bukan akibat minuman tersebut mengandung racun, namun dikarenakan Akar Bahar Laksamana terbangun! Sebagaimana diketahui, bilamana tumbuhan siluman yang melililit pada mustika retak tersebut terjaga, maka ia akan melahap rakus tenaga dalam. Hanya dalam sekejap mata, sudah sepersepuluh tenaga dalam yang dihajar. Bintang Tenggara segera menenggak habis isi gelas, rakus sekali kelihatannya ia. 

“Ini adalah madu terbaik di antara yang terbaik, asli ramuan dari kami di Kerajaan Lebah Ledang. Madu Imperium kami menyebutnya,” ujar lelaki dewasa itu sembari mengangkat gelas. Ia lalu mengibaskan tangan, agar pelayan mengisi kembali gelas si tamu. 

Bintang Tenggara segera meraih gelas yang baru saja terisi penuh, kemudian serta merta menuangkan isinya ke dalam mulut.

“Mungkin jangan terlalu banyak…,” ujar si tuan rumah menyaksikan pemandangan nan tak beradab. Ia sedikit khawatir, karena bahkan bagi kalangan Kerajaan Siluman Lebah Ledang, kebanyakan meminum Madu Imperium dapat memabukkan. Kecuali Ibunda Ratu tentunya, yang bisa melahap madu dalam jumlah hampir tanpa batas sepanjang hari. 

Gairah menyantap tenaga dalam oleh Akar Bahar Laksamana mereda. Sepertinya, tumbuhan siluman itu sangat menggemari madu tersebut. Kendatipun demikian, ia menjadi mudah mengantuk akibat dari dampak samping Madu Imperium. 

“Namaku Elirio. Aku adalah salah satu punggawa di Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Tanggung jawabku adalah menjaga hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan tetangga.”

Kata-kata Elirio menarik perhatian. Akan tetapi, yang lebih menyita perhatian Bintang Tenggara adalah sebilah galah nan panjang di sudut jauh ruangan. Super Murid Komodo Nagaradja itu mendengus dalam hati… setelah mengambil Tempuling Raja Naga, tokoh itu hendak memangkas ‘tempuling kecil’ milikku. Kurang ajar!

“Kami menyelamatkan jiwamu dan juga jiwa temanmu. Setidaknya, tunjukkanlah sedikit rasa terima kasih,” ujar Elirio di kala mengamati perubahan pada wajah lawan bicaranya. 

“Bintang Tenggara.” Anak remaja itu memperkenalkan diri dengan singkat. “Ceritakan tentang Kerajaan Lebah Ledang,” lanjutnya pelan. 

Elirio tersenyum senang, karena akhirnya sang tamu memiliki kemampuan berbicara. “Kerajaan Lebah Ledang merupakan satu dari tiga kekuatan besar di dunia ini. Kami menempati wilayah utara, bergelantungan pada dahan-dahan raksasa. Pada permukaan tanah di wilayah timur, menetap Kerajaan Semut Suluh, dan di dalam pohon di wilayah barat daya hidup Kerajaan Rayap Radak.” 

“Mengapa Ibunda Ratu Kerajaan Lebah Ledang hendak menikahi diriku…?”

Elirio menarik napas panjang, sembari meletakkan gelas di sisi meja. “Sejujurnya, bahkan diriku tiada mengetahui alasan beliau. Ibunda Ratu senang bertingkah sesuka hati. Dan ini bukan kali pertama kami para punggawa kerajaan harus menyelesaikan permasalahan yang beliau timbulkan.” 

“Tuan Elirio juga menentang kehendak Ibunda Ratu…?” Bintang Tenggara sedikit melunak. 

“Menentang adalah kata yang terlalu keras. Kurang sepakat, mungkin…”

“Jikalau demikian, izinkan diriku dan temanku meninggalkan Kerajaan Siluman Lebah Ledang.”

“Selangkah saja dikau keluar dari wilayah kerajaan, maka nyawamu akan dijemput oleh dua kerajaan lain.” Elirio kembali bersulang. 

“Kami tak perlu meninggalkan wilayah kerajaan…,” sahut Bintang Tenggara cepat. 

“Gerbang dimensi menuju dunia kalian, tak akan dapat dirapal di dalam wilayah kerajaan. Sebagai tambahan, gerbang dimensi antar dunia tersebut hanya dapat dibuka di wilayah di mana kalian menyelenggarakan upacara adat.” 

“Apakah Tuan Elirio tak bisa menyediakan pengawalan…?”

“Pengawalan? Bisa saja. Akan tetapi, apakah diriku hendak memberikan pengawalan, adalah pertanyaan yang lebih tepat.” 

“Maksud Tuan…?”

“Menentaplah barang sejenak. Walau bukan wewenangku, nanti kita dapat mengatur agar upacara pernikahan tak berlangsung dalam waktu dekat. Aku berjanji pada waktunya nanti, kalian dapat meninggalkan tempat ini.”

Bintang Tenggara mendengarkan. Tak ada perubahan dari raut wajahnya.

“Sementara itu, kita dapat saling belajar dari satu sama lain. Menjadi teman bertukar pikiran,” tutup lelaki dewasa itu sambil menyibak senyum. Sebuah senyum yang mengisyaratkan sebuah siasat nan telah tersusun rapi.