Episode 313 - Teriris...



Di Pulau Belantara Pusat, terdapat sebuah tempat keramat bagi suku dayak dari berbagai rumpun maupun suku. Tempat tersebut dikenal dengan nama Goa Awu BaLang. Melalui goa tersebut, seorang keturunan khusus dari suku dayak tertentu, mampu membuka sebuah gerbang dimensi menuju sebuah dunia paralel. Di dalam dunia paralel tersebut, binatang siluman serangga adalah yang menjadi penguasanya.

Sesungguhnya ada yang kurang lengkap dari paragraf di atas. Memang benar bahwa binatang siluman serangga merupakan penguasa di dalam dunia paralel Goa Awu BaLang, namun bukan sembarang binatang siluman serangga. Bukan sekadar kerumunan binatang siluman serangga yang berdiam di wilayah pinggiran di tempat di mana upacara adat suku dayak berlangsung. Akan tetapi, adalah tiga kekuatan besar yang menjadi penguasa dan hidup berdampingan di wilayah pusat. 

Ketiga kelompok kekuatan besar ini hadir pada saat upacara adat bagi para remaja dayak sedang berjalan. Mereka mengamati sebagai tiga kelompok terpisah dari kejauhan. Karena satu dan lain hal, ketiganya tak hendak campur tangan, bahkan memberi ruang, bagi Dewan Dayak menyelenggarakan upacara adat di dalam wilayah mereka. 

Salah satu dari kekuatan besar tersebut adalah Kerajaan Siluman Lebah Ledang. (1). Saat ini, di aula utama kerajaan tersebut, berdiri empat ahli yang terdiri dari sepasang lelaki dan perempuan. Mereka berpakaian rapi selayaknya pejabat diraja. Dua lelaki, mengenakan kemeja putih yang dibalut dengan jaket hitam dan celana panjang senada yang membalut ketat. Kerah pada kemeja putih, mencuat keluar hampir menutupi seluruh bagian leher, serta kancing besar-besar pada jaket hitam berwarna keemasan dengan ukiran-ukiran rumit. Dua perempuan, juga berpakaian dengan nuansa serba hitam. Perbedaanya yang kentara, adalah mereka mengenakan rok yang demikian lebar sehingga hampir dapat menyapu permukaan lantai. 

Keempat ahli tersebut merupakan punggawa kerajaan untuk hal ihwal luar negeri. Menjaga hubungan baik dua kerajaan lain, adalah tanggung jawab utama mereka mereka. Hari ini, tugas mereka adalah menyambut kedatangan utusan dari dua kerajaan tersebut. Keempatnya cemas, namun sebaik mungkin menyembunyikan kegundahan di hati. 

“Selamat datang kepada yang terhormat utusan Kerajaan Siluman Semut Suluh,” ucap salah satu punggawa sambil menyibak senyum kepada dua ahli dengan perawakan yang tak biasa. Sekujur kulit tubuh mereka berwarna gelap, serta mengkilap. (2)

“Selamat datang kepada yang terhormat utusan Kerajaan Siluman Rayap Radak,” ucap punggawa kedua kepada tiga ahli berkulit tubuh seputih susu. (3)

Punggawa ketiga, kemudian melanjutkan, “Angin apakah gerangan yang membawa para utusan terhormat bertandang ke sarang kami, pada saat yang bersamaan pula...?”

“Karena telah menempuh perjalanan panjang, kami menyiapkan tempat untuk beristirahat kepada Tuan dan Puan yang mulia...,” sambungnya punggawa keempat.

“Tak perlu berbasa-basi! Langsung saja ke duduk permasalahan!” Utusan dari Kerajaan Siluman Rayap Radak menyergah. Terlihat susunan gigi yang tajam-tajam, di mana kesemua gigi di dalam mulutnya berukuran sama. 

“Ibunda Ratu Semut mempertanyakan atas alasan apakah Ibunda Ratu Lebah menyelamatkan anak-anak manusia!?” lanjut utusan Kerajaan Siluman Semut Suluh. “Tidak sampai di situ saja, Kerajaan Lebah Ledang pun menampung anak-anak manusia tersebut sampai dengan hari ini.” 

Empat punggawa yang bertugas menyambut, sudah barang tentu dapat memperkirakan alasan kunjungan mendadak dari dua kerajaan siluman lain. Salah satu punggawa tersebut bernama Elirio, ia merupakan punggawa yang sehari sebelumnya mempertanyakan dan menentang keras keputusan Ratu Lebah. Namun hari ini, ia memiliki tanggung jawab untuk berkilah, suatu hal yang tak perlu dilakukan bilamana sang Ratu Lebah tiada bertindak gegabah. 

“Ratu Lebah mengungkapkan selamat datang kepada utusan dari Kerajaan Siluman Rayap Radak dan Kerajaan Siluman Semut Suluh. Andai saja tak sedang sibuk, maka beliau pastinya akan turut datang menyambut...,” ujar Elirio sambil menyibak senyum ramah. 

Para utusan dari Kerajaan Siluman Rayap Radak dan Kerajaan Siluman Semut Suluh tiada terkesan. Lima ahli jumlah mereka, menantikan jawaban untuk disampaikan kembali kepada junjungan mereka sepulang nanti. 

Elirio menyadari bahwa bilamana dirinya menyampaikan jawaban yang salah, maka kemungkinan perang besar akan berkecamuk. Suatu hal yang patut dihindari dengan segala daya upaya yang dapat dikerahkan. Karena perang menghadapi dua kekuatan besar secara bersamaan, akan sangat berisiko bagi kelangsungan Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Di lain sisi, ia pun menyadari bahwa kegusaran dua kerajaan lain sangatlah beralasan. Dengan bantuan anak manusia, Kerajaan Siluman Lebah Ledang saat ini memberi ancaman yang nyata terhadap kedua kerajaan tersebut. 

Tambahan lagi, benak Elirio tak dapat mengenyampingkan bahwa akan ada pihak-pihak yang berniat memanfaatkan kesempatan ini untuk mencetuskan perang. Siapa yang akan menolak kesempatatan disuguhkan pada wilayah kekuasaan Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Jadi, sekali lagi, jawaban kepada kedua kerajaan itu harus dikemas rapi dan alami. 

“Seribu tahun silam, perang besar berkecamuk di antara kita ketiga kerajaan, dengan kekuatan asing. Kita terpecah belah, dan berada di ujung jurang kehancuran. Di kala itu, seorang manusia datang dan mempersatukan kita...”

“Elirio,” sela seorang utusan dari Kerajaan Siluman Rayap Radak. Sepertinya kesempatan ini bukan kali pertama keduanya bersitegang. “Jangan kau menggurui kami tentang perang di masa lalu... Jangan berkelit! Jawab saja pertanyaan kami, bahwa atas alasan apakah Ibunda Ratu Lebah menyelamatkan dan menampung anak-anak manusia!?”

“Kita hendaknya tak melupakan sejarah masa lalu, wahai Marius. Sejarah memberi pelajaran berarti.” Elirio maju selangkah, masih berupaya meneruskan dalih yang sama. “Kita berutang pada Yang Mulia Pangkalima Rajawali. Oleh karena itu, menjadi kewajiban kita membantu anak cucu beliau yang menghadapi kesusahan, sebagaimana beliau memberikan uluran tangan kepada kita dan saudara-saudara kita di kala menghadapi bencana.”

“Sejarah juga mencatat bahwa ketiga kerajaan siluman sepakat untuk tak membangun hubungan dengan manusia setelah kepergian Yang Mulia Pangkalima Rajawali,” sela seorang perempuan dari kubu Kerajaan Siluman Semut Suluh. “Semua dari kita mengetahui tentang kepahlawanan Yang Mulia Pangkalima Rajawali, serta bagaimana beliau rela berkorban. Bilamana di saat ini datang ancaman terhadap Yang Mulia Pangkalima Rajawali, maka percayalah bahwasanya Kerajaan Siluman Semut Suluh akan berdiri di garis depan membela beliau. Akan tetapi, sikap yang sama tidak serta merta jatuh kepada umat manusia, atau bahkan keturunan beliau. Atas pengalaman di masa lampau, kita juga menyadari ancaman yang dapat ditimbulkan oleh manusia kepada segenap kaum siluman serangga! Apakah Kerajaan Siluman Lebah Ledang hendak bersekutu dengan manusia demi menaklukkan dua kerajaan lain!? ”

Kalimat tanya terakhir menarik perhatian Elirio. Jika ditanggapi dengan benar, maka persoalan ini akan selesai dengan sendirinya. Akan tetapi, kasalahan sedikit saja akan berdampak panjang. Ia mengela napas, lagi-lagi menyayangkan andai saja Ibunda Ratu Lebah tak berbuat sesuka hati... 

“Josalin, saudariku...,” Elirio mengangguk pelan kepada lawan bicaranya dari Kerajaan Siluman Semut Suluh. “Apa yang akan dikau lakukan bilamana berutang nyawa kepada seorang teman...? Apakah engkau akan berdiam diri bilamana anggota keluarga teman tersebut terancam bahaya...?”

“Kita tak pernah tahu apakah mereka merupakan keturunan langsung dari Yang Mulia Pangkalima Rajawali!” Perempuan itu menanggapi cepat. 

“Hanya keturunan Yang Mulia Pangkalima Rajawali yang dapat membuka gerbang dimensi menuju dunia kita...” Elirio sudah siap dengan jawaban. Tak hendak berdebat lebih lama, ia lalu melanjutkan, “Percayalah bahwa tindakan yang diambil oleh Yang Mulia Ibunda Ratu Lebah, semata didasari oleh belas kasih. Beliau tentu menyadari ancaman yang dapat ditimbulkan oleh umat manusia, dan tak hendak mencederai kesepakatan di antara kita.” 

Para utusan dari Kerajaan Siluman Rayap Radak dan Kerajaan Siluman Semut Suluh menahan diri. Kendatipun demikian, ungkapan kecurigaan masih menghiasi raut wajah mereka. 

“Percayalah bahwasanya Yang Mulia Ibunda Ratu Lebah tak memiliki niat buruk, apalagi ambisi kekuasaan,” tutup Elirio. Wajahnya dibuat polos, kendati di dalam benak ia memutar otak. 

Bagi Elirio, Ibunda Ratu Lebah senantiasa berbuat sesuka hati, mengambil keputusan tanpa pikir panjang. Sah-sah saja, beliau adalah sang ratu, penguasa tunggal di Kerajaan Siluman Lebah Ledang. Akan tetapi, kali ini sudah sangat keterlaluan. Karena bilamana Ibunda Ratu Lebah benar-benar akan menikahi anak manusia itu, maka perang dipastikan akan tersulut. Demi kelangsungan dan kedamaian bersama, kehendak tersebut harus dihentikan. Tindakan harus segera diambil. Tak dapat ditawar!


...


Sepasang pintu besar dipajang megah. Ukiran persegi enam menghiasi permukaannya. Dua orang ahli dewasa muda sudah berdiri lama di hadapan pintu, raut wajah keduanya mencerminkan kesiapan melangkah ke medan perang. Menegaskan tekad di hati, salah satu dari mereka mendorong perlahan. Suara berderit menemani di kala sebelah daun pintu mengayun pelan, membuka lalu menutup. 

Di balik pintu, sebuah ruangan luas. Di seberang jendela besar, terdapat sebuah tempat tidur bertahtakan emas. Di atas kasur nan empuk, seorang anak remaja lelaki terbaring, karena tak dapat menggerakkan tubuh. Selain bernapas dan melirik, yang dapat ia lakukan hanyalah mendengar. 

“Kita mengemban perintah...” bisik salah seorang ahli yang telah tiba di hadapan tempat tidur. 

Bintang Tenggara yang terbaring tiada berdaya di atas kasur, melirik ke samping. Dua ahli siluman lebah, tebaknya di dalam benak. Berdasarkan pendengaran dan pengamatan, ia sudah dapat memperkirakan di mana dirinya kini berada. Dari tiga kerumunan pasukan siluman sempurna yang mirip dengan gumpalan awan di langit, salah satunya telah datang menyelamatkan dirinya dan Kuau Kakimerah yang hampir dimangsa oleh binatang siluman serangga. Jadi, tempat aneh ini adalah istana kerajaan siluman yang mirip dengan Kerajaan Siluman Gunung Perahu di wilayah barat Pulau Jumawa Selatan.

Akan tetapi, tiada pernah terlintas di dalam benak anak remaja itu bahwa dirinya akan mengalami nasib seperti ini. Dengan mengerahkan kemampuan khusus, ahli di kerajaan ini seolah dapat meyegel kemampuan gerak. 

“Amadio, bukankah tindakan kita ini merupakan penghianatan terhadap Ibunda Ratu...?” tanggap seorang dengan bisikan. “Hukuman mati menanti kita!”

Ibunda Ratu... benak Bintang Tenggara berkelebat kepada sosok seorang perempuan dewasa yang super gemuk dan lahap menyantap madu di atas singasana persegi enam. Andai saja Super Guru Komodo Nagaradja dan Kakek Ginseng Perkasa tak kehilangan kesadaran, kemungkinan besar dua ahli tersebut dapat membantu melepaskan diri dari keadaan ini. Hukuman mati... batin Bintang Tenggara. Apakah maksudnya...? Jangan-jangan... Tujuan kedatangan mereka...

“Regis, kita dipercaya dan mendapat perintah langsung dari Tuan Elirio... Demi kelangsungan kerajaan, demi mencegah perang yang dapat memakan korban rakyat tiada berdosa, adalah tanggung jawab kita untuk menuntaskan tugas ini!” 

“Tapi... Tapi, apabila Ibunda Ratu menangkap kita...” 

“Sudahlah! Aku telah menyusun rencana, kita tak akan melakukan tindakan ini dengan tangan kita sendiri...”  

“Maksudmu...?”

Derit bunyi daun pintu kamar tidur terdengar kembali. Membuka, lalu menutup perlahan. Seorang perempuan datang menuntun seorang gadis belia.

“Delfina, kupikir kau tak akan datang. Lambat sekali gerakmu...?” cibir Amadio. Meski, gelagatnya berubah menjadi sedikit lebih tenang. 

“Hei!” Perempuan dewasa muda itu menyergah, “Kau kira mudah menyeludupkan gadis ini...?” 

Bintang Tenggara yang masih terbaring tiada berdaya, mendapati Kuau Kakimerah tiba. Akan tetapi, aneh sungguh pembawaannya. Sorot mata gadis belia tersebut terlihat kosong. Meski dapat melangkah, ia seperti di ambang antara sadar dan tidak.

“Jadi, apakah rencana kita...?” suara Regis masih terdengar bimbang. 

“Tuan Elirio mempercayakan dan mengembankan tugas penting ini kepada kita, namun tak memberi perincian lebih lanjut. Oleh karena itu, kita akan secara kreatif memanfaatkan gadis ini.” 

“Jadi...?”

“Ah, Regis! Kau terlalu banyak tanya!” sela Delfina. Perempuan dewasa muda itu lalu mengeluarkan sesuatu berwarna hitam, yang terbuat dari logam. Dalam keadaan terbaring, sulit bagi Bintang Tenggara mencermati dengan seksama. Semacam senjata, batin anak remaja itu menyadari ancaman jiwa yang datang mendekat! 

“Cepat, bantu lucuti pakaian anak lelaki ini!” sergah Amadio. 

Bintang Tenggara melotot ke arah tiga ahli yang bergerak ke arahnya. Ingin rasanya ia mengumpat, menendang, mengamuk. Akan tetapi, tak ada suara maupun gerakan yang dapat dilakukan... ketika celananya dipeloroti! 

“Ambil ini!” perintah Delfina kepada Kuau Kakimerah sambil menyerahkan senjata rahasia di dalam genggaman. Gadis belia yang tak sadarkan diri itu mematuhi lalu melangkah ke arah Bintang Tenggara yang masih terbaring tiada berdaya, dan sudah tak lagi mengenakan celana! 

Di kala Kuau Kakimerah datang mendekat, barulah Bintang Tenggara menyadari bahwasanya gadis belia tersebut sedang memegang... sebuah gunting!

Bintang Tenggara lalu merasakan jemari mungil dan sejuk Kuau Kakimerah yang menjangkau kemaluannya. Gadis remaja tersebut lalu mengangkat perlahan seonggok daging nan lunglai dan comel, serta lemah tiada berdaya itu. 

“Oh!” Regis hampir melompat di tempat menyadari rencana matang kedua rekannya. “Adalah ganjaran berat bilamana kita membunuh anak remaja ini karena berarti penghianatan kepada titah Ibunda Ratu. Akan tetapi, bila si gadis belia yang entah bagaimana memperoleh gunting dan memotong kemaluan temannya sendiri, maka Ibunda Ratu tentu tak akan menikahinya! Mana mungkin Ibunda Ratu akan menikah dengan seorang kasim!” (4)

“Ssssttt...” Amadio berdesis, karena Regis terlalu berisik. 

“Adapun alasan atas tindakan sungguh tercela gadis ini, adalah didasari rasa cemburu dan tak rela pujaan hatinya menikahi perempuan lain!” lanjut Regis dengan nada penuh kemenangan. Akhirnya ia dapat melihat secara keseluruhan rencana yang telah disusun rapi. 

“Lakukan cepat!” Delfina kembali memberi perintah kepada Kuau Kakimerah, yang saat ini berperan sebagai bonekanya. 

Di saaat Kuau Kakimerah menjinjing seonggok daging lemas dan menempelkan bilah gunting nan dingin pada bagian pangkalnya, rasa malu dan marah bercampur aduk di antara sensasi yang tak biasa. Ingin rasanya Bintang Tenggara menjerit, meronta, mengamuk. Akan tetapi, tak ada suara maupun gerakan yang dapat ia lakukan... 

Dalam hati ia memaki kepada ketiga ahli yang menyusun rencana nan demikian keji. Siapa Tuan Elirio!? Siapa yang tega memberi perintah yang sedemikian zalim!? Bukan kesalahan dirinya si Ibunda Ratu gemuk itu hendak menikahi! Dirinya adalah korban! Mengapa!? Jahanam! Hentikan! Bunuh saja aku! Jangaannn...

“Sreeeet!” 

Suara bilah gunting nan tajam di tangan Kuau Kakimerah mengatup, diiringi dengan suara daging tanpa tulang yang teriris perlahan. Bintang Tenggara merasakan sakit nan tak terperi di bagian pangkal pahanya, di mana seonggok daging yang tadinya bergelayutan, yang selama tujuh belas tahun hidupnya belum sepenuhnya dipergunakan sebagaimana mestinya... kini tak lagi terasa akan keberadaannya.


 Catatan:

(1) ledang /lédang/ kl a putih kekuning-kuningan; bercahaya (seperti awan kena sinar matahari)

(2) suluh/su·luh/ n 1 barang yang dipakai untuk menerangi (biasa dibuat dari daun kelapa yang kering atau damar); obor; 2 kl pengintai; penyelidik; mata-mata; penyuluh;

(3) radak/ra·dak/ Mk, meradak/me·ra·dak/ v 1 berjalan melanggar; 2 menerobos; menyerang; mendobrak

(4) kasim/ka·sim/ n lelaki yang dikebiri