Episode 91 - Revival



Kereta kuda yang ditumpangi Alzen dan Leena berjalan melewati desa di West Greenhill, bernama Iksel Vineyard. Sebuah desa kecil dengan bangunan mewah nan besar, dimana sekitarnya hanya berisi kebun anggur yang luas. 

Saat melewati pagar rumah besar itu, ada papan bertuliskan, Mirtel Manor.

“Alzen?” Leena memiringkan kepalanya. “Alzen? Alzen!”

“Huh!? Kenapa-kenapa!? Ada apa?” Alzen terbangun dari lamunannya selagi mereka berdua duduk di atas kereta kuda.

“Huh... kamu daritadi melamun gitu, mikirin apa sih?” tanya Leena sambil mendekati wajahnya ke Alzen.

“Ahh tidak-tidak, bukan apa-apa.” Alzen mengayun-ayunkan tangannya. “Aku hanya mengingat-ingat kejadian 6 bulan terakhir.”

“Kamu belum bisa beranjak dari kejadian itu ya.” Leena melipat tangan dan melepas nafas dengan ekspresi menggerutu. “Memang sih, kejadian itu sulit dilupakan, tapi kita kan sedang...”

“Maaf-maaf, pikiran-pikiran ini tidak bisa keluar dari kepalaku.” balas Alzen. “Ngomong-ngomong kau tahu? Setelah kamu banyak bercerita padaku, Pak Lasius sesekali menjenguk dan menceritakan yang selanjutnya terjadi. Kejadian yang kamu tidak lihat sesudahnya.”

“Huh? Ohh iya...”

“Pak Lasius bilang begini...”

***

“Ini semua salah kalian,” kata Yana sambil menatap mereka dengan pandangan mata yang kosong. “Aku...” Yana seketika menangis dan membasahi pipinya. “Semakin jatuh dalam kegelapan.”

Semakin Yana terluka maka akan semakin banyak aura hitam menggerogoti tubuhnya, di waktu yang sama membuatnya menjadi semakin kuat dari sebelumnya.

Setengah tubuh bagian kiri Yana berubah menjadi sesosok iblis, separuh wajahnya berubah menjadi sesosok Leak dan tubuhnya berubah menjadi gerigi berwarna hitam pekat dan garis-garis cahaya merah. Tangan kirinya memegang pedang satu lagi, di wujudnya sekarang ini, Yana memiliki dua pedang pada kedua tangannya.

“Aku hanya ingin membalas dendam pada Rangda, tapi... kenapa kalian.” kata Yana dengan menangis melalui mata kanannya. 

Yana melesat cepat, memutar-mutar tubuhnya berbarengan dengan putaran kedua tangannya dan...

“Darkness Execution !!”

CRASHHHTT !!

Dari bawah kiri ke atas kanan, Yana menebas Lasius dengan kedua pedangnya.

“UAAAAGHHH !!” Lasius berteriak keras sekali, tubuhnya yang saat ini terbuat dari api, berhembus ke belakang dan perlahan berubah menjadi cipratan darah dalam jumlah besar. 

Lasius segera kembali ke wujud aslinya, bola matanya berputar ke atas hingga putih semua, lalu segera ia terkapar pingsan... 

Brugh!

Lasius berbaring di atas lantai dengan lumuran darah merah mengalir di bawahnya.

“LASIUS !!” sahut Aeros keras-keras.

***

“Setelah ia menceritakannya padaku, ia bilang kini ia memiliki dua luka tebas yang sangat besar di badannya.” Kata Alzen mengingat yang dikatakan Lasius dulu. “Dan begitu penglihatanku kembali, aku melihatnya sendiri. Ia membuka pakaiannya dan menunjukkan luka yang sangat besar dari ujung pinggang kanan hingga ke pundak kirinya. Tapi yang aku sayangkan, wajah pak Lasius terlihat lebih sedih dibanding sejak pertama kali aku mengenalnya.”

“Pak Lasius hanya menceritakan ini padamu seorang ya?” balas Leena. “Aku baru mengerti sekarang, kenapa pak Lasius sekarang lebih banyak menggunakan pakaian yang menutupi seluruh badannya.”

“Dan kini ia lebih sering mengenakan pakaian hitam, aku tak tahu apa ada artinya tapi aku benar-benar menyesal tak bisa melakukan apa-apa saat itu.”

“Orang berubah karena suatu hal. Alzen,” balas Leena. “Kau harus belajar menerimanya.”

“...” Alzen tertunduk menutupi matanya yang hampir menangis. 

“...” Leenapun ikut terdiam.

Selang beberapa menit, mereka tiba di gerbang barat, perbatasan Greenhill-Valencia. Jalur khusus yang hanya bisa dilalui melalaui tiket berbayar untuk pedagang dan petualang. Namun para petualang pemula lebih memilih jalur yang tidak aman yaitu melalui jalur disebelahnya yang dikenal dengan nama Sleeping Forest. Melewati desa South Gale dan North Gale. 

“Di waktu yang hanya beda beberapa hari,” kata Alzen. “Pak Aeros mengunjungiku dan datang untuk menceritakan yang selanjutnya terjadi.”

“Pak Aeros bilang begini...”

***

Di saat yang sama, Barrier kuat yang dicast Glaskov ikut terbelah dan belahannya sangatlah besar.

“...!!?” Glaskov terdiam dengan badan gemetar dan mata terbuka lebar-lebar, sambil tersenyum merinding. 

“Ohog! Ohog!” Lasius terbatuk-batuk, badannya lemas, tapi masih terus mencoba bangkit.

“Huh?” Yana tak habis pikir, selagi memandang Lasius ia mengusap-usap air matanya. “Semangatmu sungguh luar biasa. Kau bahkan masih hidup setelah menerima serangan sekuat itu.”

“Benar kata anak itu...” kata Glaskov sambil menatap bariernya yang pecah dan menghilang perlahan-lahan. “Kita harus kabur sekarang juga.”

“Yang benar saja! Kalau kita melarikan diri sekarang, monster keparat itu akan mengejar anak-anak.” Aeros segera mengeluarkan kedua pisau dari ikat pinggangnya. “Aku harus serius sejak awal.”

“Kalau kau ternyata masih hidup.” kata Yana. “Mungkin seharusnya aku menargetkan kepalamu lebih dulu.”

Aeros melebarkan tangan dan kaki, lalu membungkukkan badannya. 

“Wind-God !!”

Aeros mengaktifkan kemampuan Aura tipe Enchanter, dimana ia bukan hanya mengubah kedua pisaunya menjadi pedang yang berselimut angin hijau, tapi juga merubah sosok dirinya menjadi wujud yang berbeda. Rambutnya menjadi jauh lebih panjang dan memancarkan sinar berwarna hijau terang serta sekeliling tubuhnya diselimuti angin yang kencang.

“Huh!?” Yana memandang Aeros yang kini telah berubah. “Masih banyak lagi orang yang merepotkan di bela-“

“UGHH !!”

Perut Yana tertikam dan ia melihat wajah Aeros tepat di depannya yang geram dan kesal padanya.

Selagi menikam tepat di tengah-tengah perut Yana, Aeros berkata di depan wajahnya. “Hei monster brengsek! Bisakah kau berhenti memburu orang-orang kami!”

“Ugh... enyahlah kalian! Kalian semua yang menghalangi jalanku!” jawab Yana merintih kesakitan.

“Jawaban yang salah!” Aeros menarik pedangnya yang satu ke kanan dan yang satunya kekiri, hingga perut Yana terkoyak hingga kedua sisi.

“UAGHHH !!” Yana berteriak keras sekali sambil menggulang-gulingkan tubuhnya di atas lantai dan semakin ia terluka, semakin banyak kegelapan keluar dari tubuhnya, yang terus menerus menggerogoti tubuhnya.

Aeros berdiri di belakang Yana, memutar kedua pedangnya hingga dipegang terbalik di genggaman tangannya. “Kau pikir aku akan diam menunggumu berubah lagi?!” Aeros memutar tubuhnya dan bergerak cepat seperti cakram yang siap berputar mundur untuk menebas Yana kembali lalu berputar kembali ke arah yang berlawanan untuk menebasnya secara beruntun berulang kali.

“UAGHHH !! UAGHHH !! UAAAGHHHH !!” selagi digerogoti dan tidak bisa berbuat apa-apa, Yana terus menerus ditebas dari depan lalu belakang secara terus menerus.

“BRENGSEK !!” teriak Yana keras-keras. “Sebenarnya siapa kalian ini!? Kenapa kalian bersikeras memusnahkanku? Aku hanya berniat membalas dendamku pada Rangda! Tapi kenapa?! Kenapa kalian terus menghalangiku !!”

“Cih! Dasar monster keparat! Bukannya sudah jelas, kan?! APA HAKMU MEREBUT NYAWA SAHABAT KAMI KAZZEL !!” bentak Aeros sambil menangis namun ia masih belum berhenti menebas-nebas Yana. “Hyaaaa !!”

Di tebasan terakhir dan terkuat dari Aeros, Yana tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia sudah bertarung terlalu lama seorang diri melawan lebih dari satu instruktur yang adalah pengguna aura yang sangat-sangat kuat. Yana tersungkur di tanah dengan separuh tubuhnya yang sudah berubah menjadi monster dan separuhnya lagi dengan perubahan yang tak sempurna.

“Hah... hah... akhirnya...” Aeros melepas perubahan Wind Godnya dan kembali ke wujud normal. “selesai juga.” 

***

Di perjalanan melewati gerbang barat antar perbatasan Greenhill-Valencia. Dari paparan hutan hijau yang lebat, seketika berubah menjadi dataran padang rumput yang membentang luas disertai deru angin yang kencang.

“Adek-adek! Kita sudah sampai Valencia!” kata pengemudi kereta kuda. 

“Baik, terima kasih pak!” sahut Alzen dan Leena berbarengan.

“Begitu saja?” tanya Leena yang setengah tidak percaya. “Jadi kita menang melawan Yana, lantas kenapa...”

“Begitu juga dengan reaksi saat mengetahui itu. Aku juga sulit mempercayai bahwa kita mampu mengalahkan Yana.” balas Alzen. “Meski saat itu aku belum bisa melihat, tapi aku bisa membayangkan apa yang disampaikan Pak Aeros waktu itu.”

“Apa? Apa yang terjadi setelah itu?”

“Pak Aeros bilang, setelah Yana berhasil dikalahkan olehnya, disana ada...”

***

“Tidak, tidak, tidak, tidak... ini tidak seharusnya terjadi.” kata orang aneh yang tiba-tiba sudah ada di samping Yana. Ia adalah seorang pria tinggi dengan pakaian jaket tebal panjang, mengenakan topi pesulap yang semuanya berwarna hitam.

“Kau...” tanya Aeros dengan penuh waspada. “Siapa? Kau siapa? Kau muncul darimana?!”

Sambil jongkok santai di samping Yana yang terkapar. Pria dengan topi pesulap itu berkata pada Yana. “Sang Raja seharusnya berhasil keluar dan sudah sangat layak menjadi boneka terbaikku. Tapi... hmm... kenapa sudah kalah duluan?”

“Hei jawab aku! Kalian itu siapa...” tanya Aeros sambil menghunuskan pisau pada mereka.

“Kau jangan sekali-sekali berpikir menjadikannya bonekamu... Magician.” kata seorang Dark Elf yang melewati Aeros tiba-tiba, yang entah muncul darimana. “Ini kejadian yang langka sekali. Boss Anomali, tapi memiliki kepribadian seperti manusia. Dimana lagi kita akan menjumpai yang seperti itu.” 

“Hehehe... kau sudah sangat mengenalku ya. Tuan Dark Elf.”

Sementara Glaskov dibuat merinding dan bola hitam di matanya mengecil seperti tahu apa yang akan dilakukan orang-orang ini. Ia mundur perlahan dengan gemetar dan...

“Hehehe... Leonid Glaskov, kau sudah besar rupanya.” kata pria tua ubanan berambut panjang, mengenakan sebuah jubah hitam dari kain dengan tongkat kayu yang ujung atasnya adalah tengkorak manusia. Ia menutupi kepalanya yang beuban dengan hoodie, yang tiba-tiba saja muncul di samping kirinya.

“Hwaaa !! Ka-kau !!?” Glaskov jatuh tersungkur dan melihat sosok kakek tua itu yang pelan-pelan membuka hoodienya.

“Hehehe... aku memang sudah tua,’ kata pria tua itu sambil melepas hoodienya secara penuh. “Tapi aku harap kau masih mengingatku dengan baik. Hihihihi...” balasnya dengan tawa yang seram.

“Tidak! Tidak mungkin! Kau tak seharusnya ada di benua ini!” Glaskov yang tersungkur berjalan sambil menyeret-nyeret dirinya ke belakang. “Kalian bukan dari sini, kalian tidak seharusnya berada disini!” 

“Tidak ada yang tidak mungkin Glaskov, kau seharusnya sudah mengetahui itu.” balas pria tua itu.

“Ka-kalian siapa?!” ancam Aeros. “Jawab aku! Kalian ini siapa?!”

“Woh! Benarkah?” Si pesulap itu beranjak naik seolah tak peduli lagi dengan Yana. “Glaskov ada disini?”  

Pesulap itu tersenyum dan membungkukkan badan dan mengayunkan tangan seperti menyambut Glaskov dengan hormat. “Hei Glaskov, ayolah, aku ajak sekali lagi untuk bergabung dengan kami.”

“Jujur saja, kami perlu sekali kemampuanmu.” Pesulap itu berjalan mendekati Glaskov pelan-pelan. “Bukan hanya membaca pikiran, kau juga bisa menjejalahi memori hanya dengan menyentuhnya.” Pesulap itu mengangkat kedua tangannya dengan bergairah. “Woh, siapa lagi yang bisa seperti itu!”

“Tidak! Tidak! Pergilah kalian orang-orang tidak normal!” jawab Glaskov sambil mengibas tangannya dengan panik dan menyeret dirinya mundur.

“Hahahaha!” Si pesulap itu tertawa keras. “Dia bilang apa tadi?”

Dark Elf itu berjalan sambil menarik kedua pisaunya dan memutar-mutarkannya pada kedua tangannya. “Apa kubunuh saja?”

“Woa! Woa! Woa! Tahan dulu, tahan dulu.” Si pesulap itu menahannya. 

“Apa hakmu mengaturku?” tanya Dark Elf itu dengan dingin.

“Cih!” Si pesulap itu dibuat kesal sambil mengkertakan gigi. “Yang punya kemampuan seperti Glaskov itu tidak banyak. Jarang sekali, mungkin juga satu-satunya. Jangan kau main bunuh-bunuh saja. Ayolah Glaskov, ayo... bergabunglah dengan kami.”

“Hihihihi...” pria tua itu tertawa seram sambil menatap Glaskov. “Kalau kau mau bergabung, kami masih merekrut orang loh.”

“Hei! Kalian! Berhenti mengabaikanku! Dan segera jawab aku! Kalian ini sebenarnya kawan atau lawan!” tanya Aeros dengan lantang. “Dan Glaskov! Kau kenal orang-orang ini? Siapa orang-orang ini?”

“Aeros! Ssssttt...” Glaskov membujuk Aeros untuk diam. Ia menyampaikan isyarat itu dengan hati-hati sambil tubuhnya gemetar merinding.

“Ahh?” Aeros tak mengerti maksud Glaskov, tapi ia tetap menurutinya.

“Hahahaha! Hahahaha! Ada seseorang yang dikacangin.” Pesulap itu tertawa santai. “Hahahaha!”

“Hmmph?” Dark Elf itu menoleh ke arah Aeros. “Atau dia saja yang kubunuh?”

“Eits, eits, eits, tunggu-tunggu. Kau tidak lihat apa yang terjadi dengan Sang Raja. Bisa-bisa kita jadi diincar di seluruh negeri ini.”

“Oke sudah cukup,” kata ketua mereka di hadapan Yana yang sudah berdiri kembali dengan wujud semula seperti saat ia muncul dihadapan Alzen. “Kalian terlalu banyak bicara.”

“Huh? Ada satu orang lagi!?” kata Aeros dalam hati yang telat menyadarinya.

“Kita pergi.” Kata ketua mereka. seseorang yang mengenakan jubah hitam, dengan hoodie menutupi wajahnya. Namun tetap terlihat rambut hitamnya tanpa sosok wajah yang kelihatan jelas. Tubuhnya lebih pendek dibanding ketiga anggotanya.

Slushh...

Setelah ketua mereka memberi instruksi, keempat orang misterius itu satu persatu langsung hilang begitu saja menjadi asap hitam.

“Maaf ketua maaf...” kata Pesulap itu dengan santai, sebelum menghilang.

Slushh...

“...” kemudian Dark Elf itu menghilang.

Slushh...

“Aku harap kita bertemu lagi, Glaskov...” dan terakhir pria tua itu mengilang.

Slushh...

Setelah mereka pergi Glaskov mengacak-acak rambutnya dan wajahnya membiru disertai keringat dingin.

“Hwahhhhh....” sementara Yana kini berdiri kembali dengan kondisi 100 persen seperti saat awal ia dibangkitkan. 

“Ti-tidak mungkin!!?” kata Aeros. “Kita harus sekali lagi melawannya!?” 

***