Episode 311 - Terjebak



Rambutnya setengah keriting dan menggantung panjang sampai menyentuh bahu, mengalun ringan ibarat lembar-lembar sulur yang dibelai lantunan angin. Bentuk wajah oval, dengan dagu kokoh namun tak terlalu panjang, yang mana lekukannya dapat ditangkup dan dibelai dengan menggunakan kedua telapak tangan. Bentuk hidungnya tergolong mancung, dipadu-padankan dengan bibir tipis dan sepasang mata yang menatap dalam. 

Postur tubuh tinggi ramping, tak terlalu berisi namun membangun kesan ideal. Ia mengenakan semacam rompi tanpa lengan, serta tanpa kancing di bagian dada. Dengan demikian, penampilan lika-liku otot di bahu terasa ketat, dan celah dadanya terlihat bidang dengan lekukan yang tersembunyi sembari menyimpan misteri. 

“Menurut hematku…,” Sangara Santang berbisik, “sebagai salah satu Raja Angkara, sosok Wisanggeni tampan sekali…” 

Kum Kecho menoleh pelan layaknya gerak lambat ke arah teman seperjalanannya. Sudah beberapa hari belakangan ini dirinya dan Sangara Santang menghabiskan waktu bersama, sehingga sangat sulit dipercaya akan apa yang baru saja terdengar. Kedua mata Kum Kecho kemudian menyipit, menunjukkan reaksi tak percaya akan apa yang telinganya tangkap. Raut wajahnya bahkan secara tegas menunjukkan ketidaksetujuan, karena tiada pernah seorang lelaki memuji ketampanan sesama lelaki. Tiada pernah!

“Perhatikan dengan seksama raut wajah dan postur tubuhnya…,” sambung Sangara Santang sambil mengelus-elus janggut tipis. “Benar-benar tampan!”

“Apakah Kakak Sangara hendak bertarung, ataukah mungkin hendak menjalin hubungan khusus dengan Raja Angkara itu…?” cibir Kum Kecho. 

“Oh… Bukan, bukan itu maksud dari kata-kataku…” Tetiba Sangara Santang terlihat salah tingkah.

“Majulah kalian anak-anak anjing!” hardik Wisanggeni di kejauhan. 

“Wahai Wisanggeni si Raja Angkara… sungguh kata-katamu bertolak belakang dengan penampilan!” tanggap Sangara Santang, yang jelas masih terkagum-kagum akan ketampanan lawan di hadapan.

“Ngiiinggg….”

Dengung suara Seribu Nyamuk Buru Tempur yang menyebar membuat bulu kuduk merinding. Kum Kecho sudah tak tahan dengan kata-kata yang keluar dari mulut Sangara Santang. Saat ini bukan waktunya terpesona pada ketampanan lawan. Di dalam benak, anak remaja itu menyadari bahwa Wisanggeni saat ini tak setangguh dahulu kala dan bukan tak mungkin untuk ditaklukkan. 

Terlepas dari itu, Kum Kecho merasa beruntung bertemu muka dengan salah satu Raja Angkara. Bukan, tentu bukan karena ketampanan tokoh tersebut, melainkan karena dirinya memperoleh kesempatan mencari tahu keberadaan Raja Angkara yang lain, yang mengambil nyawa ibundanya!

Seribu Nyamuk Buru Tempur berbaris berbanjar di hadapan, ibarat membentuk sebuah garis pemisah di antara kedua kubu. Seketika kemudian, beberapa ekor nyamuk segera merangsek maju menyasar lurus ke arah lawan! 

“Srash!” 

Wisanggeni melambaikan tangan, dan kobaran api berwarna biru tua serta merta memberangus beberapa ekor nyamuk tersebut. Akan tetapi, nyamuk-nyamuk yang belum maju tiada menjadi sasaran serangan. Kum Kecho menarik kembali binatang silumannya. 

“Hm…?” Sepasang alis Sangara Santang berkedut. “Terdapat dinding formasi segel tak kasat yang mengelilingi wilayah bukit, yang berperan membatasi ruang gerak Wisanggeni…,” ujarnya memperoleh pencerahan. 

“Benar,” sahut Kum Kecho yang sudah mengetahui keadaan tersebut usai memanggil Roh Antang Bajela Bulau. “Dia dan jurus unsur kesaktian api racun tiada dapat keluar dari wilayah perbukitan ini.” 

“Oh… Jadi itulah alasan mengapa dikhabarkan tiada ahli yang selamat bila berada di dalam wilayah Bukit Pasir Berbisik. Pantas saja…”

Kum Kecho mengangguk pelan. 

“Akan tetapi, siapakah gerangan yang mengurung ahli sekelas Raja Angkara…?” Sangara Santang semakin penasaran. 

“Pangkalima Rajawali…” 

“Tentu saja!” Sangara Santang tentu pernah mendengar ceritera tentang Raja Angkara yang mengamuk di Pulau Belantara Pusat, lalu ditumpas langsung oleh Pangkalima Rajawali. Akan tetapi, baru kini ia mengetahui bahwa Pangkalima Rajawali tiada dapat membunuh Wisanggeni, sehingga mengurungnya di dalam formasi segel di Bukit Pasir Berbisik ini. “Pangkalima Rajawali hanya menyegel diri Wisanggeni, sedangkan ahli lain dapat leluasa keluar dan masuk wilayah bukit ini.”

Kun Kecho tak terlalu mengindahkan kata-kata Sangara Santang. Benaknya sedang berputar keras mencari cara untuk merobohkan Wisanggeni tanpa membunuh. Ia bertekad menginterogasi tokoh tersebut. Kesempatan mencari tahu keberadaan pembunuh ibunya tak diperkenankan lepas begitu saja. 

“Adik Kum… Walau kita belum lama berkenalan, diriku dapat memperkirakan bahwa dikau memiliki kemampuan di atas rata-rata. Bila perkiraanku tiada keliru, maka meski dikau berada pada Kasta Perak Tingkat 5, kemampuan tempurmu adalah setara dengan ahli Kasta Emas Tingkat 1.” 

Kum Kecho sedikit merasa risih karena hanya disapa dengan kata ‘Kum’. Nada suara Sangara Santang pun terlampau mesra. Namun demikian, tetap anak remaja itu menjawab, “Begitu Pula dengan Kakak Sangara… Walau berada pada Kasta Emas Tingkat 3, namun kekuatan tempur Kakak setidaknya setara dengan ahli Kasta Emas Tingkat 5.”

“Sedangkan Wisanggeni berada pada Kasta Emas Tingkat 9,” sahut Sangara Santang cepat. “Dahulu mungkin ia jauh lebih tangguh, tapi kini kemampuan tempurnya justru terbatas. Bersama-sama kita dapat menaklukkannya.”

“Waspada terhadap unsur kesaktian api beracun itu… Jangan sampai terkena api biru tua itu sedikit pun, karena racunnya akan menyebar cepat melalui luka bakar.” Usai mengingatkan, Kum Kecho pun merangsek maju memasuki wilayah perbukitan!

Di lain sisi, Wisanggeni si Raja Angkara nan tampan, menanti sabar. Kedua matanya seolah bersinar karena dipenuhi dengan harapan tatkala menyaksikan lawan mendekat…

Tapak Cahaya Suci!

Tak tanggung-tanggung, Kum Keco segera melancarkan bauran jurus persilatan dengan jurus kesaktian. Merapal jurus pamungkas, telapak tangan nan bercahaya mengincar lurus ke arah dada lawan. 

Menyadari bahwa jurus persilatan yang dikerahkan bukan jurus sembarang, maka Wisanggeni melompat mundur pada detik-detik akhir. Gerakannya cepat, dan tak memberi ruang bagi Kum Kecho untuk menyusul dan melancarkan serangan susulan. 

“Duak!” 

Wisanggeni sigap menyilangkan kedua lengan di depan dada, ketika muncul dari balik tubuh Kum Kecho sebentuk bayangan yang berkelebat cepat. Mencuri serangan, Sangara Santang menyarangkan tendangan. Sungguh kecepatan serangannya tiada dapat diterima nalar.

Walhasil, Wisanggeni terpukul mundur. Ia terpental jauh ke arah bukit. Meskipun demikian, baik Kum Kecho maupun Sangara Santang tiada mengejar. Keduanya sadar betul bahwa Wisanggeni sengaja hendak memancing mereka lebih jauh ke dalam wilayah bukit. Jebakan seperti ini terlalu cetek bagi kedua tokoh kali ini. 

“Srash!” 

Benar saja… Bahkan sebelum Wisanggeni menjejakkan kaki di kejauhan, kobaran api berwarna biru tua sudah menyala di belakang Kum Kecho dan Sangara Santang. Seketika itu juga kobaran api tersebut membentang lebar dan bergulung tinggi ibarat gelombang pasang, yang mencapai lima meter tingginya. 

Kum Kecho dan Sangara Santang sudah terjebak! Di belakang mereka adalah gelombang api biru, yang panasnya terasa membakar dan racunnya memberangus, bergulung deras dan semakin mendekat. Di hadapan, Wisanggeni tengah menanti mangsa datang ke pangkuannya. 

Dalam keadaan terjepit, Sangara Santang meraih kerah belakang Jubah Hitam Kelam, dan membawa tubuh Kum Kecho melesat tinggi ke angkasa. Di atas sana, keduanya pun melayang ringan. Sebagaimana diketahui, ahli Kasta Emas dapat terbang bebas, dan ahli Kasta Perak dapat melayang di udara.

Menanggapi betapa mudahnya lawan melepaskan diri, Wisanggeni pun melesat tinggi dan menyusul. Kini, ketiganya terlihat bersiaga di atas sana. 

“Siapa menyanggka bahwa seekor anjing mewariskan jurus anjing kepada anak anjing…,” gerutu Wisanggeni. 

“Hei! Jaga mulutmu!” Sangara Santang menghardik penuh amarah. 

Kum Kecho, di lain sisi, menyadari bahwa komentar Wisanggeni mengacu kepada Sang Maha Patih, jurus Tapak Suci, serta dirinya sendiri. Rahasia akan dirinya terbongkar sudah. Oleh karena itu, lawan kali ini tiada boleh dibiarkan berkeliaran. Wisanggeni harus segera dibungkam!

Wisanggeni mengangkat kedua lengan setara rusuk. Telapak tanggannya membuka, lalu jemarinya menekuk seperti hendak menyakar. Di saat itu pula, bola-bola api biru tua seukuran gentong berkobar menyala mengelilingi Kum Kecho dan Sangara Santang. Di sisi atas, bawah, depan dan belakang, belasan jumlahnya bola-bola api mengepung dari segala penjuru. 

Perlahan, bola-bola api lalu bergerak melayang mengelilingi kedua sasarannya. 

“Sepertinya kita berada dalam bahaya be…,” Sangara Santang menggerutu. 

“Swush!” 

Belum sempat Sangara Santang menyelesaikan kata-katanya, Wisanggeni telah mengatupkan kedua telapak tangan. Di saat yang bersamaan pula, belasan bola-bola api yang tadinya berputar mengelililingi melesat deras dalam lintasan yang melengkung! 

“DUAR!” 

Ledakan api berwarna biru tua membakar dalam wujud sebuah pusaran air raksasa. Wilayah dalam radius puluhan meter menjadi sasaran amuk api. 

Tapak Cahaya Suci!

Kum Kecho tetiba muncul tepat di atas tubuh Wisanggeni. Telapak tangannya yang bersinar mengincar batok kepala. Si Raja Angkara masih cukup sigap menahan serangan dengan memasang kedua belah lengan ke atas atas kepala. Kendatipun demikian, kekuatan hantaman telapak tangan yang mengandung jurus bauran menjatuhkan tubuh Wisanggeni sampai terhenyak ke tanah, dan menciptakan sebuah kawah. 

Masih melayang di atas, Kum Kecho menyaksikan tanah dan debu yang menyibak, namun tak ada tubuh Wisanggeni di bawah sana. 

“Duak!” 

Sontak Kum Kecho menoleh ke arah lain, dan menyaksikan kelebat-kelebat bayangan menghantam tubuh Wisangseni. Serangan cepat dan beruntun yang datang dari berbagai sudut, membuat tubuh Wisanggeni terlihat seperti seonggok samsak yang menerima rentetan pukulan tanpa memiliki kemampuan menghindar maupun membalas!

Terlepas dari perilakunya, sungguh Kum Kecho kagum kepada kemampuan Sangara Santang. Sesaat sebelum terkena hantaman bola-bola api tadi, Sangara Santang mengirimkan tubuhnya tepat ke atas tubuh Wisanggeni menggunakan teleportasi jarak menengah. Di saat yang sama pula, Sangara Santang sendiri melakukan teleportasi jarak menengah ke permukaan lereng bukit. Seolah dapat membaca arah serangan Kum Kecho, Sangara Santang sudah menanti kedatangan Wisanggeni di bawah sana.  

“Swush!” 

Gelombang api berwarna biru kembali bergulung. Sangara Santang yang sedang melancarkan serangan terpaksa melompat mundur. Kum Kecho pun mendarat di sampingnya. Keduanya lalu menyaksikan Wisanggeni yang bertumpu pada satu lutut, darah mengalir dari sudut bibirnya. Sepertinya, merapal serangan tadi sangat dipaksakan adanya.

“Kita tak dapat mengendorkan serangan!” hardik Kum Kecho sambil merangsek maju. 

Akan tetapi, langkah Putra Mahkota Negeri Dua Samudera itu terpaksa terhenti. Api berwarna biru tua mengambil wujud bagai air terjun yang membentengi di depan tubuh Wisanggeni. Benar, api yang biasa bergerak ke arah atas, kini terlihat mengalir deras ke bawah!

“Tirai pertahanan…,” gumam Sangara Santang tanpa menyembunyikan kekaguman. Wujud unsur kesaktian api milik Wisanggeni hadir dengan berbagai rupa. Mulai dari wujud ombak bergulung maju, lalu putaran pusaran air, serta kini berwujud ibarat air terjun. Sungguh gelar Raja Angkara bukanlah isapan jempol belaka. 

“Wahai Roh Antang Bajela Bulau nan mulia, kumohon inayat semerbak… Sibak!” ucap Kum Kecho tak sabar. Dengan kedatangan Rajah Roh tersebut, Kum Kecho memiliki kemampuan untuk membuka dinding pelindung api milik Wisanggeni. Di dalam benak, anak remaja itu yakin dan percaya bahwa sedikit lagi lawan akan tumbang, sehingga jangan sedikit pun memberi kesempatan baginya beristirahat. 

Sangara Santang pun melangkah maju untuk menyusul, akan tetapi sontak raut wajahnya berubah kecut. “Tunggu! Jangan buka tirai api itu!” teriaknya lantang sambil melambaikan tangan sebagai tanda mencegah. 

Terlambat! Sebuah celah telah terbuka dengan bantuan kemampuan Rajah Roh Antang Bajela Bulau. Akan tetapi, bukanlah Kum Kecho yang melangkah masuk, melainkan Wisanggeni si Raja Angkara yang melompat keluar!

Di saat itu pula, Kum Kecho merasakan tubuhnya ditarik, lalu menghilang dan muncul tepat di sisi Sangara Santang. 

“Terima kasih, wahai anak anjing. Sudah ratusan tahun aku terkurung, siapa yang menyangka seekor anak anjing yang akan datang menolong.” Wisanggeni menyeka darah di sudut bibir, yang digantikan dengan sebuah simpul senyum petanda kemenangan. 

Baru saat itu Kum Kecho menyadari bahwa ia melakukan sebuah kesalahan fatal. Ia tak menyangka bahwa air terjun api biru sesungguhnya berada tepat di tempat dinding formasi segel yang dipasang untuk mengurung Wisanggeni. Di saat hendak membuka air terjun api, secara tak sengaja kemampuan Rajah Roh Antang Bajela Bulau juga membebaskan Wisanggeni!

“Sejak awal dia menjebak kita… Dengan berpura-pura kewalahan, sabar menanti kesempatan…,” bisik Sangara Santang. 

“Roh Antang Bajela Bulau yang mengurung aku, dan Roh Antang Bajela Bulau pula yang membebaskan…,” ejek Wisanggeni menikmati kegelisahan lawan. 

“Kita masih punya kesempatan!” Kum Kecho melompat maju. Akan tetapi, tetiba gelombang api biru tua kembali menyebar dan bergulung ke arah di mana dirinya dan Sangara Santang berada. Samar, di balik kobaran api, terlihat Wisanggeni sedang memutar tubuh, kemudian melangkah menjauh. 

“Kakak Sangara, kita dapat terbang melampaui gelombang api itu!” desak Kum Kecho yang menyaksikan Sangara Santang hanya diam tak berbuat apa-apa. 

“Terlambat…,” gumam Sangara Santang. “Bersama kita dapat menyatukan kekuatan dalam membangun serangan. Akan tetapi, bersama kita tak dapat menyatukan kecepatan demi mengejar. Wisanggeni nan tampan sudah pergi jauh.”