Episode 81 - Kiamat Di Mega Mendung (1)


Di tengah hutan yang lebat lereng gunung Masigit, terdapat sebuah tanah yang lumayan lapang yang disekitarnya tertutup oleh hutan rimba yang sangat lebat. Di sana Nampaklah sebuah gubug kayu beratap rumbia dan daun-daun kering yang baru saja selesai dibangun oleh Ki Silah dan Emak Inah, didalam gubugnya Nampak Mega Sari sedang beristirahat sambil terus mengelus-elus perutnya dengan wajah kuyu.

“Gusti ayo makan dulu, Emak sudah siapkan jagung dan pisang rebus, dari tadi pagi Gusti belum makan apa-apa.” tawar Emak Inah.

“Saya tidak bernafsu emak…”

“Tapi Gusti harus makan, bagaimanapun si kecil dalam perut Gusti perlu makan.” bujuk Emak Inah.

Mega Sari menggelengkan kepalanya perlahan. “Semua yang saya cintai meninggalkan saya satu demi satu Emak, tidak tersisa… Kakang Jaya yang sejak dulu aku cintai ternyata adalah kakak kandungku, sekarang dia bahkan harus menanggung nasib menjadi alas kaki musuh ayah yakni Sultan Banten, anak pertamaku yang dengan berat hati harus aku korbankan demi perjanjian Wasiat Iblis Ayah, Ayah dan Ibuku yang tewas secara mengenaskan, nasib kita yang luntang-lantung menjadi buronan di negeri kita sendiri yang seharusnya menjadi miliki saya, dan terakhir nasib Kakang Dharmadipa yang entah bagaimana… Apakah ini karma saya emak?”

Emak Inah menggelengkan kepalanya, “Emak tidak pernah mengenal karma Gusti, sebab dari kecil Emak hanya tahu tentang takdir, apapun yang kita alami adalah takdir dari sang pembuat hidup!”

Emak Inah lalu menyodorkan jagung dan pisang rebus serta satu bumbung air putih pada Mega Sari. “Gusti bolehkah Emak bertanya? Maafkan Emak Gusti… Apakah benar yang merasuki jasad Gusti Pangeran itu arwah Gusti Pangeran sendiri?”

“Saya tidak perduli siapapun yang merasuk kedalam tubuhnya Mak, saya hanya membutuhkan seorang pelindung, dan selama ini hanya Kakang Dharmadipa lah yang memberikan semuanya secara utuh tanpa pamrih kepada saya.”

“Maafkan saya Gusti, selama didalam goa saya tidak pernah merasakan adanya kehadiran Gusti Pangeran, sekalipun jasadnya hidup!”

“Apa maksudmu sebenarnya Emak?”

“Terus terang Emak mencemaskan keselamatan Gusti, kejadian terakhir saat Gusti Pangeran mengamuk kelihatannya dia sama sekali tidak mengenal Gusti Putri, apalagi kepada Abah dan saya!”

“Mula-mula yang ada didalam hati dan pikiran saat itu hanyalah bagaimana saya bisa membalas dendam kepada Paman Arya Bogaseta yang merebut kekuasaan Mega Mendung dari Kakang Pangeran dan Ki Balangnipa serta para pejabat lainnya yang berencana untuk menikam kekuasaan ayahanda prabu, saya tidak perduli dengan apa yang dikatakan Nyai Lakbok, bahwa arwah orang yang sudah meninggal tidak mungkin bisa dipanngil lagi, karena dia sudah sampai pada alam yang sangat berbeda dengan dunia kita, tapi saya tetap bersikeras Emak, saya tetap meminta supaya Kakang Pangeran dihidupkan kembali, lalu akhirnya saya diajari cara untuk melakukan perjanjian Wasiat Iblis dengan raja iblis!”

“Jadi bukan rohnya Gusti Pangeran kan Gusti?!” Tanya Emak Inah yang sebenarnya sudah tahu bahwa yang merasuki jasad Dharmadipa bukanlah rohnya melainkan Jin Bagaspati, ia membuka percakapan ini hanya untuk mempertegas pada Mega Sari bahwa roh orang yang sudah meninggal tidak mungkin untuk kembali kedalam wadagnya yang masih berada didunia ini.

“Bukan…” desah Mega Sari.

Saat itu Ki Silah masuk dan ikut mengobrol. “Saya dengar hampir seluruh wilayah di Mega Mendung ini, dari Kota-kota Kadipaten, sampai ke pelosok-pelosok desa-desa terpencil dilanda ketakutan pada Burung Sirit Uncuing Setan, bahkan sampai ke Kutaraja Rajamandala dan keratonnya!”

“Saya tidak menduga bahwa Jin Bagaspati akan bertindak sejauh ini, tadinya sasaranku hanya orang-orang Keraton Rajamandala…” desah Mega Sari.

“Justru itu saya mengkhawatirkan keselamatan Gusti dan bayi yang akan segera Gusti lahirkan, Gusti bukankah masih ada satu orang lagi yang bersedia melindungi Gusti secara ikhlas? Raden Jaya Laksana pasti dengan ikhlas dan tulus menjaga serta merawat Gusti.”

“Saya… Saya tidak mau merepotkan Kang Jaya, apalagi saat ini posisinya serba sulit karena sedang menjadi abdi Sultan Banten.”

Emak Inah dapat merasakan getaran pada suara Mega Sari dan melihat ada semburat rona merah di wajah Mega Sari, wanita tua ini segera tahu bahwa ada alas an lain dalam penolakan Mega Sari. “Maafkan emak Gusti, tapi Emak yakin bukan itu saja yang membuat Gusti enggan untuk menemui Raden Jaya.”

Mega Sari terkesiap karena Emak Inah dapa menebak yang ada didalam benaknya, maka ia pun menjawab dengan kagok. “Emak benar… Sejujurnya ada perasaan dihatiku ini pada Kang Jaya, meskipun saya sudah mengetahui bahwa ia adalah kakak kandungku sendiri, tapi perasaan yang dirasakan seorang wanita pada seorang pria masih bergelora dihatiku… Tapi aku dengar kalau Kang Jaya sudah menikah dengan Galuh Parwati si Dewi Pengemis dari Bukit Tunggul itu… Aku… Aku rasanya ingin menghindarinya karena gelora perasaanku pada Kang Jaya ini emak.” emak Inah pun mengangguk-ngangguk dengan penjelasan Mega Sari yang berbelit-belit itu, intinya Mega Sari masih mencintai Jaya bukan sebagai kakak adik, tapi sebagai seorang wanita pada seorang pria.

***

Siang itu Kyai Pamenang baru saja menyelesaikan tapa bratanya selama tiga hari tiga malam, ia lalu mengumpulkan orang-orang penting Mega Mendung di balairiung keraton. “Kelihatannya ini tidak akan mudah, untuk mengusir mahluk-mahluk itu karena ternyata mereka memang menaruh dendam kesumat terhadap seluruh keturunan mendiang Prabu Sang Hyang Wharmadewa dan semua orang yang mendiami negeri ini… Mereka juga semakin kuat dibadan wadag Dharmadipa yang memiliki azimat dan susuk!”

“Mengapa mereka menaruh dendam kesumat kepada kami Kyai?” Tanya Ki Balangnipa.

“Menurut penglihatan saya, dulunya mereka adalah mahluk-mahluk halus yang mendiami kawasan hutan di sekitar Mega Mendung ini, mereka lalu terusik ketika Prabu Niskala Wastukencana membuka hutan ini untuk mendirikan satu negeri baru yang akan diberikan kepada putera bungsunya Sang Hyang Wharmadewa, Prabu Niskala Wastukencana lalu mengusir dan mengurung mereka semua di puncak Gunung Gede, itulah mengapa saat mereka terbebas dari kurungannya, mereka langsung hendak membalaskan dendamnya pada seluruh penduduk Mega Mendung terutama semua keturunan Sang Hyang Wharmadewa!” Jelas Kyai Pamenang.

“Maaf Kyai, kenapa iblis-iblis itu seperti tahu orang-orang yang menjadi musuh Dharmadipa? Apa tidak mungkin ada yang mengendalikan mereka? Sebab istrinya yang merupakan keponakan saya yang juga mantan murid Kyai, Mega Sari memang masih hidup!” Tanya Prabu Arya Bogaseta.

“Memang aneh, sebenarnya memang tidak mungkin, mahluk Jin itu bisa memasuki badan wadag orang yang sudah meninggal, tapi siapa yang mampu melakukan hal itu? Sebab tanpa ilmu yang tinggi yang juga membutuhkan satu perjanjian persyaratan antara manusia dengan iblis, mustahil para lelembut itu bisa masuk kedalam jasad Dharmadipa.”

“Kenapa harus mempertanyakan siapa yang mampu?!” celetuk Dewi Larasati sang Permaisuri, “Pasti Mega Sari! Apa kalian tidak ingat peristiwa yang menyeramkan saat peritiwa kematian Prabu Karma Sura dan permaisurinya di keraton ini? Dia yang merubah keraton yang asalnya bersuasana sakral ini menjadi sarang jin dan lelembut! Dia adalah murid dari Nyai Lakbok yang memiliki teluh Ngareh jiwa! 

Ingat bagaimana satu desa di kaki gunung Patuha sampai hancur oleh wabah penyakit akibat teluh Ngareh Jiwa yang mengerikan itu?! Dia adalah dukun teluh jahat yang setiap malam selasa kliwon dan malam jumat kliwon membakar kemenyan dan menyajikan sesajen untuk para lelembut!

Selama mendiang Kanda Prabu Kertapati masih berkuasa di keraton ini, dia telah merubah keraton yang suci ini menjadi gudang para lelembut! Terutama di kamar belakang!” tutur Dewi Larasati yang memang sangat menaruh dendam pada Nlilamsuri karena kekejian sepak terjangnya dan ketakutannnya pada ilmu hitam keponakannya yang cantik jelita namun berhati jahat tersebut.

“Tenang Gusti, ilmu teluh yang kamu bicarakan itu, di kampung halamanku anak-anak gadis berusia belasan tahun sudah menguasainya… Maaf saya cukup banyak tahu banyak tentang ilmu teluh dan ilmu hitam lainnya karena di kampung halaman saya yang hampir belum tersentuh islam, banyak sekali orang yang memilikinya.”

“Lha? Kalau boleh tahu darimana asal Kyai?” Tanya Sang Prabu.

“Saya berasal dari pulau Nusa Kambangan, sebuah pulau kecil disebelah selatan pantai Pananjung Galuh. Selain terkenal dengan para bajak lautnya yang ganas, pulau itu juga terkenal dengan ilmu teluh dan ilmu hitamnya, jaman dahulu berkat bantuan dari ilmu hitamnya, para bajak laut berhasil menghancurkan negera Pananjung di pantai pangandaran, dan negeri Galuh hampir tidak sanggup untuk menaklukan pulau tersebut.

Saya juga dulu adalah seorang bajak laut yang malang melintang di pantai selatan hingga ke daerah ujunng kulon dan selat Sunda, sampai akhirnya saya mendengar kabar bahwa di gunung jati Cirebon ada seorang ulama yang sakti mandraguna berjuluk Sunan Gunung Jati, akhirnya sayapun memutuskan untuk menantangnya, beliau menolak tantangan saya dan hanya mempersilahkan saya untuk mengangkat satu buku kitab Al Quran dari dalam sebuah peti kecil, dengan marahnya karena merasa dilecehkan saya berusaha untuk mengambil Kitab Al’Quran tersebut, namun saya tetap tidak sanggup.

Dengan penuh penasaran sayapun membokong Sunan Gunung Jati dengan pukulan Sirna Raga, tapi ternyata pukulan yang amat saya banggakan dan telah banyak memakan korban itu tidak mempan apa-apa pada Kanjeng Sunan, akhirnya sayapun mengaku kalah dan bertanya mengapa saya tidak sanggup untuk mengambil kitab tersebut, dengan tenangnya Kanjeng Sunan menjawab bahwa hanya orang yang berhati ikhlas untuk menerima Islam sebagai jalan hidupnyalah ia akan mampu untuk mengangkat kitab tersebut, maka saya pun mengambil air wudhu dan membaca dua kalimat syahadat, dan dengan mudahnya saya dapat mengambil kitab Al’Quran tersebut, sejak saat itulah saya masuk Islam dan berguru pada Kanjeng Sunan Gunung Jati.” Tutur Kyai Pamenang.

“Tapi saya masih sangat penasaran dengan bagaimana caranya lelembut itu bisa masuk dan menguasai jasad Dharmadipa?” Tanya Ki Sentanu.

“Memang aneh, hanya orang-orang tertentu sajalah yang mampu untuk memasukan lelembut ke jasad orang yang sudah mati, caranya adalah melakukan perjanjian Wasiat Iblis! Perjanjian wasiat Iblis adalah perjanjian yang dilakukan oleh manusia dengan Iblis yang mensyaratkan hal-hal tertentu yang biasanya tidak mudah untuk dipenuhi, perjanjian ini hanya mampu dilakukan oleh orang yang berilmu hitam sangat tinggi! Dan kalau tidak salah, diseluruh tanah Pasundan ini hanya ada dua orang yang dapat melakukannya, tapi yang satu yang bernama Topeng Setan sudah tewas ditangan muridku Jaya Laksana, selain itu hanya ada satu orang lagi dari tanah Jawa bagian Wetan. 

Di Pasundan tinggal satu yang memilikinya, Ada satu dukun sakti yang bermukim di puncak Gunung Patuha, dia memiliki ilmu dan kitab untuk melakukan perjanjian Wasiat Iblis. Satunya lagi adalah seorang pertapa sakti yang bermukim di puncak gunung Semeru di Jawa Wetan.” Jelas Kyai Pamenang.

“Saya tahu persis bahwa Prabu Kertapati melaksanakan Perjanjian Wasiat Iblis dengan seorang pertapa sakti yang bernama Topeng Setan, tapi dia tidak sanggup memenuhi sayartnya yakni harus membunuh putra sulungnya, maka ia menyerahkan Raden Jaya Laksana pada Kyai, tapi… Itu pun perjanjiannya bukan untuk menghidupkan orang yang sudah mati, melainkan untuk dapat menguasai seluruh tanah Pasundan, dari sungai Cipamali di wetan, sampai ke Selat Sunda di kulon.” sahut Ki Balangnipa sambil mengingat-ngingat peristiwa dua puluh satu tahun yang silam.

“Tapi bukankah beberapa pejabat dan prajurit kepercayaan kita tahu bahwa Mega Sari juga mempunyai guru seorang dukun teluh yang bernama Nyai Lakbok dan dia sering bulak-balik ke Gunung Patuha?” sela Ki Sentanu.

“Kalau begitu berati benar Kyai bahwa dalang dibalik semua ini adalah Mega Sari, tidak mungkin ada orang lain yang bisa berbuat sekejam dia!” angguk Ki Balangnipa.

Kyai Pamenang mengangguk-ngangguk, ia teringat pada salah satu muridnya itu, bagaimana tatapan matanya yang Nampak sangat mengerikan bagi sang Kyai, ia juga teringat pada tanda pusaran hitam diatas kemaluan di bawah pusar Mega Sari yang ia lihat saat memimpin prosesi Aqiqah Mega Sari dulu, sampai akhirnya ia teringat pada bagaimana Mega Sari merubah watak dan menguasai diri Dharmadipa. 

Namun begitu ia tidak mau gegabah, maka ia pun bersidekap sambil memejamkan matanya sebentar. “Bukan… Bukan dia, Mega Sari hanya alat… Mula-mula Jin itu memang dipanggil untuk menyusup pada wadag Dharmadipa dengan perjanjian Wasiat Iblis, tapi menurut penglihatan saya sewaktu kita bentrok tempo hari, dia hidup bukan karena Perjanjian Wasiat Iblis, rupanya Jin itu sudah mampu merasuk sendiri, mungkin karena pintu antara kedua dunia itu sudah terlalu sering dibuka-tutup, dan jasad Dharmadipa sudah terlalu sering dirasuki sehingga menjadi tempat tinggal para lelembut itu.”

“Apa mungkin dengan begitu raga Dharmadipa hanya akan mengejar musuh-musuhnya saja?” Tanya Sang Prabu.

“Saya ragu, sebab bangsa Jin itu tidak pernah bisa membedakan, meski pengaruh mereka sewaktu masih dikendalikan oleh pemegang Perjanjian Wasiat Iblis itu ada, tapi lama-lama mereka akan membunuh siapa saja yang berani melawan dia! Saya melihat Jin-jin itu adalah penghuni Puncak Gunung Gede, ilmunya juga sangat tinggi, dan akan sulit bagi kita untuk menundukan mereka!”

“Sebagai raja Mega Mendung, atas nama negeri dan seluruh rakyat Mega Mendung, saya percayakan semuanya pada Kyai!”

“Percayalah hanya kepada Gusti Allah, saya hanyalah sebagai perantara… Maka dari itu jangan lupa untuk mendirikan shalat, dan sering-seringlah membaca Al’Quran serta membaca doa-doa, mohonlah kepada Gusti Allah agar kita semua dibebaskan dari malapetaka yang mengerikan ini!”

Kyai Pamenang lalu melirik pada Sang Prabu. “Gusti Prabu, hamba mohon maaf sebelumnya, tetapi ada baiknya agar seluruh penduduk Kutaraja dan desa-desa disekitar kutaraja yang belum mengungsi, agar diungsikan saja ke keraton ini, demi keamanan, sebaiknya mereka bermukim untuk sementara di keraton ini.”

“Baiklah kalau itu menurut Kyai yang terbaik, mumpung hari masih siang segeralah umumkan agar semua penduduk di Kutaraja dan di desa-desa sekitarnya untuk mengungsi di keraton ini!!”

Maka para prajurit pun menjadi sibuk untuk mengummumkan titah Sang Prabu ini, keraton Rajamandala pun menjadi penuh sesak oleh para penduduk yang mengungsi, tenda-tenda didirikan di berbagai tempat yang lowong, Kyai Pamenang yang menyaksikan itu semua hanya menghela nafas. “Sayang sekali di kutaraja ini tidak ada masjid meskipun penduduknya sudah banyak yang islam, dan sungguh disayangkan mereka melupakan ajaran Islam karena takut oleh malapetaka ini, padahal seharusnya malapetaka ini bisa membuat iman mereka lebih kuat!” keluhnya.

***

Tengah malam itu, Kyai Pamenang sedang duduk bertafakur di balai penghadapan agung Keraton Rajamandala, tiba-tiba angin panas bertiup kencang, bau bangkai, kuburan, dan bunga tujuh rupa bercampur menghampar menyesak, bumi dan langit terasa bergoncang, suara ringkikan gagak yang parau bergema ke mana-mana!

Kyai Pamenang segera membuka matanya dan berlari keluar, saat itu ia melihat bola api berwarna biru mengitari langit keraton Rajamandala! Bola api tersebut terbang berputar-putar dan terbang kearah kamar Prabu Bogaseta! Kyai Pamenang pun bergegas berlari menuju kamar Sang Prabu, matanya melotot penuh awas melihat kesekelilingnya dengan penuh kewaspadaan.

Tengah Malam tersebut, langit disekitar Kutaraja Rajamandala Nampak memerah, keraton Rajamandala yang megah itu dilalap si jago merah! Jerit tangis menggema dimana-mana, mayat-mayat berserakan dimana-mana semua orang hanya berusaha untuk menyelamatkan dirinya sendiri tanpa peduli yang lain!

Dewi Larasati yang terjebak didalam keraton yang dipenuhi oleh kobaran api itu pun berlarian kesana kemari berusaha untuk menyelamatkan dirinya, dia terus menjerit berteriak meminta tolong, tapi tidak ada seorang pun yang mau menolongnya, termasuk prajurit-prajurit pun tidak ada yang mau menolongnya, semuanya sudah bagaikan orang gila yang hanya peduli pada dirinya sendiri!

“Kakang Prabu! Dimana kamu Kakang?! Tolong!” jerit Dewi Larasati sambil terus berlari, hingga akhirnya ia sampai di balai penghadapan agung yang juga sudah dijilat oleh si jago merah yang membara! Di sana ia melihat Prabu Arya Bogaseta sedang duduk diatas singgsananya dengan mengenakan pakaian kebesarannya.

“Kakang Prabu tolong aku!” jerit Dewi Larasati sambil beralri menghampiri Prabu Arya Bogaseta, suaminya pun mengulurkan tangannya. “Kemarilah istriku, bersama kita akan menuju ke kehidupan yang baru, dunia yang baru, yang tenang dan damai!” tetapi sebelum Dewi Larasati sampai menggapai tangan suaminya tiba-tiba terdengar suara memanggilnya. “Jangan Istriku! Jangan mau! Dia bukan aku!”

Dewi Larasati melirik kebelakang, ternyata yang berbicara adalah suaminya Prabu Arya Bogaseta, hanya bedanya dia tidak mengenakan pakaian kebesarannya, ia malah hanya mengenakan pakaian kumal yang sudah robek-robek, seluruh tubuhnya kotor dan rambutnya pun acak-acakan. “Apa ini? Siapa Kamu?” hardiknya.

“Aku suamimu yang asli Nyai! Sedangkan dia yang duduk di singgasana adalah penyebab dari semua malapetaka ini! Dialah yang menghancurkan negeri ini!”

Dewi Larasati menjadi bingung, tapi prabu Bogaseta yang duduk diatas singgasana berkata. “Apa lagi yang kau ragukan istriku? Cepat Ikutlah denganku!”

Pada saat itu datanglah Kyai Pamenang ke tempat itu. “Gusti Dewi, jangan percaya padanya! Jangan sentuh tangannya, kau akan mati kalau kau ikut dengannya! Kemarilah! Dialah suamimu yang sebenarnya!” tunjuk Kyai Pamenang pada Prabu Arya Bogaseta yang berpakaian kumal bagaikan pengemis itu.

“Kemarilah Istriku, kita akan menuju ke kehidupan yang baru!” ujar Prabu Bogaseta yang duduk diatas singgasana sambil terus mengulurkan tangannya. 

“Istriku jangan!” jerit Prabu Bogaseta yang berpakaian seperti pengemis.

Ketika tangan Dewi Larasati semakin dekat dengan tangan Prabu Bogaseta yang duduk diatas singgasana, Kyai Pamenang Nampak bersemedi dan Wushhh!!! Prabu Bogaseta yang duduk diatas singgasana berubah menjadi mayat hidup Dharmadipa! Dewi Larasati pun menjerit dahsyat dan langsung refleks untuk mencekik Dharmadipa!