Episode 45 - Empatpuluh Lima



Darra duduk di dalam mobil dengan canggung sementara Pak Dimas menyetir mobil di depannya. Papa yang duduk di sampingnya sedang sibuk dengan ponselnya, dan Darra tidak berminat untuk mengganggunya.

Darra memandang keluar jendela, mengingat pandangan teman-temannya saat Papa mengajaknya pulang tadi. Sebagian besar dari mereka masih kaget dan tidak percaya, sementara sebagian lagi menyebut bahwa ayahnya Abrar mengadopsinya.

“Tadi Papa bicara sama wali kelas kamu,” kata Papa, mengagetkan Darra. Darra menoleh ke arahnya. “Katanya kamu nggak mau ikut SPMB? Kamu kan termasuk juara umum di sekolah.”

“Aku nggak mau kuliah,” jawab Darra.

“Kenapa?” tanya Papa. “Kan sayang kalau kamu nggak mau nerusin sekolah.”

“Aku mau cari kerja aja.”

“Kalau cuma lulusan SMA, kamu mau kerja di mana?”

“Banyak perusahaan yang mau menerima lulusan SMA, kok. Dan aku nggak mau di Jakarta. Aku mau pulang.”

“Pulang ke mana? Rumah kamu kan di sini.”

“Ke mana aja, asal bukan di sini,” gumam Darra sambil mengalihkan pandangannya keluar jendela. Ia tidak bisa mengungkapkan kegelisahannya jika ia harus kuliah dan tinggal bersama Aline. Dua tahun ini sudah cukup berat baginya, dan ia tidak ingin membayangkan jika ia harus berhenti kuliah di tengah jalan hanya karena Aline merajuk padanya dan tidak memberinya uang untuk membayar iuran.

Papa memandang Darra. “Karena Aline?” tanyanya. “Tante kamu itu emang kadang menyebalkan, tapi dia sayang sama kamu, kok. Buktinya, dia mengijinkan kamu untuk tinggal sama dia.”

Darra menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk tidak mencibir.

“Kamu hanya perlu lebih mengenal tante kamu. Kalau sudah dekat, dia orangnya baik, kok.”

“Karena itu Papa lebih milih Tante Aline dan ninggalin mamaku?” Darra tersentak, kaget dengan ucapan yang keluar dari bibirnya sendiri.

“Papa rasa, sudah waktunya bagi kamu untuk tahu semua,” kata Papa. “Papa tahu, kamu mendengar kalau Papa mengkhianati Tante Aline dan selingkuh dengan mama kamu. Ada juga yang bilang Papa meninggalkan mama kamu dan memilih Tante Aline.”

Darra tidak menyahut.

“Kenyataannya bukan seperti itu.” Papa menghela napas. “Dulu, waktu Papa masih merintis perusahaan, kakek kamu meminta Papa untuk memegang cabang di Jogja. Lalu Papa bertemu dengan mama kamu yang baru lulus sekolah dan melamar menjadi resepsionis di perusahaan Papa. Papa yang mewawancarai mama kamu dan menerimanya bekerja. Mama kamu orangnya gesit dan pintar, sama seperti kamu. Lama kelamaan tumbuh perasaan suka dan ingin melindungi mama kamu.”

Darra menggeser duduknya, mulai tertarik pada cerita Papa.

“Diam-diam Papa pacaran sama mama kamu. Diam-diam, karena dulu ada peraturan yang melarang pacaran dengan sesama rekan kerja di perusahaan. Kami pacaran selama empat tahun, dan ketahuan sama kakek kamu. Papa disuruh putus karena mama kamu bukan dari keluarga berada. Papa nekat membantah kakek kamu dan memutuskan untuk menikahi mama kamu. Kakek kamu menentang, kami ribut besar, dan kakek kamu jatuh sakit.” Pandangan Papa menerawang saat mengingat kembali kisah di masa lalu. Kesedihan jelas terlihat di matanya. “Kakek kamu meminta Papa kembali ke Jakarta dan menikah dengan Tante Aline. Papa nggak punya pilihan lain karena itu permintaan terakhir Kakek. Papa nggak tahu kalau mama kamu sedang mengandung kamu waktu itu.”

Darra tercekat. Ia memang belum pernah bertemu dengan mamanya, tapi ia menyayanginya. Dan ia bisa membayangkan betapa sedihnya Mama saat Papa harus meninggalkannya.

“Mama kamu orang yang kuat dan sabar. Dia nggak menuntut apa-apa dari Papa, padahal mama kamu udah nggak punya siapa-siapa. Papa sedih sekali waktu mama kamu memutuskan untuk pergi dari Papa dan mengatakan kalau dia akan ngurus kamu sendirian. Mama kamu menghilang, dan setelah Papa bertahun-tahun berusaha mencari kamu, ternyata kamu dititipkan sama Bu Retno.”

“Terus Papa nggak nyari Mama lagi?”

“Papa tahu mama kamu kerja di luar negeri. Papa pernah menemui mama kamu sekali. Dia meminta Papa untuk berhenti mencari kalian. Bu Retno juga melarang Papa bertemu kamu karena Mama yang memintanya. Jadi Papa baru bisa mengambil kamu setelah mama kamu nggak ada.”

Mata Darra mulai berkaca-kaca. “Jadi... Aku bukan anak haram?” tanyanya dengan suara bergetar.

“Nggak, nggak. Siapa yang bilang begitu ke kamu?” tanya Papa sambil mengusap rambut Darra. “Darra anak Papa, Abrar anak Papa. Kalian hanya beda ibu, nggak ada yang anak haram.”

Darra menelan ludah. Ia tidak bisa mengatakan bahwa Aline menyebutnya seperti itu setiap hari.

~***~

Sore itu Darra menyibukkan diri di dapur bersama Bi Atun. Aline sedang mengepak pakaiannya karena akan ikut pergi bersama Papa selama dua minggu, dan Darra merasa lega mendengarnya.

Terdengar suara motor memasuki halaman, disusul suara Aline yang menyambut kepulangan putra kesayangannya. Seperti biasa, Darra menyembunyikan dirinya di dapur.

“Sana, ganti baju terus beresin barang-barang kamu. Papa mau ngajak kita ke Singapura,” kata Aline.

“Ngapain? Kan aku masih sekolah,” kata Abrar sambil melanjutkan langkahnya.

“Kan kamu udah selesai ujian, sayang. Udah nggak ngapa-ngapain lagi di sekolah,” balas Aline.

“Andarra ikut?” tanya Abrar. Darra yang mendengar namanya disebut langsung menoleh ke arah Abrar yang sedang memandanginya dari tangga.

“Dia nggak mau ikut. Katanya mau di rumah aja,” jawab Aline. Namun, Abrar masih memandang Darra, menuntut jawaban.

“Iya, aku mau di rumah aja,” gumam Darra. Tidak, sebenarnya Aline tidak pernah memintanya untuk ikut. Namun, jika diajak pun, Darra lebih memilih tinggal di rumah bersama Bi Atun.

“Ya udah, aku juga nggak ikut,” tutup Abrar sambil menaiki tangga. Darra langsung menghindari pandangan Aline yang seolah menuduhnya mengacaukan liburannya.

Setelah itu Darra membantu Bi Atun menyiapkan makan malam di meja. Saat Darra kembali ke dapur, Bi Atun malah mendorongnya.

“Mbak sana ikut duduk, makan bareng Bapak,” bisik Bi Atun.

Darra baru menyadari ia seharusnya ikut bergabung bersama Papa, Aline, dan Abrar. Aline melempar pandangan jengkel ketika Darra duduk di sebelah Abrar. Sambil makan, Papa membicarakan hal-hal yang tadi dibahas saat pertemuan di sekolah, termasuk menyinggung mengenai Darra yang tidak ingin melanjutkan kuliah.

“Iya lah, mana mau dia lanjutin sekolah,” sahut Abrar sambil mengunyah makanannya. “Nanti kalau dia dikeluarin karena nggak bayar uang semester, gimana? Kalau dia nggak bisa beli buku, gimana?”

Darra langsung melirik Abrar dengan gugup. Sepertinya ia tahu arah pembicaraan ini.

“Ya mana mungkin. Kan Papa nanti yang biayain,” kata Papa.

“Buktinya, Andarra pernah dikeluarin dari ruangan waktu ujian karena belum bayar iuran beberapa bulan. Terus, buku-bukunya waktu kelas XI aja nyicil di koperasi,” balas Abrar. Kemudian ia menoleh ke arah Aline. “Oh iya, Ma. Kan dia udah mau lulus SMA lagi, berarti mestinya utangnya buat bayar iuran udah lunas, dong? Masa udah setahun lebih, uang jajannya masih nggak cukup buat gantiin iuran sekolah?”

“Maksud kamu apa?” tanya Papa bingung.

“Iya nih. Maksud kamu apa sih, Brar?” sahut Aline gugup.

“Waktu Andarra nggak boleh ikut ujian karena belum bayar iuran sekolah, kan minjam duit sama Mama. Sebagai gantinya, Mama nggak ngasih uang jajan. Kan aku yang repot, dia jadi sakit karena nggak bisa makan dan harus jalan kaki pas pulang sekolah. Makanya pas udah kelas XII, aku beliin buku aja pakai uang aku,” jawab Abrar santai.

“Emang benar begitu?” tanya Papa pada Aline.

“Ah, nggak, kok. Mama udah kasih uang jajan. Iya, kan?” tanya Aline, meminta dukungan Darra.

Darra hanya mengangguk sambil mengalihkan pandangannya. Ia ingin sekali menendang kaki Abrar di bawah meja, atau menyikut lengannya, atau melakukan apapun untuk membuat Abrar berhenti berbicara. Namun, Darra tidak bisa melakukannya.

“Oh, iya,” rupanya Abrar masih belum selesai mengeluarkan uneg-unegnya. “Kamar di sebelah aku kan kosong, tuh. Kenapa nggak suruh Andarra tidur di situ aja, sih, Pa? Kan kasihan, dia jadi sering masuk angin karena tidur di lantai.”

Papa mengerenyitkan dahi. “Papa emang ngasih kamar itu buat Andarra, kok. Emangnya selama ini kamu tidur di mana?”

Darra menunduk saat Papa bicara padanya, ditambah Aline yang jelas-jelas memberi pandangan agar Darra menutup mulut.

“Di gudang,” jawab Abrar. “Kalau Papa nggak percaya, lihat aja sendiri.”

Papa meletakkan sendoknya lalu bangkit sambil menatap Aline yang duduk di kursinya dengan gugup. Darra ikut melompat dari kursinya saat Papa mulai bergerak menaiki tangga. Astaga, apa yang harus dia lakukan?

Mereka tiba di ruangan—yang dulunya gudang—tempat Darra tidur. Papa meraih pintu ruangan itu lalu membukanya lebar-lebar. Darra tidak berani melihat reaksi Papa yang saat itu mematung di depan ruangan. Ia tidak tahu mana yang lebih menyeramkan, Papa atau Aline?

“Bi Atun!” panggil Papa akhirnya, setelah terdiam selama beberapa saat. Darra menunggu dengan dada berdebar-debar hingga Bi Atun tiba di lantai dua.

“Ya, Pak?” tanya Bi Atun.

“Tolong bersihkan kamar Andarra lalu bantu dia memindahkan barang-barangnya ke sana,” perintah Papa.

“Baik, Pak,” jawab Bi Atun sambil kembali turun untuk meminta kunci kamar dari Aline.

Papa tidak mengatakan apa-apa saat ia turun. Bahkan ia tidak melihat ke arah Darra. Namun, Papa juga tidak menyelesaikan makan malamnya. Ia langsung pergi ke kamarnya, disusul oleh Aline.

“Kenapa kamu cerita begitu sama Papa?” tanya Darra pada Abrar, setengah berbisik.

“Kalau begini, kamu jadi bisa nerusin kuliah di Jakarta, kan?” balas Abrar. Ia meneguk air minumnya lalu meletakkan gelasnya di meja. “Habisin makanan kamu.”

Darra hanya melengos saat Abrar bangkit dan pergi ke atas. Darra sendiri jadi tidak nafsu makan dan akhirnya merapikan meja makan sebelum ia naik untuk membantu Bi Atun.

“Nggak usah, Mbak. Udah mau selesai,” kata Bi Atun sambil membawa pakaian Darra ke kamar yang baru lalu menyusunnya di dalam lemari.

Darra menghampiri salah satu dus yang ia gunakan untuk menyimpan uangnya secara diam-diam. Kemudian Darra pergi ke kamar lalu duduk di tempat tidurnya. Setelah selesai berbenah, Bi Atun keluar dari kamar sementara Darra masih duduk di tempatnya. Ia bingung dan takut jika harus turun dan menghadapi Papa dan Aline. Jadi Darra lebih memilih diam di kamarnya.

Darra mengusap kasurnya yang empuk, bantalnya yang nyaman, dan selimutnya yang hangat. Walaupun semuanya terlihat menyenangkan, Darra tidak yakin ia bisa tidur dengan tenang. Selain karena ia terbiasa tidur di ruangan yang kecil, ia juga merasa risih karena kamar itu ia dapatkan dari pertarungannya dengan Aline.

Tak lama kemudian Bi Atun kembali naik ke atas lalu mengetuk pintu kamar Abrar. Ia juga menghampiri kamar Darra yang pintunya terbuka.

“Mbak, Bapak sama Ibu mau berangkat,” kata Bi Atun.

Ah, rupanya Aline jadi pergi dengan Papa. Syukurlah. Darra keluar dari kamarnya lalu pergi ke halaman untuk melepas kepergian papanya.

“Papa pergi dulu, ya. Jagain adik kamu,” kata Papa sambil menepuk bahu Abrar. Kemudian Papa mengusap kepala Darra dan memeluknya. “Maaf ya, kamu jadi harus mengalami ini semua. Papa janji, kamu nggak akan mengalami seperti ini lagi. Papa sayang kamu.”

Darra tersenyum di dada Papa dan membalas pelukannya.